#title Puisi Sebagai Kenikmatan Pemberontakan Sehari-Hari
#author Anonim
#LISTtitle P
#date 2022
#source [[https://archive.org/details/anonim-puisi-sebagai-kenikmatan-pemberontakan-sehari]]
#lang id
#pubdate 2026-10-14T18:29:54
#authors Anonim
#topics Archipelago Anarchist Archive; Puisi, Terorisme Puitis
#language Bahasa Indonesia
#publication Penerbit Ramu
#notes Tulisan ini pertama kali diterbitkan sebagai zine oleh Penerbit Ramu (2022); lalu diterbitkan ulang sebagai buku kumpulan esai Kuatrin: 4 Sastra dan Literasi Anarkis di Indonesia (2024) oleh Dystopia Room; kemudian kembali diterbitkan ulang sebagai zine/pamplet oleh Talas Press (2024). Diunggah ke SEA-AL oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).
PUISI adalah bentuk seni yang aneh, tulis Langer dalam salah satu esainya. Langer menuturkan, baginya puisi adalah sesuatu yang bisa dinikmati tidak hanya ketika seseorang membacanya, namun juga lusa, kapan pun, bahkan di saat-saat di mana seseorang mungkin telah melupakannya lalu menemukannya kembali. Puisi mengabaikan banyak hal, ia mengabaikan waktu. Dalam bahasa Langer diungkap dengan bahasa yang lebih politis, jadi: puisi tidak merestui kehadiran otoriter ‘hari ini’... Dalam bahasan ini, puisi sama halnya dengan anarkis, ia tidak kalah atau tunduk pada sesuatu yang ada di dalam dan di luar dirinya. Seseorang mungkin akan melihat konteks, sifat multi tafsir sebagai kelemahan puisi, otoritas waktu yang samar menjadi masalah bagi puisi, tetapi aku sepakat dengan Langer bahwa justru kekuatan puisi terletak pada kurangnya otoritas—karena otoritarianisme hanya dianut oleh kelompok dan individu yang paling tidak berdaya.
Pada titik tertentu puisi itu sangat anarki, jadi wajar jika kolektif, afinitas, kelompok perjuangan selalu dijumpai seorang atau dua kamerad yang memiliki antusiasme pada puisi. Itu wajar bukan karena puisi itu bisa jadi sangat anarkis seperti yang aku katakan, tapi karena bagi para anarkis, bahasa puitis—dengan segala ketaklogisannya yang tampak—menyediakan mode ekspresi logis untuk penciptaan kehidupan puisi yang hidup, sarana untuk menerobos logika dominan, dan gudang bagi savoir-vivre yang niscaya hidup dalam kondisi kaos—menurut John Moore.
Penyair selama berabad-abad terus-menerus menyegarkan bahasa, termasuk menyegarkan bahasa pemberontakan. Seorang anarkis sebagai penyair telah menggubah dan merebut bahasa, sehingga ia tidak lagi membicarakan perjuangan atau revolusi dalam bahasa otoritas yang biasa, melainkan tentunya dengan satu-satunya bahasa yang cocok untuk pemberontakan melawan otoritas, yakni bahasa puisi.
Puisi adalah anarki. Ia melucuti kekangan-kekangan atas dirinya. Ia lepas dari waktu dan lepas dari bahasa otoritas. Menulis puisi adalah tindakan revolusioner, setidaknya aku harus berani berkata demikian sebab menulis puisi adalah praktik pembebasan diri. Seorang penyair perempuan Jakarta pernah bilang kepadaku bahwa baginya puisi adalah kemenangan, sebab segala di luar puisi adalah kekalahan. Puisi secara imajinal dapat mendahului perjuangan, bahkan mendahului revolusi dan kemerdekaan.
merdekaan. Perwujudan nyata dari revolusi dalam bahasa puisi menurut Moore adalah The Unique and Its Property, magnum opus yang ditulis oleh Max Stirner. Praktik Stirner atau si egois dalam merebut bahasa dan menjadikan bahasa sebagai miliknya, bagiku itu mirip dengan perebutan kemerdekaan suatu bangsa atau kemerdekaan diri. Hal itu merupakan sesuatu yang tidak dapat kita tunggu untuk diberikan seseorang kepada kita, tentu saja itu harus direbut. Namun tegas Moore, dalam menjadikan bahasa sebagai miliknya sendiri, si egois harus meregenerasi dan memasukan kembali bahasa dengan kreatifitas yang terletak di kedalaman eksistensinya. Bagiku itu berhubungan dengan ketiadaan kreatif, situasi di mana segala kemenjadian tidak didasarkan pada apapun selain pada ketiadaan itu sendiri. Akan sulit membahasakannya dengan tanpa panjang lebar, sulit juga mencapai pemahaman itu bagi mereka yang tidak membaca teks-teks Stirner atau para pembahasnya. Tetapi dalam hal ini, meski tidak ada yang dapat dikatakan mengenai ketiadaan yang mendasarai keberadaan sebab itu tak terucapkan; bahasa tak dapat menembus dan mengatur ruang tersebut, tapi puisi dan metafora secara tentatif mampu mengemukakannya sekalipun itu tak dapat didefinisikan, melainkan secara paradoks kita dapat mengatakan sesuatu tentangnya (sekalipun apabila hanya secara metaforis): dan itulah ‘kaos’.”
Keberadaan diri menjadi kunci penting pengambilalihan sesuatu, baik itu perjuangan harian individu atau revolusi. Setiap orang kerap kali gagal dalam mengartikulasikan setiap sensasi, hasrat yang berhubungan dengan keberadaan dirinya. Sebab, menurut Bey, kita kerap mencobanya menggunakan bahasa binaris, bahasa yang digunakan otoritas untuk mengontrol, menahan, dan menjinakan kita melalui penyebaran karakteristik-karakteristik dualistik. Maka dari itu, Bey mengusulkan puisi sebagai bahasa pemberontakan. Puisi menawarkan kecairan berdasarkan metafora yang bersesuaian dengan ekspresi, pola hasrat, keinginan, serta keterikatan yang mencirikan kekacauan.
Seorang anarkis dengan segala proyek anarkinya selalu dalam keadaan tidak tetap dan terus menerus menjadi. Semuanya mengagambarkan kreativitas spontan yang sarat dengan imajinasi dan penemuan. Artinya, seorang anarkis tentu cocok dengan bahasa puitis. Sekali lagi, puisi adalah anarki. Dengan begitu dapat dipahami juga bahwa proyek pemberontakan anarkis adalah pengejewantahan langsung dari bahasa puisi dalam perjuangan harian individu.
Puisi telah hidup dalam diri seorang anarkis, anarkis yang telah merebut bahasa dan meregenerasi hasil rebutannya ke dalam proyek peningkatan potensinya yang tak terhingga, anarkis yang mengejewantahkan dirinya sebagai puisi, sebagai puisi yang hidup dengan tindakan-tindakannya adalah metafora: berada di luar bahasa dan logika otoritas!