#title Menolak Aktivisme, Merayakan Kehidupan yang Memberontak #subtitle Sebuah Esai Mini #author Heart Void #date 10 April 2025 #source [[https://medium.com/@heartvoid/menolak-aktivisme-merayakan-kehidupan-yang-memberontak-0b277ddef7fb]] #lang id #pubdate 2025-11-16T05:14:56 #authors Heart Void #topics individualism, organization, activism #language Bahasa Indonesia #publication Heart Void Tidak semua anarkis memilih berorganisasi dan itu bukan bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan. Anarkisme bukanlah ritual partisipasi dalam organisasi, melainkan semangat pembebasan dari segala bentuk penaklukan—termasuk penaklukan atas cara hidup dan makna perlawanan itu sendiri. Ada kecenderungan dalam ranah aktivisme untuk membakukan perlawanan, menjadikannya terukur dan terlihat. Aktivisme lalu menjadi semacam performa moral yang harus dibuktikan melalui struktur, agenda dan keterlibatan yang bisa dihitung. Tapi bukankah ini justru cerminan dari logika dunia yang ingin kita runtuhkan? Aku tidak menolak organisasi. Aku memahami pentingnya kerja kolektif, koordinasi dan jejaring. Tapi aku menolak pandangan bahwa anarkisme harus selalu mengambil bentuk organisasi. Seperti kritik Stirner, organisasi bisa menjadi “spook” baru—entitas abstrak yang menundukkan individu dan menuntut pengorbanan. Dan seperti yang diungkap Vaneigem, kehidupan itu sendiri bisa menjadi medan perlawanan yang lebih radikal daripada kampanye dan mobilisasi. Bagi Stirner, individu bukanlah alat bagi cita-cita abstrak, termasuk yang mengatasnamakan “kolektif”. Ia menolak untuk menyerahkan kehidupannya demi tujuan agung yang justru menghapus keunikannya. Ini bukan apologi egois, melainkan penolakan terhadap bentuk-bentuk dominasi baru yang menyamar dalam bahasa perjuangan. Organisasi bisa jadi berguna, tetapi ketika ia mulai mengatur, menilai dan menundukkan, ia kehilangan nilai subversifnya. Sementara Vaneigem berbicara tentang pembebasan yang dimulai dari tubuh, dari pengalaman, dari keberanian untuk merasakan hidup secara utuh. Ia mengajak kita memberontak bukan demi cita-cita besar yang abstrak, tapi demi merengkuh hidup yang tak dirampas. Dalam logika ini, perlawanan tak selalu butuh struktur; kadang ia cukup berupa tawa yang tak bisa dikendalikan, kasih yang tak bisa dibeli, atau kesadaran yang tak bisa ditundukkan. Perlawanan bukan hanya berada di jalanan atau ruang rapat. Ia hidup dalam cara kita mencintai tanpa kepemilikan, menolak kerja upahan, menyalakan solidaritas, atau bahkan sekadar hidup dengan cara yang tak tunduk pada logika dunia kapitalistik. Aku memilih jalan yang mungkin tidak terlihat, tapi tetap menolak. Aku memilih cara hidup yang bukan “aktivisme”, tapi kehidupan yang memberontak.