#title Mendokumentasikan Perlawanan, Menemukan Kembali Masa Kini: Sebuah Perspektif Pengarsipan dari Bawah #author Adrian Tătăran #LISTtitle M #date 2026 #source [[https://archive.org/details/@archipelago-anti-authoritarian-archive]] #lang id #pubdate 2026-09-10T02:22:51 #authors Adrian Tătăran #topics Pengarsipan, Perpustakaan #language Bahasa Indonesia #publication AAA Press, AAA Archive & Library, Archipelago Anarchist Archive #notes Diterjemahkan dari Documenting Resistance, Rediscovering the Present: An Archival Perspective from Below Diterjemahkan oleh Ester Aprillia (2026) PADA 1872, Peter Kropotkin memulai pengembaraan pertamanya ke luar Rusia. Mula-mula ke Swiss, dengan tujuan untuk belajar lebih jauh mengenai gerakan buruh dan sosialis yang sedang berkembang di Eropa pada saat itu. Setelah singgah sebentar di Zurich, Ia melanjutkan pengembaraannya ke Pegunungan Jura, di mana Ia menghabiskan waktunya selama seminggu bersama para buruh pembuat jam di lembah Saint-Imier. Meski terbilang singkat, pertemuan tersebut sangatlah berarti bagi sang geografer muda. “Setelah selama seminggu bersama dengan para buruh pembuat jam,” dalam memoarnya Ia menyatakan, “pendirianku mengenai sosialisme menjadi semakin mantap: Saya adalah seorang anarkis”.[1] Seorang sutradara bernama Cyrill Schäublin mengambil inspirasi dari penggalan kisah tersebut untuk menciptakan sebuah cinematic tableu dalam film Unrest (2022).[2] Tetapi, tidak seperti yang kita harapkan, Kropotkin bukanlah “tokoh utama” dalam film tersebut, juga bukan sosok yang mendominasi jalannya cerita. Dia muncul terutama sebagai seorang kartografer, seorang pengamat, yang berupaya menggambar peta toponimi lokal, yang umumnya tidak tercatat dalam peta resmi. Terdapat beberapa peta lainnya yang berbeda yang berupaya untuk menggambarkan wilayah yang sama yang coba Ia petakan: peta resmi buatan negara, juga peta yang digambar oleh perwakilan perusahaan Centralines; yang bertujuan untuk mengoptimalisasi mobilisasi dan dengan demikian juga meningkatkan produktivitas. Selain peta, waktu pun juga tunduk pada standar yang berbeda-beda: standar waktu yang ditetapkan oleh gereja berbeda dengan yang ditetapkan oleh pemerintah kota atau yang ditetapkan oleh perlintasan kereta api, sementara waktu telegram—yang pengkalibrasiannya merujuk pada Observatorium Neuchâtel—lebih lambat lima menit dari jam pabrik. Dengan demikian, film garapan Schäublin tersebut bukanlah sekadar produksi fiksi sejarah yang berfokus pada rekonstruksi sinematik masa lalu. Tetapi film tersebut juga merupakan upaya refleksi sejarah, ruang, dan waktu, serta tentang bagaimana ketiga hal tersebut dikonstruksi di masa kini. Menurut Schäublin, waktu tidak berjalan sebagai sesuatu yang linier atau univokal. Tetapi merupakan sesuatu yang kita ciptakan, sesuatu yang diproduksi, sebagaimana jam itu sendiri. Sama seperti peta-peta yang berbeda tetapi menggambarkan wilayah yang sama, standar waktu dari pabrik, negara atau ibu kota koeksis dengan temporalitas lain yang kerap diabaikan. Dalam pengertian ini, kisah para buruh pembuat jam anarkis mengisyaratkan penemuan kembali ritme kehidupan yang lain, peta realitas yang lain, melampaui (dan menentang) dominasi temporalitas, semangat nasionalisme, atau produktivitas kapitalis yang telah begitu meresap. **** Anarkisme di Rumania: penemuan kembali masa lalu yang terlupakan Di Rumania, ketertarikan pada gagasan dan praktik anti-otoritarian baru kembali muncul ke permukaan pada pasca 1989. Setelah lebih dari empat dekade berdirinya negara sosialisme, ingatan akan gerakan anarkis lokal hampir sepenuhnya menghilang. Kebangkitan ulang libertarianisme pada 1990-an dan 2000-an hanya memiiki sedikit koneksi dengan tradisi anarkis pra-perang dunia, yang sebagian besarnya masih belum dikenali. Para anarkis “baru”—yang kebanyakan terlibat dalam skena anarko-punk—hanya memiliki referensi lokal yang hanya secuil dan tidak memiliki pengalaman kolektif yang diwariskan dari generasi sebelumnya untuk dijadikan acuan mereka dalam melakukan praktik. Salah satu upaya paling awal untuk mendokumentasikan sejarah yang terlupakan ini datang dari seorang penulis pasifis yang bernama Eugen Relgis. Pada 1951–1952, Ia menulis sebuah sketsa historis dari gerakan anarkis klasik di Rumania.[3] Tulisannya tersebut mengulas beberapa publikasi, figur, dan peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan sejarah ini: di antaranya Panait Mușoiu, seorang editor anarkis terpenting di Rumania, juru cetak bernama Joseph Ishill, atau Iuliu Neagu-Negulescu, seorang penulis utopis dan pengorganisir sindikalis. Laporan Relgis tersebut bertujuan untuk mendokumentasikan, berupaya untuk merawat fragmen-fragmen ingatan libertarian yang Ia khawatirkan akan hilang di kemudian hari. Di sisi yang lain, upaya tersebut juga berfungsi sebagai demistifikasi, menentang aproriasi suara anti-otoritarian ke dalam narasi resmi yang dilakukan secara sewenang-wenang oleh rezim baru yang “kerakyatan” dan “demokratis”.[4] Menurut pendapat Eugen Relgis pada 1951, penghapusan sejarah anarkis di Rumania tidak hanya akan berakhir pada sebuah penolakan, tetapi juga kooptasi restropektif suara-suara libertarian—meskipun dalam bentuk yang terpotong-potong—ke dalam historiografi resmi buatan negara dan partai. Dari perspektif historiografi resmi terebut, kecenderungan anarkis diperlakukan sebagai tahapan yang tidak sempurna atau sekadar “kenakalan remaja”, dalam lintasan sejarah yang akan memuncak pada pendirian rezim “kerakyatan” (jika tidak dihilangkan sepenuhnya). Setelah 1989, lapisan awal penghapusan sejarah ini semakin diperparah oleh reaksi anti-komunis yang tak kalah dogmatisnya, yang nyaris tidak menggoyahkan pandangan sejarah yang telah mapan. Hal tersebut juga membantu menjelaskan, mengapa kepercayaan bahwa Rumania tidak memiliki sejarah gerakan anarkis yang signifikan dapat terus-menerus bertahan—bahkan di lingkar anti-otoritarian pada saat itu. Pada awal tahun 2000-an, beberapa tulisan singkat mengenai kepingan-kepingan sejarah anarkis mulai bermunculan di majalah dan zine anarkis untuk mempertanyakan asumsi tersebut. Walau relevansinya kini dapat dipertanyakan, tetapi tulisan-tulisan tersebut tetap berkontribusi pada terjadinya pergeseran dalam cara memandang sejarah anarkisme Rumania.[5] Topik tersebut pun kemudian menjadi mulai banyak menarik perhatian. Periode 2011–2014, yang bertepatan dengan serangkaian mobilisasi sosial dan demonstrasi yang meluas—mulai dari demonstrasi anti-efisiensi anggaran hingga upaya okupasi kampus-kampus di kota Cluj/Kolozsvár dan Bukares, serta kampanye melawan proyek penambangan di Roșia Montană—ditandai oleh peningkatan minat terhadap sejarah anarkisme lokal. Kajian penting paling awal yang didedikasikan pada topik tersebut—baik itu secara akademik maupun non-akademik—muncul pada periode tersebut. Kelompok-kelompok seperti Anarhi dan Râvna yang berkecenderungan anarko-sindikalis secara aktif melakukan kerja-kerja pemulihan sejarah gerakan buruh Rumania dari perspektif libertarian. Peneliti seperti Vlad Brătuleanu[6] dan Martin Veith[7] mempublikasikan kajian historis yang penting, yang meletakkan dasar-dasar historiografi anarkis di Rumania. Inisiatif lain yang tak kalah penting adalah publikasi koleksi zine anarko-punk dan anarkis Rumania yang dilakukan pada 2014, koleksi tersebut merentang dari tahun 1994 hingga 2014. Itu merupakan upaya pertama untuk mendokumentasikan sejarah terkini anarkisme di Rumania dalam bentuknya yang komprehensif, d.i.y. zine-archive: Fanzinul fanzinelor.[8] Juga perlu disebutkan di sini, bahwasanya mayoritas dari inisiatif tersebut dilakukan secara independen dari dunia dan kerangka akademik. Inisiatif-inisiatif tersebut sebagian besar adalah upaya akar rumput, yang digerakkan “dari bawah”. Oleh karenanya, “palingan historis” yang terjadi pada tahun-tahun itu, tidak didasarkan pada minat terhadap masa lalu yang sepenuhnya abstrak. Melainkan, sebuah gambaran dari pendekatan yang penuh keterlibatan dari para pelakunya, dan menggunakan metode D.I.Y. dalam penelitian sejarahnya. Anarhiva, adalah sebuah inisiatif pengarsipan yang berupaya mendokumentasikan sejarah gerakan anarkisme dan anti-otoritarian di Rumania, didirikan pada tahun 2019. Setahun sebelumnya, Pagini Libere, sebuah kolektif editorial yang berkomitmen pada penerbitan ulang teks-teks penting dari tradisi libertarian Rumania, memulai kerja-kerjanya dengan menerbitkan edisi kritis buku Arimania yang ditulis oleh Iuliu Neagu-Negulescu, satu-satunya utopia anarkis yang pernah ditulis di Rumania, yang pertama kali diterbitkan pada 1923.[9] Tujuan utama dari pengarsipan tersebut, tentu saja, adalah untuk mengumpulkan dan mempreservasi materi-materi yang berkaitan dengan sejarah anarkisme di Rumania. Tetapi, yang tidak kalah penting, juga untuk menyuburkan pertumbuhan “ekosistem” pengetahuan yang ada di sekitarnya, dan dengan demikian juga bertujuan untuk memastikan agar proyek pengarsipan yang berfungsi sebagai pusat produksi pengetahuan tersebut dapat bernapas panjang. Dalam hal ini, inisiatif tersebut terinspirasi oleh pengarsipan-pengarsipan anarkis kondang lainnya, seperti Cira di Lausanne[10], CSL Pinelli[11] di Milan, atau Kate Sharpley Library[12]. Dus, sebagai tambahan kerja-kerja utama yakni dokumentasi, kolektif pengarsipan Anarhiva memulai sebuah buletin yang diterbitkan dua kali dalam setahun dan menyelenggarakan diskusi, pemutaran film, serta lokakarya yang dilakukan secara rutin mengenai berbagai topik yang berkaitan dengan anarkisme dan sejarahnya. Walaupun dokumen yang menjadi koleksi awal berasal dari sumbangan para anggota kolektif pengarsipan itu sendiri, kini koleksi tersebut telah berkembang melalui akuisisi langsung atas materi-materi yang relevan dan melalui sumbangan dari para kontributor atau dari perpustakaan independen lainnya. Dokumen-dokumen yang terkatalogisasi dalam pengarsipan ini merentang hampir 150 tahun sejarah pengorganisiran, penerbitan, dan gagasan anti-otoritarian. Anarhiva mempreservasi materi-materi yang berasal dari tahun 1882—yang merupakan materi paling tua di dalam koleksi—hingga saat ini. Arsip daring dengan akses terbuka disusun berdasarkan periode sejarah dan format media, juga dilengkapi dengan mesin pencarian yang memungkinkan pengguna untuk mencari materi berdasarkan nama penulis, judul, tahun, lokasi, koleksi, bahasa dan topik. Meskipun sebagian besar koleksi terdiri dari jurnal, pamflet, buku, dan manifesto dari periode “klasik”, Anarhiva juga mempreservasi materi-materi terkini, materi-materi ephemera yang diproduksi oleh kolektif anti-otoritarian—zine, leaflet, manifesto, stiker, pin, patch, dan banner—, materi-materi yang jarang ditemukan di pengarsipan resmi. **** Apa Itu Pengarsipan Anarkis? Tradisi pengarsipan anarkis sendiri masih tergolong baru. Centre International de Recherches sur l’Anarchisme (CIRA), yang merupakan salah satu repositori sejarah anarkis internasional paling signifikan dan memiliki tujuan untuk “membuka akses sekaligus melindungi koleksi-koleksi yang sebelumnya dipreservasi dengan buruk, disimpan di gudang atau rumah pribadi, atau yang sebelumnya terkena sensor dan represi sehingga menjadi langka”, baru didirikan pada tahun 1957 di Jenewa.[13] Sedangkan inisiatif pengarsipan lainnya, seperti CSL Pinelli atau Kate Sharpley Library, didirikan pada tahun 1976 dan 1979. Lalu Centre de Documentation Libertaire de Lyon, yang bertujuan untuk “mempreservasi warisan dokumentasi anarkis dan anti-otoritarian serta semua perjuangan yang dilakukan di masa lalu atau di masa mendatang”, didirikan pada tahun 1970.[14] Pada periode yang sama, atau tepatnya pada 1979, didirikan Federation of Anarchist Documentation and Study Centres (FICEDL), yang disusul dengan diselenggarakannya sebuah pertemuan oleh CIRA dan inisitif pengarsipan lainnya. Federasi tersebut berupaya untuk memfasilitasi kerja sama dan pertukaran serta berfungsi sebagai jejaring saling bantu antar inisiatif-inisiatif pengarsipan yang ada di berbagai belahan dunia. Seiring waktu, jaringan tersebut mulai merangkul pengarsipan, perpustakaan, dan pusat dokumentasi dari Eropa, Amerika Selatan, dan Asia. Walaupun pasca 2016 keaktifan aktivitas federasi tersebut mulai menurun—tahun diadakannya pertemuan yang terakhir—beberapa pengarsipan daring terus beroperasi di bawah payung federasi ini, mengkatalogisasi terbitan berkala, poster, kartu pos, dan macam-macam ephemera lainnya yang berasal dari berbagai belahan dunia.[15] Para anarkis sebenarnya telah lama menyadari, bahwa mempreservasi masa lalu mereka adalah sesuatu yang perlu. Salah satu bentuk paling umum dari upaya tersebut adalah “hari peringatan/perayaan yang kontra kultur”, sebagaimana Nathan Jun menjulukinya, yang berdasar pada “ingatan kolektif entah itu yang nyata atau khayali, misalnya seperti yang terilustrasikan dalam tradisi peringatan yang telah lama ada dan berakar pada peristiwa Komune Paris, Haymarket Affair, serta eksekusi Sacco dan Vanzetti.”[16] Kathy Ferguson dengan begitu yakin berpendapat, sejak awal paruh kedua abad ke-19, “huruf yang dicetak” (letters)—entah itu dalam bentuk tipografi, pertukaran epistoler atau teks-teks radikal—, telah begitu meresap dalam kultur politik anarkis.[17] Kata-kata yang dicetak, seperti korespondensi dan karya sastra, tidak hanya menopang jejaring anarkis, tetapi juga berperan dalam pembentukan imajinasi kultural gerakan; pada praktik anarkis dan penciptaan “ruang publik alternatif anarkis”[18]—atau, dalam istilah Jesse Cohn, sebuah “kultur perlawanan anarkis.”[19] Selain penerbitan anarkis dan produksi teks yang substansial; perpustakaan anarkis, sekolah rakyat dan ruang komunitas juga turut menopang ranah wacana ruang publik alternatif tersebut. Publikasi anarkis juga mengemban fungsi lain: mengoleksi dan mempreservasi teks-teks yang dianggap penting dari perpsektif libertarian. Revista Ideei adalah satu contoh paling mencolok, yang dipublikasikan oleh Panait Panait Mușoiu dari tahun 1900 hingga 1916. Mayoritas terbitan berkala anarkis memasukan suplemen sastra atau, dalam kasus Revista Ideei, disertai daftar koleksi pamflet dan buku di bawah tajuk “perpustakaan.” Seiring waktu, koleksi Panait Mușoiu semakin berkembang dan menjadi repositori teks-teks anarkis di Rumania, termasuk karya-karya yang ditulis oleh Reclus, Kropotkin, dan Bakunin. Tetapi, perpustakaan tersebut tidak membatasi koleksinya pada karya-karya anarkis atau sosialis semata; melainkan juga meliputi beragam karya, mulai dari sejarah, etika, psikologi dan filsafat hingga teori sosial, memoar dan sastra. Dan beroperasi sebagai perpustakaan yang secara “ideal” anarkis sekaligus sebagai pengarsipan warisan kultural dan intelektual yang para yakini harus dapat diakses secara bebas oleh siapa saja.[20] Di saat yang sama, perpustakaan semacam itu “tidak sekadar ruang untuk menyimpan buku-buku sosial dan politik yang berhubungan dengan anarkisme.” Tetapi juga lokasi untuk membangun komunitas dan pendidikan bersama melalui pertukaran pengetahuan yang dilakukan secara gratis.[21] Pengarsipan anarkis memainkan peran, dan terus memainkan peran tersebut, yang serupa: tidak hanya mempreservasi dokumen dan teks-teks bersejarah, tetapi juga menyuburkan pertumbuhan ruang-ruang pembelajaran, ingatan kolektif dan saling berbagi pengetahuan. Dari perspektif ini, kerja-kerja pengarsipan tidak hanya berputar-putar pada persoalan katalogisasi atau dokumentasi. Pengarsipan anarkis tidak berfungsi sebagai lokasi penyimpanan benda mati yang berasal dari masa lalu dan “dinetralkan”, melainkan lebih sebagai sumber daya yang (re)generatif. Mengajak proses eksplorasi bersama, pemulihan dan penciptaan, di mana jejak sejarah yang terlupakan dijahit kembali ke dalam jalinan masa kini. Kemunculan pengarsipan anarkis dapat dilihat sebagai sebentuk “institusionalisasi” dari “hari peringatan yang kontra-kultur”; yang, bersamaan dengan perpustakaan, inisiatif pendidikan dan penerbitan anarkis, merupakan bagian vital dari kultur politik anarkis. Peran ganda yang dimainkan oleh pengarsipan libertarian—sebagai lokasi repositori sejarah anarkis dan sebagai ruang untuk menghasilkan dan menghimpun kultur, wacana, pengetahuan, serta komunitas—dapat dilihat dari tanggapan yang diberikan oleh kolektif CSL Pinelli terhadap survei perihal pengarsipan anarkis yang diberikan oleh Andrew Hoyt pada tahun 2011. Pendirian sentra ini, tulis mereka, didasarkan pada dua gagasan. Pertama, “pengarsipan yang dapat mempreservasi ingatan anarkisme (baik itu yang tertulis maupun tidak).” Di saat yang sama, CSL Pinelli “berupaya untuk berkontribusi pada pengembangan iklim kultural libertarian yang khas, yang dapat menyediakan kritik kreatif, jujur dan lugas terhadap kultur dominasi yang sudah begitu meresap dalam kehidupan. Kami merasa bahwa pengembangan iklim semacam itu, terutama, berarti restorasi signifikansi historis dan kekayaan kultural yang begitu terang di masa lalu anarkisme. [..] Anarkisme yang kami maksud bukanlah sekadar gerakan politik, melainkan lebih sebagai sebuah ‘tradisi’ kultural: perpaduan antara gagasan, inisiatif intelektual dan eksistensial, serta sejarah kolektif dan personal. Anarkisme ini merupakan sarana untuk menemukan makna dan menentukan arah; ini adalah cara memandang dunia sekaligus kemauan untuk mengubahnya.”[22] Jessica Moran berpendapat bahwa pengarsipan anarkis “berada di bawah payung pengarsipan komunitas independen.”[23] Dalam analisisnya, Ia mengacu pada definisi yang dicetuskan oleh Andrew Flinn dan Mary Stevens, yang mendeskripsikan pengarsipan komunitas independen sebagai “aktivitas akar rumput dalam mencipta dan mengumpulkan, memproses dan mengkurasi, mempreservasi dan menjadikan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan fokus komunitas atau subjek spesifik tertentu dapat mudah diakses.”[24] Flinn dan Stevans menekankan bahwa sebagian besar inisiatif ini dimotivasi oleh “kegagalan (yang nyata terjadi atau sekadar dirasakan) organisasi pelestarian arus utama dalam mengumpulkan, mempreservasi dan membuka akses dari koleksi serta sejarah yang secara tepat mencerminkan dan secara akurat mewakili kisah seluruh masyarakat.”[25] Dari perspektif ini, tindakan mempreservasi sejarah komunitas, atau tindakan kolektif dalam mengambil alih kembali sejarahnya, dapat dipahami sebagai tindakan perlawanan itu sendiri, sebuah praktik kontra-hegemoni yang secara sengaja dilakukan di luar “kendali institusional arus utama”. Meskipun begitu, sejumlah materi yang berkaitan dengan sejarah anarkisme dapat ditemukan juga di koleksi perpustakaan dan pengarsipan universitas. Salah satu contohnya adalah koleksi yang sangat lengkap mengenai anarkisme, antikolonialisme, ekologi, hak-hak pekerja, feminisme, dan bidang-bidang terkait di Perpustakaan Universitas Michigan. Koleksi tersebut dinamai Joseph A. Labadie, seorang anarkis yang menyumbangkan perpustakaan pribadinya kepada universitas tersebut pada tahun 1911. Dan dikuratori oleh pustakawan anarkis Agnes Inglis, yang mulai bekerja di perpustakaan tersebut pada tahun 1924, selama beberapa dekade kemudian koleksi tersebut menjadi semakin berkembang pesat, termasuk penambahan karya-karya dari juru cetak anarkis bernama Joseph Ishill.[26] Koleksi yang dimiliki oleh International Institute of Social History (IISH) di Amsterdam—sebuah lembaga penelitian independen (tapi didukung oleh pemerintah) yang merupakan salah satu pengarsipan terbesar di dunia dan didedikasikan untuk gerakan sosial dan buruh—pun tak kalah penting bagi sejarah anarkisme. Di Rumania, satu-satunya koleksi yang berkaitan dengan anarkisme dan dikelola secara resmi adalah koleksi Eugen Relgis di Perpustakaan Akademi Rumania di Iași. Koleksi ini terbilang kecil dan cakupannya relatif terbatas, yang materi-materinya terdiri dari korespondensi, naskah dan kliping koran, sebagian besarnya belum dikatalogisasi. Dokumen-dokumen lain, seperti jurnal anarkis, pamflet atau buku, dapat ditemukan secara tersebar di berbagai koleksi terbitan lawas di perpustakaan dan universitas, yang umumnya tidak disusun dalam koleksi arsip khusus (yang menunjukkan betapa rendahnya perhatian institusional terhadap sejarah anarkisme secara umum). Namun, ada pula beberapa koleksi lengkap materi-materi anarkis yang dikelola oleh negara dan universitas, akan tetapi sebagian besar materi yang berkaitan dengan gerakan anarkis tetap berada dalam koleksi yang dikembangkan melalui inisiatif akar rumput dan kerja-kerja sukarela. Pemeliharan dan perluasan koleksi arsip tersebut umumnya dilakukan melalui donasi dari para editor, pendukung, penerbit, jurnal, ruang radikal atau berbagai macam sumber non-resmi lainnya. Secara keseluruhan, aspek-aspek ini menegaskan karakter inisiatif-inisiatif tersebut yang berorientasi pada komunitas, serta perannya sebagai wadah produksi pengetahuan independen. Pengarsipan anarkis merentang dari koleksi kecil nan spesifik—seperti, bekas perpustakaan zine anarko-punk Rizom, yang kini menjadi bagian dari perpustakaan Acasă di Cluj/Kolozsvár—hingga pengarsipan dengan ribuan judul yang terindeksasi dalam berbagai bahasa, yang mencakup periode sejarah dan geografi yang berbeda-beda, seperti CIRA di Lausanne atau CSL Pinelli. Pengarsipan-pengarsipan tersebut mengelola arsip fisik, yang seringkali terhubung dengan ruang atau perpustakaan anarkis, arsip digital melalui proyek daring[27], atau dalam bentuk “hibrida” (menggabungkan keduanya), seperti yang dilakukan oleh Anarhiva.[28] Pengarsipan anarkis juga beragam bentuknya, tergantung pada jenis sejarah apa yang ingin mereka dokumentasikan. Sebagian besar dikembangkan secara lokal, di sekitar perpustakan, ruang komunitas, publikasi, atau kelompok yang mulai mendokumentasikan dan mengumpulkan sejarah serta gerakan mereka sendiri. Seiring waktu, beberapa inisiatif ini berkembang menjadi bentuk yang semakin komprehensif, sembari tetap mempertahankan fokus—atau minat utama—yang mencerminkan tujuan awal mereka. Dalam hal ini, CSL Pinelli adalah contoh yang paling dapat menggambarkannya. Pengarsipan ini dikembangkan dalam hubungan yang erat dengan dua inisiatif lain—sebuah penerbitan dan jurnal A-Rivista—yang menjelaskan mengapa terdapat begitu banyak materi-materi terkait sejarah anarkisme Italia. Tetapi, pengarsipan ini tidak terbatas pada kerangka “nasional” semata. Koleksi dan kegiatan penelitian yang dilakukannya berupaya mencerminkan sejarah anarkisme secara umum. Terdapat pula banyak inisiatif yang memiliki fokus pada organisasi atau aliran ideologis tertentu dalam anarkisme. Salah satu contohnya adalah Fonds d’archives communistes libertaires yang didirikan pada tahun 2017, yang mendokumentasikan gerakan komunis libertarian di Prancis dari tahun 1944 hingga kini, serta menelusuri seluruh percabangan dan bentuk organisasinya. Berlokasi di Musée de l’histoire vivante, sebuah lembaga independen yang didedikasikan untuk sejarah sosial, pengarsipan tersebut dikelola oleh Alternative Libertaire, salah satu organisasi yang di kemudian hari membentuk Union Communiste Libertaire pada tahun 2019. Lalu ada pula pengarsipan anarkis yang hanya berfokus secara spesifik pada sejarah anarkisme di daerah atau wilayah geografis tertentu. Dalam kasus ini, adalah Tyneside Anarchist Archive, yang koleksinya terdiri dari beragam publikasi dan ephemera anarkis yang “dipreservasi selama kurang lebih 40-50 tahun oleh para anarkis di Tyneside”.[29] Meskipun materi-materi yang diarsipkan berasal dari “seluruh penjuru dunia”, sebagian besarnya tetap didedikasikan untuk mengarsipkan publikasi anti-otoritarian dan sejarah sosial setempat. Untuk kasus Anarhiva, yakni sebuah inisiatif yang sejak awal digagas dalam kerangka “nasional”, merupakan kasus yang unik dan memerlukan kajian yang lebih mendalam, karena mengangkat pertanyaan-pertanyaan penting mengenai hubungan timbal balik antara pendekatan nasional, regional, dan transnasional terhadap sejarah anarkisme. **** Sejarah Nasional, Regional, dan Transnasional Sebagaimana dicatat oleh Andrew Hoyt, “pengarsipan punya andil yang besar dalam menentukan cara penulisan sejarah,”[30] terlebih karena mereka menyediakan materi-materi mentah untuk diolah dalam penyusunan narasi. Bagaimanapun juga, selain berfungsi untuk mempreservasi masa lalu, pengarsipan juga mengemban—melalui cara kerjanya—suatu visi khusus atas sejarah yang hendak didokumentasi. Maka, inisiatif pengarsipan tidak dapat dipahami di luar konteks spesifiknya, yakni historiografi anarkisme dan perdebatan yang membentuk—pada momen yang berbeda-beda—trayektorinya. Alhasil, walau kerja-kerja pengarsipan Anarhiva berfokus pada sejarah anarkisme di Rumania, signifikansinya dapat dipahami dengan lebih baik ketika diletakkan dalam upaya (akademis dan pengarsipan) yang lebih luas, untuk menggali kembali sejarah anarkis di seluruh Eropa Tengah dan Timur serta Balkan. Di kawasan yang pernah menjadi daerah kekuasaan kekaisaran yang silih berganti, terjadinya konflik nasionalis, pernah mapannya sosialisme dan mengalami gejolak pada tahun-tahun peralihan “pasca-komunis”; sejarah anarkisme tetap menjadi sesuatu yang terpinggirkan dan pemahaman mengenainya merupakan sesuatu yang langka. Selama bertahun-tahun, berbagai macam inisiatif individual telah berupaya untuk menggali kembali sejarah yang tersembunyi ini, dengan kencenderungan menggunakan kerangka nasional sebagai titik acu keberangkatannya.[31] Dengan dilaksanakannya Balkan Anarchist Bookfair pada tahun 2000, pertanyaan-pertanyaan mengenai sejarah anti-otoritarian di wilayah tersebut mulai mencuat dan menjadi berseliweran sebagai topik diskusi. Perdebatan mengenai arsip dan penelitian sejarah—yang berlangsung di bookfair yang diselenggarakan di Ljubljana (2023), Pristina (2024), dan Thessaloniki (2025)—menandakan betapa perlunya untuk semakin menggencarkan upaya menggali ulang sejarah tersebut. Yang kemudian tak kalah penting adalah munculnya kesadaran bahwa narasi-narasi tersebut tidak dapat dibatasi oleh kerangka nasional. Ia harus dipahami dalam relasinya dengan yang lain dan ditempatkan dalam perspektif transregional dan transnasional yang lebih luas. Pada periode yang sama, editor majalah Contradictions/Kontradikce yang mendedikasikan edisi-edisinya untuk membahas anarkisme di Eropa Tengah dan Timur juga memiliki kesimpulan yang serupa. Salah satu editornya yang bernama Ondřej Slačálek, bahkan menyerukan untuk melakukan “palingan regional” dalam kajian anarkisme. Slačálek berpendapat, sebuah perspektif yang komparatif dan regional tidak hanya akan memungkinkan pengalaman-pengalaman anti-otoritarian di Eropa Tengah dan Timur—yang seringkali kurang terwakili dalam kajian anarkisme secara umum—dapat ditempatkan dalam konteks sejarah anarkisme global, tetapi juga akan mendorong pemahaman yang lebih mendalam mengenai dampak sosial, politik, dan budaya dari gagasan serta praktik anarkisme di kawasan tersebut. Lebih jauh ia berpendapat, bahwa pendekatan yang semacam itu tidak hanya dapat mengungkap “orisinalitas tersembunyi dari anarkisme CEE [Central and Eastern European],” tetapi juga menyediakan perangkat intelektual untuk menelaah kembali, melalui lensa libertarian, sejarah masa lalu kawasan tersebut, serta tantangan-tantangan dan prospeknya di masa kini.[32] Ilustrasi paling kongkrit dari pendekatan ini adalah buku Yavor Tarinski yang akan segera terbit, berjudul Balkan Federation and Communes: Revolutionary Projects in Bulgaria of the 19th & 20th Centuries, sebuah kajian sejarah berdasar pada pengakuan bahwa masa lalu (dan masa kini) kawasan tersebut tidak direduksi pada proyek-proyek kekaisaran dan nasionalis semata.[33] Tarinski mengajak kita untuk mengeksplorasi temporalitas sejarah alternatif, yang terkandung dalam tradisi-tradisi kerakyatan dan revolusioner dari sebuah kawasan yang tidak hanya dibentuk oleh konflik, tetapi juga oleh praktik perlawanan dan solidaritas lintas bahasa, agama, dan etnis. Analisisnya berfokus secara spesifik pada Bulgaria, tetapi tema yang Ia teliti—gagasan mengenai federasi komune Balkan—telah ditinjau ulang dan dirumuskan kembali dalam berbagai konteks nasional lainnya. Kerangka nasional, dalam kasus ini, sebagai titik keberangkatan daripada pembatasan, yang mengajak untuk melakukan penyelidikan komparatif yang lebih luas lagi. Pendekatan “nasional” tidak mengesampingkan perspektif regional atau transnasional. Perspektif transnasional lebih cederung melengkapi dan menjelaskan, alih-alih menggantikan, sejarah lokal dan regional. Untuk menggali kembali sejarah ini, kiranya perlu untuk menempatkannya dalam konteks historis, sosial, dan kultural yang spesifik, sekaligus mengakui karakter transnasionalnya yang inheren. Ini berarti begerak melampaui kerangka interpretasi nasional yang ketat tanpa mengabaikan atau mengesampingkan partikularitas lokal. Perbedaan pendekatan dalam kajian anarkisme tidak boleh dipahami sebagai hirarki metodologis. Melainkan, lebih sebagai cerminan variasi dalam hal penekanan atau fokus. Dalam konteks kerja-kerja pengarsipan anarkis; fokus lokal, nasional, atau regional seringkali berfungsi sebagai titik awal dalam proses riset, bukan sebagai kerangka kerja yang eksklusif yang mensubordinasi atau mengesampingkan pendekatan yang lain. Seperti yang dikemukakan oleh Ondřej Slačálek, pendekatan multidimensional—yang juga mencakup perspektif transnasional—adalah “koreksi yang diperlukan terhadap kepicikan provinsialisme nasional atau regional” dan, pada saat yang sama, “alat yang diperlukan bagi siapapun yang ingin bekerja secara serius di tingkat nasional atau regional.”[34] Pendekatan semacam itu memungkinkan pemahaman dan pemetaan yang lebih komprehensif atas trayektori, interaksi dan koneksi yang telah membentuk sejarah anarkis di semua tingkatan. Dus, walau kerja-kerja utama Anarhiva adalah untuk mendokumentasikan sejarah anarkisme di Rumania—yang berarti secara spesifik mengambil ruang geografis, kultur, dan bahasa tertentu sebagai titik awalnya—koleksinya justru melampaui (dan bertentangan) dengan kerangka kerja “nasional” yang ketat. Dan walau sebagian besar materi-materi yang ada berbahasa Rumania, pemfokusan pada sejarah lokal tidak mengabaikan jaringan koneksi yang rapat yang menjadikan anarkisme di Rumania sebagai fenomena transnasional alih-alih nasional. Selain itu, lingkaran anarkis di Rumania secara historis bersifat multi-etnis dan multi-bahasa. Alhasil, pengarsipan tersebut memasukan pula materi-materi—seperti korespondensi, memoar, dan publikasi yang dipersembahkan oleh para anarkis Rumania—yang sebagian besarnya ditulis atau beredar dalam bahasa Prancis, Jerman, Swedia, Spanyol, Inggris, Yiddish, Esperanto (dan bahasa lainnya). **** Pengarsipan Anarkis: Sejarah dari Bawah Apa kontribusi pengarsipan anarkis dalam kajian sejarah secara umum? Pertama-tama dan yang paling utama, sebagai pengarsipan berbasis komunitas dan independen, peran mereka dapat dilihat sebagai pelengkap kerja-kerja pengarsipan institusi resmi. Mereka mengisi celah kosong pendokumentasian gerakan anarkis, mengumpulkan materi-materi yang biasanya tidak dilirik oleh pengarsipan universitas atau negara. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi signifikan bagi para sejarawan anarkisme atau gerakan sosial, tetapi juga bagi mereka yang mempelajari gerakan akar rumput, arus (kontra)kultur dan subkultur yang bersinggungan dengan anarkisme (seperti kultur punk). Pada saat yang bersamaan, mereka menantang monopoli institusi negara atas produksi pengetahuan sejarah. Pengarsipan anarkis mempertanyakan cara-cara bagaimana pemahaman sejarah dibentuk—serta peran kuasa dalam proses tersebut—sembari secara bersamaan menegaskan potensi hubungan dengan memori yang berbeda, yakni hubungan yang muncul secara organik, dari akar rumput. Fungsi utama dari pengarsipan anarkis, sebagai lokasi sirkulasi dan produksi pengetahuan, adalah kapasitas mereka untuk menjadi katalis refleksi sosial dan politik serta imajinasi kolektif. Dengan menawarkan akses terhadap sejarah, kultur, dan literatur radikal, pengarsipan anarkis memfokuskan pada cara menelaah sejarah yang kritis dan terlibat, terkait dengan memori kolektif dan pembayangan akan masa kini. Fakta bahwa, secara umum, sedikit sekali materi yang diproduksi oleh para anarkis yang telah dipreservasi atau dibuat tersedia di pengarsipan negara, tidak hanya membatasi para sejarawan dalam mempelajari anarkisme, tetapi juga dapat menghalang-halangi proses kritik dan refleksi kolektif kontemporer yang lebih horizontal dan berbasis akar rumput. Dus, pengarsipan anarkis memainkan sebuah peran sosial dan komunitas, berfungsi sebagai lokasi pengetahuan bersama, di mana informasi dan memori dibagikan di luar kerangka kepemilikan pribadi atau yang dikontrol negara. Karena bersifat independen dan digerakkan oleh komunitas, pengarsipan ini memiliki tingkatan kebebasan metodologis dan kreativitas yang lebih besar. Alih-alih sekadar mereproduksi epistemologi yang dominan, mereka dapat mengeksplorasi cara-cara baru dalam berhubungan dengan sejarah, termasuk pula peninjauan ulang terhadap praktik-pratik pengarsipan itu sendiri. Interference Archive adalah salah satu contohnya, didirikan pada tahun 2011 di New York dan didedikasikan untuk “mengeksplorasi hubungan antara produksi kultural dan gerakan sosial.”[35] Terlepas dari materi-materi yang dikumpulkan, pengarsipan ini berusaha untuk mempercanggih seperangkat “praktik yang bertentangan dengan praktik pengarsipan yang lebih tradisional namun berpotensi membuahkan pengetahuan yang unik”, yang didasarkan pada prinsip-prinsip anti-otoritarian, seperti saling bantu, partisipasi dan “pembangkangan”. Para pengunjung tidak hanya diundang untuk berpartisipasi dalam proses mengkatalogisasi dokumen arsip bersama para pustakawan, tetapi juga diajak untuk berinteraksi secara kreatif dengan dokumen-dokumen tersebut, alias untuk menghasilkan karya mereka sendiri. Prinsip yang menjadi panduan di sini adalah “menggunakan sama dengan mempreservasi”, yang mendorong baik itu pengunjung maupun pengelola pengarsipan untuk bereksperimen dengan pendekatan-pendekatan baru terhadap sejarah, memori dan produksi kultural.[36] Sebagai ruang memori yang horizontal dan dinamis, pengarsipan anarkis menjadi lokasi di mana batas antara yang profesional dan non-profesional, antara arsiparis dan publik, serta antara produksi dan preservasi kultural terus-menerus (dan secara kreatif) dinegosiasikan. Ada contoh lain perihal cara bagaimana sejarah itu sendiri didekati. Baik itu Kate Sharpley Library, CSL Pinelli dan Anarhiva, memiliki perspektif yang berbeda-beda terkait sejarah dan preservasi memori, dengan berupaya untuk membuat sejarah “minor” dari para anarkis atau peristiwa yang kurang diketahui. Secara implisit, sejarah yang mereka kedepankan tidak lagi tentang “tokoh-tokoh besar”, melainkan sejarah “dari bawah” yang sesungguhnya, memberikan perhatian pada mereka yang biasanya absen dari narasi dominan (sejarah anarkisme yang sudah mapan termasuk juga di sini). Albert Meltzer, salah satu pendiri Kate Sharpley Library, mencatat bahwa sejarah anarkisme—dan, lebih luas lagi, sejarah pada umumnya—tidak sekadar hasil dari segelintir tokoh terkemuka.[37] Memahami sejarah anarkisme (dan sejarah pada umumnya) berarti menganggapnya sebagai realitas manusia yang dialami. Sejarah anarkisme karenanya bukan hanya sejarah “gagasan-gagasan besar” yang dirumuskan oleh “orang-orang besar”, melainkan terutama sejarah perjuangan sehari-hari yang seringkali dilakukan secara anonim, sejarah komunitas-komunitas yang saling berbagi, menghidupi, dan mengembangkan gagasan-gagasan tersebut, serta praktik-praktik yang membuatnya menjadi mungkin. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh pengarsipan-pengarsipan ini, sebagaimana dikatakan oleh Jessica Moran, adalah tepat perihal keberlanjutan jangka panjang mereka sebagai proyek-proyek yang independen. Kondisi-kondisi yang justru mendefinisikan karakter dan kontribusi khas mereka—menjadi otonom, didanai secara mandiri, berorientasi komunitas dan terbuka bagi partisipasi akar rumput—juga membuat mereka menjadi rentan. Mereka seringkali kekurangan ruang, sumber daya untuk penyimpanan yang layak dan pengelolaan arsip yang profesional, sehingga bergantung pada semangat sekelompok kecil relawan yang berkomitmen. Akankah koleksi-koleksi ini—dan kerja-kerja semacam ini—dapat diteruskan dari generasi ke generasi, tetap menjadi relevan dan menginspirasi yang lain untuk tetap mendukung dan melanjutkannya? Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kebanyakan dari mereka yang terlibat dalam inisiatif semacam ini—entah itu pengarsipan dan perpustakaan berskala kecil yang terafiliasi dengan ruang-ruang sosial, maupun lembaga berskala besar seperti CIRA—tidak memiliki bekal pelatihan formal sebagai arsiparis atau pustakawan. Meskipun begitu, sebagaimana dicatat oleh Moran dan Hoyt, kehadiran orang-orang yang memiliki keahlian di bidang perpustakaan dan pengarsipan di antara para relawan bukan berarti sesuatu yang jarang. Tapi, pada akhirnya, yang menjadi penting bukanlah perkara profesional atau tidak profesional, melainkan perihal “kesediaan untuk melakukan pekerjaan tersebut serta kecenderungan terhadap (atau pengalaman dengan) anarkisme dan gerakan sosial yang berkaitan.”[38] Walau tingkat formalisasi bervariasi tergantung pada jenis pengarsipan—dengan koleksi yang lebih besar dan kompleks seringkali mengembangnkan praktik organisasi yang lebih terstruktur—prinsip umumnya adalah pembelajaran mandiri dan tingkat otonomi yang lebih besar bagi para sukarelawan baru. Di luar masalah keterbatasan sumber daya, seperti ruang yang tidak memadai (atau tidak pasti), masalah yang berulang, sebagaimana yang disoroti dalam survei Moran dan Hoyt, adalah kapasitas lembaga-lembaga yang pada dasarnya bergantung pada sukarelawan ini, tidak hanya untuk mengumpulkan dan mengkatalogisasi koleksi yang luas dan unik, atau mengembangkan praktik pengarsipan khusus, tetapi juga untuk meneruskan pengetahuan ini, dan dengan demikian memastikan keberlanjutan proyek-proyek tersebut. Risiko yang dihadapi oleh semua proyek ini adalah hilangnya pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka akumulasi, akibat dari tidak adanya orang yang bersedia untuk mengambil alih dan meneruskan kerja-kerja tersebut. sebagaimana dicatat oleh Andrew Hoyt, pengarsipan-pengarsipan tersebut mungkin akan memasuki masa-masa “hibernasi” sampai munculnya generasi arsiparis yang baru atau hingga gelombang aktivisme sosial kembali menyulut “minat masyarakat terhadap koleksi-koleksi tersebut”.[39] Namun, contoh-contoh seperti KSL, CIRA, atau CSL Pinelli memberikan harapan bahwa kontra-institusi alternatif memori anarkis tersebut dapat tetap terus hidup dan menjadi proyek yang bernapas panjang, terlepas dari berbagai-bagai kesulitan yang mereka hadapi. Sebagaimana diamati oleh Andrew Cornell, pengarsipan anarkis memiliki peran krusial bagi perluasan “gagasan perihal dapat menjadi apa dan melakukan apa pengarsipan itu.”[40] Lebih dari itu, pengarsipan-pengarsipan semacam itu merupakan bagian penting dari infrastruktur pengetahuan yang horizontal dan berbasis kerakyatan, sebuah sumber daya yang makin hari makin diperlukan di tengah-tengah krisis yang makin menjadi-jadi, represi negara yang semakin meningkat, polarisasi sosial, serta ancaman hegemonik diskursif dan politik yang meluas, yang terus-menerus merongrong otonomi individu dan kolektif. Sementara pemikiran Marxis telah menempati posisi yang signifikan di lingkungan akademis dan dalam lanskap intelektual yang lebih luas, studi anarkisme masih merupakan bidang yang relatif belum terlalu dikembangkan, baik di dalam maupun di luar lingkungan akademis.[41] Beberapa faktor yang menyebabkan situasi ini, salah satunya adalah penerimaan dan pemahaman yang terbatas terhadap anarkisme sebagai fenomena historis, kultural dan intelektual, yang sebagian disebabkan oleh marginalisasi historiografinya. Berdasarkan seruan Slačálek untuk melakukan “palingan regional”, inisiatif pengarsipan dan historiografi independen dapat menopang (dan menginspirasi) perkembangan studi anarkisme di Eropa Tengah dan Timur, sekaligus menumbuhkan bentuk-bentuk produksi pengetahuan dan sosiabilitas yang tetap independen, namun tidak terisolasi, dari pengetahuan akademis dan wacana publik yang lebih luas. Infrastruktur pengetahuan otonom semacam itu dapat berfungsi tidak hanya sebagai katalisator sosial, tetapi juga sebagai stimulus bagi minat penelitian yang lebih luas, yang beresonansi di berbagai ranah akademik dan diskursus lainnya. **** Kesimpulan Adegan dalam film Cyril Schäublin menunjukkan perlunya untuk menemukan kembali sejarah “minor”, yang sangat krusial baik itu bagi masa lalu maupun bagi perjuangan di masa kini. Secara sinematik, hal ini tidak berarti adanya pergeseran perspektif yang spektakuler (atau “revolusioner”), melainkan sebuah gestur yang tampak minor dan dapat dengan mudah tidak diperhatikan dalam alur film: penggantian peta resmi di dinding pub komunitas dengan peta yang digambar oleh Kropokin, sang ahli geografi muda. Sebuah peta yang dipenuhi dengan memori dan kehidupan komunitas, yang mencatat jalur dan tempat-tempat yang tidak tercantum dalam dokumen resmi. Peta ini juga merupakan peta “terbuka” yang tidak akan pernah rampung, yang tidak menggambarkan upaya penaklukan, bangsa, tokoh-tokoh besar atau perbuatan mereka, melainkan upaya kolektif dan mereka yang anonim yang telah menciptakan, seiring waktu, institusi-institusi kehidupan bersama. Peta Kropotkin bukanlah hadiah bagi penduduk desa, juga bukan sekadar hasil dari pengembaraannya di lembah tersebut, melainkan sebuah undangan untuk membayangkan ulang dan mengklaim kembali lanskap yang mereka huni; serta sebuah pengingat bahwa “tidak ada peta yang final”.[42] [1] Kropotkin, Peter: Memoirs of a Revolutionist. Smith, Elder & Co, London, 1899. 73. [2] Schäublin, Cyril (dir.): Unrueh (Unrest). Seeland Filmproduktion – Cinema Defacto, 2022. [3] Teks ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1951 di jurnal Cénit, yang diterbitkan di Toulouse oleh para eksil politik yang mayoritas berafiliasi dengan CNT (Confederación Nacional del Trabajo), konfederasi anarko-sindikalis Spanyol. Teks ini kemudian diterbitkan ulang dalam empat bagian di jurnal Paris, Contre-Courant. Lihat: Relgis, Eugen: Libertaires et pacifistes en Roumanie. Dalam: Contre-Courant. Seri pertama, no. 1 (Februari 1952) hlm. 12; no. 2 (Maret 1952) hlm. 28; no. 3 (April 1952) hlm. 3; no. 4 (Mei 1952) hlm. 75–76. Edisi yang lebih baru diterbitkan pada tahun 2018 dalam bentuk pamflet: Relgis, Eugen: Libertaires et pacifistes en Roumanie. CIRA, Marseille, 2018. [4] Salah satu contoh utama yang disebutkan oleh Relgis adalah kasus penerbit anarkis Panait Mușoiu. Setelah kematiannya pada November 1944, “media partai” dengan tepat memujinya sebagai “pelopor sosialisme”. Namun, media yang sama itu sebagian cenderung mengabaikan dimensi anti-otoriter dalam karyanya. Beberapa dekade kemudian, pada tahun 1970, sebuah monograf yang didokumentasikan dengan baik tentang Panait Mușoiu diterbitkan. Meskipun biografi tersebut tidak menyangkal kecenderungan anarkisnya, para penulis berusaha meminimalkan hal tersebut, dan malah menggambarkannya sebagai seorang pendukung setia “Marxisme”. Salah satu penulis monografi tersebut, A. Gălățeanu, dulunya adalah pengagum dan teman Panait Mușoiu serta pernah menjadi editor jurnal anarkis, Pagini Libere (“Halaman Bebas”), yang terbit pada tahun 1920-an. Lihat: Gălățeanu, A. – Gogoneață, N.: Panait Mușoiu. Editura Politică, București, 1970. [5] Para anarkis di Craiova, misalnya, terkejut saat menemukan edisi Rumania dari buku God and the State karya Bakunin, yang diterbitkan pada tahun 1918 oleh Panait Mușoiu, dalam koleksi perpustakaan setempat. Selain itu, dalam edisi pertama majalah Revolta! (2003), dimuat sebuah artikel pendek berjudul On the traces of anarchism in Romania: Mikhail Bakunin. Artikel tersebut pada dasarnya mengutip kembali pengantar biografi Bakunin karya James Guillaume, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Rumania pada tahun 1936 oleh Ion Ionescu-Căpățână, dan dimaksudkan “untuk menunjukkan adanya sejarah anarkisme di Rumania.” Lihat: Permele anarhismului în România. Mihail Bakunin, Revolta! no. 1 (September 2003). 5. Tersedia secara daring di: https://www.anarhiva.com/items/show/512 (diakses pada: 3 Oktober, 2025.) [6] Lihat: Brătuleanu, Vlad: A Brief History of Anarchism in Romania. Pagini Libere, Bucharest, 2018, tersedia secara daring di: https://pagini-libere.ro/brosuri/a-brief-history-ofanarchism-in-romania-vlad-bratuleanu/ Ini adalah terjemahan bahasa Inggris dari sebuah teks yang diterbitkan dalam bahasa Rumania pada 2011: Brătuleanu, Vlad: Anarhismul în România. In: Studia Politica: Romanian Political Science Review. vol. XI, no. 2 (2011). 274–285. [7] Martin Veith adalah penulis sejumlah kajian dan monograf yang didedikasikan kepada beberapa figur sosialis dan gerakan buruh penting di Rumania. Lihat: Veith, Martin: Unbeugsam. Ein Pionier des rumänischen Anarchismus – Panait Muşoiu. Verlag Edition AV, Lich/Hessen, 2013; Veith, Martin: Militant! Ștefan Gheorghiu und und die revolutionäre Arbeiterbewegung Rumäniens. Verlag Edition AV, Lich/Hessen, 2015. [8] Fanzinul fanzinelor TM – 20 de ani de fanzine și publicații Otherground în Timișoara (19942014). Antropong, Timișoara, 2014. [9] Neagu-Negulescu, Iuliu: Arimania sau Țara Buneiînțelegeri. Pagini Libere, Bucharest, 2018. [10] Lihat: CIRA [Centre International de Recherches sur l’Anarchisme]. https://www.cira.ch/home [11] Lihat: Centro Studi Libertari – Archivio Giuseppe Pinelli. https://www.centrostudilibertari.it/ [12] Kate Sharpley Library. https://www.katesharpleylibrary.net/ [13] Enckell, Marianne: Le Centre International de Recherches sur l’Anarchisme. In: de Giorgi, Alda – Heimberg, Charles – Magnin, Charles (eds.): Archives, histoire et identité du mouvement ouvrier. Collège du Travail, Genève, 2006. 81. [14] Centre de documentation, akses secara daring di: https://lagryffe.net/centre-de-documentation/ [15] Fédération internationale des centres d’études et de documentation libertaires. https://ficedl.info/ [16] Jun, Nathan, J.: Anarchism without Archives. In: American Periodicals. vol. 29, no. 1 (April 2019) 3–5. 3. [17] Ferguson, Kathy E.: Letterpress Revolution: The Politics of Anarchist Print Culture. Duke University Press, Durham – London, 2023. [18] Ferguson, Kathy E.: Anarchist Counterpublics. In: New Political Science. vol. 32, no. 2 (June 2010) 193–214. [19] Cohn, Jesse: Underground passages. Anarchist Resistance Culture, 1848–2011. AK Press, Oakland – Edinburgh – Baltimore, 2014. [20] Untuk analisis tentang Panait Mușoiu and Revista Ideei yang lebih mendetail, lihat: Tătăran, Adrian: Being Minor at the Margins: Literature, Transnational Networks, and Anarchism in la belle époque Romania. Dalam: Ursa, Mihaela – Goldiș, Alex (eds.): Romanian Literary Networks outside National Framings. A Case Study for Peripheralized Cosmopolitanisms. Peter Lang, 2024. [21] Moran, Jessica: To Spread the Revolution: Anarchist Archives and Libraries. In: Morrone, Melissa (ed.): Informed Agitation: Library and Information Skills in Social Justice Movements and Beyond. Library Juice Press, Sacramento, 2014. 173–184. Juga tersedia secara daring di: https://www.katesharpleylibrary.net/7sqwg0 [22] Survei yang dilakukan oleh Andrew Hoyt merupakan bagian dari makalah yang dipresentasikan di North American Anarchist Studies Network conference di Toronto pada tahun 2011. Hoyt, Andrew: The International Anarchist Archives: A report on conditions and a proposal for action, dapat diakses di: https://www.katesharpleylibrary.net/pvmfxq 25. [23] Moran: 2014. [24] Flinn, Andrew – Stevens, Mary: “It is noh mistri, wi mekin histri”: Telling our own stor. Independent and community archives in the UK, challenging and subverting the mainstream. Dalam: Bastian, Jeannette – Alexander, Ben (eds.): Community archives: The shaping of memory, Facet Publishing, London, 2009. 3–27. 5. [25] Ibid. 6 [26] Lahir di Botoșani, dalam sebuah keluarga Yahudi, Ishill berasosiasi dengan kelompok yang aktif di sekitar Revista Idee sebelum beremigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1909. Lihat: vrich, Paul: The Modern School Movement: Anarchism and Education in the United States. Princeton University Press, Princeton, 1980. 231–237. [27] List of Digitized Anarchist Periodicals (LIDIAP) adalah sumber daya daring yang kaya untuk kajian atau pemfokusan dalam sejarah anarkis, ada banyak jurnal dari berbagai bahasa dan periode yang sudah didigitalisasi dan dapat diakses secara gratis. Proyek ini dimulai di Bibliothek der Freien, sebuah perpustakaan dan pengarsipan anarkis yang didirikan pada tahun 1993 di Berlin. Koleksi terbitan berkala anarkis tersebut dapat diakses di sini: https://lidiap.ficedl.info/ [28] Arsip-arsip fisik yang masih baru masuk koleksi masih dalam tahap katalogisasi dan belum dapat diakses oleh publik. [29] Tyneside Anarchist Archive. https://tynesideanarchistarchive.wordpress.com/about/ sebuah kajian sejarah yang mendetail mengenai anarkisme (dan anarkis) di North East of England juga pernah dipublikasikan oleh ini: Tyneside Anarchist Archive: Anarchism in North East England 1882–1992. Active Distribution, 2021. [30] Hoyt, Andrew: The International Anarchist Archives: A Report on Conditions and a Proposal for Action. Dalam: Theory In Action. vol. 5, no. 4 (October 2012), 3–5. 3. [31] Contoh kasusnya, seperti, karya yang ditulis oleh András Bozóki dan Miklós Sükösd tentang sejarah anarkisme di Hungaria. Lihat: Bozóki, András – Sükösd, Miklós. Anarchism in Hungary: Theory, History, Legacies. Col.: Social Science Monographs, Boulder, 2006. [32] Slačálek, Ondřej: The Hidden Originality of Central and Eastern European Anarchisms. Let’s end with Also-ism. Dalam: Contradictions/Kontradikce. vol. 7, no. 2 (2023). 145–173. [33] Tarinski, Yavor: Balkan Federation and Communes: Revolutionary Projects in Bulgaria of the 19th & 20th Centuries. PM Press/Kairos, segera terbit tahun 2026 ini. [34] Slačálek: 2023, 150. [35] Cornell, Andrew: Archival Parties and Parties to the Archive: Creating and Recovering Anarchist Resistance Culture at the Interference Archive. In: American Periodicals. vol. 29, no. 1 (April 2019) 21–25. 22. [36] Ibid. [37] Meltzer, Albert: The Purpose of History. Dalam: K.S.L. Bulletin of the Kate Shapley Library. no. 1 (1991). Dapat diakses secara daring di: https://www.katesharpleylibrary.net/3tx9mw [38] Moran: 2014. [39] Hoyt: 2011, 5 [40] Cornell: 2019, 24. [41] Studi anarkis tidak tidak melulu merujuk pada ranah akademis yang rigid, melainkan pada beragam pendekatan—sastra, sejarah, filsafat, epistemologi—yang mencakup baik itu penelitian akademis maupun non-akademis. Sejak tahun 1990-an, minat terhadap studi anarkis telah berkembang, sebuah proses yang tercermin dari meningkatnya jumlah akademisi yang menerbitkan karya tentang berbagai aspek anarkisme serta inisiatif penelitian dalam bidang ini. Institute for Anarchist Studies (IAS), misalnya, didirikan pada tahun 1996 sebagai organisasi independen yang “memberikan hibah untuk mendukung para penulis dan penerjemah radikal di seluruh dunia”; institut ini juga menerbitkan jurnal Perspectives on Anarchist Theory. Ada pula, Institut für Syndikalismusforschung (Institut Penelitian Sindikalisme) di Bremen, yang berfokus pada sejarah anarko-sindikalisme, mendorong penelitian akar rumput dengan moto “Penelitian bebas untuk masyarakat yang bebas” dan menerbitkan majalah Kampfgeister. Di sisi lain, terdapat pula inisiatif studi anarkis yang berkembang dalam kerangka akademis institusional, seperti Anarchism Research Group di Universitas Loughborough, yang menerbitkan jurnal Anarchist Studies. [42] Vora, Urvi: Kropotkin, roșind. Dalam: Steaua. no. 4 (April 2025) 45–46. 46.