REVOLUSI PEREMPUAN: ERA NEOLITIK
KEMELUT PERPECAHAN SEKSUAL (SEXUAL RUPTURE) BESAR PERTAMA
SEMUA PERBUDAKAN DIDASARKAN PADA HOUSEWIFIZATION
KEMELUT PERPECAHAN SEKSUAL (SEXUAL RUPTURE) BESAR KEDUA
KONDISI PEREMPUAN DALAM MASYARAKAT KURDI
JINEOLOJI SEBAGAI STUDI PEREMPUAN
MODERNITAS YANG DEMOKRATIS: ERA REVOLUSI PEREMPUAN
TENTANG INTERNATIONAL INITIATIVE
—International Initiative
Pamflet yang sedang Anda baca merupakan pamflet ketiga dari tiga pamflet yang disiapkan oleh International Initiative. Pamflet ini merupakan hasil kompilasi dari berbagai buku yang ditulis oleh Abdullah Öcalan untuk memberi Anda gambaran singkat mengenai pendapatnya tentang topik tertentu.
Sebelum penculikan dan pemenjaraan Öcalan pada tahun 1999, beberapa buku berdasarkan pidatonya tentang seks dan gender telah diterbitkan, di antaranya ialah tiga volume Nasıl yaşamalı? (Bagaimana Caranya Hidup?). Judul buku yang berisi wawancara dengannya, Erkeği öldürmek (Membunuh Laki-laki), telah menjadi slogan terkenal di antara kaum Kurdi. Öcalan menciptakan beberapa slogan, seperti “Sebuah bangsa tidak akan bisa bebas kecuali para perempuan bebas” yang membuat pendefinisian kembali atas pembebasan nasional dan menjadikan pembebasan perempuan sebagai hal yang utama. Dalam tulisan-tulisannya di penjara, pembebasan perempuan disinggung beberapa kali sebagai bagian dari diskusi Öcalan tentang sejarah, masyarakat kontemporer, dan aktivitas politik. Pamflet ini telah dikompilasi dari kutipan tentang topik ini dari karya Öcalan, terutama karya-karya terbarunya yang belum diterjemahkan.
Praktik yang dia amati di negara-negara sosialis, serta upaya dan praktik teoritisnya sendiri sejak tahun 1970-an, telah membawa Öcalan pada kesimpulan bahwa perbudakan kaum perempuan adalah awal dari semua bentuk perbudakan lainnya. Perbudakan awal ini disimpulkan olehnya bukan karena perempuan secara biologis berbeda dengan manusia, tetapi karena perempuan adalah pendiri dan pemimpin sistem Matriarkal Neolitik.
Abdullah Öcalan bukan hanya seorang ahli teori, tetapi juga pemimpin dari sebuah gerakan perjuangan. Tidak hanya berjuang untuk pembebasan orang Kurdi, tetapi juga berusaha untuk menemukan jawaban atas persoalan tentang bagaimana membuat hidup yang bermakna. Inilah mengapa tulisan-tulisannya berdampak pada kehidupan banyak orang.
Dia telah menaruh kepedulian pada isu pembebasan perempuan sepanjang hidupnya, dan terutama selama perjuangannya. Dia sangat mendorong perempuan dalam gerakan untuk mengambil perjuangan melawan dominasi laki-laki dan memberikan inspirasi melalui kritiknya terhadap patriarki. Pendekatan dan perilaku dari seorang pemimpin yang berpengaruh ini berkontribusi pada perkembangan yang besar.
Selama bertahun-tahun ia berbicara tidak hanya tentang pentingnya peran yang dilakukan perempuan dan laki-laki, tetapi juga mendorong pembentukan gerakan dan lembaga perempuan agar perempuan dapat mempertanyakan dan membentuk kembali diri mereka, kehidupan mereka, juga kehidupan laki-laki, serta kehidupan masyarakat. Dengan demikian, dengan bergandengan tangan dalam perjuangan pembebasan Kurdi, di Kurdistan telah muncul sebuah partisipasi perempuan yang sangat kuat di semua bidang kehidupan.
Kenyataannya, dinamika yang luar biasa dan vitalitas gerakan perempuan di Kurdistan sering mengejutkan pengamat yang tidak mengharapkan hal ini di suatu wilayah dunia yang dianggap agak patriarkal.
Selama bertahun-tahun, Abdullah Öcalan sering menyarankan bahwa tingkat kebebasan perempuan menentukan tingkat kebebasan masyarakatnya. Dia menyatakan hal ini kembali dalam pertemuan yang baru-baru ini diselenggarakan dengan delegasi BDP (Partai Perdamaian Demokratik). Ia berkata,
“Bagi saya, kemerdekaan perempuan lebih berharga daripada kemerdekaan tanah air.”
Hal-hal tersebut adalah latar belakang munculnya gagasan untuk membuat pamflet khusus tentang masalah kemerdekaan perempuan.
Persoalan tentang pembebasan perempuan telah membuat saya tertarik sepanjang hidup. Pada mulanya saya melihat perbudakan perempuan di Timur Tengah yang secara umum sebagai hasil feodal yang terbelakang, tetapi setelah bertahun-tahun praktik dan penelitian revolusioner saya sampai pada kesimpulan bahwa masalahnya jauh lebih dalam. Sejarah peradaban yang berusia 5000 tahun pada dasarnya adalah sejarah perbudakan perempuan. Konsekuensinya, pembebasan perempuan hanya akan dicapai dengan melancarkan perjuangan melawan fondasi sistem yang berkuasa (ruling system) saat ini.
Sebuah analisis terhadap peradaban arus utama hari ini yang berkaitan dengan persoalan kebebasan akan memperjelas bahwa peradaban telah terbebani oleh perbudakan yang terus meningkat. “Peradaban arus utama” hari ini adalah peradaban yang diwariskan dan dipengaruhi oleh peradaban Sumeria sampai Akkad, dari peradaban Babel sampai Assur, dari Persia sampai Yunani, Roma, Byzantium, serta Eropa, dan akhirnya Amerika Serikat. Sepanjang sejarah panjang peradaban ini, perbudakan telah diabadikan pada tiga level. Pertama, konstruksi perbudakan ideologis (hal yang mencolok namun sangat dimengerti: Tuhan-Tuhan yang menakutkan dan dominan yang dibangun oleh mitologi). Kedua, adanya penggunaan kekuatan. Terakhir, adanya perebutan ekonomi.
Kelompok peradaban dengan tiga level perbudakan ini diilustrasikan dengan sangat baik oleh ziggurat, kuil-kuil yang didirikan oleh negara-imam Sumeria. Lantai atas ziggurat ditampilkan sebagai empat Tuhan yang mengendalikan pikiran. Lantai tengah adalah markas politik dan administrasi para imam. Terakhir, lantai bawah adalah rumah para pengrajin dan pekerja pertanian yang dipaksa untuk bekerja di semua jenis produksi. Pada dasarnya, model peradaban ini tidak berubah sampai hari ini. Dengan demikian, analisis terhadap ziggurat pada kenyataannya merupakan analisis terhadap sistem peradaban arus utama yang terus menerus berkembang dan akan memungkinkan kita untuk menganalisis sistem dunia kapitalis saat ini dalam basis sejatinya. Pembangunan kapital dan kekuasaan yang terus menerus dan akumulatif hanyalah satu sisi dari mata uang koin. Sisi lainnya ialah perbudakan yang mengerikan, kelaparan, kemiskinan, dan pemaksaan layaknya masyarakat yang digembalakan (herd-like society).
Tanpa perampasan kebebasan masyarakat dan kepastian bahwa masyarakat dapat dikelola seperti gembala, pusat peradaban tidak dapat menopang atau mempertahankan dirinya sendiri karena sifat sistem sesuai dengan fungsinya. Perampasan ini dilakukan dengan menciptakan lebih banyak modal dan instrumen kekuasaan yang menyebabkan kemiskinan terus meningkat dan munculnya mental seperti gembala. Isu kebebasan yang adalah pertanyaan kunci di setiap zaman terletak pada sifat sistem itu sendiri.
Sejarah hilangnya kebebasan pada saat yang sama adalah sebuah sejarah tentang bagaimana perempuan kehilangan posisinya dan lenyap dari sejarah. Ini adalah sejarah tentang bagaimana laki-laki yang dominan memperoleh kekuasaan—dengan semua Tuhan dan imamnya, penguasa dan bawahannya, ekonomi, sains dan seni. Kejatuhan dan kekalahan perempuan adalah kejatuhan dan kekalahan seluruh masyarakat, yang kemudian menghasilkan masyarakat seksis. Laki-laki seksis begitu tertarik untuk membangun dominasi sosialnya atas perempuan sehingga ketika laki-laki membuat kontak dengan perempuan akan menjadi pertunjukan dominasi.
Kedalaman perbudakan perempuan dan penyembunyiannya yang disengaja dari fakta ini dengan demikian sangat terkait dengan peningkatan kekuasaan hierarkis dan statis dalam masyarakat. Ketika para perempuan terbiasa dengan perbudakan, hierarki (dari kata Yunani ἱεραρχία atau hierarkhía, “dikuasai oleh imam besar”) ditetapkan: jalan menuju perbudakan terhadap bagian-bagian lain dari masyarakat “diaspal”.
Perbudakan laki-laki terjadi setelah perbudakan perempuan. Perbudakan gender berbeda dalam beberapa hal dengan perbudakan kelas dan bangsa. Legitimasinya diperoleh melalui represi yang halus dan secara intens dikombinasikan dengan kebohongan dan permainan emosi. Perbedaan biologis perempuan digunakan sebagai pembenaran atas perbudakannya. Semua pekerjaan yang dilakukan perempuan diterima begitu saja dan disebut dengan tidak layak sebagai “pekerjaan perempuan”. Kehadirannya di ruang publik diklaim sebagai larangan oleh agama, dan secara moral memalukan. Dengan cepat, ia dipisahkan dari semua aktivitas sosial yang penting. Karena kekuatan dominan dari aktivitas politik, sosial, dan ekonomi diambil alih oleh laki-laki, kelemahan kaum perempuan menjadi semakin terlembaga. Dengan demikian, gagasan “weak sex” (perempuan sebagai jenis kelamin yang lemah) menjadi keyakinan bersama.
Kenyataannya, masyarakat memperlakukan perempuan bukan hanya sebagai jenis kelamin yang terpisah secara biologis, tetapi juga hampir sebagai ras, bangsa atau kelas yang terpisah—ras, bangsa atau kelas yang paling tertindas: tidak ada ras, kelas atau bangsa yang tunduk pada perbudakan sistematis seperti itu, seperti peran ibu rumah tangga (housewifisation).
Kekecewaan yang dialami karena kegagalan dari setiap perjuangan, baik itu untuk kebebasan dan kesetaraan maupun perjuangan demokratis, moral, politik atau kelas, melahirkan pola dasar jejak perjuangan untuk hubungan kekuasaan, hubungan antara perempuan dan laki-laki. Dari hubungan ini membendung semua bentuk hubungan yang menumbuhkan ketidaksetaraan, perbudakan, despotisme, fasisme, dan militerisme. Jika kita ingin menafsirkan makna yang benar untuk istilah-istilah, seperti kesetaraan, kebebasan, demokrasi, dan sosialisme, kita perlu menganalisis dan menghancurkan jaringan kuno hubungan yang telah terjalin di sekeliling perempuan. Tidak ada cara lain untuk mencapai kesetaraan sejati (dengan pengecualian karena keberagaman), kebebasan, demokrasi, dan moralitas.
Akan tetapi, aspek yang jelas mengklarifikasi status perempuan hanyalah salah satu aspek dari masalah ini. Jauh lebih penting adalah persoalan pembebasan, dengan kata lain, resolusi untuk masalah tersebut melebihi pentingnya mengungkapkan dan menganalisisnya. Titik yang paling menjanjikan dalam sistem kapitalis yang kacau saat ini adalah sorotan terhadap status perempuan (walaupun terbatas). Selama kuartal terakhir, dari feminisme abad ke-20 berhasil (meskipun tidak cukup) mengungkapkan kebenaran tentang perempuan. Di saat-saat kekacauan, kemungkinan perubahan untuk setiap fenomena meningkat sesuai dengan tingkat kemajuan atau klarifikasi yang tersedia. Dengan demikian, pada saat seperti itu, langkah-langkah kecil yang diambil untuk kebebasan mungkin merupakan sejumlah lompatan ke depan. Pembebasan perempuan dapat muncul sebagai pemenang besar dari krisis saat ini. Apa pun yang telah dibangun oleh tangan manusia dapat dihancurkan oleh tangan manusia. Perbudakan perempuan bukanlah hukum alam, juga bukan takdir. Yang kita perlukan adalah teori, program, organisasi, dan mekanisme untuk mengimplementasikannya.
Patriarki tidak selalu eksis. Ada bukti kuat bahwa pada milenium sebelum munculnya peradaban negara, posisi perempuan dalam masyarakat sangat berbeda. Memang, masyarakat itu matrisentris—dibangun oleh para perempuan.
Sistem matrisentris eksis dalam sistem Zagros-Taurus, sistem Mesolitik, dan kemudian masyarakat Neolitik mulai berkembang pada akhir periode glasial keempat, sekitar dua puluh ribu tahun yang lalu. Masyarakat yang luar biasa ini, dengan peralatannya yang berkembang dengan baik dan sistem permukiman canggih, jauh lebih maju daripada masyarakat klan sebelumnya. Periode ini merupakan era yang menakjubkan dalam sejarah alam sosial kita. Banyak perkembangan yang masih terjadi dan dapat ditelusuri kembali dalam tahap historis ini: revolusi pertanian, pembentukan desa, akar perdagangan, serta keluarga berbasis ibu, suku, dan organisasi tribal.
Banyak metode, perabotan, dan peralatan yang masih kita gunakan saat ini didasarkan pada ciptaan dan penemuan yang kemungkinan besar dibuat oleh para perempuan di era ini, seperti berbagai aplikasi bermanfaat yang berasal dari berbagai tanaman, pemeliharaan hewan dan budidaya tanaman, pembangunan tempat tinggal, prinsip-prinsip nutrisi anak, cangkul dan gerinda tangan (hand grinder), bahkan mungkin gerobak sapi.
Bagi saya, kultus ibu-dewi di era ini melambangkan rasa hormat untuk peran perempuan dalam kemajuan yang besar ini. Saya tidak melihatnya sebagai pemujaan kesuburan yang abstrak. Pada saat yang sama, hierarki yang didasarkan pada perempuan adalah akar historis konsep ibu, yang dengannya semua masyarakat masih menghormati dan mengakui ibu sebagai otoritas. Otoritas ini dibutuhkan perempuan karena ibu adalah unsur kehidupan utama yang melahirkan dan menopang kehidupan melalui pengasuhan, bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun. Memang, setiap budaya dan hierarki berdasarkan pengakuan ini tidak bisa menolong banyak perempuan, tetapi hanya sekadar menghormati mereka. Alasan sebenarnya atas eksistensi yang panjang dari konsep-ibu adalah kenyataan bahwa sang ibu secara konkrit membentuk dasar dari makhluk sosial: manusia, dan bukan karena kemampuan abstrak perempuan untuk melahirkan.
Selama periode Neolitik, suatu tatanan sosial komunal lengkap yang disebut “sosialisme primitif” diciptakan oleh perempuan. Pada tatanan sosial ini tidak ada praktik penegakan aturan negara. Namun demikian, tatanan sosial ini sudah ada selama ribuan tahun. Ini adalah tatanan awet yang membentuk kesadaran sosial kolektif manusia; dan merupakan kerinduan kita yang tak ada habisnya untuk mendapatkan kembali dan mengabadikan tatanan sosial ini dengan kesetaraan dan kebebasan yang mengarah pada konstruksi surga kita.
Sosialisme primitif yang dicirikan oleh kesetaraan dan kebebasan dapat dijalankan karena moralitas sosial dari tatanan matriarkal tidak memungkinkan adanya kepemilikan—yang merupakan faktor utama dibalik pelebaran kelas sosial. Pembagian kerja antara kedua jenis kelamin dan persoalan lain yang terkait dengan pembagian ini belum didasarkan pada kepemilikan dan hubungan kekuasaan. Hubungan privat di dalam kelompok belum berkembang.
Makanan yang telah dikumpulkan atau diburu adalah milik semua orang. Anak-anak adalah milik klan. Tidak ada laki-laki atau perempuan sebagai milik pribadi dari satu orang. Di dalam semua hal ini, masyarakat yang masih kecil dan tidak memiliki kapasitas produksi yang besar memiliki budaya ideologis dan material yang solid. Prinsip-prinsip dasar yang menopang masyarakat adalah berbagi dan solidaritas. Kemudian, kepemilikan dan kekuasaan sebagai bahaya yang mengancam kehidupan akan membahayakan budaya ini.
Berbeda dari masyarakat arus utama, hubungan masyarakat Neolitik dengan alam dipertahankan, baik dalam hal budaya ideologis maupun material, melalui kepatuhan terhadap prinsip-prinsip ekologi. Alam dianggap hidup dan berjiwa, tidak berbeda dari diri mereka sendiri. Kesadaran terhadap alam menumbuhkan mentalitas yang mengakui banyak kesucian dan keilahian di alam. Kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang esensi kehidupan kolektif jika kita mengakui bahwa esensi itu didasarkan pada metafisika kesucian dan keilahian yang berasal dari penghormatan terhadap perempuan-ibu. Hal yang perlu kita pahami ialah: mengapa dan bagaimana mungkin sistem matriarkal zaman Neolitik tergantikan?
Sejak kemunculan kelompok sosial yang paling awal, ada ketegangan antara kegiatan pengumpulan makanan oleh perempuan dan kegiatan berburu oleh laki-laki, dan hasilnya bahwa dua evolusi budaya yang berbeda berkembang dalam masyarakat.
Dalam masyarakat matriarkal, meskipun terbatas, surplus produk terakumulasi. (Ini adalah awal dari ekonomi—bukan sebagai konsep, tetapi dalam hal esensinya—dan di sinilah kita akan menemukan akar dari berbagai jenis ekonomi, seperti kapitalis dan ekonomi hadiah atau gift economies). Perempuanlah para pengasuh yang mengendalikan surplus ini. Akan tetapi, laki-laki (yang kemungkinan besar dapat mengembangkan teknik perburuan yang lebih berhasil) memperbaiki posisinya, mencapai status yang lebih tinggi, dan mengumpulkan pendukung di sekelilingnya. “Para tetua yang bijak” dan dukun, yang sebelumnya bukan bagian dari kelompok laki-laki yang kuat, kini melekatkan diri kepada kelompok tersebut dan membantu membangun ideologi dominasi laki-laki. Mereka bermaksud mengembangkan gerakan yang sangat sistematis terhadap otoritas perempuan.
Dalam masyarakat matriarkal pada zaman Neolitik tidak ada hierarki yang diinstitusikan. Sekarang hierarki tersebut diperkenalkan secara perlahan. Aliansi antara dukun, para tetua, dan orang-orang yang berpengalaman merupakan perkembangan penting dalam hal ini. Ideologi mempertahankan aliansi laki-laki yang didirikan di atas para pemuda (laki-laki kuat) yang mereka tarik ke lingkaran mereka dan memperkuat posisi mereka di masyarakat. Hal yang penting adalah sifat tenaga yang dikuasai laki-laki. Berburu dan melindungi klan dari bahaya eksternal bergantung pada pembunuhan dan melukai sehingga dengan demikian memiliki karakteristik militer. Ini adalah awal dari budaya perang. Dalam situasi hidup dan mati, seseorang harus mematuhi otoritas dan hierarki.
Communality atau Paguyuban adalah fondasi di mana hierarki dan kekuasaan negara dibangun. Awalnya, istilah hierarki merujuk pada pemerintahan oleh para imam, otoritas dari para tetua yang bijak. Awalnya, otoritas ini memiliki fungsi positif. Bahkan, kita mungkin dapat melihat hierarki yang menguntungkan dalam masyarakat sebagai prototipe demokrasi. Perempuan-ibu dan para tetua yang bijak memastikan keamanan komunal dan pemerintahan di masyarakat. Mereka adalah elemen dasar yang penting dan berguna dalam masyarakat yang tidak didasarkan pada akumulasi dan kepemilikan. Masyarakat secara sukarela memberi mereka penghormatan. Akan tetapi, ketika ketergantungan sukarela diubah menjadi otoritas, kebermanfaatan menjadi kepentingan pribadi. Hal itu selalu memberi jalan kepada instrumen kekuasaan yang tidak perlu. Instrumen kekuasaan menyamarkan diri di balik keamanan umum dan produksi kolektif. Ini merupakan inti dari semua sistem eksploitatif dan opresif. Ini adalah makhluk paling jahat yang pernah diciptakan; penciptaan yang membawa keempat bentuk perbudakan, semua bentuk mitologi dan agama, semua penghancuran sistematis dan perampasan. Tidak diragukan, ada alasan eksternal terjadinya disintegrasi masyarakat Neolitik. Akan tetapi, faktor utamanya adalah masyarakat suci para imam. Legenda peradaban awal di dataran rendah Mesopotamia dan sepanjang Sungai Nil membenarkan hal ini. Budaya masyarakat Neolitik yang canggih yang dikombinasikan dengan teknik-teknik baru irigasi buatan menyediakan produk surplus yang dibutuhkan untuk pembentukan masyarakat semacam itu. Hal itu sebagian besar melalui posisi dan kekuasaan laki-laki yang baru dicapai ketika masyarakat urban yang terbentuk di sekitar produk surplus diorganisasikan dalam bentuk negara.
Urbanisasi berarti komodifikasi yang menghasilkan perdagangan. Perdagangan meresap ke dalam pembuluh darah masyarakat Neolitik dalam bentuk koloni. Komodifikasi, nilai tukar, dan kepemilikan privat tumbuh secara eksponensial sehingga mempercepat disintegrasi masyarakat Neolitik.
Dalam kerangka revolusi/kontra revolusi materialisme historis, saya menyarankan agar kita menyebut kemelut perpecahan seksual (sexual rupture) sebagai istilah mengenai titik balik yang luar biasa dalam sejarah perpecahan seksual antara jenis kelamin. Sejarah telah mencatat dua kemelut perpecahan ini, dan saya memprediksi akan terjadi kemelut yang lain di masa depan.
Saat era sosial mendahului peradaban sipil, kekuatan yang terorganisasi dari “laki-laki kuat” muncul untuk tujuan tunggal, yaitu menjebak hewan dan membangun pertahanan melawan bahaya dari luar. Kekuatan terorganisasi ini kemudian mendambakan unit klan-keluarga yang telah dibangun oleh perempuan sebagai produk dari kerja emosional perempuan. Perampasan klan-keluarga (oleh laki-laki kuat yang terorganisasi) merupakan kekerasan terorganisir pertama yang serius. Hal yang dirampas dalam proses tersebut ialah perempuan itu sendiri, anak-anak, kerabatnya, serta semua akumulasi material budaya dan moral mereka. Hal tersebut adalah perampasan ekonomi awal, yaitu ekonomi rumah (home economy). Kekuatan terorganisasi yang terdiri dari protopendeta (dukun), para tetua yang berpengalaman, dan laki-laki kuat saling bersekutu untuk menyusun kekuatan hierarkis-patriarkis awal yang terlama dan berumur panjang, yaitu pemerintahan suci. Hal ini bisa dilihat di semua masyarakat yang berada pada tahap yang sama: sampai pada tahap kelas, kota, dan negara, hierarki ini dominan dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Dalam masyarakat Sumeria , meskipun keseimbangan berangsur-angsur berbalik melawan perempuan, kedua gender yang berlawanan masih kurang lebih egaliter (setara) sampai milenium ke-2 SM. Banyak kuil untuk para dewi dan teks-teks mitologis dari periode ini menunjukkan bahwa antara 4000—2000 SM pengaruh budaya ibu-perempuan pada Sumeria, yang telah membentuk pusat peradaban, setara dengan laki-laki. Sampai pada periode ini, tidak ada budaya menghina (shaming) yang berkembang terhadap perempuan.
Jadi, kita lihat ini merupakan awal dari budaya baru yang mengembangkan keunggulannya atas kultus perempuan-ibu. Perkembangan otoritas dan hierarki sebelum dimulainya masyarakat kelas merupakan salah satu titik balik terpenting dalam sejarah. Budaya ini secara kualitatif berbeda dari budaya perempuan-ibu. Mengumpulkan makanan dan kemudian berkultivasi, yang merupakan unsur-unsur pra-dominan budaya perempuan-ibu, adalah kegiatan damai yang tidak memerlukan peperangan. Perburuan yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki bertumpu pada budaya perang dan otoritas yang keras.
Dapat dimengerti bahwa laki-laki kuat yang peran esensialnya berburu menginginkan akumulasi dari tatanan matriarkal. Menetapkan dominasinya terhadap perempuan akan menghasilkan banyak keuntungan. Organisasi kekuasaan yang ia peroleh melalui perburuan, sekarang memberinya kesempatan untuk memerintah dan membangun hierarki sosial pertama. Perkembangan ini merupakan penggunaan pertama kecerdasan analitis dengan niat jahat. Setelah itu, niat jahat ini menjadi sistemik. Lebih jauh lagi, transisi dari kultus ibu suci ke kultus ayah suci memungkinkan kecerdasan analitik untuk menutupi dirinya di balik kesucian.
Dengan demikian, asal-usul masalah sosial yang serius dapat ditemukan dalam masyarakat patriarki yang menjadi seperti kultus, yang berdasarkan agama dan dikuasai oleh laki-laki kuat. Dengan perbudakan terhadap perempuan, tanah disiapkan untuk perbudakan—tidak hanya anak-anak, tetapi juga perbudakan terhadap laki-laki. Ketika laki-laki memperoleh pengalaman dalam mengumpulkan nilai-nilai melalui penggunaan kerja perbudakan (terutama dalam mengumpulkan produk surplus), kontrol dan dominasi budak-budak ini tumbuh. Kekuasaan dan otoritas menjadi semakin penting. Kolaborasi antara laki-laki kuat, tetua yang berpengalaman, dan dukun untuk membentuk kelas yang istimewa menghasilkan pusat kekuasaan yang sulit untuk dilawan. Dalam pusat kekuasaan ini, kecerdasan analitis mengembangkan narasi mitologis yang luar biasa untuk menguasai pikiran masyarakat. Dalam dunia mitologis yang dikomposisikan terhadap masyarakat Sumeria (dan diwariskan selama berabad-abad dengan beberapa adaptasi), laki-laki ditinggikan sampai pada titik ketika ia dituhankan sebagai pencipta langit dan bumi. Sementara keilahian dan kesakralan perempuan pertama-tama direndahkan dan kemudian dihapus. Gagasan tentang laki-laki sebagai pemerintah dan penguasa mutlak tertanam dalam masyarakat. Jadi, melalui jaringan narasi mitologis yang sangat besar, setiap aspek budaya menjadi terselubung dalam hubungan antara penguasa dan objek yang dikuasai, pencipta, serta yang diciptakan. Masyarakat terpedaya sehingga menginternalisasikan dunia mitologi ini dan secara bertahap menjadi versi mitologi yang lebih disukai. Kemudian, mitologi ini berubah menjadi agama. Agama dengan konsep pembedaan dan pembagian yang ketat antara manusia dibangun. Contohnya, pembagian divisi dalam masyarakat tercermin dalam kisah pengusiran Adam dan Hawa dari surga dan kutukan perbudakan. Legenda ini memberkati para dewa-penguasa Sumeria dengan kekuasaan kreatif; subjek mereka diciptakan kembali sebagai pelayan.
Mitologi Sumeria memiliki kisah penciptaan dari rusuk dewa antropomorfik. Namun demikian, kebalikannya adalah dewi Ninhursag yang melakukan tindakan penciptaan untuk menyelamatkan kehidupan dewa laki-laki Enki. Seiring waktu, narasi tersebut diubah untuk menguntungkan laki-laki. Unsur-unsur yang berulang dari persaingan dan kreativitas dalam mitos Enki dan Ninhursag-Inanna memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, merendahkan perempuan dan mengurangi pentingnya kreativitas masa lalu perempuan. Di sisi lain, melambangkan pembentukan peran manusia hanyalah budak dan pelayan. (Saya percaya bahwa konsepsi yang disebutkan terakhir yang berasal dari para imam Sumeria telah memainkan peran dalam semua dilema hubungan Tuhan-hamba di masa-masa berikutnya. Untuk memastikan kebenaran ini adalah hal yang penting, meskipun demikian, literatur keagamaan menahan diri untuk melakukan hal itu ataukah menolak gagasan yang tidak terkendali. Apakah hal ini karena para teolog merasa perlu untuk menyamarkan kebenaran yang disebabkan oleh ketertarikan mereka pada hal tersebut?)
Identitas ilahi yang dirancang dalam masyarakat Sumeria adalah refleksi dari pendekatan baru terhadap alam dan kekuasaan sosial baru. Lebih dari itu, rancangan identitas ilahi ini hampir digunakan untuk tujuan mengondisikan pikiran baru. Bergandengan tangan dengan pengaruh yang menurun dari dimensi alam, dimensi kemasyarakatan menjadi penting. Pengaruh perempuan menurun secara bertahap dan ada perkembangan mencolok dalam hal melambangkan manusia sebagai subjek, sebagai pelayan. Sementara kekuatan politik yang berkembang di masyarakat menghasilkan keunggulan dari beberapa Tuhan, hal ini juga mengakibatkan hilangnya beberapa identitas dan perubahan signifikan dalam bentuk yang lain. Dengan demikian, kekuasaan absolut dari kerajaan selama fase Babilonia tercermin dalam kebangkitan dewa Marduk.
Dengan urutan seperti itu, ketika laki-laki memiliki anak-anak, sang ayah ingin memiliki anak sebanyak mungkin (terutama anak laki-laki, untuk memperoleh kekuasaan). Perintah soal memiliki anak-anak sebanyak mungkin memungkinkan laki-laki untuk merebut akumulasi milik perempuan-ibu: maka sistem kepemilikan diciptakan. Bersamaan dengan kepemilikan kolektif negara-pendeta, kepemilikan pribadi dari dinasti dimunculkan. Kepemilikan pribadi juga mengharuskan pembentukan keayah-an: restu ayah diperlukan agar warisan dapat diteruskan, terutama kepada anak laki-laki. Sejak 2000 SM dan seterusnya, budaya ini menjadi tersebar luas. Status sosial perempuan secara radikal diubah. Masyarakat patriarki telah memperoleh kekuasaan untuk membuat aturannya menjadi legenda. Sementara dunia laki-laki dimuliakan dan diprioritaskan, semua perempuan diremehkan, direndahkan, dan dijelek-jelekkan.
Kemelut perpecahan seksual ini begitu radikal sehingga menghasilkan perubahan paling signifikan dalam sejarah kehidupan sosial yang pernah ada. Perubahan ini menyangkut nilai perempuan dalam budaya Timur Tengah. Kita dapat menyebut perubahan kemelut perpecahan seksual besar pertama sebagai kontra revolusi. Saya menyebutnya sebagai kontra revolusi karena tidak berkontribusi pada perkembangan masyarakat yang positif. Sebaliknya, kemelut perpecahan seksual telah menyebabkan kemiskinan hidup luar biasa dengan membawa dominasi kaku patriarki terhadap masyarakat dan mengesampingkan perempuan. Air mata dalam peradaban Timur Tengah ini bisa dibilang langkah pertama dalam situasi yang semakin memburuk karena konsekuensi negatif dari kemelut perpecahan ini terus bertambah dan berlipat ganda seiring waktu. Alih-alih menjadi masyarakat bersuara ganda, ia malah menghasilkan satu suara saja yang disuarakan, yaitu masyarakat laki-laki. Transisi dibuat menjadi satu dimensi, yaitu budaya sosial yang sangat maskulin. Kecerdasan emosional perempuan yang menciptakan keajaiban, yang manusiawi, serta berkomitmen terhadap alam dan kehidupan telah hilang. Sebagai gantinya, telah lahir kecerdasan analitis terkutuk dari budaya kejam yang telah menyerahkan dirinya pada dogmatisme dan melepaskan diri dari alam; yang menganggap perang sebagai kebajikan yang paling mulia dan menikmati pertumpahan darah manusia; yang memberi hak untuk perlakuan sewenang-wenang terhadap perempuan dan perbudakannya terhadap manusia. Kecerdasan ini adalah antitipe dari kecerdasan egaliter perempuan yang berfokus pada produksi yang bersifat kemanusiaan dan alam yang berjiwa.
Sang ibu telah menjadi dewi kuno. Dia sekarang duduk di rumahnya. Seorang perempuan yang patuh dan suci. Jauh dari setara dengan para dewa, dia tidak bisa membuat suaranya terdengar atau mengungkapkan wajahnya. Perlahan, dia dibungkus dengan cadar, menjadi tawanan di dalam harem laki-laki.
Begitu dalamnya perbudakan perempuan di Arab (juga diintensifkan oleh Musa dalam tradisi Abrahamik) terkait dengan perkembangan historis ini.
Struktur hierarkis dan otoriter sangat penting bagi masyarakat patriarkal. Pemerintah otoriter yang bersekutu dengan otoritas sakral para dukun menghasilkan konsep hierarki.
Otoritas yang diinstitusikan berangsur-angsur menonjol di masyarakat. Ketika jurang perbedaan kelas diintensifkan, institusi ini berubah menjadi otoritas negara. Sebelum sampai pada era ini (otoritas negara), otoritas hierarkis bersifat personal, belum diinstitusikan. Dengan demikian, tidak memiliki banyak dominasi atas masyarakat seperti negara yang telah diinstitusikan. Kepatuhan terhadap otoritas hierarkis ini sebagian bersifat sukarela, sebuah komitmen yang ditentukan oleh kepentingan masyarakat.
Namun demikian, proses yang sedang digerakkan tersebut merupakan suatu hal yang kondusif bagi kelahiran negara hierarkis. Sistem komunal primitif menolak proses ini untuk waktu yang lama. Sikap hormat dan komitmen terhadap otoritas aliansi ditunjukkan hanya jika mereka berbagi akumulasi produk mereka dengan anggota masyarakat. Bahkan, akumulasi produk surplus dianggap salah. Orang yang paling dihormati adalah orang yang membagikan akumulasi dirinya. (Tradisi sikap dermawan telah dihormati pada era ini, yang masih berkembang dalam masyarakat klan hari ini, berakar pada tradisi sejarah yang kuat ini.) Sejak awal, komunitas ini melihat akumulasi produk surplus sebagai ancaman paling serius bagi dirinya dan mendasarkan moralitas dan agamanya untuk melawan ancaman ini. Akan tetapi, akhirnya, budaya akumulasi dan otoritas hierarkis laki-laki memang mengalahkan perempuan. Kita harus mengerti bahwa kemenangan ini bukanlah keharusan sejarah yang tidak dapat dihindari. Tidak ada undang-undang yang menyatakan bahwa masyarakat secara alami harus berkembang menjadi hierarkis dan kemudian menjadi masyarakat statis. Mungkin ada kecenderungan terhadap perkembangan seperti itu, tetapi menyamakan kecenderungan seperti itu dengan proses yang tak terhindarkan dan tak bisa berhenti serta harus berjalan penuh, akan menjadi asumsi yang keliru total. Melihat eksistensi kelas sebagai takdir dan nasib telah digunakan menjadi alat yang tidak disengaja bagi para ideolog kelas.
Setelah kekalahan ini, air mata kesedihan muncul di masyarakat komunal perempuan. Proses transformasi ke masyarakat hierarkis bukanlah hal yang mudah. Ini adalah fase transisi antara masyarakat komunal dan negara primitif. Pada akhirnya, masyarakat hierarkis harus hancur atau menghasilkan negara. Meskipun memainkan peran positif dalam perkembangan masyarakat, bentuk sosialisasinya, aliansi antara kekuatan laki-laki, memberikan kekuatan kepada patriarki hierarkis untuk berkembang menjadi negara. Benar-benar masyarakat hierarkis dan patriarkis ketika menundukkan perempuan, pemuda, dan anggota etnis lain. Proses ini dilakukan sebelum perkembangan negara. Hal yang paling penting adalah bagaimana penaklukan ini tercapai. Kewenangan untuk melakukan ini tidak dicapai melalui hukum, tetapi melalui moral baru yang didasarkan pada kebutuhan duniawi, bukan kesucian.
Sementara terjadi perkembangan ke arah konsep religius dari Tuhan abstrak dan esa yang mencerminkan nilai-nilai masyarakat patriarkal, otoritas matriarkal masyarakat alam dengan para dewinya berusaha melawan. Dalam tatanan matriarkal, aturan yang penting adalah untuk bekerja, menghasilkan, dan menyediakan untuk menjaga agar orang-orang tetap hidup. Sementara moralitas patriarki melegitimasi akumulasi dan membuka jalan bagi kepemilikan, moralitas masyarakat komunal mengutuk akumulasi surplus sebagai sumber dari semua perbuatan salah, dan mendorong distribusi terhadap surplus. Kerukunan internal di masyarakat berangsur-angsur memburuk dan ketegangan meningkat.
Solusi untuk konflik ini adalah mengembalikan nilai-nilai matriarkal lama atau meningkatkan kekuatan patriarki di dalam dan di luar komunitas. Bagi faksi patriarkal hanya ada satu pilihan, yaitu membentuk dasar-dasar masyarakat yang ganas, masyarakat perang yang didasarkan pada penindasan dan eksploitasi. Melalui proses konflik di dalam fase pembentukan negara ini, fase otoritas yang diinstitusikan berdasarkan kekuatan permanen telah muncul.
Tanpa analisis, status perempuan dalam sistem hierarkis dan kondisi di mana ia diperbudak tak dapat dipahami, baik di sistem negara maupun di sistem kelas setelahnya. Perempuan tidak ditargetkan oleh aliansi laki-laki sebagai gender perempuan, tetapi sebagai pendiri masyarakat matriarkal. Tanpa analisis mendalam tentang perbudakan perempuan dan penetapan syarat-syarat untuk mengatasinya, tidak ada perbudakan lain yang dapat dianalisis atau diatasi. Tanpa analisis ini, kesalahan mendasar tidak dapat dihindari.
Sejak lompatan perkembangan hierarkis yang besar, seksisme telah menjadi ideologi dasar kekuasaan. Seksisme terkait erat dengan pembagian kelas dan pendirian kekuasaan. Otoritas perempuan tidak didasarkan pada produk surplus. Sebaliknya, otoritas itu berasal dari kesuburan dan produktivitas dan penguatan eksistensi sosial. Di satu sisi sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Di sisi lain, otoritas matriarkal juga terikat erat dengan kehidupan komunal. Fakta bahwa perempuan tidak memiliki tempat dalam perang kekuasaan berdasarkan produk surplus adalah karena posisi mereka dalam eksistensi sosial.
Kita perlu menunjukkan karakteristik yang telah diinstitusikan dalam peradaban masyarakat, yaitu masyarakat yang rentan terhadap hubungannya dengan kekuasaan. Sama seperti housewifization, diperlukan untuk merekonstruksi kembali perempuan. Masyarakat perlu dipersiapkan untuk mengamankan kekuasaan demi eksistensi kekuasaan itu sendiri. Housewifization adalah bentuk tertua dari perbudakan. Laki-laki kuat dan sekutunya mengalahkan perempuan-ibu dan semua aspek kultusnya melalui pertarungan panjang dan komprehensif. Housewifization kemudian diinstitusikan ketika masyarakat seksis menjadi dominan. Diskriminasi gender bukanlah gagasan yang terbatas pada hubungan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki. Diskriminasi ini mendefinisikan hubungan kekuasaan yang telah menyebar ke semua tingkatan sosial. Ini merupakan indikasi kekuatan negara yang telah mencapai kapasitas maksimumnya dengan modernitas.
Diskriminasi gender memiliki dua dampak destruktif terhadap masyarakat. Pertama, telah membuka jalan perbudakan terhadap masyarakat. Kedua, semua bentuk perbudakan lainnya telah dilaksanakan atas dasar housewifization. Housewifization tidak hanya bertujuan menciptakan kembali seorang individu sebagai objek seks. Oleh sebab itu, hal tersebut bukanlah hasil dari karakteristik biologis. Housewifization adalah proses sosial yang intrinsik dan menargetkan seluruh masyarakat. Perbudakan, penaklukan, penindasan dengan penghinaan (insults), tangisan, budaya berbohong, sifat tidak sopan, dan memamerkan diri adalah semua aspek yang diakui sebagai hasil dari housewifization dan harus ditolak oleh moral kebebasan. Housewifization adalah fondasi dari degradasi masyarakat dan fondasi perbudakan sejati. Housewifization adalah landasan kelembagaan berbagai jenis perbudakan dan imoralitas yang paling tua yang diterapkan selanjutnya. Masyarakat beradab yang ada kini, mencerminkan landasan ini di semua kategori sosialnya. Agar sistem ini berfungsi, masyarakat secara keseluruhan harus menerapkan housewifization. Kekuasaan identik dengan maskulinitas. Dengan demikian, penundukan masyarakat dengan housewifization tidak dapat dihindari. Hal itu disebabkan kekuasaan tidak mengakui prinsip-prinsip kebebasan dan kesetaraan. Jika ada pengakuan terhadap kebebasan dan kesetaraan, kekuasaan tidak bisa eksis. Kekuasaan dan seksisme dalam masyarakat memiliki esensi yang sama.
Hal penting lainnya yang harus kita sebutkan adalah ketergantungan dan penindasan kaum muda yang dibentuk oleh para tetua laki-laki yang berpengalaman dalam masyarakat hierarkis. Sementara pengalaman memperkuat tetua laki-laki, usia membuatnya lemah dan tak berdaya. Hal ini memaksa para tetua untuk meminta kaum muda bergerak dan dilakukan dengan cara memenangkan pikiran mereka. Patriarki diperkuat dengan cara-cara ini. Kekuatan fisik pemuda memungkinkan mereka untuk melakukan apa pun yang mereka sukai. Ketergantungan para tetua terhadap kaum muda ini terus menerus diabadikan dan diintensifkan. Keunggulan dari pengalaman dan ideologi tidaklah mudah dirusak. Kaum muda (dan bahkan anak-anak) ditundukkan dengan strategi dan taktik yang sama. Hal itu diwujudkan dalam propaganda ideologis dan politik, dan dengan sistem yang menindas sebagaimana penindasan terhadap perempuan—pada masa belum dewasa, seperti feminitas, bukanlah fakta fisik tetapi fakta sosial.
Hal yang harus dipahami dengan baik ialah bukan suatu kebetulan jika otoritas kekuasaan pertama yang didirikan adalah otoritas atas perempuan. Perempuan mewakili kekuatan masyarakat organik, alami, dan egaliter yang belum bersifat opresif dan eksploitatif. Patriarki tidak mungkin menang jika perempuan tidak dikalahkan. Selain itu, transisi ke institusi negara juga tidak mungkin dilakukan. Menghancurkan kekuasaan perempuan-ibu dengan demikian memiliki arti strategis. Tidak heran bahwa pertarungan tersebut adalah proses yang sulit.
Tanpa menganalisis proses ketika perempuan secara sosial ditundukkan, seseorang tidak dapat memahami dengan benar karakteristik dasar dari budaya sosial dominasi laki-laki. Bahkan, memahami pembentukan maskulinitas secara sosial tidak mungkin dilakukan. Tanpa memahami bagaimana maskulinitas terbentuk secara sosial, seseorang tidak dapat menganalisis institusi negara. Oleh karena itu, tidak akan dapat secara akurat mendefinisikan perang dan budaya kekuasaan yang terkait dengan persoalan negara (statehood). Saya menekankan masalah ini karena kita perlu untuk benar-benar mengekspos kepribadian yang seperti para dewa dan tuhan-tuhan yang mengerikan, yang muncul sebagai akibat dari semua pembagian kelas dan semua jenis eksploitasi yang berbeda, serta pembunuhan yang terjadi di hari-hari selanjutnya karena masalah ini. Penundukan sosial perempuan adalah kontra revolusi paling kejam yang pernah dilakukan. Kekuasaan telah mencapai kekuatan penuhnya dalam bentuk negara-bangsa.
Kekuasaan mendapatkan kekuatannya, terutama dari seksisme yang menyebar dan mengintensifkan seksisme dengan mengintegrasikan perempuan ke dalam angkatan kerja, serta melalui nasionalisme dan militerisme. Seksisme, sama seperti nasionalisme, adalah ideologi yang membentuk kekuasaan dan negara-bangsa. Seksisme bukanlah perbedaan biologis. Bagi laki-laki yang dominan, perempuan adalah objek yang akan digunakan untuk merealisasikan ambisinya. Dalam hal yang sama, ketika housewifization telah dilakukan, laki-laki dominan kemudian memulai proses mengubah laki-laki menjadi budak. Setelah itu, dua bentuk perbudakan ini menjadi terjalin.
Singkatnya, kampanye-kampanye untuk mendomestikasikan perempuan dan untuk membentuk penghormatan bagi struktur otoritas laki-laki penakluk dan militer (prajurit) saling terjalin erat. Negara sebagai institusi diciptakan oleh laki-laki, sedangkan perang, perampasan, dan penjarahan hampir merupakan satu-satunya cara produksi. Pengaruh sosial perempuan yang didasarkan pada produksi digantikan oleh pengaruh masyarakat yang didasarkan pada perang dan penjarahan. Ada hubungan erat antara pengekangan perempuan dan budaya masyarakat militer. Perang tidak menghasilkan apa pun (produksi), ia merebut dan merampas. Meskipun kekuasaan dapat menentukan untuk kemajuan sosial di bawah kondisi-kondisi unik tertentu (misalnya melalui perlawanan terhadap pendudukan, invasi, dan kolonialisme sehingga jalan menuju kebebasan dilancarkan), lebih sering hal tersebut destruktif dan negatif.
Budaya kekerasan yang telah terinternalisasi dalam masyarakat diberi jalan yang lapang oleh perang. Pedang yang digunakan dalam peperangan negara dan juga kekuasaan laki-laki di dalam keluarga merupakan simbol hegemoni. Seluruh masyarakat kelas, dari lapisan atasnya ke lapisan bawahnya, dijepit di antara pedang dan kekuasaan laki-laki di dalam keluarga. Ini adalah sesuatu yang selalu saya coba pahami: Bagaimana mungkin kekuasaan yang dimiliki perempuan jatuh ke tangan laki-laki yang benar-benar tidak produktif dan tidak kreatif. Jawabannya tentu saja terletak pada peran pemaksaan yang dimainkan. Ketika persoalan ekonomi juga diambil dari perempuan, pengekangan yang mengerikan tidak terhindarkan.
Jutaan tahun setelah pembentukan patriarki (saya sebut dengan “kemelut perpecahan seksual besar pertama”), perempuan sekali lagi menerima pukulan saat mereka masih berjuang untuk memulihkan diri. Saya mengacu pada intensifikasi patriarki melalui agama monoteistik. Mentalitas penolakan terhadap masyarakat alam (natural society) diperdalam dalam sistem sosial feodal. Pemikiran agama dan filsafat membentuk mentalitas baru masyarakat dominan. Masyarakat Sumeria mensintesiskan nilai-nilai masyarakat Neolitik ke dalam sistem baru. Dengan cara yang sama, masyarakat feodal mensintesis nilai-nilai moral kelas tertindas dari sistem lama dan perlawanan kelompok etnis dari daerah-daerah terpencil ke dalam struktur internalnya sendiri. Perkembangan politeisme menjadi monoteisme memainkan peranan penting dalam proses ini.
Fitur-fitur pola pikir mitologis diperbarui oleh konsep-konsep religius dan filosofis. Kebangkitan kekuatan kekaisaran tercermin dalam tuhan dengan jumlah banyak yang tak berdaya lalu berevolusi menjadi Tuhan universal yang mahakuasa.
Budaya yang memfokuskan pada perempuan yang dikembangkan oleh agama monoteistik menghasilkan kemelut perpecahan seksual besar kedua. Kemelut yang terjadi saat periode mitologis adalah persyaratan budaya (cultural requirement), sedangkan kemelut yang terjadi pada periode monoteistik adalah “hukum sebagai perintah Tuhan”. Memperlakukan perempuan sebagai inferior di era Monoteistik ini menjadi perintah suci Tuhan. Keunggulan laki-laki dalam agama baru diilustrasikan oleh hubungan antara Nabi Abraham dan perempuan Sarah dan Hagar (Hajar). Patriarki pada era ini terbentuk sempurna. Institusi pergundikan (concubinage) dibentuk dan poligami disetujui. Sebagaimana ditunjukkan oleh hubungan sengit antara Nabi Musa dan saudara perempuannya, Mariam, menjadikan peran perempuan dalam warisan budaya dihapuskan. Masyarakat Nabi Musa adalah masyarakat laki-laki total, perempuan tidak diberi tugas apa pun. Inilah yang dimaksud dengan pertarungan sengit dengan Mariam di atas.
Pada periode kerajaan Ibrani (Hebrew-Yahudi) yang bangkit tepat sebelum akhir milenium pertama SM, kita melihat transisi budaya housewifization yang berkembang, di periode yang sama dengan David (Daud) dan Salomo (Sulaiman). Perempuan sama sekali tidak memainkan peran publik di bawah dominasi ganda budaya patriarki dan budaya negara agama. Perempuan terbaik adalah yang paling sesuai dengan laki-laki atau patriarki. Agama menjadi alat untuk memfitnah perempuan. Terutama, dia—Hawa (Eve)—adalah perempuan berdosa pertama yang telah merayu Adam yang mengakibatkan pengusiran dari surga. Lilith tidak menundukkan dirinya pada Tuhannya Adam (sosok patriarkal) dan berteman dengan pimpinan roh jahat (sosok manusia yang menolak menjadi pelayan dan tidak mematuhi Adam). Memang, klaim Sumeria bahwa perempuan telah diciptakan dari tulang rusuk laki-laki telah dimasukkan dalam Alkitab. Seperti yang disebutkan sebelumnya, ini adalah pembalikan lengkap dari narasi asli—dari perempuan sebagai pencipta—lalu berubah menjadi sesuatu yang diciptakan. Perempuan hampir tidak disebutkan sebagai nabi dalam tradisi agama. Seksualitas perempuan dipandang sebagai kejahatan yang paling celaka dan terus difitnah dan dirusak. Perempuan, yang masih memiliki tempat terhormat di masyarakat Sumeria dan Mesir, sekarang dipandang menjadi sosok aib, dosa, dan perayu.
Dengan datangnya periode Nabi Yesus, muncullah sosok Bunda Maria. Meskipun dia adalah ibu dari putra Tuhan, tidak ada jejak yang tersisa dari sosok dewi darinya. Seorang ibu yang sangat pendiam dan cengeng (tanpa gelar dewi!) telah menggantikan sosok dewi ibu. Kejatuhan perempuan terus berlanjut. Sangat ironis bahwa seorang perempuan semata-mata dibuahi oleh Tuhan11. Sesungguhnya, Trinitas Bapa, Anak, dan Roh Kudus melambangkan sintesis agama-agama politeistik dan agama monoteistik.
Sementara, Maria juga seharusnya dianggap sebagai dewa. Akan tetapi, dia dipandang hanya sebagai alat Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa keilahian telah menjadi milik laki-laki secara eksklusif. Dalam periode Sumeria dan Mesir, dewa dan dewi hampir setara. Bahkan, selama era Babilonia, suara dewi-ibu masih terdengar jelas dan keras.
Perempuan tidak lagi memiliki peran sosial sebagai perempuan di rumahnya. Tugas utamanya adalah merawat anak laki-lakinya, “anak Tuhan”, yang derajatnya telah meningkat jauh sejak periode mitologis. Ruang publik benar-benar tertutup bagi perempuan. Praksis Kekristenan perempuan perawan yang memutuskan hidup sebagai biarawati pada kenyataannya adalah sebuah kemunduran ke arah pengasingan untuk menemukan keselamatan dari dosa. Setidaknya, kehidupan biara dan tertutup ini menawarkan kebebasan dari seksisme dan kutukan. Ada alasan material dan spiritual yang baik dan kuat untuk memilih kehidupan di biara daripada kehidupan seperti neraka di rumah. Kita hampir bisa menyebut institusi ini sebagai partai perempuan miskin pertama. Monogami, yang telah dikekalkan dalam Yudaisme, diambil alih oleh Kekristenan dan disucikan. Praksis monogami ini memiliki tempat penting dalam sejarah peradaban Eropa. Aspek negatif dari monogami adalah perempuan diperlakukan sebagai objek seksual dalam peradaban Eropa karena orang Katolik melarang perceraian.
Dengan kedatangan Nabi Muhammad dan Islam, status perempuan dalam budaya patriarki suku-suku gurun agak membaik. Akan tetapi, pada intinya, Islam telah mendasarkan dirinya pada budaya Abrahamik. Selama periode Nabi Muhammad, perempuan memiliki status yang sama seperti yang terjadi pada periode Daud dan Salomo. Saat itu, pernikahan ganda (multiple) untuk alasan politik dan memiliki banyak selir dianggap sah. Meskipun dalam Islam perkawinan dibatasi untuk empat perempuan, namun pada dasarnya status perempuan tidak berubah karena laki-laki masih memiliki lembaga harem dan selir.
Budaya Kristiani maupun Muslim telah stagnan dalam hal mengatasi masyarakat seksis. Kebijakan Kekristenan terhadap perempuan dan seksualitas secara umum adalah latar belakang di balik krisis kehidupan monogami modernis. Inilah realitas di balik krisis budaya seksis dalam masyarakat Barat. Krisis ini juga tidak bisa diselesaikan dengan melakukan selibat seperti yang dituntut terhadap para imam dan biarawati. Solusi Islam tidak berhasil, yaitu dengan mengutamakan pemenuhan seksual laki-laki dengan memiliki banyak perempuan dengan status istri dan selir. Pada intinya, harem hanyalah sebuah rumah bordil yang diprivatisasi untuk dipakai oleh satu-satunya individu istimewa. Praktik sosial seksis, seperti harem dan poligami, telah memiliki peran yang menentukan dalam masyarakat Timur Tengah yang tertinggal di belakang masyarakat Barat. Kekangan seksual (praktik selibat dan monogami) oleh agama Kristen merupakan faktor yang telah menyebabkan modernisme, sedangkan mendorong pemenuhan seksual yang berlebihan (praktik poligami) adalah faktor yang menyebabkan Islam mundur ke keadaan yang lebih buruk daripada masyarakat suku Gurun Kuno, dan karenanya diungguli oleh masyarakat Barat modern.
Pengaruh seksisme pada pembangunan masyarakat jauh lebih besar dari yang kita duga. Ketika menganalisis kesenjangan yang berkembang antara pembangunan sosial Timur dan Barat, kita harus fokus pada peran seksisme. Pandangan Islam tentang seksisme telah membuahkan hasil yang jauh lebih negatif daripada peradaban Barat dalam hal perbudakan mendalam terhadap perempuan dan dominasi laki-laki.
Perbudakan sosial bukan hanya fenomena kelas. Ada urutan penaklukan yang lebih tersembunyi daripada sistem kepemilikan budak itu sendiri. Sikap lunak terhadap kebenaran ini berkontribusi pada penanaman sistem lebih dalam. Paradigma mendasar masyarakat adalah sistem perbudakan yang tidak memiliki awal dan akhir.
Saya telah menyebutkan hubungan yang intens antara relasi kekuasaan dalam keluarga patriarkal dan negara. Hal ini layak untuk dilihat lebih dekat.
Landasan ideologi dinasti adalah keluarga patriarkal, ayah dan keharusan memiliki banyak anak laki-laki. Hal ini dapat ditelusuri kembali ke pemahaman kekuatan politik dalam sistem patriarki. Ketika para imam (pendeta) membangun kekuasaannya melalui apa yang disebut kemampuannya memberi dan mengartikan makna, maka laki-laki kuat membentuk kepemimpinannya melalui penggunaan kekuatan politik. Kekuatan politik dapat dipahami sebagai penggunaan kekuatan ketika kepemimpinan tidak dipatuhi. Di sisi lain, kekuatan imam bersandar pada “murka Tuhan” ketika seseorang tidak taat. Hal itu merupakan kekuatan spiritual dan dengan demikian memiliki efek yang stimulan. Sumber kekuatan politik yang sesungguhnya adalah pasukan militer pria yang kuat.
Dinasti, sebagai ideologi dan praktik, berkembang sebagai hasil dari membalikkan sistem ini. Dalam tatanan patriarkal, pemerintahan patriarkal berurat akar sebagai konsekuensi dari aliansi antara “para tetua yang berpengalaman”, “laki-laki kuat” dengan pasukan militernya dan dukun sebagai pemimpin yang suci, merupakan prototipe dari imam.
Sistem dinasti harus dipahami sebagai hal yang terintegrasi, ideologi dan struktur tidak dapat dipisahkan. Sistem ini berkembang dari dalam sistem kesukuan, tetapi memantapkan dirinya di dalam sel keluarga pemerintahan kelas atas. Dengan demikian, sistem ini menolak sistem kesukuan. Sistem ini juga memiliki hierarki yang sangat ketat dan dinasti adalah kelas protopenguasa, prototipe kekuasaan dan negara. Sistem ini juga bergantung pada pria dan anak laki-laki. Dalam hal ini berarti bahwa memiliki banyak laki-laki adalah hal yang penting demi memiliki kekuatan. Konsekuensi dari ketergantungan ini adalah poligami, harem, dan sistem selir. Penciptaan kekuasaan dan negara adalah prioritas pertama dinasti. Lebih penting lagi, dinasti adalah institusi pertama yang memastikan klan dan sukunya sendiri. Sistem kesukuan lainnya menjadi terbiasa dengan pembagian kelas dan perbudakan. Dalam peradaban Timur Tengah, sistem dinasti telah begitu mengakar sehingga hampir tidak ada kekuasaan atau negara yang bukan sebagai dinasti. Karena dinasti merupakan tempat pelatihan untuk kekuasaan dan negara, sistem ini terus diabadikan dan sangat sulit untuk diatasi.
Setiap laki-laki dalam keluarga menganggap dirinya sebagai pemilik sebuah kerajaan kecil. Ideologi dinasti ini adalah alasan efektif mengapa keluarga adalah persoalan yang sangat penting. Semakin banyak jumlah perempuan dan anak-anak yang menjadi milik keluarga, semakin banyak keamanan dan martabat yang dicapai laki-laki itu. Penting juga untuk menganalisis keluarga saat ini sebagai institusi ideologis. Jika kita ingin menyingkirkan perempuan dan keluarga dari sistem peradaban sekarang, dari kekuasaan dan negara, akan ada sedikit saja hal yang tersisa untuk dapat menyanggah tatanan saat ini. Tetapi risikonya adalah penderitaan yang menyakitkan, kemiskinan, degradasi, dan perempuan dikalahkan di bawah keadaan peperangan berintensitas rendah yang tidak pernah berakhir. Monopoli laki-laki yang telah dipertahankan selama hidup dan dalam dunia perempuan sepanjang sejarah tidak berbeda dengan rantai monopoli kapital atas hidup masyarakat. Lebih penting lagi, monopoli ini adalah monopoli yang paling kuat. Kita mungkin bisa menarik kesimpulan yang lebih realistis jika kita mengevaluasi keberadaan perempuan sebagai “fenomena kolonial tertua”. Dalam bahasa kolonialisme, mungkin lebih akurat untuk menyebut perempuan adalah rakyat yang dijajah paling tua, yang tidak pernah menjadi sebuah bangsa.
Keluarga, dalam konteks sosial ini, berkembang sebagai negara kecil laki-laki. Keluarga sebagai sebuah institusi telah disempurnakan secara terus menerus sepanjang sejarah peradaban, semata-mata karena kekuatan yang diberikan keluarga pada kekuasaan dan aparat negara. Pertama, keluarga diubah menjadi sel atas masyarakat negara dengan memberikan kekuasaan kepada keluarga dalam pribadi laki-laki. Kedua, tenaga kerja perempuan yang tidak terbatas dan tidak dibayar telah dijamin. Ketiga, ia membesarkan anak-anak untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Keempat, keluarga adalah panutan untuk menyebarluaskan perbudakan dan imoralitas kepada seluruh masyarakat. Keluarga, sedemikian rupa ialah institusi dimana ideologi dinasti menjadi fungsional.
Masalah yang paling penting untuk kebebasan sosial adalah keluarga dan pernikahan. Ketika perempuan menikah, dia sebenarnya diperbudak. Tidak mungkin membayangkan institusi lain yang memperbudak manusia seperti halnya pernikahan. Perbudakan yang paling dalam dibentuk oleh institusi pernikahan, budak yang menjadi semakin mengakar di dalam keluarga. Pernikahan bukanlah referensi umum untuk berbagi kehidupan atau hubungan mitra yang dapat bermakna tergantung pada persepsi seseorang tentang kebebasan dan kesetaraan. Apa yang sedang dibicarakan di sini adalah pernikahan dan keluarga yang sudah mendarah daging. Kepemilikan mutlak perempuan berarti penarikan dirinya dari semua arena politik, intelektual, sosial, dan ekonomi. Penarikan ini tidak mudah dipulihkan. Dengan demikian, ada kebutuhan untuk meninjau keluarga dan pernikahan secara radikal dan mengembangkan pedoman umum yang ditujukan untuk demokrasi, kebebasan, dan kesetaraan gender.
Pernikahan atau hubungan yang timbul dari individu, kebutuhan seksual, dan konsep keluarga tradisional dapat menyebabkan beberapa penyimpangan paling berbahaya dalam perjalanan menuju kehidupan yang bebas. Kebutuhan kita bukan untuk membentuk asosiasi ini, tetapi untuk mencapai kesetaraan gender dan demokrasi di seluruh masyarakat dan untuk kemauan dalam membentuk kehidupan yang cocok dan umum. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan menganalisis mentalitas dan lingkungan politik yang membiakkan hubungan destruktif semacam itu.
Budaya dinasti dan keluarga yang tetap kuat di masyarakat Timur Tengah dewasa ini adalah salah satu sumber utama masalah mereka karena telah menimbulkan populasi, kekuatan, dan ambisi yang berlebihan untuk menjadi bagian kekuasaan negara. Degradasi perempuan, ketidaksetaraan, anak-anak tidak dididik, pertengkaran antarkeluarga, dan persoalan kehormatan semuanya terkait dengan persoalan keluarga. Seolah-olah model kecil dari persoalan yang tidak terpisahkan dengan kekuasaan dan negara ini dibentuk di dalam keluarga. Dengan demikian, penting untuk menganalisis keluarga dalam menganalisis kekuatan, negara, kelas, dan masyarakat.
Negara dan pusat-pusat kekuasaan memberi laki-laki-ayah dalam keluarga sebuah salinan otoritas mereka sendiri dan meminta mereka memainkan peran itu. Dengan demikian, keluarga menjadi alat yang paling penting untuk melegitimasi monopoli. Otomatis keluarga menjadi sumber dari budak, buruh, tentara, dan penyedia semua layanan lain yang dibutuhkan oleh lingkaran penguasa dan kapitalis. Itulah sebabnya mengapa mereka menetapkan pentingnya keluarga, mengapa mereka membuatnya menjadi sebuah hal yang suci. Meskipun tenaga kerja perempuan adalah sumber keuntungan terpenting bagi lingkaran kapitalis, mereka menyembunyikan ini dengan memberi beban tambahan pada keluarga. Keluarga telah berubah menjadi asuransi sistem dan dengan demikian keluarga pasti akan diabadikan.
Kritik terhadap keluarga sangat penting. Sisa-sisa dari masyarakat dan pola patriarki masa lalu dan negara dari peradaban Barat modern belum menciptakan sintesis, melainkan sebuah kebuntuan di Timur Tengah. Kebuntuan yang diciptakan dalam keluarga bahkan lebih rumit daripada kebuntuan yang ada di dalam negara. Jika keluarga terus mempertahankan kekuatannya maka ia berbeda dengan ikatan sosial yang larut lebih cepat. Hal ini disebabkan keluarga merupakan satu-satunya tempat penampungan sosial yang tersedia. Kita tidak boleh memberi keringanan terhadap keluarga. Jika dianalisis dengan baik, keluarga dapat menjadi ujung tombak masyarakat demokratis. Tidak hanya untuk perempuan, tetapi seluruh keluarga harus dianalisis sebagai benih kekuasaan. Kemudian, jika tidak, kita akan meninggalkan idealisme dan mengimplementasikan peradaban demokratis tanpa elemen terpentingnya.
Keluarga bukanlah institusi sosial yang harus digulingkan. Akan tetapi, keluarga harus diubah. Klaim kepemilikan atas perempuan dan anak-anak yang diwariskan dari hierarki harus ditinggalkan. Kapital (dalam segala bentuknya) dan relasi kekuasaan seharusnya tidak memiliki bagian dalam hubungan sebuah pasangan. Memuliakan anak-anak sebagai motivasi untuk mempertahankan institusi ini harus dihapuskan. Pendekatan ideal untuk asosiasi laki-laki-perempuan adalah salah satu yang didasarkan pada filosofi kebebasan, yang ditujukan terhadap masyarakat moral dan politik. Dalam kerangka ini, keluarga yang berubah akan menjadi jaminan yang paling kuat dari peradaban demokratis dan salah satu hubungan mendasar dalam tatanan itu. Persahabatan yang alami lebih penting daripada kemitraan yang resmi. Mitra harus selalu menerima hak orang lain untuk hidup sendiri. Seseorang tidak dapat bertindak dengan cara yang sewenang-wenang atau sembrono dalam sebuah hubungan.
Jelas, keluarga akan mengalami transformasi yang paling berarti selama peradaban demokratis. Jika perempuan yang telah kehilangan sebagian besar kekuatan dan rasa hormatnya tidak mendapatkan kembali hal ini, serikat keluarga yang bermakna tidak dapat dikembangkan. Tidak ada rasa hormat untuk keluarga yang dibentuk dari ketidaktahuan. Dalam pembangunan peradaban demokratis, peran keluarga sangat vital.
Sejauh ini, saya telah menguraikan beberapa karakteristik umum dari masyarakat seksis. Biarkan saya menyimpulkan analisis ini dengan beberapa catatan tentang kondisi perempuan Kurdi.
Transisi dari bangsa Sumeria ke peradaban masyarakat Hittite mendorong kaum Proto-Kurdi untuk memperkuat eksistensi kesukuan mereka. Karena kedewasaan yang prematur akan menyebabkan eliminasi, mereka tampaknya lebih menyukai gaya hidup seminomaden dan semigerilya. Ketika semakin banyak negara didirikan di sekitar mereka, mereka merasakan kebutuhan yang semakin meningkat untuk memperkuat struktur kesukuan. Gaya hidup suku Kurdi menyerupai gaya hidup kelompok gerilya. Ketika kita melihat lebih dekat pada keluarga dalam organisasi kesukuan Kurdi, kita melihat keunggulan matriarki dan kebebasan. Perempuan cukup berpengaruh dan bebas. Kewaspadaan, kekuatan, dan keberanian para perempuan Kurdi dewasa ini berasal dari tradisi sejarah mereka yang sangat tua. Namun demikian, aspek negatif dari kehidupan masyarakat suku adalah bahwa peluang untuk melakukan transisi ke masyarakat yang lebih maju bersifat terbatas.
Bukanlah suatu kebetulan bahwa di antara masyarakat Timur Tengah, suku Kurdi memiliki perasaan kebebasan yang dikembangkan paling baik. Kami melihat ini dalam perkembangan historis mereka. Ketiadaan kelas berkuasa dan eksploitatif yang berkepanjangan dan ketidakmampuan mereka untuk menghasilkan nilai positif bagi masyarakat, ditambah fakta bahwa sepanjang sejarah mereka, suku Kurdi harus melawan alam dan serbuan asing yang semuanya berkontribusi pada pengembangan karakteristik ini. Kenyataan bahwa perempuan dalam masyarakat Kurdi lebih menonjol daripada perempuan di masyarakat Timur Tengah lainnya adalah karena realitas historis ini.
Namun demikian, situasi perempuan saat ini di masyarakat Kurdi perlu dianalisis secara menyeluruh. Situasi perempuan di seluruh dunia buruk, tetapi perempuan Kurdi tidak lain mengalami sebuah perbudakan yang mengerikan dan unik dalam banyak hal. Faktanya, situasi perempuan dan anak-anak sangat memprihatinkan.
Meskipun perempuan di dalam keluarga Kurdistan dianggap suci, perempuan telah dihancurkan—terutama karena kurangnya kebebasan, ketidakmampuan ekonomi, kurangnya pendidikan, dan masalah kesehatan. Fenomena yang disebut pembunuhan demi kehormatan (honour killing) adalah balas dendam simbolis atas apa yang telah terjadi di masyarakat pada umumnya. Perempuan dibuat untuk membayar hilangnya kehormatan masyarakat. Kehilangan maskulinitas ditimpakan kepada kaum perempuan. Laki-laki Kurdi yang telah kehilangan kekuatan moral dan politiknya tidak memiliki wilayah lain yang tersisa untuk membuktikan kekuatan atau ketidakberdayaannya, kecuali untuk menyerang kehormatan perempuan.
Dalam situasi sekarang, dimungkinkan untuk menyelesaikan krisis keluarga jika ada demokratisasi masyarakat secara umum. Pendidikan dan penyiaran dalam bahasa ibu dapat menghilangkan sebagian kerusakan identitas. Pernikahan, hubungan antara suami, istri dan anak-anak, bahkan belum melampaui hubungan feodal lama ketika hubungan tanpa modal kapitalisme mengepung mereka dan mengubah hidup mereka menjadi penjara sepenuhnya.
Dalam perjuangan kebebasannya untuk orang Kurdi, Partai Pekerja Kurdistan (PKK) tidak hanya berjuang melawan efek kolonialisme yang melumpuhkan. Di atas segalanya, ia berjuang melawan feodalisme internal di dalam masyarakat Kurdi untuk mengubah status perempuan dan mengakhiri perbudakan masyarakat secara umum. Perempuan tertarik pada perjuangan dalam jumlah besar—tidak hanya untuk melawan kolonialisme, tetapi juga untuk mengakhiri feodalisme internal dan menuntut kebebasan. Sejak tahun 1980-an, perjuangan ini telah menyebabkan perempuan Kurdi, baik di dalam atau di luar organisasi, untuk mengorganisasi diri mereka sebagai sebuah gerakan. Selain itu, untuk mengambil dan menerapkan keputusan yang tidak hanya memperhatikan mereka sebagai perempuan, tetapi juga menyangkut masyarakat pada umumnya. Saya telah mencoba mendukung mereka dengan cara apa pun yang saya bisa, baik secara teori maupun praktik.
Sebuah definisi realistis kapitalisme seharusnya tidak menampilkannya sebagai sesuatu yang terus menerus diciptakan dan dicirikan oleh pemikiran dan tindakan yang punya satu pusat. Karena pada intinya, kapitalisme adalah tindakan individu-individu dan kelompok-kelompok oportunis yang memantapkan diri ke dalam celah-celah dalam masyarakat demi potensi untuk mengembangkan produk surplus. Tindakan-tindakan ini menjadi sistematis karena mereka menggusur surplus sosial.
ndividu dan kelompok ini tidak pernah berjumlah lebih dari satu atau dua persen dari masyarakat. Kekuatan mereka ada dalam oportunisme dan keterampilan organisasi. Kemenangan mereka tidak hanya bergantung pada keterampilan organisasi, tetapi juga pada kontrol mereka terhadap objek yang dibutuhkan dan fluktuasi harga pada titik di mana pasokan dan permintaan bersinggungan. Jika kekuatan sosial resmi tidak menekan mereka, dan sebaliknya, justru meminjam hasil laba dan memberikan dukungan terus-menerus sebagai imbalan, kelompok-kelompok minoritas di dalam masyarakat ini dapat melegitimasi diri mereka sebagai tuan-tuan baru masyarakat. Sepanjang sejarah peradaban, terutama di masyarakat Timur Tengah, kelompok-kelompok marjinal pialang-pengumpul laba ini selalu ada. Akan tetapi, karena kebencian masyarakat terhadap mereka, mereka tidak pernah dapat menemukan keberanian untuk datang siang hari dari celah-celah di mana mereka tinggal. Bahkan, para administrator yang paling lalai sekalipun tidak memiliki keberanian untuk melegitimasi kelompok-kelompok ini. Mereka tidak hanya dicemooh, tetapi juga dilihat sebagai kekuatan korup yang paling berbahaya. Etika mereka dianggap sebagai akar dari semua kejahatan. Dan memang, gelombang tinggi peperangan, perampasan, pembantaian, dan eksploitasi yang berasal dari Eropa Barat selama empat ratus tahun terakhir, sebagian besar merupakan hasil dari hegemoni sistem kapitalis. (Akan tetapi, kemudian, perlawanan terbesar juga terjadi di Eropa Barat sehingga tidak dapat dianggap sebagai kerugian total bagi kemanusiaan.)
Kapitalisme dan negara-bangsa merepresentasikan laki-laki dominan dalam bentuknya yang paling diinstitusikan. Masyarakat kapitalis adalah kelanjutan dan puncak dari semua masyarakat sebelumnya yang eksploitatif. Kapitalisme adalah peperangan yang berkesinambungan melawan masyarakat dan perempuan. Singkatnya, kapitalisme dan negara-bangsa adalah monopoli laki-laki yang kejam dan eksploitatif.
Meruntuhkan monopoli ini mungkin akan lebih sulit daripada menguraikan atom. Tujuan utama dari hegemoni ideologi modernisasi kapitalis adalah untuk menghilangkan fakta-fakta historis dan sosial mengenai konsepsi dan esensinya. Hal ini karena bentuk ekonomi kapitalis dan bentuk masyarakatnya bukanlah kebutuhan sosial dan historis. Bentuk ekonomi mereka adalah konstruksi, yang ditempa melalui proses yang kompleks. Agama dan filsafat telah berubah menjadi nasionalisme, yaitu pemujaan terhadap negara-bangsa. Tujuan akhir dari perang ideologis tersebut adalah untuk memastikan monopoli pemikirannya. Senjata utamanya untuk mencapai ini adalah agamaisme (religionism), diskriminasi gender, dan sainstisme (scientism) sebagai agama positivis. Tanpa hegemoni ideologis, dengan hanya penindasan politik dan militer saja, tidak akan mungkin mempertahankan modernitas. Tujuan dari diskriminasi gender adalah untuk menghapus harapan perempuan akan perubahan. Cara yang paling efektif bagi ideologi seksis untuk berfungsi adalah dengan menjebak laki-laki dalam hubungan kekuasaan dan dengan membuat perempuan menjadi impoten melalui pemerkosaan konstan. Melalui scientism positivis, kapitalisme menetralkan dunia akademis dan kelompok muda. Meyakinkan mereka bahwa mereka tidak punya pilihan selain berintegrasi dengan sistem. Integrasi ini terjamin dengan adanya imbalan dalam sebuah konsensi.
Seperti semua sistem sosial yang menindas dan eksploitatif, kapitalisme tidak dapat bangkit tanpa membangun negara. Sedangkan dogmatisme sistem feodal memiliki karakter religius. Hasilnya, perbudakan sebelumnya memiliki karakter mitologis. Pada waktu itu keesaan Tuhan diwujudkan dalam keberadaan raja dan dinasti. Akan tetapi, hari ini Tuhan ditampilkan sebagai kekuatan tak terlihat dalam eksistensi elit negarawan (state’s noble).
Ketika kapitalisme melihat peluang untuk menjadi sebuah sistem, ia memulai dengan menghilangkan semua masyarakat yang berdasarkan budaya perempuan-ibu. Selama era modern awal, kekuatan sistem sosial perempuan yang masih berusaha mempertahankan dirinya dibakar di pasak para pemburu penyihir. Untuk menegakkan hegemoninya atas perempuan melalui perbudakan yang mendalam, pembakaran penyihir merupakan alat yang sangat berguna. Perempuan sedang melayani sistem saat ini sebagian karena pembakaran perempuan yang meluas pada permulaan kapitalisme. Ketakutan akan pembakaran telah menempatkan perempuan di Eropa di bawah total penghambaan terhadap laki-laki.
Setelah mengalahkan perempuan, sistem tanpa belas kasihan menghancurkan masyarakat agraris dan desa. Selama karakter komunal demokratis masyarakat berdiri, kapitalisme tidak dapat mencapai kekuatan dan laba secara maksimal. Dengan demikian, bentuk sistem sosial seperti di atas menjadi sasaran yang tak terelakkan. Dengan cara ini, jebakan lengkap dari perbudakan tertua, yaitu perempuan, menjadi teladan bagi semua kehidupan yang diperbudak lainnya, yaitu anak-anak dan laki-laki.
Kekuatan politik dan militer memainkan peran yang cukup penting dalam menjaga hegemoni sistem kapitalis. Tetapi yang penting adalah memiliki dan kemudian melumpuhkan masyarakat melalui industri budaya. Mentalitas masyarakat di bawah pengaruh sistem telah melemah dan anggota masyarakat menjadi mudah tertipu. Banyak filsuf mengklaim bahwa masyarakat telah berubah menjadi masyarakat tontonan (spectacle), mirip dengan kebun binatang. Industri seks, olahraga, seni dan budaya, dalam kombinasi dan secara berurutan, membombardir kecerdasan emosi dan analitik tanpa henti melalui beragam penyebaran iklan. Akibatnya, kecerdasan emosi dan analitis telah menjadi disfungsional sepenuhnya. Penaklukan mental masyarakat secara demikian telah lengkap.
Apa yang menjadi perhatian serius adalah penerimaan sukarela masyarakat atas dipenjarakannya mereka oleh gabungan industri budaya dan industri seks. Terlebih lagi, menganggap penjara ini sebagai ledakan kebebasan! Dan ini merupakan basis dan alat legitimasi terkuat yang dimiliki para penguasa. Kapitalisme hanya bisa mencapai fase imperialisme dengan bantuan industri budaya. Oleh karena itu, perjuangan melawan hegemoni budaya membutuhkan perjuangan yang paling sulit, perjuangan mental. Sampai kita dapat mengembangkan dan mengatur esensi dan bentuk perjuangan melawan perang budaya yang dilancarkan oleh sistem melalui invasi, asimilasi, dan industrialisasi, tidak satu perjuangan pun untuk kebebasan, kesetaraan, dan demokrasi memiliki kesempatan untuk berhasil.
Modernitas kapitalis (capitalist modernity) adalah sistem yang didasarkan pada pengingkarannya terhadap cinta. Pengingkarannya terhadap masyarakat, individualisme yang tidak terkendali, diskriminasi gender di semua bidang, menuhankan uang, mengganti Tuhan dengan negara-bangsa, dan mengubah perempuan menjadi robot yang tidak menerima gaji atau mendapat sedikit gaji, yang berarti bahwa tidak ada dasar material untuk cinta.
Ekonomi telah berubah menjadi sebuah materi pelajaran, orang biasa tidak seharusnya mengerti tentangnya. Ekonomi sengaja dibuat rumit sehingga kenyataan bisa disamarkan. Ekonomi adalah kekuatan ketiga, setelah ideologi dan kekerasan, yang menyebabkan perempuan, dan kemudian seluruh masyarakat, terperangkap dan dipaksa untuk menerima ketergantungan. Ekonomi secara harfiah berarti “rumah-pegangan”. Awalnya, sebagai ruang perempuan, bersama dengan bagian fundamental masyarakat lainnya yang akan saya bahas nanti.
Dalam tatanan perempuan, terdapat pula akumulasi. Akumulasi ini bukan dimiliki oleh pedagang atau pasar, namun dimiliki oleh keluarga. Inilah yang disebut ekonomi yang sebenarnya dan humanis. Akumulasi dicegah berubah menjadi membahayakan dengan meluasnya penggunaan budaya hadiah (gift culture). Budaya hadiah adalah bentuk penting dari kegiatan ekonomi dan juga sesuai dengan ritme perkembangan manusia.
Ketika perempuan digulingkan secara total dari sejarah peradaban, dan secara khusus digulingkan dari modernitas kapitalis, pria-pria dengan kuasa yang besar memiliki kesempatan untuk mengubah fungsi ekonomi dan dengan demikian mengubahnya menjadi masalah besar. Perubahan ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki hubungan organik dengan ekonomi karena nafsu mereka yang berlebihan untuk mendapatkan laba dan kekuasaan. Dengan demikian, mereka menempatkan semua kekuatan ekonomi, terutama perempuan, di bawah kendali mereka sendiri. Hasilnya adalah kekuatan kekuasaan dan negara telah berkembang secara berlebihan, seperti tumor dalam masyarakat, sampai pada level di mana ia tidak lagi dapat distabilkan atau dikendalikan.
Masalah ekonomi sebenarnya dimulai ketika perempuan itu tersingkir dari ekonomi. Intinya, ekonomi adalah segala yang berhubungan dengan makanan. Mungkin tampak aneh, tapi saya percaya pencipta ekonomi yang sebenarnya masih perempuan, meskipun segala upaya untuk menguasai dan menjajah perempuan. Analisis mendalam tentang ekonomi akan menunjukkan bahwa perempuan adalah kekuatan ekonomi yang paling mendasar. Memang, ini jelas ketika kita mempertimbangkan perannya dalam revolusi pertanian dan bagaimana perempuan mengumpulkan tanaman selama jutaan tahun. Saat ini, perempuan tidak hanya bekerja di dalam rumah, tetapi di banyak bidang kehidupan ekonomi. Perempuan adalah orang yang terus memutar roda. Setelah perempuan, mereka yang dapat diklasifikasikan sebagai budak dan pekerja akan berada di urutan kedua dengan klaim sebagai pencipta ekonomi. Di urutan ketiga ialah semua pengrajin, pedagang kecil, dan pemilik tanah kecil, sekaligus petani yang diakui sedikit lebih bebas. Dalam kategori ini kita dapat menambahkan seniman, arsitek, insinyur, dokter, dan semua wiraswasta lainnya. Ini hanya melengkapi gambaran mereka yang menciptakan dan membentuk ekonomi.
Periode paling brutal bagi perempuan adalah ketika ia digulingkan dari ekonomi selama peradaban kapitalis. Kenyataan ini bisa disebut “pemiskinan ekonomi perempuan”. Hal ini telah menjadi paradoks sosial yang paling mencolok dan mendalam. Seluruh perempuan telah dibiarkan menganggur. Meskipun pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang paling sulit, pekerjaan itu dianggap tidak berharga. Meskipun melahirkan dan membesarkan anak adalah tugas yang paling berat dari semuanya, tugas itu tidak selalu dianggap berharga tetapi seringkali hanya sebagai sumber masalah belaka. Selain merawat dan membesarkan anak yang tidak menghabiskan biaya yang besar dan dapat dijalankan dengan gratis, perempuan dapat digunakan sebagai kambing hitam, menanggung kesalahan untuk semua kesalahan. Sepanjang sejarah peradaban, perempuan telah ditempatkan di lantai dasar masyarakat, di mana dia melakukan kerja rumah tangganya yang tidak dibayar, membesarkan anak-anak, dan menjaga keluarga; tugas-tugas yang membentuk basis aktual dari akumulasi kapitalis. Sesungguhnya, tidak ada peradaban lain yang memiliki kekuatan untuk mengembangkan dan mengatur eksploitasi perempuan sampai pada tingkat yang dimiliki kapitalisme.
Selama periode kapitalis, perempuan telah menjadi sasaran ketidaksetaraan, tak memiliki kebebasan dan tak ada demokrasi, tidak hanya perempuan di level bawah tetapi di semua level. Terlebih lagi, kekuatan masyarakat seksis telah diimplementasikan dengan intensitas sedemikian rupa dan sangat dalam sehingga perempuan telah berubah menjadi objek dan subjek industri seks. Masyarakat laki-laki yang dominan telah mencapai puncaknya dalam masyarakat kapitalis.
Perempuan dan ekonomi merupakan komponen yang saling terkait. Karena perempuan menghasilkan ekonomi sesuai dengan kebutuhan mendasar saja, ekonomi yang digerakkan oleh perempuan tidak pernah mengalami depresi, tidak pernah menyebabkan pencemaran lingkungan, dan juga tidak pernah menjadi ancaman bagi iklim. Ketika kita berhenti menghasilkan laba atau keuntungan, kita akan mencapai pembebasan dunia. Pembebasan ini pada gilirannya akan menjadi pembebasan umat manusia dan kehidupan itu sendiri.
Meskipun dominasi laki-laki telah terlembagakan secara mapan, laki-laki juga diperbudak. Sistem ini sebenarnya mereproduksi dirinya sendiri dalam individu laki-laki dan perempuan, serta hubungan mereka. Oleh karena itu, jika kita ingin merobohkan sistem ini, kita membutuhkan pendekatan yang radikal dan baru terhadap perempuan, laki-laki, dan hubungan mereka.
Sejarah, dalam arti tertentu, adalah sejarah laki-laki dominan yang memperoleh kekuasaan dengan munculnya masyarakat kelas. Karakter kelas penguasa terbentuk bersamaan dengan karakter laki-laki yang dominan. Sekali lagi, aturan divalidasi melalui kebohongan mitologis dan hukuman Tuhan. Di bawah topeng-topeng ini terletak realitas kekuatan dan eksploitasi. Atas nama kehormatan, laki-laki merebut posisi dan hak-hak milik perempuan dengan cara yang paling berbahaya, licik, dan despotik. Fakta bahwa sepanjang sejarah perempuan dibiarkan kehilangan identitas dan karakternya—tahanan abadi—di tangan laki-laki telah menyebabkan kerusakan yang jauh lebih besar daripada pembagian kelas. Mengurung perempuan adalah aksi perbudakan umum masyarakat dan kemunduran, juga merupakan aksi kebohongan, pencurian, dan tirani.
Pertanyaan mendasar adalah mengapa laki-laki begitu cemburu, dominan, dan jahat terhadap kepentingan perempuan. Mengapa laki-laki terus memainkan peran sebagai pemerkosa. Tidak diragukan lagi, pemerkosaan dan dominasi adalah fenomena yang terkait dengan eksploitasi sosial. Hal tersebut mencerminkan pemerkosaan oleh hierarki, patriarki, dan kekuasaan terhadap masyarakat. Jika kita melihat lebih dalam, kita akan melihat bahwa tindakan ini juga mengekspresikan pengkhianatan terhadap hidup. Pengabdian perempuan yang bermacam-macam terhadap kehidupan dapat memperjelas societal sexism laki-laki. Societal sexism berarti hilangnya kekayaan kehidupan di bawah pengaruh seksisme yang membutakan dan melelahkan. Akibatnya, timbul kemarahan, pemerkosaan, dan sikap mendominasi.
Inilah sebabnya mengapa penting untuk menempatkan agenda persoalan laki-laki yang jauh lebih serius daripada persoalan perempuan. Mungkin lebih sulit untuk menganalisis konsep dominasi dan kekuasaan, konsep yang berkaitan dengan laki-laki. Persoalannya bukanlah perempuan yang tidak mau berubah, tetapi laki-laki yang tidak mau berubah. Dia takut bahwa meninggalkan peran tokoh laki-laki yang dominan akan menjadikannya raja yang telah kehilangan negaranya. Dia harus disadarkan bahwa bentuk dominasi yang paling hampa ini membuat dia kehilangan kebebasan juga, dan bahkan lebih buruk lagi, ia mencegah perkembangan umat manusia.
Untuk menjalani kehidupan yang bermakna, kita perlu mendefinisikan perempuan dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat. Pendefinisian ini tidak boleh berupa pernyataan tentang atribut biologis dan status sosialnya, tetapi analisis tentang konsep perempuan yang sangat penting sebagai makhluk. Jika kita dapat mendefinisikan perempuan, maka kita juga mampu untuk mendefinisikan laki-laki. Menggunakan laki-laki sebagai titik awal saat mendefinisikan perempuan atau kehidupan akan membuat interpretasi yang salah karena keberadaan alami perempuan lebih sentral daripada laki-laki. Status perempuan direndahkan dan dibuat tidak berarti oleh masyarakat laki-laki yang dominan, tetapi hal ini tidak seharusnya mencegah kita untuk membentuk pemahaman yang valid tentang realitasnya.
Dengan demikian, jelaslah bahwa fisik perempuan tidak memiliki kekurangan maupun inferior. Sebaliknya, tubuh perempuan lebih sentral daripada laki-laki. Inilah akar kecemburuan laki-laki yang ekstrem dan tidak berarti.
Konsekuensi alami dari perbedaan fisik mereka adalah kecerdasan emosi perempuan jauh lebih kuat daripada laki-laki. Kecerdasan emosional terhubung dengan kehidupan. Kecerdasanlah yang mengatur empati dan simpati. Bahkan, ketika kecerdasan analitik perempuan berkembang, kecerdasan emosionalnya memberinya bakat untuk menjalani kehidupan yang seimbang untuk mengabdikan diri pada hidup, bukan untuk merusak.
Seperti dapat dilihat bahkan dari argumentasi singkat ini, laki-laki adalah sebuah sistem. Laki-laki telah menjadi negara dan mengubahnya menjadi budaya yang dominan. Penindasan kelas dan seksual berkembang bersama. Maskulinitas telah menghasilkan gender penguasa, kelas penguasa, dan negara penguasa. Ketika laki-laki dianalisis dalam konteks ini, jelas bahwa maskulinitas harus dilenyapkan.
Memang, melenyapkan dominasi laki-laki adalah prinsip fundamental sosialisme. Inilah arti dari kekuatan membunuh: melenyapkan dominasi sepihak, ketidaksetaraan, dan intoleransi. Selain itu, perlu untuk melenyapkan fasisme, kediktatoran, dan despotisme. Kami harus memperluas konsep ini untuk memasukkan semua aspek ini.
Membebaskan kehidupan (Liberating Life) tidak mungkin tanpa revolusi perempuan radikal yang akan mengubah mentalitas dan kehidupan manusia. Jika kita tidak bisa berdamai antara laki-laki dan kehidupan, dan antara kehidupan dan perempuan, kebahagiaan hanyalah harapan yang sia-sia. Revolusi gender bukan hanya tentang perempuan. Revolusi ini adalah tentang peradaban berusia lima ribu tahun dari masyarakat kelas yang telah membuat laki-laki lebih buruk daripada perempuan. Dengan demikian, revolusi gender ini secara bersamaan berarti pembebasan laki-laki.
Saya sering menulis tentang “perceraian total”, yaitu kemampuan untuk bercerai dari budaya dominasi laki-laki berusia lima ribu tahun. Identitas gender perempuan dan laki-laki yang kita kenal saat ini adalah konstruksi yang terbentuk jauh lebih lambat dari perempuan dan laki-laki secara biologis. Perempuan telah dieksploitasi selama ribuan tahun menurut identitas yang dibentuk ini, tidak pernah diakui tenaga kerjanya (labour). Laki-laki harus selalu melihat perempuan sebagai istri, saudara perempuan, atau kekasih—stereotip yang ditempa oleh tradisi dan modernitas.
Mengklaim bahwa kita harus terlebih dahulu menjawab persoalan tentang negara, maka persoalan tentang keluarga tidak terdengar. Tidak ada persoalan sosial serius yang dapat dipahami jika ditangani secara terpisah. Metode yang jauh lebih efektif adalah melihat segala sesuatu dalam totalitas, untuk memberi makna pada setiap persoalan dalam hubungannya dengan yang lain. Metode ini juga berlaku ketika kami mencoba menyelesaikan persoalan. Menganalisis mentalitas sosial tanpa menganalisis negara, menganalisis negara tanpa menganalisis keluarga, dan menganalisis perempuan tanpa menganalisis laki-laki akan menghasilkan hasil yang tidak memadai. Kita perlu menganalisis fenomena sosial ini sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi. Jika tidak, solusi yang kita dapatkan tidak akan memadai.
Solusi untuk semua masalah sosial di Timur Tengah harus menitikberatkan posisi perempuan sebagai fokus. Tujuan mendasar untuk era di depan kita haruslah untuk mewujudkan kemelut besar seksual ketiga—kali ini perjuangan melawan laki-laki. Tanpa kesetaraan gender, tidak ada perjuangan untuk kebebasan dan kesetaraan yang berarti. Kenyataannya, kebebasan dan kesetaraan tidak dapat diwujudkan tanpa pencapaian kesetaraan gender. Komponen demokratisasi yang paling permanen dan komprehensif adalah kebebasan perempuan. Sistem kemasyarakatan paling rentan karena masalah perempuan yang belum terselesaikan; perempuan yang pertama kali berubah menjadi properti dan hari ini menjadi komoditas; sepenuhnya (tubuh dan jiwa). Peran yang pernah dimainkan kelas pekerja, sekarang harus diambil alih oleh persaudaraan perempuan (sisterhood of women). Jadi, sebelum kita dapat menganalisis kelas, kita harus mampu menganalisis persaudaraan perempuan. Ini akan memungkinkan kita untuk membentuk pemahaman yang lebih jelas tentang isu-isu kelas dan kebangsaan. Kebebasan sejati perempuan hanya mungkin jika emosi yang memperbudak, kebutuhan, dan keinginan suami, ayah, kekasih, saudara laki-laki, teman, dan anak semuanya dapat dihilangkan. Cinta terdalam merupakan ikatan kepemilikan yang paling berbahaya. Kita tidak akan dapat membedakan karakteristik perempuan yang bebas jika kita tidak dapat melakukan kritik yang keras terhadap pemikiran, pola agama, dan seni tentang perempuan yang dihasilkan oleh dunia yang didominasi pria.
Kebebasan perempuan tidak bisa hanya diasumsikan begitu masyarakat telah memperoleh kebebasan dan kesetaraan. Organisasi yang terpisah dan berbeda sangat penting perannya dan perjuangan untuk kebebasan perempuan harus sama besar dengan definisi sebagai sebuah fenomena. Tentu saja gerakan demokratisasi secara umum juga dapat membuka peluang bagi perempuan. Akan tetapi, tidak akan membawa demokrasi itu sendiri. Perempuan perlu menentukan tujuan demokrasinya sendiri, dan melembagakan organisasi serta perjuangan untuk mewujudkannya. Untuk mencapai hal ini, definisi khusus tentang kebebasan sangat penting agar perempuan bebas dari perbudakan yang tertanam dalam dirinya.
Penghapusan perempuan dari jajaran dan subyek ilmu menuntut kita untuk mencari alternatif yang radikal.
Pertama-tama, kita perlu tahu bagaimana cara untuk menang di dalam medan ideologi dan menciptakan pola pikir yang libertarian dan alami melawan mentalitas dominasi dan haus kekuasaan laki-laki. Kita harus selalu mengingat bahwa penaklukan perempuan tradisional bukanlah secara fisik, tetapi sosial. Itu karena perbudakan yang sudah mendarah daging. Oleh karena itu, kebutuhan yang paling mendesak adalah untuk mengalahkan pikiran dan emosi penaklukan di medan ideologi.
Saat perjuangan kebebasan perempuan menuju medan politik, perempuan harus tahu bahwa proses tersebut adalah aspek yang paling sulit dari perjuangan. Jika keberhasilan tidak tercapai secara politis, tidak ada kemenangan lain yang akan permanen. Sukses secara politik tidak berarti memulai sebuah gerakan untuk perjuangan terhadap negara perempuan. Sebaliknya, perjuangan ini melawan struktur statis dan hierarkis. Selain itu, perjuangan tersebut memerlukan pembentukan formasi politik yang bertujuan untuk mencapai masyarakat yang demokratis, kesetaraan gender, dan ramah lingkungan, di mana negara bukanlah elemen penting. Karena hierarki dan statisme tidak mudah kompatibel dengan sifat perempuan, gerakan untuk kebebasan perempuan harus berjuang untuk formasi politik antihierarki dan nonstatis (non-negara -ed). Runtuhnya perbudakan di medan politik hanya mungkin jika organisasi reformasi di bidang politik dapat berhasil dicapai. Perjuangan politik membutuhkan organisasi perempuan dan perjuangan yang demokratis serta komprehensif. Semua komponen masyarakat sipil, hak asasi manusia, pemerintahan lokal, dan perjuangan demokratis harus diorganisasi dan ditingkatkan. Seperti halnya sosialisme, kebebasan dan kesetaraan perempuan hanya dapat dicapai melalui perjuangan demokrasi yang komprehensif dan sukses. Jika demokrasi tidak tercapai, kebebasan dan kesetaraan tidak akan tercapai.
Isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan ekonomi dan sosial juga dapat berhasil diselesaikan melalui analisis kekuatan politik dan melalui demokratisasi. Kesetaraan yuridis yang kaku tidak berarti apa-apa tanpa adanya politik yang demokratis. Oleh sebab itu, hal tersebut tidak akan berkontribusi pada pencapaian kebebasan. Jika relasi kepemilikan dan kekuasaan yang mendominasi dan menundukkan perempuan tidak digulingkan, hubungan bebas antara perempuan dan laki-laki tidak dapat tercapai.
Meskipun perjuangan feminis memiliki banyak segi yang penting, ia masih memiliki jalan panjang untuk menghancurkan batasan-batasan demokrasi yang ditetapkan oleh Barat. Juga tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang dituntut oleh cara hidup kapitalis. Situasi ini mengingatkan pada pemahaman Lenin tentang revolusi sosialis. Meskipun memiliki banyak upaya besar dan memenangkan banyak pertempuran posisional, Leninisme pada akhirnya tidak dapat menghindar dari menghasilkan kontribusi sayap kiri yang paling menguntungkan bagi kapitalisme.
Nasib serupa bisa menimpa feminisme. Kekurangan yang melemahkan anggapan tentang feminisme adalah: tidak memiliki basis organisasi yang kuat, ketidakmampuan mengembangkan filsafatnya sampai lengkap, dan kesulitan untuk menjalin hubungan dengan gerakan perempuan militan. Bahkan, mungkin tidak benar untuk menyebut feminisme sebagai “sosialisme nyata dari front perempuan”, tetapi analisis kita tentang gerakan feminisme harus mengakui bahwa ini merupakan langkah paling serius hingga saat ini untuk menarik perhatian pada isu kebebasan perempuan. Gerakan feminisme menyoroti bahwa gerakan ini hanyalah perempuan tertindas melawan laki-laki yang dominan. Namun demikian, realitas perempuan jauh lebih komprehensif daripada hanya sekadar jenis kelamin yang berbeda. Perjuangan perempuan memiliki dimensi ekonomi, sosial, dan politik.
Jika kita melihat dengan terminologi kolonialisme, kolonialisme tidak hanya dalam hal bangsa dan negara, tetapi juga dalam hal kelompok-kelompok masyarakat. Kita dapat mendefinisikan perempuan sebagai kelompok yang paling tertua dan terlama dijajah. Memang, baik jiwa maupun fisik, tidak ada makhluk sosial lain yang mengalami kolonialisme yang demikian lengkap. Harus dipahami bahwa perempuan dipenjara dalam koloni tanpa batas, jadi tidak mudah dikenali.
Mengingat hal-hal di atas, saya percaya bahwa kunci penyelesaian masalah sosial kita adalah gerakan untuk kebebasan, kesetaraan, dan demokrasi perempuan—sebuah gerakan yang didasarkan pada studi perempuan, yang disebut Jineolojî dalam bahasa Kurdi. Kritik terhadap gerakan perempuan baru-baru ini tidak cukup untuk menganalisis dan mengevaluasi sejarah peradaban dan modernitas yang telah menghasilkan semua kekalahan perempuan. Jika dalam ilmu-ilmu sosial hampir tidak ada tema, persoalan, dan gerakan perempuan, maka hal tersebut disebabkan peradaban dan mentalitas hegemoni modernitas dan struktur budaya material.
Selain itu, perempuan sebagai komponen utama moral dan politik masyarakat memiliki peran penting untuk bermain dalam membentuk etika dan estetika kehidupan yang mencerminkan kebebasan, kesetaraan, dan demokratisasi. Ilmu etika dan estetika merupakan bagian integral dari Jineolojî. Karena tanggung jawabnya yang berat dalam hidup, perempuan tidak diragukan lagi akan menjadi kekuatan intelektual dan implementasi pada perkembangan dan peluang. Hubungan perempuan dengan kehidupan lebih komprehensif daripada laki-laki dan hal ini telah memastikan perkembangan kecerdasan emosional perempuan. Oleh karena itu, estetika, dalam arti membuat hidup lebih indah, adalah masalah eksistensial bagi perempuan. Secara etis, perempuan jauh lebih bertanggung jawab daripada pria. Dengan demikian, perilaku perempuan sehubungan dengan moralitas dan masyarakat politik akan lebih realistis dan bertanggungjawab daripada laki-laki. Perempuan sangat cocok untuk menganalisis, menentukan, dan memutuskan aspek-aspek pendidikan yang baik dan buruk, pentingnya kehidupan dan perdamaian, kedengkian dan kengerian perang, serta ukuran-ukuran kepantasan dan keadilan. Dengan demikian, akan layak untuk memasukkan ekonomi dalam Jineolojî juga.
Kebebasan perempuan akan memainkan peran stabilisasi dan pemerataan dalam membentuk peradaban baru. Perempuan akan mengambil tempatnya di bawah kondisi terhormat, bebas, dan setara. Untuk mencapai hal ini, diperlukan kerja teoretis, program, organisasi, dan implementasi yang diperlukan. Realitas perempuan adalah fenomena yang lebih konkret dan dapat dianalisis daripada konsep-konsep seperti “proletariat” dan “bangsa tertindas”. Sejauh mana masyarakat dapat sepenuhnya diubah ditentukan oleh sejauh mana transformasi yang dicapai oleh perempuan. Demikian pula, tingkat kebebasan dan kesetaraan perempuan menentukan kebebasan dan kesetaraan semua lapisan masyarakat. Dengan demikian, demokratisasi perempuan sangat menentukan bagi pembentukan demokrasi dan sekularisme yang permanen. Di dalam bangsa yang demokratis, kebebasan perempuan juga sangat penting karena perempuan yang terbebaskan merupakan masyarakat yang terbebaskan. Masyarakat yang terbebaskan pada gilirannya merupakan sebuah bangsa yang demokratis. Selain itu, kebutuhan untuk membalikkan peran laki-laki dalam masyarakat adalah kepentingan revolusioner.
Era peradaban demokratis tidak hanya melambangkan kelahiran kembali masyarakat, tetapi, mungkin yang lebih khusus, era ini melambangkan kebangkitan perempuan. Perempuan, yang merupakan dewi kreatif masyarakat Neolitik, telah mengalami kerugian terus menerus sepanjang sejarah masyarakat kelas. Membalikkan sejarah ini pasti akan membawa hasil sosial yang paling mendalam. Perempuan yang terlahir kembali menuju kemerdekaan akan mencapai pembebasan umum, pencerahan, dan keadilan di semua lapisan lembaga masyarakat. Hal ini akan meyakinkan semua orang bahwa perdamaian, bukan perang, lebih berharga dan harus diletakkan pada posisi tertinggi. Kemenangan perempuan adalah kemenangan masyarakat dan individu di semua level. Abad ke-21 harus menjadi era kebangkitan, sebuah era saat perempuan dibebaskan dan era emansipasi perempuan. Pembebasan perempuan lebih penting daripada pembebasan kelas atau pembebasan nasional. Era peradaban demokratis akan terealisasi ketika perempuan bangkit dan menang sepenuhnya.
Merupakan suatu hal yang realistis jika kita melihat abad ini sebagai abad ketika perempuan merdeka akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, lembaga-lembaga permanen untuk perempuan perlu didirikan dan dilestarikan, mungkin selama seabad lamanya. Selain itu, dibutuhkan pembentukan Partai Pembebasan Perempuan. Juga penting untuk membentuk komune ideologi, politik, dan ekonomi yang berdasarkan pada kebebasan perempuan.
Perempuan secara umum, tetapi khususnya perempuan Timur Tengah, adalah kekuatan yang paling aktif dan energik dari masyarakat demokratis karena karakteristik yang dijelaskan di atas. Kemenangan akhir masyarakat demokratis hanya bisa dimenangkan oleh perempuan. Masyarakat dan perempuan telah dihancurkan oleh sistem masyarakat kelas sejak Zaman Neolitik. Mereka sekarang akan, sebagai agen penting dari terobosan demokrasi, tidak hanya membalas dendam pada sejarah, tetapi mereka akan membentuk antitesis yang diperlukan dengan memosisikan diri mereka di sebelah kiri dari kebangkitan peradaban demokratis. Perempuan benar-benar agen sosial yang paling dapat diandalkan di jalan menuju masyarakat yang setara dan libertarian. Di Timur Tengah, keputusan diserahkan kepada perempuan dan pemuda untuk memastikan antitesis yang diperlukan untuk demokratisasi masyarakat. Kebangkitan perempuan dan menjadi sebuah kekuatan sosial terdepan dalam sejarah ini, memiliki nilai antitesis yang sebenarnya.
Karena karakteristik masyarakat kelas, perkembangan masyarakat ini didasarkan pada dominasi laki-laki. Inilah yang menempatkan perempuan dalam posisi antitesis. Bahkan, dalam hal mengatasi pembagian kelas masyarakat dan superioritas laki-laki, posisi perempuan memperoleh nilai sintesis baru. Oleh karena itu, posisi kepemimpinan gerakan perempuan dalam demokratisasi masyarakat Timur Tengah memiliki karakteristik historis yang menjadikannya sebagai antitesis (karena berada di Timur Tengah) dan sintesis (secara global). Area kerja ini adalah pekerjaan paling penting yang pernah saya lakukan. Saya percaya pekerjaan itu harus memiliki prioritas di atas pembebasan tanah air dan kelas pekerja. Jika saya ingin menjadi pejuang kemerdekaan, saya tidak bisa mengabaikan pembebasan perempuan: revolusi perempuan adalah sebuah revolusi dalam sebuah revolusi.
Revolusi perempuan adalah misi mendasar dari kepemimpinan baru untuk menyediakan kekuatan intelektual dan akan diperlukan untuk mencapai tiga aspek penting untuk terwujudnya sistem modernitas yang demokratis: sebuah masyarakat yang demokratis serta secara ekonomi dan ekologis bermoral. Untuk mencapai hal ini, kita perlu membangun banyak struktur akademik yang memadai dengan kualitas yang sesuai. Tidak cukup hanya mengkritik dunia akademisi modern, kita harus mengembangkan alternatifnya. Unit akademisi untuk alternatif ini harus dibangun sesuai dengan prioritas dan kebutuhan semua bidang kemasyarakatan, seperti ekonomi dan teknologi, ekologi dan pertanian, politik demokratis, keamanan dan pertahanan, budaya, sejarah, sains dan filsafat, agama dan seni. Tanpa kader akademisi yang kuat, elemen-elemen modernitas demokratis tidak dapat dibangun. Kader akademisi dan elemen modernitas yang demokratis sama pentingnya untuk pencapaian kemenangan. Keterkaitan adalah suatu keharusan untuk mencapai makna dan kemenangan.
Perjuangan untuk kebebasan (tidak hanya perempuan, tetapi semua etnis dan bagian komunitas yang berbeda) sama tuanya dengan sejarah perbudakan dan eksploitasi kemanusiaan. Kerinduan untuk kebebasan adalah sifat sejati manusia. Banyak yang telah dipelajari dari pertarungan ini, dan dari perjuangan yang telah kita lakukan selama 40 tahun terakhir. Masyarakat demokratis telah ada di samping berbagai sistem peradaban arus utama. Modernitas demokratis, sistem alternatif untuk modernitas kapitalis, dimungkinkan melalui perubahan radikal mentalitas kita dan perubahan yang sesuai, radikal, dan tepat dalam realitas material kita. Perubahan-perubahan ini, harus kita bangun bersama.
Terakhir, saya ingin menunjukkan bahwa perjuangan untuk kebebasan perempuan harus dilancarkan melalui pembentukan partai politik mereka sendiri, membangun gerakan perempuan populer, membangun organisasi nonpemerintah mereka sendiri dan struktur politik demokratis. Semua ini harus ditangani bersama, secara bersamaan.
Semakin para perempuan mampu lepas dari cengkeraman dominasi laki-laki dan masyarakat, semakin baik mereka akan dapat bertindak dan hidup sesuai dengan inisiatif kemerdekaan mereka. Semakin banyak perempuan memberdayakan diri mereka sendiri, semakin mereka mendapatkan kembali kepribadian dan identitas bebas mereka.
Oleh karena itu, memberi dukungan pada gerakan perempuan, pengetahuan, dan kebebasan adalah gambaran terbesar dari persahabatan dan nilai kemanusiaan. Saya memiliki keyakinan penuh bahwa perempuan, terlepas dari perbedaan budaya dan etnis mereka, semua orang yang telah diasingkan dari sistem, akan menang. Abad ke-21 adalah abad pembebasan perempuan. Saya berharap dapat memberikan kontribusi saya sendiri. Tidak hanya dengan menulis tentang masalah ini, tetapi dengan membantu menerapkan perubahan.
Abdullah Öcalan lahir pada 1949. Ia belajar ilmu politik di Ankara, Turki. Dia secara aktif memimpin perjuangan pembebasan Kurdi sebagai Presiden PKK sejak didirikan pada 1978 hingga penculikannya pada 15 Februari 1999. Dia masih dianggap sebagai ahli strategi terkemuka dan salah satu wakil politik paling penting dari rakyat Kurdi.
Di bawah kondisi isolasi di Penjara Pulau Imrali, Öcalan menulis lebih dari sepuluh buku yang merevolusi politik Kurdi. Beberapa kali dia memulai gencatan senjata secara sepihak dari perjuangan gerilya dan mempresentasikan proposal konstruktif untuk solusi politik Kurdi.
“Proses perdamaian” saat ini dimulai pada tahun 2009 ketika negara Turki merespons seruan Öcalan untuk menyelesaikan persoalan Kurdi secara politis. Sejak 27 Juli 2011 ia ditahan lagi di Penjara Pulau Imrali, hampir dengan isolasi total.
Pada 15 Februari 1999, Presiden Partai Pekerja Kurdistan, Abdullah Öcalan, diserahkan kepada Republik Turki setelah operasi rahasia yang didukung oleh aliansi dinas rahasia yang diarahkan oleh pemerintah mereka yang memiliki kepentingan yang sama. Jijik oleh pelanggaran hukum internasional yang luar biasa ini, beberapa intelektual dan perwakilan organisasi sipil meluncurkan inisiatif untuk membebaskan Abdullah Öcalan. Dengan pembukaan kantor koordinasi pusat pada bulan Maret 1999, International Initiative “Kebebasan untuk Abdullah Öcalan-Perdamaian di Kurdistan” memulai pekerjaannya.
International Initiative menganggap dirinya sebagai inisiatif perdamaian multinasional yang bekerja untuk penyelesaian damai dan demokratis untuk Kurdi. Bahkan setelah bertahun-tahun dalam penjara yang lama, Abdullah Öcalan masih dianggap sebagai pemimpin yang tak terbantahkan oleh mayoritas rakyat Kurdi. Oleh karena itu, solusi persoalan Kurdi di Turki akan terkait erat dengan nasibnya. Sebagai arsitek utama proses perdamaian, ia dipandang oleh semua pihak sebagai kunci untuk keberhasilan perdamaian, yang menempatkan kebebasan Öcalan semakin banyak dalam agenda utama. Initiative International berkomitmen untuk memainkan bagiannya untuk tujuan ini. Hal ini dilakukan melalui penyebaran informasi yang objektif, lobi, dan pekerjaan hubungan masyarakat, termasuk menjalankan kampanye.
Informasi lebih lanjut dan terjemahan dalam bahasa lain: www.ocalan-books.com
- Deklarasi tentang Solusi Demokratis Persoalan Kurdi (1999)
- Prison Writings I: The Roots of Civilization (2007)
- Prison Writings II: The PKK dan Persoalan Kurdi di Abad ke-21 (2011)
- Prison Writings III: The Road Map to Negotiations (2012)
- Perang dan Damai di Kurdistan (2008)
- Konfederalisme Demokratis (2011)
- Kehidupan Membebaskan: Revolusi Perempuan (2013)
Bergabunglah dengan kampanye tanda tangan di www.freeocalan.com
Rückseite: Barcode 978-3-941012-82-0