Fido

Elegi Dunia yang Gagal

23 Juni 2025

Aku pernah mengira bahwa hidup ini harus dicintai agar dapat dijalani. Itu sebelum aku menyadari bahwa tak ada satu pun yang layak dicintai di dunia ini—bahkan hidup itu sendiri.

Sekarang aku tidak percaya pada apa pun, bukan karena aku telah memikirkan segala sesuatu secara mendalam, melainkan karena aku telah menggali lubang cukup dalam hingga semua dasar-dasar keyakinan manusia runtuh begitu saja di hadapanku. Mereka bilang dunia ini diciptakan dengan keteraturan; tapi keteraturan yang mana? Yang membiarkan anak-anak tumbuh di antara ledakan bom dan menulis puisi? Atau yang membiarkan kebohongan dan pujian hidup berdampingan dalam satu nafas yang sama?

Sudah lama aku tidak melihat matahari sebagai sesuatu yang menghangatkan. Ia hanya bulan yang membakar segalanya dalam diam.

Orang-orang datang kepadaku—mereka datang dengan tawa, dengan salam, dengan janji bahwa hidup ini masih punya tujuan. Tapi aku tak peduli. Aku bahkan tak tahu apakah aku benar-benar masih hidup, atau hanya bangkai yang ditolak oleh liang kubur.

Aku hidup dalam kamar sewa yang temboknya retak dan langit-langitnya mengelupas seperti kulit penderita kusta. Di balik dinding itu, orang-orang mengerang dalam tidur mereka, atau bercinta dengan jijik yang mereka beri nama cinta. Bau jamur dan lemak terbakar menghuni setiap sudut ruang. Dan entah kenapa, aku merasa tempat ini lebih jujur daripada gereja mana pun, atau istana mana pun, atau bangunan parlemen mana pun.

Mereka bilang aku gila. Tapi siapa yang lebih gila: aku yang menolak hidup sebagaimana adanya, atau mereka yang menerimanya dengan sukacita? Siapa yang lebih waras: aku yang mempertanyakan segalanya, atau mereka yang menelan semuanya mentah?

Aku melihat seorang lelaki tua memukul anjingnya di jalan karena anjing itu terlalu lambat mengikuti langkahnya. Lalu aku melihat seorang pendeta memungut sumbangan sambil tersenyum di antara doa. Dan aku tahu bahwa keduanya tak jauh berbeda. Dalam dua wajah itu, kekuasaan menjadi satu-satunya hukum, dan kasih hanyalah bualan basi yang membenarkan kekejaman kecil sehari-hari.

Aku tidak percaya pada negara. Negara hanyalah nama samar dari kesepakatan licik: yang kuat memerintah, yang lemah tunduk. Bendera hanya kain yang mengecoh rasa sakit lambung, lagu kebangsaan hanyalah nyanyian untuk menyelimuti pembantaian. Apakah tanah ini milik kita? Siapa yang menentukan batasnya? Apakah darah yang tumpah di ladang-ladang itu sakral, atau hanya limbah dari kebodohan kolektif?

Dan agama... ah, jangan mulai bicara tentang agama. Aku sudah kenyang dengan Tuhan-Tuhan yang dibangun dari rasa takut, dari kekosongan, dari kebutuhan akan penjelasan. Setiap khotbah adalah meja transaksi. Surga dijual, dosa disewakan dan dibayar lewat taubat. Aku melihat lebih banyak kekejian dilakukan atas nama Tuhan daripada atas nama iblis. Jika Tuhan benar-benar ada, maka ia pasti sedang tertawa sekarang—tertawa melihat umat-Nya saling menggorok demi mendekat pada-Nya.

Orang-orang mengira aku tidak bermoral. Tapi aku bukan tak bermoral—aku hanya tak mengakui keberadaan moral itu sendiri. Moralitas hanyalah jaring laba-laba yang dirajut untuk membungkus kelemahan manusia. Kita menciptakan “baik” karena kita terlalu takut akan “buruk”. Tapi keduanya adalah fiksi. Tak ada yang benar-benar baik atau buruk. Hanya ada dorongan. Kehendak. Dan kehampaan yang mengikuti segalanya.

Aku percaya hanya pada satu hal: bahwa hidup manusia harus diubah dari akar. Cara hidup ini, sistem ini, ketakutan ini, keterikatan ini—semuanya busuk. Kita lahir untuk menjadi bebas, namun kita membangun sangkar dengan tangan kita sendiri lalu memohon pada penjaga agar diberi sedikit gandum. Kita menyebut keteraturan sebagai keadilan, padahal itu hanya pembenaran dari kekuasaan. Kita menyebut keluarga sebagai kasih, padahal itu hanya reproduksi luka turun-temurun.

Manusia harus belajar hidup tanpa tiang penyangga. Tanpa negara. Tanpa agama. Tanpa harapan palsu. Barulah ia bisa mengerti kehampaan sejati, dan barangkali dari kehampaan itulah kita bisa membangun ulang dunia—bukan dengan hukum atau cinta, tapi dengan kesadaran akan absurditas yang total.

Aku berbicara pada dinding, pada malam, pada diriku sendiri. Setiap hari aku duduk di kursi goyang itu dan menulis—bukan untuk dibaca siapa pun, tapi sebagai upaya terakhir untuk tidak menghilang sepenuhnya. Aku tahu tak seorang pun akan peduli. Tulisan-tulisan ini akan lapuk, mungkin dibakar oleh pemilik kontrakan berikutnya atau dijadikan kertas pembungkus botol alkohol kosong.

Tapi aku akan terus menulis. Karena meski semuanya hampa, aku masih punya satu peluru terakhir dalam kepala: kesadaran. Dan itu lebih tajam daripada senjata mana pun.

Jika suatu hari seseorang menemukan tulisan ini, aku hanya ingin mereka tahu: bahwa pernah ada satu manusia yang melihat dunia sebagaimana adanya—dan tetap memilih untuk menolaknya.

Bukan karena benci.

Tapi karena tahu, bahwa cara hidup ini tidak layak untuk dipertahankan.


https://www.instagram.com/p/DLNqTMwy6_m/?igsh=MXhoZ3FwajM2YXJ6dg==