Peter Kropotkin (1842-1921) merupakan salah seorang teoritisi anarkis terhebat di zamannya. Meski dia mengagumi praktek-praktek demokrasi langsung dan non-otoritarian di dalam komune petani desa tradisional, dia tidak pernah menjadi penyokong eksperimen kecil dan terisolasi. Banyak orang, setelah membaca karya-karyanya, terinspirasi untuk mendirikan komunitas-komunitas semacam ini, baik di masa Kropotkin sendiri demikian juga masa kaum hippies di tahun 1960an (sebuah periode dimana karya-karya utama Kropotkin dipublikasi ulang dan berpengaruh). Kropotkin tak menganggap usaha-usaha semacam ini akan sukses atau berguna untuk mencapai tujuan-tujuan revolusioner yang lebih luas. Kawan karibnya, teoritisi anarkis Elisee Reclus, yang pernah hidup di dalam eksperimen semacam ini di Amerika Latin semasa kecil, bahkan sangat membenci eksperimen-eksperimen komunal skala kecil ini. Sangat menyedihkan jika sejumlah pendiri dari banyak komune-komune hippies di tahun 1960an (hampir semua dengan lenyap dengan cepat) tidak membaca Kropotkin dengan seksama. Sayangnya, mereka membuat kesalahan yang sama dengan banyak kaum anarkis, komunis, dan sosialis satu abad sebelum mereka. Dalam terbitan-terbitan anarkis saat ini, seseorang masih akan menemukan iklan yang mengajak orang-orang untuk membangun koloni anarkis kecil dan terisolasi. Demikian juga banyak dari komentator terhadap karya Kropotkin masih sering salah mengartikannya sebagai seseorang yang memiliki visi akan sebuah masyarakat yang tidak berfederasi dan hidup di pemukiman-pemukiman pedesaan yang independen serta mengadvokasi eksperimen komunal kecil sebagai cara untuk mencapai sebuah masyarakat anarkis. Pidato berikut ini dan dua dari surat “terbuka” yang belum pernah dipublikasi selama satu abad, dengan jelas menunjukkan, bahwa meski tidak secara emosional menolak usaha-usaha semacam ini, dia sangat skeptis soal kemungkinan kesuksesan dan secara umum meyakini bahwa usaha ini akan menyedot habis energi gerakan anarkis. Meski dia memberi peringatan ini, artikel-artikel ini juga berisikan saran praktis dan berguna bagi mereka-mereka yang tetap berupaya untuk mendirikan komune kecil eksperimental di alam bebas atau mungkin mereka yang tergoda di waktu mendatang untuk mengkoloni ruang angkasa.
Graham Purchase
Di masa ini ketika kolonisasi dengan serius didiskusikan di Inggris, dan bahkan telah dicoba dipraktikkan, sebagai jalan keluar terhadap kota-kota kita yang padat, surat berikut akan sangat menarik bagi pembaca kami. Seorang kawan dari daerah Negara bagian New South Wales, Australia menulis kepada Kropotkin untuk meminta saran dan nasihat. Dia menulis:
Sebagaimana mungkin telah kalian sadari, gerakan buruh di Australia telah sangat maju selama empat atau lima tahun ini. Alasannya, saya yakin, terletak pada meningkatnya agitasi di dalam pikiran rakyat melalui pemogokan buruh umum di sini dan juga di Inggris dan Amerika. Partai Buruh di sini Oa kerugian yang sangat besar akibat tiga pemogokan terakhir. Namun pemogokan-pemogokan ini penting sebagai faktor untuk mendidik pemikiran orang. Hal itu janganlah diabaikan-—yakni hasil langsung dari kekalahan Pemogokan Maritim adalah pembentukan Labor Electoral Leagues di seluruh New South Wales, dan mengirim 34 anggota Partai Buruh menjadi anggota parlemen. Hasil dari Pemogokan Shearer tahun lalu di Queensland adalah dimulainya sebuah gerakan Australia Baru, yang akan saya segera bahas dalam surat ini.
Gerakan Australia Baru adalah tawaran bagi semua laki-laki dan perempuan cerdas untuk pergi dari Australia dan menuju suatu tempat di Amerika Selatan. Di sana mereka akan mendirikan Pemukiman Bersama/Koperasi yang berlandaskan prinsip-prinsip Sosialis. Gagasan gerakan ini berasal dari Mr. Lane, editor koran buruh sosialistik terbaik di Queensland. Tiga agen dari Association hadir di Argentina (Amerika Selatan), mengajukan lokasi itu sebagai tempat terbaik untuk pemukiman dan mereka telah menemukan sebidang tanah di tepi sungai Niger. Di Australia, kami memiliki lima hingga enam agen, Mr. Lane termasuk salah satunya, yang mengorganisir kelompok-kelompok di berbagai daerah yang berbeda di dalam negeri. Hasilnya jauh lebih baik dari yang pernah kami bayangkan. Kami telah mengumpulkan sekitar lima hingga enam ratus anggota, dan kelompok pertama para pemukim akan berlayar ke Argentina kira-kira bulan Januari.
Memang terlihat agak aneh bahwa sementara ribuan manusia berimigrasi tiap tahun dari berbagai belahan dunia—yang disebut Surga kaum pekerja–mereka menemukan di Australia ada orang-orang yang sudi meninggalkan negeri yang telah mereka bangun menjadi sebuah nasion dan pergi ke sebuah negeri asing, yang mungkin tidak akan lebih baik dari pada Australia. Namun ini bukanlah perkara “Dimana saja asal bukan di sini”. Ada lebih dari satu alasan mengapa akan lebih baik jika mendirikan pemukiman di Argentina namun akan kusebutkan satu alasan: oposisi Kapitalistik akan sangat kuat di Australia sini. Kapital yang diorganisir di sini jadi lebih kuat lagi dari sebelumnya; ia mengusai Pemerintahan. Sekali lagi motto kaum Sosialis adalah “seluruh dunia adalah negeriku”, dan kita akan bersikap seperti itu. Kita tidak membedakan manusia berdasarkan asal negeri dan atau berdasarkan agamanya. Semua manusia diterima–selama mereka secara fisik dan moral sehat dan tidak takut untuk bekerja atau berpikir.
Terhadap surat ini Kropotkin menjawab:
Fakta bahwa laki-laki dan perempuan, yang telah menciptakan Australia menjadi seperti sekarang ini, terpaksa mesti pindah, itu sendiri telah berbicara banyak. “Garap tanahnya, menjadi kotoran yang membuatnya produktif, membangun pusat peradaban yang membuatnya bernilai– dan pergi!”. Itu adalah gambaran mengenai gaya pengelolaan kapitalisme modern. Hal yang sama di sini, di kutub yang berbeda–selalu sama! Setiap kali aku melihat laki-laki dan perempuan yang berenergi dan berinisiatif, memulai membentuk sesuatu yang mirip koloni, aku merasa sedih. Kalian tahu bagaimana Rusia kehilangan elemen-elemen manusianya yang terbaik. Mereka-mereka yang memiliki kapasitas untuk merasa tak puas dan memberontak terhadap kondisi yang buruk, karena ia punya Siberia di dekatnya, dimana para pencinta kemerdekaan bisa pergi dan melarikan diri dari segala kutukan Negara–paksaan wajib militer, birokrasi, fungsionaris, dan depotisme.
Apa yang bakal menimpa gerakan revolusioner Eropa jika kebanyakan laki-laki dan perempuan yang kuat secara individual— kebanyakan dari mereka siap setiap saat untuk memberontak–pergi tinggal ke daerah yang jauh, mencoba peruntungan mendirikan koloni disitu? Apakah tidak cukup kerja di setiap daerah bagi setiap orang yang ingin bekerja untuk perubahan dari kondisi kejam zaman ini? Apakah tak cukup ada kesempatan untuk melaksanakan jiwa solidaritas yang bisa mengilhami kaum Komunis? Apakah di sini kita tak ingin, bahwa semangat Komunis diterapkan dalam praktek dan memencarkan radiasi dari kelompok-kelompok kecil, di setiap kota kecil dan besar, betapapun terbatas ukurannya, sehingga merembes ke seluruh masyarakat?
Semakin lama kita semua hidup, semakin kita melihat bahwa solidaritas komunis yang paling terbatas sekalipun, yang dipraktekkan di antara semua revolusioner, dan khususnya kelompok-kelompok Anarkis lebih membangun kekuatan ketimbang jika dipraktekkan mesti dengan kekuatan penuh, di suatu tempat di ujung perbatasan dunia beradab! Ingat perubahan di seluruh masyarakat Rusia yang dilakukan oleh kaum Nihilisme. Dibanding prilaku, kebiasaan hidup di masa sebagaimana digambarkan dalam “On the Eve” oleh si sastrawan Turgenev serta prilaku dan kebiasaan saat ini. Belum lagi bahwa selain propaganda lewat tindakan (propaganda by the deed), yang dijalankan sedikit atau banyak, oleh semua orang yang menantang bentuk-bentuk kebiasaan lama. Hal ini telah terjadi beriringan dengan propaganda prinsip-prinsip sosialis secara umum, agitasi Sosialis, dan pencerahan Sosialistik terhadap massa; dan inilah yang menyiapkan jalan bagi Komunisme dengan skala besar di kota-kota dunia beradab sendiri.
Di samping itu, saat saya ingat sejumlah daerah koloni, yang telah mulai digarap sejak 50 tahun lalu, dan jumlah laki-laki dan perempuan, sebagian saya kenal secara pribadi, dan yang dengan energi gigih dan ketekunan yang saya kagumi, dan melihat kegagalan mereka dicatatkan, saya tak bisa tidak akan berpendapat ada sejumlah hal yang telah “melawan” koloni semacam ini. Penyebabnya yang saya bayangkan ada dua hal dan saya merekomendasikan hal ini untuk kalian diamati secara serius: Pertama koloni tersebut tidaklah cukup banyak secara jumlah orang. Jika kalian terdiri dari keluarga kecil, yang diikat lewat kesamaan pendidikan dan ribuan dengan ikatan kekeluargaan, kalian bisa berhasil. Jika kalian lebih dari itu, kalian harus menang jumlah: 2000 jiwa akan berhasil ketimbang 200, dalam hal keragaman terdapat keragaman karakter, bakat, dan kesukaan. Individu dan pribadi masing-masing individu dengan mudah lenyap dalam sebuah kelompok 2000 orang ketimbang sebuah kelompok 200 atau 20 orang. Akan sangat sulit membuat 50 atau 100 orang terus menerus bersepakat. Bagi 2000 atau 10,000 orang usaha ini tidak dibutuhkan. Mereka hanya butuh untuk sepakat pada metode-metode menguntungkan dari kerja umum dan sebaliknya mereka bebas untuk hidup dengan cara mereka sendiri.
Kesulitan Kedua adalah: kaum tani tak bisa dipungkiri berhasil mendirikan koloni-koloni semacam ini Di negeri asal mereka (sebelum berimigrasi–red), kondisinya sangat buruk sehingga, setelah 2 atau 3 tahun bekerja keras, mereka merasa jauh lebih baik dari keadaan dulu. Koloni-koloni mereka hanya terpecah kala mereka (lewat sejumlah kondisi khusus) jatuh dari kondisi buruk ke jauh lebih buruk.
Namun kebanyakan komune Komunistik yang saat ini ada terdiri dari orang-orang yang berada di dalam kondisi material yang lebih buruk ketimbang keadaan mereka sebelumnya. Betapapun buruknya kondisi sekarang, kaum pekerja di negeri-negeri beradab, JIKA IA DIIZINKAN OLEH PENGHISAP UNTUK BEKERJA, dan jika dia seorang pekerja rata-rata, memiliki kondisi hidup tertentu, yang di dalam kebanyakan kasus tidak akan ia temui di dalam koloni, dimana 5, 10 tahun sering kali lebih, dia mesti berjuang melawan kesulitankesulitan yang menghancurkan.
Di dalam koloni, dia bekerja keras, dan tak memiliki sejumlah keleluasaan yang diberikan peradaban, dan yang kita kebanyakan juga menyukainya dan dia tak memiliki kemungkinan untuk memilikinya. Dia juga merasa kebebasan pribadinya jauh berkurang dalam bertindak—hal ini selalu terjadi di dalam komunitas kecil–dan dia kehilangan stimulus lebih, sebagaimana yang dirasakan di negeri asalnya–sekalipun perjuangan di arena yang lebih besar yang digemari mahluk-mahluk alami yang aktif.
Itulah mengapa, aku telah memikirkannya cukup lama, jika aku menjadi salah satu orang yang memulai koloni-koloni ini, aku takkan pernah pergi ke daerah yang terlalu liar. Sebuah koloni Komunis? Well, lokasi yang paling cocok untuk hal itu mestinya tak jauh dari London atau di dekat Paris! Dan jika ia dimulai dengan, atau hanya dengan sesedikit, modal atau tanah, aku yakinkan bahwa penderitaan yang seseorang mesti bebankan pada dirinya sendiri untuk membuat sebuah koloni berkembang di luar kota London akan jauh lebih kurang ketimbang penderitaan yang mesti seseorang alami untuk mengembangkan sebuah koloni di Argentina.
Saya telah membaca dengan seksama mengenai langkah-langkah awal koloni-koloni di Amerika baik yang tercatat maupun lewat surat-surat pribadi; Saya melihat sendiri kaum kolonis di padang subur di tengah Amur, Siberia, sehingga saya cukup tahu mengenai penderitaan ini, dan saya benar-benar yakin bahwa jika 20 dari 200 orang yang telah mengalami penderitaan dalam memulai sebuah pertanian Komunis di dekat London–mereka sekarang pastilah telah makmur. Tentu saja, hal yang utama di dalam kasus semacam ini bukanlah menjalankan pola pertanian dengan cara-cara yang dipraktekkan manusia 2000 tahun yang lalu, namun pertanian yang dibutuhkan saat ini, yakni berkebun dan budidaya intensif, digabungkan dengan kerajinan tangan.
Ketika saya melihat di Harrow (NE di pinggiran kota London) apa yang telah didapat dari kerja keras di tanah lempung yang menjengkelkan yang masih nampak seperti bermain-main jika dibandingkan dengan kerja keras yang mesti dihadapi di sebuah koloni negeri-negeri yang belum tertundukkan–saya selalu berpikir jikalau saya dilahirkan sebagai “kolonis” saya akan mencoba mengkoloni di daerah ini, bukan di Amerika Selatan.
Alasannya, perkebunan intensif untuk menanam segala jenis sayur mayur (dan mungkin mencoba budidaya intensif gandum)–dipandu oleh pengalaman dari ahli perkebunan dan disesuaikan dengan nasehat-nasehat yang diperoleh secara terus menerus dari para tetangga; dari itu saja kita sudah bisa memperoleh hampir seluruh makanan untuk anggota koloni, dan membayar uang sewa lahan. Demikian juga kepedulian akan meningkat secara berangsur-angsur. Bahkan jika setengah dari anggota koloni dewasa terpaksa bekerja penuh selama setahun di dalam sebuah pabrik (atau, masih lebih baik setengah tahun saja), untuk memperoleh uang; sementara setengah tahun lagi memperoleh penghasilan dari mengolah tanah, lewat budidaya intensif, yang semua ini diperlukan untuk hidup. Dan koloni semacam ini, yang hidup dekat dengan kota besar akan memiliki keuntungan dengan tidak memutus hubungan dari peradaban. Ia masih akan menjadi bagian darinya, dan menikmati sejumlah kenikmatan yang dimilikinya, yang sangat menarik bagi seseorang yang memiliki cita rasa untuk terus belajar atau memiliki rasa seni. Kelas-kelas perkuliahan, musik yang berkualitas, perpustakaan yang layak, masih terjangkau oleh kaum koloni. Belum lagi mereka masih akan terkoneksi dengan kaum Komunis yang menjalankan kerja-kerja propaganda dan agitasi di tengah-tengah dunia lama; mereka mungkin akan bergabung kapanpun saat menginginkannya.
Saya yakin bahwa jika sebuah koloni Komunis dapat hidup bersama di dalam masyarakat kita saat ini, ia hanya bisa hidup di pinggiran kota besar. Namun, bahkan dalam keadaan terbaiknya, ia hanya akan menjadi tempat pengungsian bagi mereka yang sudah meninggalkan medan pertempuran, yang mesti diperjuangkan–berhadap hadapan dengan musuh. Aku tak mesti menyatakan pada kalian bahwa jika koloni ingin sukses, ia mestinya tidak memiliki direktur, tidak ada pengawas, tak ada kotak suara, tak ada pemilihan suara atau voting dalam bentuk apapun. Ini semua, dan intrik-intrik yang muncul, selalu menjadi batu sandungan bagi koloni-koloni. Apakah para pemukim baru ini kurang pandai, kurang cakap ketimbang sebuah desa atau Mir di Rusia yang pergi untuk menetap di Siberia? Buruh tani Rusia hidup tanpa otoritas, menyepakati dalam pertemuan-pertemuan mereka soal kerja sehari-hari, dan cukup pandai sehingga tidak memiliki otoritas atau kotak suara, dan mencapai kebulatan kata sepakat. Apakah orang-orang Australia jauh lebih inferior ketimbang mereka sehingga mereka mesti memiliki penguasa?