Peter Kropotkin

Komune Paris

2025

      Pengantar Penerjemah

      Tempat Komune dalam Evolusi Sosialis

      Bagaimana Komune Gagal Mewujudkan Tujuan Sejatinya, Namun Tetap Menjadi Panutan Dunia

      Ajaran Komune Dalam Sosialisme Modern

Pengantar Penerjemah

Dengan penuh syukur dan semangat, saya mempersembahkan terjemahan karya penting The Commune of Paris oleh Peter Kropotkin (diterjemahkan dari The Anarchist Library) ini sebagai kelanjutan dari perjalanan intelektual yang telah kita mulai bersama.

Project ini adalah bagian selanjutnya dari apa yang telah kita lakukan — usaha kolektif untuk membawa teks-teks penting klasik ke dalam bahasa Indonesia yang luwes, tetap mempertahankan kekayaan makna aslinya, dan membukanya untuk pemahaman lebih luas di tengah pembaca kita hari ini.

Sebelumnya, kita telah menerjemahkan dan mendekatkan gagasan-gagasan progresif dari para pemikir besar lainnya, menanamkan benih-benih refleksi kritis tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan masyarakat kita. Kini, melalui Komune Paris, kita memperdalam langkah itu — menghidupkan kembali sebuah peristiwa yang bukan hanya mengguncang dunia di zamannya, tetapi juga terus memancarkan nyala inspirasi bagi siapa saja yang memperjuangkan keadilan sosial dan pembebasan manusia.

Saya memilih untuk mempertahankan struktur paragraf sebagaimana dalam teks aslinya, sebab setiap bagian dalam karya ini mengalir seperti mata rantai pemikiran yang saling berhubungan. Tiap paragraf adalah denyut, napas, dan denyaran waktu yang mesti dihargai. Sehingga, dalam terjemahan ini, saya berusaha menjaga keseimbangan antara keluwesan dalam berbahasa Indonesia dengan kesetiaan terhadap irama ideologi, semangat revolusioner, serta refleksi filosofis yang ingin Kropotkin sampaikan.

Lebih dari sekadar dokumentasi sejarah, Komune Paris adalah simbol lahirnya gagasan tentang federasi bebas, tentang keberanian rakyat untuk mengambil nasib mereka sendiri tanpa perantara kekuasaan negara yang korup. Kropotkin, dengan kejernihan dan ketajaman analisanya, membawa kita memahami bukan hanya apa yang terjadi di Paris 1871, melainkan juga apa yang terus hidup dalam setiap pergulatan pembebasan hingga hari ini.

Bagi saya, proyek ini adalah ruang belajar dan sekaligus ruang berbagi. Terjemahan ini tidak hanya untuk sekadar dibaca, tetapi juga untuk direnungkan, diperdebatkan, dan semoga, menginspirasi langkah-langkah kecil maupun besar dalam kehidupan nyata kita masing-masing.

Sebagaimana cita-cita yang dihidupkan oleh Komune Paris, saya percaya bahwa semangat kebebasan, kesetaraan, dan solidaritas tidak pernah mati. Ia terus mencari bentuk-bentuk baru, ia terus mengetuk hati mereka yang bersedia mendengarkan dan bertindak.

Akhir kata, terima kasih kepada semua yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini, dari proyek yang pertama hingga kini.

Chifau 2025

Tempat Komune dalam Evolusi Sosialis

Pada 18 Maret 1871, rakyat Paris bangkit melawan pemerintahan yang dibenci dan dimusuhi, dan memproklamasikan kota tersebut sebagai entitas yang merdeka, bebas, milik dirinya sendiri.

Penggulingan kekuasaan pusat ini terjadi tanpa efek dramatis khas revolusi: tanpa tembakan, tanpa darah yang tumpah di barikade. Ketika rakyat bersenjata turun ke jalan, para penguasa melarikan diri, pasukan meninggalkan kota, para pejabat sipil buru-buru mundur ke Versailles sambil membawa segala yang bisa mereka bawa. Pemerintahan itu menguap seperti kolam air tergenang yang tertiup angin musim semi, dan pada tanggal sembilan belas, kota besar Paris mendapati dirinya bebas dari noda yang telah mencemarinya, dengan hampir tanpa mengorbankan darah anak-anaknya.

Namun perubahan yang terjadi ini menandai awal dari era baru dalam rangkaian panjang revolusi yang dilalui bangsa-bangsa dalam perjalanan dari perbudakan menuju kebebasan. Dengan nama "Komune Paris," lahirlah sebuah ide baru yang menjadi titik tolak bagi revolusi-revolusi di masa depan.

Seperti biasa, ide yang penuh makna ini bukan hasil karya seorang individu atau pemikiran seorang filsuf, ia lahir dari semangat kolektif, berasal dari hati sebuah komunitas secara keseluruhan. Namun pada awalnya, ide ini masih samar, dan banyak dari mereka yang bertindak serta mengorbankan nyawanya demi ide ini tidak melihatnya seperti yang kita pahami sekarang: mereka belum sepenuhnya menyadari luasnya revolusi yang telah mereka mulai, atau kesuburan prinsip baru yang mereka coba terapkan. Hanya setelah mereka mulai menjalankannya, arti masa depannya perlahan mulai terlihat, baru setelahnya, prinsip baru ini dipikirkan secara lebih mendalam hingga menjadi jelas, indah, adil, dan penting dalam hasilnya.

Selama lima hingga enam tahun sebelum Komune, sosialisme telah memasuki babak baru melalui penyebaran dan pertumbuhan pesat Asosiasi Buruh Internasional. Dalam cabang-cabang lokal dan kongres umumnya, para pekerja Eropa bertemu dan berdiskusi tentang persoalan sosial dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di antara mereka yang melihat revolusi sosial sebagai keniscayaan dan aktif mempersiapkannya, ada satu persoalan yang paling mendesak untuk dijawab: "Perkembangan industri saat ini akan memaksa terjadinya revolusi ekonomi besar dalam masyarakat kita, revolusi ini akan menghapuskan kepemilikan pribadi, akan mengalihkan semua modal yang telah dikumpulkan generasi sebelumnya menjadi milik bersama, tetapi, bentuk pengelompokan politik apa yang paling cocok untuk perubahan dalam sistem ekonomi ini?"

"Asosiasi Buruh Internasional" menjawab, "Pengelompokan itu tidak boleh hanya bersifat nasional, ia harus melampaui semua batas dan garis perbatasan buatan." Gagasan agung ini segera meresap ke dalam hati rakyat dan mengakar kuat dalam benak mereka. Meski sejak saat itu terus diburu oleh berbagai upaya reaksi dari segala arah, gagasan ini tetap hidup, dan ketika suara rakyat yang memberontak mencairkan rintangan-rintangan terhadap perkembangannya, ia akan muncul kembali dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.

Namun, masih perlu ditemukan apa saja unsur pembentuk dari asosiasi besar ini.

Terhadap pertanyaan ini, ada dua jawaban yang diberikan, masing-masing mewakili aliran pemikiran yang berbeda. Satu mengatakan negara rakyat, yang lain mengatakan anarki.

Kaum sosialis Jerman berpendapat bahwa negara harus mengambil alih semua kekayaan yang telah terkumpul, menyerahkannya kepada asosiasi-asosiasi pekerja, mengorganisasi produksi dan pertukaran, serta mengawasi kehidupan dan kegiatan masyarakat secara umum.

Terhadap gagasan ini, kaum sosialis dari ras Latin, yang kuat berbekal pengalaman revolusioner, membalas bahwa keberadaan negara semacam itu merupakan keajaiban, dan andai pun ada, pasti akan menjadi tirani terburuk. Menurut mereka, cita-cita negara yang maha kuasa dan penuh kebaikan itu hanyalah salinan masa lalu, dan mereka menghadapkannya dengan cita-cita baru: anarki, yakni penghapusan total negara, dan pengorganisasian sosial dari yang sederhana menuju kompleks melalui federasi bebas kelompok-kelompok produsen dan konsumen rakyat.

Segera diakui, bahkan oleh kaum sosialis negara yang lebih liberal, bahwa anarki memang mewakili bentuk organisasi yang jauh lebih baik dibandingkan negara rakyat. Namun, mereka berkata, cita-cita anarkis terlalu jauh “untuk saat ini sehingga kita tidak bisa mengurusnya sekarang.

Di saat yang sama, memang benar bahwa teori anarkis membutuhkan ekspresi yang lebih singkat, jelas, dan praktis, untuk menunjukkan titik berangkatnya, merangkum — konsepsinya, serta — menunjukkan bagaimana ia didukung oleh kecenderungan nyata di tengah rakyat. Federasi serikat pekerja dan kelompok konsumen lintas batas negara dan independen dari negara-negara yang ada dianggap terlalu kabur, dan mudah dilihat bahwa itu tidak bisa sepenuhnya memenuhi keragaman kebutuhan manusia. Diperlukan formula yang lebih jelas, yang lebih mudah dipahami, dan yang memiliki dasar kuat dalam realitas kehidupan.

Jika pertanyaannya hanya soal bagaimana merumuskan teori terbaik, kita bisa berkata bahwa teori, sebagai teori, tidak terlalu penting. Tapi selama sebuah gagasan baru belum menemukan bentuk penyataan yang jelas dan presisi, yang tumbuh secara alami dari kenyataan hidup, ia tidak akan menggugah pikiran manusia, tidak akan menginspirasi mereka untuk memulai perjuangan yang menentukan. Rakyat tidak akan melompat ke dalam ketidakpastian tanpa adanya gagasan positif dan terformulasi dengan jelas sebagai landasan awal.

Adapun titik awal ini, rakyat harus dipandu ke arahnya oleh kehidupan itu sendiri.

Selama lima bulan penuh Paris terkepung oleh pasukan Jerman, selama lima bulan penuh ia harus mengandalkan sumber dayanya sendiri dan belajar mengenal kekuatan ekonomis, intelektual, dan moral yang besar yang ia miliki. Paris menangkap sekilas kekuatan inisiatifnya sendiri dan menyadari maknanya. Pada saat yang sama, Paris melihat bahwa para pembual yang merebut kekuasaan tidak tahu bagaimana mengorganisasi pertahanan Prancis ataupun membangun perkembangannya. Ia menyaksikan pemerintah pusat bertentangan dengan setiap manifestasi kecerdasan kota besar ini. Akhirnya, ia menyadari bahwa pemerintah mana pun pasti tidak mampu melindungi dari bencana besar ataupun mempercepat evolusi yang cepat. Selama pengepungan, para pembela Paris, para pekerjanya, menderita kekurangan yang mengerikan, sementara para penganggur menikmati kemewahan yang mencolok, dan berkat pemerintah pusat, Paris menyaksikan kegagalan setiap upaya untuk mengakhiri skandal ini. Setiap kali rakyat menunjukkan keinginan untuk bergerak lebih bebas, pemerintah justru menambah berat rantai mereka. Secara alami, pengalaman ini melahirkan gagasan bahwa Paris harus membentuk dirinya menjadi sebuah komune independen, yang mampu mewujudkan kehendak rakyat di dalam tembok-temboknya.

Komune tahun 1871 tidak bisa menjadi apa pun selain upaya pertama. Dimulai di akhir sebuah perang besar, terjepit di antara dua pasukan yang siap bergandengan tangan untuk menghancurkan rakyat, Komune tidak berani melangkah tanpa ragu ke jalan revolusi ekonomi. Ia tidak dengan tegas menyatakan diri sebagai sosialis, tidak melaksanakan ekspropriasi modal, dan tidak pula mengorganisasi tenaga kerja. Ia bahkan tidak menginventarisasi sumber daya umum kota tersebut.

Komune juga tidak memutuskan diri dari tradisi negara dan pemerintahan perwakilan. Ia tidak mencoba memewujudkan di dalam Komune bentuk organisasi dari sederhana ke kompleks yang justru telah ia inisiasi di luar, dengan memproklamasikan kemerdekaan dan federasi bebas antar-komune.

Namun pasti, jika Komune Paris dapat hidup beberapa bulan lebih lama, ia akan didorong secara tak terhindarkan oleh kekuatan keadaan menuju kedua revolusi ini. Jangan lupa bahwa kelas menengah Prancis membutuhkan waktu empat tahun penuh (dari 1789 hingga 1793) dalam aksi revolusioner sebelum mereka mengubah monarki terbatas menjadi republik. Haruskah kita heran jika rakyat Paris tidak langsung melompat dari keadaan pemerintahan penindas ke komune anarkis hanya dalam satu lompatan? Tetapi perlu diingat pula bahwa revolusi berikutnya, yang setidaknya di Prancis dan Spanyol akan bersifat komunal, akan melanjutkan pekerjaan Komune Paris di titik tempat ia dihentikan oleh pembantaian tentara Versailles.

Komune dikalahkan, dan kita semua tahu terlalu baik bagaimana kelas menengah membalas dendam atas ketakutan yang ditimbulkan rakyat saat mereka berhasil menggoyahkan kuk kekuasaan dari leher mereka. Kekalahan itu membuktikan bahwa memang ada dua kelas dalam masyarakat modern: di satu sisi, orang yang bekerja dan menyerahkan lebih dari setengah hasil kerjanya kepada para monopolis properti, namun tetap dengan enteng mengabaikan ketidakadilan yang dilakukan tuannya, di sisi lain, penganggur, perampok, yang membenci budaknya, siap membunuhnya seperti memburu hewan, digerakkan oleh naluri paling biadab saat kepemilikannya terancam.

Setelah mengurung rakyat Paris dan menutup semua jalan keluar, pemerintah Versailles melepaskan tentara atas mereka, tentara yang dibutakan oleh alkohol dan kehidupan barak, yang secara terbuka diperintahkan untuk “membereskan para serigala dan anak-anak mereka.” Kepada rakyat dikatakan:

Kamu akan binasa, apa pun yang kamu lakukan! Jika kamu tertangkap dengan senjata di tangan, mati! Jika kamu menggunakannya, mati! Jika kamu memohon ampun, mati! Ke mana pun kamu berbalik, ke kanan, kiri, mundur, maju, atas, bawah, mati! Kamu bukan hanya di luar hukum, kamu di luar kemanusiaan. Tak ada usia atau jenis kelamin yang bisa menyelamatkanmu dan keluargamu. Kamu akan mati, tapi sebelumnya kamu akan merasakan penderitaan istrimu, saudaramu, ibumu, anak-anakmu, bahkan bayi-bayimu! Di depan matamu, orang yang terluka akan diseret dari ambulans dan ditusuk bayonet atau dipukul dengan popor senapan. Ia akan diseret hiduphidup dengan kaki patah atau lengan berdarah, dilemparkan seperti sekantong sampah yang menderita ke dalam got. Mati! Mati! Mati!

Dan setelah pesta kegilaan ini, setelah tumpukan mayat ini, setelah pembantaian massal ini, datanglah pembalasan kecil: cambuk, belenggu di ruang kapal, pukulan dan penghinaan dari para sipir, setengah kelaparan, dan semua bentuk kekejaman yang halus. Mungkinkah rakyat melupakan kejahatan-kejahatan hina ini?

Dijatuhkan, tetapi tidak dikalahkan, Komune di zaman kita telah lahir kembali. Ia tidak lagi sekadar mimpi para yang kalah, mengkhayalkan bayang-bayang harapan. Tidak! “Komune” hari ini telah menjadi tujuan yang nyata dan pasti dari revolusi yang bergetar di bawah kaki kita. Ide ini semakin meresap dalam massa, menjadi seruan perjuangan mereka. Kita mengandalkan generasi sekarang untuk melaksanakan revolusi sosial dalam kerangka komune, mengakhiri sistem eksploitasi kelas menengah yang hina, membebaskan rakyat dari pengawasan negara, dan membuka era baru kebebasan, kesetaraan, dan solidaritas dalam evolusi umat manusia.

Bagaimana Komune Gagal Mewujudkan Tujuan Sejatinya, Namun Tetap Menjadi Panutan Dunia

Sepuluh tahun sudah memisahkan kita dari hari ketika rakyat Paris menggulingkan pemerintahan pengkhianat yang berkuasa setelah kejatuhan kekaisaran, bagaimana bisa massa tertindas di dunia beradab masih terus tertarik pada gerakan tahun 1871? Mengapa ide yang diwakili oleh Komune Paris begitu menarik bagi para pekerja di setiap negeri, dari berbagai kebangsaan

Jawabannya mudah. Revolusi tahun 1871, di atas segalanya, adalah revolusi rakyat. Ia lahir dari rakyat itu sendiri, timbul secara spontan dari tengah-tengah massa, dan justru di tengah-tengah rakyat banyak itulah ia menemukan para pembela, para pahlawan, dan para martirnya. Karena sangat "rakyat" itulah kelas menengah tidak pernah bisa memaafkannya. Dan sekaligus, semangat yang menggerakkannya adalah gagasan revolusi sosial: memang masih kabur, mungkin juga tidak sepenuhnya disadari, namun tetap merupakan usaha untuk akhirnya, setelah beraba-dabad perjuangan, meraih kebebasan sejati, kesetaraan sejati untuk semua manusia. Ini adalah revolusi rakyat jelata yang maju untuk merebut hak-haknya.

Telah dan terus dilakukan upaya untuk mengubah makna revolusi ini, menggambarkannya sekadar sebagai usaha Paris untuk merebut kemerdekaan dan membentuk negara kecil dalam Prancis. Namun tak ada yang lebih salah dari itu. Paris tidak berusaha mengisolasi dirinya dari Prancis, tidak pula ingin menaklukkannya dengan kekuatan senjata, Paris tidak ingin mengurung dirinya dalam tembok seperti biarawati di biara, Paris tidak digerakkan oleh semangat sempit keklosteran. Jika ia menuntut kemerdekaan, jika ia berusaha menghalangi campur tangan kekuasaan pusat dalam urusannya, itu karena ia melihat dalam kemerdekaan itu sebuah sarana untuk dengan tenang membangun dasar organisasi masa depan dan melaksanakan revolusi sosial dalam dirinya, sebuah revolusi yang akan sepenuhnya mengubah sistem produksi dan pertukaran berdasarkan prinsip keadilan, yang akan sepenuhnya mengubah hubungan manusia dengan mendasarkannya pada kesetaraan, yang akan membentuk kembali moralitas sosial kita berdasarkan kesetaraan dan solidaritas. Kemerdekaan komunal hanyalah sarana bagi rakyat Paris, tujuan mereka adalah revolusi sosial.

Dan tujuan ini bisa saja tercapai jika revolusi 18 Maret dibiarkan berjalan secara alami, jika rakyat Paris tidak dihancurkan oleh para pembunuh dari Versailles. Untuk menemukan sebuah ide yang jelas, tegas, dapat dipahami semua orang, dan merangkum dengan beberapa kata apa yang perlu dilakukan untuk merealisasikan revolusi — inilah sesungguhnya yang menjadi kegelisahan rakyat Paris sejak hari-hari awal kemerdekaan mereka. Namun sebuah gagasan besar tidak bisa tumbuh dalam sehari, betapapun cepatnya proses pemikiran dan penyebaran ide selama masa revolusi. Gagasan itu selalu memerlukan waktu untuk berkembang, untuk menyebar ke seluruh massa, untuk mewujud dalam tindakan, dan kali ini Komune Paris gagal. Ia gagal terutama karena, seperti yang telah kita catat, sosialisme sepuluh tahun lalu masih berada dalam masa transisi. Komunisme otoriter dan setengah religius tahun 1848 sudah tidak lagi berpengaruh pada pikiran praktis dan bebas zaman kita. Kolektivisme yang mencoba memadukan sistem upah dan kepemilikan kolektif tidak dipahami, tidak menarik, dan penuh kesulitan dalam penerapannya. Komunisme bebas, komunisme anarkis, baru mulai merekah dalam pikiran para pekerja dan hampir tidak berani memancing serangan dari para penyembah kekuasaan. Pikiran-pikiran masih ragu-ragu. Bahkan kaum sosialis sendiri, yang tidak memiliki tujuan yang jelas, tidak berani meletakkan tangan pada properti pribadi, mereka membius diri sendiri dengan dalih yang telah membekukan banyak gerakan zaman: "Mari kita pastikan kemenangan terlebih dahulu, baru kemudian lihat apa yang bisa dilakukan."

Memastikan kemenangan! Seolah-olah ada cara untuk membentuk komune bebas tanpa menyentuh properti! Seolah-olah ada cara untuk mengalahkan musuh ketika massa rakyat tidak langsung melihat bahwa kemenangan revolusi akan membawa kesejahteraan material, moral, dan intelektual bagi semua orang.

Hal serupa terjadi terkait prinsip pemerintahan. Dengan memproklamasikan Komune bebas, rakyat Paris sebenarnya telah memproklamasikan prinsip anarkis yang esensial, yakni pembubaran negara.

Namun, jika kita menerima bahwa pemerintahan pusat untuk mengatur hubungan antar-komune tidak perlu, mengapa kita masih menganggap perlu adanya pemerintah untuk mengatur hubungan antarkelompok dalam satu komune? Dan jika kita menyerahkan urusan kesepakatan bersama antar-kota kepada inisiatif bebas komune-komune itu sendiri, mengapa menolak inisiatif bebas antar-kelompok dalam satu komune? Tidak ada lagi alasan untuk memiliki pemerintahan di dalam komune sebagaimana tidak perlunya pemerintahan di luar komune.

Tetapi pada tahun 1871, rakyat Paris, yang telah menggulingkan begitu banyak pemerintahan, baru pertama kalinya mencoba memberontak terhadap sistem pemerintahan itu sendiri, akibatnya, mereka masih terbawa oleh penyembahan terhadap pemerintahan dan membentuk pemerintahan mereka sendiri. Hasilnya sudah tercatat dalam sejarah. Paris mengirimkan anak-anaknya yang paling setia ke balai kota. Di sana, terperangkap di antara tumpukan dokumen usang, dipaksa untuk memerintah padahal naluri mereka mendorong untuk berada di tengah rakyat, dipaksa berdebat padahal yang diperlukan adalah bertindak, dipaksa berkompromi padahal tiada kompromi yang lebih baik, mereka perlahan kehilangan inspirasi yang hanya lahir dari kontak terus-menerus dengan massa, dan akhirnya mereka menjadi lumpuh. Karena terpisah dari rakyat — pusat cahaya dan panas revolusioner — mereka malah melumpuhkan inisiatif rakyat. Komune Paris, anak dari masa transisi, lahir di bawah todongan senjata Prusia, memang sudah ditakdirkan untuk hancur. Namun melalui karakternya yang sangat populer, ia telah membuka serangkaian revolusi baru, melalui gagasan-gagasannya, ia adalah perintis revolusi sosial. Pelajarannya telah dipahami, dan ketika Prancis kembali dipenuhi komune-komune pemberontak, rakyat tidak akan menyerahkan diri kepada pemerintahan baru dan berharap pemerintahan itu yang memulai langkah-langkah revolusioner. Ketika mereka telah membebaskan diri dari parasit-parasit yang menghisap mereka, mereka akan mengambil alih seluruh kekayaan sosial untuk dibagikan sesuai prinsip komunisme anarkis. Dan ketika mereka sepenuhnya menghapuskan properti, pemerintahan, dan negara, mereka akan membentuk diri secara bebas sesuai kebutuhan yang ditunjukkan oleh kehidupan itu sendiri. Dengan memutuskan rantai, menghancurkan berhala, umat manusia akan bergerak maju menuju masa depan yang lebih baik, tanpa mengenal tuan maupun budak, tetap menghormati para martir agung yang dengan darah dan penderitaan mereka telah menerangi jalan kita menuju penaklukan kebebasan.

Ajaran Komune Dalam Sosialisme Modern

Pertemuan-pertemuan umum yang diselenggarakan pada 18 Maret di hampir setiap kota yang memiliki kelompok sosialis sungguh layak mendapat perhatian serius, bukan hanya karena itu merupakan demonstrasi dari barisan kaum pekerja, tetapi juga karena pertemuan-pertemuan itu memberikan kesempatan untuk mengukur perasaan para sosialis di kedua belahan dunia. Ini merupakan kesempatan yang lebih baik untuk "menghitung suara" dibanding sistem pemungutan suara mana pun, sebuah momen di mana aspirasi dapat diungkapkan tanpa dipengaruhi oleh taktik politik elektoral. Para pekerja tidak berkumpul semata-mata untuk memuji kepahlawanan proletariat Paris atau untuk menyerukan pembalasan atas pembantaian Mei. Sambil menghidupkan kembali ingatan tentang perjuangan gagah berani di Paris, mereka melangkah lebih jauh dan mendiskusikan pelajaran-pelajaran apa yang harus diambil dari Komune 1871 untuk revolusi yang akan datang. Mereka bertanya apa kesalahan Komune, bukan untuk mengkritik para pelakunya, tetapi untuk memperjelas bagaimana prasangka tentang properti dan otoritas, yang kala itu masih berkuasa dalam organisasi-organisasi buruh, telah menghambat lahirnya gagasan revolusioner dan perkembangan lanjutannya sebagai suar bagi dunia.

Pelajaran dari tahun 1871 telah memberikan manfaat kepada pekerja di seluruh negeri, memungkinkan mereka memutuskan diri dari prasangka-prasangka lama dan menuju pemahaman yang lebih jelas dan sederhana tentang apa yang harus dicapai revolusi mereka.

Pemberontakan komune-komune berikutnya tidak akan sekadar menjadi gerakan "komunal" semata. Mereka yang masih berpikir bahwa badan-badan pemerintahan lokal yang independen dan swadaya harus pertama-tama didirikan, lalu baru melakukan reformasi ekonomi dalam wilayah mereka masing-masing, kini dibawa oleh perkembangan lebih lanjut dari semangat rakyat, setidaknya di Prancis. Komune-komune dalam revolusi berikutnya akan memproklamasikan dan membangun kemerdekaan mereka melalui aksi revolusioner sosialis langsung, dengan menghapuskan kepemilikan pribadi. Ketika situasi revolusioner matang — yang bisa terjadi kapan saja — dan pemerintah-pemerintah disapu bersih oleh rakyat, ketika kubu kelas menengah, yang hanya hidup karena perlindungan negara, terpecah-pecah, rakyat pemberontak tidak akan menunggu sampai pemerintahan baru mendekritkan, dengan kebijaksanaan ajaibnya, beberapa reformasi ekonomi.

Mereka tidak akan menunggu untuk merebut kapital sosial melalui dekrit yang pada akhirnya hanya akan menjadi surat mati bila tidak dilaksanakan secara nyata oleh para pekerja itu sendiri. Mereka akan mengambil alih di tempat dan menegaskan hak mereka dengan langsung memanfaatkan kekayaan itu. Mereka akan mengorganisasi diri di bengkel-bengkel kerja untuk melanjutkan produksi, tetapi produksi itu akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan massa, bukan untuk keuntungan tertinggi para majikan. Mereka akan menukar gubuk mereka dengan hunian sehat di rumah-rumah orang kaya, mereka akan mengorganisasi diri untuk segera memanfaatkan kekayaan yang telah disimpan di kota-kota, mereka akan mengambil kekayaan itu seolah-olah ia memang selalu milik mereka, dan bukan pernah dirampas oleh kelas menengah.

Dan ketika baron-barisan industri yang selama ini memeras para pekerja akhirnya disingkirkan, produksi akan berlanjut, membuang belenggu yang menghambatnya, mengakhiri spekulasi-spekulasi yang mematikan, dan menghilangkan kekacauan yang selama ini merusaknya, bertransformasi sesuai kebutuhan gerakan yang didorong oleh tenaga kerja bebas. "Manusia tidak pernah bekerja sekeras mereka di Prancis tahun 1793, setelah tanah dirampas dari tangan kaum bangsawan," kata sejarawan Michelet. Belum pernah manusia bekerja seperti yang akan mereka lakukan pada hari ketika tenaga kerja dibebaskan, dan segala sesuatu yang dikerjakan oleh para pekerja akan menjadi sumber kesejahteraan bagi seluruh komune.

Akhir-akhir ini ada upaya untuk membedakan berbagai jenis kekayaan sosial, dan partai sosialis terpecah atas soal ini. Sekolah kolektivis yang sekarang, menggantikan kolektivisme lama Internasional (yang hanya merupakan komunisme anti-otoritarian), berusaha membedakan antara kapital untuk produksi dan kekayaan untuk konsumsi. Mesin, pabrik, bahan mentah, alat transportasi, dan tanah dikelompokkan di satu sisi: sedangkan rumah, barang-barang hasil produksi, pakaian, dan kebutuhan hidup sehari-hari ditempatkan di sisi lain. Yang pertama dianggap harus menjadi milik kolektif, yang kedua, menurut para guru sosialisme ini, boleh tetap menjadi milik pribadi.

Telah dilakukan upaya untuk mempertahankan perbedaan ini, tetapi akal sehat rakyat telah mengalahkannya, rakyat menganggapnya ilusi yang tidak dapat ditegakkan. Perbedaan ini keliru dalam teori dan gagal dalam praktik. Para pekerja memahami bahwa rumah yang kita tinggali, batu bara dan gas yang kita bakar, bahan bakar yang dikonsumsi tubuh untuk menopang kehidupan, pakaian yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, buku yang kita baca untuk belajar, bahkan hiburan yang kita nikmati — semuanya adalah bagian integral dari kehidupan kita, sama pentingnya bagi produksi sukses dan perkembangan umat manusia sebagaimana mesin, pabrik, bahan mentah, dan alat produksi lainnya. Para pekerja mulai menyadari bahwa mempertahankan kepemilikan pribadi atas kekayaan jenis ini berarti mempertahankan ketidaksetaraan, penindasan, dan eksploitasi, serta sebelumnya sudah melumpuhkan hasil dari ekspropriasi sebagian. Melompati pagar teoretis kolektivisme, mereka bergerak langsung menuju bentuk komunisme anti-otoritarian yang paling sederhana dan praktis.

Kini dalam pertemuan-pertemuan mereka, para pekerja revolusioner dengan tegas menyatakan hak mereka atas seluruh kekayaan sosial dan pentingnya menghapuskan kepemilikan pribadi, baik dalam alat produksi maupun barang konsumsi: "Pada hari revolusi, kita akan merebut semua kekayaan yang tersimpan di kota-kota dan menjadikannya milik bersama," kata para pembicara, dan audiens menyambut pernyataan ini dengan persetujuan bulat. "Biarlah masing-masing mengambil dari tumpukan itu apa yang ia butuhkan, dan percayalah bahwa dalam gudang-gudang kota kita ada cukup makanan untuk memberi makan semua orang sampai produksi bebas bisa berjalan dengan stabil, dalam toko-toko kota kita ada cukup pakaian untuk semua orang, sementara di luar sana masih banyak yang telanjang dan miskin. Bahkan ada cukup barang mewah untuk setiap orang memilih sesuai keinginannya."

Berdasarkan apa yang diungkapkan dalam pertemuan-pertemuan peringatan komune di Prancis dan di tempat lain, para pekerja telah mantap berkeyakinan bahwa revolusi yang akan datang akan memperkenalkan komunisme anarkis dan reorganisasi produksi yang bebas. Kedua poin ini tampaknya telah menjadi keputusan bulat, dan dalam hal ini, komunekomune dalam revolusi mendatang tidak akan mengulangi kesalahan para pendahulunya yang dengan murah hati telah mengorbankan darah mereka untuk membuka jalan bagi kemajuan masa depan.

Namun ada satu poin ketiga, yang tak kalah penting, yang belum sepenuhnya dicapai kesepakatannya, meskipun tampaknya tidak lama lagi: ini adalah soal pemerintahan.

Seperti diketahui, partai sosialis terbagi menjadi dua kubu tentang isu ini. "Pada hari revolusi," kata satu kubu, "kita harus membentuk pemerintahan untuk mengambil alih kekuasaan tertinggi. Pemerintahan yang kuat, tegas, dan resolutif akan membuat revolusi dengan mengeluarkan dekrit ini dan itu, serta memaksa semua pihak untuk menaati perintahnya."

"Delusi yang menyedihkan!" kata kubu lainnya. "Setiap pemerintahan pusat, yang mengklaim mengatur suatu bangsa, pasti akan menjadi penghambat revolusi. Ia tidak bisa tidak terdiri dari elemen-elemen yang paling tidak serasi, dan hakekatnya sebagai pemerintahan adalah konservatif. Ia hanya akan memperlambat revolusi di komune-komune yang siap melaju, tanpa mampu menginspirasi komune-komune yang tertinggal. Sama halnya dalam sebuah komune yang memberontak. Entah pemerintahan komunal itu sekadar mengesahkan fakta-fakta yang telah tercapai — maka ia akan menjadi mesin yang tidak berguna dan berbahaya — atau ia akan ingin memimpin, menetapkan aturan bagi hal-hal yang seharusnya dikerjakan secara bebas oleh rakyat itu sendiri bila ingin benar-benar hidup. Ia akan menerapkan teori di mana seluruh masyarakat seharusnya mencipta bentuk kehidupan bersama baru melalui kekuatan kreatif yang muncul ketika masyarakat memutuskan rantainya dan melihat cakrawala baru terbentang. Orang-orang yang berkuasa akan menghalangi ledakan kreativitas ini, alih-alih membantu — seperti yang bisa mereka lakukan bila tetap di tengah rakyat, bekerja bersama mereka dalam organisasi baru, bukan mengurung diri di kantor kementerian dan menghabiskan tenaga dalam debat-debat sia-sia. Pemerintahan revolusioner hanya akan menjadi beban dan bahaya, tidak berdaya untuk melakukan kebaikan, tetapi berbahaya untuk menciptakan keburukan, maka, untuk apa memiliki pemerintahan?"

Meskipun sangat wajar dan adil, argumen ini tetap bertentangan dengan banyak prasangka yang tertanam kuat dan dipelihara oleh mereka yang memiliki kepentingan dalam mempertahankan agama kekuasaan, berdampingan dengan agama kepemilikan dan agama teologi.

Prasangka ini, yang merupakan yang terakhir dari ketiganya, masih ada dan menjadi ancaman bagi revolusi yang akan datang, meskipun sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran. "Kita akan mengurus urusan kita sendiri tanpa menunggu perintah dari pemerintahan, kita akan menginjak-injak mereka yang mencoba memaksakan kekuasaan atas kita sebagai pendeta, pemilik properti, atau penguasa, mulai dikatakan para pekerja. Kita harus berharap bahwa partai anarkis akan terus dengan gigih melawan penyembahan terhadap pemerintahan dan tidak membiarkan dirinya terseret atau dibujuk untuk ikut dalam perebutan kekuasaan. Kita harus berharap bahwa dalam tahun-tahun yang tersisa sebelum revolusi, prasangka terhadap pemerintahan cukup terguncang sehingga tidak akan cukup kuat untuk menyesatkan rakyat ke jalur yang salah.

Komune-komune dalam revolusi berikutnya tidak hanya akan menghancurkan negara dan menggantikan pemerintahan parlementer dengan federasi bebas, mereka juga akan meninggalkan sistem parlementer di dalam komune itu sendiri. Mereka akan mempercayakan organisasi bebas distribusi makanan dan produksi kepada kelompok-kelompok pekerja bebas, yang akan berfederasi langsung dengan kelompok serupa di kota-kota dan desa-desa lain, tanpa melalui parlemen komunal, untuk mencapai tujuan mereka.

Mereka akan anarkis di dalam komune sebagaimana mereka anarkis di luarnya, dan hanya dengan cara inilah mereka dapat menghindari kengerian kekalahan dan keganasan reaksi.


Diterjemahkan oleh Chifau dan diterbitkan oleh Distribusi Bacaan pada tahun 2025. Diunggah ke SEA-AL oleh Matsutake (Archipelago Anarchist Archive).