Peter Kropotkin

Komunisme dan Anarki

2017

      Produksi Dan Konsumsi Secara Bersama

      Kehidupan Domestik Secara Bersama

      Komunitas Terisolasi di Masa Kini dan Komune-Komune Berfederasi di Masa Mendatang

      Individu DI Dalam Masyarakat Komunis

Banyak dari kaum Anarkis dan para pemikir secara umum, meski mengakui keuntungan besar yang ditawarkan Komunisme kepada masyarakat, masih menganggap bentuk organisasi sosial semacam ini adalah sebuah bahaya bagi kebebasan dan perkembangan bebas individual. Bahaya ini juga diakui oleh banyak dari kaum Komunis, dan dengan mempertimbangkan hal itu, pertanyaan timbul di dalam permasalah yang besar yang telah terbentang luas sepenuh-penuhnya di dalam abad kita ini: relasi antara individu dengan masyarakat. Pentingnya pertanyaan ini tidak perlu lagi ditegaskan.

Masalahnya menjadi kabur dalam beberapa hal. Saat berbicara mengenai Komunisme, banyak orang berpikir kebanyakan soal sedikit atau sama dengan cara hidup kaum monastik dan Kristen juga selalu seperti Komunisme otoriter yang dipraktekkan di paruh awal abad ini dan telah dijalankan di beberapa komunitas. Komunitas-komunitas ini mengambil keluarga inti sebagai modelnya dan membangun “keluarga besar Komunis” untuk “mengubah manusia”. Untuk tujuan ini, disamping kerja bersama, mereka menerapkan hidup tertutup bersama seperti layaknya keluarga. Mereka juga menerapkan isolasi atau pemisahan koloni mereka dari peradaban saat ini. Demikian juga dengan besarnya campur tangan menyeluruh dari semua “abang” dan “mbak” senior terhadap seluruh urusan pribadi setiap anggota.

Tambah lagi, perbedaan yang tidak banyak diperhatikan antara komunitas yang terisolasi—yang didirikan dalam berbagai kesempatan selama tiga atau empat abad ini–dibandingkan dengan sejumlah komune-komune yang berfederasi biasanya bermunculan di tengah masyarakat yang tengah menyambut revolusi sosial.

Lima aspek bahasan yang butuh dipertimbangkan masing-masing:

  1. Produksi dan konsumsi bersama,

  2. Kehidupan domestik bersama (kehidupan suami-istri: apakah perlu mengatur hal ini sesuai model keluarga saat ini?),

  3. Komunitas-komunitas terisolasi di jaman kita,

  4. Komune-komune yang berfederasi di masa depan, dan

  5. Apakah Komunisme mengurangi individualitas? Dengan kata lain, Individu dalam sebuah masyarakat Komunis.

Sebuah gerakan besar dari banyak gagasan telah berlangsung selama abad ini di bawah nama Sosialisme secara umum, mulai dari Babeuf, St. Simon, Fourier, Robert Owen dan Proudhon yang memformulasikan arus Sosialisme, dan diteruskan oleh sejumlah penerus (Prancis) Considerant, Pierre Lerous, Louis Blanc; (Jerman) Marx, Engels; (Russia) Chernychevski, Bakunin; dan lainnya, yang telah bekerja mempopulerkan gagasan dari para pendiri Sosialisme modern atau dengan memberi gagasan-gagasan ini sebuah pondasi saintifik.

Gagasan-gagasan ini, mewujud bentuknya yang makin kentara, dengan membuatkan dua arus utama: Komunisme Otoriter dan Komunisme Anarkis; juga sejumlah mazhab yang berdiri di posisi tengah, yang mencari jalan antara, seperti Kapitalisme Negara, Kolektifisme, Koperasi. Ide-ide ini di antara kelas pekerja menciptakan sebuah gerakan kaum pekerja yang dahsyat yang mana berusaha untuk mengorganisir keseluruhan massa pekerja lewat organisasi pekerja untuk melawan Kapital, dan gerakannya semakin menginternasional dengan makin seringnya saling hubungan kaum pekerja antara bangsa-bangsa yang berbeda.

Tiga poin penting berikut ini diperoleh lewat gerakan gagasan dan tindakan besar ini, dan secara luas merasuki kesadaran publik:

  1. Penghapusan sistem upahan, bentuk perbudakan kuno di jaman modern,

  2. Penghapusan properti individu atas alat-alat produksi, dan

  3. Emansipasi individu dan masyarakat dari mesin politik bernama Negara yang memelihara perbudakan ekonomi.

Ketiga poin ini disepakati oleh semua aliran bahkan oleh mereka yang mengadvokasi “labour notes”[1] atau orang seperti Brousse, yang mencita-citakan bahwa “semua mesti menjadi fungsionaris” yaitu pegawai Negara atau komune, mengakui bahwa mereka mendukung salah satu dari tiga poin proposal ini karena mereka tidak melihat kemungkinan bakal segera terwujudnya Komunisme. Mereka menerima kompromi ini sebagai sesuatu yang bijaksana, namun tujuan akhirnya tetaplah Komunisme.

Dan untuk Negara, sekalipun pendukung paling gigih akan keberadaan Negara, otoritas, bahkan sebuah kediktatoran, bakal mengakui bahwa dengan menghilangnya kelas-kelas yang ada saat ini, Negara juga bakal melenyap.

Karena itulah tanpa melebih-lebihkan penting kelompok dari gerakan Sosialis kami ini-kelompok Anarkis-meski berbagai perbedaan dari berbagai kalangan Sosialis (yang perbedaannya, kebanyakan, didasarkan pada karakter yang lebih atau kurang revolusioner dari cara bertindak dari masing-masing kalangan), kami bisa memastikan bahwa semua kalangan ini, lewat suara-suara dari para pemikirnya, mengakui perlunya evolusi menuju Komunisme Merdeka sebagai tujuan evolusi Sosialis. Semua hal lain, sebagaimana juga mereka akui, hanyalah batu pijakan menuju tujuan akhir ini.

Maka itu akan menjadi sia-sia jikalau mendiskusikan batu-batu pijakan ini tanpa memeriksa tendensi perkembangan dari masyarakat modern.

Produksi Dan Konsumsi Secara Bersama

Dari semua perbedaan ini dua hal yang patut mendapat perhatian kita. Pertama adalah semakin sulitnya menentukan sumbangan masing-masing individu di dalam produksi modern. Industri dan pertanian telah menjadi sangat rumit, tersatukan bersama-sama. Segala industri telah bergantung satu sama lain sehingga pembayaran kepada produsen dengan hasil akhir menjadi makin tidak mungkin. Saat industri semakin berkembang maju, semakin kita bakal menyaksikan bahwa pembayaran berdasar potongan digantikan dengan upah. Di lain pihak, upah menjadi makin sama besarnya bagi para buruh. Pembagian dalam masyarakat borjuis modern tentu saja tetap ada dan terdapat sebuah kelas borjuis yang semakin berpendapatan, sementara semakin berkurang kerja mereka. Kelas pekerja sendiri terbagi ke dalam empat divisi besar:

  1. perempuan,

  2. pekerja pertanian,

  3. pekerja tanpa keahllian, dan

  4. pekerja ahli.

Pembagian ini mengambarkan empat tingkat eksploitasi dan merupakan akibat dari organisasi borjuis.

Di dalam masyarakat setara, dimana semua belajar keahlian kerja dan di mana eksploitasi laki-laki atas kaum perempuan, kaum manufaktur atas kaum tani hilang, kelas-kelas ini akan lenyap. Namun, saat inipun, upah di setiap kelas telah cenderung makin sama. Hal ini memunculkan statemen semacam: “sehari kerja pekerja rel kereta api seharga sehari kerja pembuat perhiasan”, dan membuat Robert Owen menyusun “labour notes”, yang dibayarkan kepada semua yang bekerja dengan waktu yang panjang di dalam memproduksi komoditi-komoditi yang diperlukan.

Namun jika kita tengok kembali semua langkah yang telah diambil untuk sampai ke titik ini, kita temukan bahwa kecuali beberapa ribu petani di Amerika Serikat, labour notes belum menyebar sebelum akhir dari seperempat abad lalu saat Owen mencoba mengeluarkannya. Penyebab masalah ini telah didiskusikan di tempat lain (lihat bab: Sistem Pengupahan, di buku saya “The Conquest of Bread”).

Di lain pihak, kita melihat sejumlah usaha besar, sebagian untuk sosialisasi gagasan dan tindakan ke arah Komunisme. Ratusan komunitas-komunitas Komunis telah didirikan selama abad ini di hampir seluruh lokasi dan saat ini kita menyadari lebih dari seratus adanya. Kesemuanya, sekitar seratusan dari komunitas ini bersifat lebih atau kurang Komunistik. Ini adalah jalan Komunisme yang sama – walau hanya Komunisme sebagian saja. Bisa kita katakan bahwa hampir kebanyakan dari usaha sosialisasi yang kita lihat di dalam masyarakat borjuis cenderung di jalankan, baik di antara sejumlah individu ataupun hanya untuk sosialisasi perkara-perkara munisipal.[2]

Hotel, kapal uap, asrama-asrama, semuanya merupakan eksperimen ke arah ini yang dijalankan oleh kaum borjuis. Karena untuk sehari kamu bisa memilih sepuluh atau lima puluh jenis makanan yang disodorkan kepadamu di dalam hotel atau kapal uap, dan tak ada yang mengontrol berapa banyak yang kamu makan dari jumlah itu. Organisasi ini bersifat internasional dan sebelum meninggalkan Paris atau London anda bisa membeli bons (kupon seharga 10 francs setiap hari) yang memperbolehkan anda untuk menginap di ratusan hotel di Prancis, Jerman, Swiss dan lain-lain yang dimiliki oleh masyarakat internasional pengelola hotel.

Kaum borjuis sangat memahami keuntungan Komunisme secara sebagian yang digabungkan dengan kebebasan tak terbatas individu untuk mengkonsumsi dan di semua lembaga ini untuk sebuah harga per bulannya anda bisa tinggal dan dengan pengecualian membayar ekstra (minuman anggur, apartemen khusus) yang mesti dibayar secara terpisah.

Asuransi kebakaran, pencurian dan kecelakaan (khususnya di desa-desa dimana kondisi yang hampir sama memampukan untuk menuntut bayaran yang sama mahal bagi seluruh warga), penganturannya adalah toko-toko di Inggris akan memasok untuk tiap minggu segala bentuk ikan yang dikonsumsi keluarga kecil, klub, tak terhitung jumlah asuransi masyarakat untuk sakit, dan lain-lain. Lembaga-lembaga besar ini, diciptakan selama abad ke 19, sebuah pendekatan ke arah Komunisme dengan acuan soal sebagian dari konsumsi total kita.

Akhirnya, terdapat sejumlah lembaga munisipal—air, gas, listrik, tempat tinggal para pekerja, kereta api dengan biaya yang seragam, pemandian, tempat-tempat cuci baju umum, dan sebagainya–dimana sejumlah usaha serupa untuk mensosialisasi konsumsi dilakukan dalam skala yang semakin meningkat.

Kesemuannya ini tentu saja belumlah Komunisme. Masih jauh dari itu. Namun prinsip-prinsip dari lembaga ini berisikan sebuah bagian dari Komunisme: untuk sehari (dalam bentuk uang hari ini, dalam bentuk tenaga kerja esok hari) kamu dapat memuaskan diri (kemewahan diterima) keinginanmu yang ini dan yang itu.

Perampasan istilah Komunisme ini berbeda dari Komunisme yang sejati dari berbagai macam cara; dan terutama di dalam dua hal berikut; (1) pembayaran dalam bentuk uang ketimbang tenaga kerja; (2) konsumen tidak memiliki suara dari pengelolaan bisnis. Bagaimanapun, jika gagasan soal kecenderungan lembaga-lembaga ini bisa dipahami dengan baik, bahkan hari ini pun tidaklah sulit untuk memulai insiatif publik atau pribadi, sebuah komunitas yang berlandaskan prinsip-prinsip yang telah disebutkan di atas. Mari kita bayangkan sebuah area 500 hektar yang di atasnya dibangun 200 rumah, di kelilingi sebuah kebun atau perkebunan buah-buahan seperempat hektar. Para pengurus mengizinkan setiap keluarga mendiami sebuah pondokan dan memilih dari lima puluh lima makanan yang diinginkan per harinya atau akan menyediakan roti, sayuran, daging, kopi sebagaimana dibutuhkan untuk dipersiapkan di rumah. Sebagai gantinya mereka menuntut pembayaran uang per tahunnya atau sejumlah waktu kerja tertentu yang bisa diberikan, atas pilihan para konsumer, ke salah satu dari sekian departemen yang ada: pertanian, peternakan, masak-memasak, kebersihan. Ini semua bisa dipraktekkan esok hari jika dibutuhkan, dan kita bertanya-tanya mengapa belum ada institusi swasta yang mengembangkan perkebunan/hotel/ taman semacam ini.

Tanpa diragukan akan terjadi penolakan, bahwa dalam hal pengenalan kerja bersama inilah kaum Komunis umumnya telah gagal. Namun penolakan ini tidak mungkin bertahan. Penyebab kegagalan tersebut mesti dicari di dalam hal lain.

Pertama-tama, hampir semua komunitas-komunitas ini yang didirikan murni hanya lewat gelombang antusiasme relijius. Orang-orang telah diminta untuk menjadi “pionir kemanusiaan;” untuk membaktikan diri dan tunduk kepada moralitas ketat, hidup kembali dalam kehidupan Komunis, untuk memberikan waktu mereka, jam-jam kerja dan waktu santai, kepada komunitas, untuk hidup sepenuhnya untuk komunitas.

Ini tak lain berarti bertindak layaknya pertapa dan menuntut mereka (yang sebenarnya tidak perlu) menjadi manusia yang bukan dirinya sendiri. Hanyalah baru-baru ini saja komunitas-komunitas telah dirikan oleh kaum pekerja anarkis tanpa adanya suatu pretensi, sepernuhnya untuk alasan-alasan yang murni ekonomis–untuk membebaskan dirinya dari eksploitasi kapitalisme.

Kehidupan Domestik Secara Bersama

Kesalahan kedua terletak di dalam keinginan untuk mengelola komunitas menyerupai model keluarg, untuk membuatnya menjadi sebuah “kelurga besar”. Mereka tinggal di dalam rumah bersama dan dipaksa untuk terus menerus bertemu sesama “saudara lelaki dan perempuan”. Bahkan di dalam situasi normal saja sulit bagi dua kakak beradik sedarah untuk tinggal bersama dalam satu rumah dan memang kehidupan keluarga tidak selalu berjalan harmonis. Jadi adalah kesalahan mendasar untuk menerapkan pola kehidupan “keluarga besar” ketimbang sebaliknya berusaha untuk menjamin sebanyak mungkin kebebasan dan kehidupan pribadi bagi tiap individu.

Di samping itu, sebuah komunitas kecil tidak bisa bertahan lama; “saudara lelaki dan perempuan” dipaksa bertemu terus menerus, di tengah-tengah lenyapnya kesan-kesan baru yang bisa muncul, akhirnya semua berakhir dengan membenci satu sama lain. Dan jika dua orang karena bermusuhan atau sekedar tidak menyukai satu sama lain, bisa membubarkan sebuah komunitas, bertahannya kehidupan komunitas yang seperti ini justru hal yang aneh, khususnya karena semua komunitas yang telah didirikan hingga saat ini telah mengisolasi diri mereka.

Ada sebuah kesimpulan yang telah lama diketahui bahwa sebuah asosiasi dari 10, 20, atau 100 orang tidak akan bertahan lebih dari tiga atau empat tahun. Menjadi sangat disesalkan jika bertahan lebih lama, karena ini berarti hanya akan membuktikan juga bahwa kesemuanya akan berada di bawah pengaruh satu orang atau bahwa semua orang tersebut telah kehilangan individualitas mereka. Well, karena sudah pasti dalam waktu tiga empat atau lima tahun sebagian dari anggota komunitas pasti ingin pergi, di sana mesti ada paling sedikit belasan atau lebih komunitas yang berfederasi sehingga mereka, yang karena satu dan lain alasan, ingin meninggalkan komunitas bisa masuk ke komunitas yang lain. Mereka kemudian bisa digantikan oleh pendatang baru dari komunitas atau tempat lain. Jika tidak demikian, sarang lebah Komunis tersebut akan berangsur-angsur lenyap atau (yang selalu terjadi) jatuh ke tangan satu orang – yang biasanya adalah “saudara mereka yang paling lihai”.

Komunitas Terisolasi di Masa Kini dan Komune-Komune Berfederasi di Masa Mendatang

Akhirnya, semua komunitas yang telah berdiri hingga saat ini mengisolasi diri mereka dari masyarakat; namun perjuangan, suatu perjuangan hidup sepenuhnya jauh dibutuhkan oleh manusia yang aktif ketimbang meja yang telah penuh hindangan. Keinginan untuk melihat dunia, bergaul di dalam arusnya, untuk berjuang di dalam pertempurannya merupakan panggilan terpenting bagi generasi muda. Karena itulah (sebagaimana dipaparkan Chaikovski lewat pengalamannya) bahwa orang muda, umur 18 atau 20, perlu untuk meninggalkan komunitasnya, yang bukan berarti meninggalkan seluruh masyarakatnya.

Tak perlu kami tambahkan lagi bahwa pemerintah dari berbagai jenisnya telah selalu menjadi batu sandungan bagi semua komunitas. Komunitas yang kurang atau bahkan tidak pernah mengalami hal seperti ini (seperti Young Icaria) bertahan dengan baik. Ini dengan mudah dimengerti kebencian politik adalah karakter yang paling keras. Kita bisa hidup di dalam kota yang sama dengan musuh politik kita jika kita tidak harus melihat mereka setiap hari. Namun bagaimana kehidupan bisa dimungkinkan di sebuah komunitas kecil dimana kita bertemu satu sama lain hampir di setiap belokan. Perbedaan politik masuk ke dalam kelas belajar, ke dalam lantai kerja, ke dalam tempat istirahat, dan hidup menjadi tidak mungkin lagi.

Di lain pihak, sudah dibuktikan bahwa kerja bersama-sama, produksi Komunis, berhasil secara mencengangkan. Tidak ada perusahaan komersil yang memberikan tambahan nilai begitu banyak terhadap tanah dengan melalui kerja sebagaimana yang terjadi di dalam setiap komunitas yang didirikan di Amerika Serikat dan Eropa. Kesalahan kalkulasi bisa muncul dimanapun sebagaimana juga muncul di semua usaha kapitalis dan karena telah diketahui umum bahwa lima tahun pertama pendirian usaha, empat dari setiap usaha bakal menemui kebangkruta. Hal-hal seperti ini tidak muncul di dalam komunitas-komunitas Komunis. Jadi, saat media borjuis, ingin tampil cerdas, berbicara soal tawaran sebuah pulau kepada kaum anarkis untuk mendirikan komunitas mereka, bersadar dari pengalaman kami, kami siap menerima tawaran ini, khususnya jika yang ditawarkan adalah, misalnya, Pulau Prancis yaitu Paris dan setelah penaksiran jumlah kekayaan sosialnya, kami terima bagian kami. Hanya saja, karena kita mengetahui bahwa Paris atau porsi kesejahteraan sosial tidak akan diberikan untuk kita, kita mesti merampasnya satu per satu bagi diri sendiri lewat jalan revolusi sosial. Paris dan Barcelona di tahun 1871 tidak terlalu jauh dari arah ini - dan berbagai gagasan telah maju sejak saat itu.

Kemajuan mengijinkan kita untuk memandang lebih jauh terhadap persoalan ini bahwa sebuah kota terisolir, yang mendeklarasikan sebuah Komune, akan mendapat kesulitan besar untuk bertahan. Eksperimen tersebut mestilah dijalankan di daerah, salah satu Negara-negara Bagian Amerika Idaho atau Ohio–sebagaimana disarankan kaum sosialis Amerika dan mereka benar. Di dalam sebuah teritori yang cukup besar bukan di dalam batas-batas sebuah kota. Kita suatu hari mesti mempraktekkan Komunisme untuk masa depan.

Kita telah seringkali menunjukkan bahwa Komunisme Negara itu tidak mungkin berhasil, dan tidak berguna untuk terus digunakan dalam memecahkan persoalan ini. Bukti akan hal ini, lebih jauh lagi, berada dalam tingkah laku mereka yang percara terhadap Negara, para mendukung Negara Sosialis tidak serta merta percaya akan Negara Komunis. Sebagian dari mereka menyibukkan diri untuk mengambil bagian dalam Negara hari ini (Negara borjuis) dan tidak bersusah payah untuk menjelaskan bahwa gagasan-gagasan Negara Sosialis yang mereka usung berbeda dari Negara kapitalis yang di dalamnya semua akan menjadi fungsionaris Negara.

Jika kita nyatakan kepada mereka inilah tujuan mereka, mereka akan jengkel; namun mereka tidak menjelaskan sistem masyarakat lain yang seperti apa yang ingin mereka dirikan. Sejak mereka tidak percaya kemungkinan sebuah revolusi sosial di masa depan, tujuan mereka adalah menjadi bagian dari Negara borjuis hari ini dan mereka memasrahkan kepada masa depan, kemana semua ini akan berujung.

Bagi mereka yang mencoba menggambarkan kerangka dari Negara Sosialis yang akan datang, mereka akan menerima kritik kami dengan menekankan bahwa apa yang mereka inginkan hanyalah menjadi biro statistik. Namun ini hanya permainan kata-kata. Selain itu, telah dibuktikan bahwa satu-satunya nilai statistik adalah apa yang dicatat oleh tiap-tiap orang itu sendiri, memberikan umur, pekerjaan, posisi sosial, atau daftar apa yang dijual atau dibeli, diproduksi dan dikonsumsi.

Pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan biasanya adalah elaborasi sukarela (oleh ilmuwan, masyarakat statistik), dan kerja dari biro statistik hari ini yang terdiri dari mendistribusikan pertanyaan, mengatur dan secara mekanis merangkai kesimpulan dari semua jawaban. Jika kita ingin mengurangi peran Negara, pemerintah menjadi fungsi-fungsi seperti ini dan dengan mengatakan bahwa oleh “pemerintah”, hanya ini menjadi pengertian ini, berarti tidak ada yang lain (jika perkataannya benar) kecuali sebuah langkah mundur dengan hormat. Kita mesti mengakui bahwa kaum Jacobin pada tiga puluh tahun lalu telah berbalik kembali ke gagasan mereka soal kediktatoran dan sentralisasi sosialis. Tidak ada yang berani untuk mengatakan hari ini bahwa produksi atau konsumsi kentang atau beras mesti diatur oleh parlemen Negara Rakyat Jerman (Volksstaat) yang berkedudukan di Berlin. Hal menjemukan ini sudah tidak diperbicangkan lagi.

Individu DI Dalam Masyarakat Komunis

Negara Komunis adalah sebuah Utopia, gagasan yang telah dibuang bahkan oleh para pengikutnya dan saatnya untuk lebih maju. Sebenarnya, pertanyaan yang jauh lebih penting yang mesti diajukan: apakah Anarkis atau Komunisme Merdeka tidak pula berarti pengerdilan kebebasan individu?

Sesungguhnya, di dalam segala diskusi mengenai kebebasan, gagasan kita telah dikaburkan oleh pengaruh berabad-abad perbudakan dan penindasan relijius.

Para ekonom yang menjadi penjaga kontrak antara tuan dan pekerja (di bawah ancaman kelaparan) di dalam negara bebas. Kembali lagi politisi, mereka yang disebut sebagai warga negara yang telah menjadi budak dan pembayar pajak bagi Negara. Kaum moralis paling maju, seperti pemikir John Stuart Mill dan sejumlah pengikutnya, mendefinisikan kebebasan sebagai hak untuk melakukan segalanya dengan pengecualian jika hal itu menganggu kebebasan yang setara milik orang-orang lain. Di luar dari fakta bahwa kata-kata “hak” adalah kata yang diwariskan dari masa lalu, yang tidak berarti apa-apa atau malah terlalu berlebihan. Definisi Mill memampukan filsuf Spencer, sejumlah pengarang dan bahkan sejumlah Anarkis Individualis untuk mempercayai pengadilan dan penghukuman, bahkan hukuman mati-yaitu memperkenalkan kembali pada akhirnya, karena diperlukan, adanya Negara yang telah mereka kritik secara bersemangat. Gagasan kehendak bebas juga bersembunyi di balik alasan-alasan ini.

Jika kita kesampingkan segala aksi-aksi tanpa sadar dan hanya mempertimbangkan aksi-aksi terencana (tindakan-tindakan coba dipengaruhi peraturan, agama, dan sistem hukum) kita menemukan bahwa setiap tindakan seperti ini akan memunculkan sejumlah diskusi di dalam kepala manusia; sebagai contoh, “Aku mesti keluar dan jalan-jalan,” seseorang berpikir, “Tidak, aku punya janji dengan teman,” atau “Aku berjanji untuk menyelesaikan tugas-tugas” atau “Istri dan anakku akan merendahkanku jika aku tetap di rumah saja,” atau “Aku akan kehilangan pekerjaan jika tidak pergi pergi ke tempat kerja”.

Refleksi terakhir ini secara tidak langsung memunculkan ketakutan akan hukuman. Dalam ketiga contoh ini orang ini mesti menghadapi dirinya sendiri, kebiasaannya yang paling disenanginya, simpatinya. Dan disanalah terletak semua perbedaannya. Kami katakan bahwa seorang manusia dipaksa untuk berpikir bahwa ia mesti menyerah dan tidak melakukan hal ini dan itu karena takut akan mendapat hukuman bukanlah seorang manusia yang merdeka. Dan kami nyatakan bahwa kemanusiaan dapat dan harus membebaskan dirinya dari ketakutan akan hukuman. Manusia bisa mendirikan masyarakat Anarkis yang di dalamnya ketakutan akan hukuman dan bahkan keinginan tidak mau disalahkan akan lenyap. Kita akan menuju ke tujuan seperti ini. Tetapi kita tahu kita tidak dapat membebaskan diri kita dari kebiasaan yang kita senangi (menjaga pernyataan kita) tidak juga dari simpati kita (takut menimbulkan kesakitan terhadap mereka-mereka yang kita sayangi dan orang-orang yang tidak ingin kita libatkan atau kecewakan). Dalam kasus seperti ini seseorang tidak akan pernah bebas. Si Crusoe, di pulaunya, tidaklah bebas. Saat dia mulai membangun kapalnya, memanen kebunnya atau membekali diri sebelum datangnya musim dingin, dia telah ditangkap, terserap oleh kerja-kerjanya. Jika dia merasa malas dan mencoba memilih berbaring enak-enakan di guanya, awalnya dia kesal dan meski demikian dia akan pergi bekerja juga. Seketika ketika dia memiliki seekor anjing, tiga ekor kambing, dan diatas segalanya setelah bertemu Friday, dia tak lagi sepenuhnya bebas dalam makna kata-kata yang di dalam diskusi-diskusi. Dia memiliki kewajiban, dia mesti memikirkan kepentingan orang lain, dia tidak lagi seorang individualis yang sempurna sebagaimana kualitas yang sering ingin kita lihat di dalam dirinya. Momen ketika dia memiliki istri (atau suami) atau anak, mendidik diri sendiri atau mempercayakan dirinya di tangan orang lain (masyarakat), saat dia memiliki binatang peliharaan atau bahkan hanya setangkai tanaman anggrek yang selalu membutuhkan air di tiap jam tertentu - sejak saat itu dia tak lagi “tak peduli apapun,” “egois”, individualis” yang kadang dianggap sebuah tipe dari seorang manusia merdeka. Hal seperti ini tidak ada di pulau si Crusoe, tidak juga di dalam masyarakat dari jenis apapun. Manusia bakal mempertimbangkan, dan akan selalu mempertimbangkan kepentingan manusia lain secara seimbang untuk membangun relasi yang saling menguntungkan di antara mereka, dan semakin itu terbentuk, pihak yang lain akan semakin menegaskan sentimen dan keinginannya.

Maka demikian kita tidak menemukan definisi lain soal kebebasan ini ketimbang yang seperti ini: kemungkinan bertindak tanpa dipengaruhi rasa takut akan adanya hukuman oleh masyarakat (pembatasan gerak badan, ancaman kelaparan atau bahkan celaan, kecuali jika itu datang dari seorang teman).

Memahami kebebasan dalam kerangka ini - dan kami ragu apakah definisi yang lebih luas dan lebih riil bisa kita temukan - kita bisa menyebut bahwa Komunisme bisa mengurangi, bahkan menghilangkan segala kebebasan individual dan di banyak komunitas Komunis hal coba dilakukan; namun kondisi ini juga bisa memajukan kebebasan ke puncak yang paling jauh.

Semua bergantung pada ide-ide dasar yang membentuk asosiasi manusia itu. Ini bukanlah bentuk asosiasi memunculkan perbudakan; ini soal gagasan kebebasan individu yang kita bawa ke dalam asosiasi yang menentukan kurang atau lebihnya karakter libertarian dari asosiasi tersebut.

Ini berlaku ke berbagai macam asosiasi. Berasosiasinya dua orang individu di bawah satu atap boleh jadi menuntun pada perbudakan satu terhadap yang lain, namun bisa juga membawa kebebasan bagi kedua individu yang bersangkutan.

Hal yang sama berlaku terhadap keluarga atau kepada ko-operasi (kerja bersama) dua orang di dalam kebun atau menerbitkan koran. Hal yang sama juga berkenaan dengan asosiasi besar ataupun kecil, terhadap tiap lembaga sosial. Maka, dalam sepuluh, sebelas dan dua belas abad, kita akan temukan komune dengan manusia-manusianya yang merdeka - dan empat abad kemudian komune-komune yang sama mengusung kediktatoran seorang pendeta.

Hakim-hakim dan hukum akan ada; gagasan hukum Romawi, soal ke-Negaraan menjadi dominan, sementara kebebasan, menyelesaikan persengketaan lewat perantara dan penerapan federalisme ke dalam potensinya yang paling puncak telah lenyap; karena itu muncul kembali perbudakan. Well, dari segala bentuk organisasi sosial yang telah dicoba hingga hari ini, Komunisme adalah satu-satunya yang menjamin kebebasan individual paling besar - selama gagasan yang menghasilkan komunitas ini adalah Kebebasan, Anarki.

Komunisme mampu memikul segala bentuk kebebasan atau melakukan penindasan yang tidak mampu dijalankan lembaga lain. Ia bisa menghasilkan sebentuk kehidupan biara dimana semua yang ada di dalamnya mesti mematuhi perintah dari orang yang memimpin dan ia juga bisa menghasilkan sebentuk organisasi yang sepenuhnya merdeka, memberikan kemerdekaan sepenuhnya kepada individu, yang tetap ada hanya sejauh mereka-mereka yang terlibat dalam asosiasi menginginkan tetap bersama, tidak menerapkan apapun kepada siapapun, yang waspada hanya untuk membela diri, memperbesar, meluas ke segala arah kebebasan individu. Komunisme bisa saja otoriter (dalam kasus dimana komunitas dengan segera akan membusuk) atau ia bisa menjadi Anarkis. Sebaliknya, Negara, tidak bisa menjadi lebih baik. Ia selalu otoriter atau ia lenyap sebagai Negara.

Komunisme menjamin kebebasan ekonomi lebih baik ketimbang segala bentuk asosiasi lain, karena ia menjamin kesejahteraan, bahkan kemewahan, dengan ganti beberapa jam kerja ketimbang seharian penuh bekerja. Sekarang, untuk memberikan sepuluh atau sebelas jam kenyamanan sehari dari enam belas jam kerja dimana kita menjalani kehidupan yang sadar (tidur delapan jam) berarti memperbesar kebebasan individual ke titik yang menjadi salah satu dari gagasan utama manusia selama ribuan tahun.

Hal ini bisa dilakukan hari ini, di dalam sebuah masyarakat Komunis, dimana manusia dapat menghabiskan sepuluh jam waktu santai. Ini berarti emansipasi dari salah satu beban terberat perbudakan terhadap manusia. Ia adalah peningkatan kebebasan itu sendiri.

Untuk mengakui bahwa seluruh manusia setara dan menolak pemerintahan manusia atas manusia lain adalah peningkatan kebebasan individual hingga ke tahap tiada bentuk asosiasi yang pernah mencapainya bahkan dapat mimpi sekalipun. Hal ini menjadi mungkin hanya setelah satu tahap pertama dilakukan: saat manusia dijamin memiliki alat-alat kehidupan dan tidak dipaksa menjual otot dan otaknya kepada mereka-mereka yang merendahkan untuk memanfaatkannya.

Terakhir, mengakui segala ragam pekerjaan sebagai dasar segala kemajuan dan mengorganir dalam sebuah bentuk yang manusia menjadi sepenuhnya bebas selama waktu santainya, sementara dia menselang-seling kerjanya, perubahan yang telah dipersiapkan baginya oleh pendidikan dini dan pengajarannya—ini dengan mudah dapat dipraktekkan di dalam sebuah masyarakat Komunis–sekali lagi, hal ini berarti emansipasi individual, yang menemukan pintu-pintu di segala penjuru bagi perkembangan dirinya sepenuhnya.

Untuk selanjutnya, segalanya bergantung pada gagasan dimana komunitas itu dibangun. Kita tahu sebuah komunitas keagamaan dimana para anggotanya merasa tidak nyaman, dan menunjukkan tanda-tanda tersebut dimuka mereka, yang tadinya dipanggil dengan sebutan “saudara”: “Kamu sedih”. “Meski demikian kenakanlah wajah yang gembira, jika tidak kamu akan melibatkan saudaramu laki-laki dan perempuan”. Dan kita tahu komunitas dari tujuh anggota, yang salah satu dari antaranya memindahkan nominasi dari empat komite: berkebun, alat-alat dan sarana, membersihkan rumah, dan pengeksporan yang merupakan hak sepenuhnya dari ketua masing-masing komite. Tentu terdapat komunitas-komunitas yang didirikan atau diambilalih oleh “otoritas kriminal” (sebuah tipe khusus yang perlu diperhatikan oleh Tuan Lombrose) dan cukup banyak komunitas didirikan oleh penghayat keyakinan bahwa kebebasan individual mesti dihisap oleh masyarakat. Namun orang-orang ini bukanlah produk Komunisme, namun Kekristenan (yang pada intinya sungguh-sungguh otoriter) dan hukum Romawi, Negara.

Gagasan mendasar orang-orang ini adalah masyarakat tidak bisa eksis tanpa polisi dan para hakim, gagasan tentang Negara, adalah bahaya permanen terhadap segala kebebasan dan bukanlah gagasan mendasar Komunisme - yang berdasar pada konsumsi dan produksi tanpa menghitung sumbangan setiap orang secara cermat. Sebaliknya gagasan ini, adalah ide soal kebebasan, emansipasi hingga kita saat ini tiba pada kesimpulan berikut:

Usaha-usaha menuju Komunisme selama ini telah gagal sebab:

  1. Mereka mendasarkan diri pada dorong berkarakter keagamaan ketimbang menganggap sebuah komunitas adalah soal ekonomi konsumsi dan ekonomi produksi,

  2. Mereka mengisolasi diri dari masyarakat,

  3. Mereka diilhami semangat otoritarian,

  4. Mereka terisolasi ketimbang berfederasi,

  5. Mereka menuntut kerja sangat banyak dari anggota sehingga menghilangkan waktu bersantai dan

  6. Mereka bermodelkan sebentuk keluarga patriarkis ketimbang mengambil tujuan untuk pembebasan individual sepenuhnya.

Komunisme meski secara nyata merupakan lembaga ekonomi, sama sekali tidak mengurangi besarnya kebebasan yang dijamin bagi individu, kaum inisiator, para pemberontakan melawan kebiasaan yang menjadi kaku. Ia bisa menjadi otoriter, yang mau tak mau akan menuntun pada kematian komunitas tersebut, dan ia bisa jadi libertarian, yang di abad kedua puluh sekalipun di bawah sebagian komunisme dari kota-kota muda di jaman itu menuntun kepada penciptaan peradaban baru yang penuh semangat, sebuah musim semi baru Eropa.

Betapapun, satu-satunya bentuk Komunisme yang bisa bertahan, dengan menyaksikan bagaimana ia mengeratkan kesatuan antara para pengusungnya, yaitu yang dengan segala usaha memperluas kebebasan individual ke segala arah.

Di dalam kondisi semacam ini, di bawah pengaruh gagasan ini, kebebasan individu, yang meningkat oleh besarnya kenyamanan yang dijaminkan untuknya, tidak akan bisa lagi dirintangi lewat satu atau lain cara sebagaimana yang muncul hari ini lewat fasilitas gas kecamatan, penjualan dari rumah ke rumah makanan oleh toko-toko besar, hotel-hotel modern, atau lewat fakta bahwa selama jam kerja, kita bekerja berdampingan dengan ribuan kawan-kawan pekerja kita. Dengan anarki sebagai tujuan dan sebagai cara, Komunisme menjadi mungkin. Tanpa anarki, ia tentunya akan menjadi perbudakan dan tidak mungkin ada.

[1] Semacam kupon perfoma kerja buruh di dalam pabrik, yang digagas Robert Owen, yang bisa ditukar dengan barangbarang (sebagai alat tukar). -Penerjemah

[2] Munisipal, setingkat distrik, kecamatan. Artinya perkara-perkara yang berkaitan dengan urusan ketertiban lingkungan, kerja bakti dan sebagainya. -Penerjemah


Diterjemahkan oleh Yerry Niko dan diterbitkan oleh Penerbit Daun Malam sebagai buku kumpulan tulisan: Mengapa Eksperimen Skala Kecil Selalu Gagal (2017). Diunggah ke SEA-AL oleh Matsutake (Archipelago Anarchist Archive).