#title Tuhan adalah Kejahatan, Manusia itu Bebas
#author Pierre Joseph Proudhon
#LISTtitle G
#date 2025
#source [[https://archive.org/details/pierre-joseph-proudhon-god-is-evil-man-is-free_20250515]]
#lang id
#pubdate 2026-10-14T19:04:59
#authors Pierre Joseph Proudhon; Shawn P. Wilbur; Chifau
#topics Archipelago Anarchist Archive; Agama
#language Bahasa Indonesia
#publication Distribusi Bacaan
#notes Diterjemahkan oleh Chifau dan diterbitkan oleh Distribusi Bacaan pada tahun 2025. Diunggah ke SEA-AL oleh Ali Moris Najam (Archipelago Anarchist Archive).
*** Pengantar Penerjemah
*—Chifau*
Karya yang Anda pegang ini adalah terjemahan dari salah satu teks paling menggugah dalam sejarah pemikiran modern: sebuah pernyataan frontal terhadap ketuhanan, penyelenggaraan ilahi, dan struktur sosial yang menopang kekuasaan atas nama Tuhan. Ditulis oleh Pierre-Joseph Proudhon—tokoh penting dalam tradisi anarkisme dan sosialisme abad ke-19—teks ini bukan sekadar polemik melawan agama, tetapi juga penggalian mendalam terhadap pertentangan antara kebebasan manusia dan klaim absolut dari institusi religius.
Melalui babak panjang refleksi filosofis, Proudhon mempertanyakan tidak hanya keberadaan Tuhan sebagaimana—dibayangkan oleh agama-agama dominan, tetapi juga efek sosial dari kepercayaan itu. Ia menelusuri bagaimana ide tentang Tuhan—sebagai kekuatan transenden, pemilik kebenaran mutlak, dan pengatur takdir—telah digunakan untuk membenarkan kekuasaan, menindas pemikiran bebas, dan memperkuat status guo. Dalam gaya yang penuh intensitas, ia menyatakan bahwa “Tuhan adalah kejahatan” bukan dalam pengertian metafisika belaka, melainkan sebagai simbol dari semua bentuk otoritas yang meniadakan kebebasan manusia.
Namun, yang membuat tulisan ini lebih dari sekadar pamflet anti-agama adalah kedalaman analisisnya. Proudhon tidak berhenti pada kritik, melainkan menawarkan pembacaan alternatif tentang hubungan antara manusia dan dunia. Ia membangun sebuah filsafat dualistik: Tuhan sebagai nalar kekal dan manusia sebagai nalar progresif, dua kekuatan yang harus saling menyempurnakan—bukan mendominasi satu sama lain. Dari titik inilah ia memperkenalkan konsep Penyelenggaraan bukan sebagai campur tangan supranatural, tetapi sebagai harmoni antara hukum alam dan kebebasan manusia.
Kritiknya terhadap Tuhan adalah kritik terhadap tatanan sosial yang meyakini bahwa penderitaan manusia adalah bagian dari rencana agung yang tak bisa dipertanyakan. Proudhon menolak gagasan itu dengan tegas. Ia melihat bahwa umat manusia, dalam perjalanannya menuju pengetahuan dan kebebasan, justru berkonflik dengan gagasan ketuhanan yang menuntut ketundukan mutlak. Maka, dalam pandangannya, tugas manusia yang tercerahkan adalah membebaskan diri dari bayang-bayang Tuhan agar dapat benar-benar menjadi subjek dalam sejarahnya sendiri.
Sebagai penerjemah, saya menyadari betapa berisikonya teks ini dibaca secara harfiah tanpa memahami konteks historis dan sosiologisnya. Oleh karena itu, saya menganjurkan pembaca untuk mendekatinya bukan sebagai dogma baru, melainkan sebagai ajakan untuk berpikir ulang tentang relasi antara iman, kuasa, dan kebebasan. Proudhon bukan hanya menyerang Tuhan, ia menyerang cara berpikir yang menjadikan manusia pasif, tunduk, dan tak berdaya.
*** Pendahuluan
*—Shawn P. Wilbur*
Proudhon gemar menciptakan skandal dan provokasi—dan kebiasaannya itu sering menyeret dirinya, serta teman-temannya, ke dalam masalah. Dalam System of Economic Contradictions, ia membungkus tesis provokatifnya tentang evolusi institusi dalam narasi yang lebih mencolok tentang “hipotesis Tuhan.” Proudhon sangat terpesona dengan Kekristenan dan menulis tentangnya dari berbagai sudut pandang dan dalam berbagai nada, tetapi ia mungkin paling dikenal lewat tulisan-tulisan seperti “Hymn to Satan” dan bab terakhir dari jilid pertama Economic Contradictions, di mana ia mencapai semacam pernyataan perang terhadap gagasan tentang Tuhan itu sendiri:
“Jika Tuhan tidak ada”—begitulah kata Voltaire, musuh agama-agama,—“maka kita harus menciptakan-Nya.” Kenapa? “Karena,” lanjut Voltaire, “jika aku berhadapan dengan seorang pangeran ateis yang berkepentingan untuk menghaluskanku dalam lumpang, aku sangat yakin aku akan dihancurkan.” Penyimpangan aneh dari seorang pemikir besar! Dan jika engkau berhadapan dengan pangeran yang saleh, yang pengaku dosanya—atas nama Tuhan—memerintahkanmu dibakar hidup-hidup, apakah engkau tidak juga yakin akan dibakar? Apakah engkau lupa akan anti-Kristus, Inkuisisi, pembantaian Santo Bartolomeus, tiang bakar bagi Vanini dan Bruno, penyiksaan terhadap Galileo, dan penderitaan para pemikir bebas lainnya? Jangan mencoba membedakan antara penggunaan dan penyalahgunaan: sebab aku akan menjawab bahwa dari prinsip mistis dan supranatural, dari prinsip yang meliputi segalanya, yang menjelaskan segalanya, yang membenarkan segalanya, seperti halnya gagasan tentang Tuhan, maka semua konsekuensi menjadi sah, dan hanya semangat dari si pemercaya yang menjadi hakim atas kelayakannya.
“Dulu aku percaya,” kata Rousseau, “bahwa seseorang bisa menjadi orang jujur tanpa Tuhan, tapi aku telah sadar dari kesalahan itu.” Secara mendasar, ini argumen yang sama seperti Voltaire, justifikasi yang sama terhadap intoleransi: Manusia hanya berbuat baik dan menjauhi kejahatan karena adanya pengawasan dari suatu Penyelenggaraan, celakalah mereka yang menyangkal keberadaan itu! Dan, sebagai puncaknya, orang yang mencari dasar moral bagi kebajikan manusia lewat ganjaran dan hukuman dari Ketuhanan itu adalah orang yang sama yang mengajarkan tentang kebaikan bawaan manusia sebagai dogma agama.
Dan aku katakan: Tugas pertama manusia, saat ia menjadi cerdas dan bebas, adalah mengusir gagasan tentang Tuhan dari pikiran dan nuraninya. Karena Tuhan, jika Ia ada, secara hakiki adalah musuh bagi kodrat kita, dan kita sama sekali tidak bergantung pada otoritas-Nya. Kita meraih pengetahuan meski bertentangan dengan-Nya, meraih kenyamanan meski bertentangan dengan-Nya, membangun masyarakat meski bertentangan dengan-Nya, setiap langkah yang kita ambil ke depan adalah kemenangan yang menghancurkan Ketuhanan.
Jangan lagi dikatakan bahwa jalan Tuhan tidak terselami. Kita telah menyelami jalan itu, dan di sana kita membaca dengan tinta darah bukti-bukti tentang ketakberdayaan Tuhan, jika bukan niat jahat-Nya. Akalku, yang lama direndahkan, perlahan-lahan bangkit hingga sejajar dengan yang tak terbatas, seiring waktu, ia akan menemukan semua yang tersembunyi oleh ketidaktahuannya: seiring waktu, aku akan semakin menjauh dari pembawa kesengsaraan, dan lewat cahaya yang kupelajari, lewat kesempurnaan dari kebebasanku, aku akan menyucikan diriku, mengidealkan keberadaanku, dan menjadi pemimpin ciptaan, setara dengan Tuhan. Satu momen saja dari kekacauan — yang semestinya bisa dicegah oleh Yang Mahakuasa namun tidak dicegah — mencoreng Penyelenggaraan-Nya dan menunjukkan bahwa Ia tidak bijaksana, bahkan kemajuan sekecil apa pun yang dicapai manusia — dalam ketidaktahuan, keterabaian, dan pengkhianatan — demi kebaikan, memuliakan manusia jauh lebih tinggi. Dengan hak apa Tuhan masih bisa berkata padaku: Jadilah suci, karena Aku suci? Roh pembohong, akan kujawab: Tuhan yang dungu, kekuasaanmu telah berakhir, carilah korban lain di antara binatang. Aku tahu bahwa aku bukan suci dan takkan pernah menjadi suci, dan bagaimana mungkin Engkau suci, jika aku menyerupai-Mu? Bapa yang kekal, Jupiter atau Jehova, kami telah mengenalMu, Engkau adalah, Engkau pernah, dan Engkau akan selalu menjadi, saingan cemburu Adam, tiran Prometheus.
Jadi aku tidak jatuh dalam kekeliruan yang dibantah oleh Santo Paulus, saat ia melarang bejana untuk bertanya kepada pembuatnya: Mengapa engkau menciptakanku seperti ini? Aku tidak menyalahkan sang pencipta karena menjadikanku makhluk yang tidak selaras, kumpulan yang tak koheren, aku hanya bisa ada dalam kondisi semacam itu. Aku cukup dengan berseru padanya: Mengapa Engkau menipuku? Mengapa, lewat diam-Mu, Engkau melepaskan egoisme dalam diriku? Mengapa Engkau menyiksaku dengan keraguan universal lewat ilusi pahit dari ide-ide yang saling bertentangan yang Engkau tanamkan dalam pikiranku? Keraguan terhadap kebenaran, keraguan terhadap keadilan, keraguan terhadap nurani dan kebebasanku, keraguan terhadap-Mu, ya Tuhan! Dan sebagai akibat dari keraguan itu, keharusan untuk berperang melawan diriku sendiri dan sesamaku! Itulah, Bapa Tertinggi, yang Engkau perbuat demi kebahagiaan kami dan demi kemuliaan-Mu, itulah, sejak awal, kehendak dan pemerintahan-Mu, itulah roti, yang diaduk dengan darah dan air mata, yang Engkau suapkan kepada kami. Dosa-dosa yang kami mohon untuk Engkau ampuni, Engkaulah yang membuat kami lakukan: perangkap yang kami mohon untuk kami lepaskan, Engkaulah yang memasangnya, dan setan yang menggoda kami — ialah Engkau sendiri.
Engkau menang, dan tak ada yang berani membantah, saat setelah menyiksa tubuh dan jiwa dari sang saleh Ayub — sosok yang menjadi lambang kemanusiaan — Engkau menghina kesalehan polosnya, ketidaktahuannya yang bijak dan penuh hormat. Kami tak berarti di hadapan kemegahan-Mu yang tak terlihat, kepada siapa kami berikan langit sebagai kanopi dan bumi sebagai alas kaki. Dan sekarang Engkau telah terguling dan hancur. Nama-Mu, yang selama ini menjadi kata akhir para sarjana, legitimasi para hakim, kekuatan bagi pangeran, harapan bagi kaum papa, tempat kembali bagi para pendosa yang bertobat — nama yang tak terucapkan ini, kini menjadi objek hinaan dan kutukan, akan menjadi ejekan di antara manusia. Karena Tuhan adalah kebodohan dan kepengecutan, Tuhan adalah kemunafikan dan kebohongan, Tuhan adalah tirani dan penderitaan, Tuhan adalah kejahatan. Selama manusia masih berlutut di hadapan altar, selama itu pula ia akan menjadi budak para raja dan imam, selama satu manusia, atas nama Tuhan, masih menerima sumpah dari manusia lain, maka masyarakat akan dibangun di atas dasar kemunafikan: damai dan cinta akan terusir dari dunia manusia. Tuhan, enyahlah! Karena mulai hari ini, setelah sembuh dari rasa takut kepada-Mu dan menjadi bijak, aku bersumpah — dengan tangan terangkat ke langit — bahwa Engkau hanyalah penyiksa akalku, bayangan kelam dari nuraniku.
Wajar saja jika semua ini membuat banyak orang naik darah. Dan bukan cuma Proudhon yang merasakan panasnya reaksi publik. Banyak yang beranggapan bahwa teman-temannya, bahkan sosialisme secara keseluruhan, ikut tercoreng oleh tulisan-tulisan provokatifnya. Maka ia pun didesak untuk memberikan klarifikasi. Namun Proudhon bukanlah tipe orang yang pandai menyesuaikan diri dengan keinginan publik, jadi responsnya (yang diterbitkan di Le Peuple, 6 Mei 1849) mungkin justru bukannya meredakan suasana — tapi tetap saja, jawabannya sangat menarik untuk disimak...
*** Tuhan Adalah Kejahatan
Teman-temanku memintaku — demi kepentingan ideide bersama kita, dan untuk mencegah fitnah-fitnah yang tak berdasar — agar aku menyatakan pendirianku tentang ketuhanan dan Penyelenggaraan Ilahi, sekaligus menjelaskan beberapa bagian dari System of (Economic) Contradictions yang selama setahun ini telah dieksploitasi terus-menerus oleh para tartuffe reaksioner untuk menyerang sosialisme di hadapan jiwa-jiwa yang polos dan mudah percaya.
Aku pun mengalah pada permohonan mereka. Bahkan, kukatakan bahwa jika selama ini aku membiarkan Le Constitutionnel dan kroninya menyamakanku dengan Vanini yang bahkan lebih buas dari aslinya — menyerang Tuhan dan Iblis sekaligus, keluarga dan kepemilikan — aku punya alasan untuk itu. Pertama, aku ingin mendorong beberapa aliran pemikiran — yang sebelumnya dianggap saling bertentangan — agar mengakui sendiri bahwa mereka pada dasarnya serupa. Singkatnya, aku ingin agar semua orang melihat sendiri bahwa kaum doktriner dan kaum Jesuit itu sebenarnya sama saja. Selain itu, sebagai seorang metafisikawan secara profesi, aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk menguji secara pasti sejauh mana zaman kita telah bergerak dalam urusan agama. Tak semua orang punya peluang untuk menjalankan eksperimen semacam ini dalam psikologi sosial, untuk mengamati, seperti yang kulakukan selama enam bulan terakhir, nalar publik. Hanya sedikit yang punya posisi untuk melakukannya, dan selain itu, biayanya mahal. Maka aku menjadi penasaran: di tengah bangsa seperti milik kita — bangsa yang selama dua abad telah menyingkirkan perdebatan agama dari ruang publik, yang secara prinsip telah menetapkan kebebasan hati nurani secara mutlak, yang berarti skeptisisme paling keras: yang, lewat pernyataan kepala pemerintahan saat ini, M. Odilon-Barrot, telah menempatkan Tuhan dan agama di luar ranah hukum, yang menggaji semua aliran kepercayaan di wilayahnya sembari menunggu mereka lenyap, di mana orang bersumpah atas nama kehormatan dan nurani, bukan atas nama Tuhan: di mana pendidikan, keadilan, kekuasaan, sastra, dan seni — semuanya, akhirnya — dikuasai oleh sikap masa bodoh terhadap agama, kalau bukan ateisme, — apakah pikiran masyarakat benar-benar telah sejalan dengan institusinya?
Aku berkata pada diriku sendiri: Ada seorang manusia yang menjalankan tugas kewarganegaraannya dengan sempurna, yang, di atas segalanya, menghormati keluarga sesamanya, yang menjaga kemurnian diri demi kebaikan orang lain: yang menjadikan kejujuran sebagai prinsip, bahkan jika harus mengorbankan rasa hormatnya sendiri, yang telah bersumpah untuk memperbaiki kehidupan sesamanya, lalu apa urusannya bagi masyarakat apakah orang ini ateis atau bukan? Bagaimana itu bisa mengubah pandangan mereka? Terutama jika mengingat bahwa kata “ateis” itu sendiri tak kalah kabur dan tak terdefinisi dengan jelas seperti kata “Tuhan” yang menjadi lawannya.
Bagi pikiran yang terpesona pada seluk-beluk filsafat dan sosial, pertanyaan ini memang layak untuk diselami lebih jauh.
Dan sekarang, telah kutemukan — syukur kepada Tuhan! (maafkan ironi ini) — bahwa sebagian besar rakyat Prancis hampir tidak terganggu oleh perkaraperkara transendental tentang keberadaan Yang Maha Kuasa, dan kini yang masih peduli hanya tinggal Le Constitutionnel dan para Jesuit, M. Thiers dan M. de Montalembert, yang tetap gigih membela Ketuhanan. Maka, agar tak ada yang kututupi, berikut adalah temuan yang kudapat dari penyelidikanku.
Empat petisi masuk ke Majelis Nasional, masing-masing dengan tiga puluh hingga empat puluh tanda tangan, meminta agar aku dikeluarkan dari Majelis dengan alasan ateisme. Seolah-olah aku tidak berhak menjadi seorang ateis! ... Jika Majelis Nasional benar-benar menanggapi petisi-petisi ini, kolega-kolegaku pasti akan menanggapinya dengan gelak tawa — seperti para dewa.
Aku menerima dua surat anonim yang isinya memperingatkanku — lengkap dengan kutipan Alkitab — bahwa jika aku terus-menerus menghujat seperti sekarang, langit akan menghukumnya. — Ya sudah! Kataku, kalau langit sampai turun tangan, tamatlah aku! Dan akhirnya, inilah Le Constitutionnel, edisi 3 Mei, yang memperingatkanku agar berhati-hati: bahwa jika aku terlalu mendesak Penyelenggaraan Ilahi, maka ia akan menghukumku, menyerahkanku pada kegilaan akibat keangkuhan sendiri. — Memang, hanya dengan memikirkan Penyelenggaraan saja sudah cukup untuk membuat orang jadi gila.
Itulah segenap reaksi kemarahan yang berhasil kukumpulkan dari kaum saleh, selebihnya — mayoritas rakyat Prancis yang sangat besar — justru menertawakan Tuhan dari Le Constitutionnel dan Tuhan baik versi Jesuit, sebagaimana keledai yang tertawa saat disodori segenggam jelatang.
Namun kini sudah saatnya sandiwara ini dihentikan, dan karena para sahabatku menginginkannya, dan para kolega di kalangan sosialis pun meminta, aku akan menyampaikan pengakuan iman dariku. Tuhan dan rakyat, ampunilah aku! Apa yang akan kukatakan ini serius adanya, namun karena munafiknya para penentangku, aku bahkan merasa sedikit malu atas tindakanku ini — seolah aku baru saja menyentuh air suci.
*** Manusia Itu Bebas
Itulah proposisi pertamaku. Kebebasan adalah pikiran, aku hanya menerjemahkan Cogito, ergo sum dari Descartes: Aku berpikir, maka aku ada. Maka dari itu: aku bebas, maka aku ada. Semua proposisi selanjutnya akan mengikuti dari proposisi ini, dengan ketegasan seperti dalam demonstrasi geometris.
Berkat kebebasannya, manusia bisa memilih untuk menerima atau menolak tatanan ilahi, yang tak lain adalah tatanan alam yang bekerja tanpa campur tangan.
Melalui penerimaannya terhadap tatanan ilahi, maupun lewat perubahan-perubahan yang ia lakukan terhadapnya, manusia ikut ambil bagian dalam pemerintahan semesta. Ia pun menjadi, seperti Tuhan — yang merupakan cerminan abadi dirinya — seorang pencipta dan pengungkap kebenaran, ia adalah satu bentuk dari keilahian itu sendiri.
Segala sesuatu yang tidak mengubah tindakan bebas manusia sepenuhnya berada dalam ranah hukum Tuhan.
Sebaliknya, semua yang melampaui kekuatan alam adalah hasil dari kehendak manusia.
Tuhan adalah nalar yang kekal manusia adalah nalar yang progresif.
Kedua bentuk nalar ini saling membutuhkan, mereka saling melengkapi.
Keselarasan antara keduanya adalah apa yang kusebut sebagai pemerintahan Penyelenggaraan Ilahi.
Penyelenggaraan bukanlah gagasan sederhana seperti Tuhan atau manusia, yang menjadi representasi dari pertemuan keduanya, ia adalah gagasan kompleks — harmoni antara tatanan alam dan tatanan kebebasan, sesuatu yang diungkap oleh pepatah rakyat: “Tolonglah dirimu sendiri, maka langit akan menolongmu!”
Segala sesuatu yang manusia lakukan saat bersentuhan dengan hukum ilahi adalah bersifat sewenang-wenang, segala sesuatu yang terjadi tanpa pengetahuan atau kehendak manusia adalah bagian dari keniscayaan.
Tergantung pada seberapa otonom umat manusia — artinya, sejauh mana ia menjadi tuan dan pembuat hukum bagi dirinya sendiri, sejauh mana inisiatifnya besar dan rasional, dan jalannya sejarah terbebas dari hukum-hukum alam yang tak disadari — sebanyak itu pula kebaikan bertambah atau berkurang di dunia. Sehingga, tatanan dalam bentuknya yang tertinggi — atau, seperti kata para filsuf kuno, Kebaikan Tertinggi — adalah hasil dari keselarasan sempurna antara dua kekuatan tertinggi: Tuhan dan manusia. Dan keterpisahan total antara keduanya adalah penderitaan paling ekstrem.
Maka, kemajuan umat manusia bisa didefinisikan sebagai perjuangan tiada henti manusia melawan alam, pertentangan abadi yang menghasilkan rekonsiliasi abadi.
Di mana pun manusia gagal memahami hukum alam — atau di mana hukum itu absen — maka kehancuran alam dan masyarakat tak terelakkan. Kesempurnaan dunia fisik bergantung pada kesempurnaan dunia sosial, dan sebaliknya. Tuhan atau dunia tanpa umat manusia adalah sesuatu yang mustahil, umat manusia yang menjadi Tuhan adalah kontradiksi. Kekacauan dan penyingkiran — itulah kejahatan.
Tuhan, yang kekal dan tak terbatas, hadir di manamana, umat manusia, yang abadi dan progresif, hadir di suatu tempat.
Tatanan ilahi tak bisa sepenuhnya diserap dalam hukum manusia, sebagaimana kehendak bebas tak bisa sepenuhnya melebur dalam takdir. Kedua tatanan ini harus berkembang secara sejajar, saling menopang, saling menyelaraskan, tapi tidak menyatu: antinomi antara manusia dan Tuhan tidak bisa diselesaikan.
Yang absolut adalah gagasan yang diperlukan oleh nalar, dan bukan tanpa realitas. Dalam kata lain: Tuhan — jika dianggap sebagai sintesis antara daya terbatas dan tak terbatas — tidaklah ada. Dari sudut pandang lainnya, manusia bukanlah bayangan lemah Tuhan, tetapi bayangan yang terbalik.
Kesetaraan hubungan antara Tuhan dan manusia, perbedaan dan pertentangan dalam kodrat mereka, kewajiban untuk menyelaraskan kehendak mereka, dan kemajuan dalam harmoni itu — semuanya adalah dogma fundamental dari filsafat demokratis dan sosial. Kekristenan adalah nubuatnya, dan sosialisme adalah perwujudannya.
Ateisme adalah penolakan terhadap Penyelenggaraan, sebagaimana ia muncul dari harmoni antara hukum alam yang tak tergoyahkan dan aspirasi kebebasan yang tak henti-hentinya — sebagaimana telah kucoba definisikan.
Ateisme, secara umum, adalah doktrin yang, dalam ragam bentuknya yang tak terhingga — materialisme dan spiritualisme, Katolik dan paganisme, deisme, panteisme, idealisme, skeptisisme, dan mistisisme — secara bergantian menolak kesetaraan, keselarasan waktu, serta kebutuhan akan dua kekuatan — Tuhan dan manusia — berikut perbedaan dan solidaritasnya, ia cenderung terus-menerus menundukkan yang satu pada yang lain, atau memisahkan mereka, atau menghapuskan keduanya.
Tuhan, nalar kekal dan tak terelakkan, tak dapat dibayangkan tanpa manusia, dan manusia, nalar progresif dan bebas, tak dapat dibayangkan tanpa Tuhan. Karena dualitas itu tidak bisa dipertukarkan dan tak dapat disatukan, maka setiap teori yang merusaknya adalah bentuk dari ateisme.
Dengan demikian, ateisme adalah kebalikan dari antiteisme, yang tak lain adalah sosialisme itu sendiri — yakni teori Penyelenggaraan, atau, seperti yang akan dikatakan oleh Santo Agustinus: organisasi dari Kota Tuhan.
Setelah memahami ini, rakyat pembaca Le Peuple akan mengerti mengapa, dalam salah satu artikelku baru-baru ini — di mana aku mengungkapkan kelemahan yang dalam dan tak tersembuhkan dari orang-orang tersebut — aku menyebut dominasi tiranik mereka sebagai pemerintahan Tuhan! Bukankah mereka memang kaum fatalis? Bukankah mereka menentang setiap upaya kebebasan? Bukankah mereka ingin kita menyandarkan segalanya hanya pada kekuatan keadaan? Bukankah mereka memiliki semboyan-semboyan seperti:
Laissez faire, laissez passer! (Biarkan saja, biarkan berlalu!)
Chacun chez soi, chacun pour soi! (Urus urusanmu sendiri, demi dirimu sendiri!)
Oui vivra verra! (Siapa hidup, akan melihat!)
dan ribuan semboyan lain, yang semuanya adalah ungkapan keputusasaan, pernyataan keimanan terhadap ateisme?
Demikian pula, para pembaca Le Peuple akan paham bagaimana, dalam sebuah karya di mana aku mengupas dasar-dasar dogma sosialis melalui analisis kontradiksi-kontradiksi, aku bisa secara berurutan mengkritik Tuhan dan umat manusia, serta menunjukkan bahwa — baik hanya dengan yang satu maupun hanya dengan yang lain — tatanan dalam masyarakat, atau yang sekarang kusebut sebagai Penyelenggaraan, adalah sesuatu yang mustahil: yang dibutuhkan adalah pertemuan keduanya. Aku tunjukkan pada saat itu bahwa Tuhan versi kaum deis dan Katolik, Tuhan versi Le Constitutionnel dan L'Univers, adalah sama mustahilnya, sama kontradiktifnya, dan sama tidak bermoralnya dengan manusia versi Rousseau atau La Mettrie: bahwa Tuhan semacam itu adalah penyangkalan terhadap Tuhan itu sendiri, dan layak disebut Setan atau Kejahatan. Di bagian mana aku menyimpang dari prinsip-prinsipku? Bagaimana mungkin aku telah menyinggung kepercayaan terdalam umat manusia?
Bagian dari Economic Contradictions yang sering dikutip dengan ngeri oleh para penentang sosialisme itulah yang sekarang kuberikan penjelasannya kepada para pembaca Le Peuple. Gagasan sejati tidak pernah bisa terlalu cepat dan terlalu luas disebarluaskan: itulah penangkal terhadap ateisme, terhadap takhayul, terhadap penindasan dan eksploitasi dalam segala bentuknya.
Penulis Economic Contradictions memulai dengan menempatkan dirinya dalam hipotesis Katolik, yakni bahwa nalar Tuhan adalah seperti nalar manusia, meski jauh lebih unggul, dan ia mengajukan pertanyaan ini kepada lawan-lawannya:
Apakah Tuhan bersalah jika, setelah menciptakan dunia menurut hukum geometri, Ia menanamkan ke dalam pikiran kita — atau bahkan membiarkan kita percaya, tanpa kesalahan dari pihak kita — bahwa sebuah lingkaran bisa berbentuk persegi atau sebuah persegi bisa berbentuk lingkaran, padahal karena pendapat palsu itu kita harus menanggung penderitaan yang tak terhitung jumlahnya? Sekali lagi, jelas jawabannya: iya, bersalah.
Nah! itulah persis yang telah dilakukan oleh Tuhan — Tuhan dari Penyelenggaraan — dalam mengatur kehidupan umat manusia, itulah yang menjadi tuduhanku terhadap-Nya. Ia tahu sejak kekekalan — sejauh yang bisa kita simpulkan setelah enam ribu tahun pengalaman pahit — bahwa tatanan dalam masyarakat — yakni kebebasan, kemakmuran, pengetahuan — hanya bisa terwujud melalui rekonsiliasi ide-ide yang saling bertentangan dan yang, jika diambil secara mutlak masing-masing, akan menjatuhkan kita ke jurang penderitaan: mengapa Ia tidak memperingatkan kita? Mengapa Ia tidak membetulkan penilaian kita sejak awal? Mengapa Ia membiarkan kita terperangkap dalam logika kita yang belum sempurna — apalagi saat egoisme kita justru menemukan pembenaran dalam tindakan-Nya yang tidak adil dan penuh tipu daya? Ia tahu, Tuhan yang cemburu ini, bahwa jika kita dibiarkan menjalani risiko pengalaman sendiri, maka kita baru akan menemukan keamanan hidup — yang menjadi inti dari kebahagiaan kita — setelah sangat terlambat: mengapa Ia tidak mempersingkat masa belajar panjang ini dengan mengungkapkan hukum-hukum kita sendiri sejak awal? Mengapa, alih-alih memikat kita dengan pendapat-pendapat yang saling bertentangan, Ia tidak membalikkan pengalaman itu — membuat kita langsung sampai pada antinomi melalui jalur analisis terhadap ide-ide sintetis, ketimbang harus mendaki dengan susah payah melalui antinomi menuju sintesis? Inilah intinya: Jika Tuhan adalah sebagaimana yang diklaim kaum teis — Mahabaik, Mahaadil, dan Maha Menyediakan — mengapa Ia tidak mencegah kejahatan? Itu adalah argumen klasik para materialis. Maka, apa kesimpulan yang ditarik oleh penulis? Di sinilah letak perbedaan mutlak antara dirinya dengan para pendahulunya.
Jika, seperti yang dulu dipikirkan, kejahatan yang diderita umat manusia hanya berasal dari ketidaksempurnaan yang tak terhindarkan dalam setiap makhluk — atau lebih tepatnya, jika kejahatan itu hanya disebabkan oleh konflik antara potensi-potensi dan kecenderungan-kecenderungan yang membentuk keberadaan kita, yang seharusnya bisa kita kendalikan dan arahkan dengan akal — maka kita tidak punya hak untuk mengeluh. Kondisi kita adalah sebagaimana mestinya, dan Tuhan pun dibenarkan.
Tetapi, mengingat adanya penyesatan yang disengaja terhadap akal kita — penyesatan yang sangat mudah dihapuskan namun membawa akibat yang begitu mengerikan — di manakah letak pembenaran Penyelenggaraan? Bukankah itu artinya kasih karunia gagal menjangkau manusia? Tuhan — yang oleh iman digambarkan sebagai Bapa yang lembut dan Penguasa yang bijaksana — justru membiarkan kita dikuasai oleh keniscayaan konsep yang belum sempurna, Ia menggali lubang di bawah kaki kita, Ia membuat kita melangkah secara membabi buta: dan lalu, setiap kali kita jatuh, Ia menghukum kita seolah kita bajingan. Apa kataku? Seolah-olah, hanya karena kebetulan, setelah tubuh kita penuh luka akibat perjalanan panjang, barulah kita menemukan arah, seolah-olah, dengan menjadi lebih cerdas dan lebih bebas melalui ujian yang Ia timpakan, kita justru menodai kemuliaan-Nya. Maka untuk apa lagi kita terus menerus menyerukan nama Ilahi? Untuk apa kita peduli pada para pengikut Penyelenggaraan, yang selama enam puluh abad, dengan bantuan ribuan agama, terus menipu dan menyesatkan kita?
Apa makna dari argumen ini? Tak lain adalah: bahwa nalar Tuhan dibentuk secara berbeda dari nalar manusia, dan jika tidak demikian, maka Tuhan tak bisa dimaafkan. — Perhatikan bahwa penulis berhati-hati untuk tidak menarik kesimpulan seperti para ateis materialis: “Penyelenggaraan tidak bisa dibenarkan, maka Tuhan tidak ada.” Ia justru berkata: “Jika Tuhan dan Penyelenggaraan tidak bisa dibenarkan, itu karena kita tidak memahaminya, itu karena Tuhan dan Penyelenggaraan tidak seperti yang dikatakan oleh para imam dan filsuf.”
Diskusi kemudian berlanjut di jalur tersebut, dan kita segera melihat bahwa bukan hanya nalar dalam diri Tuhan berbeda dengan nalar manusia, tetapi bahkan justru berbanding terbalik dengan kecerdasan manusia. Ketika kaum teis, untuk membenarkan dogma Penyelenggaraan, mengutip keteraturan alam sebagai bukti — meski argumen ini secara logika bersifat petitio principii (mengasumsikan kesimpulan dalam premis) — setidaknya tidak bisa dikatakan bahwa argumen itu mengandung kontradiksi, atau bahwa fakta yang dikutip justru menentang hipotesis itu. Dalam sistem dunia, misalnya, tidak ada yang menunjukkan anomali sekecil apa pun, atau sedikit pun kelalaian, dari mana bisa disimpulkan bahwa motor agung yang cerdas dan personal itu tidak ada. Singkatnya, meskipun keteraturan alam tidak membuktikan keberadaan Penyelenggaraan, ia juga tidak menentangnya.
Namun, hal yang sangat berbeda terjadi dalam pemerintahan atas umat manusia. Di sini, keteraturan tidak muncul bersamaan dengan materi, ia tidak diciptakan, seperti dalam sistem dunia, sekali untuk selama-lamanya. Ia justru berkembang secara bertahap, mengikuti rangkaian prinsip dan konsekuensi yang tak terhindarkan, yang harus ditemukan sendiri oleh manusia — makhluk yang menjadi objek keteraturan itu — secara spontan, melalui daya energinya sendiri dan dorongan dari pengalaman. Tidak ada wahyu yang diberikan padanya. Manusia, sejak awal keberadaannya, tunduk pada keniscayaan yang telah ditetapkan sebelumnya, pada suatu keteraturan absolut dan tak tertolak. Agar keteraturan ini terwujud, manusia harus menemukannya, agar ia ada, manusia harus lebih dahulu mengira-ngiranya. Proses penemuan ini sebetulnya bisa saja diperpendek, tetapi tidak ada satu pun, baik dari langit maupun bumi, yang datang menolong manusia, tidak ada yang membimbingnya. Umat manusia, selama ratusan abad, akan melahap generasi-generasinya sendiri, ia akan terkuras dalam darah dan lumpur, tanpa pernah sekalipun Tuhan yang ia sembah turun tangan untuk menerangi akalnya atau mempersingkat masa ujiannya. Di manakah tindakan ilahi di situ? Di manakah Penyelenggaraan?
Lalu, bagaimana arah dari seluruh pembahasan ini? Yakni:
1. Bahwa di hadapan kesalahan yang begitu gigih dan padahal begitu mudah untuk dihilangkan, ketidakterlibatan — Penyelenggaraan — (sebagaimana dipahami oleh ateis Katolik) tidak dapat dibenarkan,
2. Bahwa dari sini kita tidak harus menyimpulkan bahwa Tuhan tidak ada, melainkan bahwa kita tidak memahami Tuhan:
3. Bahwa sesungguhnya, nalar yang mendasari tatanan alam berbeda dengan nalar yang membentuk jalannya takdir manusia.
Sebentar lagi kita akan melihat, dan itulah kesimpulan dari bab tersebut, bahwa nalar dalam diri Tuhan berbeda dari nalar manusia, bukan dalam hal keluasan, melainkan dalam kualitasnya, dan dari situ muncullah konsekuensi bahwa Tuhan dan manusia — yang saling membutuhkan, hidup sezaman, tak terpisahkan namun juga tak bisa disatukan — berada dalam kondisi pertentangan abadi, sehingga kesempurnaan tertinggi dalam diri yang satu justru sepadan dengan kelemahan tertinggi dalam diri yang lain, dan bahwa takdir manusia adalah: dengan terus mempelajari Ketuhanan, ia harus berusaha menyerupainya sesedikit mungkin.
Berikut adalah kutipan yang menguraikan konsekuensi tersebut, dan yang telah sedemikian mengguncang kalangan saleh:
Dan aku sendiri berkata: Tugas pertama manusia, saat ia menjadi cerdas dan bebas, adalah untuk terusmenerus mengusir gagasan tentang Tuhan dari pikiran dan nuraninya. Karena Tuhan — jika Ia ada — secara hakikat bertentangan dengan kodrat kita, dan kita sama sekali tidak bergantung pada otoritas-Nya. Kita mencapai pengetahuan meskipun bertentangan dengan-Nya, mencapai kenyamanan meskipun bertentangan dengan-Nya, mencapai masyarakat meskipun bertentangan dengan-Nya, setiap langkah yang kita ambil ke depan adalah kemenangan di mana kita menghancurkan Keilahian.
Tak ada cara yang lebih terang untuk menunjukkan, di satu sisi, progresivitas dari nalar manusia, dan di sisi lain, ketakberubahan dari nalar ilahi. Bagaimana mungkin ada orang-orang cendekia yang justru melihat seluruh pemaparan ini hanya sebagai luapan ateisme bergaya Diderot atau Baron d'Holbach?
Satu momen kekacauan saja — yang sebenarnya bisa dicegah oleh Yang Mahakuasa namun tidak Ia cegah — sudah cukup untuk mencoreng Penyelenggaraan-Nya dan menunjukkan bahwa Ia tak memiliki kebijaksanaan, bahkan kemajuan sekecil apa pun yang dicapai manusia — dalam ketidaktahuan, keterabaian dan pengkhianatan — demi kebaikan, justru meninggikan derajatnya secara tak terhingga. Dengan hak apa Tuhan masih bisa berkata padaku: Jadilah suci, karena Aku suci? Roh pembohong, akan kujawab: Tuhan dungu, kekuasaanmu telah berakhir, carilah korban lain di antara binatang. Aku tahu aku bukan orang suci dan takkan pernah menjadi suci, dan bagaimana mungkin Engkau suci, jika aku menyerupai-Mu? Bapa yang kekal, Jupiter atau Jehova, kami telah mengenal-Mu, Engkau adalah, pernah, dan akan selalu menjadi, saingan cemburu Adam, tiran Prometheus.
Jadi aku tidak jatuh ke dalam kekeliruan yang dibantah oleh Santo Paulus, ketika ia melarang bejana untuk berkata kepada pembuatnya: Mengapa engkau menciptakanku seperti ini? Aku tidak menyalahkan sang pencipta karena menjadikanku makhluk yang tak selaras, kumpulan elemen yang tak padu, aku memang hanya bisa ada dalam keadaan seperti itu. Aku cukup dengan berteriak padanya: Mengapa Engkau menipuku? Mengapa, melalui diam-Mu, Engkau melepaskan egoisme dalam diriku? Mengapa Engkau menyerahkanku pada siksaan keraguan semesta melalui ilusi pahit dari ide-ide yang saling bertentangan yang Engkau tanamkan dalam pikiranku? Keraguan terhadap kebenaran, keadilan, nurani dan kebebasanku, keraguan terhadap diri-Mu, ya Tuhan! Dan sebagai akibat dari keraguan itu, keharusan untuk berperang dengan diriku sendiri dan dengan sesamaku! Perlukah sekarang aku memperingatkan pembaca bahwa semua ini sesungguhnya bukan serangan terhadap Tuhan dan Penyelenggaraan dalam makna sejatinya? — Bagaimana mungkin, jika penulis adalah seorang ateis, ia justru menyalahkan Tuhan karena membuatnya meragukan Tuhan, lalu karena itu ia jatuh dalam dosa? Itu sama sekali tidak masuk akal. Di balik nama Tuhan dan Penyelenggaraan, yang sebenarnya diserang di sini adalah Katolisisme dan Deisme — prinsip-prinsip ekonomi Malthusian dan teori konstitusional. Surat kabar Katolik pun tidak keliru memahami ini. Baris-baris berikut, yang merupakan parafrase dari khotbah hari Minggu, tak mungkin bisa disalahpahami:
Itulah, Bapa Tertinggi, yang Engkau perbuat demi kebahagiaan kami dan kemuliaan-Mu (Ad majorent Dei gloriam!), demikianlah, sejak awal, kehendak dan pemerintahan-Mu, demikianlah roti — yang diaduk dengan darah dan air mata — yang Engkau suapkan kepada kami. Dosa-dosa yang kami mohon untuk Engkau ampuni, Engkaulah yang membuat kami lakukan, perangkap yang kami mohon untuk kami lepaskan, Engkaulah yang memasangnya, dan setan yang menggoda kami — ialah Engkau sendiri.
Di satu sisi: modal, otoritas, kekayaan, ilmu pengetahuan, di sisi lain: kemiskinan, kepatuhan, ketidaktahuan — inilah antagonisme fatal yang harus diakhiri: inilah fatalisme Malthusian, inilah Katolisisme! Dan inilah yang telah disumpah oleh sosialisme untuk dihancurkan. Dengarkan sumpahnya: Engkau menang, dan tak seorang pun berani melawanMu, ketika setelah menyiksa tubuh dan jiwa dari Ayub yang saleh — lambang kemanusiaan kita — Engkau mencemooh kesalehan polosnya, ketidaktahuannya yang bijak dan penuh hormat. Kami bukan siapa-siapa di hadapan keagungan-Mu yang tak terlihat, yang kepadanya kami persembahkan langit sebagai kanopi dan bumi sebagai tumpuan kaki. Dan kini Engkau telah terguling dan hancur. Nama-Mu — yang selama ini menjadi kata pamungkas para cendekiawan, legitimasi para hakim, kekuatan para pangeran, harapan kaum miskin, tempat pelarian para pendosa yang bertobat — nama yang tak terucapkan ini, kini menjadi objek cemoohan dan kutukan, akan menjadi ejekan di antara manusia. Sebab Tuhan adalah kebodohan dan kepengecutan, Tuhan adalah kemunafikan dan kebohongan, Tuhan adalah tirani dan penderitaan, Tuhan adalah kejahatan.
Selama umat manusia masih bersujud di hadapan altar, manusia — budak para raja dan imam — akan tetap terkutuk, selama satu orang, atas nama Tuhan, menerima sumpah dari orang lain, masyarakat akan dibangun di atas sumpah palsu, damai dan cinta akan terusir dari antara umat manusia. Tuhan, enyahlah! Karena mulai hari ini, setelah sembuh dari rasa takut terhadap-Mu dan menjadi bijak, aku bersumpah — dengan tangan terangkat ke langit — bahwa Engkau hanyalah penyiksa akalku, bayang-bayang dari nuraniku.
Tak ada gunanya memperpanjang kutipan ini, karena maknanya kini sudah sangat jelas dan tak terbantahkan. Beberapa minggu lalu, ketika tersiar kabar tentang likuidasi Bank of the People, Le Constitutionnel bersorak kegirangan dan nyaris menudingku sebagai penipu. — Aku membalasnya dengan menerbitkan laporan keuangan dan sumber dayaku: Le Constitutionnel pun bungkam.
Tak lama kemudian, aku mempublikasikan dalam Le Peuple sebuah rancangan Code de la resistance (Kode Perlawanan): dan Le Constitutionnel berteriak bahwa itu adalah bentuk organisasi dari disorganisasi sosial. Lalu kutunjukkan bahwa organisasi perlawanan, hak untuk memberontak dan berkonspirasi, merupakan semangat murni dari sistem konstitusional: Le Constitutionnel kembali diam.
Beberapa hari lalu, aku membuktikan — melalui kilas balik tahun 1848 — bahwa seluruh keburukan yang muncul sejak 22 Februari hingga 1 Mei 1849 berasal dari teori Penyelenggaraan yang diyakini oleh kaum Katolik dan para doktriner. Saat itulah Le Constitutionnel menuduhku ateis, dan tak punya argumen lain kecuali mengutip satu bagian yang justru ingin menunjukkan bahwa ateisme sejati adalah Katolisisme itu sendiri — agama versi L'Univers dan Le Constitutionnel.
Akankah Le Constitutionnel sudi, sekali saja, berhenti memfitnah dan benar-benar mendiskusikan secara serius tentang Bank of the People, teori doktriner, dan iman Katolik?