Di dunia yang kian tergesa-gesa mengejar kemajuan, kita sering lupa dari mana kita berasal. Keluarga Besar membawa kita kembali ke masa ketika manusia dan hewan hidup berdampingan bukan dalam hubungan tuan dan budak, melainkan sebagai sahabat sejati— berbagi dunia dengan saling pengertian, kasih sayang, dan rasa hormat.
Melalui narasi yang lembut sekaligus penuh kekuatan, teks ini mengajak kita merenungkan perjalanan manusia: dari persahabatan murni dengan makhluk lain, menuju zaman modern yang penuh dominasi, deformasi, dan kehancuran. Kita diajak melihat betapa dalam usaha kita meraih "kemajuan," kita telah kehilangan kepekaan alami, ketangguhan, dan “simpati yang dulu menjadi bagian tak terpisahkan dari keberadaan kita.
Keluarga Besar bukan sekadar catatan tentang masa lalu, melainkan juga “panggilan halus untuk masa depan—sebuah harapan bahwa suatu hari nanti, manusia akan kembali membangun hubungan yang penuh cinta dengan semua makhluk hidup di bumi ini. Bahwa rusa yang keluar dari hutan dan burung yang bertengger di bahu manusia bukan sekadar dongeng, melainkan pertanda bahwa kita telah menemukan kembali tempat kita yang sejati dalam jalinan kehidupan.
Sebuah karya reflektif yang menyentuh hati, mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati adalah kemajuan yang tidak meninggalkan kasih sayang di belakang.
***
Salam hangat untuk para pembaca,
Perkenalkan, saya adalah penerjemah anonim dari teks ini. Anda bisa memanggil saya Chifau. Terjemahan yang sedang Anda baca merupakan bagian dari proyek besar yang saya jalankan secara pribadi: menerjemahkan karya-karya klasik yang telah masuk ke dalam ranah public domain ke dalam bahasa Indonesia. Tujuan proyek ini sederhana namun penuh semangat: membuka akses bagi lebih banyak orang untuk menikmati dan memahami warisan intelektual dunia, dalam bahasa yang lebih akrab dan luwes, tanpa menghilangkan kekuatan makna aslinya.
Karya ini, berjudul "The Extended Family," (yang bersumber dari “Anarchy, Geography, Modernity: Selected Writings of Elisee Reclus”) menawarkan renungan yang dalam tentang hubungan manusia dengan dunia alam, khususnya dengan hewan-hewan yang pernah menjadi sahabat dekat manusia di masa lampau. Melalui teks ini, saya berusaha menjaga keseimbangan antara kesetiaan terhadap makna asli dan keluwesan dalam penyampaian, agar gagasan-gagasan penting di dalamnya tetap hidup dan mengalir.
Saya percaya bahwa menerjemahkan bukan hanya soal memindahkan kata ke kata, melainkan juga tentang menghidupkan kembali roh dari sebuah pemikiran untuk pembaca lintas zaman dan lintas budaya.
Salam Hangat,
Chifau.
Manusia suka hidup dalam dunia mimpi. Usaha mental yang diperlukan untuk memahami realitas terasa terlalu berat, sehingga ia cenderung menghindari perjuangan ini dengan bergantung pada pendapat-pendapat siap pakai. Jika "keraguan adalah bantal orang bijak," maka kepercayaan tanpa berpikir adalah bantal orang yang berpikiran sederhana. Dahulu ada Tuhan yang Mahakuasa, yang berpikir untuk kita, yang berkehendak dan bertindak dari tempat yang tinggi, serta mengarahkan takdir manusia menurut kehendak-Nya. Kekuasaan-Nya menjadi satu-satunya yang kita perlukan, membuat kita menerima takdir dengan pasrah atau bahkan dengan rasa syukur. Tuhan pribadi yang menjadi sandaran bagi kaum lemah ini kini sekarat di rumah-rumah ibadah-Nya sendiri, dan manusia harus mencari pengganti. Mereka tak lagi memiliki Yang Mahakuasa untuk melayani mereka. Yang tersisa hanyalah kata-kata yang coba mereka sulap menjadi kekuatan gaib—seperti kata “kemajuan.”
Tidak diragukan lagi, manusia memang telah mengalami banyak kemajuan. Perasaannya menjadi lebih halus, pikirannya lebih tajam dan mendalam, dan rasa kemanusiaannya meluas jauh melampaui batas-batas lama. Namun, tak ada kemajuan tanpa kemunduran. Dalam pertumbuhannya, manusia bergerak maju sekaligus meninggalkan sebagian kemampuan lama. Idealnya, manusia modern seharusnya tetap memiliki kekuatan, ketangkasan, koordinasi, kesehatan alami, ketenangan, kesederhanaan hidup, kedekatan dengan hewan-hewan liar, serta hubungan harmonis dengan bumi dan semua makhluk hidup di dalamnya—seperti yang dulu dimiliki manusia purba. Namun, kini hal itu lebih merupakan pengecualian daripada kebiasaan. Bukti menunjukkan bahwa dengan tekad kuat dan lingkungan yang mendukung, seseorang masih bisa menyamai manusia purba dalam kualitas-kualitas dasarnya, bahkan menambahkannya dengan kesadaran yang diperkuat oleh jiwa yang lebih tinggi. Tapi, berapa banyak manusia yang berhasil bertumbuh tanpa kehilangan? Berapa banyak yang mampu menyamai manusia hutan dan padang rumput sekaligus seniman atau cendekiawan modern di tengah hiruk pikuk kota?
Kalaupun ada individu luar biasa yang berhasil melampaui nenek moyangnya dalam kualitas alami maupun keterampilan baru, secara keseluruhan umat manusia tetap harus diakui telah kehilangan sebagian prestasi awalnya. Dunia binatang, tempat asal kita dan yang mengajarkan kita seni bertahan hidup—berburu, memancing, mengobati, membangun tempat tinggal, bekerja sama, dan memenuhi kebutuhan—kini menjadi semakin asing bagi kita. Jika dulu manusia primitif menganggap hubungan dengan binatang sebagai persaudaraan, kini kita berbicara tentang pelatihan atau penjinakan dalam arti penaklukan. Dahulu, hewan dipandang sebagai kawan, bukan budak. Bahkan di masa bahaya—badai atau banjir—binatang seperti anjing, burung, dan ular mencari perlindungan bersama manusia.
Perempuan Indian di Brasil, misalnya, hidup dikelilingi oleh beragam hewan: tapir, rusa, oposum, hingga jaguar jinak berkeliaran di halaman pondoknya. Monyet bergelantungan di atas, babi hutan kecil menggali tanah, dan burung-burung seperti tukan, hoccos, serta burung beo bertengger di dahan, dilindungi anjing dan burung peniup besar. Semua itu hidup bersama tanpa perlu cambuk atau bentakan. Gembala Ouechua di dataran tinggi Andes bahkan menggiring Ilama hanya dengan belaian dan kata-kata manis— sebab sekali saja diperlakukan kasar, Ilama akan ngambek, rebah, dan menolak berjalan. Llama berjalan sesuai kecepatan sendiri, menolak beban terlalu berat, dan tiap pagi berhenti lama memandangi matahari terbit. Ia menginginkan bunga di kalungnya, bendera berkibar di atas kepalanya, serta belaian anak-anak saat tiba di kampung. Bukankah kuda orang Badui juga hidup di dalam tenda, dan bayi-bayi tidur di antara kakinya?
Simpati alami antar makhluk hidup ini menciptakan suasana damai dan kasih sayang yang mendalam. Burung-burung bertengger di tangan manusia, tupai bermain-main di sekitar petani atau gembala. Bahkan dalam komunitas politik primitif, hewan turut dianggap sebagai anggota. Di Fazokl, jika rakyat mencopot rajanya, mereka menyampaikan pidato begini: "Karena kau sudah tidak diterima lagi oleh pria, wanita, anak-anak, dan keledai, lebih baik kau mati, dan kami akan membantumu." Dahulu, manusia dan binatang tidak menyimpan rahasia satu sama lain. “Binatang berbicara,” kata dongeng, tapi lebih penting lagi, manusia mengerti. Cerita-cerita dari India Selatan, mungkin cerita tradisional tertua di dunia, menceritakan bagaimana gajah, serigala, singa, kelinci, ular, udang, monyet, dan manusia berdialog bebas—seolah membentuk sekolah besar dunia primitif, di mana guru sesungguhnya sering kali adalah hewan.
Dalam masa-masa itu, persahabatan manusia-hewan mencakup jauh lebih banyak spesies daripada yang kita lihat dalam dunia domestik sekarang. Geoffroy St. Hilaire mencatat empat puluh tujuh spesies, dan kemungkinan banyak lagi yang tak tercatat. Ia tidak menyebutkan hewan peliharaan perempuan Guarani, ular-ular yang diminumi susu sapi bersama orang Dinka di Sungai Nil, badak yang merumput dengan ternak di Assam, atau buaya di Sindh yang dihiasi lambang religius oleh seniman Hindu. Arkeolog membuktikan bahwa di Mesir Kuno, tiga atau empat spesies antelop, bahkan seekor ibex, tergabung dalam peternakan manusia. Namun kini, banyak hewan tersebut kembali menjadi liar. Anjing-anjing liar dan cheetah pun dahulu dijinakkan oleh pemburu. RigVeda memuji merpati pos sebagai makhluk yang “lebih cepat dari awan,” bahkan menganggapnya dewa yang layak dipersembahkan korban. Kisah Nabi Nuh pun mengingatkan kita: merpati yang ia lepaskan kembali dengan ranting zaitun di paruhnya.
Kini, domestikasi hewan sering justru mencerminkan kemunduran moral. Alih-alih memperbaiki hewan, manusia banyak merusaknya. Seleksi buatan memang meningkatkan kekuatan, kecepatan, atau indra penciuman, namun sebagai pemakan daging, tujuan utama manusia lebih sering membuat binatang bertubuh besar dan berlemak—gudang daging berjalan dari kandang ke rumah potong. Apakah babi modern lebih unggul dari babi hutan, atau domba jinak lebih gagah dari domba liar? Keahlian besar para peternak justru menciptakan hewan mandul dan jinak. Mereka melatih kuda dengan kekangan, cambuk, dan taji—lalu mengeluh karena kuda kehilangan inisiatif. Bahkan domestikasi terbaik pun menurunkan daya tahan terhadap penyakit dan adaptasi lingkungan, menciptakan makhluk buatan yang tak mampu hidup bebas di alam.
Kehancuran spesies ini sudah buruk, namun ilmu pengetahuan modern membawa bencana lebih besar: pemusnahan. Betapa banyak burung musnah akibat pemburu Eropa di Selandia Baru, Australia, Madagaskar, hingga Kutub! Berapa banyak anjing laut, paus, dan mamalia laut lain yang telah lenyap! Paus telah meninggalkan perairan beriklim sedang dan terancam punah bahkan di Arktik. Nasib serupa mengintai semua hewan darat besar: kita sudah menyaksikan punahnya banteng liar dan bison, nasib badak, kuda nil, dan gajah pun hampir pasti serupa. Diperkirakan setiap tahun 800 ton gading gajah dihasilkan, artinya sekitar 40.000 gajah dibunuh, belum termasuk yang mati di hutan karena luka. Betapa jauhnya kita dari manusia Sinhala kuno, yang menganggap "ilmu ke-18 manusia adalah berteman dengan gajah," atau dari bangsa Arya India yang mengangkat dua Brahmana untuk menemani seekor gajah.
Di sebuah perkebunan di Brasil, aku pernah menyaksikan dua peradaban bertemu. Sang pemilik bangga dengan dua ekor sapi jantan mahal dari Dunia Lama. Yang satu, dari Jersey, meronta dan mengamuk, marah terhadap penjaganya. Yang lain, zebu dari India, mengikuti kami seperti anjing, menatap penuh kasih, meminta belaian. Kita, manusia "beradab" yang ketakutan akan panas matahari atau dinginnya angin, bahkan telah lupa makna hari-hari raya kita. Padahal Natal, Paskah, dan hari-hari suci lainnya dulu adalah perayaan alam. Apakah kita masih memahami tradisi yang menggambarkan manusia pertama berjalan bersama hewan di taman indah, atau kelahiran Anak Manusia di kandang, di antara keledai dan lembu?
Meskipun jarak kita dengan hewan-hewan semakin melebar, hubungan kita dengan hewan domestik non-konsumsi sedikit banyak menunjukkan kemajuan. Anjing, misalnya, memang banyak yang dirusak. Sebagian besar dipukuli hingga menjadi makhluk ketakutan. Ada yang dilatih jadi buas, menggigit rakyat jelata atau budak. Anjing-anjing bangsawan pun mewarisi kerakusan, kesombongan, dan nafsu tuannya. Sementara anjing-anjing di Cina, yang dibesarkan untuk dimakan, menjadi makhluk super bodoh. Namun, jika seekor anjing diperlakukan dengan cinta, kelembutan, dan kemuliaan hati, ia bisa mencapai tingkat kesetiaan yang melampaui manusia.
Kucing, jauh lebih baik menjaga kemandiriannya. Mereka tak benar-benar ditaklukkan, melainkan bersekutu dengan kita. Bukankah mereka juga menunjukkan kemajuan ajaib sejak masa liarnya di hutan? Mereka memahami hampir semua perasaan manusia, menebak pikiran kita, dan merasakan hasrat kita. Penyair menggambarkan mereka sebagai penyihir, dan terkadang mereka memang tampak lebih bijak dari kita. Bukankah "keluarga bahagia" di pasar malam juga menunjukkan bahwa tikus, kelinci, hingga hewan kecil lain ingin bersatu dalam persahabatan dengan manusia? Bahkan di dalam penjara, tikus, lalat, kutu, akan membentuk "sekolah kecil"—selama sipir tidak merusaknya. Kita mengenal kisah laba-laba sahabat Pellisson: seekor makhluk kecil yang membangkitkan harapan hidup seorang tahanan—sebelum akhirnya dibunuh sepatu seorang penjaga!
Semua ini membuktikan betapa besarnya potensi manusia untuk memengaruhi dunia hidup secara positif, andai saja kita mau. Suatu hari nanti, ketika peradaban kita yang individualistis ini runtuh dan kita harus bergantung pada tolong-menolong untuk bertahan hidup, pencarian akan persahabatan akan menggantikan pencarian kekayaan materi. Suatu hari nanti, para naturalis akan mengungkap segala keajaiban yang manusiawi—bahkan melampaui manusiawi—dalam dunia hewan. Kita akan memandang spesiesspesies yang tertinggal bukan lagi sebagai budak atau alat, tetapi sebagai sahabat sejati. Seperti studi tentang manusia primitif memperdalam pemahaman kita tentang manusia modern, begitu pula studi tentang dunia hewan akan memperluas ilmu pengetahuan dan cinta kita. Mari membayangkan masa depan di mana rusa keluar dari hutan, menatap kita dengan mata gelapnya, datang minta dibelai, dan burung, sadar akan keindahannya, bertengger di bahu manusia kesayangannya, meminta jatah kasih sayang.