#title Anti-Imperialisme para Idiot
#subtitle Bagaimana Para Campists Barat dan Tankies Bersatu dengan Poros Perlawanan
#author Decolonize Anarchism
#date 25 January 2025
#source [[https://theanarchistlibrary.org/library/anti-imperialism-of-the-idiots-how-western-campists-and-tankies-align-with-the-axis-of-resistan]]
#lang id
#pubdate 2026-03-03T08:46:46
#authors Decolonize Anarchism
#topics Iran, tankies, colonialism, anti-imperialism, decolonization
#language Bahasa Indonesia
#publication Heart Void
#notes Diterjemahkan oleh Heart Void ke bahasa indonesia, dari tulisan dengan judul "Anti-imperialism of the Idiots"
Sejak serangan misil dan drone Iran terhadap rezim apartheid Israel pada 13 April, kelompok kiri otoritarian (Leftist Authoritarian) di Global North sekali lagi menutup mata mereka terhadap perjuangan rakyat yang tertindas. Alih-alih fokus pada perjuangan kelas masyarakat, mereka justru memusatkan analisis politik mereka pada negara, memberikan dukungan kepada rezim penindas, dan memuji rezim Iran serta Axis of Resistance (Poros Perlawanan).
Bagi mereka, kaum kiri otoritarian (campists dan tankies), Iran dipuji sebagai pemimpin “Axis of Resistance” melawan Imparialisme AS dan Zionisme, mengabaikan sejarah rezim tersebut dalam menyiksa, memperkosa, dan membunuh ratusan ribu rakyatnya sendiri. Selama pemberontakan “Jin Jiyan Azadî” pada 2022, setidaknya 550 demonstran tewas dibunuh oleh rezim Iran, termasuk 49 wanita dan 68 anak-anak, serta ribuan lainnya terluka. Di dalam penahanan, otoritas negara menyiksa dan memperkosa demonstran untuk memaksa pengakuan atau menghukum mereka. Lebih dari 700 eksekusi terjadi di Iran antara Januari dan November 2023, sebagian besar menargetkan individu dari wilayah Kurdistan dan Baluchistan.
Selama pemberontakan ini, setidaknya 82 demonstran dan warga sipil Baloch tewas dalam penindasan yang dikenal sebagai “Bloody Friday”. Masyarakat Baloch di Iran hidup dalam kemiskinan ekstrem dan diperlakukan tanpa hak asasi manusia dasar. Mereka adalah orang-orang tanpa kewarganegaraan di negara mereka sendiri; mereka tidak memiliki akses ke akta kelahiran, air, pendidikan, dan layanan kesehatan. Anak-anak Baloch tenggelam di Hootag (parit air) setiap hari saat mencoba mendapatkan air untuk keluarga mereka. Ketiadaan lapangan pekerjaan memaksa orang untuk beralih menjadi penyelundup bahan bakar.
Selama serangan pada 13 April, rezim ini melancarkan serangan drone dan rudal secara luas dari dalam kota-kotanya, menimbulkan kepanikan di kalangan penduduk Iran, memaksa orang untuk melarikan diri, dan mencegah potensi pemberontakan jika terjadi perang. Secara bersamaan, selama serangan ini, rezim memperketat penindasan dan penangkapan terhadap perempuan yang melanggar undang-undang kewajiban mengenakan hijab (mandatory hijab law). Undang-undang ini bukan hanya alat negara untuk mengontrol tubuh perempuan, tetapi juga untuk meningkatkan kehadiran pasukan keamanan, guna memadamkan kemungkinan pemberontakan.
Para aktivis kiri otoritarian di Barat tidak memiliki kepekaan dan gagal memahami sejarah dan dialektika politik di Asia Barat Daya. Akibatnya, mereka mengabaikan kejahatan negara-negara otoritarian dan teokratis seperti Iran, dan memuja mereka karena sikap anti-imperialis mereka. Fenomena ini, yang disebut “Anti-imperialisme Para Idiot” oleh penulis sekaligus aktivis Inggris-Suriah Leila Al-Shami, menyoroti aktivitas sebagian besar kaum kiri “anti-perang” Barat selama perang Suriah. Mereka hanya menentang campur tangan Barat sambil mengabaikan atau bahkan mendukung keterlibatan Rusia dan Iran. “Bagi para kiri otoritarian ini, dukungan diberikan kepada rezim Assad atas nama ‘anti-imperialisme.’” Assad dianggap sebagai bagian dari Poros Perlawanan melawan Imparialisme AS dan Zionisme. Tidak penting bahwa rezim Assad sendiri mendukung Perang Teluk Pertama (First Gulf War) atau berpartisipasi dalam program penculikan ilegal AS di mana terduga teroris disiksa di Suriah oleh CIA. Para kaum kiri pro-fasis ini tampaknya buta terhadap segala bentuk imperialisme yang berasal dari non-Barat. Mereka menggabungkan politik identitas dengan egoisme. Segala sesuatu yang terjadi dilihat melalui kacamata bagaimana hal itu berarti bagi orang Barat – hanya pria kulit putih yang memiliki kekuatan untuk membuat sejarah.”
Pandangan "campist" memandang AS, Eropa, dan pemerintah pendudukan Israel sebagai “kamp imperialis,” sementara Rusia, China, Iran, Suriah, Korea Utara, Venezuela, dan negara-negara lain sebagai “kamp anti-imperialis.” Terlepas dari seberapa parah rezim mereka melanggar hak asasi manusia atau seberapa totalitarian mereka, kamp terakhir selalu didukung. Siapa pun yang secara retoris menantang narasi imperialis dianggap sebagai sekutu. Oleh karena itu, dalam perspektif campist, seringkali cukup bagi suatu penyebab untuk secara retoris “didukung” oleh Amerika Serikat agar segera didiskreditkan.
Dalam kerangka ini, banyak yang gagal untuk mendukung revolusi rakyat (popular revolution) yang terjadi di Suriah pada 2011 atau di Iran pada 2022, melainkan malah mendukung para tiran di Suriah dan Iran, yang secara salah digambarkan sebagai penentang perubahan rezim yang dirancang oleh Amerika Serikat. Kiri anti-imperialis menerima klaim rezim Suriah dan Iran secara mentah-mentah bahwa mereka adalah salah satu benteng terakhir perlawanan terhadap hegemoni Barat dan Israel.
Pada 17 Oktober 2019, rakyat Lebanon turun ke jalan untuk menantang sistem politik sektarian negara tersebut, menyerukan perubahan total terhadap rezim. Sebagai respons, Hezbollah dan sekutunya, sering bekerja sama dengan pasukan pemerintah, menindas para demonstran. Meskipun protes di Lebanon memiliki cakupan yang lebih luas, Hezbollah, di bawah kepemimpinan Nasrallah, dengan cepat membela status quo sektarian, mendiskreditkan para demonstran dengan menuduh mereka dimanipulasi oleh kepentingan asing. Skenario ini familiar bagi orang Iran, yang mengalami penindasan serupa dari rezim yang mendukung pengaruh Hezbollah. Pembunuhan brutal Jina Amini oleh polisi moral Iran memicu pemberontakan nasional melawan rezim, ditandai dengan konfrontasi langsung dengan pejabat pemerintahan.
Gerakan ini menyoroti penyebaran luas metode penindasan di seluruh wilayah, metode yang telah diekspor Iran ke Lebanon, Suriah, dan Irak sejak era Khomeini, dan yang semakin intensif seiring dengan krisis-krisis yang sering dihadapi oleh rezim Assad sejak 2011.
Anti-imperialisme para Campist melemahkan politik internasionalis dengan mengesensialkan perjuangan tertentu dan menghapus keberadaan korban di wilayah tersebut, ironisnya memperkuat narasi yang berusaha menghapus perjuangan Palestina dengan mengklaimnya sebagai perpanjangan geopolitik Iran. Perspektif tentang Suriah dan Ukraina, bersama dengan Palestina dan Lebanon, menyoroti kontradiksi pseudo anti-imperialisme dari gerakan kiri Global North dan menekankan kebutuhan akan solidaritas transnasional di antara rakyat tertindas di Global South. Pemahaman ini menyoroti bahwa mendukung perjuangan Palestina tidak memerlukan dukungan terhadap pemerintah otoriter; sebaliknya, hal itu mengharuskan untuk menghadapi penindasan baik dari dalam maupun luar. Dengan demikian, kita memperkuat komitmen kita terhadap pengorganisasian mandiri (self-organization) dan solidaritas melawan kebijakan perang negara-negara, sambil menepati prinsip-prinsip anarkis kita: anti-otoritarianisme, anti-imperialisme yang konsisten, solidaritas dengan yang tertindas, dan kritis terhadap semua bentuk kekuasaan dan dominasi.
Sebagai anarkis, kami secara fundamental menentang semua bentuk otoritas koersif dan kekuasaan terpusat, dan mengadvokasi pengelolaan diri (sefl-management), mutual aid, dan kerja sama sukarela sebagai gantinya. Ketika kaum kiri Barat mendukung rezim otoriter, mereka sering kali mengorbankan prinsip esensial ini. Rezim-rezim tersebut mewakili antitesis anarkisme dengan memusatkan kekuasaan, menekan perbedaan pendapat, dan membatasi kebebasan. Mendukung negara-negara semacam itu bertentangan dengan komitmen para anarkis untuk menghancurkan penindasan dan otoritas.
Sebagai anarkis, kami menentang imperialisme dalam segala bentuknya, dan mendukung hak menentukan nasib sendiri bagi semua bangsa. Sikap anti-imperialis yang tidak hitam putih dan konsisten tidak boleh disamakan dengan mendukung negara mana pun yang menentang hegemoni AS. Rezim otoritarian sering terlibat dalam perilaku imperialis atau penindasan baik di dalam maupun di luar wilayah mereka. Dengan mendukung negara-negara tersebut atas nama anti-imperialisme, kaum kiri dapat secara tidak sengaja mendukung bentuk-bentuk imperialisme dan penindasan lainnya.
Sebagai anarkis, kami menekankan solidaritas dengan mereka yang tertindas dan berjuang untuk membebaskan kelompok yang terpinggirkan. Negara-negara otoritarian memiliki catatan pelanggaran hak asasi manusia, termasuk penganiayaan terhadap minoritas, penindasan politik, dan pembatasan kebebasan. Dukungan kaum kiri Barat terhadap rezim-rezim ini sering mengabaikan atau meremehkan penderitaan kelompok-kelompok tertindas tersebut, sehingga mengkhianati prinsip solidaritas internasional dengan semua rakyat yang tertindas.
Sebagai anarkis, kami menganalisis dan menantang semua bentuk kekuasaan dan dominasi secara kritis. Dengan mendukung negara-negara otoritarian secara tidak kritis karena oposisi mereka terhadap Barat, beberapa kaum kiri gagal untuk secara kritis memahami sifat kekuasaan dan tata kelola di negara-negara tersebut. Dukungan semacam itu dapat menjadi dukungan terhadap satu bentuk dominasi atas yang lain, alih-alih menjadi tantangan nyata terhadap semua struktur kekuasaan.
Sebagai anarkis, kami menuntut konsistensi dalam posisi etis terhadap semua bentuk eksploitasi dan penindasan. Mendukung rezim otoritarian memerlukan sikap etis yang selektif, di mana pelanggaran hak asasi manusia tertentu diabaikan karena kenyamanan politik. Ketidakonsistenan ini melemahkan basis pemikiran para anarkis, yang mengaspirasi prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan universal. Kami menyerukan solidaritas transnasional di antara semua rakyat tertindas, melampaui permainan kekuasaan geopolitik yang telah membentuk keadaan saat ini.