PADA awal 1895 di Philadelphia didirikan perpustakaan radikal oleh Ladies Liberal League of Philadelphia, sebuah kelompok yang mencakup kaum anarkis seperti Voltairine de Cleyre dan Natasha Notkin, perpustakaan ini bertujuan untuk menata ulang koleksi buku-buku radikal di perpustakaan umum yang dapat diakses oleh semua orang dengan biaya murah.
Di Eropa, dengan minat yang sama terhadap perpustakaan, kelompok anarkis Spanyol, Francisco Ferrer yang ditujukan untuk Sekolah Modern Spanyol. Pada 1910, Sekolah Modern Ferrer pun didirikan di New York City. Bagi mereka, pendirian perpustakaan menjadi salah satu hal penting. Satu tahun setelahnya, pada 1911 anarkis Joseph Labadie juga menyumbangkan makalah dan koleksi dari perpustakaan pribadinya kepada University of Michigan yang hingga kini menjadi salah satu koleksi tertua dan terpenting tentang anakisme di Amerika Serikat.
Di tahun lain pada 1921, setelah kematian anarkis Rusia Peter Kropotkin, Perpustakaan Kropotkin juga dibangun di Stelton Modern School- New Jersey untuk mengenang kematiannya. Pasangan anarkis terkenal, Emma Goldman dan Alexander Berkman, menunjukkan ketertarikan yang sama terhadap aktivitas pengarsipan dan perpustakaan, keduanya mengarsipkan koleksi literatur pribadinya di Internasional Institute of Social History pada 1938. Di November 1991, The Kate Sharplet Library, perpustakaan anarkis yang banyak mengumpulkan subjek tentang sindikalisme dan anarkis kelas pekerja. Beberapa tempat juga didirikan untuk melestarikan perjuangan para anarkis di Inggris.
Dari banyaknya pendirian perpustakaan dan upaya pengarsipan literatur anarkisme yang dilakukan oleh orang-orang di lingkaran perjuangan, memberi kita stimulan pada penarikan makna perpustakaan sebagai ruang yang lebih penting dan aktif. Perpustakaan bukan hanya sekadar tempat di mana buku-buku dikumpulkan dan ditata rapi sesuai abjad. Perpustakaan merupakan ruang aktif yang menghidupkan gerakan dan mengembangkan ide-ide gerakan. Perpustakaan jadi ruang berbagi, ruang pertemuan, ruang penyebaran ide-ide anarkisme. Orang-orang di dalam perjuangan atau kaum anarkis, telah melihat perpustakaan sebagai pusat sosial yang penting bagi gerakan anarkisme.
Melihat perpustakaan yang terus dibuat dan dibangun hingga hari ini menunjukkan bahwa orang-orang dalam lingkaran perjuangan anarki memiliki naluri yang besar untuk pelestarian dan penyediaan akses pada literatur radikal-anarkis. Dapat ditemukan di sekitar lingkungan perjuangan hingga di dunia maya, seperti infoshop atau penyedia bacaan gratis, baik itu yang masih konvensional dengan koleksi buku dan pamplet fisik yang dapat dipinjam tanpa biaya atau tautan file yang dapat diunduh gratis sebagai dokumen dan disebarluaskan. Dalam perjuangan, penyebaran ide-ide gerakan harus dapat berkembang melampaui apa saja yang dapat dibayangkan, Hakim Bey dalam salah satu esainya mengajukan program bagi anarkis tentang taktik propaganda, yaitu dengan mengembangkan jaringan pembangkang yang fokus pada penyebaran teks-teks terlarang, serta mulai menggunakan pornografi dan hiburan popular sebagai kendaraan untuk pendidikan radikal yang baru.
Tidak ada masalah dengan pendistribusian bacaan oleh perpustakaan secara offline maupun online, meski mungkin keduanya berbeda secara bentuk tetapi dalam kebudayaan anarkis (budaya perjuangan) keduanya memiliki satu kesamaan secara prinsipil, yaitu dikelola secara mandiri oleh kolektif, grup afinitas atau individu di luar kontrol kekuasaan.
Seperti yang kita ketahui, penguasa: Negara selalu melakukan penyensoran, pembatasan, dan penyeleksian yang dapat mematikan perkembangan gagasan-gagasan milik perjuangan. Ide-ide perjuangan (anarkisme) selalu merupakan apa yang dianggap membahayakan bagi kekuasaan. Bagi kekuasaan, hal semacam itu mustahil dirawat agar tetap hidup, dan sesegera mungkin dibuang ke perapian.
Proyek-proyek perpustakaan (di lingkungan perjuangan) tidak hanya dilihat sebagai pembangunan tempat pengarsipan atau perpustakaan yang berguna bagi kepentingan kepustakaan saja, melainkan pembangunan perpustakaan sebagai sebuah bagian dari gerakan, dan pekerjaan para pustakawan di dalamnya merupakan sebuah kontribusi yang penting untuk gerakan itu sendiri. Perpustakaan dan para pustakawan melestarikan sejarah gerakan anarkis untuk memperbaiki dan mengisi celah dalam sejarah atau kesalahan yang ada dalam catatan sejarah (pemalsuan sejarah, penghapusan sejarah) serta untuk apapun yang berpotensi dapat berguna bagi masa depan perjuangan.
Perpustakaan anarkis, selain berkontribusi dalam kegiatan penyediaan bahan bacaan, juga merupakan gudang bagi ingatan sosial. Seiring waktu, perpustakaan anarkis akan mulai mendokumentasikan dan mengumpulkan sejarah gerakan milik mereka sendiri. Praktik yang dilakukan oleh perpustakaan anarkis tersebut tentu saja membantu dan mempercepat penyebaran ide-ide gerakan, di luar itu juga memberikan orang lain kesempatan untuk dapat mempelajari gerakannya, dan berpartisipasi secara konkret dalam gerakan tersebut.
Di Indonesia (telah lama) ada banyak perpustakaan baik itu yang offline seperti perpus-perpus jalanan di tiap kota yang aktif melapak di taman-taman, dan juga perpus-perpus online seperti Arsip Bawah Tanah, Unkown People, Suicide Circle dan akun-akun lain yang aktif di media sosial Instagram dan Twitter. Menarik untuk disorot lebih jauh praktik kepustakaan yang dilakukan oleh mereka selama ini, dari mulai pendistribusian hingga produksi teks yang dilakukan. Mereka membajak buku, memproduksi tulisan anti-pemerintahan secara terbuka, menerbitkan/mendistribusikan dan menerjemahkan banyak teks secara bebas tanpa hak cipta, hal-hal tersebut berhasil membuat jarak yang ada terlipat dan batas penyebaran informasi dari berbagai Negara yang awalnya tersekat jadi terhancurkan.
Praktik radikal dan aktivitas melanggar hukum yang dilakukan secara disengaja oleh para pustakawan anarkis, selain berkontribusi pada pembebasan dan pendistribusian ide serta gagasan-gagasan perjuangan menjadi lebih beragam, juga telah menghidupkan kritik atas taktik dan gagasan dalam gerakan, yang itu semua berguna bagi kebertahan-lanjutan perjuangan yang ada hari ini.
Resiko yang dihadapi perpustakaan (penyedia bacaan radikal) serta para pustakawan atas aktivitas yang mereka lakukan sama besar dengan apa yang para aktivis perjuangan lain hadapi. Ancaman pidana atas pelanggaran hak cipta, hukuman atas penyebaran isme dan ide-ide kontra pemerintahan, penerbitan teks-teks terlarang dan lainnya mengancam mereka. Dengan demikian, tentu saja dapat dikatakan bahwa mengurus perpustakaan adalah tindakan revolusioner!