HERE’S THE REST OF YOUR LIFE
Why settle for what we're shown When there is so much more? Sometimes the Book of Law Is only half the story Means and ends: Deciding where to draw the line Loss or work in Sellafield homes Or the threat of cancers yet to come? The choice is obvious: There is no choice Only the option of looking outside This narrow definition of "What you see is all there will ever be" There comes a time - that time is now - When every second, every day When every action, every thought Will tell the world how you cast your vote They break our legs And we say "Thank you" when they offer us crutches Tired of mild reform Sick of hand-me-downs We topple all the theories to the ground: All real change Must come from below Our bosses must live in fear Of the factory-floor And when they smile And they ask for my support, I'll give them these words And a bloody nose: You don't help your enemy When you're at war There are moments in all of our lives Tiny sparks still deep inside When a new-born baby cries When you're watching clouds in a summer sky The first time you walked out on strike Love and sex and holding light Tings that can't be bought By promises and votes I hate the things I love being criminalised I hate the straight-jacket schools I grew up in I hate MPs, judges and magistrates I hate being taught to base my life on TV stars I hate being kept waiting by bureaucrats I hate wars, and all the people who love them I hate the idea of living on other people's backs I hate being filed, registered and classified I hate being watched and monitered I hate police I hate the way you talk down at me I hate being told what to do I hate you when you don't listen I hate the way you distort my sexuality with pornography I hate the pain we inflict on each other On animals, and on the Earth And I hate how love songs have become such cliches through endless, shallow repitition Each angry word Every cynical put-down
Lirik lagu di atas diambil dari sebuah band anarkis, Chumbawamba, dalam album ‘Nevermind The Ballot’. Ya, aku menyukai band tersebut walaupun begitu banyak pula yang mengatakan bahwa band tersebut bukanlah band punk. Bagiku tak masalah saat aku melihat apakah sebuah band adalah band punk atau bukan, tetapi yang pasti... bagiku Chumbawamba adalah band punk dengan melihat dari mana mereka tumbuh, dengan siapa mereka berkembang dan apa serta bagaimana band tersebut dalam kesehariannya. Belum lama ini, aku juga mendapatkan kaset terbaru Chumbawamba yang ada di toko-toko kaset biasa. Ya. Mereka sudah berangkat ke mayor label sejak pemunculan album mereka “Tubthumping”. Tapi memangnya kenapa? Aku tidak ada masalah dengan hal itu sejak aku mempelajari mengenai taktik-taktik perlawanan dewasa ini. Masuk ke dalam jaringan mayor label, membuat musik yang dapat dinikmati oleh banyak kalangan, ataupun berpenampilan seperti layaknya orang-orang biasa, itu adalah sah-sah saja bagi budaya punk itu sendiri dilihat dengan kacamataku pribadi. Ah, tapi berbicara mengenai punk? Apa itu masih relevan saat ini di saat punk dalam komunitas lokal sudah tak bertaring lagi?
“It became necessary to destroy the town to save it” - Pemikiran logis dari seorang militer di abad ke-20.
Indonesia akhir abad ke-20 adalah merupakan sebuah era baru bagi banyak orang. Tak peduli siapa yang mengambil keuntungan dari hal ini sejak kerusuhan ataupun tergulingnya rezim suharto yang kemudian berganti rupa setelah pemilu dengan rezim gus dur — megawati, yang pasti kerusuhan-kerusuhan dan kekacauan yang terjadi telah meninggalkan luka yang dalam bagi rakyat indonesia sendiri. Hal tersebut menciptakan kekosongan yang mengerikan dan dalam kekosongan tersebut tumbuh sebuah rasa keputusasaan di antara rakyat indonesia sendiri, sebuah ketakutan bahwa masyarakat tidak belajar sesuatu dari pelajaran tragis tentang kerusuhan, perkosaan, dalam kasus beberapa kota di indonesia, ataupun perang saudara yang mengerikan di Sambas, Ambon, Timor Leste dan berbagai tempat lainnya. Tampak bahwa mereka yang duduk di kursi kekuasaan telah menset-up planet ini dalam sebuah kehancuran total. Belum ditambah dengan masalah internasional, tentang bagaimana di negara-negara dunia ketiga angka kemiskinan semakin bertambah tinggi sementara negara dunia pertama hanya terlihat peduli pada negaranya sendiri. Dalam kengerian akan datangnya dunia baru ini, orang-orang beralih kepada cara-cara yang absurd untuk meredakan ketakutan mereka.
Untuk mengabaikan masalah, adalah hal terbodoh dalam hidup manusia. Tetapi berlaku masa bodoh adalah kunci utama sebagai Individual untuk menguburkan diri mereka dalam lautan konsumerisme tanpa otak. Abad konsumtif sudah lahir. Bila kamu tidak menemukan ketenangan dalam hatimu, maka mungkin dengan mengumpulkan banyak uang dan bekerja keras di kantor atau pabrik akan membuatmu merasa lebih tenang. Bila hidup sudah kehilangan arti, maka membeli pakaian yang menjadi mode terbaru akan membuat hidup lebih baik. Kepemilikan, ini adalah milikku, itu milikku, semua milikku, perkuat keamanan dan kau tak akan dapat memiliki apa yang kumiliki. Beli, beli, beli. Penuhi hasratmu. Perketat keamanan. Dunia TV ada di hadapan kita semua, dan apa yang sebenarnya nyata? Inikah? Itukah? Tak peduli apa yang nyata dan yang tidak, dunia virtual telah menjebak diri kita semua dalam kesemuan hidup yang tak berotak. Beli ini, beli itu. Siapa yang dapat mengatakan apa yang telah cukup bagi diri kita semua? Sebuah layar palsu telah menutupi fakta nyata bahwa hidup kita semua ini ada di bawah naungan korporasi-korporasi yang tidak memikirkan apa-apa selain profit bagi mereka sendiri.
Disaat yang sama, pemerintah membuat bisnis-bisnis internasional leluasa untuk berkembang di sini, di negara-negara dunia ketiga yang terlibat penuh hutang dan semakin terperosok dengan hutang-hutang tersebut. Mudah mendapatkan apapun yang kita butuhkan, begitu kita selalu diberitahukan oleh berbagai media. Dan tidak hanya kita, melainkan seluruh populasi di manapun di dunia ini, dibutakan oleh konsumerisme dan sampah-sampah media, dibuat senang dan bahagia untuk menerima berbagai kebohongan dan kepalsuan. Selama seseorang merasa senang, maka tak ada seorangpun yang akan mempertanyakan mereka yang duduk di kursi kekuasaan yang dengan nikmatnya bermain-main dengan uang yang semakin tertimbun dalam saku mereka.
Apabila mayoritas massa selalu merasa bahagia dengan apa-apa yang membutakan mereka saat ini dan mengikuti saja kemana angin dari penguasa dihembuskan, maka juga akan selalu ada mereka yang tetap berdiri tegak melawan itu semua. Dan apabila akhir abad ini, indonesia seakan dihadapkan akan kelahiran era konsumerisme, hal tersebut juga menghasilkan dua fenomena, yaitu fenomena perlawanan dan fenomena rock'n'roll. Keduanya merupakan sebuah reaksi melawan sebuah dunia yang didominasi oleh korporasi dan korupsi para penguasa. Keduanya menolak kekosongan dan kepalsuan konsumerisme dan keduanya merepresentasikan sebuah revolusi melawan nilai-nilal 'normal' dalam tatanan masyarakat saat ini.
Gerakan perlawanan massa yang seakan dipicu oleh perlawananperlawanan kecil yang dimotori oleh PRD yang pada awal dekade lalu masih berada dalam posisi 'underground'.
Percikan api perlawanan yang semakin lama semakin membesar dikobarkan oleh gerakan mahasiswa dan mengakibatkan munculnya gerakan masive dari massa yang pada tahun 1998 berhasil menumbangkan tiran suharto dari kursi kepresidenan. Ribuan massa di berbagai kota yang membanjiri jalanan agar suara mereka dapat didengar, semua seakan semakin marak pada akhir dekade yang juga merupakan akhir dari abad lalu.
Sebuah suara yang keras masih dapat terdengar di jalan-jalan kota-kota indonesia pada saat ini melalui berbagai pengeras suara dalam berbagai aksi protes dan demonstrasi. Suara ini juga diimbangi dengan suara-suara vulgar dari dunia rock'n'roll yang semakin membanjiri tiap kota di indonesia dengan berbagai rekaman dan panggung-panggung pertunjukannya. Saat gerakan perlawanan yang didominasi mahasiswa didominasi oleh mereka yang berasal dari kelas menengah, musik rock tidak melihat adanya perbedaan kelas walaupun dalam kenyataannya watak-watak dari berbagai kelas yang ada tetaplah eksis.
Dengan sedih, seiring dengan telah tergulingnya rezim suharto dan kemunculan era rezim baru gus dur-megawati, gerakan perlawanan dari mahasiswa mulai mendapati dirinya semakin mandul dan impoten. Teriakan protes mereka semakin tersamarkan oleh suara-suara yang memoderasi semua bentuk perlawanan massa. Tujuan-tujuan dari gerakan mahasiswa menjadi semakin digunakan oleh berbagai kepentingan para oportunis dan partai-partai yang masih menutup-nutupi diri mereka, sehingga gerakan mahasiswa semakin dilanda ketakutan akan pengambilan keuntungan dari tiap gerakan mereka. Hal ini membuat gerakan mahasiswa jadi penuh dengan kecurigaan dan ketakutan yang semakin lama semakin tak beralasan dan berakibat dengan saling memusuhi dari tiap gerakan organisasi mahasiswa yang ada. Kemenangan rezim gus dur megawati dalam pemilu adalah merupakan sebuah deringan baru di kursi pemerintahan. Tahun 1998 saat mereka belum menjabat sebagai penguasa negara, mereka menjanjikan sebuah kondisi yang lebih baik di indonesia, baik itu perekonomian maupun kondisi sosial masyarakat. Begitu selesai pemilu dan beberapa saat mereka berjalan, maka mereka mulai menelurkan berbagai 'kebijakan' seperti memotong subsidi-subsidi pokok rakyat seperti BBM, listrik serta pendidikan dan kesehatan, sehingga biaya untuk mendapatkan semua itu oleh rakyat semakin tinggi harganya. Kemunafikan telah mendapatkan kemenangan mereka.
Gus dur yang saat dulu selalu dielu-elukan massa karena merupakan pemimpin yang cemerlang dari salah satu partai yang 'tampak' religius yang kini menjadi presiden indonesia, saat ditanyakan mengenai masalah pemotongan subsidi tersebut malah menjawabnya dengan tenang, "Rakyat harus siap menghadapi kenaikan harga-harga!", dan di saat yang sama dia mengusulkan agar negara menyediakan pesawat terbang pribadi bagi presiden.
Munculnya kesadaran-kesadaran baru bahwa siapapun pemerintah di negara indonesia tidak akan bisa mengubah situasi sosial menjadi lebih baik, membuat gerakan-gerakan yang berbasiskan tiap kota-kota di indonesia baik kota besar maupun kecil, untuk kemudian melakukan lagi gerakan perlawanannya dan kali ini gerakan perlawanan tersebut bukan hanya didominasi oleh para mahasiswa, melainkan oleh berbagai masyarakat dari berbagai sektor. Orasi-orasi di depan gedung-gedung DPRD tiap daerah ditujukan langsung kepada para penguasa. Tetapi masih juga, para demonstran tersebut mengharapkan untuk meruntuhkan kekuasaan yang ada sekarang dan hanya mencari bentuk pemerintah baru yang dapat membuat hidup mereka lebih baik. Kaum kiri merasa mendapat angin segar dalam melihat adanya kecenderungan massa yang menyatakan ketidaksukaannya kepada pemerintah sekarang ini, agitator-agitator kiri tersebut dengan senang hati berbagi kepedihan dengan para massa yang marah di depan gedung-gedung DPRD. Mereka kini menjanjikan untuk benar-benar memperjuangkan kepentingan massa apabila mereka dapat duduk di kursi kekuasaan negara, apakah ini adalah program partai untuk dapat memenangkan pemilu bila lalu diadakan pemilu pada masa yang akan datang? Puluhan partai politik berlomba-lomba memberikan janji manis kepada massa untuk meningkatkan taraf perekonomian di indonesia yang selalu saja mereka lalu menenggelamkan kekuatan-kekuatan demokrasi yang sesungguhnya di berbagai sungai dengan tanpa meninggalkan jejak apabila partai-partai tersebut memegang tampuk kekuasaan negara. Menaikkan taraf ekonomi rakyat dan isu-isu yang lebih luas seperti meningkatkan kesejahteraan dan mendahulukan perdamaian sejati seharusnya tidak menjadi sebuah drama operasabun politik di mana mereka yang haus akan kekuasaan dapat memainkan peran mereka semau mereka sendiri.
Tampak menyedihkan saat di sini masih banyak orang-orang, dari Partai Sosialis Indonesia, PSI, yang masih 'underground' hingga para pengurus PRD yang bukannya berkontribusi dengan sesuatu yang konstruktif, melainkan malahan mengeksploitasi demonstrasi organisasi-organisasi Independen dengan menggunakan nama mereka untuk meraih popularitas demi menggolkan propaganda dan isu politik mereka sendiri.
Selama march demonstrasi PRD di bandung pada pertengahan tahun 2000, ribuan leaflet disebarkan di jalanan dengan meneriakkan isu untuk pembubaran Golkar dan diadilinya mantan razim, suharto. Di permukaan leaflet tertulis tidak beda dengan berbagai selebaran naif lainnya yang membuat massa berpikir bahwa satu-satunya jalan lain adalah mengganti pemerintahan yang ada, bukannya memperkuat diri mereka sendiri. Tetapi di akhir leaflet tersebut tertulis nama Utopian. Utopian adalah organisasi anti-hirarkis dari anarkis-anarkis muda yang didominasi oleh pemuda-pemuda dari subkultur bentukan dari rock'n'roll.
Tidak. Leaflet tersebut tidak diproduksi oleh Utopian, ataupun mengekspresikan pandangan dan keyakinan yang kami pegang. Mereka, para pengurus PRD yang entah siapa, telah meletakkan nama tersebut demi kepentingan mereka pribadi. Kami telah digunakan untuk memenangkan isu-isu politik mereka sendiri, padahal program dan visi kami berbeda. Ini juga tidak berbeda dengan kondisi di jakarta, di mana organisasi AFRA digunakan untuk memenangkan isuisu politik oleh beberapa pihak, dan ajakan untuk mengelabui mereka adalah dengan mengibarkan bendera anarki, menggunakan kata anarki, tapi di saat yang sama berusaha menggolkan isu-isu yang sama sekali tidak berkaitan dengan konteks anarkis yang mengutamakan terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang tidak memerlukan pemimpin dan pemerintah.
Untuk menjelaskannya lebih jauh, dapat dilihat dari kata-kata yang tertera dalam leaflet yang didistribusikan oleh organisasi Utopian, "Jangan pernah percaya elit politik! Kekuatan ada pada dirimu sendiri, bukan pada pemerintah dan para elitnya!" Hal ini merupakan isu berbahaya bagi partai-partai politik yang ada karena dengan mengabaikan kekuatan elit politik serta lebih mengutamakan kekuatan independen, maka massa akan turut mengabaikan kepercayaannya terhadap pemerintah, apapun bentuk pemerintah tersebut.
Perlawanan dalam scene kemudian juga menjadi tunggangan kepentingan para pemilik modal yang ketertarikan mereka sekarang adalah melalui bisnis musik independen. Perlawanan kemudian menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan, sebuah produk trendy, dan memapankan label-label musik independen, musik press dan band-band lokal, yang dalam keseharian mereka menentang kepedulian terhadap makna pentingnya perlawanan, kini menggunakan logo-logo dan simbol-simbol serta berbagai slogan perlawanan dan tampak mendukung gerakan perlawanan itu sendiri. Satu-satunya kepentingan yang mereka dukung sebenarnya adalah kepentingan mereka pribadi, yaitu promosi yang bagus, penjualan produk yang juga bagus, dan juga dapat mengkatrol popularitas mereka sendiri dan mereka akan melakukan hal tersebut selama hal tersebut masih menjadi ‘in' dan sesuatu yang bagus untuk diusung oleh mereka, dan saat hal tersebut sudah dianggap tidak cocok lagi dengan iklim berikutnya, maka mereka akan meninggalkan hal tersebut, meninggalkan perlawanan tersebut.
"Are you in it for life or just for today? Are in it for life or just to pose?" - Extreme Noise Terror
Masyarakat indonesia dikejutkan oleh kemunculan barisan pemuda dengan dandanan 'aneh' dan rambut yang berwarna-warni. Para orang tua merasa khawatir saat mendapati kesayangan mereka mulai berubah wujud menjadi makhluk yang biasanya hanya dilihat di TV dan media-media massa dan kini mereka mulai berjalan dalam demonstrasi-demonstrasi yang beresiko tinggi akan berhadapan dengan kekuatan negara seperti polisi dan bahkan juga tentara. Simbol-simbol anarkis diadopsi sebagai emblem dan slogan-slogan kerusuhan menjadi kebanggaan mereka dengan semakin menggejalanya budaya tersebut dalam kehidupan remaja di berbagai kota bahkan juga merasuki daerah pedesaan yang biasanya hanya dijumpai orang-orang yang berpenampilan 'normal'. Media yang telah melihat fenomena ini, membutuhkan sebuah label baru bagi hal tersebut agar dapat diperjualbelikan sebagai sebuah bentuk komoditi, dan sistem yang menggunakan media sebagai alat pertama mereka dalam melawan perubahan sosial yang mulai terjadi, membutuhkan sebuah visi baru bagi massa yang dapat mendiskreditkan gerakan baru tersebut.
Punk dan hardcore di indonesia yang masih membawa spirit pemberontakan dari rock'n'roll telah menerima sesuatu yang tidak pernah diterima sebelumnya dalam tatanan masyarakat indonesia dan juga dalam gerakan perlawanan massa di indonesia sendiri, sebuah gerakan yang tidak melihat kepada kelas, suku, sektor dalam masyarakat dan tidak membawa kepentingan politik tertentu. Batasan sosial telah diruntuhkan, tidak peduli siapa dirimu, tak peduli dari mana asalmu atau apa yang kau lakukan sehari-hari, selama kamu bergabung dengan aksi demonstrasi massa, maka kamu akan tampak 'cool'.
Punk dan hardcore tetap tidak dapat dipolitisir, tak peduli apakah dia adalah seorang pengikut Crass, The Casualties ataukah pengagum Karl Marx, katakanlah. Punk dan hardcore adalah tentang diri kita semua, ini adalah suara kolektif dari diri kita semua, tentang pemberontakan diri kita semua melawan kemapanan saat ini. Punk dan hardcore adalah tentang kebebasan, kemerdekaan, bukan perbudakan, ini adalah mengenai revolusi hati dan jiwa, bukan kepanjangan tangan dari budaya feodal dan kepemodalan. Punk dan hardcore adalah mengenal penghancuran batasan antar suku, antar kota, antar negara dan antar agama. Punk adalah sebuah teriakan pembangkangan dan bentuk penyerangan terhadap seluruh sistem tatanan masyarakat komoditas saat ini, yang juga mengabaikan stereotipikal kaum revolusioner saat ini, mengabaikan bagaimana kulit yang menyelimuti diri kita saat ini. Punk dan hardcore adalah gerakan pro-kemerdekaan bagi kekuatan proletar dan menghancurkan serta menolak tatanan nilai dari kaum borjuis, walaupun banyak dari para pengikutnya berasal dari kalangan tersebut, tetapi lihat juga sekarang, apakah kamu pikir kamu telah merasa terbebaskan? Oi, sebuah geakan kelas pekerja yang dipromosikan oleh berlembar-lembar halaman dari tabloid di inggris bernama Sounds, sebagai sebuah gerakan budaya dari ‘real punk', punk yang sebenarnya. Tetapi bukan, mungkin pecundang yang sebenarnya, tetapi pokoknya bukan punk yang sebenamya. Di saat Oi menggembar-gemborkan kekuatan kelas pekerja dengan slogan working class proud'-nya, pada kenyataannya mereka para pengikutnya hanya menerima budaya tersebut secara buta dengan sama sekali menutup mata dan telinga dari kepedihan dan pemiskinan serta penghisapan kelas pekerja itu sendiri.
"Tell me, why do you glorify violence? Ain't there nothing better to give? Why fuck up the only chance to be yourself and really live? You tell me you're a working class loser, well what the fuck does that mean? Is the weekly fight at the boozer gonna be the only action you've seen? Are you gonna be one of the big boys, well, we've seen it all before Muscles all akimbo as they boot down another door Will you see yourself as the hero as you boot in another head When you're just a pathetic victim of the media you've been fed You're lost in your own self pity, you've bought the system's lie They box us up and sit pretty as we struggle with the knots they tie Okay, so you're right about one thing, no-one's got the right to shit on you But what's the point of shitting on yourself, what's that gonna do? Working class hero beats up middle class twit Media labels, system's shit When it looks like the people could score a win The system makes sure that the boot goes in Yeah it's the greatest working class rip off, oi, oi, oi Just another fucking rip off, a fucking media ploy It's the greatest working class rip off, oi, oi, oi ain't it just a rip off, ain't it just a rip off, ain't it just a rip off, oi" - The Greatest Working Class Rip-Off, Crass.
Pencipta nama Oi tersebut, Garry Busholl, menggunakan nama 'kelas pekerja' dengan tiada arti dan menggantinya dengan fantasi kelas menengah tentang siapakah sebenarnya mereka yang patut digolongkan kedalam konteks 'kelas pekerja. Pandangannya yang tidak realistis mengenai para pekerja yang menggunakan topi pet ala pekerja, peminum bir, pelawak yang senang berkelahi menjadi sempurna apabila dia dapat melihat kondisi di indonesia, di mana semua itu diadopsikan secara buta oleh para pengikutnya di sini. Para pengikut Oi yang menggembar-gemborkan kebanggaan kelas pekerja sementara di saat yang sama justru mendiskreditkan dan mengaburkan pandangan tentang apa itu arti dari 'kelas pekerja' itu sendiri yang semakin kehilangan arti.
Oi tidak akan mengganggu konteks perlawanan dari punk dan hardcore apabila Oi tetap menjadi sekedar karakter karikatur dari komik tentang 'pekerja' dan tidak menampakkan pandangan reaksioner mereka -- yang sering disebut sebagai 'sayap kanan'. Bukannya menolak pengikut dan pendefinisian baru tentang Oi yang menjadikannya sebuah kekuatan anti-perubahan, para pengikut lama dari Oi malahan semakin menjelaskan posisi mereka sebagai kaum kanan dan memperkuat image musik mereka sebagai 'musik jalanan para nasionalis' yang dengan ironisnya tetap menggunakan lirik berbahasa asing.
Pada saat seharusnya sesuatu masih dapat dilakukan untuk membalikan image baru yang mulai terbentuk sebagai kekuatan kanan dan anti-perubahan, kelompok-kelompok nasionalis mulal terbentuk dan memperkuat diri mereka dengan alasan-alasan yang tidak masuk diakal sama sekali. Mereka mulai menyerang kekuatan-kekuatan punk dan hardcore yang beroposisi dengan kekuatan pemerintah baik itu dengan verbal secara langsung maupun sekedar bisikbisik di balik punggung hingga penyerangan fisikal. Kekuatan Oi menjadi sebuah kekuatan baru yang memperkuat kedudukan sistem dan pemerintahan yang secara otomastis segera menjadi kekuatan lain yang berhadapan dengan kekuatan punk dan hardcore yang menginginkan perubahan. Mereka yang mengagungkan kebanggaan kelas pekerja dalam aktifitas hariannya justru semakin memojokkan kelas pekerja dan mendukung pelanggengan penghisapan atas kelas pekerja serta memperkuat fondasi kekuatan borjuis dan para pemodal.
Buka hati dan pikiranmu kamerad, dan perhatikan apa-apa yang telah kau kerjakan selama ini yang hanya peduli pada keadaan dirimu sendiri, mengenyangkan perutmu sendiri, dan mengilusi kesadaranmu sendiri, kau telah digunakan oleh sistem dan media menggunakanmu seperti halnya media menggunakan orang-orang lainnya seakan dirimu seorang pecundang. Oi adalah cara Bushell untuk memecah belah sesuatu yang dirinya dan media serta kekuatan borjuis yang berdiri di belakangnya tak dapat mengontrolnya lagi--energi yang nyata, energi pemberontakan dari punk dan hardcore. Apapun label yang mereka kenakan untuk kita, kekuatan pemberontakan itu seharusnya tidak padam. Media dan sistem menset-up label-label bagi diri kita semua dan apabila kita termakan oleh trik-trik mereka, maka mereka akan menempatkan kita pada halaman depan majalah dan koran mereka dengan berita yang mendiskreditkan kita semua.
Musik press lokal juga turut bersalah karena membuat pemisahan dan pengkotakkan menjadi seakan tanpa akhir dan mereka mengontrol energi yang dimiliki oleh band-band yang mereka liput dengan memberikan pertanyaanpertanyaan yang memoderasi inti pemberontakan dari kekuatan yang dimiliki oleh punk dan hardcore. Melalul review dan pengeditan yang hati-hati mereka memperlebar perbedaan dan pengkotakan antara band-band yang justru dalam kenyataannya perbedaan itu sama sekali tidak eksis. Band-band seringkali tidak cepat tanggap mengenal keagresifan yang tidak menyenangkan dari taktik yang digunakan untuk mengkatrol penjualan yang digunakan oleh perusahaan rekaman atau oleh musik press.
Karenanya cukup esensial apabila kita mengutuk orang-orang seperti Bushell yang berusaha mencuri energi kekuatan kita dan membuatnya menjadi sebuah lelucon mingguan dalam berita-berita di media massa, kita tidak membutuhkan dia dan orang-orang seperti dia merip-off kita. Punk dan hardcore bukanlah fashion media massa, ini semua adalah tentang hidup kita - dan terserah kepada kita untuk menolak media massa dan bisnis industri musik yang datang kepada kita. Kita semua bisa melakukannya, kita akan melakukannya, menangani manajemen kita sendiri. Punk dan hardcore adalah musik yang dapat dimiliki oleh semua orang, bukan sebuah komoditi... dan biarkanlah hal itu tetap berjalan seperti apa adanya.
Dengan semakin maraknya gerakan-gerakan perlawanan massa, masyarakat yang 'normal' dan negara mulai merasa terancam dengan kehadiran anak-anak muda yang berwarna-warni dalam aksi-aksi demonstrasi maupun kerjakerja pengorganisiran; mereka tidak ingin negeri mereka yang kelabu dicat dengan warna-warni pelangi yang indah, revolusi dengan warna psychedelic mulai menampakkan wujudnya dan hal itu harus segera dihentikan.
Masalah-masalah yang irasional mulai terjadi di mana para anak muda dalam scene punk dan hardcore mulai sering disudutkan. Kasus- kasus pelacakan dan pembersihan obat bius dan ganja selalu menjadi alasan utama untuk mencaricari cara menghentikan kegiatan-kegiatan perlawanan dari punk dan hardcore. Penangkapan-penangkapan ilegal mulai disusun oleh aparat kepolisian, teror-teror mental, atau apapun caranya agar suara mereka akhirnya dapat dibungkam. Tapi tidak bisa, karena masih ada segelintir yang terus membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu yang dirasa benar.
Saat represifitas mulai meningkat, polisi disertai dengan jajaran intelnya memulai perang dengan para pemicu gerakan perlawanan massa. Perang telah di deklarasikan kepada para punk dan hardcore yang memulai segala gerakannya dengan rasa cinta, tetapi cinta adalah sesuatu yang tidak dapat didapatkan begitu saja tanpa adanya perjuangan ataupun perlawanan.
Punk dan hardcore adalah sebuah budaya yang baik-baik selama mereka menerima diri mereka menjadi warga negara kelas tiga yang tidak perlu mengharapkan apapun selain sampah-sampah masyarakat konsumer, punk dan hardcore akan tetap baik-baik saja kondisinya selama mereka siap untuk berkompromi dengan sistem dan tidak menolak untuk diperlakukan... seperti sebuah kotoran. Saat mereka menolak untuk menerima itu semua, maka punk dan hardcore sudah pasti akan berhadapan dengan kekuatan negara. Berhadapan dengan kekerasan negara, yang menggunakan nama: hukum.
Setiap hari, TV, radio dan berbagai media massa seperti koran dan majalah, memanipulasi dan secara langsung mengontrol pola pikir publik secara garis besarnya, memberitahukan apa yang harus publik lakukan dan bahkan juga memberitahukan bagaimana caranya berpikir, tetapi hal itu bukanlah demi kepentingan publik itu sendiri melainkan demi kepentingan mereka yang berdiri dibalik hal itu semua, para elit penguasa, badan sensor jadi tidak penting, dan uang telah terbukti dapat berbicara lebih keras daripada kata-kata biasa.
Ya. Punk dan hardcore selalu disudutkan dengan problem-problem penyalah gunaan obat bius. Budaya punk dan hardcore seringkali diserang karena dianggap bertentangan dengan adat timur yang semakin tidak jelas arah dan tujuannya serta disudutkan oleh fanatisme agama yang telah mapan dalam pola pikir masyarakat kita semua. Dari nabi Muhammad hingga Sigmund Freud, para pengagum dan pengikutnya selalu mencari kontrol dan kekuatan dengan memainkan perasaan kesepian dan alienasi dari seseorang lainnya dan menggunakannya demi kepentingan dirinya sendiri.
Bagaimanapun juga, mengabaikan usaha-usaha yang mendiskreditkan punk dan hardcore sebagai budaya yang tidak beradab, gerakannya, walaupun semakin terdesak untuk bergerak secara lebih rapi, semakin hari semakin banyak jumlahnya dan semakin banyak dan meningkat juga kepeduliannya terhadap isuisu politik negara saat ini.
Tetapi hal tersebut mendorong juga para elit-elit negara beserta para aparatnya untuk semakin memperhatikan juga setiap gerakan dari anak-anak muda berwarna-warni ini. Elit-elit negara dan aparatnya yang selalu diibaratkan dengan seekor babi. Ya. Babi.
"I am very proud to be called a pig. It stands for pride, integrity and guts." - Ronald Reagan
Satu dekade kebelakang, punk di indonesia memang didominasi oleh mereka-mereka para pecandu obat bius. Tetapi bukan berarti saat ini semua itu adalah sesuatu yang sama dan terulang kembali. Politik menjadi sebuah pemicu perbedaan antara generasi lama dan generasi baru dari gerakan punk dan hardcore, walaupun sesungguhnya mereka semua memiliki satu kesamaan dalam perilaku mereka sehari-hari; tatanan masyarakat, negara dan sistemnya. Gerakan mahasiswa telah dihancurkan oleh kerakusan politik dan saling tikam menikam di balik selimut di antara sesama organisasi gerakan mahasiswa. Maka katakanlah kepada para politisi untuk segera menyingkir dari dunia punk dan hardcore, karena sekali lagi, rock'n'roll tak akan dapat dipolitisir dengan kepentingan-kepentingan politik yang bertujuan untuk memenangkan isu-isu politik demi sebuah kursi di parlementer. Tetapi pada kenyataannya, tatanan masyarakat, negara dan sistemnya, tidaklah mau minggir dari dunia punk dan hardcore. Mereka tidak hanya tetap berdiri di tempat mereka semula, tetapi mereka malah mulai memperkuat diri.
Perlahan, orang-orang mulai menyadari dan melihat kenyataan bahwa pemerintah sekarangpun tidak ada artinya bagi perubahan hidup mereka. Mimpimimpi indah mereka akan perbaikan ekonomi telah pudar, bayangan mengerikan mengenai keadaan masa depan yang memiskinkan hampir semua orang seakan dipaksakan untuk diterima oleh massa dan tak ada yang mampu untuk melarikan diri dari hal tersebut, kecuali dengan mengkonsumsi obat bius. Revolusi dengan menggunakan obat bius sangatlah menyenangkan, tetapi tanpa disadari itu juga merupakan sebuah akhir dari revolusi itu sendiri. Di atas ruang dan dimensi baru, waktu baru dan warna-warna baru, bayangan kenyataan dunia kelabu yang masih sama juga tetap berada pada kedudukannya - dan mimpi indahpun berakhir. Kengerian akan kenyataan muncul menggantikan semua mimpi-mimpi indah para pecundang yang berusaha melarikan diri dari kenyataan.
Padahal mimpi yang sebenarnya belumlah berakhir, hanya apabila kita semua membangun hidup kita sendiri, berdiri independen dari sistem. Tapi apakah mungkin di saat yang sama kita begitu bergantung kepada produk-produk yang dihasilkan oleh sistem komoditas ini yang semakin menjebak seluruh massa menjadi konsumennya. Dan usaha pembangunan independensi diri kita jelas akan selalu ditentang oleh nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat dan mereka juga semakin diperkuat oleh pemikiran-pemikiran dangkal para orang tua kita semua yang hanya berpikir secara praktis saja. Tetapi mengabaikan semua tantangan yang ada, gerakan punk dan hardcore telah menemukan dirinya sebagai front yang militan sebagai dirinya sendiri dan dengan caranya sendiri.
"We are a generation of obscenities. The most oppressed people in this country are not the blacks, not the poor, but the middle class. They don't have anything to rise up against and fight against. We will have to invent new laws to break....the first part of the yippy program is to kill your parents... until your prepared to kill your parents you're not ready to change this country. Our parents are our first oppressors." - Jerry Rubin, leader of the Yipples (militant hipies), speaking at Kent State University, USA
Sistem menduduki peringkat pertama, tetapi ada kecenderungan lain dalam tatanan keluarga dewasa ini. Cukup banyak ditemukan bagaimana masih terdapat banyak orang tua yang siap untuk mengenyahkan anaknya daripada harus menerima perubahan dan pembaharuan.
Mother, Anyone who appears on the streets of a city like Kent with long hair, dirty clothes or barefooted deserves to be shot."
Question, "Is long hair a justification for shooting someone?"
Mother; "Yes We have got to clean up this nation, and we'll start with the longhairs."
Question; "Would you permit one of your sons to be shot simply because he went barefooted?"
Mother; "Yes."
- Sebuah wawancara dengan seorang ibu yang anak-anaknya sedang bersekolah di Kent.
Karenanya, kita harus mempersiapkan segalanya. Memasuki dunia hardcore punk, terlebih lagi dengan menyadari bahwa harus ada yang diperjuangkan dalam hidup ini, harus ada perubahan dalam sistem yang berlaku di dunia ini, berarti kita juga harus menyiapkan diri untuk hal yang paling dekat dengan diri kita, pertentangan dengan keluarga kita sendiri.
Akhir abad-20 dan seiring dengan bergantinya milenia baru, di sepanjang penjuru dunia, orang-orang telah kembali ke jalanan. Impian para borjuis kembali berbenturan dengan mimpi buruk. Di perancis, pemerintah hampir selalu dihadapkan pada kenyataan bahwa sopir-sopir truk, dan juga sopir-sopir taksi selalu melakukan pemogokan yang otomatis memperlambat pengoperasionalan sistem ekonomi di negara tersebut, di kuba, jutaan massa memenuhi jalanan menuntut dikembalikannya Elias, seorang anak kecil kuba yang ditahan di amerika dan diindoktrinasi dengan berbagai impian amerika seperti Disneyland dan berbagai kemewahan lainnya, di india, ribuan buruh melakukan pemogokan di berbagai pabrik dan berhasil melumpuhkan hampir seperempat perekonomian negara, di cheznia, isu soal perdamaian menjadi isu yang lebih besar dibandingkan dengan isu perang: di peru, gerakan revolusioner bersenjata, MRTA, mengacaukan dan menembaki para borjuis di gedung kedutaan jepang dalam menolak kebijakan pemerintah jepang-peru yang menerapkan sistem neo-liberalisme yang hanya akan memiskinkan rakyat di peru; dan di indonesia sendiri di berbagai pelosok kota gerakan-gerakan massa--walaupun terlihat lebih kecil daripada gerakan tahun 1998--tetap muncul walaupun negara juga masih bertindak represif terhadap semua perlawanan. Orang-orang di manapun bangkit dan berusaha merebut kembali hidup mereka tanpa rasa takut, dunia tanpa batas yang bukan hanya berarti untuk dimanfaatkan oleh sistem global dan menuntut kemerdekaan penuh dari penguasapenguasa yang telah bertahun-tahun berusaha mengubur semua gerakan perlawanan massa. Sistem, yang telah begitu lama bertahan dengan caranya sendiri. Di antara massa sendiri, bagaimanapun juga, anonimous dan independensi yang seharusnya telah kita bawa dalam diri kita sendiri, semakin kabur maknanya dan di indonesia mulai terjadi konflik baru diantara gerakan perlawanan, perbedaan interes antara anarkisme dan komunisme.
Sejak semula pada abad ke-18, saat Karl Marx pertama kali mengajukan ide-idenya, anarkis juga mulai menyatakan perbedaannya, dan sejak itu mulai juga terjadi benturan, yang terkadang dengan menggunakan kekerasan, dalam mempraktekkan definisi dan pendekatan mereka mengenai apa yang dinamakan dengan 'kebebasan'.
Di awal abad 20, seiring dengan meledaknya revolusi russia, anarkis juga telah banyak melakukan baik itu kerja-kerja pengorganisiran massa, membawa revolusi dan juga turut berpartisipasi dalam memenangkannya. Para pengikut Marx yang telah teridentifikasi menjadi gerakan komunis yang dipimpin oleh Lenin, tidak hanya melupakan peran para anarkis, tetapi juga dengan aktif membasmi dan dengan penuh kekerasan menyapu habis semua gerakan anarkis di sana. Anarkisanarkis di kronstadt yang mendeklarasikan independensi mereka dari negara segera dihabisi, ribuan dibantai tanpa ampun oleh Tentara Merah. Para petani Makhnovist di ukraina yang juga telah berdiri secara independen dan hidup saling berbagi di antara sesamanya, dibasmi dengan penuh kekerasan dan darah ratusan petani tumpah ruah di atas salju yang begitu putih di bawah pucuk-pucuk senjata dari Tentara Merah komunis russia. Dekade tahun tigapuluhan, anarkis dan komunis berbenturan dan saling menghabisi selama periode revolusi spanyol karena komunis Justru malah turut memperkuat gerakan fasis yang dipimpin oleh Franco. Di akhir tahun 60an, anarkis-anarkis perancis yang dikenal dengan gerakan situasionis, bangkit dan memperkuat diri, memberikan dukungannya kepada serikat-serikat buruh komunis untuk bersama-sama menyingkirkan pemerintah perancis, dan di mana kemudian para komunis tersebut tidak balik mendukung para anarkis sehingga momen insureksi tersebut dihancurleburkan.
Anarkis menolak kepemimpinan partai komunis dari Lenin yang merupakan konsep 'kediktatoran proletar' dari Marx yang mereka lihat tidak ada bedanya dengan kediktatoran dari kaum borjuis yang ada dalam kursi pemerintahan selama ini. Bagi anarkis, semua pemerintah apapun bentuk pemerintahannya, adalah tetap merupakan perbudakan dan penindasan tak peduli siapapun yang ada di kursi pemerintahan tersebut.
"The anarchist revolution that we want transcends the interests of a single class, it envisages the liberation of all humanity which is at present enslaved, either economically, politically, or morally." - Errico Malatesta
Anarkis percaya bahwa adalah merupakan hak individual untuk menentukan keputusannya sendiri dalam hidup dan pilihan tersebut sangatlah esensial bagi semua kebebasan yang nyata. Mereka menolak semua bentuk pemerintahan di manapun yang 'memerintah' rakyatnya sehingga rakyat harus hidup terikat dan terantai dalam aktifitas sehari-harinya. Karenanya, ide-ide komunis dalam pembentukan sistem organisasi dan sentralisasinya yang jelas-jelas merupakan kepentingan dari sedikit orang di atas hidup banyak orang, merupakan sebuah perbudakan bagi anarkis.
Komunisme, seperti juga musuh mereka yang seharusnya, kapitalisme, setelah merebut kekuasaan menjadi tak ada bedanya sama sekali di antara keduanya. Memiliki karakter tua yang sama: hak istimewa untuk menentukan hidup rakyat banyak.
Mengesampingkan ketidaksetujuan-ketidaksetujuan dan perbedaan tersebut, gerakan untuk meraih perubahan terus berlanjut. Anarkis, komunis, pasifis, teroris, buruh, tani, kelas menengah, kulit putih, kullt coklat, hitam--salah satu hal yang dapat mempersatukan semua hal tersebut, sebuah faktor yang sangat sangat universal-rock'n'roll beserta seluruh varian yang mengikuti perkembangannya seperti punk dan hardcore.
ABC No Rio di new york, klub 121 di inggris, menyelenggarakan konserkonser musik, membangun sebuah tradisi musik rock yang kemudian berkembang menjadi gaya hidup kita - festival kebebasan. Musik yang bebas, tempat gratis, kebebasan mengungkapkan ide, makanan yang saling berbagi dan siapapun boleh hadir, yang pada akhirnya, seperti kalimat pada suatu hari', telah menjadi sebuah letupan-letupan kecil di mana semua cerita mengenal kebebasan ini terus berlanjut.
Banyak pertentangan dan benturan diantara penguasa dengan gerakan pemuda di akhir abad-20 ini adalah antara lain karena seperti yang selalu diperdebatkan, platform mengenai kebebasan hak menentukan hidup itu sendiri. Festival kebebasan adalah perayaan kebebasan yang anarkistik, sebagai salah satu bentuk lain dari demonstrasi komunis melawan penindasan dan menjadi sebuah pertanyaan lain yang muncul dalam benak para kita semua -- apakah sebuah perubahan yang dicapai adalah dengan cara menghentikan semua orang untuk bersenang-senang?
Massa yang melihat demonstrasi-demonstrasi jalanan di berbagai penjuru kota di indonesia mulai menemui kebosanannya. Ide untuk mengadakan sebuah demonstrasi jalanan yang menjadi sebuah festival kebebasan, sangat jarang sekali ditemukan. Demonstrasi selalu menjadi hal yang sama, barisan panjang para demonstran yang berteriak dan membagikan selebaran, sebuah hal yang menjadi sebuah kesamaan yang berujung pada kebosanan. Di saat kita tidak lagi menghadapi pesta-pesta jalanan dalam bentuk tarian-tarian kebebasan saat berbenturan dengan barisan aparat negara, semuanya menjadi bosan. Damai? Ya. Aparat adalah juga merupakan barisan dari orang-orang yang sama tertindasnya dengan para demonstran tetapi mereka tidak berusaha untuk pernah lepas dari ketertindasannya, mereka sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mengekspresikan kebebasannya. Maka benturan dengan mereka secara fisik adalah salah sebuah bentuk perayaan kebebasan itu sendiri. Tapi di saat aparat mulai memilih untuk tidak melakukan apapun terhadap para demonstran? Hal itu akan mengarah kepada kebosanan. Maka harus dicari sebuah bentuk-bentuk aksi demonstrasi yang lebih berwarna, tidak seperti konteks pemikiran demonstrasi para komunis yang cenderung mengesampingkan keinginan untuk bersenang-senang.
"Boredom is counter-revolutionary." - Graffity di tembok-tembok kota paris saat revolusi tahun 1968.
Selama beberapa tahun, Taring Padi di yogyakarta telah membuka sebuah gedung terbuka, kita dapat menempati gedung tersebut dengan tak perlu mengingat apakah kita memiliki uang untuk membayar sewa ataupun tidak, kita hanya perlu saling berbagi dan bersosialisasi dengan mereka yang tinggal di tempat tersebut, juga dengan masyarakat yang ada di sekitar mereka. Kita telah mempunyai sebuah contoh nyata di negeri ini, di mana sebuah tempat dapat dijadikan sebuah jalan bagi pencapaian kebebasan yang kita idamkan semua di mana orang-orang dapat saling bekerja sama dan tinggal dalam sebuah atmosfir kreatif daripada hanya berkutat dengan rumah-rumah pribadi yang dihuni oleh keluarga-keluarga yang dalam fungsi nyatanya sebagai keluarga justru tidak pernah terbentuk. Kelompok Taring Padi telah memberikan visi baru kepada kita semua, seperti Juga ABC No Rio di new york, klub 121 di inggris dan ribuan lain squat yang tersebar di seluruh dunia, bahwa kita dapat melangkah ke depan dengan membangun kolektifitas di antara kita sendiri, membangun sebuah komunal independen yang berdiri sendiri dan lepas mengesampingkan peranan negara dan pemerintah dalam aktifitas sehari-harinya.
Taring Padi yang telah menjadi salah satu fenomena menarik bagi punk dan hardcore, juga menawarkan sebuah ide baru mengenai festival kebebasan itu sendiri. Beberapa kali, sebuah festival musik punk dan hardcore digelar di tempat tersebut di mana profit dari acara pertunjukan murah tersebut digunakan untuk kegiatan sosial, bukannya untuk diraup demi memperkaya diri seperti layaknya banyak acara-acara entertainmen yang diselenggarakan di kota bandung yang pada intinya hanya demi memperkaya diri para organisatornya. Taring Padi juga merupakan tempat bagi semua orang untuk saling berbagi ide dan pengalaman, tetapi selalu kembali kepada satu hal, usaha dan keyakinan bahwa kebebasan harus diraih dan diperjuangkan. Kita dapat berbicara, berdiskusi ataupun sekedar tertawa-tawa berbagi kisah lucu.
Ada satu waktu di mana Taring Padi memfasilitasikan tempat mereka bagi sebuah festival musik kebebasan dengan menggunakan nama ‘Anarchism and Black Revolution' sebagai nama acaranya. Seperti biasa, punk dan hardcore selalu berkaitan dengan makna kebebasan. Penampilan beberapa band hardcore punk jelas-jelas menarik puluhan massa punk dan hardcore lokal maupun beberapa kota lainnya untuk datang ke tempat tersebut yang seakan menjadi sebuah novel dan kisah menarik mengenai keindahan kebebasan itu sendiri, dan tentu saja, festival kebebasan tersebut menarik para aktivis lokal dan kader-kader komunis partai, berbagai fraksi dan sektor massa berdatangan. Atmosfer yang terbangun terlihat rileks dan seperti abu yang ditumpahkan dari tangan kita ke lantai, massa mulai memenuhi ruangan dan bersama-sama menikmati alunan musik dari band-band yang tampil di hadapan audiens. Tetapi seperti biasa juga, bahwa makna kebebasan tersebut seringkali disalahartikan dan didistorsikan. Dengan alasan sederhana, yaitu Punk dan hardcore adalah tidak lebih dari sekedar musik. Seorang punk lokal berdiri, mabuk dan memberikan penghinaannya kepada beberapa band yang mengekspresikan kebebasan berpendapat dan menyampaikan pendapat. Tidak ada kekerasan yang terjadi karena para personel band yang tampil tersebut dapat mengerti bagaimana sistem yang kita jalani setiap hari ini telah begitu merasuki benak orang-orang sehingga mereka masih terlalu takut akan adanya sebuah perubahan. Tetapi massa mendapat sebuah pelajaran penting hari itu, sebuah pelajaran mengenai kebebasan berbicara yang terkadang berbenturan tidak hanya dari sisi penguasa, melainkan juga dari sisi kita sendiri.
Beberapa saat setelahnya, sebuah kabar beredar bahwa punk tersebut adalah seorang punk mabuk yang memang tidak mengerti sama sekali mengenal konteks dan makna dari apa itu kebebasan, seorang korban dari sistem dunia ini apatisme massal, pembodohan massal
Dunia punk dan hardcore adalah sebuah fenomena kaum muda, di mana dunia tersebut juga sama seperti dunia kaum muda lainnya yang seringkali kehilangan jiwa dengan otak yang lebih diperintah oleh alkohol dan obat-obatan. Mereka adalah orang-orang yang mengalami kebosanan, kecewa dengan bagaimana segalanya berjalan dalam realita sistem yang kita semua jalani ini. Tapi mereka di Taring Padi terlihat berbeda. Ganja, alkohol bukanlah sesuatu yang digunakan untuk mengilusi kesadaran, melainkan sesuatu yang merupakan kawan bagi kenyataan hidup yang begitu berwarna-warni dan harapan-harapannya yang mereka harapkan dapat dengan aktif membawa keindahan tersebut kembali ke dunia yang kelabu dan kehilangan jiwa. Mereka menggunakan ganja dan alkohol dengan kreatif dan hati-hati, bukan untuk 'melarikan diri, tetapi untuk semakin membantu merealisasikan 'makna melarikan diri' dari sistem ini.
Dalam banyak respek yang muncul, Taring Padi tidak pernah dideskripsikan sebagai punk ataupula hardcore. Walaupun apa yang mereka lakukan dengan aktifitas mereka adalah merupakan sesuatu yang sangat sangat punk dan akan menjadi semakin menarik apabila mereka yang mengklaim diri mereka punk dan hardcore melakukan hal serupa yang juga telah dilakukan oleh Taring Padi. Merefleksikan kebebasan dan maknanya dengan terarah dan nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya menjadi sebatas lirik, slogan dan desain yang dikonsumsi sehari-hari.
Di bandung, dengan mengambil tempat yang sama dengan tempat bagi kolektif Harder membuka tokonya, beberapa orang dari scene punk dan hardcore membuka tempat untuk sekedar diskusi dan berbagi serta menyediakan sebuah perpustakaan kecil yang terbuka. Apa yang disebut sebagai 'gerakan komunal' adalah hasil alamiah dari orang-orang seperti juga diri kita semua untuk mengharapkan dan membangun hidup berdasarkan kepada kerja sama, ko-operasi, pengertian dan saling berbagi. Sikap individual dan tak mau berbagi adalah salah satu penyebab kefrustrasian massa akan kebersamaan, hidup komunal adalah salah satu solusi praksis bagi masalah tersebut. Apabila mungkin, kita dapat mulai berbagi sesuatu yang kita miliki, pun itu adalah sekedar bacaan, dengan begitu kita dapat mulai untuk berbagi dunia kita dan hal itu adalah sebuah langkah ke depan dalam membentuk tatanan masyarakat tanpa pemerintahan, tatanan masyarakat anarkis.
Kembali kepada Taring Padi, masalah berbagi dalam hal perumahan, rumah bukanlah sebuah tempat di mana orang-orang dapat sekedar pulang dan menyimpan barang untuk kemudian kembali lagi keluar dari rumah dan bergabung dengan dunia mereka sendiri. Rumah adalah tempat untuk berbagi dunia dan melihat kenyataan bahwa di saat mereka saling memberikan waktu dan berbagi tempat, maka mereka akan dapat membangun tujuan mereka sendiri dan alasanalasannya, dan yang terpenting, adalah membangun hidup mereka sendiri. Kita semua menginginkan sebuah tempat di mana orang-orang dapat menjadi sesuatu yang oleh sistem tidak pernah diperkenankan--menjadi diri kita sendiri. Dalam banyak pandangan, dengan begitu Taring Padi akan dapat menjadi lebih dekat kepada tradisi anarkis daripada tradisi-tradisi lainnya yang mengalienasikan diri kita semua. Disinilah kita seharusnya mulai mengerti makna dan guna dari kata interaksi sosial.
Kita harus mulai berbagi ide komunal itu dengan masyarakat biasa, sebuah tatanan masyarakat yang menempatkan nilai-nilai properti diatas nilai manusia, yang lebih merespek kemakmuran pribadi daripada kemakmuran bersama. Kita mendukung visi komunal dari Taring Padi di mana orang-orang mengambil kembali dari negara apapun yang telah negara curi dari rakyatnya, dari diri kita semua. Squat adalah statement politis yang berakarkan kepada pemikiran akan kebebasan. Mengapa kita harus membayar untuk sesuatu yang seharusnya menjadi milik kita? Dunia siapakah yang kita tinggali ini?
Dengan melihat melalui kacamata tersebut, squatting eks-gedung ISI yang dilakukan oleh Taring Padi, membuka perpustakaan kecil untuk umum, bukanlah sebuah ide yang buruk.
"The lives of millions upon millions of people are run by a small handful of ruling elites who own all the wealth, all the land and who have all the control. We are expected to be grateful to them for the privilege of having them rule our lives. We are expected to be grateful to them for the privilege of paying them for the roof over our heads. We are expected to be grateful to them for the privilege of being slaves In their factories and offices and for the privilege of accepting the miserable wages that they pay us. They grow richer at our expense, but we're expected to look up to them as examples of success We are expected to be grateful for the privilege of paying them their huge taxes so that they can finance their oppression of us, the people. Finally, we are expected to be grateful to them for the privilege of fighting for them in their wars and killing other people like ourselves, or being killed by other people like ourselves. We are expected to love, honour and obey this wife beater til death, quite probably premature, do us part-in this particular marriage divorce is a hard case to fight for. Do they owe us a living? - Of course they fucking do!" - Petikan essay Penny Rimbaud dari Crass
Ide-ide anarkis, dalam berbagai bentuknya akan tetap ada dalam hidup kita. Sementara Taring Padi mengambil alih eks gedung ISI daripada ditinggalkan dan dibiarkan runtuh dimakan usia oleh pemilik sebelumnya, seorang skinhead di bandung mengambil properti pemerintah untuk kemudian digunakan untuk membiayai gerakan perlawanan massa. Sebuah aksi tinggal di gedung pemerintah daerah DPRD bandung, melibatkan puluhan buruh komunis yang menuntut perbaikan sistem kerja di pabrik tempat mereka bekerja dan keadilan bagi kamerad-kamerad mereka yang diperlakukan dengan sangat tidak adil oleh bos mereka. Aksi yang berjalan berhari-hari siang malam tersebut jelas membutuhkan biaya setidaknya untuk bertahan hidup sehari-hari. Melihat hal tersebut, seorang skinhead yang bergabung dalam aksi tersebut mengambil koran-koran gratis yang sedianya dibagikan untuk para anggota DPRD setiap hari sebelum sampai ke tangan para sampah borjuis tersebut, kemudian menjualnya dengan harga rendah kepada para pengedar koran jalanan. Hasil penjualan ratusan koran curian tersebut, digunakan untuk membiayai aksi para buruh tersebut. Aksi pencurian yang tidak dapat disalahkan sama sekali.
"Ask them for jobs. If they don't give you jobs, ask them for bread. If they don't give you bread, TAKE BREAD!" - Emma Goldman
Ya. Sekali lagi, ide-ide anarkis akan selalu datang kepada kita semua dalam berbagai bentuknya.
Sebuah band punk lokal dengan ide-ide pop dan komunisnya, Kontaminasi Kapitalis juga memulai sebuah rencana barunya. Antusiasme band tersebut pada penampilan ketiganya di Dago Tea House, bandung, pertengahan tahun 1999 lalu, memulai rencana awalnya.
"Then called King Arthur with loud voice, 'Where here before us the heathen hound, who slew our ancestors, now march we ro them ... and when we come to them, myself foremost of all the fight I will begin'." - 'Brut' Layamon
Beberapa hari sebelum hari penampilan mereka, ratusan booklet diperbanyak dengan foto-kopi untuk sedianya dibagikan pada waktu tampil nanti dengan harapan bahwa audiens akan mendapatkan sesuatu dari sebuah acara musik, lebih daripada hanya mendapatkan sekedar musik dan kepuasaan temporer saja. Booklet tersebut difoto-kopi oleh seorang personel band tersebut yang bekerja sama dengan seorang pegawai di sebuah perusahaan foto-kopi dengan gratis. Pegawai tersebut memiliki kesamaan visi bahwa kebebasan harus diraih dengan cara apapun juga, tetapi mengingat bahwa dia tak dapat meninggalkan pekerjaannya yang merupakan satu-satunya penopang hidupnya sehari-hari, maka dia memilih untuk membantu apapun bentuk gerakan kebebasan dengan segenap kemampuannya sendiri. Maka ratusan booklet diperbanyak dengan mesin foto-kopi tanpa bayaran sedikitpun juga pada malam hari di saat perusahaan foto-kopi tersebut telah tutup dan bos pemilik perusahaan tersebut pulang dan tidur di rumah yang penuh oleh barang-barang hasil penghisapan keringat dan hak buruh-buruh pegawai foto-kopi tersebut. Tidak ada bayaran apapun bagi pegawai tersebut, tetapi dia lebih dari bahagia dengan kontribusinya dalam membantu penapakan jalan menuju dunia yang bebas.
Bocklet tersebut berisi irik-lirik band tersebut yang berorientasi Marxist dan juga propaganda mengenai penolakan kenaikan harga BBM dan listrik yang notabene adalah akibat dipotongnya subsidi bagi BBM dan listrik oleh negara karena dianggap pemberian subsidi tersebut sama sekali tidak membawa keuntungan bagi mempertebal dompet para penguasa negara. Pemotongan subsidi BBM dan listrik, di mana dana yang sedianya digunakan untuk mensubsidi kedua hal tersebut digunakan untuk menambah jumlah gaji pendapatan bagi para anggota parlemen. Alasannya, negeri indonesia ini terlalu banyak dikotori oleh para koruptor yang duduk di kursi parlemen, sehingga untuk mengurangi aktifitas kotor tersebut maka gaji pendapatan para anggota parlemen yang jelas sudah sangat tinggi harus ditambah. Dana untuk mensubsidi kebutuhan tersebut sebenarnya masih ada, tetapi negara juga berpendapat bahwa militer lebih membutuhkannya untuk memperkuat posisinya yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kepentingan diri kita semua sehari-hari. Semakin jelas bahwa posisi negara tidak ada segi positifnya sama sekali, mereka ada hanya untuk memerintah kita, memperkaya diri mereka yang menguasainya, dan memperkuat kedudukan mereka dengan aparat dan birokrasinya. Hal yang sangat jauh berseberangan dengan tujuan para anarkis yang mendambakan sebuah dunia bebas bagi semua orang, bukan hanya bagi sebagian orang saja.
Bookletpun dibagikan dan dalam beberapa menit, ratusan booklet telah habis terdistribusikan. Dari mereka yang menerima booklet tersebut, diharapkan akan muncul kesadaran-kesadaran palsu yang akan menghancurkan kesadaran semu yang telah dijejalkan ke kepala kita semua oleh sistem selama ini. Membuka dunia kelabu dengan warna-warna baru, menceritakan sebuah kisah nyata dan menyalakan percikan api dalam hati para pembacanya, dan suatu saat nanti akan menjadi kobaran api yang dapat merubah tatanan sistem dan mendobrak kebosanan dan kefrustrasian dunia ini. Punk dan hardcore adalah budaya kaum muda, budaya mereka yang memiliki semangat baru ditengah kefrustrasian dan stagnansi para mereka yang telah tua, dan dengan musik dan agitasi dalam festival kebebasan, ideide baru akan muncul demi kebebasan sesungguhnya bagai air yang terus mengalir.
"Our generation is the best mass movement in history - experimenting with anything in our see search for love and peace. Knowledge, kicks, religion, life, truth, even if it leads us to our death, ati least we're oil trying, together. Our temple is sound, we fight our battles with music, drums like thunder, cymbals like lightning, banks of electronic equipment like nuclear missiles of sound. We have guitars instead of tommy-guns." - Phil Russell, 1974.
Revolusi rock'n'roll, dari hari ke hari, pembicaraan dan diskusi terus berlanjut, hujan turun dan apabila tahun lalu hanya ada beberapa kaset lama yang meneriakan pesan-pesan kebebasan, maka tahun ini dan tahun berikutnya kita harus bisa melakukan banyak hal yang lebih baik lagi.
Pada kenyataannya, pemerintah telah mencium hal ini, bahwa subkultur punk dan hardcore ini adalah sebuah subkultur yang sangat simultan untuk menjadi sebuah gerakan perlawanan kaum muda. Maka, mulailah pendiskreditan punk dan hardcore di mata masyarakat umum dengan menggunakan alat yang telah terbukti sejak dulu ampuh untuk mempermainkan dan mengontrol serta membentuk opini publik, media massa. Pada saat sekitar pergantian tahun 1998-1999, sebuah media massa nasional, tabloid Adil, memajang foto Toro seorang drummer dari band lokal Keparat dengan ukuran yang dapat dilihat dengan cukup jelas walaupun dari jarak beberapa meter. Yang menjadi masalah adalah bahwa foto Toro tersebut yang jelas dinilai dapat menarik perhatian massa karena penampilannya yang dengan mudah teridentifikasi dengan budaya punk, disebelahnya dicetak kalimat dengan hurufhuruf besar bertuliskan 'Bandung Laut Geng'. Saat kita membuka lembaranlembaran tabloid murahan tersebut, kita akan mendapati bahwa di dalamnya sama sekali tak ada berita yang mengkaitkan foto Toro di muka tabloid tersebut dengan berita mengenai kebrutalan geng-geng motor yang ada di bandung sendiri. Sama sekali tak ada berita mengenai kaitan kedua hal tersebut. Tetapi apa yang menjadi misi utama dari media tersebut telah berhasil. Opini publik mengenai bahwa punk tidak lain dengan sebuah gerakan geng-geng berandalan tanpa otak, mulai terbentuk, dan disamping itu, memuat foto yang tidak lazim di halaman depan sebuah tabloid dengan sangat besar jelas-jelas mengkatrol penjualan oplah tabloid itu sendiri. Sebuah taktik kuno yang ternyata masih ampuh hingga saat ini.
Kita yang berdiri di samping kebenaran obyektif, membanjiri meja redaksi tabloid murahan tersebut dengan berbagai surat bernada protes dan menggunakan LBH sebagai bantuan bagi ketidakpuasan kita terhadap media massa. Tetapi semua surat protes yang masuk ke meja redaksi dan dimuat dalam tabloid kacangan dalam edisi mereka berikutnya, selalu mengalami proses editing yang begitu terencana, karena selalu saja mengedit bagian-bagian yang memuat ide-ide terpenting yang kita sampaikan. Surat protes yang dimuat menjadi terbaca hambar sehingga tidak dapat mengembalikan image yang mulai terbangun dalam masyarakat mengenai punk dan hardcore itu sendiri. Lalu kita dengan jelas melihat adanya keterlibatan negara dalam hal ini. Sebuah surat tanggapan dari editor tabloit tersebut menyatakan bahwa dia menerima berita yang sangat terdistorsi tersebut dari pihak kepolisian bandung. Polisi menyatakan bahwa kita semua, punk dan hardcore adalah preman-preman yang sok bergaya bak reformis yang didominasi oleh image mahasiswa. Terlihat jelas bahwa hal ini ada kaitannya dengan gerakan-gerakan dan aksi-aksi yang kita organisir bersama selama ini. Terlihat jelas bahwa di balik semua ini, sebenarnya pemerintah, aparat negara dan media massa adalah sebuah monster berkepala tiga yang tak terpisahkan satu sama lainnya. Bahwa media massa hanya merepresentasikan apa-apa yang menjadi keinginan pemerintah untuk membentuk image dan opini publik. Kita yang putus asa menanggapi tabloid yang selalu membela diri mereka seakan mereka tak bersalah tersebut juga melihat kenyataan, bahwa ternyata LBH tak dapat berbuat banyak dalam membantu rakyat dalam bidang hukum.
Kita seakan disadarkan kembali dari mimpi-mimpi dan ilusi bahwa kita dapat meletakkan hidup kita kepada negara, aparat keamanan, media massa dan LBH yang terlihat seakan eksis untuk membantu semua yang mendapat proses ketidakadilan di negeri ini. Tak ada lagi alasan yang dapat membuat kita semua mempercayakan hidup kita kepada mereka semua. Kita harus mulai untuk belajar mengambil kontrol penuh atas hidup kita sendiri, mengatasinya secara bersama dengan mereka yang berada di sekitar kita dan mengabaikan semua pertolongan dari lembaga-lembaga negara. Kita harus belajar untuk menjadi polisi bagi diri kita sendiri, kita harus belajar untuk menjadi hakim yang adil bagi diri kita sendiri, kita harus belajar untuk menjadi pemerintah bagi diri kita sendiri, belajar untuk hidup tanpa pemerintah, belajar untuk hidup secara anarkis.
Media massa dan aparat negara seperti polisi dan tentaranya adalah alat pemapanan kekuasaan pemerintah dan pelanggengan perbudakan. Pemerintah selalu berusaha secara kontinyu untuk membuat publik berpikir bahwa sesuatu yang positif sedang mereka lakukan dalam berbagal situasi di mana sistem mulai terlihat jelas keluar jalur. Hal-hal tersebut membuat pemerintah untuk melakukan kejahatan-kejahatan melawan rakyatnya sendiri dengan cara yang tampak positif dan dapat dibenarkan oleh hukum yang berlaku di sebuah negara, Taktik yang sama digunakan di mana-mana dan oleh pemerintah manapun juga, seperti kasus kekerasan polisi dan militer inggris di belfast, penghancuran lingkungan seperti merebaknya limbah radiasi mematikan dari sebuah stasiun tenaga seperti d windscale, penggusuran paksa rumah-rumah penduduk akibat proyek Paspati di bandung, kasus Kedung Ombo; perampokan daratan demi pembangunan pertambangan, lapangan golf, pembangunan jalan ataupun pembangunan pabrik, dan semua yang terlihat merupakan rencana dari pemerintah untuk kepentingan diri mereka sendiri bukannya kepentingan publik. Kesalahan lain seperti korup oleh para pejabat pemerintah, penganiayaan tahanan di penjara maupun dalam sel-sel polisi, kekerasan dari guru-guru di sekolah terhadap muridnya, pembunuhan penduduk oleh aparat militer di berbagai tempat, atau apapun itu, dalam faktanya, pemerintah memerlukan sebuah tirai untuk menutupi semua keborokan aktifitas mereka yang sebenarnya.
Mereka yang duduk di kursi pemerintahan sebenarnya telah mengetahui dengan pasti bahwa mereka dan pemerintah beserta seluruh perangkatnya, melakukan kejahatan harian melawan publik, dan masih juga, kecuali mareka telah terekspos oleh publik sebagai penjahat, mereka akan terus berdiam diri seakan tak terjadi apa-apa.
Dalam kasus dimana publik mulai menjadi sadar bahwa pemerintah tidak berpihak kepada mereka, maka dengan segera pula pemerintah membuat setting dan mengajukan beberapa isu yang akan mengamankan posisi mereka. Sesuatu kasus akan segera dikaitkan dihadapan publik di mana penanganan pemerintah beserta semua perangkatnya akan membuat publik kembali terdiam puas dan kembali terilusi bahwa keadilan telah ditegakan oleh negara’. Padahal kenyataan yang kejam adalah sebagai berikut, bahwa pemerintah sebenarnya tidak melakukan apa-apa kecuali memproduksi dan mengeluarkan perintah untuk mencetak beberapa kertas putih di mana semua orang dapat membacanya dan menyusun beberapa sandiwara sehingga publik tak akan peduli lagi akan kejahatan pemerintah. Sementara itu, kejahatan legal yang jelas dilindungi oleh hukum akan terus berlanjut dan seakan menjadi tak nampak lagi di mata publik.
"I saw the police dragging away a young boy, punching and kicking him, I saw a pregnant woman being kicked in the belly and a little boy being punched in the face. All around the police were just laying into people. I went to one policeman who had Just knocked out a woman's teeth and asked him why he'd done it, he told me to fuck off or I'd get the same. Later on, I did." - Wally Hope, setelah kasus penyerbuan polisi dalam sebuah festival musik punk di Stonehenge.
Sedikit demi sedikit kita mulai belajar. Hari-hari yang penuh aktifitas yang berdiri pada garis yang 'aman' telah berakhir, kita harus mulal mengambil langkah tegas, apakah ini yang kita mau ataukah bukan seperti ini yang kita impikan. Mimpi buruk mulai menjadi kenyataan. Para anak muda dalam subkultur punk dan hardcore mulai menyadari bahwa apa yang selama ini mereka nyanyikan dalam lagu-lagu mereka, yang mereka coretkan pada pakaian mereka, adalah bukan sesuatu yang main- main. Perlawanan menentang pemerintah adalah bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan sebelah mata. Belum lagi ditambah dengan tekanan dari orang tua kita di rumah masing-masing yang seringkali masih tidak mengerti juga mengapa kita memilih jalan ini, jalan yang terlihat begitu sulit. Orang tua kita mulai menjadi penindas kita yang terdekat karena mereka memaksa kita untuk meninggalkan hidup yang kita pilih.
“Where today are the many powerful tribes of our people? They have vanished before the greed and oppression of the White Man, as snow before the summer's sun." - Indian Chief.
Punk dan hardcore mulai mengalami demoralisasi. Kekerasan aparat militer dan polisi mulai sering terjadi, walaupun terkadang dilancarkan dengan alasan-alasan yang jelas sangat dibuat-buat. Belum lama berselang, di kampus Moestopo, jakarta, diadakan sebuah festival musik yang dihadiri oleh banyak punk dan hardcore lokal. Di tengah-tengah berlangsungnya acara, satu mobil brimob datang, berkata-kata yang tidak mengenakkan telinga dan segera direspon oleh para audiens dengan lemparan botol. Para brimob tersebut turun dan marah atas penyerangan balik tersebut, tapi audiens balik melawan dan mempertahankan diri. Lalu dikirim satu pasukan brimob yang juga mendapat perlawanan, hingga akhirnya dikirim pasukan brimob lebih banyak lagi dan diperlengkapi dengan senjata. Gas air mata ditembakkan membabi buta ke arah kerumunan massa yang mengakibatkan bubarnya massa dan terjadi tindak penangkapan-penangkapan dan kekerasan negara lainnya.
Tapi ada satu hal yang menarik dalam peristiwa tersebut. Di antara banyak massa, ditemukan pula banyak orang-orang yang berdandan 'sangat punk', dengan atribut yang sangat lengkap dan tentu saja dengan simbol-simbol dan slogan-slogan perlawanan yang menempel di pakaiannya. Tapi apa yang terjadi setelah bentrokan keras melawan brimob tersebut adalah bahwa merekalah yang pertama melarikan diri dari tempat kejadian. Tidak semuanya memang, tapi sebagian besar. Masih ada yang tetap tinggal dan melawan dengan segala kemampuan dan senjata-senjata dari apapun yang bisa didapat seperti batu, tongkat atau apapun yang berada di sekitar mereka. Para punk dan hardcore tersebut juga dihadapkan pada kenyataan bahwa perlawanan melawan negara sekali lagi, bukan sesuatu yang main-main. Beberapa bulan kebelakang, di bandung terjadi penyerangan terhadap beberapa orang punk hardcore lokal yang terlibat dalam aktifitas-aktifitas politik dan gerakan massa. Mereka dipukuli dan dianiaya oleh belasan aparat militer dalam sebuah wartel sempit hanya karena masalah yang sepele.
Pertengahan tahun awal abad 21 ini, di sebuah pertunjukan kecil di sebuah bar di bandung, terjadi penangkapan beberapa orang audiens oleh para aparat kepolisian. Di bar tersebut, sejak dulu sudah sangat biasa apabila ditemukan seseorang yang mabuk. Tapi pada acara tersebut, beberapa ditangkap dan setelah digeledah, ditemukan ganja. Tentu saja ini semua juga alasan yang sangat dibuatbuat walaupun memang ditemukan ganja pada mereka yang ditangkap karena mereka ditangkap justru sebelum ganja tersebut ditemukan.
Sejak awal, isu soal penyalah gunaan obat-obatan dan pemakaian ganja telah menjadi senjata politik yang sangat kuat untuk melawan mereka yang mencari, ataupun mengoperasikan perubahan-perubahan sosial. Terlalu banyak definisi dari masalah kecanduan ataupun sebagai pengedar menjadi tuduhan terbaik yang di mana pemerintah dapat menyudutkan mereka-mereka yang berani mempertanyakan tentang kenyataan hidup di bawah penindasan sistem saat ini. Terkadang tak ada bukti fisik bahwa mereka memang sebagai pecandu ataukah hanya pengguna biasa ataukah sebagai pengedar dalam kondisi-kondisi setelah tertangkap karena di balik itu semua sebenarnya apa yang pemerintah cari adalah mereka-mereka yang aktifitasnya tidak dapat lagi dijaring dengan hukum-hukum subversif yang telah ditentang dan dicabut dari tata hukum pemerintahan indonesia. Labal- label seperti pengguna ataupun pengedar adalah sebuah metoda untuk berurusan dengan individual-Individual dan memerangkapnya untuk dapat terpisahkan dari kritik-kritik sosial dan perubahan nyata yang mereka para individual itu harapkan. Tapi terkadang untuk menutupi kegagalan dan keimpotenan mereka, para aparat negara tersebut tidak terlalu mempedulikan apakah yang mereka tangkap memang benar-benar orang yang mereka cari ataukah bukan, karena siapapun yang mereka tangkap, akan mereka tuduh dengan alasanalasan yang mendadak muncul yang tentu saja interogasi mereka dengan menggunakan kekerasan fisik dan penganiayaan. Tak ada cara yang lebih baik daripada memaksa seorang tersangka untuk patuh dan tunduk pada apapun perintah mereka. Hanya satu yang mereka pedulikan, yaitu bahwa para tersangka yang ditangkap semena-mena dapat menjadi sebuah pelajaran bagi yang lain agar tidak pernah mempertanyakan apapun di bawah sistem ini dan jangan pernah menjadi seorang 'pembuatan onar' yang dapat mengganggu jalannya sistem sekarang ini. Sebuah teror mental dari kekerasan negara.
Dengan melihat kenyataan seperti diatas, maka hanya orang-orang yang dianggap 'gila' yang masih akan mau mempertanyakan sistem ini. Kerja-kerja dari para psikologis seperti Sigmund Freud, Jung, dan sekolah-sekolah yang mengikuti ajaran-ajaran mereka mengisolasikan bentuk pemikiran' dan mendefinisikan beberapa dari mereka sebagai yang memiliki taraf 'kegilaan', termasuk berbagai bentuk yang mengarah kepada penolakan ilusi kenyataan yang kita alami. Dengan membiarkan orang-orang untuk mempelajari pengalaman-pengalaman dan pemikiran-pemikiran dari mereka yang disebut 'gila', bukannya dengan menghukum mereka, maka sebuah cara pandang dan cara pikir radikal dapat direalisasikan, sebuah perspektif baru akan dibangun dan sebuah horizon baru akan dicapai. Melalui cara apalagi pemikiran manusia tumbuh dan berkembang? Hampir semua perubahan besar dalam tatanan masyarakat dunia ini telah dibuat oleh mereka-mereka, orang-orang yang selalu dikritik, diejek, dilecehkan dan kadang dihukum pada saat hidup mereka, hanya untuk dikenang sebagai 'pemikir besar' jauh setelah kematian mereka semua. Selama kesehatan mental dan fisikal menjadi semakin dikontrol oleh obat-obatan, kita akan menjadi semakin dekat kepada dunia yang penuh dengan mereka yang 'normal' yang dalam hidup mereka hanya memiliki satu tujuan yaitu melayani sistem ini dengan tanpa berpikir dan tanpa otak, kemajuan mereka dan penumpulan otak mereka akan memenangkan perang melawan semangat manusia yang sesungguhnya.
Seorang personel dari band Atomicratraps, Niang ditangkap karena membawa ganja, sedangkan beberapa yang lainnya dilepaskan setelah mendapatkan 'kenang-kenangan' dari pihak babi-babi polisi itu berupa beberapa kekerasan fisikal. Niang tetap didakwa bersalah dan dia akan dihadapkan kepada pengadilan untuk dihukum dan dimasukan kedalam penjara karena ganja yang ditemukan bersamanya.
Ganja? Ya. Pemerintah masih terus mengilusi rakyatnya dengan mengatakan bahwa ganja adalah sesuatu yang berbahaya bagi kehidupan kita semua. Apabila kita mau lebih memperluas wawasan kita, sebenarnya ganja tidak berbahaya tapi tidak pula sama sekali tidak merusak. Betul apabila dengan memberikan ganja untuk dihisap sewaktu-waktu, hal itu akan membuat kita semua lambat dalam berfikir dan melakukan sesuatu walaupun dalam kondisi tertentu juga dapat membuka pemikiran kita atau membantu otak kita untuk berkonsentrasi. Kaum muda kita hanya mengetahui bahwa kegunaan ganja satu-satunya adalah untuk dihisap, atau dimakan dalam bentuk sayuran. Kita hanya tahu hal tersebut karena kita tidak pernah diberi pengertian lain tentang kegunaan ganja itu sendiri. Dan pemerintahpun tidak pernah sekalipun mengupas sisi positif dari kegunaan ganja itu sendiri.
"We need fuell We need paper! It's almost gonel Where are we gonna get more? The answer, for centuries, has been right under our nose: grow more pot! And we did, tool Guess what Levl jeans were originally made out of? And guess what American flags used to be made out of? And guess what the early drafts of the Declaration of Independence and the U.S. Constitution were written on? And if that's too un-Christian for you, guess what they made Guttenberg and King James Bibles out of? Guess what you can use to power a car? You can get at least four times as much cellulose to make gasohol or methanol from hemp stems as you can from a com stalk. Which along with solar energy would be a great way to avoid dying for oil in Saudi Arabia. In the 1920s and 1930s most American cars and farm machinery had the option of running on gas or on methanol; most racing cars still do run on methanol And George Washington and Thomas Jefferson grew cannabis on their plantations and smoked it, tool." - Jello Biafra dari essay spoken word dalam 'I Blow Mind For a Living".
Ya. Ganja dapat digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari. Tetapi mengapa ganja di diskreditkan? Dan mengapa mereka yang membawa dan menanam ganja dapat dijatuhi hukuman yang cukup berat dan kegiatan itu selalu ditumpas oleh pemerintah dengan penuh kekerasan?
Dulu di amerika, penanaman ganja dilegalkan. Tak ada seorangpun yang ditangkap hanya karena menanam tumbuhan ganja. Bahkan george washington dan thomas jefferson menanam tanaman itu sendiri dan juga menghisapnya! Ganja digunakan sebagai obat untuk penyakit glaucoma dan menyembuhkan rasa sakit yang diderita oleh pengidap kanker, dan kita dapat meraih lebih banyak protein dari dedaunan tanaman tersebut apabila kita makan dengan cara memasaknya menjadi sayuran, lebih banyak daripada sayuran lainnya. Ganja juga menampakkan sinyal kemungkinan untuk memerangi herpes. Dan tebak, apa yang menjadi bahan dasar parasut yang digunakan oleh tuan 'Drugs War' eks-presiden george bush saat dia melompat dari pesawat pembomnya saat terjadi Perang Dunia II?
Tahun 1936 saat di spanyol suasana sedang panas-panasnya karena terjadi perang sipil, di amerika sebuah majalah Popular Mechanics telah berhasil merakit sebuah mesin baru untuk memproses ganja, dan memprediksikan bahwa ganja sekali lagi akan menjadi tanaman paling dicari di seluruh dunia. Hal ini jelas-jelas sangat mengganggu bagi orang-orang dalam pabrik kertas seperti Hearst Paper Manufacturing atau Kimberly-Clark atau juga perusahaan kertas multinasional lainnya yang memiliki sistem penebangan hutan terbesar. Hal Ini juga sangat mengganggu bagi perusahaan rokok multinasional karena penemuan ganja ini akan memotong penghasilan mereka yang sangat besar dari hasil penjualan rokoknya. Dan tentu saja hal ini juga sangat mengganggu bagi kerabat-kerabat multinasional lain seperti DuPont. Pemrosesan ganja hanya menggunakan seperlima bagian dari bahan kimia yang digunakan untuk memproses bubur kayu dan DuPont telah mendapatkan lisensi ekslusif atas penggunaan proses pengasaman bubur kayu dan DuPont juga telah mendapatkan hak paten atas plastik fiber yang apabila ganja digunakan sebagai penggantinya maka plastik fiber yang dimiliki hak patennya oleh DuPont akan menjadi turun ke urutan nomor dua dari kualitas fiber dari daun ganja. Dan mereka semua menolak hal tersebut karena akan memotong pendapatan mereka dalam meraup profit.
Dan terakhir, perusahaan-perusahaan obat-obatan multinasional akan kehilangan pasaran karena dengan adanya potensi tumbuhan ganja untuk menjadi obat-obatan alamiah, maka pasaran obat-obatan kimla mereka akan terpotong dan kepentingan ekonomi mereka terganggu. Jelas saja, bayangkan apabila kita diperbolehkan menanam ganja sendiri, dan setelah kita belajar memprosesnya sendiri, maka kita akan dapat mengurangi ketergantungan penggunaan kita pada obat- obatan kimia produksi pabrik, dan apabila semua bahan yang digunakan untuk memproses ganja adalah tumbuhan alami dan mudah didapat, maka tak akan bisa hal tersebut dijaga dan dicap dengan hak paten.
Sementara itu, tebak siapa yang memiliki kongres di amerika sebenarnya? Tidak ada bedanya dengan negara manapun, mereka yang duduk di kongres adalah mereka yang mempunyai kepentingan untuk memperkuat kedudukan ekonomi mereka pribadi. Maka ganja dianggap ilegal pada tahun 1937 dan mereka menghembuskan nafas rasis untuk memperparah dan mendiskreditkan ganja seperti apa yang mereka lakukan untuk mendiskreditkan rock'n'roll, rap ataupun hip-hop. Mereka menyebarkan isu rasis, bahwa dengan menghisap ganja maka hal tersebut akan membuatmu terinfluence oleh musik jazz dan blues. Kongres juga mengatakan bahwa ganja harus diilegalkan karena apabila para kulit hitam menghisapnya, maka orang kulit hitam tersebut akan melirik seorang perempuan kulit putih dua kali. Pengilegalan tersebut juga didukung dengan pembuatan film propaganda negara seperti film dokumenter berjudul 'Reefer Madness', sama seperti apa yang pemerintah indonesia lakukan untuk mendiskreditkan PKI dan gerakan komunis di indonesia dengan membuat film mengenal peristiwa G-30-S dan peristiwa pemberontakan Madiun. Maka ganja dianggap ilegal dan dianggap kejahatan untuk memilikinya sejak tahun 1937. Maka kini semakin jelas mengapa negara selalu ketakutan bahwa rakyatnya akan mendapatkan keterangan dan informasi yang jelas mengenal apa-apa yang sebenarnya terjadi. Bayangkan apabila massa mengetahui dengan jelas bahwa ternyata penyebab masalah penyalahgunaan obat bius selama ini adalah diakibatkan oleh pemerintah itu sendiri, bukan oleh rakyat dan para penggunanya. Dan bayangkan pula bagaimana mudahnya setiap orang termasuk diri kita secara individual mengurangi krisis manusia dan lingkungan dengan tidak perlu menerima ide-ide pemerintah seperti pembunuhan penduduk dan pencemaran lingkungan demi mendapatkan minyak bumi dan mengapa dengan begitu kita bisa tidak terpengaruh oleh kenaikan harga-harga BBM. Pemerintah tidak ingin kita berdiri secara independen dan menolak peran pemerintah dalam kehidupan kita. Lalu menjawab pertanyaan mengapa negara indonesia juga memberlakukan hukum yang sama dengan di amerika dalam menanggapi masalah ganja? Jawabannya sangat mudah, lihat siapa yang berkuasa di duna ini sebenarnya dan kepada siapa pemerintah indonesia sejak dulu patuh dan menundukan kepala mereka seperti seekor kambing terhadap gembalanya. amerika.
Yang paling ditakuti oleh pemerintah adalah mereka-mereka yang dapat mandiri, berdiri secara independen dan semakin jauh ketergantungannya terhadap peran pemerintah. Karena dengan keberadaan mereka yang seperti itu, hal tersebut akan melenyapkan pendapatan mereka untuk meraup profit dari ketergantungan kita.
Maka tidak sepantasnya Niang dijebloskan ke dalam penjara karena apa yang ditemukan saat dia ditangkap!
Dalam dunia gerakan massa dan aktifitas politik indonesia, isu mengenai pengadilan suharto makin marak. Di mana-mana terlihat demonstrasi-demonstrasi mengenal penuntutan pengadilan suharto. Sebuah isu yang sama sekali tidak relevan bagi anarkis. Menuntut agar suharto diadili adalah sama dengan memberikan kepercayaan kembali kepada negara dan sistem peradilannya untuk bertindak. Memberikan kepercayaan kepada negara adalah sama dengan sebuah langkah terburuk bagi kaum anarkis. Bayangkan apa yang akan kebanyakan dari kita pikirkan apabila suharto dijebloskan ke dalam penjara oleh pengadilan negara? Publik akan kembali percaya bahwa negara telah berpihak kepada mereka, dan hal tersebut hanya akan semakin mengilusi kesadaran publik bahwa kita tidak membutuhkan pemerintah dan negara untuk mengatur hidup kita sehari-hari.
Lalu para penuntut pengadilan suharto tersebut sangatlah tidak realistis. Mereka tidak melihat bagaimana kondisi dan sistem yang berjalan di penjara. Dalam penjara, tak ada bedanya sama sekali dengan kondisi di luar penjara, bahwa mereka yang memiliki uang besar akan hidup nyaman walaupun di dalam penjara. Berbagai fasilitas akan dipenuhi demi kenyamanan sang narapidana, sementara mereka para narapidana yang tidak memiliki uang sama sekalilah yang mengalami tekanan-tekanan mental maupun fisikal baik dari sesama narapidana maupun dari sipir penjara ditambah tekanan alienasi penjara terhadap kehidupan di luar penjara. Kita semua dapat melihat ulang kepada ide apabila suharto dijebloskan ke dalam penjara, akankah dia merasakan perbedaan hidup dalam penjara atau di luar penjara? Berapa kekayaan yang dimiliki olehnya? Berapa ratus bangunan penjara yang dapat dibangun olehnya apabila dia mau? Ya. Pengadilan suharto adalah isu yang sia-sia belaka. Hal itu hanya mungkin apabila sistem yang berlaku juga diubah. Selama sistem tidak berubah, maka pengadilan suharto tidak akan ada gunanya selain hanya menguras energi kita dan menyerap dana finansial kita yang seharusnya dapat kita gunakan untuk keperluan lain yang lebih berguna dan menyenangkan bagi diri kita.
Organisasi-organisasi punk dan hardcore yang melakukan perlawanan selama ini juga banyak terilusi oleh isu di atas. Tidaklah mengherankan karena setiap organisasi tersebut selalu didekati dan dijejali oleh propaganda-propaganda merah dari para komunis dan mereka yang mengaku sosialis. Punk dan hardcore dianggap sebagal kelompok bodoh yang tidak mampu berpikir, digunakan oleh berbagal kepentingan yang sama sekali tak ada kaitannya dengan kepentingan kita sendiri. Bendera-bendera dengan logo huruf A yang dilingkari telah berkibar di mana-mana, tetapi apakah sebuah gerakan bisa dinilai berdasarkan sebuah simbol? Sebuah gerakan dinilai melalui apa yang mereka lakukan dan bagaimana cara gerakan tersebut bergerak.
Organisasi kita tidaklah bodoh, tidak gila, tidak seekstrim pandangan publik, tapi kita adalah sebuah organisasi perlawanan yang juga mengutamakan kemanusiaan yang tidak ingin menerima dunia kelabu di mana dalam hidup ini kita dipaksa untuk menerimanya. Kita ingin sesuatu yang lebih dan bersiap untuk meninggalkan sistem yang berjalan seperti ini. Kita tidak melihat mengapa kita harus berperang dengan sesama kita dan tinggal seperti musuh di antara kita sendiri. Kita percaya, seperti juga layaknya kebanyakan para anarkis, bahwa pada dasarnya semua orang adalah baik dan ramah dan sistem inilah yang telah memaksa dan membentuk kita semua menjadi penuh dengan kekerasan, kerakusan dan menjadi jahat terhadap sesama kita sendiri.
"What is evil but good tortured by its own hunger and thirst?" - The Prophet! Phil Russell 1974.
Kita semua terlahir bebas, tetapi selalu kita menjadi obyek bagi pengkondisian untuk membentuk budak-budak dari sistem ini. Kita diperangkap oleh orang tua kita, guru kita, boss-boss kita dan mereka yang berkuasa untuk menjadi seperti apa yang mereka inginkan dari diri kita, bukannya untuk menjadi apapun yang kita inginkan kita jadi sesuai dengan keinginan kita, hasrat kita, keunikan kita. Anarkis percaya bahwa sifat alamiah kita semua untuk hidup damai dan kooperatif telah dihapuskan dari kehidupan kita dan diubah menjadi sifat kompetitif yang melayani kepentingan kelas borjuis yang berkuasa. Hidup adalah sebuah pengalaman yang indah dan sangat menarik. Mengesampingkan apa yang para politisi katakan kepada kita, kita seharusnya melihat bahwa dunia ini sebenarnya cukup besar bagi kita semua apabila kita dapat belajar untuk saling respek dan saling berbagi dalam kehidupan kita semua. Jutaan orang diperintah oleh sedikit orang: jutaan orang hidup dalam dunia perbudakan yang kelabu hanya agar mereka yang sedikit dapat menikmati keistimewaan dan hak-hak lebih yang seharusnya adalah hak kita semua yang kita bawa sejak kita lahir. Tentu saja, dengan melihat jumlah kita yang sangat besar sebagai orang-orang yang digunakan untuk kepentingan mereka yang sangat sedikit, kita seharusnya dapat mengambil kembali apapun yang seharusnya milik kita tetapi tercuri oleh mereka.
"358 people own half the world. Let's kill them!" - Jello Biafra
Taktik perebutan kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita, terkadang berubah menjadi ide untuk merebutnya dengan kekuatan senjata. Ide-ide seperti ini begitu kuat merasuki otak-otak dari punk dan hardcore yang mulai mengalami demoralisasi karena seakan melihat kebuntuan jalan dalam hal mengorganisir massa untuk bersama-sama merebut kembali milik kita semua tersebut.
Tidak ada yang salah apabila kita membalas kekerasan dengan kekerasan. Tetapi kita tidak boleh melupakan satu hal penting, bahwa dunia yang kita dambakan adalah dunia yang penuh cinta kasih dan penuh kedamaian. Kita tidak boleh melupakan sebuah pendekatan 'hati ke hati', kita harus mulai belajar untuk memberikan cinta kasih kita kepada sesama kita. Dari kekerasan domestik hingga perang global, aturan mainnya tetap sama saja, 'hancurkan apa yang tidak kau mengerti”. Sementara anarkis, harus dapat mencari jalan yang lebih kreatif daripada sekedar menghancurkan tanpa solusi yang lebih jauh. Kita tidak hanya menghancurkan lawan, tapi kita juga membuat dan membangun tatanan masyarakat idaman kita yang hidup berdampingan dengan damai, bekerja sama dan saling berbagi.
Pertengahan tahun 2000 ini, terjadi beberapa kasus peledakan bom di Jakarta. Salah satu kasus terjadi di gedung BEJ, Bursa Efek Jakarta. Tidak ada salahnya dengan kasus peledakan bom di gedung BEJ tersebut, tetapi satu kesalahannya adalah mengapa bom tersebut diledakan di tempat parkir mobil di mana banyak sopir-sopir yang tidak bersalah atas hancurnya perekonomian meledak bersama ledakan bom tersebut. Target peledakan seharusnya adalah dalam gedung BEJ sendiri. Mengapa dalam gedung? Karena dalam gedung tersebut berkumpul mereka-mereka yang dapat dengan seenaknya mempermainkan harga demi keuntungan mereka pribadi, mereka yang tidak merasakan betapa sulitnya hidup dalam kondisi harga yang terus melambung tinggi yang salah satunya dipermainkan oleh mereka-mereka di dalam gedung BEJ yang sama sekali tidak bekerja melainkan hanya berteriak-teriak, memperhatikan naik turunnya indeks saham, membeli saham ini, melepas saham itu, sementara dunia yang lebih luas di luar gedung itu, nyawa jutaan massa dipertaruhkan dengan naik turunnya harga. Kekerasan memang tidak menyelesaikan masalah, tetapi kekerasan dapat menaikan tingkat kesadaran massa yang selama ini selalu terbuai dengan berbagai ilusi dari negara.
Selama ini revolusi bersenjata selalu diadvokasikan oleh para leftist. Kebanyakan dari sejarah organisasi-organisasi teroris internasional selalu dimulai oleh para Marxist yang frustrasi dalam kerja pengorganisirannya dan segera mengadvokasikan untuk membentuk sayap bersenjata dan revolusi bersenjata dari kaum proletar untuk menyingkirkan penindasnya. Sebuah kasus yang sudah sangat biasa terjadi dalam dominasi gerakan politik, mereka yang berada dalam kemakmuran selalu saja mengadvokasikan sesuatu yang pada akhirnya akan dikerjakan oleh kelas proletar dan mereka yang miskin. Negara selalu saja mengirimkan mereka-mereka para kelas proletar ke garis depan saat mereka sedang berperang, dan menggunakan kelas proletar tersebut untuk menjaga kekuasaan mereka. Dan apa bedanya dengan mereka para leftist yang menganjurkan revolusi bersenjata saat diri mereka kebanyakan hanya duduk di balik meja dalam kantorkantor pusat sentralisme demokrasi? Bentuk pembebasan proletar seperti apa yang menggunakan nyawa kelas proletar yang biasanya tidak mengerti apa-apa, demi mencapai tujuannya?
Para leftist-leftist yang berpikiran ekstrim secara luas dikendalikan oleh orang-orang yang mendapat pendidikan tinggi dan taraf kehidupannya ada di atas rata-rata, dan karena latar belakang sosialnya pula maka mereka mendapat kemungkinan untuk menginfiltrasi berbagai organisasi, dari sekolah-sekolah hingga media, di mana mereka akan dapat meng'gol'kan propaganda-propaganda mereka dan menaikan isu-isu mereka sendiri. Karenanya, sebenarnya menggunakan kekerasan sama sekali tidak salah, tetapi kita harus berhati-hati dan lebih waspada karena kekuatan-kekuatan bersenjata selalu menjadi kekuatan yang diperebutkan oleh banyak pihak.
Kita mempunyai kekuatan kita sendiri, dengan menolak untuk digunakan sebagai alat demi pencapaian hasrat orang lain yang ternyata malah menaikan tingkat penindasan yang kita lawan, tetapi apakah kita mempunyai keberanian untuk berdiri sendiri tanpa "keanggotaan partai' atau 'buku merah' dan menuntut hak kita untuk hidup?
Kita dapat mendorong terbentuknya perubahan ini secara cepat dalam hidup kita sendiri. Kita dapat berusaha hidup dalam harmoni bersama kamerad kita dan di antara orang-orang yang ada di sekitar kita serta bersama lingkungan alam di manapun kita berada. Kita dapat berusaha untuk menjadi kreatif dengan fasilitasfasilitas yang kita miliki dan dipergunakan orang lain. Kita dapat belajar untuk menolak fungsi tolol di mana kita selalu dijejali dengan hal tersebut seperti bahwa laki-laki ada di atas perempuan dan bahwa homoseks tidak layak hidup berdampingan dengan kita. Kita dapat belajar untuk berbagi dan bekerja sama secara ko-operatif dengan siapapun, untuk mengembalikan kepada kehidupan apaapa yang telah kita ambil dari kehidupan itu sendiri. Kita dapat belajar mengenal dan memahami fungsi-fungsi alamiah dari dunia di sekeliling kita, cuaca, musim, sumber daya alam dan apapun yang tumbuh di planet kita ini. Kita dapat belajar untuk memahami apa yang orang-orang lakukan pada bumi ini, dan mengapa mereka melakukannya. Kita dapat belajar untuk menolak sampah-sampah kelabu mereka di mana kita selalu dijejali bahwa hal tersebut adalah merupakan fakta kehidupan'. Kita dapat menuntut dan membangun sesuatu yang lebih baik. Diantara semua hal tersebut, dan lebih jauh lagi, kita dapat belajar bersama-sama dengan mereka yang juga peduli dan kemudian sebagai individual kita dapat kembali kepada kehidupan kita sendiri, meminta kembali dunia kita yang sesungguhnya dengan cara kita sendiri dan kita dapat memulainya dengan saling bekerja sama membangun sesuatu demi kepentingan bersama yang lebih baik. Semua hal ini kembali diserahkan kepada kita sendiri sebagai individual-individual, untuk bersama-sama melawan sistem yang telah menggerogoti hidup kita semua.
Kita harus belajar untuk tidak takut kepada mereka yang berkuasa--kita harus berani berdiri di atas apa yang kita yakini adalah benar daripada hanya tunduk dan mementingkan dan melayani kepuasan diri kita pribadi dan ego kita sendiri dan dengan itu pula kita harus belajar untuk mencari jalan yang kreatif untuk 'mematahkan tulang punggung sistem'. Kita harus mencoba berbagai cara, seperti menulis lagu dan puisi, membuat rekaman, majalah, buku, memproduksi film dan video, menyemprotkan pesan-pesan di tembok-tembok kota dengan aksi grafiti dan berusaha untuk meraih akses ke dalam berbagai media massa di mana suara kita dapat didengar. Dan kita harus, bagaimanapun juga memback-up setiap kata yang kita hasilkan dengan aksi kita.
Sangatlah tidak bijak apabila kita mengadvokasikan 'direct action’. Hal tersebut sudah seharusnya dilakukan, bukannya untuk diperbincangkan. Setiap individu memiliki level ketakutan dan kecemasan yang berbeda-beda dan dalam melakukan 'direct action' sebagai bentuk dari sebuah protes dan perlawanan, kita semua harus dapat melakukannya semampu dan semaksimal diri kita mampu lakukan. Tetapi keberanian yang kita miliki juga harus diback-up dengan pemikiran untuk mempertahankan diri karena kita tidak akan mau menyerahkan hidup kita begitu saja seperti seorang martir. Kita harus belajar untuk sedikit demi sedikit mengikis rasa takut kita bukannya semakin menjadikan rasa takut kita sebagai pembenaran kepasifan diri kita yang tak akan menghasilkan apapun selain memperpanjang barisan perbudakan dalam sistem ini.
Di seattle, saat terjadi protes besar-besaran menentang kebijakan-kebijakan sidang WTO pada akhir tahun 1999 lalu, para demonstran yang anti kekerasan melakukan penghancuran-penghancuran pada perusahaan-perusahaan korporasi multinasional seperti McDonald's, Nike, Starbuck dan berbagai korporasi lainnya. Mereka menolak melakukan tindak kekerasan terhadap semua bentuk kehidupan, maka karenanya mereka memilih untuk menghancurkan private-property merekamereka yang sedang bersidang dalam gedung untuk menentukan bagaimana cara untuk membuat semakin miskinnya penduduk dunia dan semakin kayanya diri mereka. Di india, kerusuhan terjadi sebagai bentuk protes akibat dinaikannya harga BBM akibat kebijakan-kebijakan neo-liberalisme yang juga mulai masuk ke negeri india. Di brasil, beberapa restoran pinggir jalan yang dimiliki oleh perusahaan multinasional seperti McDonald's, KFC dan lain sebagainya menemui jendelajendelanya pecah berantakan dihantam oleh massa yang merasa dirampas hak hidupnya. Di melbourne pada aksi internasional $11, jalanan penuh massa memprotes jalannya sidang WEF yang tak lain adalah sebuah penentuan kebijakan neo-liberalisme yang semakin gencar dilancarkan kepada negara-negara dunia ketiga seperti negara kita. Di Praha, Chaznia, ribuan orang memadati jalanan menutup tempat sidang para representatif negara-negara pendukung pasar bebas bertemu, sebuah kereta api dibajak demi mengantarkan para demonstran dari italia menuju cheznia. Di kanada, bank-bank internasional tak dapat dibuka pintu-pintunya karena seseorang telah mengelem pintu-pintu masuk bank tersebut dengan lem super-glue sebagal aksi protes. Dari aksi-aksi demosntrasi, aksi sabotase di tempat kerja, dari aksi penutupan jalan hingga aksi pendudukan gedung instansi pemerintahan, dari aksi mogok hingga aksi pencurian dan pendistribusian barangbarang dan produk melalui pintu belakang untuk dibagikan kepada semua yang membutuhkan. Setiap orang memiliki caranya sendiri, idenya sendiri mengenai apa yang harus dilakukan untuk balik menggerogoti kekuatan pemerintah yang selama ini menggerogoti hidup kita. Apapun yang kalian lakukan, tutup mulutmu dan ingat bahwa mereka yang terlalu banyak berbicara justru memperbesar resiko untuk tertangkap.
Di saat yang sama dengan semakin banyaknya aktifitas ekstrim dilakukan, ada hal-hal yang juga harus dilakukan dalam struktur sosial yang masih eksis ini yang bertujuan untuk semakin memperlemah cara kerja struktur saat ini dengan cara saling membantu sesama dan memberikan berbagai solidaritas.
Apabila memungkinkan, kita dapat membuka squat seperti yang mereka di Taring Padi lakukan, seperti mereka di ABC No Rio lakukan, kemudian memulai pelayanan informal untuk mereka semua yang ingin melakukan hal yang sama, atau apabila masih sulit terutama dengan melihat kondisi obyektif di indonesia, kita dapat membangun kelompok ko-operatif sendiri dan kolektif kita sendiri untuk berbagi tanggung jawab untuk membayar biaya sewa atau biaya pembelian sebuah property untuk dijadikan milik bersama. Di tempat-tempat di mana kita telah menetap, kita dapat membuka pintu bagi orang lain, membentuk asosiasi bersama para tentangga dan bersama-sama membangun perbaikan-perbaikan kondisi dan fasilitas yang dapat digunakan bersama dalam area di sekitar kita tinggal. Kita dapat membentuk kelompok perkebunan di mana kita memiliki lahan kosong di mana kita dapat memproduksi makanan kita sendiri yang lebih bebas dari bahaya penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang seringkali berakibat fatal bagi mereka yang memakannya. Menanam tanaman-tanaman obat untuk keperluan penyembuhan penyakit-penyakit ringan. Membentuk kelompok-kelompok kesehatan di mana kita bisa lebih menggunakan obat-obatan herbal yang alami daripada menggunakan obat-obatan kimiawi yang dihasilkan oleh robot-robot di pabrik yang semakin kaya pemiliknya apabila kita semakin tergantung kepadanya. Kita juga dapat belajar untuk mencinta dan meraspek badan dan fisik sesama kita, bukannya melihatnya sebagal obyek seksual belaka ataupun merendahkan bentuk fisik tertentu. Kita dapat membentuk sekolah bebas di mana pengetahuan dapat dibagikan secara terbuka bukannya dijejalkan dengan paksa kedalam otak kita. Pendidikan, daripada diberikan oleh negara yang hanya membentuk budak-budak dan menghisap mereka yang sekolah dengan biaya tinggi, dapat dibagikan dengan konteks mutual-aid di mana semua orang adalah guru dan semua orang adalah murid dalam dunia kita yang tidak mengenal hirarki sosial. Kita dapat membangun pusat-pusat kegiatan komunitas di mana orang-orang dapat menemukan alternatif tempat untuk sekedar sharing dan berkumpul, membicarakan aktifitas-aktifitas yang sebaiknya dilakukan dan juga sebagai langkah untuk menolak pemikiran yang berorientasi profit dalam menyewakan tempat-tempat yang dibutuhkan oleh banyak orang. Di skotlandia, sekelompok punk dan anarkis menemukan sebuah tempat yang tak terpakai, yang kemudian oleh mereka dijadikan sebuah squat dan segera direnovasi oleh mereka sendiri untuk kemudian dijadikan tempat mengadakan konser-konser kecil dan forum-forum kelompok diskusi: Penduduk lokal daerah tersebut sangat terkesan dengan apa yang mereka lakukan sehingga para penduduk tersebut membantu mereka menuntut agar para punk dan anarkis yang membuka squat di tempat tersebut tidak diusir dan diperbolehkan untuk menetap di sana. Kita dapat menjalankan ko-operasi makanan yang dibeli dan didistribusikan di antara sesama orang-orang yang kita kenal atau kita beli dari orang-orang yang kita kenal dengan baik dan kita percayai tidak mengeksploitasi pasaran dan orang yang memproduksinya. Terlalu banyak supermarket yang menjual bahan makanan di negara-negara dunia ketiga seperti halnya di indonesia, di mana para pekerja yang menanam dan memproduksi bahan makanan tersebut dibayar sangat minim sementara perantara pihak ketiganya mendapatkan keuntungan yang sangat besar, melihat hal ini, pembentukan ko-operasi makanan akan memutuskan rantal ini. Kita dapat memulainya dengan menjalankan kooperasi dari tempat tinggal kita yang mensuplai beberapa rumah sebanyak yang kita mampu di mana bahan makanan yang kita dapatkan adalah merupakan hasil kerja dari kita sendiri bersama-sama dengan para pekerja penanam, yang dengan demikian jelaslah bahwa kita telah membangun sebuah rantai ko-operasi di luar rantai sistem kapitalistik yang berorientasikan profit. Kita juga dapat membentuk 'bank kerja' di mana kita dapat bertukar keahlian dan menyalurkan keahlian yang kita miliki dengan dan kepada yang lain. Bilamana semakin banyak orang yang bergabung dalam “bank kerja' demikian, maka semakin tidak dibutuhkanlah uang dalam kehidupan kita dan semakin tidak dibutuhkanlah pemerintah untuk mengatur hidup kita.
Satu-satunya batas dari itu semua adalah imajinasi kita sendiri. Kita dapat meninggalkan struktur sistem yang menindas kita, tetapi hanya apabila kita telah siap untuk bekerja keraslah maka hal itu akan mungkin untuk dapat dilakukan dan direalisasikan. Kita semua memiliki kekuatan kita sendiri, kita memiliki jumlah yang sangat besar dan keberanian untuk melakukannya dan dengan demikian maka kita dapat meraup kembali hak kita untuk menjalani kehidupan kita sendiri. Sebuah revolusi sosial dengan demikian akan dapat, dan segera menjadi sebuah kenyataan.
Punk dan hardcore adalah sebuah budaya yang mementingkan sebuah sikap ko-operatif bukannya sikap kompetitif di atas segalanya. Dengan subkultur ini kita juga memupuk kekuatan kita dan keberanian kita serta kesadaran kita. Punk dan hardcore menawarkan sebuah budaya yang menuntut hak untuk hidup dalam kehidupan yang kita pilih walaupun dengan demikian kita pasti akan berhadapan dengan kekerasan dan kekuatan tiran. Telah begitu banyak dari kita yang menjadi korban dari kekejaman sistem ini yang merasa bahwa 'semua orang harus tunduk pada pemerintah'. Dan sistem ini pulalah beserta ratusan sistem lainnya yang serupa, yang bersifat hirarkis, yang menindas jutaan rakyat di seluruh dunia ini. Penindasan negara dengan memaksa rakyatnya untuk patuh dan tunduk demi kepentingan pemerintah, atau orang tua yang memaksa anaknya untuk patuh pada perintahnya karena sang orang tua merasa bahwa dialah yang paling mengerti mengenal apa arti hidup ini, atau pula suami yang memaksa istrinya untuk tunduk pada aturannya karena merasa bahwa laki-laki adalah superior dalam sebuah keluarga, apakah itu semua ada bedanya?
Penjara dan rumah sakit mental di dunia ini penuh oleh orang-orang yang tidak melakukan apapun selain karena mereka tidak setuju dengan 'norma-norma' yang dipaksakan untuk diterima di seluruh lapisan masyarakat di mana mereka tinggal. Pembangkang negara adalah pahlawan bagi para pemberontak, dan penghianat para pemberontak adalah pahlawan bagi negara, dan semua semakin bertambah kelam. Untuk melawan dan mengalahkan para penindas, kita harus belajar untuk menggunakan cara ini, atau cara lain sesuai dengan imajinasi kita, atau kita akan dimatikan, seperti mereka yang hanya mengerti satu jalan, yang dengan segera dapat dibungkam oleh kekuatan negara.
"Wally sought peace and creativity as an alternative to war and destruction. He was an anarchist, a pacifist and, above all, an individualist, but because of the times in which he naively lived, and innocently died, he was labelled a 'hippy'. In the coroner's court, the police officer responsible for investigating Wally's death dismissed him in one sarcastic sentence, "He thought he was Jesus Christ, didn't he?" Wally certainly did not think of himself in that light, but judging by the way in which the state dealt with him, they did." - The Last Of The Hippies' Penny Rimbaud.
Beberapa, bahkan banyak dari kalangan kita sendiri mencap kita, mendiskreditkan kita dengan label seakan kita adalah nabi-nabi pembawa kebenaran. Sistem ini telah menciptakan begitu parahnya keadaan dan kondisi pemikiran publik sehingga menjadi benar-benar egois dan apatis, sehingga begitu ada seseorang atau beberapa orang yang mengusulkan sesuatu demi sebuah perubahan yang lebih mendasar, kita selalu dicap dengan pelabelan-pelabelan seperti itu dengan tujuan mendiskreditkan gerakan ini.
Beberapa berkata bahwa bukan tempatnya punk dan hardcore dipolitisir oleh kepentingan-kepentingan kita sendiri. Tidak. Kita tidak berbicara mengenai politik, kita hanya berbicara mengenai hidup kita, berbicara mengenai hidup itu sendiri. Dan yang pada intinya, kita berbicara mengenai bagaimana kita mengambil alih kembali kontrol dan hak atas hidup kita sendiri, bukan mencari kekuatan politik seperti halnya yang dilakukan oleh para komunis untuk merebut negara. Para penerus sistem yang telah begitu terilusi oleh bagaimana sistem ini berjalan, tersenyum mengejek kita yang dengan bangga menolak, memprotes, dan menyingkirkan apapun yang menjadi keputusan demi kepentingan pemerintah, dan kita melihat mereka sebagai orang-orang yang kelabu yang tidak memiliki kekuatan apapun selain kekuatan untuk melayani sistem ini lebih jauh.
Melihat kembali kepada kasus bagaimana sekelompok tentara yang berjumlah belasan, menyerang beberapa dari kita di sebuah wartel dan segera melarikan diri. Terlihat bahwa negara sangat ingin menghancurkan semangat pemberontakan dan perlawanan kaum muda, seandainya memang tidak dapat menghancurkan gerakannya, sebuah gerakan tanpa rasa takut yang diharapkan dapat membantu membuka jalan menuju dunia yang lebih cerah.
Kisah penyerangan tentara terhadap beberapa orang di wartel tersebut adalah sebuah mimpi buruk yang penuh dengan permainan penghinaan, kekuasaan dan juga kekejaman militer. Tapi tidak sekalipun kisah penyerangan tersebut akan diangkat ke meja hijau. Tak ada gunanya. Kita semua telah melihat bagaimana sistem ini semua termasuk sistem pengadilannya telah digoreskan dengan tebal dengan kata-kata kebohongan, kekerasan, kerakusan dan ketakutan. Tak ada seorangpun dari kita yang telah mempersiapkan diri atas peny erangan-penyerangan mendadak seperti hal tersebut, dunia semakin terasa sebagai tempat yang kecil mungil serta diliputi oleh kegelapan.
Untuk dihadapkan ke meja hijau? Untuk apa? Pilihan bagi mereka yang miskin saat diajukan ke meja hijau adalah penjara atau rumah sakit jiwa apabila memang dianggap mengalami kelainan mental dan kejiwaan. Kita semua telah belajar dari pengalaman mereka yang telah menjalani sebagian hidupnya di dalam penjara. Kita telah belajar mengenai bagaimana perlakuan terhadap narapidana di panjara baik secara mental maupun fisik. Dokter yang menangani para narapidanapun, yang sebenarnya tahu dengan pasti bagaimana kondisi penjara bagi mereka yang tidak memiliki banyak uang, tidak akan mungkin dapat mengungkapkan kondisi penjara sebenarnya dikarenakan ketertundukannya pada negara dan ketakutannya akan aparatnya. Penyiksaan narapidana dan para tahanan semakin dianggap sesuatu hal yang wajar terjadi. Para pengunjung tidak dapat melakukan apa-apa selain hanya menerima bahwa memang seperti itulah kehidupan di penjara. Kita telah belajar dari pengalaman mereka yang telah terpuruk hidupnya di dalam penjara. Kita semua tahu bagaimana kepala penjara beserta para sipirnya selalu mempertahankan konflik diantara sesama narapidana agar tak ada yang pernah dapat mempersatukan semua narapidana untuk melawan kepala penjara dan semua sipirnya, sementara mereka para sipir akan mendapatkan banyak barang bagus serta uang dari hasil 'sumbangan' dari para narapidananya yang terkadang juga dalam bentuk kenikmatan seksual. Kita juga telah belajar untuk mengetahui bagaimana perlakuan para dokter dan perawatnya di rumah sakit jiwa, yang seringkali berbentuk penyiksaan terhadap para pasiennya. Menurut keterangan resmi pemerintah, tujuan dari diberlakukannya penjara adalah sebagai sebuah 'reform' bagi para narapidananya dan rumah sakit jiwa adalah sebagai 'obat' bagi para pasiennya. Sebuah tujuan yang tidak masuk akal apabila kita melihat kondisi yang terjadi di dua tempat tersebut. Kasar, kejam dan simple, tujuan sebenarnya hanya satu: hukuman.
Kita semua telah menemukan di mana kasus pembunuhan ditutupi oleh polisi dan institusi negara lainnya, bagaimana salah-tangkap adalah hal yang sangat biasa, serta kasus penjeblosan seseorang ke penjara kadang dimanipulasi dengan berbagai cerita. Kita mulai belajar mengenal kasus penyerangan mental dan fisikal bagi mereka yang ada di penjara. Kita berhadapan dengan dunia yang ternyata kejam yang dimapankan oleh negara dan aparatnya. Tapi tak ada yang berani bertanya kepada penguasa sekarang ini. Tidak juga para tentara. Para tentara tersebut tahu soal penyalahgunaan dan kekejaman, mereka tahu soal korupsi, mereka tahu soal jual beli senjata, tetapi tetap mereka menolak untuk bergabung dengan kita. Karena dengan semakin peduli pada masalah seperti di atas, maka para tentera tersebut di hadapkan dengan kepentingan mereka sendiri. Itu karenanya mengapa para tentara rendahan tersebut memilih untuk diam dan memperhatikan malam hari di bandung. Mereka tetap diam dan menunggu perintah. Ya. Mereka akan tetap menjadi bagian mayoritas dari masyarakat, yaitu untuk tetap diam dan menerima.
Di balik permukaan rambut rapi yang berkilauan dan pakaian yang licin terseterika dengan baik dan rapi, di balik kilauan mobil-mobil mewah, restoranrestoran elit dan pub-pub glamour, dari keluarga yang mapan dan sangat bermasa depan, dari kemakmuran dan keamanan yang terbaik, dari kekuasaan dan kejayaan, hanya ada satu kesimpulan, yaitu bahwa merekalah sebenarnya yang benar-benar dapat disebut sebagai kaum fasis yang sesungguhnya. Mereka semua tahu apa yang salah dengan kondisi sosial masyarakat saat ini, tetapi mereka tetap diam.
"They know, but they remain silent. First they came for the Jews and I did not speak out - because I was not a Jew. Then they came for the communists and I did not speak out - because I was not a communist. Then they came for the trade unionists and I did not speak out - because I was not a trade unionist. Then they came for me - and there was no one left to speak out for me." - Pastor Niemceller, seorang korban kekejaman Nazi
Mereka tetap diam soal para pedagang kaki lima di sepanjang jalanan utama dipukuli oleh para polisi untuk dipaksa pergi. Mereka tetap diam saat rumahrumah kaum miskin digusur dengan semena-mena oleh para penguasa hanya demi pembangunan mall-mall mewah, hotel berbintang, lapangan golf maupun jalan layang. Hanya terdengar beberapa bisik kata, bisikan yang hampir tak terdengar sama sekali, "Kasihan mereka." Dan mereka cuma dapat berbisik, lebih baik hanya sekedar berbisik tetapi keselamatan dan keamanan serta kemakmuran akan tetap menjadi milik mereka. Kemudian kesunyian lagi yang ada, sesunyi para aparat meninggalkan korbannya. Saat mereka mendengar bahwa puluhan bahkan ratusan atau ribuan mati di Timor Leste, Aceh maupun Papua serta di negeri-negeri lainnya maupun di sekeliling mereka, mereka juga akan tetap diam. Karena keamanan adalah dewa mereka, tuhan mereka, dan ketertundukan adalah bentuk pelayanan mereka terhadap dewa dan tuhannya. Melawan semua ketidakadilan, melawan semua kesalahan yang mereka lihat, mereka akan tetap diam dalam kesunyian, karena kebiasaan dan adat istiadat mengatakan demikian bahwa melawan mereka yang ada diatas, mereka yang lebih tua, itu tidak boleh. Kesunyian, keamanan, ketertundukan dan adat kebiasaan; semua adalah akar dari fasisme. Kesunyian mereka adalah bagian mereka dari kekerasan yang terjadi, dari kekuatan yang besar, kesunyian dari suara-suara, dan kejayaan fasisme.
Ini semua bukan tentang Pemuda Pancasila di seluruh indonesia, atau Angkatan Muda Siliwangi di jawa barat, atau organisasi preman terorganisir lainnya yang merepresentasikan kekuatan ancaman sayap kanan: mereka yang tetap diam adalah bagian terbesar dari kemapanan publik yang merepresentasikan ancaman fasisme yang sangat nyata. Fasisme yang ada di hati orang-orang kebanyakan adalah fasisme yang ada di otak para pemimpin negara yang potensial. Suara kesunyian, adalah salah satu kekuatan terbesar yang membuat investigasi kita hampir-hampir menjadi sangat tidak mungkin. Respek yang diberikan mayoritas masyarakat adalah respek pada keamanan pribadi mereka, yang menempatkan respek daripada beresiko membuat para penguasa marah dengan mengatakan kepada kita apa-apa yang benar menurut pemimpin mereka. Mereka sebenarnya tahu dan bisa tahu, dan kita tahu bahwa mereka semua bukan orang-orang bodoh, mereka hanya tidak mau tahu. Tapi tidak ada bedanya seandainya mereka menjadi tahu, karena mereka akan tetap memilih untuk terlibat dalam kesunyian.
Dari berbagai data dan dokumentasi yang didapatkan dari berbagai sumber mengenai ketidakadilan dan penggunaan kekuatan negara yang mengancam kehidupan masyarakat banyak, kita telah berhasil mengumpulkan banyak data sehingga kita mulai bergerak dengan semakin yakin. Dan selama itu pula, kita telah menerima ancaman dari berbagai sumber dan beberapa dari kita telah dikunjungi oleh para aparat dengan berbagai alasan yang begitu dibuat-buat, yang membiarkan diri kita tahu bahwa mereka telah mengetahui apa yang kita lakukan selama ini, dan hanya satu yang mereka inginkan dari kita... bergabung dalam kesunyian.
Kita merasa sendiri dan mudah patah. Pada akhimya, pada bulan Mei 2000, kami memilih untuk menghancurkan apa yang dalam satu tahun lalu kami pertahankan. FAF yang merupakan singkatan dari Front Anti-Fasis, sebuah organisasi komunis muda di bandung yang menjadi organisasi di bawah naungan partai Mands-Leninis Indonesia, PRD. Satu tahun tepat dari saat pembentukannya. Kami melemparkan segala sesuatunya ke dalam kegelapan malam dan menatap hari esok dengan kegelapan juga. FAF telah mati dan memang seharusnya dihancurkan apabila memang tak dapat lagi dipertahankan. Hanya ada satu kecerahan dalam hati kami, bahwa perjalanan menembus kegelapan menuju terangnya kebebasan, telah kami tapaki dan akan kami tapaki terus.
Seiring hancurnya FAF, semua yang berkaitan dengan FAF hanya tinggal sekedar dokumentasi yang mungkin rencana dari kami untuk menyusun sebuah antologi mengenai terbit dan tenggelamnya FAF akan terealisasikan suatu saat nanti sebagai bahan referensi bagi puluhan organisasi-organisasi pembebasan lainnya yang terbentuk dalam subkultur punk dan hardcore di indonesia ini.
Kita semua tidak pernah memilih untuk menjadi bagian dari sistem ini, dan kami memutuskan untuk menentukan sendiri bagaimana kami menjalani hidup kami sendiri, dengan cara kami sendiri, dan telah beberapa lama tampaknya hal tersebut masih dapat berjalan. FAF telah terbentuk di saat kami masih tengah mempertanyakan apa yang kami lakukan selama ini dan apakah yang kami lakukan selama ini telah cukup. Dan pengalaman dari sebelum dan sesudah FAF memperlihatkan kepada kami bahwa semua ini sama sekali tidak cukup. Kita semua telah diajarkan sejak kecil untuk meyakini bahwa sistem yang ada saat ini tidaklah terlalu buruk, bahwa apabila kita berlaku baik terhadap sistem ini, maka sistem inipun akan berlaku baik kepada kita. Selama ini kita selalu diajarkan melalui berbagai media bahwa sistem pemerintahan beserta semua yang duduk di kursi pemerintahan dan aparatnya selama ini selalu melayani kepentingan kita semua sebagai rakyatnya, tetapi pengalaman kami, pengalaman kalian, pengalaman kita semua telah memperlihatkan dengan sangat jelas, bahwa kitalah yang sebenarnya melayani sistem dan pemerintah.
Kita telah mencoba untuk mendemonstrasikan perasaan kita, keinginan kita untuk bebas dengan menggunakan humor dan cinta, juga melalui musik. Beberapa tahun ke belakang, sebuah band hardcore dari yogyakarta bernama Sabotage, telah beberapa kali mendapatkan imbalan berupa kekerasan dari aparat kepolisian saat mereka mengkumandangkan diri mereka yang ingin mendapatkan kebebasannya. Lirik-lirik lagu mereka yang mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap kondisi yang terjadi dalam hidup mereka adalah merupakan sebuah kejahatan bagi negara yang ingin dimapankan bagi kepentingan kelas borjuis. Tak peduli apapun alasan yang mereka ungkapkan, mereka akan tetap dianggap bersalah. Maka jelas terlihat bahwa kita semua telah gagal dalam mendemonstrasikan perasaan kita dengan keceriaan musik.
Kita pada akhirnya dapat melihat, bahwa negara, mereka yang bekerja di dalamnya dan mereka yang hidup makmur dari berjalannya sistem tata pemerintahan, adalah musuh dari kebebasan kita! Dan bahwa kita harus mencari jalan yang lebih nyata dalam melawan mereka, bukan hanya sekedar melawan mereka dalam bentuk kata-kata ataupun sekedar beradu argumen.
Sistem ini memiliki segalanya yang berguna untuk mengontrol massa dan meyakinkan bahwa hal tersebut masih selalu menjadi bagian paling dominan dalam kehidupan di sebuah negara. Negara memiliki ide mengenal sebuah keluarga yang ideal untuk membatasi gerakan-gerakan pembebasan dan menstabilkan kondisi tersebut. Negara memiliki sekolah-sekolah dan kampus untuk meluruskan pola pikir dan mencuci otak massa. Negara memiliki pekerja dan sistem pajak untuk meyakinkan agar segalanya berjalan dengan baik dan menghasilkan sumber pemasukan dana bagi negara. Negara memiliki hukum, pengadilan dan polisi untuk memaksakan kondisi yang diinginkan oleh negara. Negara memiliki tentara untuk melindungi kepentingan negara. Negara memiliki penjara dan rumah sakit jiwa untuk menghukum siapapun yang menolak kondisi negara. Negara memiliki media untuk mempromosikan ide-idenya. Negara memiliki agama lengkap dengan sistem feodal dan patriarkisnya untuk membuat mereka yang percaya merasa terancam secara spiritual apabila mereka melawan perintah ataupun sekedar mempertanyakannya. Negara memiliki sejarah dan tradisi yang membuktikan bahwa negara memang dibutuhkan oleh diri kita semua. Negara memiliki masa depannya sendiri di mana semua orang ingin memiliki masa depan tersebut, sehingga kondisi negara tak akan pernah mendapat tentangan. Negara memiliki semuanya tetapi kita hanya memiliki diri kita sendiri, dan sebuah perasaan saling memiliki.
Sistem dengan tenang membunuh orang-orang seperti Marsinah, Udin, Widji Thukul, dan masih juga sistem ini mendapatkan respek yang besar dari kaum mayoritas. Sistem ini dengan sangat terbuka melakukan pembunuhan terhadap rakyat seperti yang terjadi pada tragedi Semanggi dan kasus penculikan para aktivis pada masa reformasi lalu, tetapi masih juga sistem ini mendapatkan respek yang begitu tinggi dari kaum mayoritas. Dengan penuh gembar-gembor sistem ini begitu ingin membunuh orang-orang seperti Xanana Gusmao, tetapi masih juga sistem ini mendapatkan respek yang begitu tinggi dari kaum mayoritas. Sistem ini mengumandangkan perang saudara yang kejam, seperti yang terjadi di Timor Leste, dan selalu masih juga sistem ini mendapatkan respek yang begitu tinggi dari kaum mayoritas.
Sistem ini beserta semua yang mendukungnya--baik yang mendukung langsung ataupun yang mendukung dengan sikap kesunyiannya--bersalah atas terjadinya kematian dari ribuan orang, dari para individu seperti Plus yang lenyap seperti ditelan bumi, hingga kepada seorang aktivis pro-kemerdekaan Timor Leste yang mati akibat tembakan polisi indonesia di mana kejadian tersebut berhasil diabadikan oleh seorang fotografer asing sehingga foto tersebut begitu mendunia, hingga mereka yang tak tertuliskan namanya dan tak terabadikan kisahnya dalam perang-perang dan perlawanan melawan kekuasaan negara. Sistem dan pendukungnya tersebut telah bersalah atas 'penghancuran planet bumi, manusia, binatang, tumbuhan, atau apapun yang kita kenal sebagai kehidupan'. Di sana, di kursi-kursi kekuasaan, bersembunyi di balik topeng alasan dan rasionalitas, duduk orang-orang yang tidak hanya mempersiapkan penghancuran dunia kita ini, mereka juga bahkan bangga melakukannya. Merekalah sebenarnya yang sangat menikmati keberadaan diri mereka sebagai pembunuh massa yang paling potensial yang mendapatkan ijin dari diri kita untuk menentukan hidup mati diri kita.
Kita semua telah mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak cocok untuk menentukan jalan hidup kita, tetapi kita masih juga mengijinkan mereka untuk terus melakukannya. Kita terus membiarkan diri mereka membangun dunia sekeliling kita sebuah lingkungan yang berbahaya bagi kehidupan kita semua. Indonesia telah beresiko untuk menjadi sasaran penjajahan baru oleh negara-negara dunia pertama setelah runtuhnya blok komunis serta berkembangnya neo-liberalisme di amerika latin. Pemerintah indonesia telah mengalokasikan dana milyaran rupiah setiap tahunnya demi kepentingan militer, dan itu belum termasuk anggaran dana yang dialokasikan demi kepentingan yang masih berhubungan dengan militer, seperti memberikan mobil dan rumah secara cuma-cuma kepada para pejabat militer sementara membiarkan para tentara berpangkat rendah untuk tetap hidup dalam kemiskinan. Pabrik senjata mendapat pasokan dana lebih demi menjalankan tugasnya untuk mempersenjatai kekuatan militer, dan latihan-latihan militer yang juga menghambur-hamburkan anggaran negara terus berlangsung di hutan-hutan liar maupun di hutan lindung dan cagar alam. Hutan-hutan di Ujung Pandang, hutan-hutan di jawa timur, tidak perlu dipertanyakan lagi berapa puluh binatang yang terbunuh 'tanpa sengaja' karena daerah hidup mereka dilempari bom dan ditembaki dengan berbagai macam peluru demi pelatihan perang.
Apakah kita harus menunggu terjadi sebuah momen yang akan dan pasti terjadi, yang akan membunuh jiwa ribuan orang, sebelum pemerintah memikirkan semua hal yang beresiko bagi keselamatan manusia daripada sekedar reputasi bagi diri mereka sendiri? Program UU PKB telah disusun sedemikian rupa sebagai bagian dari program sistem keamanan dan stabilitas negara. Jadi tidak hanya mereka yang bergeraklah yang akan menderita akibat pemberlakuan program tersebut, melainkan semua dari kita yang akan merasakan bagaimana negeri kita ini akan dengan cepat menjadi sebuah negara militer. Dan untuk memaparkan hal tersebut, pemerintah dengan cepat membangun kekuatannya dengan cara mensetup 'keamanan rakyat': sebuah kekuatan massa yang dilatih untuk berurusan dengan masalah domestik dan hal itu berarti masalah aku dan kamu. Maka jangan pernah tertipu dengan dongeng-dongeng keamanan rakyat, karena hal ini sama sekali bukan sebuah pertunjukan komedi.
Pemerintah juga telah masuk kedalam sendi-sendi kehidupan pribadi kita. Dari pengerahan intelejen-intelejen hingga pengambilan data sensus penduduk, hidup kita menjadi sebuah file-file di ruangan arsip kantor-kantor pemerintah yang gelap. Pemerintah kini juga semakin memanfaatkan teknologi komputer guna mengoptimalkan kerja-kerja mereka, sehingga seluruh informasi dan data mengenai hidup setiap laki-laki, perempuan dan anak-anak sekalipun yang tinggal di indonesia tersedia lengkap.
Dengan menghubungi kantor-kantor badan intelejen dengan mudah data seseorang yang dianggap bermasalah' karena menolak untuk tunduk kepada sistem, dapat dilihat secara lengkap dan mendetail. Secara natural, kita selalu dicap sebagai seseorang yang paranoid, tetapi memang begitulah apa yang terjadi dalam kantor pemerintahan. Dengan semakin berkembangnya dunia komputer, maka semakin berkembang pula permainan kotor memasuki daerah pribadi kita. Kehidupan pribadi tinggal kenangan--kita menjadi bukan siapa-siapa melainkan sebuah angka-angka dalam sebuah permainan lotre yang memuakkan. Angka-angka yang dapat dimasukan dan diarahkan kemana mereka suka, tetapi selalu ingat, bahwa angkaangka tersebutpun dapat mereka hapuskan kapan saja mereka mau!
Saat pemerintah memberikan anggaran dana tak terbatas bagi kepentingan militer, anggaran dana yang diperuntukan bagi apa yang disebut sebagai kesejahteraan sosial akan dipotong bahkan bukan tidak mungkin apabila dihapuskan. Kita diharapkan dapat hidup semakin kurang di saat pemerintah mengalokasikan lebih dan semakin lebih dalam permainan perang-perangannya. Sejak krisis ekonomi berlangsung di indonesia beberapa tahun ke belakang, semakin banyak orang-orang yang menderita kekurangan gizi hanya karena mereka tidak dapat lagi mencukupi kebutuhan makannya, semakin banyak anak-anak terlantar di jalanan, yang apabila tidak menderita karena kelaparan dan kedinginan atau mereka mati menjadi korban dari kekerasan hidup di jalanan, mereka dibuat tak mempunyai rumah tinggal karena mereka tidak dapat membayar sewa rumah yang semakin tak terhingga nilainya, dan ketika mereka jatuh sakit, yang dapat dilakukan adalah hanya menunggu saat penyakit tersebut hilang dengan sendirinya ataupun menunggu saat kematiannya karena pemerintah tidak menyediakan tempat pengobatan yang layak dan dapat digunakan oleh semua orang. Sementara itu pemerintah tetap tak peduli berapapun naiknya angka kemiskinan di indonesia, mereka terlalu disibukan oleh perang-perangannya yang menghabiskan dana milyaran rupiah setiap tahunnya, belum lagi dalam membangun sistem komunikasi yang juga hanya demi kepentingan akumulasi modal para kapital, seperti dikatakan oleh Karl Marx dalam buku Das Kapitalnya dan blah blah blah blah... halo halo... ehm, masih ada yang mau meneruskan membaca?
Penduduk indonesia masih terus membayar pajak bagi pemerintah sehingga pemerintah masih bisa terus mensuplai angkatan perangnya ke daerah Aceh dan bertahan dalam pendudukannya. Seandainya saja setengah saja dari anggaran dana untuk militer digunakan untuk kepentingan sosial seperti pembangunan rumah-rumah murah dan pembangunan sarana sosial, maka kekuatan tentara pendudukan di Aceh akan hancur, sehingga setidaknya sedikit solusi akan muncul. Tapi tentu saja pemerintah tidak ingin solusi seperti itu, pemerintah harus mencari jalan di mana mereka akan dapat terus menikmati keuntungan dari hasil pengeksploitaslan massa dan alam tanpa adanya oposisi dari faksi-faksi musuh. Tentara di Aceh bukanlah pasukan penjaga perdamaian walaupun pemerintah menyebutnya sebagai apapun, mereka adalah tentara pendudukan. Dan semua orang di sana, tak peduli itu islam atau bukan, lahir di Aceh atau bukan, mengalami penderitaan. Seperti juga apa yang terjadi di Papua Barat, pemerintah indonesialah yang menciptakan problem kesukuan di saat puluhan tahun yang lalu mereka menginvasi Papua Barat dengan alasan yang benarbenar sama dengan alasan portugis dan belanda dulu menginvasi indonesia, yaitu mengeksploitasi kekayaan alam di sana. Selama kekayaan alam di sana masih terus dapat menghasilkan profit bagi pemerintah indonesia dan para kapital di sana, maka selama itu pula ‘problem kesukuan' akan terus eksis.
Di Maluku, anak-anak muda yang hanya berbeda oleh pemisahan daerah yang tak terlalu jauh yang mungkin memisahkan tempat lahir mereka dan keluarga yang membesarkan mereka, saling membunuh dalam atmosfir yang bernuansakan kebencian. Apa sebenarnya yang mereka ketahui mengenai kebencian tersebut? Mereka tidak mengetahui apapun, tetapi mereka diberi tahu oleh para pemuka agamanya masing-masing, yang tak peduli apapun pada kematian anak-anak muda tersebut kecuali tentang apa yang akan mereka dapatkan dari adanya konflik agama tersebut. Buku-buku agama menggembar-gemborkan perang agama tetapi di mana diri mereka, para penulis buku tersebut saat perang agama yang mereka gembar-gemborkan berlangsung? Apakah mereka ada di tempat kejadian? Kapan kita akan belajar?
Saat artikel ini ditulis, konflik agama masih terus berlangsung di Maluku bahkan semakin menyebar ke daerah Poso dan sekitarnya, mengilustrasikan kepada kita bagaimana para penguasa semakin berkutat dengan kegilaan mereka. Bagaimana mungkin dua agama yang keduanya mengajarkan saling kasih mengasihi di antara sesama manusia, dapat seakan menjadi doktrin yang membenarkan segala tindak penyembelihan, penembakan, pembunuhan, pembantaian dan pembakaran di antara sesama kaum muda demi arogansi mereka yang ada di balik itu semua?
Puluhan tahun lalu, tentara indonesia menginvasi Papua karena sumber kekayaan alamnya yang dapat dimanfaatkan demi kepentingan para kapital. Perebutannya dengan pemerintah belanda akhirnya dimenangkan oleh pihak indonesia, dan dicantumkanlah nama Irian Jaya dalam peta provinsi indonesia. Ya. Irian yang berarti 'Ikut Republik Indonesia Anti Netherland’. Dekade tahun "70an, perusahaan multinasional amerika, Freeport MoMoran menawarkan kerjasama dengan para kapital di indonesia untuk bekerja sama mengeksplotasi kekayaan di alam Papua, beberapa tahun kemudian disusul dengan masuknya perusahaanperusahaan lain yang turut serta dalam pengeksplotasian alam di sana. Penduduk asli daerah Papua diubah sedemikian rupa tata cara hidupnya sehingga mereka semakin tergantung kepada modernisasi yang tidak menawarkan apa-apa kepada mereka selain budaya kompetisi.
Aktivitas suku Masita Lembah yang tinggal di kawasan Lembah Juk, Kecamatan Kaureh, Jayapura, misalnya. Suku ini hidup berkeliling di daerah itu selama puluhan tahun dalam area perburuan seluas 10.000-20.000 hektar. Hidup tradisional antara alam dengan suku Masita menghasilkan ketenangan dan ketentraman.
Kemudian pembangunan mulai merambah tanah suku Masita. Ijin HPH mulai diberikan. Kehidupan damai dan tentram suku mulai terusik PT YLS dari Korea memanfaatkan HPH seluas 367.000 hektar hutan. HPH PT Rifi sebesar 197.000 hektar. Sebuah perkebunan kelapa sawit seluas 50.000 hektar sudah dibentuk di daerah Lembah Juk areal perburuan suku Masita Lembah yang otomatis menghabiskan lahan hidup mereka. Pembangunan ini memutuskan rantai kehidupan suku Masita Lembah dengan hutan, binatang, dan tanaman asli yang mereka gunakan sebagai bahan pembuat obat.
Untuk menghindari konflik dengan penduduk di tempat tersebut, dan demi keamanan properti mereka, maka para pemilik modal dari perkebunan tersebut menawarkan kerjasama. Banyak warga suku Masita Lembah yang kehilangan tempat hidupnya, dipekerjakan sebagal buruh kelapa sawit dan buruh di perusahaan kayu di tempat di mana mereka dulu sering berburu untuk bertahan hidup. Meskipun banyak dari suku Masita bekerja di perkebunan tersebut, mereka selalu bertanya untuk siapa mereka bekerja dan untuk kepentingan apa tanah mereka dijadikan kebun kelapa sawit.
Salah seorang suku Masita pernah bertanya kepada reporter, "Untuk apa kebun kelapa sawit ini?" Reporter berkata, "Untuk dibuat minyak goreng."
Suku Masita tersebut berkata lagi, "Untuk apa saya setiap hari melihat kelapa sawit tapi untuk membeli Bimoli 250 mililiter saja saya harus bayar Rp. 7.000?"
Maka suku tersebut beramai-ramai menolak membeli Bimoli dan menanam sendiri pohon kelapa untuk digunakan beramai-ramai di antara mereka sendiri.
"Ketika Hutan Irian Jaya Berubah Fungsi, Berita Dunia Ketiga", Edisi 51/Desember 1998.
Dalam beberapa laporan lain disebutkan bahwa kondisi yang terjadi di sana makin tidak menentu. Seringkali terjadi konflik antar suku dikarenakan semua suku mulai kehilangan lahan berburu akibat pembangunan semu tersebut sehingga mereka mengharapkan kerja di pabrik-pabrik, pertambangan dan perkebunan. Sementara jumlah buruh yang dibutuhkan dibuat sedemikian sedikit, agar para kapital dapat memperlakukan buruhnya seenaknya dengan membayarnya dengan upah minimum, seperti contohnya apabila ada buruh yang menuntut kenaikan upah atau perbaikan taraf kerja, maka masih akan banyak barisan pengangguran yang siap menggantikan posisi kerja mereka. Maka yang terjadi adalah kondisi atmosfir persaingan di antara mereka sendiri. Yang akibatnya adalah mulai menghilangnya budaya saling bantu di antara mereka, tergantikan oleh suasana saling menjatuhkan. Para anggota suku asli tersebut saling berbenturan, tapi apakah pernah para pemilik perusahaan itu ambil pusing selama konflik yang terjadi tidak merusak properti mereka?
Pemerintah dengan dalih pembangunannya telah merusak cara hidup masyarakat adat di Papua yang awalnya hidup tentram. Lalu siapa yang mendapatkan keuntungan dari hasil pembangunan tersebut? Pemerintah tak akan peduli pada apapun yang terjadi pada penduduk disana--profit dan kekayaan alam adalah satu-satunya yang mereka pedulikan, kemakmuran dan kekuasaan yang dapat mereka eksploitasi dan apabila ternyata ratusan jiwa harus mati demi kemakmuran dan kejayaan mereka--peduli setan! Saat rakyat Papua menuntut kembali tanah mereka, tentu saja pemerintah tidak akan melepaskannya dengan suka rela. Nasionalistik dan patriotisme indonesia dijejalkan ke benak generasi muda indonesia lainnya untuk menutupi kepentingan pemerintah dengan mengirimkan tentaranya ke Papua Barat bertempur mempertahankan daerah, dan membunuh serta melakukan apapun untuk menghabisi rakyat Papua yang mereka lihat sebagai 'musuh negara’.
Di bawah perintah rezim gus dur-megawati, dibicarakan 'solusi damai' membahas mengenai persoalan Papua Barat, tetapi di saat yang bersamaan dilakukan pembantaian besar kepada rakyat Papua yang berdemonstrasi dengan damai dan mengibarkan bendera kemerdekaan mereka--Bintang Kejora. Juga berbicara bahwa indonesia harus dijaga dari perpecahan, walau apapun alasannya. Ya. Apapun alasannya walaupun rakyat Papua harus menderita hidup di bawah modernisasi semu bernama 'pembangunan'. Semua pemerintah sama saja, mereka adalah para pembohong dan penipu. Sampai kapan lagi anak-anak muda harus mati demi kerakusan pemerintah? Harus berapa lama lagi laki-laki harus pergi barperang demi menghidupi diri dan keluarganya? Harus berapa lama lagi perempuan mengekspoitasi diri mereka untuk mendukung fantasi psiko-seksual tentang perang? Ledakan besar, persetubuhan besar... cukup! Cukup adalah cukup. Kita harus belajar untuk berkata, "Cukup!"
"Ya Basta! (Enough is enough!)" - Slogan perjuangan Zapatista.
Melalui penarikan pajak di antara kita, pemerintah membiayai penindasannya terhadap kita semua. Aceh dan Papua adalah ajang latihan perang bagi tentara pemerintah yang mereka yakini pada suatu saat ada kemungkinan terjadi di berbagai daerah di indonesia. Jurang pemisah antara mereka yang bisa membayar dan mereka yang tidak, dan semakin sulitnya mendapatkan lahan pekerjaan, meningkatnya kebosanan dan ketiadaartian ketika mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, maka keseluruhan kualitas hidup menjadi sia-sia dan alasan-alasan untuk mendukung mereka yang bertanggung jawab terhadap hal tersebut menjadi tak berarti lagi. Selama mereka yang ada di kursi kekuasaan dapat mengkomandoi loyalitas publik yang mereka anggap sebagai budak, mereka akan terus menggunakan massa untuk menyalahkan massa--maka mereka yang kaya akan semakin kaya dan massa akan berperang di antara sesama mereka sendiri.
Perkotaan, di mana mayoritas populasi bekerja—setidaknya tinggal semakin menjadi sebuah lautan kelabu di mana karbon monoxida meracuni udara, di mana dikarenakan pengkomoditian perumahan, rumah adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin untuk bisa didapatkan bagi mereka yang tidak mempunyai uang banyak, di mana jalanan bukan lagi tempat di mana kita dapat mencari teman dan berhubungan dengan masyarakat, melainkan jalanan adalah sebuah tempat berbahaya di mana banyak sekali musuh atau penjahat--berkeliaran dan mengincar diri kita; di mana orang-orang menjadi terlalu takut untuk saling berhubungan dengan saling bertatap mata, di mana orang-orang hanya akan berhenti saat mereka melihat poster-poster penuh warna atau jendela toko-toko dan outlet seduktif mendorong mereka untuk merogoh dompetnya. Mereka telah diperalat, beli produk ini, beli produk itu. Advertising dan dunia model, gadis-gadis muda dipertontonkan seksualitasnya demi memanipulasi massa, konsumsi ini, konsumsi itu. Parasit menjadi sebuah simbol kemakmuran, parasit itu sendiri telah menjadi publik, seperti ular yang telah menggigit ekornya sendiri. Iklan-Iklan mewah menjadi tak berarti lagi, mereka ada di benak kita semua. Siapa yang dapat mengkonsumsi sampah tersebut? Tetapi semua tetap sama, mereka yang mampu akan membelinya dan yang tak mampu dipersilahkan terus bermimpi. Beli inl. Beli Itu. Konsumsi Ini. Konsumsi itu. Segala level dari poster tersebut memperlihatkan impotensi diri kita, membuat diri kita merasa tak pernah cukup. Kamu bukan seorang laki-laki sejati kecuali... kamu bukan seorang perempuan sejati kecuali... kecuali?... Kecuali apa? Kecuali para lelaki dapat berlayar berlibur ke pulau impian bersama Sarah Azhari?... Sarah Azhari? Ide bagus... mungkin ide bagus, tapi siapa yang bisa membiayai liburan ke pulau impian dengan menyewa perahu layar pribadi? Siapa yang dapat mengadaptasikan norma standar dari seksualitas di mana para model didisplay sangat sensual? Apakah milikku cukup besar? Siapa yang bisa membayarkan minuman, atau setidaknya yang telah menjadi gaya hidup remaja perkotaan? Tetapi semua sama saja, mereka yang mampu akan membelinya dan merasa dirinya lebih, dan mereka yang tak mampu akan menjadi marah. Beli ini. Beli itu. Maka kita dipaksa untuk menerima apapun yang sistem katakan kepada kita, dan bagaimana kita harus beraspirasi. Kita di jejali pemikiran bahwa agar kita dapat 'diterima' kita harus dapat menyesuaikan diri sesuai dengan stereotipikal sosial. Dan di saat yang sama, sistem menciptakan stereotipikal-stereotipikal yang tahu dengan persis bahwa hanya sedikit orang yang akan mampu menjadi stereotipikal tersebut. Media membantu penciptaan stereotipikal tersebut dan mempromosikan rekruitmen standar, dari video game hingga liburan ke australia, bahwa hanya yang berada di taraf makmurlah yang akan dapat memenuhi hal tersebut, sementara mereka yang tidak mampu atau tak mau hal tersebut silahkan tinggal dalam alienasi sosial. Semua tetap sama saja, mereka yang mampu akan membelinya dan mempertontonkannya, sementara yang tidak mampu akan meledak menjadi kebencian dan nafsu membalas dendam, menghancurkan jendela-jendela toko dan merampas apapun dari orang-orang yang dianggap memanipulasi mereka, mereka akan merampas yang juga bukan kebutuhan mereka, mereka akan merampas apapun yang juga selama ini ditawarkan oleh media. Tak ada bedanya. Mereka bukan merampas kembali hak mereka, tetapi mereka hanya merampas selayaknya orang-orang yang mampu membeli dan mengkonsumsi. Tak ada bedanya. Beli ini. Beli itu. Rampas ini. Rampas itu. Tak ada bedanya.
Jakarta rusuh pada tahun 1998. Pusat-pusat pertokoan dibakar, rumah-rumah orang-orang kaya dirampas dan terjadi penjarahan besar-besaran, sistembukannya makin tersudutkan, tetapi sistem makin kuat dan ketat. Polisi makin mendapat kesempatan untuk memukuli massa, tentara yang terlatih di medan perang Timor Leste menunggu di kegelapan dan di antara bayang-bayang gedung tinggi. Pemerintah, mereka yang duduk di kursi kekuasaan tetap tidak bergeming. Pemerintah akan tetap kuat. Mengganti pemerintah dengan pemerintah lain adalah bukan sebuah solusi.
Abad konsumerisme, lahir setelah petaka horor Perang Dunia II, telah gagal untuk mematerialkan mimpi massa dan memenuhi jani-janjinya. Tak peduli apakah itu BMW terbaru ataukah sebuah telefon genggam Erricson model terbaru berhasil membebaskan manusia dari ketertindasannya. Setidaknya, produk-produk tersebut hanya melengkapi hidup manusia, tidak membebaskan, tetapi menyudutkan manusia ke jurang konsumerisme tingkat tinggi. Mobil tidak dilihat sebagai alat transportasi, telefon selular tidak dianggap sebagai alat komunikasi. Semua dilihat sebagai produk dan merek serta gengsi. Dalam kasus lain, bahwa apabila memang hal itu yang diinginkan, maka hanya sedikit mereka yang mampu mendapatkannya.
Penguasa telah kehilangan kekuatan bargainnya, mereka tidak lagi memiliki sesuatu untuk ditawarkan dengan meminta pengorbanan kita sebagai gantinya, maka mereka tidak lagi meminta kita, mereka kini memberitahukan kepada kita. Mereka memberitahukan kepada kita untuk bekerja agar kita dapat mendapatkan produk yang tidak mampu kita beli, agar mereka dapat terus menjalankan sistem mereka yang tanpa kita dan uang kita yang mereka ambil, mereka tak akan berjalan sempurna. Sementara sistem semakin menyadari kegagalannya, maka sistem memperkuat batas-batas yang eksis di antara 'mereka' dan 'kita' dengan potensi mereka yang dapat memerintah kita, semua yang dapat diperintah oleh pemerintah hanyalah kita, jadi siapakah 'mereka' itu?
Kita telah sampai pada titik balik.
Pemerintah tak akan eksis tanpa nilai dan dukungan yang kita berikan. Selama kita, massa, orang-orang, rakyat, tunduk kepada pemerintah maka selama itu pula pemerintah beserta seluruh sistemnya akan eksis. Di saat kita menerima hidup kita sebagai robot tanpa otak dalam dunia yang berputar mendekati kehancurannya, di mana keamanan merupakan jaminan sosial yang mahal, di mana di jalanan akan dipatrolikan tank-tank dan di udara dipatrolikan helikopter-helikopter, di mana orang-orang tak lagi berani mengemukakan pendapat dan perasaannya dan merasa takut sehingga mereka memilih hanya terus menjadi pendengar yang pasif, di mana cinta tinggal sebuah kenangan, kedamaian menjadi sekedar sebuah impian dan kebebasan sama sekali tidak eksis--ataukah kita memilih untuk menuntut hak-hak kita, menolak untuk menajdi bagian dari sistem ini, menolak mereka para pemerintah beserta keputusan-keputusannya dan menemukan serta membuktikan bahwa sistem ini adalah kebohongan terbesar dari sekelompok kecil kelas borjuis yang sebenarnya sama sekali tak memiliki kekuatan apapun tanpa dukungan kita. Kita semua memiliki kekuatan, tapi apakah kita memiliki keberanian? Kita harus belajar untuk hidup dengan ketakutan kita, ketidak mampuan kita, dan menolak superioritas mereka. Kita harus belajar untuk hidup dengan rasa cinta kita, nafsu dan gairah kita, serta menolak seksualitas yang mereka tawarkan. Kita harus belajar untuk hidup dengan kepedulian kita, keterlibatan kita, sosialitas kita sendiri dan menolak definisi hal-hal tersebut yang dipromosikan oleh mereka. Kita harus belajar untuk hidup dengan moralitas kita, nilai-nilai kita, standar kita dan menolak yang mereka katakan. Kita harus belajar untuk hidup dengan prinsip-prinsip kita, filosofi kita dan menolak milik mereka.
Dan di atas semua hal tersebut, kita harus belajar untuk hidup dengan kekuatan kita sendiri dan belajar menggunakannya untuk melawan mereka, seperti juga mereka menggunakannya untuk melawan kita. Adalah kekuatan kita yang mereka gunakan melawan kita sepanjang sejarah untuk memapankan kemakmuran mereka dan posisi mereka. Ini semua tergantung pada diriku sendiri, aku, sendiri, dan juga pada dirimu, kamu, sendiri, untuk menggigit tangan mereka yang telah melukai diri kita semua.
Tak akan ada masa depan selain masa depan kita sendiri karena tak ada pemerintah selain diri kita sendiri. Dirimu dan diriku. Yang mencintai planet ini adalah mereka yang berhak untuk mendapatkannya kembali. Sudah waktunya untuk mengkalim kembali apa-apa yang sebenarnya adalah milik kita.
Selama sejarah perkembangan subkultur punk dan hardcore di indonesia, telah terbentuk organisasi-organisasi kebebasan yang melakukan perlawanan dan pembentukan kolektif-kolektif. Beberapa di antara kita telah terlibat aktif maupun pasif di dalamnya atau sekedar berjalan bersama dalam demonstrasi-demonstrasi mereka, kegiatan-kegiatan mereka, dan beberapa telah mendapati dirinya terpuruk dalam keputusasaan saat segalanya digerogoti oleh kepentingan-kepentingan kerakusan politik yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kepentingan kita sendiri. Sangat menyedihkan juga saat melihat bagaimana punk tampil hanya sekedar untuk semakin memperparah kondisi konsumerisme yang melanda dunia secara global sementara di saat yang sama juga berteriak mengenai kebebasan.
Kita telah mencoba dan masih terus mencoba dan berusaha untuk memberikan warna-warna baru pada dunia yang kelabu ini, dengan berbagai rasa cinta. Sangatlah aneh apabila kita semua melihat bagaimana dulu kita tidak lebih dari sekedar orang-orang yang kebingungan dengan apa yang tengah berlangsung saat ini di dunia. Memanasnya suhu politik dan gerakan-gerakan massa di indonesia ternyata telah membantu diri kita semua untuk semakin menyadari apa sebenarnya yang sedang terjadi dan apa yang harus kita lakukan saat ini. Kegagalan-kegagalan beberapa organisasi gerakan juga telah mengajarkan kepada kita untuk tidak sekedar 'duduk dan membiarkan segalanya terjadi'. Dalam bagian kita, kegagalan tersebut bukan sesuatu yang harus disesali, karena justru itulah tanggung jawab kita untuk melakukan apapun yang dapat kita lakukan. Segalanya masih belum cukup.
Keinginan untuk kebebasan haruslah dipersatukan dengan gairah untuk melakukan sesuatu, yang tidak sekedar melawan pemerintah, tetapi juga merepresentasikan bagaimana kita melakukan sesuatu yang berlawanan dengan tata cara hidup yang diajarkan oleh sistem tersebut.
Tahun 1976, Sex Pistols merilis singel 'Anarchy In The U.K.' dan festival film internasional di jakarta pada bulan November lalu, Jifest, mempertontonkan sebuah film dari Sex Pistols, 'Filth And Fury'. Mungkin bagi panitia Jifest tersebut, mereka tidak bermaksud mempertontonkan sebuah pemberontakan, tetapi bagiku itu adalah sebuah teriakan perang kembali. Saat Rotten berteriak mengenai ketiadaan masa depan, aku melihatnya sebagai sebuah tantangan bagi kreativitasku dan kemampuanku--aku yakin, akan ada masa depan bagi kita semua apabila memang kita semua dapat bekerja sama merealisasikannya, mematerialkan mimpi kita.
Ini adalah dunia kita, ini adalah milik kita dan kini telah terampas dari kita. Kita harus bersiap untuk mengambilnya kembali, hanya mungkin kali ini mereka tidak akan menyebut diri kita sebagai 'punk' walaupun semangatnya masih tetap sama, entah apa yang akan mereka sebutkan kepada kita. Label tidak penting, karena ada semangat yang selalu lebih penting.