Title: Pemberontakan Magonista di Tijuana
Subtitle: “Tidak ada partai liberal di dunia yang memiliki kecenderungan anti-kapitalis seperti kita yang akan memulai revolusi di Meksiko.”
Author: Panopticon Book
Language: Bahasa Indonesia
Publication: Panopticon Book
Date: 29/01/2021

“Workers of the World Awaken!/Your comrades call from Mexico”

- Laura Emerson, San Diego Wobbly Poet

Pada tanggal 29 Januari 1911, San Diego, Tijuana, dan seluruh wilayah perbatasan California Selatan berada dalam babak baru dari Revolusi Meksiko, sebuah pemberontakan anarkis yang diilhami oleh Richardo Flores Magon yang brilian tetapi tidak kompeten secara taktik. Richardo bergabung dalam Partai Liberal Meksiko (PLM) bersama saudaranya Enrique Magon pada tahun 1900, sebuah organisasi reformis yang menentang kediktatoran rezim. Pada tahun 1903 Magon bersaudara ditangkap oleh otoritas setempat karena penentangannya terhadap rezim Diaz, namun setahun kemudian mereka dibebaskan dari penjara dan diasingkan ke Los Angeles. Tetapi hal itu tidak menghentikan upaya mereka untuk mengobarkan revolusi melawan Díaz. Magón bersaudara memindahkan markas PLM ke Los Angeles. Di pengasingan Magon Bersaudara tetap melakukan aktivitas pengorganisiran dan terus aktif menulis. Melalui banyak pidato dan aktivisme umum mereka dalam komunitas buruh, filosofi anarkisme mereka tersebar luas.

Berbeda dengan Francisco I. Madero. dan maderistas (para pengikut Madero) – yang pada akhirnya berhasil menggulingkan Diaz untuk merebut kekuasaan, Magon dan Partai Liberal-nya tidak menyuarakan keinginan kaum moderat dan nasionalis kelas menengah Meksiko – yang cenderung reformis, melainkan mereka mengekspresikan “keinginan tak terucapkan” dari mayoritas kelas pekerja. Meskipun dalam pemberontakan 20 November 1910, kelompok Magonis dan Maderistas menggabungkan kekuatan mereka untuk menduduki tempat-tempat penting di negara bagian utara. Tetapi kelompok magonistas segera menjauhkan diri dari reformasi borjuis demokratik Madero. Perbedaan ideologis antara kedua kelompok tersebut menyebabkan konfrontasi di antara mereka muncul segera setelahnya.

Kelompok Magonistas memiliki keunikan karena, seperti yang dikatakan Magon dalam surat dari penjara Meksiko, “Tidak ada partai liberal di dunia yang memiliki kecenderungan anti-kapitalis seperti kita yang akan memulai revolusi di Meksiko”. Dalam manifesto yang ditulis pada tanggal 23 September 1911, dia dengan jelas membedakan tujuan Partai Liberal dari tujuan Madero: “Semua yang lain menawarkan kebebasan politik kepada Anda ketika mereka telah menang. Kami kaum Liberal mengundang Anda untuk segera memiliki tanah, mesin, alat transportasi, dan bangunan, tanpa mengharapkan siapa pun untuk memberikannya kepada Anda dan tanpa menunggu hukum apa pun yang menetapkannya”. Sebagai putra dari seorang Ayah India dan Ibu Mestizo (orang berdarah campuran Spanyol), Magon tumbuh dengan mengidealkan kehidupan komunal orang Indian Oaxaca sebagai antitesis dari apa yang dia lihat dari struktur dan kondisi kehidupan masyarakat di Mexico City yang korup.

Magon tumbuh dewasa dengan pemikiran-pemikiran anarkis seperti: Kropotkin, Bakunin, dan Proudhon serta perlakuan brutal kediktatoran Diaz yang menyatu dengan pengalaman di masa mudanya yang membawanya ke dalam sebuah utopia yang penuh gairah yang berakar pada keyakinan bahwa hanya kepemilikan komunal atas tanah dan pembubaran pemerintahan yang terorganisir akan menciptakan kebebasan manusia yang sejati. Oleh karena itu, ketika tentara Magonista merebut Tijuana, mereka mengibarkan bendera merah bertuliskan slogan “Tierra y Libertad – Tanah dan Kebebasan” dan menyerukan kepada orang-orang untuk “merebut tanah”. Sayangnya, idealisme kuat Magon tidak disertai dengan pemikiran taktis yang cerdik dan mimpinya tentang utopia anarkis dibajak oleh oportunis yang tidak tahu malu dan pebisnis San Diego, Dare devil Dick Ferris, dalam rangkaian peristiwa yang pastinya paling aneh dalam sejarah kota.

Selama berada di pengasingan, Magon bersaudara merencanakan agenda radikal pembebasan Baja California dari pemilik tanah Díaz dan California, dan mengembalikan tanah tersebut kepada penduduk asli yang sebelumnya tinggal di sana. Hal ini disebabkan karena tingkat investasi modal yang tinggi di California Selatan dan Baja California, sesuatu yang mereka pandang sebagai bentuk lain dari imperialisme. PLM kemudian menerima banyak dukungan dari kelompok radikal yang berbasis di California Selatan seperti; Industrial Workers of the World (IWW), Sosialis, Chicanos, dan serikat buruh. Karena sikap pro-serikat dan pro-pekerja, mereka mendapatkan banyak dukungan dari para pekerja migran. Mereka mengumpulkan dana dengan menjual La Regeneracion (koran radikal yang menentang kediktatoran Porfirio Diaz), dan menerima sumbangan dari pekerja dan serikat. Kaum anarkis Italia dan Industrial Workers of the World (IWW) adalah pendukung terbesar mereka.

IWW dengan filosofi anarko-sindikalis mengorganisir semua pekerja ke dalam “Satu Serikat Besar” tanpa perbedaan ras, keahlian, atau perbedaan lainnya, bersama dengan ketidakpercayaan naluriah terhadap negara borjuis dan sistem hukum membuat mereka menjadi yang paling mungkin, jika tidak sempurna, cocok dengan anarkisme Magon.

Serupa PLM, Wobblies (sebutan untuk anggota IWW) lahir dari represi, percaya pada aksi langsung, dan memiliki kebijakan pintu terbuka terkait keanggotaan. Seperti yang dikatakan salah satu penyelenggara IWW, “Satu orang sama baiknya dengan yang lain bagi saya; Saya tidak peduli apakah dia berkulit hitam, biru, hijau, atau kuning, selama dia bertindak sebagai laki-laki dan bertindak sesuai dengan kepentingan ekonominya sebagai seorang pekerja”. Magon juga memiliki perspektif internasionalis, “Di barisan Liberal adalah orang-orang yang bukan kebangsaan kita tetapi saudara ideologis kita … mereka mengorbankan diri mereka untuk menghancurkan rantai perbudakan kita.” Sikap ini membantu menjelaskan mengapa Wobblies memasok jumlah tentara terbesar untuk PLM.

Pada tahun 1910, Dewan Penyelenggara PLM mengirim Fernando Palomares dan Pedro Ramírez Caule, yang telah berpartisipasi dalam Serangan Cananea, untuk berhubungan dengan penduduk asli, Camilo Jiménez dan Antonio Cholay, dengan tujuan menyiapkan peta tanah dan mengorganisir kelompok-kelompok adat untuk perjuangan bersenjata. Mereka pun berhasil mendapatkan dukungan dari masyarakat Cocopah, Paipai, Kumeyaay, dan Kiliwa. Sejak saat itu Dewan Penyelenggara PLM – yang bertempat tinggal di Los Angeles – mengkoordinasikan propaganda, penyediaan dana, perekrutan sukarelawan dan perencanaan umum untuk menyerang Baja California. Pada tahun 1911, jumlah penduduk di kota-kota di Baja California utara adalah: 1027 di Ensenada, 300 di Mexicali, 100 di Tijuana, kurang dari 100 di Los Algodones dan kurang dari 100 di Tecate.

Banyak kaum konservatif Amerika di California khawatir dengan jumlah dukungan yang diterima PLM dan Magón bersaudara, serta kemungkinan kehilangan tanah mereka jika kaum anarkis memberontak. Hal ini memicu ketegangan rasial, politik, dan sosial lebih lanjut, karena kepentingan kedua kelompok bertabrakan. Media juga membantu memicu kesenjangan ini. The Los Angeles Times, salah satu surat kabar konservatif selama periode waktu itu, menyebut pendukung Ricardo dan Enrique Flores Magón, “tukang minyak” dan “mata liar-anarkis dengan bom rokok di tangan.” The Regeneración, sebuah surat kabar revolusioner , menerbitkan filsafat sayap kiri, dan meminta dukungan publik selama Revolusi Meksiko. Namun, terlepas dari dukungan populer yang diterima PLM dari kedua sisi perbatasan, ironi terbesar pasukan Magonista adalah bahwa mayoritas anggotanya adalah orang gringo (sebutan dari orang amerika latin kepada orang amerika serikat selama perang Mexiko-Amerika Serikat (1846 – 1848), bukan orang Meksiko yang berjuang untuk kemerdekaan.

Meskipun demikian, dalam menghadapi rintangan yang tampaknya tidak dapat diatasi ini, pemberontakan dimulai dengan awal yang baik. Setelah menerima kabar dari Los Angeles, para pemberontak mulai merencanakan serangan ke Mexicali, sebuah kota kecil dekat perbatasan di Imperial Valley. Setelah operasi pengintaian yang sukses, pada waktu menjelang fajar tepat pada hari Minggu, 29 Januari 1911 sekitar tiga puluh orang tentara Magonistas Meksiko yang dipimpin oleh Jose Maria Leyva bersama sekelompok penduduk, merebut kota Mexicali tanpa perlawanan; mereka menghancurkan penjara, menduduki barak dan menyita dana kantor pemerintah. Mayoritas penduduk Mexicali diminta untuk menyeberang ke Calexico, di mana mereka akan tinggal hingga usai peperangan. Sementara penduduk yang lain bergabung dengan pemberontak serta banyak sosialis asing dan anarkis; terutama militan dari Pekerja Industri Dunia (IWW). Pemberontakan Magonista pun lahir.

Kurang dari seminggu setelah jatuhnya Mexicali, sebuah pertemuan diadakan untuk mendukung Magonistas di Kuil Buruh Los Angeles. Mereka mengumpulkan $ 140 dolar dan novelis sosialis Jack London menulis sebuah manifesto untuk mendukung para pemberontak:

Kami Sosialis, anarkis, gelandangan, pencuri ayam, penjahat, dan warga negara Amerika Serikat yang tidak diinginkan bersama Anda dengan hati dan jiwa. Anda akan melihat bahwa kami tidak terhormat. Anda juga tidak. Tidak ada seorang revolusioner yang mungkin dihormati di hari-hari pemerintahan properti. Semua nama yang Anda panggil, kami telah dipanggil. Dan ketika korupsi dan keserakahan bangkit dan mulai memanggil nama-nama, orang-orang jujur, orang-orang pemberani, orang-orang patriotik dan martir tidak bisa mengharapkan apa-apa selain disebut pencuri ayam dan penjahat. Jadilah itu. Tapi aku berharap ada lebih banyak pencuri ayam dan penjahat semacam itu yang membentuk kelompok gagah berani yang mengambil Mexicali. Saya menyebut diri saya sebagai pencuri ayam dan revolusioner.

Di San Diego, Liga Anti-Interferensi setempat mensponsori pidato Emma Goldman di Germania Hall yang mengumpulkan $ 113 dolar pada malam pertempuran Tijuana. Liga, yang anggotanya termasuk Sosialis terkemuka Kasper Bauer dan pengacara progresif E. E. Kirk, dibentuk untuk menentang intervensi Amerika Serikat di Meksiko. Bauer dan Kirk juga merupakan kontak lokal untuk Magonistas. Peristiwa seperti ini segera meningkatkan barisan pemberontak yang mencakup sekitar 150 orang yang terdiri dari orang-orang Meksiko dari daerah Mexicali, pengintai Indian Cocopah, sukarelawan IWW, dan sejumlah tentara. Meskipun kekurangan dana militer dari Los Angeles dan kekacauan terus-menerus di lapangan, Magonistas berhasil merebut Tecate dan menahan upaya pasukan Federal Meksiko untuk merebut kembali Mexicali. Kemenangan itu meningkatkan moral dan jumlah pemberontak; pada akhir Februari sudah ada sekitar 200 orang (baik orang Meksiko maupun orang asing) yang bersenjata. Secara total, pasukan Magonista mencapai 500 orang, di mana sekitar 100 adalah orang Amerika, termasuk Frank Little dan Joe Hill yang militan. Pada bagian ini, pemerintah AS di Calexico dan Yuma telah menawarkan dukungan militer kepada pemerintah Meksiko untuk melindungi pekerjaan hidrolik yang telah dilakukan oleh para insinyur Amerika di Sungai Colorado sejak desember 1910 dengan otorisasi Porfiriato Diaz. Inggris mengirim HMS Shearwater dan HMS Algerine untuk menyerang dan menduduki San Quintín untuk melindungi kepentingan dan aset Inggris dari Magonistas.

Pada tanggal 21 Februari, 60 anggota Tentara Magonistas yang dipimpin oleh William Stanley, seorang anggota IWW, mengambil alih rumah pabean Los Algodones, tanpa persetujuan Leyva. Beberapa hari kemudian, kelompok Magonistas lainnya, yang dipimpin oleh José María Cardoza, menyerbu kamp konstruksi Sungai Colorado, mendapatkan perbekalan, senjata, tanah dan anggota baru di antara para pekerja. Di bulan Maret, kaum liberal menyerang Tecate untuk kali kedua namun berhasil dipukul mundur. Kemudian mereka berbaris ke kota El Alamo, tenggara Ensenada, di mana sekitar 200 pemberontak berhasil merebut alun-alun; di sana Simon Berthold terluka parah. Beberapa hari kemudian, William Stanley juga tewas dalam bentrokan dengan pasukan federal di dekat Mexicali.

Di saat yang sama perintah yang dikirim oleh Dewan PLM dari Los Angeles terus menerus dicegat oleh pihak berwenang, yang membuat koordinasi menjadi lebih sulit. Kepemimpinan tentara magonistas mengalami beberapa perubahan, beberapa tentara di antaranya bahkan pergi untuk bergabung dengan tentara Madero (faksi politik oposisi Presiden Diaz yang mengawali perang saudara di Meksiko). Sementara pasukan yang lain bertengkar tentang taktik dan kepemimpinan. Dewan PLM lalu menunjuk Caryl Ap Rhys Pryce, seorang prajurit Wales yang pernah bertempur di India dan Afrika Selatan. Akan tetapi pengalaman militernya bukan penentu segalanya, kurangnya komitmen yang mendalam perihal prinsip politik serta kedekatannya dengan pebisnis Dick Ferris akhirnya terbukti menjadi bencana.

Ketika Dewan PLM memerintahkannya untuk melawan pasukan Mexico di dekat Mexicali, sebaliknya sehari setelah 30 orang India yang dipimpin oleh Juan Guerrero merebut kota pelabuhan kecil San Quintin, Pryce berbelok ke barat dan menyerang Tijuana. Setelah pertempuran sengit pada pagi hari tanggal 9 Mei 1911, kota itu jatuh ke tangan pasukan Pyrce dengan diikuti periode penjarahan oleh para pengungsi.

Inilah awal dari kehancuran pemberontakan mogonistas. Karena kondisi kelangkaan amunisi dan krisis kepemimpinan di lapangan. Para tentara magonistas dibawah komando Pryce memutuskan untuk membuka blokade Tijuana untuk pariwisata dan perjudian dalam rangka mengumpulkan uang. Mereka juga menerapkan sistem pajak kepada para perusahaan setempat dan biaya lisensi. Selama masa pendudukan Tijuana, pasukan Pyrce berhasil mengumpulkan uang berjumlah hampir $ 850 dan mengirimnya ke Junta Los Angeles dengan harapan agar uang itu digunakan untuk membeli senjata dan peralatan untuk pasukannya.

Ironisnya, dana yang sudah dikumpulkan tersebut sebagian besar digelapkan oleh Rosalio Bustamante, salah satu dari dua petinggi asli junta yang kemudian bergabung dengan Anti Reeleksionis (kelompok Madero). Kabar ini sampai ke telinga Pyrce yang meudian memintta Flores Magon untuk segera dibentuk komisi investigasi dan menjamin perihal amunisi dan persenjataan untuk pasukannya di Tijuana. Magon setuju dengan permintaan Pyrce, tetapi, Magon gagal untuk memberikan jaminan tentang persenjataan, dan membuat Pyrce mengundurkan diri.

Ada laporan investigasi yang menunjukkan bahwa Dick Ferris lah yang memberi Pryce ide untuk berbelok ke Tijuana dan membuka kasino di Tijuana, karena dia sendiri telah membuat proposal pada bulan februari bahwa semenanjung itu harus diubah menjadi lumbung kapital. Dengan kata lain, Ferris, seorang agen Panama-California Exposition Company melakukan aneksasi Baja California memanfaatkan hubungan kedekatannya dengan para tentara magonistas seperti Pyrce. Sebenarnya ketertarikan Ferris pada Baja california berasal dari beberapa tahun sebelum pemberontakan Magonistas. Temannya Harry Stewart, seorang pensiunan Angkatan Laut AS telah memberi tahu dia tentang sumber daya alam di kawasan itu dan signifikansinya bagi kepentingan ekonomi AS. Ferris juga pernah terlibat konfrontasi dengan Presiden Diaz ketika ia meminta untuk membeli semenanjung itu dan ketika Presiden Diaz menolak, dia akan merebut wilayah itu dengan pasukan 1.000 orang. Dan siapa sangka yang ia maksudkan adalah pemberontakan magonistas yang ia tunggangi melalui salah satu temannya Pyrce yang belakangan tak tahu menau terkait agenda rahasia ini. Dia pula yang menghasut Pyrce untuk bergabung dengan PLM dengan mengungkapkan ketidaksukaan nya terhadap Pemerintah Diaz.

Sementara itu, di Ciudad Juarez terjadi penyerangan oleh pasukan Maderista. Pendudukan Ciudad Juárez ini mengakibatkan perwakilan Presiden Porfiriato dan Francisco I. Madero menandatangani perjanjian pada 21 Mei, di mana Díaz setuju untuk mengundurkan diri dari kursi kepresidenan. Namun, Flores Magon dan anggota junta lainnya bertekad untuk melanjutkan perjuangan mencapai revolusi ekonomi dan sosial yang sesungguhnya di Meksiko. Pada tanggal 24 Mei 1911, sehari sebelum pengunduran diri Presiden Diaz, mereka mengeluarkan manifesto di mana. mereka menolak Perjanjian Ciudad Juarez, yang secara resmi mengakhiri perang meksiko antara Maderista dan pasukan pemerintah Diaz. PLM menyebut Madero sebagai pengkhianat dan oportunis yang memanfaatkan keberhasilan magonistas dalam peperangan.

Pasca kepergian Pyrce, kelangkaan uang dan senjata, serta penghianatan dalam internal junta Los Angeles telah menyebabkan kurangnya kepercayaan kelompok magonistas yang lain. Sementara PLM sendiri telah kehabisan dana yang dihabiskan untuk propaganda. Selain menerbitkan dan mendistribusikan Regeneracion, junta mendistribusikan buku dan jurnal tentang anarkisme ke seluruh AS dan Amerika Latin.

Dalam kekacauan ini, kelompok magonistas terpecah; sebagian melanjutkan perjuangan dan sebagian yang lainnya memilih untuk menunggu dan melihat apa yang akan ditawarkan pemerintah Madero kepada mereka. Di antara mereka yang ingin terus berjuang adalah seorang pejabat muda bernama Kapten Louis James. James sendiri memiliki satu kontak di seberang perbatasan yang mungkin dapat membantu mereka memenuhi kelangkaan persenjataan untuk melanjutkan perjuangan. Kontak ini adalah agen Perusahaan Panama-California Exposition, Richad “Dick” Ferris, yang ia dapatkan dari temannya Pyrce. Mereka bertemu dengan Ferris, namun Ferris memanfaatkan situasi untuk membalikan keadaan. Ia menasehati pasukan magonistas bahwa, jika mereka bersedia melupakan prinsip-prinsip sosialis dan anarkis dan bergabung bersamanya, mereka dapat memenangkan simpati dan dukungan ekonomi daru rakyat Amerika dan kelas menangah Meksiko. Puncaknya, pada tanggal 2 Juni 1911, James mengadakan pertemuan garnisun pemberontakan yang ada pada saat itu dan melakukan pemungutan suara – sekitar sepertiga dari mereka, memproklamasikan “Republik Baja California” dengan Ferris sebagai Presiden.

Dalam hal ini, baik Pyrce maupun James sama-sama tertipu, orang yang mereka anggap sebagai penghubung utama tidak lain adalah musuh sebenarnya yang harus mereka lawan. Dengan kegagalan ini, kekalahan pasukan Magonistas di Baja California pun tak terhindarkan, mengingat pasukan musuh yang memiliki sumber daya lebih banyak serta persenjataan yang lengkap. Divisi pertama di Mexicali, menyerah kepada tentara maderista, sementara divisi dua di Tijuana kalah dalam pertempuran tiga jam dari pasukan federal.

Magon bersaudara lalu ditangkap dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Pada tahun 1920, administrasi pemerintah Meksiko menawarkan uang pensiun kepada mereka untuk membantu meringankan beban mereka di penjara, Magon berterima kasih kepada mereka dengan murah hati tetapi menolak uang tersebut dengan prinsip anarkis karena berasal dari negara, “uanglah yang akan bakar tanganku dan isi hatiku dengan penyesalan.” Untuk alasan yang sama, dia bahkan menolak untuk meminta pengampunan karena mengetahui bahwa, “Ini menyegel nasib saya. Aku akan menjadi buta, membusuk, dan mati di dalam tembok yang mengerikan ini … Aku telah kehilangan segalanya … kecuali kehormatanku sebagai seorang pejuang.” Ia ditemukan tewas di lantai selnya di Leavenworth pada tanggal 21 November 1922.

Flores Magon menjadi pahlawan yang dihormati oleh orang miskin Meksiko. Dia kemudian dianggap sebagai pendahulu Zapata dan dimakamkan sebagai tokoh revolusioner yang dihormati. Dalam Rebellion in the Borderlands, James A. Sandos berpendapat bahwa warisan Flores Magon penting dalam konteks Amerika karena tulisannya di La Regeneracion mengungkapkan kemarahan orang-orang Meksiko dan membantu menginspirasi pemberontakan di wilayah perbatasan Texas yang merupakan respons terhadap eksploitasi.

Jika demikian, maka mungkin para aktivis San Diego yang membangun Taman Chicano, petugas kebersihan yang mogok untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi, pekerja maquiladora yang berjuang untuk hak-hak dasar mereka, kelompok pendukung Zapatista, dan kaum globalfobia yang menentang ekses neoliberalisme adalah bagian dari sesuatu yang sudah dimulai sejak lama. Seperti yang ditulis oleh Flores Magon yang putus asa dalam menghadapi kegagalan dan kematian:

“Pemimpi adalah desainer masa depan. Orang-orang praktis … bisa menertawakannya; mereka tidak tahu bahwa dia adalah kekuatan dinamis sejati yang mendorong dunia ke depan. Tekan dia, dan dunia akan memburuk menuju barbarisme. Dibenci, dimiskinkan, ia memimpin jalan … menabur, menabur, menabur benih yang tidak akan dipanen olehnya, tetapi oleh orang-orang yang praktis di masa depan, yang pada saat yang sama akan menertawakan pemimpi tak kenal lelah lainnya yang sibuk menabur, menabur, penyemaian.”

Ricardo Flores Magón adalah salah satu penulis revolusioner yang berpengaruh. Pesan-pesannya kuat. Kata-kata adalah senjatanya.


Sumber:

  • The Anarchist Library – The Magonista Revolt in Tijuana: A Prelude to the San Diego Free Speech Fight

  • San Diego History – The Magonista Revolt in Baja California