#title Kegagalan Punk (Bag. 1): Akuilah Bahwa Kita Adalah Pecundang
#author Pam
#LISTtitle K
#date 2024
#source [[https://archive.org/details/naskah-kegagalan-punk]]
#lang id
#pubdate 2026-10-03T13:26:30
#topics Punk; Subkultur; Anarkisme
#language Bahasa Indonesia
#publication Seng-Iseng Zine; Radical Stay Real Press
#notes Diterbitkan pertama kali oleh RADICAL Stay rEal PRESS pada tahun 1999, lalu diketik dan didistribusikan ulang oleh Seng-Iseng Zine pada tahun 2024, dan kemudian diunggah ke SEA-AL oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive) pada tahun 2026.
** PENGANTAR
Sebetulnya ide untuk kembali menerbitkan dan mendistribusikan ulang esai yang kutulis 25 tahun lampau ini bukanlah kali pertama. Beberapa kawan dekatku yang lain pernah mengusulkan hal serupa, dan selalu kutolak. Lagi dan lagi.
Memang, sebetulnya apabila mereka ini berniat menggandakan dan menyebarkan ulang, mereka tak perlu juga meminta ijin dariku. Toh aku dan penerbit esainya dulu, Stay Real Press, yang kini telah bertransformasi menjadi lebih profesional walau tetap independen dengan nama Sabate Books, selalu menekankan bahwa gairah untuk pendistribusian sebuah ide jauh lebih penting dibanding permintaan dan/atau pemberian ijin, terutama apabila sumber narasi tersebut sulit didapatkan dalam bentuk orisinalnya. Sejauh ini kawan-kawanku tersebut mengikuti penolakanku dan yang beredar dalam bentuk fotokopian usang tetap satu-satunya versi yang beredar—aku bahkan memesan satu kopi versi tersebut pada salah satu distributor zine lokal karena aku akhirnya tertarik untuk membacanya kembali.
Aku memang memutuskan untuk membacanya kembali, karena dua hal: (1) pasca kasus di mana seorang anggota komunitas punk mencalonkan diri menjadi anggota dewan, entah bagaimana esai yang kutulis tersebut seakan menjadi panduan benar-salah, buku pedoman pengalaman pokok-pokok pikiran punk— yang tentu saja menurutku konyol, maaf. Dan (2) seorang kawanku, yang sama sekali tidak berkecimpung dalam komunitas hardcore punk lokal, mengirimiku foto versi fotokopian buram esaiku tersebut, dan bertanya apakah betul aku yang menulisnya. Tentu saja aku hanya tertawa-tawa tanpa memberikan jawaban yang jelas. Sengaja kubiarkan mengambang.
Lucunya, saat aku berniat membaca ulang, mungkin baru sekitar setengah tulisan, aku merasa bosan, dan sampai sekarang tak pernah kulanjutkan lagi. Aku mencoba membaca bagian kedua dari tulisanku tersebut, dengan berasumsi mungkin bagian keduanya lebih tak membosankan. Namun ternyata sama saja, aku hanya berhasil membaca empat halaman, tak lebih.
Jadi jujur saja, aku bingung kenapa kawan-kawanku tersebut bersikukuh agar tulisan dua bagian tersebut dirilis ulang.
Alasan kenapa aku sejujurnya tak berminat pada ide tersebut, terkait pada soal bahwa hidupku terus berjalan, menerima referensi-referensi lain yang berbeda-beda dan tak jarang saling bertentangan, entah dari komunikasi dan interaksiku dengan berbagai orang dari latar belakang yang berbeda-beda, buku-buku yang kubaca, film yang kutonton, komentar-komentar kawan-kawan lamaku sendiri soal perkembangan komunitas hardcore/punk terkini, perkembangan teknologi, termasuk juga pengalaman-pengalaman hidup harianku, yang tak bisa dipungkiri akan mengubah pandanganku soal banyak hal, termasuk soal subkultur hardcore/punk. Banyak juga yang mungkin tak pernah sadar bahwa pernah ada kritik atas tulisanku tersebut, yang terbit selang beberapa tahun selepasnya. Saat ini aku tak dapat mengonfirmasi karena aku tak lagi menyimpan semua koleksi zineku, namun masih teringat jelas dalam memoriku soal kritik yang amat singkat tersebut, yang ditulis oleh editor zine “Senyum Palsu”. Hanya satu kalimat saja: “Jelas keliru kalau punk dibilang gagal. Sejak kelahirannya punk tak pernah gagal, karena ia tak pernah berusaha untuk berhasil.”
Paham maksudnya?
Mari kita kembali pada momen kelahiran punk sebagai subkultur di Inggris, London lebih tepatnya. Perhatikan, aku bilang sebagai subkultur, karena secara musikal ia lahir di Amerika Serikat dengan grup-grup proto punk seperti The Stooges, The New York Dolls, atau MC5. Gebrakan spektakularnya harus diakui dimulai di Inggris oleh skandal-skandal yang diinisiasi oleh Sex Pistols serta pengemas di belakangnya seperti Malcolm McLaren, Viviene Westwood, dan Jamie Reid. Dilihat dari kacamata ekonomi politik, generasi pertama di Inggris itu lahir dari krisis ekonomi-politik, depresi ekonomi yang mendalam, dan lahirnya pandangan skeptis pada masa depan. Dengan kata lain, ia lahir dari rahim sebuah tatanan yang gagal, generasi yang menerima bahwa dirinya bukanlah generasi yang layak dilihat secara optimis, tak menerima “takdirnya” secara nihilistik. Kalau pada generasi-generasi selanjutnya subkultur punk bertransformasi menjadi sebuah gerakan serba positif yang begitu optimis pada masa depan, setidaknya di era kelahirannya punk jauh dari itu semua, ia adalah generasi yang gagal.
Jadi kritik sang editor zine tersebut benar, kenapa aku meratapi gagalnya punk kalau memang punk sendiri adalah cermin sebuah kegagalan?
Lantas, bergerak lebih jauh pada upaya retrospeksi diriku sendiri, aku menulis esai soal punk tersebut persis kala aku masih menjadi anggota organisasi Kiri yang berkiblat pada ideologi Marxis-Leninis berkedok anarkis. Tak heran karenanya aku melihat subkultur punk sebagaimana seorang Marxis-Leninis melihat massa: sebuah sumber pasokan massa. Dengan program organisasiku yang bertujuan untuk membentuk organisasi besar berbasis massa dengan kerangka politik yang sudah kami rumuskan bersama, tentu aku berharap bahwa komunitas hardcore/punk adalah komunitas potensial untuk menggolkan arahan organisasiku. Saat hal itu tidak berhasil—yang sebetulnya kini malah kurayakan—dulu aku kecewa dan tulisanku tersebut adalah luapan kekecewaanku. Bahwa punk ternyata sama sekali tidak punya tendensi politis selain hanya bermain-main di tataran citraan belaka.
Dulu aku kecewa. Kini aku tertawa.
Menertawakan diriku sendiri, tentu saja.
Karena tentu saja, subkultur hardcore/punk jelas bukan gerakan politik—sejak kapan ia merupakan gerakan politik? Dick Hebdige dalam Subculture: The Meaning of Style sudah menjabarkannya dengan jelas. Kalau memang pada akhirnya ada sebuah gerakan politik yang lahir dari komunitas hardcore/punk itu bukanlah esensi dari punk itu sendiri, melainkan sekadar perkembangannya, seperti juga misalnya lahir kelompok-kelompok punk muslim, lahir subgenre Straight Edge, anarcho-punk, untuk menyebutkan beberapa. Tapi pada esensinya, punk bukanlah sebuah gerakan politik, punk tidak pernah berbicara mengenai sebuah keharusan untuk melakukan apapun, ia adalah apa yang menurutmu adalah hidupmu, identitasmu sendiri. Ia dapat menjadi apapun. Apapun.
Jadi tujuanku menulis pengantar ini, tak lain untuk sekadar bahwa, hei, tulisan tersebut harus dilihat dalam konteks waktu, ia kutulis pada periode waktu tertentu yang bisa jadi telah berubah. Pandanganku sendiri saja berubah. Sebaiknya kalian membacanya untuk melihat referensi sejarah, bahwa pernah ada pandangan seperti ini dulu. Untuk memahami tulisanku, kalian harus menjadikan ini tak lebih dari sebuah referensi, bukan pedoman, seperti juga seharusnya sebuah tulisan diperlakukan.
Ingat, referensi. Hanya itu. Titik.
Pam
Jakarta, 2024.
***
** EDITORIAL KEPUTUSASAAN PENULIS
Tahun demi tahun terus berlalu. Keadaan sekitar kita berubah dalam masa tersebut, semua berubah dan harus kita akui juga bahwa kita memerlukan perubahan. Perubahan yang tentu saja mengarah kepada yang lebih baik. Tapi dalam perubahan tersebut, kita harus akui juga bahwa ternyata tidak semua orang mengingikan perubahan. Sebagian bahkan seakan menikmati keterbelakangannya dan rela terjebak dalam kemujudan di mana hal itu dibentengi dengan berbagai pembenaran pribadi yang intinya hanyalah pelarian dari sumber masalah yang sebenarnya kita hadapi.
Tulisan berikut adalah tulisan awal pribadi saya mengenal pandanganpandangan saya setelah hampir sekian lamanya terjebak dalam scene yang bersifat statis, mengenai kekesalan-kekesalan saya, kemuakan saya dan bahkan kebencian saya serta kesedihan saya. Saya muak dengan scene ini. Muak dengan segala pembenaran-pembenarannya, apatismenya, termasuk penghianatannya terhadap komunitasnya sendiri.
Pada tulisan pertama ini, saya hanya akan sekilas mengungkapkan problematika nyata yang dihadapi dalam sebuah scene, termasuk beberapa kontradiksinya. Mengenai kebobrokannya dan bagaimana scene ini melakukan sebuah usaha “bunuh diri”, harakiri. Saya akan bahas di dalam bagian kedua buku kecil ini selanjutnya.
Meskipun begitu saya berusaha untuk menghindari seminimal mungkin subyektifitas yang mungkin muncul, meski tulisan ini bersifat “subyektif” namun saya buat se-“obyektif” mungkin. Setidaknya inilah pandangan saya terhadap scene ini, scene di sebuah kota di mana saya hidup, Bandung. Saya tidak terlalu tahu scene lain. Bilamana ada yang ingin memberikan tanggapan, kritik, protes, caci maki, atau surat kebencian lainnya silakan kirim. Saya tidak memiliki masalah dengan surat seperti itu karena kebencian ini pula yang telah membuat hidup saya menjadi sekarang ini.
Kebencian adalah energi!
Bandung, Oktober 1999
** KENYATAAN YANG PAHIT
*** Budaya milik remaja di usia transisi.
Rambut yang berwarna-warni, dandanan unik yang bagi orang biasa dianggap “aneh”, tampaknya adalah sesuatu yang membanggakan bagi banyak remaja di indonesia saat ini. Dandanan yang bagi sebagian orang merupakan hal yang memalukan, bisa dianggap sangat ‘keren’ bagi para pemakainya. Dan tampaknya hampir semua remaja tidak ada yang tidak mengenal dandanan seperti itu, bahkan juga Masyarakat umum.
Seorang ibu yang sudah berumur lewat setengah abadpun, saat meihat seorang anak muda berdandan seperti itu, bisa berkata, “...oooh, anak frustasi”. Ini berarti menandakan bahwa sudah sedemikian mewabahnya budaya punk di indonesia.
Seperti juga budaya dari negeri asalnya, punk pertama diterima di sini oleh kaum remaja. Dari yang seusia 13 tahunan hingga remaja sekitar usia 20 tahunan. Tapi hal ini dapat dilihat sebagai sebuah kewajaran, mengingat bahwa usia remaja memang usia yang penuh dengan gairah ingin mencoba sesuatu yang baru bahkan asing. Dan bukan hal yang aneh lagi bila remaja menyukai hal-hal yang menantang dan cenderung provokatif. Punk yang menawarkan sebuah dandanan yang provokatif menjadi sangat cepat diterima dan diminati oleh para remaja pemberontak, remaja-remaja yang bosan dengan keadaan yang monoton, keadaan yang dirasa terlalu mengungkung kebebasan. Hal seperti ini ada kesamaannya dengan budaya remaja era 60an yang begitu menggandrungi The Rolling Stones. Ada sisi persamaannya, yaitu memberontak terhadap norma-norma sosial yang berlaku, dan mengabaikan aturan-aturan yang dianggap terlalu mengekang. Dan satu sisi persamaan yang paling jelas, yaitu bahwa berjalannya waktu yang berarti juga bahwa usia mereka juga semakin bertambah.
Remaja-remaja punk yang sangat radikal di usia mudanya sekalipun saat menginjak usia yang lebih tinggi akan menjadi lebih mapan, lebih berpikiran moderat yang pada akhirnya juga akan pergi meninggalkan scene yang ditinggalnya. Sama dengan para remaja mantan hippies tahun 60an yang pada usianya saat ini sudah tidak ada bedanya dengan para mantan remaja yuppies. Kaum punk pun demikian, remaja punk yang pada usia mudanya begitu radikal menentang segala jenis hal yang berbau mainstream (termasuk dalam hal berpikir massa secara mainstream--dialektika borjuis), pada usianya kemudian akan kembali berubah menjadi seseorang yang dianggap ‘wajar’ oleh Masyarakat.
“Tampaknya, menentang arus, menjadi seorang anarkis, tinggal di sebuah squat, pada usia 20an tampaknya menjadi sebuah hal yang menyenangkan. Tetapi pada usia 30an, tampaknya akan lebih menyenangkan apabila kita justru menceburkan diri ke dalam arus dan mengikuti kemana saja alurnya mengalir.” -Kent McLard, Ebullition
Kita tidak bisa mengingkari kenyataan seperti itu. Seperti contohnya kita lihat pada seorang punk muda yang kebanyakan begitu bersemangat menentang kolaborasi dengan mayor label, rela tidak menerima banyak uang dari hasil bandnya, rela menanggung resiko tidak terkenal dengan bandnya, rela hidup pas-pasan walaupun bandnya mulai dikenal, daripada harus bergabung dengan mayor label. Tapi seiring dengan bertambahnya usia si remaja tersebut, kebutuhan akan uang pun semakin meningkat. Seiring dengan itu pula idealisme dari punk tadi mulai meluntur. Tampaknya bila bandnya terus saja menjadi sebuah band “underground” yang menolak kolaborasi dengan mayor label, tampaknya hingga kapanpun dia tak akan pernah menerima jumlah uang yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tampaknya apa yang dia perjuangkan selama ini tidak akan sebanding dengan uang yang didapatkannya. Lalu mulailah pemikirannya berganti haluan dan berpindah pihak.
Hal di atas bukan hal yang aneh atau jarang. Kita dapat melihat contohnya pada kehidupan sekeliling kita sehari-hari, di mana wajah-wajah lama para scenester (bahkan yang dulu dianggap sangat radikal sekalipun) akan hilang satu persatu seiring bertambahnya usia dan digantikan dengan wajah-wajah baru para scenester yang usianya lebih muda.
Lalu kemana perginya para scenester tadi?
Kita semua pasti sudah dapat menduganya sendiri. Sebagian ada yang melanjutkan sekolahnya, karena mereka mulai berpikir bahwa sekolah salah satu hal yang dapat menunjang masa depan hidupnya. Lalu Sebagian lain ada yang mulai mencari pekerjaan, mendapatkannya dan sibuk dengan pekerjaannya hingga mereka merasa tak mempunyai waktu lagi untuk sekedar berkumpul bersama, bertukar pikiran atau bahkan juga untuk sekedar bersenang-senang bersama kawan-kawannya dalam scene. Sebagian lain memulai kehidupan berumah tangga bersama pasangannya yang berarti bahwa mereka harus mulai berjuang untuk menghidupi keluarganya, harus mulai bisa dan mampu mencari nafkah, tidak hanya sekedar duduk-duduk, bermain musik dalam band yang tidak kunjung menjadi besar, memperjuangkan sesuatu yang cenderung membuat dirinya teralienasi dari masyarakat dan bahkan untuk tertawa-tawa setiap hari. Seperti telah dikatakan tadi di atas, bahwa memang semuanya itu wajar. Akan lebih mudah bilamana kita yang mulai beranjak tinggi usianya mengikuti arus yang ada, dibandingkan harus berjuang melawannya.
Dari beberapa kenyataan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa budaya punk kelihatannya memang hanya cocok diadaptasi oleh remaja-remaja yang masih mencari jati dirinya sebenarnya, remaja yang belum matang konsep pemikirannya.
*** Budaya yang tidak berbeda dengan budaya bentukan kapitalis
Pada kesimpulan sementara, kebudayaan punk yang memang seakan diperuntukan ‘hanya’ untuk para remaja yang berarti juga tidak ada bedanya kebudayaan punk dengan berbagai kebudayaan bentukan kapitalis lainnya. Benar-benar tak ada bedanya, kecuali satu hal yaitu bahwa para pengikut budaya ini tampak lebih radikal, lebih provokatif dalam hal berpakaian dan bermusik dan cenderung lebih sering bersifat destruktif dibandingkan dengan kebudayaan remaja lainnya.
Trend, atau budaya mainstream tidak lain adalah bentukan dari kebutuhan pasar akan konsumen. Pasar membutuhkan banyak konsumen yang tidak lagi berpikir apakah suatu produk itu sesuatu yang urgen atau tidak, para konsumen digerakkan untuk membutuhkan suatu produk yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan oleh dirinya. Pasar memaksakan hal itu dengan berbagai media promosi seperti iklan. Di mana-mana kita dihadapkan kepada tawaran suatu produk tertentu yang pada akhirnya mengarahkan produk tersebut menjadi sebuah trend mainstream dan mau tidak mau akan memaksa massa untuk menggunakan dan mengkonsumsi produk tersebut. Kecenderungan berpikir bahwa kita harus mengkonsumsi sesuatu dengan kebutuhan kita, akan sedikit demi sedikit dikikis habis. Pemikiran massa akan segera--cepat atau lambat--diatur oleh pasar itu sendiri.
Budaya mainstream yang dilihat sepintas sangat berbeda dengan kebudayaan yang dianut oleh punk, sebenarnya apabila kita lihat dari bentuknya agak sulit apabila ditemui perbedaannya. Kebudayaan punk yang menurut asalnya adalah kebudayaan yang mendorong seseorang untuk berani menyuarakan perbedaannya, pada masa kini cenderung mendorong seorang punk untuk berbuat apa saja hanya demi diterima oleh lingkungannya. Contohnya, kenyataan akan banyaknya remaja-remaja “normal” yang berlomba-lomba dalam hal pakaian yang sedang trend. Bagaimana dengan punk? Remaja-remaja punk juga sama saja, berlomba-lomba dalam hal pakaian yang sedang trend. Dalam kedua hal tersebut sama saja, bahwa kedua remaja tersebut memsakukan dirinya untuk “tampil sesuai dengan komunitasnya” hanya agar dirinya diterima. Perbedaannya hanyalah dalam bentuk dan model pakaiannya dan trend yang sedang melandanya, tetapi inti dari kedua contoh permasalahannya benar-benar sama. Lalu contoh lainnya, saat remaja-remaja ‘normal’ sedang demam musik house-music, hampir semua remaja-remaja mendengarkan musik yang dianggap sedang trend tersebut. Tidak ada bedanya saat remaja punk sedang dilanda demam musik-musik dari band-band crust misalnya. Yang berbeda hanyalah jenis musiknya, tetapi arti dari kedua permasalahannya tetap sama, yaitu demam musik tanpa pernah sekalipun berusaha mengerti inti terdalam dari terciptanya bentuk musik itu sendiri.
Situasi lain yang juga memperlihatkan bahwa kebudayaan punk sebenarnya tidak berbeda dengan kebudayaan mainstream antara lain dalam hal pemakaian mariyuana, alkohol atau obat bius. Dalam budaya mainstream, banyak ditemukan remaja-remaja ‘pemakai’, pecandu obat-obatan yang karena saking kecanduannya maka apa yang dilakukannya sehari-hari hanyalah berkecimpung dengan obat-obatannya, seluruh hidupnya hanyalah demi mendapatkan obat-obatannya. Lalu kita lihat kepada budaya punk, apakah ada bedanya dengan seorang punk yang sehari-hari waktunya hanya dihabiskan dengan berenang dalam lautan alkohol? Yang berbeda hanyalah pada apa yang digunakannya, apa yang menjadi pemandunya yaitu antara obat-obatan mahal dan alkohol, tetapi intinya tetaplah sama saja, yaitu kecanduan. Pada taraf tersebut, kedua perilaku baik dari remaja mainstream maupun remaja punk, akan sama saja, mereka bersedia menghabiskan uangnya demi candu dan kenikmatan semu yang harus didapatkan.
Pada contoh kasus lain, kita beralih kepada segi bermusiknya. Remaja-remaja mainstream berlomba-lomba ingin menjadi seorang pemain musik sehingga dia berusaha untuk bisa diijinkan tampil dalam beberapa klub dan pub. Untuk itu si remaja harus bisa menyesuaikan musik yang dibawakannya dengan selera para pengunjung pub tersebut. Hal ini yang juga berarti bahwa si pemusik harus mampu mengikuti kemauan audience, yang intinya adalah berarti bahwa kemampuan individunya diatur oleh keinginan pasar semata-mata. Lalu kita lihat pada kasus yang menimpa kaum punk. Banyak band punk takluk karena tertarik melihat band-band yang sudah lebih dulu tampil dan mendapat sambutan meriah dari audience. Band-band tersebut lalu karena berkeinginan agar diijinkan tampil, dan agar saat mereka tampil sambutan dari audience baik, maka mereka juga berusaha menyesuaikan musiknya dengan keinginan audience. Jadi tidak ada bedanya, karena keduanya sama-sama diatur oleh kepentingan dan keinginan pasar semata.
Di saat lain, band-band mainstream tampil agar mereka mendapat popularitas, dan tentu saja juga untuk mendapat uang yang dapat dipakai menopang hidup, maka hal itu juga tidak ada bedanya dengan band-band punk yang berkeinginan agar mendapat popularitas dan mendapatkan uang untuk menopang hidup dari hasil bermain band.
Kita juga sebaliknya melihat kepada contoh lainnya, yaitu banyak bermunculannya label-label independen dan distributor independen di masa sekarang ini. Sebenarnya ini tidak ada bedanya dengan pemilik modal yang mendirikan label-label remakan besar seperti Musica atau Aguarius atau bahkan Sony dan EMI. Bila kita bertanya kepada para usahawan independen tersebut apa yang menjadi tujuan dibentuknya label tersebut, adalah tidak jauh dari sebuah usaha untuk mendapat uang. Jadi apa bedanya dengan pendiri label Musica yang bertujuan juga untuk mendapat uang? Tidak ada sama sekali, selain ukuran dan jumlah modal yang dimiliki atau cara mendistribusikannya saja yang berbeda, sementara tujuannya tetap sama yaitu mengeruk uang dan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi kepentingannya sendiri.
Dan masih banyak contoh lainnya yang merupakan sebuah kesamaan dalam kedua kebudayaan yang mengaku bertentangan tersebut.
*** Tidak ada gerak nyata dari budaya punk.
Budaya punk yang sedianya dimunculkan secara spontan oleh karena ketidakpuasan terhadap penguasa dan system yang berlaku, kenyataannya saat ini yang terjadi malah sebaliknya dari hal tersebut. Dan kasus ini bukan hanya terjadi di negara kita saja, melainkan juga terjadi di berbagai belahan bumi lainnya.
“Punk adalah resistensi" - Seein Red
Gerakan punk yang pada awal kemunculannya merupakan sebuah ancaman besar dari kaum mudanya terhadap ketidakberesan sistem dan penguasa, saat ini tidaklah lebih daripada sebuah budaya yang apatis, ketidakpedulian terhadap keadaan sistem yang tidak beres dan hanya merupakan sebuah budaya apolitik. Punk yang seharusnya diharapkan dapat menciptakan sebuah budaya tandingan atas budaya mainstream yang membosankan (pada perkembangan punk bahkan sudah berevolusi menjadi sebuah budaya perlawanan), tidak mampu untuk bergerak sebegitu jauh dan pada akhirnya memang seakan melebur kepada bentuk budaya kaum kelas menengah ke atas yang hanya tampil dengan kemasan Masyarakat kelas bawah.
Sepertinya juga kebudayaan-kebudayaan mainstream lainnya yang tidak pernah berubah menjadi sebuah bentuk Gerakan, kebudayaan punk pun demikian adanya. Kalimat-kalimat seperti 'punk movement', 'revolution’, 'fuck the system’ dan lain sebagainya jadi tidak pernah terealisasikan dengan baik selain hanya sekedar menjadi penghias lagu-lagu dan desain-desain dari band-band yang berkecimpung di dalam scene. Pesan-pesan yang disampaikan oleh berbagai band lewat lirik-lirik lagunya tidak pernah menjadi sebuah fenomena nyata. Lirikpun pada akhirnya hanyalah menempati urutan kedua setelah musik. Asalkan music sudah cukup keras dan bisa dinikmati, segalanya dianggap beres. Dalam kehidupan nyata sehari-hari, diakui atau tidak kebanyakan dari kita menggunakan slogan-slogan dan lirik-lirik maupun juga desain sebuah bandnya hanya dengan alasan agar terlihat radikal, dan bagi kebanyakan dari kita sesuatu yang radikal dianggap sebagai sesuatu yang ‘cool'. Kita tidak merasa perlu untuk merealisasikan ucapannya, atau juga sekedar berucap “radikal” saja, tidak menjadi masalah di sini. Kebebasan pribadi adalah nomor satu diatas segalanya. Hal inilah sebenarnya adalah sesuatu yang merusak makna dari punk itu sendiri, dimana seorang punk cenderung menjadi individu yang egois, apatis, semau sendiri dan tidak mau tahu apapun yang dianggapnya tidak penting bagi dirinya secara individu.
Bila hal ini terus dibiarkan berkembang, hasilnya adalah kehancuran dari budaya punk itu sendiri. Ini adalah sebuah hal yang seharusnya juga disadari oleh para remaja yang mengklaim dirinya sebagai seorang punk.
** APA YANG TERJADI DALAM SCENE LOKAL?
Setelah tadi di atas kita berbicara mengenai keadaan obyektif yang terjadi di berbagai belahan bumi ini, ada baiknya kita melihat juga secara lebih terperinci pada kenyataan yang terjadi dalam scene lokal di mana kita tinggal.
Semenjak sekitar tahun 1996, di berbagai kota di negara sialan ini muncul berbagai komunitas yang menamakan dirinya “underground”. Komunitas yang diikuti oleh banyak anak-anak muda usia remaja yang merasa tidak cocok dengan keadaan sosial di sekelilingnya. Komunitas anak muda yang ingin bebas, yang bosan dengan berbagai kekangan dan tekanan sosial disekelilingnya.
Hal-hal yang dianggap negatif oleh orang-orang biasa (baca: awam) tampaknya tidak terlalu menimbulkan masalah di sini, seperti contohnya mabuk atau menghisap Ganja. Norma-norma sosial yang usang hanya merupakan basa-basi seperti pakaian rapi atau rambut tersisir rapi, selalu bersih dan sebagainya tampaknya juga tidak dipedulikan di sini. Buktinya dapat dilihat pada dandanan yang melekat di badan sebagian besar dari mereka para penghuni komunitas tersebut yang terkesan seenaknya, tapi mempunyai nilai estetik sendiri bagi para pemakainya. Hal-hal tersebut dapat dikatakan sebagai salah satu sebuah ekspresi pemberontakan, ekspresi keinginan untuk bebas dari berbagai hal-hal yang mengekang dan menimbulkan rasa ketidakpuasan.
Tapi selain hanya diisyaratkan melalui simbol fashion, sebagian besar dari para penghuni komunitas tersebut melakukan, menyampaikan sisi pemberontakannya melalui media musik. Hampir dari setiap kelompok-kelompok tersebut yang tersebar di berbagai kawasan dapat dipastikan mempunyai band-bandnya sendiri.
Seperti juga budaya-budaya remaja lainnya, budaya punk masuk kemari antara lain atas perantara musik yang diusung band-band internasional yang muncul lebih dahulu. Dan juga, seperti layaknya perkembangan budaya lainnya, maka dalam komunitas lokalpun mulai banyak bermunculan bandband serupa.
Sebuah hal yang menggembirakan apabila memang semua band-band yang ada memberikan sebagian kekuatannya bagi pergerakan pemberontakan melalui jalannya sendiri yaitu melalui musik. Tapi pada kenyataannya, justru band-band yang ada hanya sekedar menjadi band-band pelengkap, bukan menjadi inti dari pergerakan komunitas itu sendiri. Band-band baru muncul dan bersamaan dengan ini pula tidak sedikit band-band yang mati, tanpa pernah meninggalkan satu kesanpun dalam komunitas tersebut.
Adalah sebuah hal yang bagus apabila band-band yang ada turut berperan secara aktif dalam pergerakan dan perkembangan budaya punk itu sendiri. Tapi pada kenyataannya, band di sini hanya muncul secara murni sebagai bentuk entertainment, tidak lebih. Band-band yang mulai matipun tidak ada yang meninggalkan kesan mendalam dalam mendukung pergerakan budaya perlawanan itu sendiri. Seandainya ada, jumlah band tersebut dapatlah dihitung dengan jari, begitulah minoritas dalam jumlah keseluruhan bandband yang muncul menjamur seperti jerawat di muka negeri ini.
Untuk mempersingkat tempat, kita langsung saja pada salah satu pokok permasalahnnya, yaitu kenapa band-band banyak lebih memilih untuk mati dibanding untuk terus berusaha?
*** Band memilih untuk mati. Mengapa?
Berbicara soal ini, banyak kita temukan sebab-sebab matinya band-band yang katakanlah “underground”. Salah satu di antaranya, yang paling sering terjadi adalah karena kurangnya kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya sebagai musisi di panggung-panggung pertunjukan, ketidakcocokan personal band yang satu dnegan yang lain, ketidakmampuan band tersebut untuk berdiri sendiri secara independen, bahkan juga karena miskinnya informasi yang didapat mengenai apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh band-band yang mengaku “underground”.
Selain masalah-masalah di atas, tentu saja masih terdapat banyak lagi masalah yang tampaknya tak akan dapat disebutkan dalam artikel ini secara mendetail satu-persatu. Tapi dilihat dari kejadian yang paling sering terjadi adalah masalah di ataslah yang paling sering. Jadi alangkah baiknya kalau kita bahas saja mengenai masalah-masalah di atas.
**** sangat tipisnya kesempatan untuk tampil
Sebenarnya sangat tidak pantas untuk membicarakan masalah tersebut, karena saya sendiri masih agak khawatir akan sebagian pihak yang mungkin sedikit tersinggung dengan apa yang akan saya nyatakan di bawah ini. Tapi saya pikir, saya sendiri pernah setidaknya mengalami masa-masa tersebut di mana band saya yang dulu banyak menerima tawaran untuk bermain di banyak tempat dan saya juga pernah mersakan masa di mana sebuah band muncul, tidak dikenal, tidak bisa diharapkan membawa banyak penonton untuk datang, sulit sekali untuk mendapat kesempatan unjuk kebolehan di panggung pertunjukan.
Memang ini sebuah masalah yang sangat mengganggu, di mana sebagian band (yang sudah cukup dikenal tentunya) mendapat banyak sekali tawaran untuk tampil, dan dibayar pula. Sementara ratusan band-band kecil lainnya sangat sulit untuk mendapat kesempatan tampil. Sekalinya band-band kecil mendapat kesempatan tampil, yang sering terjadi adalah bahwa band kecil tersebut menjadi band-band seleksian di mana rasanya mereka hanya disepelekan, tidak dianggap penting oleh panitia pelaksananya. Tampak bukan sebuah kesengajaan yang makin lama akan menganga makin lebar, antara band-band yang dianggap “besar” dan band-band yang “kecil".
Masalah ini tampaknya memiliki kesamaan dengan kondisi sosial masyarakat di bawah sistem kapitalisme yang memiliki kecenderungan di mana kaum minoritas yang kaya akan menajdi semakin kaya, sementara kaum mayoritas yang miskin akan semakin bertambah miskin. Sama persis dengan kejadian di mana band-band ‘besar’ yang sering tampil akan menjadi semakin sering untuk tampil sementara band-band “kecil" yang merupakan mayoritas dalam segi jumlah, yang jarang sekali tampil, akan semakin jarang untuk tampil hingga akhirnya tidak sedikit band yang memilih untuk mati.
Yang namanya kesenjangan, di mana-mana selalu saja akan menimbulkan efek-efek yang sangat merugikan kita semua. Kesenjangan ekonomi, menimbulkan sikap rasisme yang membahayakan, dan kesenjangan antara sering tampil dan tidak, juga menimbulkan sebuah efek yang menyedihkan. Bagaimana tidak menyedihkan apabila kita melihat betapa band-band “yang di nomorduakan” memilih untuk mati, sementara di saat yang sama kita juga melihat betapa band-band “besar” menjadi semakin terlena dengan popularitasnya yang kadang memiliki kecenderungan untuk bersikap seperti seorang “rockstar” (hal yang merupakan dosa besar bagi komunitas ini). Efek lainnya dari kesenjangan tersebut antara lain munculnya sikap benci, sikap kompetitif yang berkeinginan untuk menjadi ‘lebih’ dengan cara apapun juga. Contohnya, di Bandung belum lama ini muncul gerakan skinhead-skinhead yang mengaku rasis (terhadap kaum china) yang salah satu alasannya adalah karena rasa iri akan (diakui atau tidak) terkenalnya sebagai komunitas lainnya. Komunitas yang lebih terkenal ini seperti dalam bahasan ini, memiliki band-band yang tentu saja, sering tampil. Komunitas rasis tersebut ingin menandingi berbagai propaganda yang dilancarkan oleh komunitas yang lebih terkenal tersebut, yang tentu saja alasanya adalah karena banyak orang menjadi setuju dengan propaganda komunitas yang lebih terkenal tersebut. Tapi propaganda tandingan (dalam kasus ini propaganda rasis) bukan tidak mungkin menjadi sebuah bahaya baru yang dapat mengahancurkan dan merugikan semua komunitas karena melihat adanya indikasi komunitas-komunitas yang tersisihkan oleh komunitas terkenal tersebut. Tentu saja komunitas-komunitas yang lebih tersisih tersebut akan merasa senasib, akan mudah terbawa oleh propaganda-propaganda sesat rasis tersebut yang berarti juga akan semakin meluasnya paham bodoh rasialisme dalam komunitas kita yang juga akan merusak komunitas manusia secara lebih luasnya. Sebenarnya tidak masalah apabila sebuah komunitas mempropagandakan sesuatu yang mereka rasa benar, tidak masalah apabila beda komunitas beda idealisme sendiri, tapi tentu propaganda tersebut seharusnya didukung oleh fakta-fakta yang jelas dan masuk akal. Tidak seperti munculnya paham rasis hanya karena komunitas rasis tersebut (yang dulunya bukan rasis) memilih menjadi rasis hanya karena kecewa, lalu menonton film-film mengenai rasis dan tanpa berpikir panjang mereka mengikuti apa yang ada di televisi[1].
Lalu juga munculnya rasa separatis dalam komunitas kaum minoritas ini. Keinginan untuk memisahkan diri dan ketidakmauan untuk bekerja sama dengan komunitas yang dirasa lebih beruntung. Hal ini bukan mustahil karena mengingat bahwa rasa separatis itu biasanya muncul dikarenakan rasa kecewa, ataupun rasa iri. Dan ini sudak banyak terjadi di berbagai tempat dan berbagai kasus. Buktinya, juga di bandung ini, tidak jarang kita dengar omongan-omongan miring.
“Ah, anak-anak A (kita sebut saja begitu untuk komunitas yang lebih beruntung) main terus di banyak acara sementara kita tidak pernah. Kalian lupa sama kita dan kalian cuma ingat apabila kalian membutuhkan kita.”
Hal ini yang bermula dari kesenjangan jam manggung, bisa mengakibatkan pecahnya scene yang seharusnya dibangun dan dijalani bersama. Bukan tidak mungkin juga akan mengakibatkan kebencian dan permusuhan antar scene.
Ah, tampaknya saya semakin melantur. Oke, kita kembali kenapa bisa terjadi kesenjangan jam terbang...
**** Mulai munculnya kesenjangan antara band yang sering tampil dan yang tidak.
Jawaban dari masalah ini sebenarnya sangat simpel apabila kita melihat kepada semua aspek kehidupan yang mengalami keadaan serupa, yaitu, masuknya campur tangan para kaum pemilik dan mengeruk modal (baca: kapitalis) ke dalam komunitas kita.
Tidak percaya? Lihat saja, beberapa enterprise yang muncul dengan berbagai macam acaranya sejak komunitas “underground” dianggap dapat mendatangkan keuntungan yang cukup berlimpah. Saya tidak akan menyebutkan di sini nama-nama enterprise tersebut. Tapi setidaknya kita dapat melihat sendiri, nama-nama enterprise yang mengadakan acara-acara musik untuk perkembangan komunitas itu sendiri, dan mana enterprise yang mengadakan acara dengan satu tujuan, yaitu: uang. Kita dapat lihat sendiri.
Di berbagai tempat di mana kaum kapitalis mulai beraksi, di situ pula akan muncul sebuah kesenjangan yang berarti juga munculnya sebuah masalah yang berkepanjangan.
Tanya: “Apa sih menurut kamu underground itu?”
Jawab: “Komunitas yang khusus.”
Tanya: “Maksudnya komunitas yang khusus bagaimana?”
Jawab: “Pokoknya komunitas khusus.”
Tanya: “Bisa terangkan maksudnya...”
Jawab: “Pokonya komunitas khusus!”
Berikut tadi adalah sebuah kejadian nyata (true story). Sebuah perdebatan tanpa akhir antara saya dan beberapa teman saya dengan beberapa panitia enterprise yang kami pikir mereka hanya mengadakan acara demi uang, bukan demi kemajuan komunitas kita, tetapi mereka masih juga memakai nama underground. Di akhir perdebatan, masalah tidak beres. Mereka masih tetap dengan money-mindednya dan kami masih juga dengan idealisme kami yang mungkin bagi mereka kami sangatlah tidak realistis[2]. Kita dapat lihat sendiri bahwa para panitian tersebut, yang mengaku bahwa acara yang mereka adakan itu adalah acara “underground” tetapi mereka sendiri tidak tahu sama sekali soal apa itu underground.
Dalam berbagi kejadian, yang lebih jelas lagi adalah bahwa para kaum pemilik modal (kapitalis) itu bukanlah berasal dari komunitas kita sendiri. Mereka sama sekali tidak mengerti apa-apa tentang punk, hardcore, grindcore, ska atau apapun namanya yang sering kali mengklaim sebagai “underground”. Mereka sama sekali tidak mengerti kenapa komunitas ini terlampau banyak berpikir secara idealis. Mereka tidak pernah mengerti mengapa kebudayaan yang dianut komunitas ini timbul di dunia. Dan yang pasti mereka juga tidak akan pernah peduli akan semua itu selama mereka bisa mendapatkan banyak uang dari komunitas tersebut. Mereka tidak akan peduli apakah komunitas ini akan mati atau hidup selama mereka masih bisa memeras dan mendapat uang dari keringat para penghuni komunitas ini (scenester). Tidak peduli apakah itu namanya penindasan terselubung atau apa yang penting bagi mereka satu, UANG.
Nah, lalu yang menjadi masalah bagi mereka adalah bagaimana caranya agar dompet mereka cepat tebal. Dan salah satu caranya adalah dengan menyelenggarakan acara-acara berkedok “underground” yang menampilkan band-band dari komunitas “underground” yang paling dikenal. Kenapa mereka memilih hanya band-band yang sudah terkenal? Karena itu akan mengundang banyak penonton yang berarti juga mengundang datangnya uang. Mereka tidak peduli betapa banyak band-band kecil yang tersisa yang membutuhkan bantuan untuk juga dapat menjadi sekedar dapat terus hidup dengan sekedar tampil. Buat apa mereka memajukan, memberi bantuan pada band-band kecil, toh band-band kecil tersebut tidak akan dapat membawa banyak uang bagi mereka. Perlu diingat sekali lagi, bahwa yang paling penting bagi kaum kapital itu adalah uang. Sementara majunya band-band yang masih kecil yang berarti juga memajukan scene tidaklah akan memajukan hidup mereka dalam masalah uang.
Tapi yang sering menjadi masalah adalah justru kenyataan bahwa hampir semua dari pihak penyelenggara acara adalah kaum kapitalis tersebut. Band-band tidak mempunyai pilihan lain selain untuk menyetujui apapun konsekuensinya berkolaborasi dengan pihak kapitalis. Kalau sudah begini yang terjadi adalah bahwa pihak kapitalis akan merasa menang. Dan di mana-mana dalam sebuah kompetisi, pihak pemenang biasanya akan selalu berbuat seenaknya sendiri selama hal itu tidak merugikan dirinya. Contohnya, dengan banyak diadakannya seleksi-seleksi untuk mengeruk lebih banyak lagi uang. Tidak masalah apabila seleksi diadakan untuk menyaring band-band yang dikehendaki, band-band yang sudah dianggap mampu untuk memulai maju. Tapi dalam kasus ini, seleksi diadakan hanya semata-mata untuk mengeruk uang lebih, dan lebih sialnya lagi, band-band yan diseleksi diharuskan membayar biaya yang sangat mahal untuk mengikuti seleksi, lalu bila terpilih membayar biaya tambahan, sedang pada saat tampil di panggung band tersebut hanya mendapat kesempatan tampil sangat singkat. Selain itu pada waktu tampil, band-band tersebut diperlakukan seenaknya oleh pihak penyelenggara seperti jadwal mainnya yang diubah-ubah seenaknya, (kadang) jatah konsumsi yang berbeda dengan band-band “bintang tamu", jatah kartu pass yang juga seringkali tidak rasional. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, tahun lalu di bandung ada acara musik di mana band-band peserta seleksi saat dipanggil ke panggung oleh MC hanya dipanggil nomor pesertanya, bukan nama bandnya. Apakah itu yang kita semua harapkan? Mana penghargaan dari pihak panitia terhadap band-band tersebut? Lalu yang lebih beberapa menit, band-band “bintang tamu” mendapatkan bayaran yang cukup besar dan mempunyai hak istimewa untuk tampil lebih lama di pangung. Padahal baik itu band-band “seleksian” ataupun band-band “bintang tamu" semuanya juga membayar uang yang sama waktu Latihan dan mereka juga sama-sama berusaha dengansusah payah menciptakan lagu dan musik sendiri.
“Minum coca cola? Hal itu sangatlah tidak punk. Terlebih lagi apabila kita meminta bantuan dari mereka..." - Aus Rotten
Lebih parah lagi akan adanya semacam trend untuk mencari sponsor yang bersedia mendanai acara-acara tersebut dengan menggunakan sponsor-sponsor dari korporasi-korporasi multinasional yang jelas-jelas mereka tidak peduli sama sekali dengan apa yang diperjuangkan oleh kita. Apapun yang kita perjuangkan, apapun yang kita harapkan, mereka tidak akan peduli selama mereka mampu meraup untung yang sangat besar. Secara langsung atau tidak, sebenarnya pemakaian sponsor-sponsor seperti itu justru menghancurkan idealisme kita sendiri. Hal ini bertentangan dengan apa yang kita perjuangakan dalam kebudayaan kita.
Tidak menjadi masalah apabila kita menggunakan sponsor-sponsor dari beberapa Perusahaan yang kita pikir mereka tidak sebesar dan seberkembang perusahaan korporasi-korporasi multinasional. Contohnya dapat kita lihat dari apa yang terjadi di semarang. Di sana beberapa organiser acara menggunakan sponsor dari usaha-usaha “home industry” seperti perusahaan kecil furniture (mungkin agak sedikit aneh karena rasanya furniture tidak berhubungan langsung dengan scene kita). Tapi hal itu bagus sekali karena selain acara yang diadakan bertujuan membantu band-band yang kecil, selain itu mereka juga mendukung usaha-usaha para pengusaha kecil.
Kini kita melihat pada sudut pandang band-band “bintang tamu”. Bukan seratus persen salah mereka apabila band mereka diundang untuk tampil dan diadakan negosiasi harga. Siapa yang tidak mau saat bandnya diundang untuk tampil di suatu acara, dan dibayar?
Tapi “bintang tamu" itu juga bukannya seratus persen tidak bersalah, karena disadari atau tidak, justru merekalah salah satu pendukung para kapitalis tersebut yang secara tidak langsung juga mendukung terpuruknya kesenjangan jam manggung, yang pada akhirnya adalah berarti juga mendukung terciptanya kehancuran scene dan kelangsungan hidup band itu sendiri. Bagaimana tidak, lihat saja, apabila para band-band yang sudah lebih “terkenal” menolak untuk tampil di acaraacara yang menyudutkan band-band kecil, maka sudah pasti enterprise itu juga tidak akan dapat berbuat apapun untuk mengeksploitasi scene kita. Dan dengan kata lain, band ‘terkenal’ itu akan turut berjuang bersama band “kecil” demi persamaan di antara sesama band yang mengaku “underground”. Equality, ha?
Kita semua sebagai penghuni scene sudah seharusnya mengerti dan merasa memiliki akan scene ini. Bila kita berkata bahwa ketidakseimbangan itu adalah sesuatu yang alami dan lebih baik kita biarkan saja terjadi, itu juga berarti bahwa kita juga menyetujui akan adanya sistem inequality dalam keseluruhan konteks kehidupan kita. Hal itu berarti bertentangan dengan kepercayaan dasar kita semua kan? Kepercayaan yang mengagungkan equality, persamaan dalam hidup kita... Kita kan penghuni scene ini, kesulitan maupun kemudahan yang terjadi dalam scene kita, kita sendiri yang merasakannya, bukan para kaum kapitalis yang jelas-jelas bukan bagian dari scene kita. Lalu mengapa kita membiarkan kaum kapitalis itu ikut campur tangan dalam kehidupan komunitas kita? Kita yang hidup di scene ini, berarti apapun yang menjadi keputusan kita seharusnya bertujuan untuk menjadikan scene kita menjadi lebih baik. Bukan sebaliknya. Suatu band bisa menjadi besar, terkenal, karena satu faktor pendukung yang sangat vital, yaitu adanya respon yang baik dari para penonton. Lalu sekarang bukankah para penonton tersebut juga mempunyai band-band yang seharusnya kita support? Kita mendapat bantuan dari audiens. Vice versa.
Disini yang sering juga terjadi adalah di mana sebuah enterprise mengadakan sebuah acara yang konteks acaranya yaitu dengan menarik banyak uang dari para peserta band seleksi, menawar honor “bintang tamu" serendah mungkin, menggunakan banyak sponsor yang membantu pemasukan keuangan mereka, dan terakhir mereka mematok harga acara dengan harga yang gila-gilaan. Kita dapat melihat, betapa sebenarnya scene kita sudah terlalu dieksploitasi oleh para kapitalis.
Nah, masalah ini seringkali tidak pernah terpikirkan oleh kita semua. Hal ini ada kaitannya juga dengan salah satu alasan di atas kenapa banyak band-band kecil mati, yaitu, sangat begitu minimnya pengetahuan dasar mengenai etika dalam scene kita. Kebudayaan apapun pasti juga mempunyai beberapa etika dasar dalam kehidupannya, tidak terkecuali komunitas kita yang mengklaim kebebasan penuh. Kebudayaan tanpa etika, adalah kebudayaan yang mati, karenanya sebebas apapun diri kita dalam scene, etika scene tidak boleh kita lupakan. Oke, kita masuki babak baru lagi, yaitu masalah minimnya informasi dalam scene kita...
**** Miskinnya informasi yang beredar dalam scene.
Di dalam era krisis ekonomi yang gila-gilaan di mana harga pos maupun harga hidup juga ikut-ikutan gila ini, tampaknya mendapatkan informasi juga mendjadi hal yang sangat sulit. Jangankan untuk membeli stuff dari luar negeri seperti majalah ataupun CD atau kaset, untuk biaya ongkos dan makan sehari-hari saja banyak dari kita yang morat-marit. Jadi ya, tidak terlalu salah kita apabila kita yang hidup di negara brengsek ini selalu ketinggalan informasi.
Tapi ada satu sisi yang juga menghambat berkembangnya pengetahuan kita dalam scene, yaitu kadang banyak terdapatnya manusia-manusia yang malas membaca, malas mencari informasi, maunya disuapi terus tanpa mau berusaha sendiri. Entah kenapa hal ini banyak terjadi dalam scene kita. Mungkin ini juga hasil daripada taktik pemerintah agar rakyatnya tidak senang berdiri sendiri (karena orang yang mampu independen adalah orang yang berbahaya bagi kelangsungan hidup penguasa).
Yang seharusnya dilakukan oleh para penghuni scene adalah saling berbagi informasi. Di saat ada sebagian yang memiliki banyak sumber informasi, mereka harus mau berbagi, harus mau mendistribusikan informasi tersebut agar semua scenester juga kebagian arus informasi, tidak ditelan sendiri. Tapi pada saatnya juga, bagi yang selalu hanya mendapat bagian informasi agar tidak puas hanya diberi saja oleh scenester yang kaya informasi, melainkan dia juga harus mampu untuk mencari sendiri sumber informasi lainnya. Bila dia hanya menunggu untuk diberi informasi saja, bilamana ada sesuatu yang tidak disetujuinya, dia hanya bisa menelannya sendiri, tidak tahu harus berbuat apa, dan pada akhirnya hanya akan dilampiaskan pada hal-hal yang merugikan semua komunitas (seperti pada kasus munculnya gerakan skinhead di bandung).
Bilamana semua scenester mampu berusaha dangan kemampuannya sendiri untuk mencari sumber informasi, niscaya yang terjadi dalam sebuah komunitas yang saling berbagi informasi, saling melengkapi, saling memberi dan juga saling menerima. Tidak ada sentralitas informasi, tidak ada sebagian yang hanya mampu disuapi saja, tidak ada ketidakseimbangan informasi dan pengetahuan, yang pada akhirnya semua akan merasa sama, saling membutuhkan, dan saling membantu yang pada hasilnya akan memperkuat scene kita.
Bukankah membeli stuff dari daerah manapun, selain itu berguna bagi diri kita sendiri, tanpa disadari itu juga berarti turut mendukung scene yang penjual stuff. Contohnya, bila kita membeli kaset “Agathocies” (misalnya) dengan cara mailorder, walaupun itu bagi kita sangat mahal, hal itu berarti juga bahwa kita turut mendukung scene di mana band Agathocies itu tinggal (yang pada kenyataannya kehidupan mereka tidak jauh berbeda dengan kondisi kehidupan di sini, hanya mereka tinggal di negara yang lebih beruntung). Dan yang lebih menariknya lagi adalah bahwa dengan kita membiasakan diri seperti itu, kita akan mengenal banyak scenester-scenester lain yang sering kali lebih maju dalam banyak hal daripada diri kita. Itulah salah satu sumber informasi, yaitu dengan berusaha sendiri semampu kita, membuka hubungan dengan daerah manapun, maka kita akan mendapat banyak sekali masukan-masukan berharga bagi perkembangan scene dan diri kita pribadi (bila kita punya band, ya setidaknya juga bagi perkembangan dan kemajuan band). Kita lalu lihat pada contoh kasus, apabila kita membeli kaset bajakan (yang notabene lebih murah daripada kita mengorder langsung). Apa yang kita dapatkan? Kita hanya mendapat kasetnya saja, yang seringkali juga tanpa lirik (bukankah lirik juga salah satu media pemberi informasi?). Kita tidak mendapatkan apapun selain itu. Apakah kita lalu bisa mengenal dan bertukar pikiran dengan band itu sendiri? Tidak. Apakah kita lalu tahu apa yang band tersebut ingin sampaikan? Tidak. Kita tidak akan mendapat apa-apa selain hanya mendapat kaset berisi musik yang kadang liriknya saja tidak terdengar.
Seperti sudah sering kali banyak majalah-majalah independen katakan, bahwa sebenarnya informasi-informasi bagi kita para scenester, sebenarnya sudah terhampar sangat luas, seluas masuk dan diedarkannya rekaman-rekaman band-band independen dari luar negeri. Kita mau tidak mau harus mengakui juga bukan, bahwa mereka yang berada di luar negeri sudah lebih maju daripada kita. Bukankah kita mau tidak mau harus mengakui bahwa budaya kita ini berasal dari barat. Tidak usah munafik. Kita akui saja. Cuma yang penting, kita oleh lagi budaya itu untuk diadaptasikan dengan keadaan obyektif kita disini dan tentu saja dengan tidak meninggalkan etika-etika dasar dari budaya tersebut.
Semua ini sebenarnya bukanlah soal apakah kita malas membaca atau tidak, tidak mengerti bahasa Inggris atau tidak, bukan soal membeli kaset bajakan atau tidak, melainkan soal apakah kita sudah mengerti apa yang kita jalani, apa yang kita pilih dalam hidup kita ini. Dan yang penting, apakah kita mengerti apa sebenarnya yang kita sedang lakukan saat ini? Di situlah saat informasi menjadi sesuatu yang penting...
**** Ketidakmampuan band-band untuk berdiri secara independen.
Kita Kembali lagi kepada pokok permasalahan kita tadi, soal mengapa banyak band-band kecil memilih untuk mati. Satu masalah umum lainnya adalah karena banyak band-band yang tidak bisa berdiri secara independen. Banyak band-band tersebut diakui atau tidak, hanya mengandalkan orang lain untuk berbuat sesuatu, tapi tidak mulai berusaha melakukannya sendiri.
Lihat saja, band-band yang merasa mendapat kesulitan untuk tampil, kebanyakan mereka tidak pernah berusaha untuk membuat acara sendiri. Mereka memilih untuk mengikuti acara-acara seleksi yang seperti sudah kita bahas di atas mengenai betapa meruginya band tersebut, daripada memilih bersusah payah membuat acara sendiri.
Sudah sejak dimulainya budaya “underground”, hal ini tidak bisa lepas kaitannya dengan budaya ‘do-it-yourself’ atau sering kali kita sindkat dengan d.i.y. Kalian kira kenapa komunitas ini disebut-sebut sebagai komunitas “underground"?
Menurut saya pribadi, menjadi sebuah band dalam komunitas d.i.y. tidaklah cukup untuk dapat sekedar bisa bermain musik atau bisa menciptakan lagu, atau sekedar mencari jam main yang cukup lalu mengedarkan albumnya. Tidak. Sangat tidak cukup. Karena hal yang terpenting dalam komunitas ini adalah komunikasi. Ya, bisa komunikasi dengan sesama scenester lokal, maupun scenester di luar komunitas kita sehari-hari. Jadi seorang personel band harus mampu untuk berkomunikasi dengan scenester lain yang terkadang jarak menjadi halangan, yang berarti juga bahwa seorang personel band harus mampu untuk menulis surat. Mau pakai apalagi berkomunikasinya kalau kita tidak melaui surat? Mau pakai telephone? Saya pikir untuk menggunakan telephone terlalu mahal biayanya. Jadi jalan satu-satunya ya menggunakan surat, atau email. Tapi konsekuensi dari itu semua, mau tidak mau kita juga harus mau untuk membalas setiap surat yang masuk. Dengan cara inilah komunikasi berjalan.
Selain itu, bagi band kita, mengapa manggung terus menjadi alasan? Bila kita memang benar-benar berniat untuk menyampaikan pesan, misi, mengapa harus selalu melaui panggung-panggung pertunjukan? Bukankah kita juga mampu untuk menyampaikan pesan-pesan kita melalui tulisan-tulisan kita? Bila kita pikir kita tidak mampu menulis, sebenarnya hal itu tidak ada bedanya dengan cara menulis sebuah lirik. Apabila kita mampu menulis lirik lagu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mampu menulis sebuah tulisan. Kadang seseorang berkata bahwa dia tidak mau menulis sesuatu karena dia pikir pengetahuannya belum cukup untuk menulis sesuatu. Tapi hal itu sebenarnya sangat tidak masuk akal. Karena apabila dia belum siap untuk menyampaikan sebuah pesan, sebuah tulisan, berarti dia juga belum mampu untuk menulis sesuatu melalui lirik-lirik lagunya. Kalau dia sudah mampu menulis sesuatu melalui lirik-lirik lagu, tidak ada alasan dia belum siap menyampaikan sesuatu melalui media tulisan. Atau juga ada satu kemungkinan lainnya, yaitu bahwa dalam menulis lirik lagu, banyak terjadi kasus seseorang menulis lirik lagu secara asal-asalan. Asal ada lirik, asal terdengar pas dengan musik, asal musiknya nikmat didengar, dan berbagai alasan lainnya. Tapi ada juga alasan yang mungkin agak aneh, yaitu bahwa seseorang menulis lirik lagu sesuai dengan tema yang sering kali diangkat oleh band-band di luar sana, tanpa pernah menyadari mengapa dia menulis seperti itu. Contohnya begini, sebuah band menulis lirik seperti “Fuck Government" tapi saat ditanya mengapa dia membenci pemerintah, jawaban yang diberikan sangatlah absurd, yaitu “tidak tahu!”. Lalu diajukan pertanyaan, “Bila tidak tahu, mengapa kamu menulis hal itu?” dan dia menjawab, “Karena rata-rata band luar menulis hal itu juga’" Absurd bukan?
Hal di atas sering kali terjadi. Sebuah band menulis sesuatu hanya karena banyak band-band pendahulunya juga menulis hal-hal seperti itu, bukan karena band tersebut memang mengerti apa arti dan maksud dari hal tersebut. Contoh lain, adalah banyak dipakainya logo anarki oleh para penghuni scene. Tapi jarang sekali yang benar-benar mengerti apa makna dari logo itu sebenarnya. Lalu bila ditanyakan alasanya mengapa logo itu digunakan? Jawabannya hanya, karena band-band di luar juga mengenakan logo tersebut. Bila lalu kita sampaikan tentang apa yang dimaksud anarki itu sebenarnya, jawaban dari mereka adalah, “Ah pusing, semau saya mau memakai apa saja”. Hal ini tampaknya begitu membudaya dalam komunitas di negeri sialan ini. Tapi hal itu juga tidak hanya masalah dalam pemakaian logo anarki saja, melainkan merasuki ke semua logo-logo yang banyak digunakan. Dan ini kenyataan.
Kita tidak akan mungkin bisa maju, bisa berdiri secara independen apabila kita tidak mau benar-benar belajar mengenai apa sebenarnya yang kita jalani ini. Bila kita hanya mengandalkan ucapan kuno, “think for yourself” yang apabila di sini diartikan “semau saya”, scene kita tidak akan maju-maju. Bagaimana kita bisa berpikir “semau kita” apabila metode cara berpikir kita tidak mengerti. Ya, istilahnya bagaimana kita bisa berenang apabila kita tidak mau masuk ke dalam air.
Kita seharusnya bisa mulai untuk mempelajari apa-apa yang kita rasa memang perlu. Membuat sebuah band memang mudah, tapi apakah mudah untuk bertindak serius dengan band kita? Itulah yang sulit. Menentukan arah tujuan band kita, itu yang sulit. Dan mengerti bagaimana cara menjalankan, memanage band kita sendiri, itu yang sulit.
Penggunaan manager dalam band kita, itu tidak salah. Tapi bagaimana kita bisa benar-benar independen apabila kita lalu hanya menggantungkan nasib band kita pada seorang manager? Kita menggunakan manager, tapi bukan hal itu berarti kita bergerak selalu sebagaimana manager katakan. Kita punya hak untuk membicarakan apa keinginan kita dan bagaimana cara mencapainya. Kita punya hak untuk mengetahui bagaimana cara memanage sebuah band dengan berbagi pengetahuan dengan sang manager itu sendiri. Bukannya lalu band kita bergerak bagaimana manager saja. Pada kasusnya dewasa ini, kecenderunan sebuah band sangat tergantung dengan seorang manager tampaknya menjadi sebuah hal yang umum. Sebuah band yang memiliki banyak materi, banyak pesan, mempunyai misi, tidak mampu berbuat apa-apa selain mencari seorang manager yang mau mengurus bandnya. Tapi terkadang, masalah pencarian manager itu bukanlah semata-mata karena tidak mampu, melainkan cenderung karena malas berusaha sendiri. Dan kadang guna manager adalah untuk meraih uang yang layak atau terkadang malah uang yang besar. Kembali lagi kepada masalah pencarian uang, diri kita sendiri semestinya mengerti apa yang kita butuhkan, apa yang kita perlukan dan berapa uang yang digunakan untuk mencapainya. Dengan demikian berarti bahwa diri kita sendiri mengerti berapa uang yang kita butuhkan, jadi apa perlu kita menggantungkan nasib kita pada seoran manager? Manager gunanya adalah untuk membantu apa-apa yang kita rasa kurang mampu, bukan sebagai tanggungan segala hal di mana kita malas untuk mengerjakannya. Sedikit-sedikit manager, sedikit-sedikit manager. Bagaimana kita mampu berdiri secara independen apabila kita terus berlaku seperti itu? Independen, itu yang harus kita terapkan dalam ingatan kita, dalam menjalankan band kita dan juga dalam kehidupan kita sehari-hari.
Rasanya sayang bukan, apabila sebuah band yang sebenarnya mempunyai potensinya sendiri, harus mati hanya gara-gara band tersebut tidak pernah tampil, merasa tidak mempunyai manager, tidak tahu harus berbuat apa — termasuk untuk mengerti bagaimana seharusnya sebuah band “independen" dan “underground” yang notabene adalah band d.i.y. bertindak untuk memanage dirinya sendiri. Alangkah sayangnya uang yang terbuang percuma untuk latihan-latihannya, untuk mendaftarkan diri dalam seleksi kalau band-band tersebut tidak mau berusaha untuk independen. Dan yang paling sayang, adalah waktu yang terbuang percuma.
Kalau memang kita membuat band hanya khusus untuk tampil, atau hanya khusus untuk bersenang-senang saja, kenapa kita menyia-nyiakan masa muda kita? Bukankah kita dapat mengisinya dengan bekerja? Karena jelas-jelas bekerja akan membuat uang saku kita bertambah, sedangkan bermain dalam sebuah band? Apa yang akan kita dapat apabila tujuan kita bermain dalam sebuah band “hanya” sebatas itu?
Atau juga pada masalah bahwa seseorang ingin bermain dalam sebuah band agar bisa mendapatkan uang. Sebenarnya tidaklah menjadi suatu masalah, karena pilihan itu adalah hak semua orang. Hanya sayangnya, bila dia benar-benar ingin mendapatkan uang saja, sangatlah sayang bila dia memilih untuk bermain dalam sebuah band yang katakanlah “independen. Saya pikir alangkah lebih efisiennya apabila dia sekalian saya membentuk sebuah band... hmm, katakanlah band pop, band top 40 atau band plagiator lain yang bisanya cuma membawakan lagu-lagu orang lain (contohnya band-band di pub). Karena di pub, bilamana band kita mampu untuk membawakan lagu-lagu seperti yang dikehendaki penonton (yang jelas penonton bukan meminta kita membawakan lagu kita sendiri), maka semakin lakulah band kita, yang berarti juga semakin banyak uang yang akan mengair ke kantong kita. Kita tidak perlu bersusah payah membuat lagu, menulis lirik atau beridealisme, karena bila kita memang memilih untuk menjadi band pop sekalian, kita cuma perlu menyimak lagu-lagu yang sedang terkenal, mempelajarinya, dan menirunya semirip mungkin, lalu berlatih tekun, mendaftarkan band kita di pub, semakin terlihat mirip dangan penyanyi aslinya — kita tambah terkenal, penonton senang — beres, uang lancar. Tapi bila kita memang berkata, mengklaim band kita sebagai “underground”, independen” atau apapunlah namanya, sudah seharusnya bagi kita juga untuk mengerti dengan baik etika-etika yang berlaku dalam pengklaiman band kita itu. Tidak sekedar mengklaim ‘independen’ hanya dalam bentuk ucapan semata.
** PUNK ADALAH RESISTANSI
Gerakan komunitas kita semua tidak akan berhenti di sini. Masih akan ada banyak perbaikan-perbaikan, masukan-masukan yang baru, yang berguna bagi diri kita para penghuni scene ini. Karena sebuah masalah yang seakan sangatlah kecil dan tak berarti seperti turut campur tangannya orang-orang di luar scene kita pada kehidupan kita, atau kesenjangan jam tampil itu dapat mengakibatkan masalah yang pelik dan serius. Bagaimana tidak pelik di saat efek-efek kesenjangan itu dapat menimbulkan sikap chauvinisme, arogan, sikap iri, kebencian, permusuhan, kompetisi, bahkan sikap rasisme. Kita mungkin akan harus dapat menyesuaikan bentuk budaya tersebut dengan keadaan obyektif sekitar kita di negeri ini yang notabene jelas berbeda dengan kondisi obyektif di negeri asalnya. Tapi ada satu yang tidak boleh kita lupakan dan abaikan, yaitu spirit dari budaya punk itu sendiri.
Punk pada awal kemunculannya adalah sebuah budaya yang hanya menjadi sebuah bentuk resistensi terhadap budaya lain yang merupakan bentukan dari budaya kapitalisme. Sebuah perjuangan perlawanan terhadap tatanan masyarakat dan kondisi sosial yang dirasa sangatlah tidak manusiawi. Pada perjalanan evolusinya, banyak punk yang mulai sadar bahwa tidak akan pernah ada perubahan yang nyata apabila kita hanya melakukan penentangan terhadap bentuk budaya. Kita harus sadar bahwa bentuk budaya adalah hasil dari apa yang menjadi inti sistem itu sendiri. Budaya punk yang pada awalnya dideskripsikan sebagai sebuah budaya subkultur harus mulai dikembangkan menjadi sebuah budaya perlawanan atau biasa disebut sebagai counter-culture. Kita harus mulai melakukan penyerangan terhadap inti dari sistem yang membentuk seluruh tatanan masyarakat saat ini.
Ada baiknya apabila kita melihat dulu sekelumit mengenai perkembangan punk secara global. Kita tidak akan pernah mengetahui apakah sesuatu itu apabila kita sama sekali tidak pernah mengerti atau sekedar tahu mengenai sejarah terbentuknya budaya tersebut.
*** Sejarah pergerakan resistansi punk.
Sebenarnya tidak pernah ada yang benar-benar tahu siapa dan dari mana punk itu bermula. Menelusuri hal ini sama saja dengan berusaha menentukan siapa yang pertama menciptakan tokoh seperti Sinterklas. Tapi rasanya tidak perlu terlalu dipikirkan dari mana punk itu berasal.
Ide akan perlunya sebuah budaya yang dapat menjadikan ancaman terhadap keberadaan sistem dan tatanan sosial yang sudah mapan, dimulai dari ide seorang seniman inggris bernama Malcolm McLaren. Mclaren mendapatkan ide tersebut setelah dia terinspirasi oleh revolusi di perancis pada tahun 1968[3]. Revolusi tersebut salah satunya adalah karena jasa para situasionst-situasionist[4] yang tujuannya adalah menciptakan sebuah situasi di mana muncul momen-momen yang sangat menguntungkan bagi pergerakan kaum radikal yang menginginkan perubahan nyata (dalam kata lain: revolusi sosial). Ide-ide kaum situasionist tersebut membekas dalam benak McLaren, yang setelah kembalinya dia ke Inggris dia melihat bahwa ada sebuah saat yang menguntungkan baginya untuk melakukan sebuah pergerakan, yaitu saat di Inggris, pajak mulai dianggap terlalu tinggi dan begitu naiknya angka pengangguran di kaum mudanya. Dalam salah satu idenya, McLaren berpendapat bahwa massa dapat diarahkan pada pemikiran yang lebih kritis apabila massa melihat adanya ketidakberesan sosial. McLaren memulainya dengan membentuk band bernama Sex Pistols, selain itu dia juga memulai agitasinya dengan melalui pakaian. Dia berpikir bahwa dengan melihat penampilan yang “tidak beres” maka massa akan melihat bahwa ada sesuatu yang memang tidak beres dalam tatanan masyarakat sosial. Pakaian yang digunakan adalah sebuah aplikasi dari apa-apa yang oleh masyarakat normal dianggap tidak berguna lagi. Dengan kata lain hal itu salah satunya adalah salah satu bentuk penolakan terhadap konsep masyarakat di mana keadaan sosial diatur secara utuh oleh kepentingan pasar. Tapi pada kenyataannya yang ada konsep “revolusi melalui fashion" menjadi gagal, karena mulai banyaknya bermunculan punk-punk yang menggap bahwa pakaian adalah segalanya dalam punk, yang pada akhirnya justru pakaian bergaya punk tersebut juga menjadi tidak lebih dari sebuah komoditi tersendiri. Kegagalan hal ini juga diperkuat oleh masyarakat saat ini, di mana saat ini kita dapat melihat dan menemukan bagaimana t-shirt Crass ataupun t-shirt-t-shirt dengan desain yang radikal dapat didapatkan dengan mudah di mall-mall besar yang terkenal dan tentu dengan harga yang begitu menjulang. Revolusi sudah diubah maknanya menjadi sekedar alat pengeruk uang.
Sudah nyata bahwa revolusi yang diharapkan McLaren telah gagal. Tapi ada satu sisi di mana revolusi tersebut berkembang dengan lebih baik. Kemunculan band-band hardcore pada era 80an menandai perkembangan revolusi tersebut. Dalam perkembangannya saat itu, budaya punk yang sekedar merupakan sebuah subkultur (sebuah budaya tandingan dari budaya mainstream) berubah bentuk menjadi sebuah budaya perlawanan (budaya yang ditujukan untuk menyerang inti dari kemunculan budaya-budaya lawan bukan sekedar menyerang bentuk budayanya saja). Mulai bermunculan band-band yang berorientasi politis, karena mengingat bahwa pergerakan perlawanan dari punk tidak dapat dilakukan dengan melupakan sisi politis dari pergerakan itu sendiri. Rekaman-rekaman yang dihasilkan oleh band pada era tersebut tidak lagi sekedar menawarkan musik yang berbeda, tetapi juga menawarkan idealisme-idealisme baru yang kuat yang diusung dalam lirik-lirik lagunya. Punk dalam hardcore mulai berkembang menjadi sesuatu yang dianggap berbahaya bagi kelangsungan hidup sistem yang berlaku. Ideologi-ideologi politis mulai dianggap salah satu komponen yang tak kalah penting dalam pergerakannya dibandingkan dengan sekedar trik-trik bermain musik. Rekaman-rekaman mulai muncul penuh dengan info-info politis, mulai dari kepedulian sosial akan bahayanya ancaman nuklir, penentangan terhadap perang, masalah rasisme, perlunya perhatian akan hak-hak hidup hewan, penindasan kaum pemilik modal pada para pekerjanya, hingga kepada masalah-masalah seperti kebobrokan sistem pemerintahan yang mendasari semua ketimpangan sosial. Punk mulai terlibat benar-benar secara aktif dalam organisasi-organisasi radikal seperti Food Not Bombs, Earth First!, atau juga organisasi-organisasi politis seperti Anti-Racist Action[5]. Dalam konteks yang lebih radikal lagi, juga tidak sedikit punk yang terjun langsung pada daerah yang menyangkut kepentingan politik negara secara langsung, seperti terlibatnya punk pada organisasi-organisasi perlawanan seperti front Zapatista[6] di chiapas, mexico atau juga organisasi revolusioner kulih hitam, Black Panther Party.
Tapi sayangnya, pergerakan perlawanan aktif dari kaum punk ditandingi dengan pergerakan apolitis dari kaum punk itu sendiri yang tidak kalah hebat. Para punk yang apolitis, menyebarkan isu-isu individual seperti kenikmatan untuk menjadi seorang apolitis yang tidak pernah terganggu oleh isu apapun selain kenikmatan menghirup alkohol atau penggunaan obat-obatan yang seringkali menjadikan kaum punk mengalami degradasi mental. Lebih disayangkan lagi bahwa justru paham apolitis inilah yang kini justru tampak semakin menyebar keseluruh pelosok dunia. Punk yang sedianya merupakan Gerakan perlawanan politis revolusioner berubah menjadi sebuah budaya transisi yang tidak menghasilkan apa-apa selain kenikmatan diri sendiri. Punk yang sedianya adalah budaya perlawanan sosial berubah wujud menjadi sebuah bentukan budaya bagi para kaum yang egois, yang peduli hanya kepada dirinya sendiri. Disinilah punk menjadi sebuah budaya yang gagal.
Di amerika, kaum radikal sayap kiri dan kaum anarkis, mulai beranggapan bahwa punk tidak lain adalah sebuah budaya kelas menengah ke atas, yang bertujuan hanya untuk berfoya-foya dengan cara yang cocok bagi kaum mereka sendiri. Punk mulai dipinggirkan dari lapangan revolusi. Di eropa sendiri, hal itu tampaknya juga mulai terjadi walaupun belum separah yang dialami amerika. Tapi yang terparah adalah justru apa yang terjadi di kebanyakan negara-negara di asia, termasuk indonesia. Punk bukannya mulai tersisih dari pergerakan revolusioner, tetapi punk memang tidak diperhitungkan sama sekali dalam konteks revolusi. Punk tidak pernah sekalipun dianggap sebagai sebuah pergerakan yang potensial dalam menciptakan sebuah situasi revolusioner.
Hal ini semua tidak lepas dari peran tiap individu yang terlibat di dalam scene itu sendiri. Bila punk lalu mulai disepelekan oleh kaum revolusioner, itu adalah karena kesalahan yang dibuat oleh para punk itu sendiri. Lalu apabila di indonesia, punk tidak diperhitungkan dalam lapangan revolusi, itu adalah juga secara nyata dalam kancah revolusi maupun dalam kancah pergerakan sosial. Punk yang sudah terlepas dari budaya revolusioner adalah punk yang telah gagal. Gagal karena hal ini sudah terlalu jauh berkembang dari inti pergerakan awalnya yang merupakan sebuah resistansi. Punk bukan lagi merupakan sebuah resistansi. Punk telah berkembang terlalu jauh dan bukan demi kebaikan budaya punk itu sendiri. Atau dengan kata lain, punk telah gagal.
Kita tidak dapat mungkir bahwa punk memang telah gagal. Tapi ini justru juga menjadi semacam cambuk bagi kita untuk memperbaiki kegagalan tersbeut. Kita masih mempunyai kekuatan untuk bisa bangun dan berdiri kembali.
Semua hal di atas dapat dilakukan hanya dengan pendistribusian informasi mengenai apa yang seharusnya kita lakukan dalam scene kita dibanding hanya menghabiskan waktu kita dengan melakukan hal-hal yang tidak terlalu urgen. Kita harus mulai bisa berdiskusi dengan berpikiran terbuka dengan sesama kawan kita maupun juga dengan individu lain di luar scene kita.
Semuanya tergantung kita sendiri, apakah kita akan terus berdiam diri dan menjalani saja apa yang ada tanpa berusaha untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik, ataukah kita belajar mengoreksi diri kita sendiri demi perbaikan dan kemajuan bagi diri kita sendiri maupun bagi semua penghuni scene ini saat ini dan yang akan datang.
Semuanya tergantung pada diri kita.
Atau memang benar apa kata Dave Greenler yang berkata...
“Saat ini punk sudah terlalu meluas tapi bukan untuk kebaikannya sendiri. Punk sudah berhenti menjadi pemberontakan. Band-band seperti Endpoint menerima sponsor dari vans, band seperti Green Day dan Descendets dan ratusan band-band pop-punk lainnya menyerah dari revolusi dengan lagu-lagu yang bercerita mengenai gadis-gadis mereka atau kemarahan remaja biasa... Mungkin memang sudah saatnya punk menghancurkan dirinya sendiri, untuk kemudian mencari dan muncul Kembali sebagai sebuah bentuk yang baru...”
[1] Film-film yang menampilkan skinhead rasis (bonehead) tersebut antara lain, American History X, Gang Boys, Romper Stomper. Ketiga film tersebut sebenarnya bagus, karena ketiganya menceritakan bagaimana buruknya menjadi seorang rasis. Tapi seperti biasa, saat masuk ke Indonesia — dimana rata-rata orang Indonesia hanya menyukai sesuatu yang jelas dan malas berpikir — maka makna film itu jadi kabur. Yang ditangkap hanyalah sisi di mana kekerasan tak terarah menjadi sesuatu yang dianggap 'hebat'. Mungkin ini juga akibat sangat minimya referensi Bahasa inggris kita, sementara hamper seluruh informasi yang kita dapat selalu berbahasa Inggris. Ada memang Sebagian yang berbahasa Indonesia, tapi juga seperti biasa, selalu terjadi distorsi. Contohnya informasi-informasi mengenai idealisme “underground” atau juga konsep dari punk, hardcore, grindcore, ska atau juga lainnya yang dibahas oleh majalah remaja “Hai" atau juga tabloid ‘Mumu’. Semuanya hanya dituis berdasarkan keinginan para editornya agar tulisannya laku dijual. Kemudian yang terjadi jelas jadi hanya sesuatu yang mereka (para editornya) anggap menarik, bahkan parahnya seringkali mereka hanya mengada-ada.
[2] Perdebatan ini dilakukan setelah panitia acara tersebut melihat gencarnya distribusi agitasi yang berisi ajakan untuk memboikot apapun acara yang diadakan oleh enterprise tersebut. Tapi sekarang tampaknya malah enterprise-enterprise seperti merekalah yang menguasai arena pengadaan acara musik, terutama di kota Bandung. Sangat disayangkan bahwa saat ini tidak ada lagi siapapun yang berani mengkritik mereka-mereka itu. Entah karena semua band-band saat ini memang sudah menyerahkan hidup dan perjuangannya pada kapitalis atau mungkin ada alasan lainnya. Entahlah.
[3] Revolusi di perancis tahun 1968, adalah sebuah revolusi sosial (walaupun gagal) yang melibatkan banyak elemen-elemen masyarakat seperti kaum buruh yang mulai berinisiatif menduduki pabrik-pabrik, juga kaum pelajar yang juga tergabung dengan masyarakat biasa. Ini juga adalah salah satu revolusi perlawanan untuk menghapuskan penguasaan atas hak kepemilikan (properti) dari tangan kaum kapitalis untuk selanjutnya dikuasai secara kolektif. Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini, carilah buku-buku atau artikel mengenai pergerakan revolusi 1968 di perancis. Mungkin di masa mendatang editor akan menterbitkan terjemahan mengenai revolusi tersebut dalam bahasa indonesia.
[4] Situasionist adalah suatu pergerakan kaum radikal, di mana tujuan pergerakan tersebut adalah untuk menciptakan sebuah situasi di mana situasi tersebut dapat digunakan sebagai momen-momen menuju revolusi. Dengan kata lain, kaum situasionist bertujuan untuk mempertajam kesadaran massa akan kontradiksi dari kelas borjuis dan masyarakat pekerja.
[5] Organisasi Food Not Bombs atau biasa disebut FNB, bertujuan untuk menyediakan makanan secara gratis untuk siapa saja yang memerlukannya. Organisasi ini bertujuan untuk membalikan fakta yang dibentuk oleh sistem saat ini di mana seseorang harus mempunyai uang walaupun sekedar untuk makan. Secara politis, FNB juga bertujuan untuk mempropagandakan sikap anti-perang, pasifis dan pentingnya kepedulian akan kaum miskin, juga untuk menyebarluaskan vegetarianisme. Earth First! adalah salah satu organisasi grassroot radikal dari kelompok pecinta lingkungan. Organisasi ini bertujuan untuk memberi penyadaran kepada massa akan pentingnya lingkungan alam yang seharusnya menjadi modal hidup kita semua, bukan seperti kaum kapitalis yang menganggap bahwa hutan adalah laba. Anti-Racist Action, organisasi anti rasis yang sudah mengarah kepada pemikiran dan pergerakan politis. Tidak seperti organisasi-organisasi anti-rasis lainnya yang rata-rata hanya murni bergerak di bidang masalah rasialisme, tetapi ARA mulai mengarahkan Masyarakat bahwa yang harus dihancurkan adalah sumber dari terciptanya rasialisme itu sendiri. Masih banyak organisasi-organisasi lainnya yang juga sangat ideologis dalam pergerakannya yang tampaknya tidak dapat disebutkan dan diterangkan satu-persatu di sini.
[6] Zapatista adalah sebuah kelompok pergerakan yang menuntut kemerdekaan murni bagi kaum petani miskin dan suku Indian Maya di Mexico. Pergerakan ini berawal sudah sejak abad yang lalu, tetapi dalam beberapa bidang pergerakannya, saat ini sudah lebih bersifat modern. Aksi terbesarnya yang pertama adalah saat pemdudukan Chiapas pada tahun baru 1995 lalu di bawah komando Subcommandante Marcos. Pernah melihat cover album dari band Brujeria di mana ada seseorang bersenjata mengenakan balaklava hitam? Itulah dia. Marcos. Atau cek juga band Rage Against The Machine, di mana mereka juga merupakan pendukung aktif Gerakan Zapatista tersebut.