Para anarkis cenderung membagi-bagikan seluruh kepunyaannya hingga habis tak tersisa, sehingga saat ini barang-barang mereka kebanyakan hanya dapat ditemukan di arsip kepolisian—seperti catatan perjalanan Luigi Fabbri, Ugo Fedeli, Camillo Berneri atau catatan mengenai cita-cita Pier Carlo Masini’s untuk membuka sebuah Institute Sejarah Gerakan Anarkis.
***
Luigi Balsamini adalah seorang pustakawan dan bibliografer yang berbasis dan bekerja di Urbino. Dalam beberapa tahun terakhir Ia bertungkus-lumus dengan sejarah anarkisme dan baru-baru ini telah mempublikasikan (melalui penerbit Vecchiarelli) sebuah buku penting berjudul Fragile Carte (Buku-buku Rapuh) dengan subjudul Gerakan Anarkis dalam Ranah Perpustakaan, Pengarsipan, dan Pendokumentasian.
***
Carlo de Maria: Ketika membaca bukumu saya terkejut dengan keterkaitan, termasuk yang bernada sentimental, yang telah anda coba bangun antara keberadaan beberapa figur anarkis kondang dan sejarah korespondensi serta perpustakaan pribadi mereka. Bagi saya kehidupan mereka yang penuh dengan lika-liku—utamanya ditandai dengan sikap oposisi mereka yang tanpa kompromi terhadap fasisme—merefleksikan betapa bertebar-berserakannya dan sulitnya bagi seseorang untuk menemukan kumpulan dokumen-dokumen mereka.
Luigi Balsamini: Saya dapat mengatakan, mereka-mereka yang terlibat dalam gerakan anarkis tidak pernah secara khusus menyalurkan perhatiannya untuk merawat catatan-catatan panjang yang memuat gambaran aktivitas mereka, dengan alasan yang saya rasa tentunya kita semua telah ketahui. Kehidupan yang mereka jalani, sebagaimana telah Anda sempat utarakan tadi, selalu berada di ambang kondisi yang rentan, karena mereka secara terus-menerus dibayang-bayangi oleh ancaman penggeledahan dan penyitaan barang-barang kepunyaan pribadi, serta seringkali diharuskan pergi ke pengasingan dan dengan demikian harus berpindah-pindah dari satu kota ke kota dan dari satu negara ke negara lain. Kita dapat memahami mengapa, selama periode pengasingan para antifasis, dokumen-dokumen yang disimpan lebih cenderung dianggap sebagai beban. Merupakan sesuatu yang sulit untuk menyimpan setumpuk dokumen atau sebuah koleksi perpustakaan dalam kondisi seperti itu. Di samping itu juga, dalam banyak kasus, kerja-kerja preservasi memori bersejarah yang berkemungkinan dapat menjadi pembentuk fondasi identitas politik seseorang tidaklah terlalu dihargai. Dan ini mungkin karena, bagi gerakan yang berkomitmen pada terjadinya perubahan radikal status quo, kerja-kerja yang demikian itu dapat dinomorduakan. Hingga kemudian terjadilah masa-masa ketika banyak pamflet dan ulasan yang ditulis oleh para militan menghilang dari peredaran hanya dalam rentang waktu satu-dua bulan setelah didistribusikan, bahkan dari rak-rak buku yang ada di ruang-ruang yang menjadi lokasi berkumpul mereka; mereka lebih suka untuk mendistribusikan publikasi-publikasi yang ada sampai ludes tidak tersisa, demi keperluan propaganda dan tujuan yang revolusioner. Lucunya, saat ini banyak sejarawan yang menemukan publikasi-publikasi tersebut berada di arsip kepolisian, karena tidak ada anarkis yang kepikiran untuk menyisihkan setidaknya satu saja salinan publikasi demi keperluan pengarsipan.
Meski begitu ada beberapa individu terisolasi, yang dapat dikecualikan dari para anarkis tipikal tadi, yang memiliki mentalitas pecinta buku. Sebagai contoh, beberapa di antaranya seperti Luigi Fabbri dan Pier Carlo Masini dan tentunya, di lokasi yang lain, ada pula Max Nettlau.
Dalam buku biografi yang ditulis dengan begitu apik oleh Luce Fabbri’s mengenai ayahnya, secara jenaka Ia mengisahkan ulang ketika Luigi baru saja menerima gaji dari hasil bekerja sebagai guru sekolah dasar—di sini kita sedang membicarakan periode-periode awal ketika fasis berkuasa, sewaktu keluarga Fabbri’s masih tinggal di antara Bologna dan Corticella—hal pertama yang dilakukannya adalah pergi bersama Luce ke toko buku lawas Veronesi yang berada di Paviglione dekat Piazza Maggiore, untuk membeli buku-buku. Ini adalah ritual “jalan-jalan” yang dilakukannya tiap akhir bulan. Yang menariknya adalah—sebagaimana Luce katakan—ayahnya itu mencoba menekan mentalitas pecinta bukunya (karena baginya itu tidak pantas untuk dilakukan, terlebih karena Ia merupakan seorang militan anarkis); tetapi ketika secara kebetulan menemukan satu dua edisi langka yang berkemungkinan dapat memperkaya koleksinya, wajahnya akan berubah menjadi begitu sumringah. Selama mereka tinggal di Bologna, Fabbri mulai membangun perpustakaan pribadinya. Kebanyakan buku yang ada tidak dibeli sendiri, tetapi didapat dari salinan-salinan buku yang dikirimkan ke Il Pensiero untuk Ia ulas dalam kolom ulasan majalah tersebut. Ia adalah pembaca yang rakus dan dapat dengan mudah menulis. Nantinya, pada 1926, seiring rezim fasis semakin represif, Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Italia, pertama pergi ke Prancis dan lalu ke Uruguay, dan berakhir menetap di Montevideo …
CdM: Lalu bagaimana dengan perpustakaannya?
LB: Waktu itu ketika fasis belum berkuasa secara penuh dan fasis Bologna baru saja melancarkan kampanye, Fabbri menjadi kepikiran mengenai apa yang akan menimpa perpustakaannya nanti, yang menambah beban pikirannya mengenai keselamatan keluarganya.
Semua yang telah Ia bangun berada di ambang keruntuhan. Ketika waktunya telah tiba untuk berpindah ke luar negeri pada 1926, Ia menyerahkan koleksinya itu ke seorang pengacara bernama Torquato Nanni yang memiliki latar belakang sosialis, yang walaupun di kemudian hari entah bagaimana cenderung dekat dengan rezim fasis. Faktanya, selama kurang lebih 20 tahun, perpustakaan Fabbri’s tersebut berada di kediaman Nanni, di Santa Sofia tepatnya di daerah pegunungan Appenine antara Romagna dan Tuscany. Meski begitu, ketimbang menjadi aman di sana, koleksi-koleksi bukunya justru berakhir tragis, karena selama terjadinya perang sipil kediaman Nanni’s dijarah dan diporak-porandakan. Lalu buku-buku Fabbri yang selamat—berdasarkan keputusan Luce Fabbri’s (karena ayahnya meninggal di Montevideo pada 1935)—diserahkan ke Archiginnasio di Bologna [sebuah bangunan abad ke-16 yang menjadi lokasi dari pengarsipan/perpustakaan kota Bologna]. Hingga saat ini Arsip Fabbri di Archignnasio, setelah selamat dari sejarah kelam yang dialaminya, merupakan koleksi utama terbitan berkala mengenai gerakan anarkis yang tersedia bagi kita semua di Italia. Semua materi bibliografikal ini datangnya dari Santa Sofia. Seperti yang Saya bilang tadi, pada 1926, Fabbri pergi dari Italia tanpa membawa perpustakaannya bersamanya. Bagaimanapun, Ia tetap melanjutkan aktivitas mengoleksinya di Uruguay dan kemudian barang-barang yang dikoleksinya selama berada di pengasingan disortir oleh putrinya, Luce, yang beberapa di antaranya Ia kirimkan secara bertahap ke Archiginnasio, walau sebagian besar dikirim ke International Institute for Social History Amsterdam yang meliputi dokumen-dokumen dan arsip pribadinya selama tahun-tahun di pengasingan.
CdM: Berkaca dari perjalanan Fabbri’s sekaligus Camillo Berneri, yang juga disinggung dalam buku, kita dapat melihat betapa pentingnya peran keluarga, atau lebih tepatnya, peran seorang perempuan dalam mempreservasi berkas-berkas dan juga memori bersejarah; seperti yang telah sempat disebut tadi ada putri dari Luigi Fabbri’s, yaitu Luce, selain itu ada pula istri Berneri’s, yaitu Giovanna Caleffi. Penjelasan dangkal mengenai anarkisme mungkin akan membawa kita pada gambaran seorang pahlawan yang terisolir dari, dan bahkan tanpa, sentuhan kasih sayang dan afeksi keluarga dalam kehidupan sehari-harinya, sedangkan di sisi yang lain kita dapat melihat ikatan keluarga amatlah penting dan amat berperan di saat-saat kritis, seperti saat menjalani hari-hari di pengasingan.
LB: Betul, ikatan keluarga sangatlah penting. Karena, toh, gerakan anarkis tidak pernah memiliki organisasi yang dapat dibandingkan—sejauh yang saya ketahui—dengan Partai Komunis. Jadi, khususnya selama di pengasingan, yang personal lebih penting ketimbang yang politis. Maksudku jaringan organisasi anarkis secara esensial bersandar pada ikatan keluarga; baik itu dalam kasus Fabbri’s, lalu dalam kasus Berneri’s sebagaimana telah Anda jelaskan sebelumnya, dan berlaku juga untuk Ugo Fedeli: perpustakaan Fedeli’s memiliki malaikat pelindung, yaitu istrinya yang bernama Clelia.
Cdm: Kasus fedeli menurutku cukup menarik, terlebih hubungan kolaborasi yang terjalin antara Dia dengan Adriano Olivetti.
LB: Fedeli adalah seorang bibliofil tanpa cela dan tidak memiliki keragu-raguan sedikitpun untuk mengakui hal tersebut, tidak seperti Fabbri. Dia adalah kolektor sejati, sebenar-benarnya magpie[1]. Ia sendiri mengakui bahwasanya memiliki gairah yang amat sangat terhadap kata-kata yang dicetak. Seiring waktu Ia membangun sebuah koleksi arsip yang besar. Meskipun Ia harus berurusan dengan pengalaman menjadi seorang antifasis yang diasingkan (di Jerman, Prancis, dan Uruguay), Ia tetap dapat meninggalkan berkardus-kardus buku, koran, pamflet dan dokumen yang ada di lokasi-lokasi di sepanjang Paris hingga Montevideo dengan aman.
Setelah perang berakhir, dan sekembalinya ke Italia, Ia banyak membantu dalam pembangunan ulang gerakan anarkis. Hidupnya kemudian berubah pada 1950-an ketika perpustakaan dan bakat bibliografikalnya mengundang perhatian Adriano Olivetti. Waktu itu, Olivetti telah mengumpulkan orang-orang sepertinya di Ivrea, yang dapat dideskripsikan sebagai sebuah koloni kecil para anarkis, yang menganut dengan hormat sekaligus kritis ‘kapitalisme dengan wajah manusiawi’ versi Olivetti dan memang terdeteksi adanya beberapa kesempatan untuk bekerja sama dengannya. Di Ivrea, Olivetti membuka sebuah perpustakaan sebagai fasilitas rekreasi pasca bekerja tetapi di kemudian hari berubah menjadi lebih substansial: sebuah pusat budaya yang sesungguhnya yang dilengkapi dengan kelas-kelas pembelajaran, seminar dan guru untuk para pekerja pabrik. Semua upaya tersebut dapat dilihat, tentu saja, sebagai katup pengaman terjadinya kemungkinan konflik sosial. Fedeli direkrut sebagai asisten perpustakaan Ivrea. Lucunya di sini, meski Ia bekerja kepada Olivetti sebagai pustakawan, di sisi yang lain Ia terbukti tidak pandai mengelola perpustakaan pribadinya sendiri: rumahnya di Ivrea penuh sesak dengan kardus-kardus yang bertumpukan dan Ia jadi tidak bisa melakukan sesuatu. Dapat dilihat pada korespondensinya yang dilakukan dengan Pier Carlo Masini (Masini baru saja mulai membangun koleksi perpustakaannya saat itu dan sering bertukar salinan materi dan pengetahuan mengenai bibliografi dan lain sebagainya), di mana Fedeli seringkali membalas dengan ucapan: “Ya, Saya punya pamflet itu tapi Saya tidak tahu di mana menaruhnya.” Yang berarti, secara paradoks, walau bekerja sebagai pustakawan, Ia tidak dapat mengelola buku-bukunya—yang sangat banyak itu—ke dalam susunan tertentu. Dia tidak tahu harus ditaruh di mana buku-buku itu. Arsip dokumen miliknya kini juga berada di Institut for Social History Amsterdam, dan telah, di antara berbagai banyak hal lainnya, dikatalogisasi oleh Antonio Senta pada 2008.
CdM: Dapatkah Anda ceritakan sesuatu mengenai Masini, dalam hubungannya dengan catatan perjalanan politiknya yang berliku-liku itu?
LB: Ya, tapi ini dapat dikatakan memiliki kesamaan dengan Fedeli sejauh hanya mengenai upaya pengoleksian materi-materi. Sedangkan untuk hal yang lainnya, mereka berdua sangatlah berbeda seperti ketika harus dihadap-hadapkan dalam penulisan sejarah. Memang mereka sama dalam hal sebagai ‘kolektor’, atau seseorang yang menikmati membangun sebuah koleksi perpustakaan, tapi mereka berdua memiliki perbedaan tujuan mengenai penggunaan koleksi mereka. Fedeli tidak pernah mengenyam pelatihan formal sebagai peneliti dan sejarawan, tetapi lebih sebagai, seorang militan dalam gerakan anarkis: apa yang membuatnya tertarik adalah mewariskan tradisi politik, mengenang orang-orang yang Ia kenal dengan baik atau peristiwa yang Ia alami secara langsung. Sebagian karya tulisnya pada dasarnya merupakan catatan personal ketimbang sebuah studi sejarah yang rigor.
Sedangkan Masini sebaliknya, Ia secara rigor merekonstruksi sejarah anarkisme dan menganggap hal tersebut sebagai sebuah perang budaya serta bagian dari salah satu yang harus diperjuangkan dalam gerakan. Yang berarti tidak mengenyampingkan dan menganggap remeh yang politis (sebagaimana dilakukan De Martino, seseorang tidak dapat sekaligus menjalankan yang politis dan menulis sejarah tanpa menggunakan hati). Tapi Masini’s adalah seorang pembaca yang beralasan dan perpustakaannya adalah perkakas, lebih dari sekadar koleksi. Ini memperlihatkan pada kita bahwa Ia hampir tidak pernah menulis sebagai seorang pecinta buku atau kolektor meski itu adalah salah satu faktor terkuat dalam kepribadiannya: sejauh ketertarikannya—untuk mengulang pernyataanku sendiri—aktivitas mengoleksinya merupakan sekadar bagian tak terpisahkan dari pekerjaannya. Singkatnya, pada diri Masini, yang militan, yang bibliofil dan sejarawan merupakan kesatupaduan.
CdM: Dan lebih spesifik lagi, apa preferensi politik sejarawan Tuscan tersebut?
LB: Pada 1945 Masini bergabung dalam PCI (Partai Komunis Italia) dan menjabat sebagai Wakil Walikota di San Casciano Val di Pesa. Tak lama berselang, Ia bergabung dengan gerakan anarkis, dan dengan cepat menjadi figur penting. Dari 1947-48an kedepan, Ia begitu bersikeras tentang pentingnya membuat sebuah institute sejarah gerakan anarkis, sebuah pusat studi atau pengarsipan-sekaligus-perpustakaan, yang menghasilkan referensi yang dapat digunakan sebagai titik acuan untuk kepentingan penelitian gerakan tersebut. Anarkisme diharuskan mampu untuk berkompetisi dengan partai politik lain pada level kebudayaan yang sesuai dan dengan demikian menjadi dapat pula menampilkan marwahnya; ini berlangsung pada saat Gramsci Institue (1950) dan Modigliani Foundation (1949) didirikan. Meski lobi-lobi yang dilakukannya tidak terlalu digubris oleh mereka yang bergerak dalam gerakan anarkis, begitu pula dengan gagasan (yang Ia dukung) untuk membuat ensiklopedia anarkis, Masini tidak serta-merta menjadi berpatah hati karenanya dan tetap melanjutkan upaya tersebut seorang diri dengan mengoleksi naskah dan buku-buku yang ada.
Pada tahun 1950 Ia keluar dari Federasi Anarkis Italia (FAI) dan menjadi salah seorang yang mensponsori GAAP (Anarchist Proletarian Action Groups), yang berupaya untuk merekrut lebih banyak anggota melalui perjuangan kelas pekerja, dengan gagasan utama untuk membangun sebuah gerakan yang lebih terstruktur daripada gerakan anarkis yang pernah ada. Nantinya GAAP bermesraan dengan para marxis dan kemudian Masini bergabung dalam Partai Sosialis, serta pada akhirnya bergabung dengan Partai Demokrat. Dalam berbagai kesempatan, meski Ia secara perlahan-lahan menyingkir dan menarik diri dari kubu anarkis dan gerakan politik secara umum, Ia selalu secara konsisten menaruh simpati pada gerakan anarkis, disertai dengan komitmen kuat untuk meneliti akar kecenderungan libertarian dan federalis dari sosialisme Italia.
Hingga akhirnya, pada 1969, Ia mampu untuk membuka dan mengelola perpustakaannya sendiri, yang Ia namai Max Nettlau. Dia membukanya di Bergamo, di mana Ia bekerja sebagai seorang dosen. Pada saat itu, terlepas dari Berneri Family Archive yang dibuka pada 1962 dan dikelola oleh Aurelio Chessa, ‘Max Nettlau’ adalah satu-satunya institut yang menjaga tetap hidupnya memori gerakan anarkis dan menjadi titik acuan bagi orang-orang yang tertarik untuk meneliti sejarah sosialisme Italia. Bahkan ada beberapa kandidat doktoral yang membawa tesis mereka kepada Masini untuk dikoreksi. Berkunjung ke Perpustakaan Nettlau seolah-olah menjadi suatu keharusan. Tetapi ‘fungsi publik’ tersebut dapat dikatakan hanya berlangsung sampai pertengahan 1970-an, karena Masini kemudian memindahkan perpustakaan tersebut ke daerah pedesaan Bergamo dan di sana, secara otomatis, membuat angka penggunanya menurun secara drastis, walau Ia telah bersusah payah menyediakan sebuah ruang tamu. Meski begitu, hasil dari jerih payah yang dilakukannya untuk menggali dan mengoleksi materi-materi tersebut tetap bertahan hingga kini, dan saat ini berada di dalam asuhan Angelo Mai Library di Bergamo dan Serantini Library di Pisa.
CdM: Anda sempat menyinggung Berneri Family Archive dan Aurelio Chessa sebelumnya. Bisakah Anda ceritakan lebih lanjut?
LB: Chessa adalah orang yang paling awal yang memiliki perhatian untuk melakukan upaya preservasi memori gerakan anarkis, atau setidaknya salah satu bagian penting dari gerakan tersebut: keluarga Berneri. Aurelio pernah bekerja sebagai dewan redaksi di Volonta, bersama dengan Giovanna Caleffi Berneri. Ketika Caleffi meninggal dunia pada 1962, Ia mendapati dirinya mengurusi korespondensi pribadi Camillo Berneri’s, yang ditinggalkan oleh putrinya Giliana. Korespondensi pribadi tersebut kemudian melengkapi materi-materi yang sebelumnya telah dikumpulkan oleh Aurelio seorang diri sejak 1945.
Tidak lama kemudian Chessa dihubungi oleh pihak Institut for Social History Amsterdam, yang tengah mencari berbagai sumber untuk memperkaya koleksi arsip mereka, tetapi Chessa berkonsultasi dengan Masini yang meyakinkannya untuk tetap menyimpan korespondensi Berneri di Italia. Intinya, Masini berkata pada Chessa: “Mari untuk tidak mengirimkan surat-surat ini ke tempat yang nun jauh di sana. Lebih baik disimpan di sini dan lihat apa yang dapat kita lakukan terhadapnya nanti.” Dia kemudian merekomendasikan Olivetti atau bahkan Perpustakaan Feltrinelli, tapi tentu saja Chessa tidak suka membiarkan korespondensi gerakan anarkis diserahkan untuk dikelola oleh Feltrinelli … Kemudian Ia memutuskan untuk mencurahkan semua waktu yang tersisa dalam hidupnya untuk berkomitmen secara penuh mengelola Berneri Family Archive, yang secara terus-menerus berkembang seiring waktu. Kisahnya dipenuhi dengan perpindahan lokasi, dari satu daerah ke daerah lain, hingga pada akhirnya dapat menemukan lokasi yang relatif stabil di Pistoia, di mana pengarsipannya terhubung dengan Forteguerriana Library, meski berada di bangunan yang berbeda. Walau, pada 1992, masa-masa indah di Pistoia harus berakhir: Chessa mengembalikan kunci bangunan tersebut kepada direktur Forteguerriana Library dan kemudian berpindah ke Puglia yang untuk sementara waktu menjadi lokasi dari Berneri Family Archive. Dengan membaca korespondensi antara Chessa dengan administrasi kota Pistoia, dapat disimpulkan bahwa Chessa tidak begitu paham bagaimana caranya untuk berurusan dengan birokrasi. Di satu sisi—sebagai contoh—pemerintah kota Genoa menyarankan kepadanya agar semua arsip yang ada diserahkan untuk dikelola oleh Arsip Nasional (State Archives); secara objektif, dapat dikatakan itu merupakan kesepakatan yang menguntungkan dan kontrak yang dibuat seringkali akan bermuara pada terlindunginya kepemilikan arsip dan seterusnya.
Namun Chessa tidak terlalu menaruh perhatian pada hal tersebut dan lebih menitikberatkan perhatiannya pada pertanyaan, yang terlihat tidak penting, tapi sangatlah krusial: jika dia setuju untuk menyimpan arsip-arsip itu di Arsip Nasional, bukankah itu berarti harus mematuhi jam buka dan tutup, dari jam 08.00 hingga 19.00? Dan pendapatnya mengenai hal tersebut: “Lalu bagaimana jika ada mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir? Kiranya tidak tepat bagiku untuk mengatakan padanya ‘keluar’ karena sudah jam 19.00 atau ‘waktunya tutup’”.
Faktanya, ketika masih berada di Pistoia, Berneri Family Archive buka seharian penuh: dalam artian bahkan para peneliti diizinkan untuk bermalam di sana; dan bahkan lagi, Chessa akan menyuguhkan makanan, makanan yang sangat enak pula …
CdM: Sebagaimana dilakukan juga oleh putrinya, Fiamma, yang saat ini mengelola Berneri Family-Aurelio Chessa Archive di Reggio EmilIa …
LB: Benar sekali, persis seperti Fiamma.
CdM: Jadi dapat dikatakan pengarsipan ini disertai dengan fasilitas berupa dapur …
LB: Betul, pengarsipan yang disertai dengan dapur … tempat terbaik untuk belajar dan berkumpul sekaligus bersosialisasi. Ini sangat brilian, semacam fasilitas serba guna. Di samping itu, orang-orang yang berpergian untuk keperluan penelitian akan selalu menghadapi serentetan masalah, masalah yang paling sering: seringkali seseorang harus menghabiskan tiga sampai empat hari di satu kota tertentu dan bermuara pada membengkaknya pengeluaran.
CdM: Kembali lagi ke bukumu, Saya sempat tertohok oleh satu kata-kata dari Piero Brunello yang Anda kutip, ketika Ia mendeklarasikan bahwa dirinya lebih suka istilah “sejarah libertarian” ketimbang “sejarah anarkis”. perlu diakui, diriku lebih suka dengan istilah yang disebut pertama untuk menggambarkan—yang sebagaimana Bruno katakan—“sekilas pandangan terhadap sejarah yang di dalam hatinya terdapat kebebasan dan dengan demikian merefleksikan kekuasaan”. Jadi, sependek penglihatanku, ini merupakan nilai kritis utama anarkisme, yang dari sudut pandang historiografi, dapat membawa kita untuk merefleksikan isu-isu mengenai kebebasan dan kekuasaan.
LB: Betul, Anda sangat tepat. Berbicara tentang korespondensi anarkis tidak otomatis sama dengan membicarakan sejarah anarkisme.
Di samping itu, kita juga seharusnya memiliki pandangan yang lebih luas lagi mengenai bentuk-bentuk kekuasaan dan cakupan kebebasan. Ini sama seperti pelajaran berharga yang diberikan oleh Masini: mari merefleksikan sejarah anarkisme, tidak dalam artian yang sempit, tapi mengenai “-arki”, mengenai bentuk-bentuk kekuasaan dalam artian yang lebih luas lagi.
Nyatanya, yang seringkali terjadi justru para mahasiswa yang mempelajari gerakan anarkis hanya sampai di permukaan saja dan tidak lebih dari itu.
[1] Seseorang yang begitu terobsesi dan memiliki semangat untuk mengoleksi (pen.)