#cover f-m-farhan-m-musim-hitam-dan-terbakar-id-1.png #title Musim Hitam dan Terbakar #author Farhan M. #LISTtitle Musim Hitam dan Terbakar #date Juni/2025 #lang id #pubdate 2026-07-02T05:11:28.235Z #authors Farhan M. #topics Puisi, Terorisme Puitis, Bahasa Indonesia #language Bahasa Indonesia #publication tahun 2025 [[f-m-farhan-m-musim-hitam-dan-terbakar-id-2.png f]] *** Pengantar Apa yang kau genggam sekarang bukan sekadar kumpulan puisi prosa. Musim Hitam dan Terbakar adalah pecahan meteorit dari laboratorium jagad yang terbengkalai. Juga sisa-sisa percobaan Tuhan yang lupa akan dirinya sendiri. Hanlelono Ijauparang tidak menulis setiap puisi untuk dirayakan. Ia meracik setiap prosa dari residu entropi, dari percikan anti-materi yang menolak stabil. Setiap kata, setiap baris di Musim Hitam dan Terbakar adalah sabda pembohong: bukan untuk menjemput juru selamat atau membangun kerajaan baru ditengah kehancuran yang dahsyat, tetapi untuk menegaskan satu hal: “kita ada karena kita terbakar dan terbakar.” Tak ada yang suci dan menyucikannya adalah lelucon terbaru. Sebab, dalam kumpulan puisi ini, Tuhan hanyalah molekul yang lumpuh dalam labu pecah.Surga adalah gas ringan yang menguap sebelum sempat mengendap. Dan moralitas? Sekedar kerak karbon di dinding reaktor dunia yang cacat. Ijauparang tidak mengajak kita untuk memahami dan mempercayai setiap kata, tetapi sekali lagi—untuk meledak dan terbakar bersama—menolak gravitasi dunia dan mengoyak piranti hukum-hukum lelah yang mengurung diri Anda dalam kehancuran. Saat saya membaca kumpulan tulisan ini, hampir tidak ada sedikitpun celah kosa kata tentang “Keselamatan”. Dan jika kalian menyelami buku ini dengan harapan akan 'selamat' dari kekalahan dan babak belur akhir pekan, maka lempar dan buang! Jika kalian mencari hukum indah tentang utopia dunia, tutup halaman ini. Tetapi jika kalian memiliki hasrat untuk menari dalam badai atom terakhir, maka masuklah dan selami. Selamat membaca, selamat datang di Musim Hitam dan Terbakar. Tirto Danu *** GEJALA KEHANCURAN KIAMAT API biar dunia terbakar, biar api menyala setiap janji—biarkan seluruh langit runtuh menjadi abu, dan tak akan ada yang peduli. apa arti semua di tengah kehancuran yang terabaikan, bergulir seperti debug dalam badai tak berujung? apa yang tersisa dari dunia yang busuk ini, biarkan dunia tenggelam dalam amarah, dan membiarkan semua yang terbelenggu di dalamnya terbakar dalam api kebencian yang tak bisa dipadamkan. karena aku tidak menghendaki penyelamat—aku menghendaki kehancuran, agar dunia ini bisa mengakhiri penderitaannya, dan aku bisa mati dalam kesunyian yang pasti. aku, yang mengerti kebenaran pahit ini, tertawa di dalam kelam, menyeru kematian yang lama ku rindukan. apa yang ditunggu dari dunia yang rapuh ini? harapan hanyalah pengkhianatan yang dibungkus dengan janji kosong—mereka menyebutnya "kehidupan", tapi apa yang bisa dijalani selain mimpi yang gagal? Keletihan, memuaskan akan kesia-siaan, dan di akhir semua ini, yang menunggu hanya mengecewakan. karena di sini, dalam kehancuran, aku menemukan kebebasanku, bukan di dalam pelukan "kehidupan" yang mengikat, namun di dalam kehancuran yang sejati— yang menanti dengan tangan terbuka. aku berani membayangkan—aku tak takut pada kematian, aku mencari kematian, karena dalam kehancuran, aku menemukan diriku yang sejati. *** DUNIA KEMBANG TERBAKAR di sini, aku berdiri dengan tangan terangkat—tidak berdoa atau menyembah, tapi untuk mengutukmu, dunia yang hina! aku tidak butuh surga palsu yang kau janjikan! aku lebih suka menjadi pembakar, menyalakan api dengan kata-kata yang memberangus hati-hati bebal! dan mereka yang takut pada kehancuran—biarkan terjebak dalam jeruji ketakutan, aku lebih suka merobek langit dengan kebencian! Persetan! dunia ini hanya layak dihancurkan lebih lanjut, dan hanya ada satu yang tersisa: keberanian untuk hidup dalam kebenaran yang penuh darah. tidak ada ampun untuk dunia yang mati! tidak ada kerajaan untuk para malaikat bodoh yang masih menyembah! aku adalah api yang membakar dalam kegelapan ini, dan aku akan membiarkan semuanya terbakar, karena dunia ini tak berdaya layak diselamatkan. *** DENDAM DAN PENGULANGAN seperti tahun-tahun yang hilang, aku menyimpan kenangan ke dalam dendam. janji-janji yang gagal ditepati, musim bunga yang gugur belaka, keniscayaan berulang yang habis entah kemana. maka disinilah kita, kabar terakhir dari dasar botol, menuang penyesalan dan pungkas teguk pesakitan. *** MUSIM HITAM sampailah kita pada musim hitam. orang-orang membaca cuaca, kita peduli setan— hanya patah—seperti seharusnya. ketiadaan berulang kesekian, kita ke dalam kekecewaan masing-masing, hidup memang diperuntukkan bagi pesakitan yang telah ditetapkan sejak mulanya. adalah saat ini: diantara kau dan ingatan, aku memilih kehilangan; menjadi penghabisan, badai, dan kematian. tak ada kebangkitan api atau balas dendam, yang berjejak hanya bayang kita sendiri, berjalan perlahan melewati diri kita yang lain, yang diam lelap di laju jalan. "kenangan terakumulasi dalam rentetan waktu acak tiada henti melawan hukum ruang dan keberlangsungan". *** HIKAYAT RAJA GENI suatu hari yang api— ketika mataku membara & tak ada lagi yang kubaca selain kematian, berdirilah pedang pemberontakan. menjerumuskan ku pada hantu solidaritas, bakar habis jasad dengan omongan kosong, yang dibawa oleh imam pembawa keyakinan semu—sebuah lawakan delusi. bahwa api dapat dilawan dengan bunga bahwa kejahatan dapat dilawan dengan perasaan—kebodohan yang lain. api hanya dapat melawan dengan api. tapi namun, aku terlampau jauh pada pengrusakan batin, aku terlanjur cinta pada pemberontakan. sebab hatiku tipu daya tuhan 1000 mimpi; tempat paling racun atas semua harapan, namun aku rela mati karenanya. *** YANG PURBA DAN KEHENDAK dari dan ke manusia kita panik badai api balas dendam purba seribu masa kekalahan-kekalahan hidup dan segala makna hampa yang menjadi dogma ialah racun diantara remuk-redam bencana harapan kesakitan menjadi kesaksian sinyal marabahaya bagi hati yang mendamba tiada begitu pula kebahagiaan adalah raut semu yang kau tampakkan belaka amarah dan tangis adalah perasaan tanpa nama yang tak ada tahu benar sampai sekarang atau sejak mulanya maka dengan segala kekosongan ini hidup adalah kekasih kematian paling purna tanpa hitungan purnama *** KAN JELANG TIADA AKHIR ingin kujejalkan langit ke dalam sumur hampa, palung hatimu yang batu. seraya gugus bintang serupa pasir yang bagaikan bulir, menyebar ke seluruh aliran darahmu. biar jadi rasi dan kerlip sihir, mata angin dari mangu jiwamu yang selalu malam dan hening. lalu akan kulelapkan juga mimpi ke dalam kepalamu, tidur yang mati dan luhur. di sanalah muara lautan luas diarungi bahtera peristirahatan lalu-lalang kota dan segala macam jenisnya namun, jikalau sampai sana tak kau temukan apa-apa, segera menerjanglah melesat dengan sepenuh daya. menembus perasaan-perasaan tanpa nama, bumi tanpa dasar, langit tanpa batas. menghancurkan ruang dan waktu melebihi kecepatan cahaya. *** NOKTAH HITAM KEMATIAN akan tiba hari itu, ketika langit diselimuti api. bumi mendekam, cinta menjadi marah, di atas liang lahat kita. *** WAKTU DAN KEKACAUAN YANG LAIN waktu yang tak kasat mata, memejam malam, memahat terang, menyalakan genderang perang. dalam tiap nasib, dalam tiap detik, semua mesti terkoyak dan mati, menyisakan debu di antara ribuan debu di langit yang tak pasti. ialah berhenti, rintihan purba yang telah lama berbisik dalam lorong-lorong sunyi yang terlupakan, dan ia ku persilakan. aku—sekuntum mawar yang mengering dalam diam, melawan hukum-hukum waktu dan ruang, mempercayai segala sesuatu abadi hanyalah gambaran, segala yang hidup adalah mengajukan pada maut. Petrus yang ragu di ambang pintu surga, mendapati dirinya sendiri sebagai tuhan yang terlupa. berkeliling dalam kabut menerima, menerima bahwa di akhir dunia, kita semua adalah dewa yang terlantar. waktu menggerogoti kita tanpa ampun, namun, berhenti selalu menawarkan kebebasan yang tak terduga. Sepertinya tidak ada langit yang abadi, dan bumi layak dibakar. dan kita para pembebas, menjadi jiwa orang-orang yang mati sebelum mati, menunggu berhenti yang seharusnya datang jauh sebelum dunia ini lahir. untuk apa menunggu waktu jika waktu itu sendiri adalah ilusi? kita adalah api yang tak padam. menentang semua sejarah, dan menerima penghargaan sebagai senyuman pertama dari kehidupan yang sejati. *** KIAMAT PEMBEBASAN langit yang patah, dunia terbakar. semua jadi abu, dan api bertabrakan dalam gemuruh. menerjang, menelan, tanpa sisa. seluruh ratapan hilang dalam angin. seperti bintang yang jatuh ke dalam lautan malam, kita jatuh dalam pelukan maut, tanpa belas kasih. setiap kali nafas terhenti, dan tubuh runtuh, adalah tarian baru di atas api yang membakar jiwa kita sendiri, menyerahkan segala sesuatu pada rahasia yang kita ciptakan. lalu apa yang tersisa dari kehancuran ini, adalah kesenangan, langkah dalam kegelapan yang tak terperi, menuju kebenaran. tanpa surga dan penebusan, hanya api dan abu. *** tentang penulis Farhan M., biasa disapa Farhan. Senang membayangkan puisi sebagai alternatif dunia yang kapan hari ia yakini akan terjadi, termasuk pada Musim Hitam dan Terbakar yang merupakan rilisan puisinya yang kesekian. "kiamat adalah cinta yang muncul tanpa kata, api yang menyala di dada langit, ribuan kali membakarku dengan lantang, dan aku akan selalu rela jatuh di dalam kobarannya." (Farhan M./2025) [[f-m-farhan-m-musim-hitam-dan-terbakar-id-3.png f]]