Fungsi ruang selama perkembangan kapitalisme dapat digambarkan sebagai ‘sejarah’ yang nyata.
Dari ‘lampiran’ pertama masyarakat banyak ke dalam ruang terbatas hingga pabrik-pabrik paling maju saat ini, kapitalisme telah mencoba memotong bagian-bagian ruang untuk mendedikasikannya pada satu penggunaan khusus: produksi nilai lebih. Sekarang, dengan munculnya perkembangan pasca industri baru-baru ini dan kemajuan dalam proses teknologi, pengelolaan ruang ini telah sangat berubah. Ini telah beralih dari manajemen parsial ke manajemen total. Di dalam kapital ini, hal tersebut telah mendapat dukungan dari kekuasaan dan Negara. Kami pikir penting untuk merenungkan kondisi hubungan yang ada saat ini antara ruang sosial dan kapital.
Tidak ada bagian dari ruang fisik yang bebas dari campur tangan kapital. Dari ruang samping hingga kedalaman laut, dari pegunungan hingga sungai, dari laut hingga gurun, dari kota besar hingga desa-desa terpencil. Serangkaian hubungan antar elemen yang tampak berjauhan itu dihubungkan oleh matriks umum yang menjadi objek eksploitasi yang saling bersilangan dan menutupi. Dengan cara ini kita dapat memiliki ilusi bahwa kita pergi ke suatu tempat yang jauh, keluar dari dunia ini, seperti yang mereka katakan, kemudian menemukan bahkan di sana, di tempat itu, mekanisme kapital mencapainya dan berfungsi dengan sempurna. Itu menjelaskan mengapa kita menentang ekologi sama seperti kita menentang proposal ‘alternatif’ lainnya yang mengklaim melakukan sesuatu melawan eksploitasi dengan memotong bagian dari kenyataan. Tentu saja, kami juga memulai dari satu bagian dalam intervensi kami, tetapi kami tidak menipu diri sendiri bahwa kami benar-benar dapat menyerang musuh dengan tetap berada di dalam ‘bagian’ itu. Untuk bergerak menyerang kita harus melampaui fragmentasi (masalah tunggal), sebuah strategi yang telah dipaksakan kepada kita oleh kapital.
Sekarang, penyalahgunaan yang terjadi melalui eksploitasi, yang paling serius, karena memiliki konsekuensi terburuk, adalah waktu dan ruang. Secara substansi keduanya terkait. Kapital mencuri waktu kita, mengharuskan kita untuk bekerja dan mengkondisikan hidup kita yang dipenuhi dengan jam, kewajiban, dan tenggat waktu, hingga ke detil terkecil. Dengan mencuri waktu kita, mereka mencegah kita untuk memahami diri kita sendiri–mereka menjauhkan kita dari diri kita sendiri. Mereka mengasingkan kita. Tanpa waktu kita bahkan tidak menyadari pencurian ruang lagi. Kita perlu waktu bahkan untuk menyadari keberadaan ruang. Untuk berpikir, mendengarkan, bermimpi, berhasrat. Dengan menjalani ruang dalam hal jarak, kilometer yang harus dilalui, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, kita kehilangan pandangan tentang hubungan kita dengan benda-benda, alam, dan dunia.
Kapital telah mencuri waktu dari kita (ia membutuhkannya untuk produksi) dan ia telah mencuri ruang kita (ia membutuhkannya sebagai tempat produksi, kemudian sebagai sistem kontrol dan represi, kemudian mendapatkan konsensus umum). Sekarang kita dihadapkan pada kebutuhan untuk bergerak mengambil alih waktu dan ruang kita. Pengambilalihan ini tidak akan pernah menjadi apa pun kecuali kekerasan dan hal traumatis. Baik untuk kita maupun untuk musuh kita. Serangan kita tidak dapat gagal untuk menyebabkan kerusakan dan kehancuran. Itu ada dalam logika keadaan, logika perang kelas. Proyek kekuasaan bersifat global. Itu tidak bisa membiarkan ‘ruang kosong’ ada. Untuk alasan yang berlawanan, proyek pembebasan kita juga bersifat global. Jika kita membiarkan kapital mengglobalkan kekuatan, kita pasti akan mati.
Untungnya jalan yang harus dilalui oleh kekuasaan masih panjang. Kita berada di awal sebuah desain berdasarkan pembagian realitas menjadi dua bagian, yang juga terpisah secara fisik. Setelah penyelewengan ruang (dan waktu) secara global, kapital memisahkannya menjadi dua bagian. Ini bukan lagi masalah fragmentasi lama, tetapi tentang pembagian bersih, DINDING yang nyata antara yang disertakan dan yang dikecualikan. Yang pertama akan dijamin situasi hak istimewa, kekuasaan, budaya tingkat tinggi, proyektualitas dan kreativitas; yang kedua, situasi bertahan hidup, konsensus, subbudaya, kepasrahan atas kontrol, kurangnya rangsangan dan bahkan mungkin kebutuhan. Dalam perspektif ini, kapital dan negara membutuhkan ketersediaan ruang sosial secara keseluruhan. Tidak ada yang harus lepas dari kendali mereka.
Tidak hanya itu. Kapital sekarang mengatur teknologi yang memungkinkannya bukan hanya kepemilikan fisik sederhana atas ruang, tetapi juga produksinya. Pikirkan kapasitas operasi dalam komunikasi ‘waktu nyata’ antara dua titik yang jaraknya ribuan kilometer satu sama lain. Itu tidak hanya mengubah produksi (kualitas, variasi, kreativitas, penyimpanan, dll), tetapi juga dan terutama aset manusia untuk hubungan sosial (yang termasuk juga aspek ekonomi).
Jadi, kapital menghasilkan ruang atas dasar proyek eksploitasi dan kekuasannya. Ia mengubah dan menghancurkan alam, memodifikasi kota-kota dan pedesaan, menghancurkan laut, sungai, danau, mengkondisikan jarak bintang ke logika militeristiknya. Kemudian, ruang-ruang yang dihasilkan berfungsi untuk menyalurkan individu-individu. Begitulah kita berakhir dalam antrean panjang mobil di jalan raya, dalam antrean di supermarket. Dengan cara itu kita menemukan diri kita menderita lintasan yang kacau, janji yang tidak dapat kita lewatkan, kepentingan fiktif yang membuat kita menderita dan mengharuskan kita untuk terus-menerus melakukan perpindahan yang tidak masuk akal. Kita bergerak di dalam ruang yang telah diprogram untuk kita, sehingga kita hanya memiliki ilusi atas ‘pilihan’. Rumah kita penuh dengan bendabenda yang tidak berguna dan berbahaya. Ruang menjadi sangat terbatas atau, lebih baik, berubah sesuai dengan kebutuhan produksi kapitalis, yang harus menjual televisi, lemari es, mesin cuci, perabot kamar tidur, dan dapur.
Jadi, hampir tanpa disadari, waktu kita menghilang menjadi apa-apa dan ruang kita mereduksi dirinya sendiri untuk berhubungan dengan objek-objek yang bersaksi tentang kekuatan persuasif kapital. Dengan cara ini kita dididik untuk pengulangan. Kita membuat gerakan yang sama, menyentuh objek yang sama, menekan tombol yang sama. Pengulangan–seperti yang diketahui semua orang (tetapi secara sistematis terlupakan) adalah perantara bagi konsensus.
Untuk bagiannya, kapital harus mengambil ruang kita. Itu adalah praktis wajib. Dan itu karena hal itu tidak dapat meninggalkan ruang bagi kreativitas kita, kemampuan kita untuk melakukannya sendiri, keinginan kita akan hal baru (yang kemudian menjadi pendorong pertama untuk menemukan solusi yang mengungkapkan karunia spontanitas dan kekayaan yang tak terbayangkan). Jika kapital meninggalkan ruang untuk kekuatan individu ini, ia tidak akan mampu mempertahankan kecepatan pengulangan yang sangat diperlukan untuk produksi, yang, tidak boleh kita lupakan, hanya dengan syarat bahwa ia juga dapat menjadi produksi ulang. Pikirkan upaya (dibantu oleh teknik elektronik) yang dibuat kapital untuk mewujudkan keinginan semua orang dengan deversifikasi semaksimal mungkin (tetapi semuanya terpusat dan terkodifikasi). Label besar barang-barang fashion, rantai makanan cepat saji, iklan yang meninggikan selera individu dalam produksi massal, tidak lebih dari upaya untuk mencegah jalan lain yang masih bisa dicoba hari ini.
Oleh karena itu, ruang adalah yang diproduksi dan direproduksi atas dasar konsensus tetapi juga memiliki aspek represif murni yang cukup besar dalam pengertian istilah pengaturan. Kontrol mengatur berbagai aliran dengan cara yang paling sempit. Bahan mentah dan manusia, ide dan mesin, uang dan keinginan. Semuanya terkoordinasi karena semuanya secara preventif telah homogen; perbedaan telah menjadi begitu saja, mereka bukan lagi keragaman radikal. Mereka telah direduksi ke tingkat penampilan dan, dalam kedok baru ini, ditinggikan secara maksimal, sebagai kerajaan kebebasan.
Maka, strategi kekuasaan adalah mengendalikan ‘semua’ ruang dengan cara yang sama seperti halnya mengontrol ‘semua’ waktu. Ini bukan hanya masalah kontrol polisi tetapi kontrol berdasarkan konsensus dan penerimaan model perilaku dan skala nilai yang dimiliki oleh para teknokrat kapital.
Apa yang harus dilakukan: Pergi mencari waktu yang hilang? Dari ruang yang telah hilang juga?
Tentu bukan dalam arti lintasan nostalgia yang berarah mundur. Dalam hidup tidak ada yang bisa kembali seperti tidak ada yang pernah menampilkan dirinya dengan cara yang sama untuk kedua kalinya (atau dalam satu yang benar-benar berbeda).
Hubungan lama dengan ruang meninggalkan jejak. Tanda fisik dari sebuah tempat. Tanda dari orang dan berbagai hal tentang mereka. Sebuah jalan, piazza, jalur pedesaan, sungai, laut dan langit, hutan dan gunung, memiliki diskursus terbuka dengan individu yang tahu bagaimana (dan ingin) mendengarkan mereka. Dan kedekatan dengan individu lain membawa orang ke tempat yang sama, menghidupkan perasaan, mendorong mereka untuk bertidak dan berefleksi. Ada individuindividu yang sekarang bersembunyi seperti bagian dari keseluruhan–bagian dari kerumunan. Begitu kita tersekspos, seringkali kita tidak siap dan rentan. Sekarang kita bersembunyi di balik keseragaman dan pengulangan. Kita merasa lebih aman karena kita memiliki kawanan. Tidak ada titik acuan dalam ruang dan juga waktu. Semuanya akan dimusnahkan. Suara, aroma, pikiran dan mimpi. Semuanya sedang diproduksi dan direproduksi. Semuanya akan direduksi menjadi barang dagangan.
Dalam perspektif ini perjuangan untuk ruang sosial menjadi perjuangan untuk pengambilalihan kembali seluruh ‘wilayah’ yang ada di luar dan juga melawan aturan kontrol serta konsensusnya.
Yang kami maksud dengan ruang sosial otonom adalah ruang kota yang diduduki oleh bagian dari organisasi massa yang terdiri dari individu-individu dengan tujuan untuk menggunakannya secara langsung, untuk tujuan ruang fisik mereka sendiri (swakelola), dengan kriteria di luar logika kekuasaan dan eksploitasi kapitalis.
Dibandingkan dengan ruang-ruang sosial lain (sekolah, barak, pabrik, dll) di mana suatu fungsi dipaksakan untuk menjamin kepentingan kapital, perjuangan untuk merebut ruang sosial yang otonom merupakan upaya penting dan terusmenerus untuk mempraktekkan kebebasan bertindak dan ekspresi yang akan ditolak di tempat lain.
Perjuangan ini, sejak awal merupakan keseluruhan aksi antiotoritarian yang semuanya dimulai dari analisis kritis terhadap masyarakat kelas dan fungsi utamanya. Oleh karena itu mereka adalah perjuangan yang mengadopsi metode swakelola, mereka mencoba untuk mewujudkan kebebasan dan kesetaraan sosial dan individu, sehingga metodenya sangat diperlukan untuk dilakukan di sepanjang jalan penghapusan kekuasaan dan eksploitasi kapitalis.
Metode swakelola adalah satu-satunya yang memungkinkan instrumentalisasi perjuangan oleh partai politik, perwakilan dewan, dll. Tetapi agar itu terjadi, perlu metode yang digunakan dengan benar, menjamin kebebasan pengambilan keputusan di semua fakta-fakta inoperatif yang harus diwujudkan selama perjuangan.
Fase swakelola ini secara sistematis dapat dibedakan dalam dua fase: a) swakelola dalam perebutan ruang sosial melalui squatting; b) swakelola perjuangan untuk mempertahankan ruang sosial melalui keterbukaannya yang lebar.
Sejauh menyangkut fase pertama, harus dikatakan bahwa okupasi hanya dapat diwujudkan jika telah berhasil membentuk struktur yang dapat kita definisikan sebagai massa, berdasarkan afinitas yang tepat antara individu-individu yang menjadi pemiliknya. Ini bukan afinitas karakter ideologis, tetapi substansial. Adanya keinginan-keinginan bersama, masalah-masalah bersama, memungkinkan–pada saat tertentu, sekelompok orang untuk bersama-sama berjuang melawan ekspolitasi bersama. Ini adalah pertanyaan tentang suatu hal yang perlu menjadi sangat jelas. Dominasi kelas kapital adalah penyebab kurangnya ruang sosial yang dikelola sendiri saat ini dan kehadiran ruang-ruang sosial fiktif pada masa sekarang, justru karena di dalam ruang sosial yang terakhir itu terwujud eksploitasi ekonomi yang melayani kepentingan-kepentingan kekuatan kapital. Perjuangan untuk pendudukan ‘nyata’ atas ruang-ruang sosial oleh karena itu harus melalui retakan kekerasan dengan logika dominan kapital. Yang terakhir ini tidak dapat dan tidak akan mempertahankan sikap pasif di hadapan inisiatif-inisiatif konkret kita tentang pembebasan ruang-ruang sosial yang nyata, karena inisiatif-inisiatif ini akan merupakan bahaya yang cukup besar baginya.
Negara dan kapital memberikan batasan-batasan yang tepat pada kita yang, begitu dilampaui, segera menempatkan kita pada kondisi ‘penjahat’. Mengokupasi berarti melampaui batas-batas ini–berarti menjadi ‘penjahat’. Itulah mengapa perlu melakukan kekerasan terhadap aturan yang telah dikenakan pada kita. Itulah mengapa kita perlu mengokupasi.
Memasuki fase kedua, lebih dari jelas bahwa kita harus tahu bagaimana mengambil kebebasan kita sendiri, melalui perjuangan kita. Tidak tertulis dalam konstitusi mana pun bahwa seseorang akan menyindirnya kepada kita. Juga ruang sosial, tidak ada yang mau memberikannya kepada kita. Siapa pun yang memilikinya, mengelolanya sesuai dengan minatnya (yang terkadang tidak digunakan sama sekali dan dibiarkan kosong). Dalam kasus di mana ruang-ruang ini diberikan kepada kita, itu tergantung pada fakta bahwa mereka ingin mengendalikan kita, mereka ingin membuat kita menjadi ghetto. Alih-alih menggunakan metode klasik dengan menempatkan polisi di belakang kita, yang mana itu membutuhkan biaya, sehingga mereka tahu di mana kita berada dan hal-hal apa saja yang kita bicarakan. Karena itu, terkadang mereka dengan senang hati memberi kita ruang, terutama setelah kita memulai aksi intervensi kita dalam realitas sosial. Jelas bahwa kita tidak membutuhkan ruang semacam ini, yang tidak bisa disebut swakelola, karena swakelola bukan hanya soal mengelola bagian di dalam tempat.
Karena itu kita harus mengambil ruang sendiri, yaitu dengan cara okupasi. Tapi itu bukan hanya pertanyaan tentang mengambil alih mereka, kita juga harus mempertahankan mereka.