#title Pengarsipan Anarkis: Kritik & Kritik-Diri #1.1 #author Wahono Karyadi & Matsutake #LISTtitle Pengarsipan Anarkis: Kritik & Kritik-Diri #1.1 #uid pengarsipan anarkis #date 13/10/2026 #source [[https://archive.org/details/@archipelago-anti-authoritarian-archive]] #lang id #pubdate 2026-10-13T10:44:17 #authors Wahono Karyadi; Matsutake #topics Kritik & Kritik-Diri AAA; Pengarsipan; Ekonomi; Memory; Atribusi; scraper #language Bahasa Indonesia #publication AAA Press, Archipelago Anarchist Archive, AAA Archive & Library #notes Pengarsipan Anarkis: Kritik & Kritik-Diri—akan ditulis dan dipublikasi secara berkala di Southeast Asian Anarchist Library—adalah wadah para pengelola Archipelago Anarchist Archive untuk melakukan refleksi kritis.
Kata-kata yang dicetak dan diterbitkan (atau bahkan yang tidak diterbitkan sekalipun), seperti buku, pamflet, leaflet, zine mendapat tempat yang signifikan di kalangan anarkis. Karena media tersebut terbukti mampu menyimpan berbagai pengalaman dan pemikiran banyak individu, yang bahkan dalam kasus tertentu, jika terdapat intervensi terhadap media cetak tersebut, eksistensinya akan tetap bertahan—untuk tidak menyebut abadi—lebih lama dari umur para individu yang mengalami pengalaman dan yang mencetuskan pemikiran tersebut. Dan individu-individu yang secara lengkap menyimpan kata-kata yang dicetak serta diterbitkan itu pun kemudian akan mendapatkan suatu manfaat, seperti dapat memiliki akses untuk melihat kembali “praktik untuk mencapai emansipasi” (gerakan dan perjuangan) yang terdahulu. Itulah mengapa, menurut Baker (2023) ketika meneliti budaya tandingan—atau proses perubahan evolusioner—anarkis Spanyol, banyak perpustakaan anarkis dibangun untuk menyediakan akses terhadap koleksi lengkap kata-kata tercetak yang telah lama tidak diterbitkan kembali. Sayangnya, sejarah pertumbuhan budaya tandingan atau proses perubahan evolusioner anarkis ini tidak terjadi secara mulus atau bahkan macet di Indonesia. Karena Indonesia mengalami periode otoritarianisme—dalam artian paling kerasnya—yang berkepanjangan. Para anarkis tahun 1920-an habis dibuang ke Digul pasca pemberontakan 1926; sedangkan para individu berkecenderungan (anarkis-)sindikalis yang muncul pada tahun 1940-an disingkirkan secara paksa oleh rezim Orde Lama Karno dari pabrik-pabrik yang mereka swa-kelola dan disingkirkan secara perlahan dari arena pemikiran/intelektual oleh PKI; dan menjadi sama sekali tidak terlacak eksisensinya pasca genosida 1965 dan naiknya rezim Orde Bau Harto ke tampuk kekuasaan (Bima, 2018). Walaupun, periode otoritarianisme berkepanjangan tersebut tidak khas dialami oleh para anarkis di Indonesia saja. Periode otoritarianisme keras yang berkepanjangan, yakni rezim Komunis Gheorghe Gheorghiu-Dej (1948-1965/17 tahun) dan Nicolae Ceaușescu, menjadikan para anarkis di Rumania dan di Indonesia memiliki—tanpa menafikan perbedaan dampak dari pasca-komunis di Rumania dan pasca-kolonial serta pasca-otoriter-militer di Indonesia yang menciptakan perbedaan yang kompleks—kesamaan dalam hal sejarah perkembangan budaya anarkis mereka. Karena ketika rezim komunis naik ke tampuk kekuasaan para anarkis disingkirkan mulai dari ditekan pergerakannya sampai dibunuh, dan sebagian yang hidup harus pergi mengasingkan diri ke luar negeri atau tetap di Rumania tetapi memilih untuk mengambil sikap tiarap total (Anarhiva, 2021). Situasi ini akhirnya, menurut Tataran (2026), membuat para anarkis yang bermunculan di Rumania pada masa-masa keruntuhan rezim komunis pada 1989 atau setelahnya, yang mayoritas bergerak di skena anarko-punk, hanya memiliki pengetahuan yang secuil atau bahkan tidak memiliki sama sekali pengetahuan tentang para anarkis yang eksis sebelum mereka, sehingga secara otomatis mereka tidak memiliki pengalaman kolektif yang dapat dijadikan rujukan ketika mereka menjalankan praktik anarkis/anti-otoritarian. Sejalan dengan Adrian Tataran, Ucok (2026) dalam diskusi buku Unfinished Nation yang diselenggarakan di Perpustakaan Bunga di Tembok pun mengatakan hal yang nyaris sama. Menurutnya, sebelum buku Perang yang Tidak Akan Kita Menangkan karya Bima Satria Putra terbit—jauh setelah reformasi—pada tahun 2018, para anarkis yang bermunculan—dan sama seperti di Rumania, yang banyak pula bergerak di skena anarko-punk—saat masa-masa kejatuhan Harto beserta rezim Orde Baunya dan masa setelahnya tidak memiliki pengetahuan tentang gerakan anarkis terdahulu, sehingga sempat terbersit dalam pemikiran mereka kalau diri mereka adalah anarkis generasi pertama di Indonesia. Alhasil, tanpa pengalaman dan memori kolektif yang diwariskan dari para anarkis terdahulu, para anarkis yang hadir kemudian tersebut harus mulai membangun dari awal; berbanding terbalik dengan otoritarianisme yang walaupun dikatakan runtuh, mereka sudah memiliki birokrasi, struktur, militer, yang telah dibangun selama berdekade dan mapan serta siap diwariskan, sehingga bukan hal yang sulit untuk kembali ke tampuk kekuasaan. Berangkat dari pengalaman tersebut, Ucok mengatakan, bahwa penting untuk memulai semacam inisiatif untuk melakukan perawatan memori kolektif, agar keterputusan memori bersejarah dapat dicegah dan mereka wajah-wajah baru yang akan datang dapat belajar dengan cara melihat ke belakang (sejarah). Inisiatif perawatan memori kolektif ini sendiri dapat menjelma beragam bentuk, dan saling berbagi tugas, seperti—dalam konteks bacaan—ada yang berkolektif untuk mencatat dan menerbitkan, lalu ada yang mendiskusikan dan mempraktikkannya, untuk kemudian dicatat dan diterbitkan kembali. Menurut saya, di samping inisiatif untuk menerbitkan, mendiskusikan dan mempraktikkan yang telah banyak dilakukan oleh banyak teman-teman, kerja-kerja pengarsipan adalah sesuatu yang diperlukan untuk melakukan pencatatan dan lebih jauh lagi untuk melakukan perawatan memori bersejarah itu sendiri.
***
Inisiatif pengarsipan sendiri, khususnya yang digerakkan oleh komunitas (community archive), sebenarnya telah banyak bermunculan dan semakin subur pertumbuhannya. Kita dapat mengatakan, secara kasar, bahwa pengarsipan komunitas di Indonesia sendiri memiliki tiga gelombang pertumbuhan. Gelombang pertama ditandai oleh beberapa pengarsipan komunitas yang muncul pada pasca-reformasi hingga 2010, beberapa di antaranya seperti Indonesian Visual Art Archive, Warung Arsip/Radio Buku, dan KUNCI. Lalu gelombang kedua ditandai dengan kemunculan inisiatif-inisiatif pengarsipan yang muncul pada rentang waktu 2011 hingga 2021, untuk kembali menyebut beberapa di antaranya seperti Bebaskan Buku!, Perpustaxaan, Ruang Arsip & Sejarah Perempuan, dan Queer Indonesia Archive. Sedangkan gelombang ketiga ditandai oleh inisiatif-inisiatif pengarsipan yang muncul dalam rentang waktu 2022 hingga kini, seperti Jogja Sonic Index, Pustaka Taratsa (itu juga kalau mereka bisa dikategorikan sebagai pengarsipan sih), Pustaka Langka/Logos, Catatan Nusantara, dan Puss in Bed Zine Library. Pengarsipan komunitas sendiri adalah praktik yang dilakukan oleh akar rumput dalam mengumpulkan dan merawat serta menjaga keterbukaan akses akan materi-materi yang mereka sendiri ciptakan. Dan menurut Moran, pengarsipan anarkis adalah segmen tersendiri—atau berada di bawah payung besar bernama—pengarsipan komunitas (community archives). Dikatakan demikian, karena pengarsipan anarkis memiliki karakteristik yang serupa dengan pengarsipan komunitas, yang untuk menyebut beberapanya, seperti: mulai dari fokus preservasi materinya yang spesifik, kecenderungan untuk memilih berada di luar lingkup pemerintahan dan bahkan sistem NGO, hingga digerakkan atau dikelola serta didanai oleh mereka yang mencipta dan menghidupi pengalaman serta pemikiran yang terkandung dalam materi-materi itu sendiri—para anarkis. Berbeda dengan pengarsipan komunitas yang semakin subur bertumbuhan, di permukaan terlihat kalau inisiatif pengarsipan anarkis sendiri masih belum banyak dilakukan. Meskipun kelihatannya begitu, ada beberapa inisiatif pengarsipan anarkis yang pernah eksis di Indonesia, seperti Pustaka Otonomis (2005-2009), Pustaka Anarkis (2017-2019), dan Arsip Bawah Tanah (2019-?) (ketiganya merupakan satu inisiatif, yang bergerak lalu berhenti dan berganti nama untuk kemudian bergerak lagi); selain nama-nama yang pernah eksis tersebut, ada pula inisiatif pengarsipan yang masih dalam proses, seperti Page Against The Machine misalnya. Masing-masing nama yang pernah eksis tersebut berfokus pada pengumpulan dan penyebaran materi-materi digital, sehingga walau mereka berhenti bergerak, tetap ada inisiatif-inisiatif kecil-kecilan yang mengumpulkan kembali materi-materi yang ada untuk disimpan dalam cloudrive mereka; sedangkan yang masih dalam proses (PATM) berangkat dari materi-materi fisik yang kemudian didigitalisasi, sehingga proses tersebut berjalan dengan lambat. Namun baik itu yang pernah eksis maupun yang sedang dalam proses, fokus dari materi-materi yang diarsipkan masih berupa kata-kata tercetak seperti buku, zine, pamflet, dan lain sebagainya. Menjadi menarik untuk melihat lebih jauh permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh inisiatif pengarsipan anarkis yang pernah eksis lalu menghilang atau pun yang masih bertahan. Tetapi, sebelum itu, kita perlu sedikit kembali ke pengarsipan komunitas. Menurut Flinn, pengarsipan komunitas sendiri memiliki beberapa permasalahan, seperti ekonomi yang tidak stabil atau bahkan tidak memiliki pemasukan ekonomi sama sekali kecuali dari masing-masing kantong penggeraknya, yang menurut Moran (2016) hal ini juga terjadi di pengarsipan anarkis. Hal ini kemudian memunculkan permasalahan-permasalahan lain seperti keterbatasan ruang untuk menyimpan materi fisik, lalu materi-materi digital yang disimpan akan rentan menghilang ketika cloudrive tidak diperpanjang langganannya; walau kini, dengan adanya Internet Archive, masalah penyimpanan digital sudah terpecahkan, tetapi tetap diperlukan dana yang tidak sedikit untuk dapat membuat situs web agar dapat memamerkan, mendistribusikan, dan menjadikan materi-materi tersebut mudah diakses oleh khalayak umum. Tidak berhenti di situ, permasalahan ekonomi ini pun juga berimbas pada mereka yang mengelola atau menggerakan inisiatif pengarsipan tersebut, yang otomatis tidak mendapatkan upah dari kerja-kerja pengarsipan yang mereka lakukan. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, mereka perlu mengerjakan pekerjaan lain, di luar kerja-kerja pengarsipan yang sudah banyak menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Maka tidak mengherankan sebenarnya, jika inisiatif-inisiatif pengarsipan yang pernah eksis seringkali memiliki progress yang lambat dan terkadang muncul-tenggelam serta jalan di tempat, atau kasus paling buruknya menghilang begitu saja tidak lama setelah inisiatif pengarsipan tersebut dimulai. Meski jika ingin ditarik lebih jauh, permasalahan ekonomi, bukanlah permasalahan yang hanya terjadi di ranah arsip/pengarsipan anarkis semata, tetapi juga di ranah perubahan sosial secara umum.
***
Kembali menurut ‘Ucok’, dalam sebuah narawicara, ia mengatakan ada sebuah siklus di mana mereka yang menginginkan perubahan dalam hidupnya, seringkali akan menghilang setelah aktif memperjuangkannya selama 2 atau 3 sampai 5 tahun. Lalu mereka akan digantikan oleh wajah-wajah baru, yang setelah 2 atau 3 sampai 5 tahun, juga akan kembali menghilang dan digantikan oleh wajah-wajah yang baru lagi, dan seterusnya. Kemunculan wajah-wajah baru tentu bukanlah masalahnya, tetapi pada menghilangnya wajah-wajah lama. Ini bukan karena semangat dan komitmen mereka yang menghilang tidak sebesar mereka yang bertahan, tetapi lebih kepada permasalahan ekonomi. Karena itu, mulai dari tahun 2000-an awal, Ucok mendorong pembentukan kolektif-kolektif ekonomi. Walaupun jika nantinya mereka tetap menghilang, setidak-tidaknya kolektif ekonomi tersebut dapat membuat rentang waktu sebelum mereka menarik diri dan menghilang dapat sedikit diperpanjang, menjadi 10 tahun misalnya.
***
Belum selesai menghadapi permasalahan ekonomi yang bagai melempar api setitik ke padang ilalang itu, muncul permasalahan baru yang kini menghantui pengarsipan anarkis, permasalahan yang lebih halus dan bahkan tidak dipermasalahkan karena tidak tampak bermasalah di permukaan. Permasalahan itu adalah alienasi yang ditimbulkan oleh mesin pengeruk (scraper) yang dioperasikan secara sepihak dan tidak disertai dengan etika atribusi yang layak. Dalam permasalahan ini saya mengambil kasus yang secara spesifik menimpa Archipelago Anarchist Archive (AAA), yakni penggunaan mesin pengeruk (pengekstraksi) oleh Pustaka Taratsa terhadap materi-materi yang dikoleksi oleh AAA (tambang). Permasalahan ini perlu dibahas, karena memiliki dampak yang sama mematikannya—sebagaimana akan kita lihat nanti—seperti permasalahan ekonomi. Perlu diketahui terlebih dahulu, mesin pengeruk (scraper) adalah bot yang dapat mengeruk data digital di internet dalam waktu singkat. Dan tidak hanya mengambil data, tetapi scraper juga mengambil secara lengkap metadata dari data tersebut. Contoh, saat mesin pengeruk Pustaka Taratsa mengambil buku Kiamat Baru: Antologi Esai, Puisi, dan Cerita Generasi Terburuk Sastra Indonesia untuk diunggah ke situs web mereka, yang diambil dan kemudian mereka unggah tidak hanya file buku tersebut, tetapi juga nama penulis, penerbit, tahun terbit, dan deskripsi. Namun, yang kemudian menjadi permasalahan adalah, kendati mereka mampu memprogram mesin scraper untuk mengambil metadata secara lengkap dari AAA, mereka tidak mampu (atau tidak mau?) memprogram mesin pengeruk mereka untuk memasukkan nama AAA sebagai pengarsipan yang mereka ambil data dan metadatanya. Hal tersebut mungkin tampak bukan sebagai sesuatu yang bermasalah, karena seseorang dapat mengatakan bahwa “AAA pun mengambil materi-materi dari koleksi milik orang lain”. Betul jika dikatakan AAA mengambil materi-materinya dari koleksi orang lain, tetapi perlu dicatat, AAA mengambil sebagian besar materi-materi tersebut langsung—satu-persatu—dari pihak yang menciptakan, dan memberikan atribusi yang layak kepada mereka dengan cara berupaya melengkapi metadata sehingga orang-orang yang mengakses materi tersebut tahu siapa yang menulis, siapa yang menerbitkan, dan kapan itu diterbitkan. Dan meskipun sebagian sisanya AAA ambil dari koleksi pengarsipan yang lain, seperti Puss in Bed misalnya, AAA tetap memberikan atribusi kepada mereka, yang berupa pencantuman nama pengarsipan Puss in Bed di bagian deskripsi; dan jika dalam kasus tertentu AAA mengambil materi yang berupa digitalisasi, dan mengetahui siapa yang mendigitalisasikan materi tersebut, maka AAA pun juga akan mencantumkannya di deskripsi, seperti yang dapat dilihat pada zine Haydarian karya Iqbal Muhamad terbitan Talas Press yang didigitalisasi oleh Seburukapasih. Kemudian permasalahan ini bertambah semakin pelik lagi, ketika pada kenyataannya Pustaka Taratsa dengan menggunakan mesin pengeruknya itu tidak hanya mengambil satu-dua materi yang ada di koleksi AAA, tetapi semua materi berbasis teks beserta metadatanya mereka ambil dan unggah tanpa atribusi yang layak di situs web mereka. Dikatakan pelik karena meniadakan atribusi bukan hanya berarti meniadakan nama, tetapi juga menihilkan (lebih buruk dari meniadakan) kontribusi kerja-kerja pengarsipan yang telah menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Karena mereka yang bergerak di AAA (yang jumlahnya amat sangat sedikit itu, lebih dari yang orang-orang kira), mengumpulkan -+2000 materi yang kini tersedia di koleksi AAA secara satu persatu—tanpa mesin. Dan untuk bisa mengumpulkan satu-persatu materi-materi tersebut, mereka perlu untuk terus-menerus selalu membaca dan mendengar (belajar) tentang anarki(sme), baik itu yang telah lampau maupun yang kiwari. Karena mereka yang bergerak di AAA bukanlah individu yang hidup di masa kejatuhan rezim orde baunya harto, dan bukan pula pada masa pasca-reformasi awal, sehingga tanpa belajar mereka tidak akan mengetahui sesuatu pun yang terjadi di masa itu, apalagi materi-materi cetak. Juga, mereka yang bergerak di AAA, yang walaupun hidup dan aktif di ruang dan waktu kiwari, tetaplah perlu belajar sebab jika tidak mereka tidak akan tahu menahu sesuatu pun karena derasnya tsunami informasi. Singkatnya, pengumpulan -+2000 materi tersebut adalah juga kerja-kerja kurasi (yang—sekali lagi—melibatkan banyak tenaga, waktu, dan pikiran), bukan kegiatan mengambil dan mengunggah secara serampangan—karena jika tanpa kurasi, AAA tidak akan menjadi AAA, tetapi sekadar menjadi penadah file-file PDF semata. Dan tanpa belajar agar dapat melakukan kurasi, kemungkinan besar mereka yang mengelola AAA akan berakhir kebingungan dan tidak akan dapat melewati tahap pertimbangan yang terkadang disertai dilema. Selain melakukan kurasi—AAA agar tetap menjadi AAA, dan bukan menjadi sekadar penadah file-file PDF semata—juga melakukan peremajaan teks-teks terjemahan lama atau yang telah ada, dengan cara menyuntingnya ulang. Karena AAA melihat bahwa dunia literatur anarkis tidaklah kekurangan penerjemah dan penerbit, melainkan lebih cenderung kekurangan seorang penyunting. Dan hasil dari peremajaan tersebut AAA coba terbitkan ulang melalui AAA-Press. Sehingga dari upaya peremajaan teks dan penerbitan ulang tersebut AAA setidaknya dapat memenuhi kebutuhan hidup tersier para pengelolanya dan tetap menjadi independen. Setelah tiga kali menerbitkan, nantinya *soft-file* dari teks-teks yang sudah dilakukan peremajaan tersebut pun akan diunggah kembali ke dalam Internet Archive, agar dapat diakses oleh khalayak umum. Penerbitan pun AAA mulai agar memiliki “modal” untuk membuat semacam unit usaha, yang harapannya keuangan yang dimiliki oleh AAA tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan tersier para pengelolanya, tetapi juga yang primer. Selain itu, AAA juga berniat memutar “modal” tersebut ke dalam AAA-Distro, sebuah unit usaha yang tidak hanya menjajakan produk-produk AAA-Press tetapi juga penerbit-penerbit lain (dan mungkin tidak berhenti di penerbit), agar ekosistem penerbitan dapat berjalan dengan napas yang panjang dan terapresiasi kerja-kerjanya. Tidak berhenti di situ, kami pun juga mulai mengalihwahanakan teks-teks yang berbentuk PDF menjadi plain teks, dengan cara mengunggahnya ke Southeast Asian Anarchist Library, dan rencananya, akan diunggah juga di Situs Web AAA. Pengalihwahanaan tersebut dilakukan agar dapat memudahkan individu/kolektif yang ingin mencetak—sekaligus melayout dan menyunting—ulang teks-teks tersebut.
***
Dari penjabaran tersebut, mungkin kelihatannya penggunaan mesin pengeruk tanpa atribusi hanya mengakibatkan alienasi pada mereka yang bergerak di AAA. Tetapi dalam kasus Pustaka Taratsa, penggunaan mesin pengeruk (scraper) juga adalah sebentuk kemalasan intelektual, karena mereka tidak memanfaatkan mesin pengeruk itu untuk lebih berfokus merapikan materi-materi yang mereka ambil dari sana-sini dan melengkapinya dengan atribusi. Ketimbang melakukan itu, mereka justru lebih memilih untuk terus-menerus sibuk mengunggah di dua media sosial sekaligus (Instagram dan X/Twitter). Ini menjadi ironis, mengingat mereka menyematkan tiga kata “berbagi”, “merawat”, dan “preservasi” di bio Instagram mereka; atau dalam kata lain, dengan mencantumkan ketiga kata tersebut, akan tampak kalau mereka berupaya melawan pelupaan, tetapi dengan tidak membubuhkan atribusi yang layak, mereka justru turut serta dalam proses pelupaan itu sendiri. Kemalasan intelektual, karena mereka lebih memilih untuk menaruh atribusi dengan tidak layak di gudang penyimpan barang—kolom “Tentang Kami”, bahkan nama yang tersemat dalam tautan tersebut pun adalah “archipelago anti-authoritarian archive”, nama yang sekadar disalin dari tautan Internet Archive AAA. Selain mengakibatkan alienasi dan memunculkan kesan kemalasan intelektual, sikap mereka yang lebih memilih mengunggah daripada membenahi dan memberikan atribusi pun juga menyiratkan adanya kecenderungan kebelet beken dengan mengeksploitasi anti-otoritarian(isme). Atau lebih tepatnya, Pustaka Taratsa menggunakan kata “anti-otoritarian”—penggunaan yang mulanya tidak kami permasalahkan—sebagai sebuah excuse untuk mengekstraksi AAA dan/atau anti-otoritarian(isme) itu sendiri, terbukti dari bagaimana mereka menyisipkan kalimat “fokus isu kami sejalan, misalnya terkait publikasi dan materi anti-otoritarian” (penekanan oleh penulis) dalam takarir (caption) postingan kolaborasi yang kami berikan via Direct Message (perlukah kami berikan lampiran di sini? Sepertinya tidak perlu lah ya, namun jika ada yang menginginkan pembuktian bisa kontak kami). (Karena—sebagai tambahan—kenapa juga mereka lebih memilih mengupload secara berulang, bahkan hingga lima postingan berturut-turut, materi-materi AAA [tanpa atribusi] ketimbang materi-materi yang berasal dari Logos/Pustaka Langka atau Catatan Nusantara misalnya?). Lantas, kalaupun mereka memang benar anti-otoritarian, kenapa tidak tercermin dalam praktik—yang mereka sebut sebagai—pengarsipan itu? Tidak lain dan tidak bukan—untuk mempertegasnya sekali lagi—itu sekadar excuse. Kata anti-otoritarian sebagai excuse ini tidak hanya terjadi di ranah pengarsipan, melainkan juga di ranah penerbitan, dan bahkan di ranah-ranah lain. Tetapi kami akan membuat tulisan tersendiri untuk membahas persoalan tersebut nanti. Walau tidak memberikan atribusi pun sebenarnya AAA masih memaklumi, jika dan hanya jika, mereka mengambil materi-materi tersebut secara manual, satu persatu, sehingga (konsekuensinya) tidak sempat untuk merapikan materi-materi yang diambil dan melengkapinya dengan atribusi—karena konsekuensi itu juga diterima oleh AAA, tapi dalam kasus Pustaka Taratsa ini berbeda. Pemakluman tersebut sebenarnya adalah yang pertama muncul dalam pikiran kami ketika melihat Pustaka Taratsa mengeruk hampir semua data dan metadata materi-materi yang diarsipkan oleh AAA. Dan berangkat dari pemakluman, kami mencoba untuk melakukan pendekatan (ya! Kami yang melakukan pendekatan, bukan mereka), menawarkan bantuan untuk mengurusi permasalahan metadata tersebut, dan bahkan menambahkan materi-materi baru ke dalam koleksi mereka. Bahkan kami mengajak mereka untuk membuat satu postingan kolaborasi, agar orang-orang tahu ada Pustaka Taratsa di dunia ini. Lalu kami mengunggah ke Instagram cuplikan materi-materi AAA yang berada di koleksi Pustaka Taratsa, dengan sekaligus menandai akun instagram mereka. Semua itu AAA lakukan agar Pustaka Taratsa dapat belajar tanpa perlu merasa diajari, tanpa perlu merasa digurui, tentang bagaimana pengarsipan yang berlandaskan—meminjam istilah yang mereka pakai—“anti-otoritarian” bekerja. Namun ternyata, semua itu sia-sia belaka. Pustaka Taratsa tidak pernah belajar satu hal pun. *** Perlu dikatakan, setelah menulis *Pengarsipan Anarkis: Kritik & Kritik Diri #1* dan membacanya ulang sebelum kami publikasi di sini, kami sadar bahwa kami belum sampai ke tahap “kritik diri”. Kami masihlah berada di tahap “kritik”, lengkap dengan nada tulisan yang meledak-ledak penuh emosi, didominasi oleh penghakiman dan penudingan ke luar serta kekecawaan mendalam akibat kontradiksi eksternal. Pendek kata, kami masih terlalu sibuk melihat ke luar, dan bukannya melihat ke dalam diri kami sendiri. Sedangkan pembongkaran akan kenaifan, ekspektasi berlebih, dan kontradiksi internal sama sekali belum tertuliskan dalam tulisan ini. Tetapi, kami akan membiarkan tulisan ini sebagaimana adanya, sebagai bentuk kejujuran atas kerapuhan AAA. Dan kami akan melengkapinya di tulisan berikutnya.