#title Mengarsip Berarti Menyerang!
#subtitle Tentang Pengarsipan; dan Wawancara dengan Archipelago Anarchist Archive
#author Wahono Karyadi
#LISTtitle M
#date April, 2026
#source [[https://archive.org/details/kiamat-kedua-1/page/16/mode/1up]]
#lang id
#pubdate 2026-07-15T02:29:00
#authors Wahono Karyadi, Ester Aprillia
#topics Pengarsipan
#language Bahasa Indonesia
#publication Nyorangan Books
#notes Archipelago Anarchist Archive
“Ada sebuah kisah, tentang datangnya hari kiamat, dimana huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat, dan paragraf-paragraf menghilang seketika dari kitab suci. - Hao Zhenhan
[...] Ketika kita menyingkirkan keunikan dan identitas diri dari karya seni dan membuatnya terbuka terhadap pengulangan, reproduksi, kiasan, plagiarisme, dan pemalsuannya yang tak terbatas, barulah sebagai kreator kita dapat mencapai apa yang ia (Macedonio Fernandez) anggap sebagai Keabadian [...]” - Luis Othoneil Rosa
*** I
Bagai pedang bermata dua, arsip dan pengarsipan dapat menguntungkan sekaligus berpotensi membahayakan penggunanya, yang dalam kasus ini: para anti-otoritarian. Dikatakan dapat membahayakan penggunanya, karena arsip dan pengarsipan materi-materi—baik itu yang dipublikasikan maupun yang tidak—merupakan salah dua instrumen yang cenderung dominan digunakan oleh negara untuk menyerang [kita] dengan bentuk pengawasan dan kontrol. Kita dapat melihat contohnya pada praktik—yang diistilahkan oleh Pram sebagai—Rumah Kaca, yang dilakukan oleh D. A. Rinkes kepada Tirto Adhi Soerjo. Dimana gerak arsip dan pengarsipan yang begitu rapih dan sistematis digunakan sebagai alat kalau bukan senjata untuk menguliti dan mengawasi gerak-gerik yang dilakukan oleh Tirto Adhi Soerjo dalam skena pergerakan saat itu. Tak berhenti pada praktik pengawasan semata, Tirto Adhi Soerjo pun kemudian dihancurkan kehidupannya dengan cara penghilangan arsip-arsip yang merekam jejak, yang sekaligus hasil dari kerja-kerja, pergerakannya (Dahlan, M. M. 2014: 15).
Contoh lainnya dapat kita lihat pada—meski memiliki tujuan yang berbeda dengan D. A. Rinkes, yang menggunakan gerak arsip dan pengarsipan untuk me-rumah-kaca-kan Tirto Adhi Soerjo—Petrus Blumberger (seorang mantan penjabat pemerintah Hindia Belanda) mendapatkan manfaat yang hampir serupa ketika menggunakan arsip untuk keperluan menulis trilogi buku sejarahnya. Dengan privilese yang dimilikinya, Blumberger dapat memiliki akses—yang jarang dimiliki oleh orang lain—terhadap arsip-arsip kolonial Belanda. Dan melalui arsip-arsip yang diaksesnya tersebut, Blumberger memiliki kemampuan untuk melihat—layaknya rumah kaca D. A. Rinkes—bagaikan mengamati ikan-ikan di dalam akuarium, dalam artian mampu mengamati dengan begitu jelas dari segala sisi dinamika pergerakan yang terjadi di Hindia Belanda (Shiraishi, T. 1997: xii).
Dari dua contoh di atas cenderung akan membawa kita pada pemahaman, bahwa gerak arsip dan pengarsipan cenderung dekat pada kuasa dominasi negara, khususnya pada kerja-kerja intelejen. Bahkan menurut Muhidin M. Dahlan, tidak akan terlalu mengejutkan memang bila katakanlah Badan Intelejen Negara (BIN) anggota-anggotanya berisikan sekumpulan arsiparis: yang bertugas untuk mencari, mengumpulkan, dan kemudian melakukan gatekeeping terhadap suatu materi atau informasi. Pasalnya, di Inggris, hal ini sudah terjadi ketika pemerintahan mereka pada tahun 1992-1996 mempercayakan kepemimpinan badan intelejennya, yaitu M15, kepada seorang arsiparis bernama Dame Stella Remington (Dahlan, M. M. 2014: 15).
Di tangan negara, arsip dan dunia intelejen kemudian menjadi semakin mematikan, ketika internet lambat laun mulai digunakan secara massal. Karena melalui internet, tentu bagi negara, mengumpulkan informasi atau materi-materi yang akan digunakan untuk melakukan pengawasan dan kontrol menjadi tidak terlalu sulit. Internet itu sendiri sudah seperti Rumah Kaca-nya D. A. Rinkes atau Akuariumnya Peter Blumberger. Terlebih, pada mulanya internet sendiri merupakan proyek militer atau tepatnya strategi militer. Dan sedangkan saudaranya, yaitu sibernetika, merupakan sebuah upaya untuk menaklukkan ketidakpastian dan ketidakmungkinan, sekaligus sebuah seni pengendalian dan penguasaan: membuat kita semakin transparan (Tiggun, 2021).
Namun, gerak arsip dan pengarsipan menjadi cenderung dekat dengan kuasa dominasi negara dan membahayakan para anti-otoritarian sejauh akses terhadap materi-materi dan informasi yang termuat di dalamnya macet atau ekslusif. Dan hanya segelintir orang saja, seperti D. A. Rinkes dan Peter Blumberger (yang berprivilese), yang dapat mengaksesnya. Maka tak mengherankan pula, mulai banyak pengupayaan gerak arsip dan pengarsipan yang dilakukan oleh orang-orang yang bertentangan dengan, atau yang berada di luar cengkraman, otoritas negara. Beberapa mencoba untuk meng-inklusif-kan arsip-arsip yang ada di lembaga pemerintahan, universitas, dan lainnya, beberapa yang lain lebih jauh lagi mencoba untuk mengumpulkan dan merawat materi-materi yang telah mereka miliki. Upaya-upaya tersebut sendiri kemudian memiliki bermacam-macam terminologi, seperti: grassroot archives, independent community-led archives, activist archives, autonomous archives, dan radical archives.
Oleh mereka, yang dilabelisasi dengan bermacam-macam terminologi di atas, arsip dan pengarsipan dijungkirbalikkan fungsinya: yang semula digunakan untuk mendominasi dan mengontrol, menjadi senjata untuk mendiseminasikan ide dan gagasan-gagasan, menjadi sumber daya bagi kelompok yang termarjinalkan untuk menuliskan sejarahnya, menjadi ruang untuk pengetahuan kolektif dan memori perjuangan dapat terus hidup dan dapat digunakan kembali untuk keperluan saat ini atau di masa mendatang. Sebab, arsip merupakan sumberdaya kunci bagi perjuangan politik dan kultural. Kerja-kerja arsip dan pengarsipan tersebut sendiri diinisiasi, dikelola, dan di-maintenance secara mandiri, berbeda dengan kerja-kerja pengarsipan yang dijalankan atau terafiliasi dengan institusi dan lembaga pemerintahan tertentu (Pell, S. 2015).
*** II
Kita dapat menyebut beberapa kerja-kerja arsip dan pengarsipan yang dilakukan oleh para anti-otoritarian. Di Rumania misalnya, ada Anarhiva Collective, yang memiliki arsip materi-materi anti-otoritarian dengan rentang waktu -+150 tahun ke belakang. Bentuk-bentuknya pun beragam, seperti: surat atau korespondensi, manuskrip, terbitan jurnal berkala, brosur, buku, foto-foto, zine, leaflet, poster, manifesto, dan bahkan grafiti. Mereka berfokus pada materi-materi anti-otoritarian yang diproduksi di Rumania, meski tidak menutup kemungkinan melampauinya, dengan mempertimbangkan apakah individu-individu yang memproduksi materi tersebut berkaitan dengan rumania atau tidak (misal, ia berasal dari, atau pergi dari, Rumania). Sebagian besar dari koleksi mereka merupakan kepunyaan pribadi, atau berasal dari pencarian di perpustakaan dan pengarsipan lain, serta berasal dari bantuan kolektif-kolektif otonom lainnya. Dan koleksi tersebut dapat diakses secara online melalui website Anarhiva (Revista BUNA, 2021).
Lalu, di London, ada 56 Archive yang merupakan bagian dari 56 Infoshop. 56 Archive dikelola oleh mereka yang terlibat dalam 56 Infoshop, dan oleh mereka yang bersedia untuk secara sukarela terlibat melalui program the Archive Night: dimana sukarelawan akan mensortir, mengkatalogisasi, dan membuat daftar. Koleksi mereka tergolong cukup gigantis, karena memiliki -+70.000 koleksi arsip, sehingga hampir memenuhi seluruh rak yang ada di infoshop. Koleksi-koleksinya—yang kebanyakan berasal dari donasi—berupa zine, majalah, jurnal, buku, pamflet, dan lain-lain. Sebagian besar koleksi tersebut merupakan hard copy, tetapi terdapat pula materi-materi yang tersedia dalam bentuk soft copy dan dapat diakses melalui website mereka (Pell, S. 2015).
Selain 56 Archive, di London ada pula Kate Sharpley Library (KSL). KSL merupakan sebuah upaya pengarsipan sekaligus perpustakaan, yang didirikan pada tahun 1979. Di KSL, semua pekerjaan dilakukan secara sukarela, dan bentuk keterlibatannya begitu luwes serta informal—seseorang dapat terlibat hanya karena ia mau. Dalam melakukan pengarsipan pun, KSL tidak terlalu saklek hanya mengarsipkan materi-materi anti-otoritarian semata. lalu Pendanaannya, berasal dari hasil penjualan buku, pamflet, dan terbitan berkala (Morran, J. 2016).
Di daerah kepulauan yang kini disebut sebagai Indonesia pun terdapat beberapa upaya pengarsipan yang dilakukan oleh para anti-otoritarian. Seperti proyek pengarsipan Pustaka Otonomis yang diinisiasi pada tahun 2005, yaitu: sebuah proyek bersama yang bertujuan untuk menciptakan satu big-database dalam basis materi”. Adapun yang menjadi fokus pengarsipan adalah materi-materi anti-otoritarian (seperti tulisan, buku, review, artikel, leaflet, pernyataan, interview, dan lain-lain) yang berbahasa Indonesia dan/atau bahasa asing tapi telah diterjemahkan. Pustaka Otonomis dikelola secara kolektif, dan dikembangkan atas inisiatif bersama (anarkis.org).
Proyek Pustaka Otonomis sendiri kemudian berganti naman menjadi anarkis.org dan/atau pustaka.anarkis.org (Perpustakaan Online Anarkis). Lalu setelah berjalan -+2 tahun, dan mengalami hiatus, koleksi-koleksinya menghilang. Tetapi, kemudian dimulai kembali projek pengarsipan, dengan dibentuknya kolektif Arsip Bawah Tanah pada tahun 2019. Kolektif proyek pengarsipan tersebut penggeraknya tersebar di berbagai kota. Dan mereka bertujuan untuk mengarsipkan teks-teks daring antiotoritarian, agar dapat diakses oleh lebih banyak orang, koleksi-koleksinya sendiri berjumlah 169 dan dapat diakses di Internet Archive (arsipbawahtanah).
Baru-baru ini terdapat satu upaya baru pengarsipan materi-materi anti-otoritarian yang diinisiasi oleh Archipelago Anarchist Archive (AAA). Saya tidak akan menjelaskan upaya pengarsipan tersebut, tetapi akan langsung melampirkan wawancara yang saya lakukan bersama salah seorang penggeraknya: Wahono Karyadi. Wawancara ini saya lakukan di kediamannya, yang berada jauh di utara kota ..., pada bulan ... yang lalu.
*** III
**** Mengapa kalian memutuskan untuk mengarsip?
[Tertawa] Kenapa kami memutuskan untuk melakukan pengarsipan? Pertama-tama, tentu saja karena kami menikmati dan senang melakukan aktivitas ini. Kami memaknai aktivitas mengarsip sebagai aktivitas bermain, dan dari aktivitas bermain tersebut, kami mendapati seperti ada serangkaian sensasi ekstasi kalau bukan meditasi. Semua pikiran-pikiran buruk yang tidak kami inginkan, seketika lenyap, dihantam pekerjaan yang monoton dan repetitif tetapi sekaligus memuaskan. Kami merasa puas ketika melihat berkas-berkas materi digital warna-warni terkumpul dan terpampang di layar kami, dan merasa puas ketika melihat publikasi-publikasi teman-teman yang berbentuk fisik berada di lemari dan rak buku kami—rasa-rasanya lebih indah ketimbang karya seni seni manapun, bahkan kami terkadang menganggap kumpulan materi-materi ini sebagai puisi. Dan, tentu, seasik apapun bermain seorang diri, akan lebih asik ketika bermain dengan individu-individu lain. Itulah mengapa kami tidak melakukan gatekeeping akses, dan menyarankan untuk mengunduh, mencetak, dan menyebarkan materi-materi yang kami arsipkan, agar semakin banyak individu unik yang terlibat dalam permainan, sehingga menjadikannya semakin menyenangkan pula permainan itu nantinya.
Kedua, karena kami ingin menyerang negara menggunakan arsip—mengarsip berarti menyerang! Kami sebelumnya merasa frustasi, karena selalu mengalami kebuntuan dan kegagalan ketika melakukan sesuatu. Gagal mengajak teman-teman mahasiswa (saat beberapa teman kami masih berkuliah) untuk bereksperimen, karena ketidakkonsistenan dan rasa semangat mereka yang hanya meledak di awal. Gagal membangun penerbitan, karena permasalahan modal, keahlian, dan lagi-lagi karena ketidakkonsistenan individu yang terlibat. Gagal berbaur dan bergabung dengan kolektif-kolektif yang ada, karena anxiety dan rasa depresi yang selalu muncul ketika harus berkomunikasi dengan individu-individu lain—terlebih pada individu yang baru kami kenal. Hingga kami kemudian merasa tidak berdaya, dan tidak mengetahui lagi harus berbuat apa.
Lalu kami membaca sebuah teks, yang berbicara perihal “keberagaman taktik”. Menurut penulis, keberagaman taktik merupakan pembahasan yang seringkali muncul dalam wacana anarki(sme), dalam rangka menjembatani keberagaman kecenderungan anarki(sme) itu sendiri. Dalam tulisannya, ia memilih taktik konfrontatif—insureksionis—yang percaya bahwa menyerang lebih baik daripada bertahan, karena negara tidak akan membiarkanmu melakukan sesuatu begitu saja yang mengancam “stabilitasnya”. Tetapi, ia tidak mengenyampingkan taktik-taktik lain, dan berkata bahwa ketika seseorang tidak memilih untuk menjadi insureksionis, mereka bisa memilih melakukan taktik-taktik yang lain, yang sesuai dengan batas dan kemampuan masing-masing. Entah itu melakukan kerja-kerja penerbitan seperti menulis zine, buku atau jurnal, membangun infrastruktur seperti dapur umum, perpustakaan jalanan, dan ruang otonom lainnya, melakukan kerja-kerja pengorganisiran seperti membangun serikat pekerja ketika, serikat mahasiswa dan pelajar, menciptakan safety network, dan lain seterusnya. Dan kami—setelah menyadari serta memahami batasan-batasan dan kemampuan kami—kini memilih untuk melakukan upaya pengarsipan.
Kerja-kerja pengarsipan ini tentu merupakan sesuatu kontribusi yang kecil, sepele dan remeh. Tetapi bukankah dalam anarki(sme), kontribusi sekecil apapun itu, dihargai? Kecil, sepele dan remeh namun kami melakukannya dengan penuh cinta. Dan meski kecil, sepele dan remeh, kerja-kerja pengarsipan ini tetap memiliki resiko—dan bahkan mungkin saja resikonya sama besar dengan aktivitas atau taktik yang lain. Pasalnya dalam kerja-kerja pengarsipan ini, perlu dilakukan praktik-praktik yang dianggap oleh negara sebagai perbuatan yang ilegal dan melanggar hukum: seperti membajak, mendistribusikan materi-materi (bacaan, film, musik, dll) antinegara atau penyebaran gagasan-gagasan terlarang, dan seterusnya. Terlebih, setelah tempo hari terdapat wacana pemblokiran Internet Archive (lumbung arsip utama kami), karena dianggap sebagai lokasi dari penyebaran “paham terorisme”, Pembubaran perpustakaan jalanan tentu bukan sesuatu yang asing bagi kita, dan dalam konteks kerja-kerja pengarsipan ini sendiri, salah seorang kawan kami di kediamannya— entah kenapa bisa—pada bulan mei lalu sempat diteror oleh intel atau reserse.
Ketiga, karena kami setuju dengan Zoe Baker, bahwa kerja-kerja membosankan—yang menurut kami salah satunya adalah mengarsip—itu diperlukan.
**** Dari mana inspirasi kalian berasal?
Tidak tahu juga, kami berbeda-beda—unik, tak bisa disamakan titik keberangkatannya. Tapi secara teoritis, aku sendiri mulai tertarik mengarsip setelah direkomendasikan oleh seorang teman, yang mungkin bisa dibilang cukup senior, untuk membaca Imitation, Imitation-nya Hao Zhenhan. Perkataannya yang mengacu pada kisah menghilangnya tulisan dalam sebuah kitab suci membuat saya menjadi tergila-gila dengan praktik pembajakan. Dan kegilaan tersebut menjadi tambah akut, ketika saya kembali direkomendasikan oleh kawanku itu, untuk membaca The Aleph-nya Katchadjian. Lalu aku mulai menelusuri bacaanku sendiri, yang cukup berpengaruh misalnya buku-buku yang ditulis oleh Macedonio. Berdasarkan bacaan-bacaan itu pula saya jadi tidak segan-segan melakukan pembajakan ketika dibutuhkan dalam kerja-kerja pengarsipan ini.
Sedangkan secara teknik pengarsipan, saya tidak sepertimu, saya tidak berkuliah dan tidak mempelajari kearsipan di universitas, hanya beberapa dari kami yang berkuliah. Pemahamanku mengenai arsip dan pengarsipan sendiri aku dapati ketika aku menjadi satpam di salah satu lembaga pengarsipan seni rupa, waktu itu umurku baru 20 tahunan, sangat muda (tertawa). Di situ aku bertemu dengan seorang perempuan, yang nama depannya mirip dengan salah seorang tokoh anarko-feminis yang kondang. Darinyalah, aku diajari berbagai macam hal, mulai dari cara mengkatalogisasi buku-buku hingga caracara mengarsip. Dia juga menyarankanku buku Rumah Kaca-nya pram, buku yang katanya kamu jadikan topangan tulisan ini [pembicaraan di luar wawancara]. Mungkin kamu akan bertanya, kenapa bisa dia mengajariku hal-hal seperti itu, masalahnya aku pun tidak tahu, dan ketimbang mengajariku soal arsip dan pengarsipan, ia lebih sering mengajakku untuk mencuri buku di perpustakaan lembaga pengarsipan itu [tertawa]. Sayangnya kami berdua harus berpisah, lalu kehilangan kabar, setelah dipecat karena ketahuan berciuman di ruangan arsip berpendingin...
Ya, jadi, bisa dibilang ada dua orang yang menjadi inspirasiku.
Itu menarik, saya jadi penasaran, siapa teman anda itu kalau boleh tahu, sepertinya ia cukup berpengaruh dalam hidup anda?
Namanya Bo.
**** Bagaimana perkembangan arsip-arsip kalian?
Sejauh ini, kami memiliki sekitar 156 koleksi fisik, yang terdiri dari: (1) 36 zine/booklet, (2) 7 majalah, dan (3) 115 buku—dengan total 158. Sedangkan koleksi digital, total ada sekitar 1.000 lebih materi. Koleksi fisik belum bisa diakses, kami berencana untuk mendigitalisasikannya, tetapi belum memiliki alat (scanner). Koleksi digital bisa diakses secara gratis selayaknya udara di archipelago-anti-authoritarianarchive (bisa di-search di internet archive—pewawancara).
**** Dari mana arsip-arsip tersebut kalian dapatkan?
Semua arsip fisik adalah koleksi pribadi, sedangkan arsip digital kami curi dan bajak dari sana-sini.
**** Apa saja kesulitan dalam melakukan kerja-kerja pengarsipan?
Pertama, kami cukup kesulitan ketika mengumpulkan materi-materi fisik untuk diarsipkan. Karena penerbit-penerbit anarkis yang ada kerap menerbitkan buku, zine, atau semacamnya dengan jumlah yang amat terbatas, dan terkadang kami tidak bisa membelinya disebabkan keterbatasan dana pribadi, sehingga pada akhirnya banyak terbitan yang terlewatkan oleh kami. Keterbatasan dana bukan satu-satunya faktor untuk mengumpulkan materi-materi fisik, tetapi juga karena kami baru mulai mengarsip pada tahun 2025 (walau inisiasinya sudah dimulai sejak tahun 2024), sehingga terbitan-terbitan yang muncul—khususnya—pada tahun 2015 ke belakang, jelas tidak kami miliki.
Untungnya ada upaya-upaya [pengarsipan] serupa yang dilakukan oleh individu atau kolektif lain, seperti Page Against The Machine (PATM) misalnya, yang dalam sebuah wawancara mengatakan mempunyai koleksi sekitar 1.000 buku dan zine anti-otoritarian. Semoga saja materi-materi tersebut bisa kita akses secepatnya.
Kedua, ketika berhadapan dengan koleksi arsip digital, kami seringkali mendapati tidak adanya informasi dalam materi (tanggal terbit, penulis, penerbit, dst). Sehingga kami pun perlu mencarinya dari teks-ke-teks, selayaknya detektif, dan ya itu agak memakan banyak waktu. Karena itu pula kami membutuhkan timbal balik atau respon dari pembaca, ketika terdapat kesalahan-kesalahan dalam mengkategorisasi tahun, nama kolektif/penerbit, dll. Selain itu, meski sama-sama memiliki lebih dari 1.000 materi, berbeda dengan PATM yang kebanyakan berbentuk buku dan zine, kami memasukan pula artikel terjemahan dan tulisan pribadi yang tersebar di website atau blog, untuk dipindahkan menjadi bentuk pdf, dan itu cukup memakan waktu pula.
Ketiga, menentukan mana yang terlebih dulu harus kami arsipkan. Karena begitu banyak materi-materi yang bertebar-berserakan, tercecer di sanasini, begitu khaotik. Persoalan ini membuat kami berhati-hati, karena rentan terjerembab dalam kanonisasi. Makanya, kami pun melakukannya dengan mengalir saja, yang bisa diarsipkan akan kami arsipkan terlebih dulu, sisanya menyusul. Karena itu pula, kami tidak terlalu rigid dalam menentukan mana-mana saja materi yang harus diarsipkan. Dan kami tidak berfokus pada satu kecenderungan saja, misalnya pada sindikalis, nihilis, individualis, bla bla bla. Itu biar orang lain saja yang melakukannya, sementara waktu ini kami memutuskan untuk sekadar mengumpulkan.
**** Bagaimana tanggapan Anda dengan orang-orang yang tidak ingin diarsipkan (baca: diingat) karena mereka ingin dilupakan, seperti Generasi Terburuk Sastra Indonesia misalnya?
Tidak Peduli.
**** Ke depannya, apa yang ingin AAA lakukan?
Kami terpikir untuk membuat semacam aktivasi, seperti newsletter atau zine yang berisikan pandangan orang-orang perihal pengarsipan, perpustakaan, dan review-review mereka terhadap bacaan, film, dan pameran. Juga menerbitkan ulang teks-teks yang ada di dalam koleksi arsip kami, membantu individu-individu yang ingin melakukan penelitian, dan lain-lain. Karena arsip jika hanya digelontorkan begitu saja tampak agak tidak berguna. Tetapi karena kami masih kekurangan personil, dan di antara kami tidak ada yang ahli dalam membuat zine maupun newsletter serta buku, sepertinya hal tersebut tidak akan terealiasikan dalam waktu dekat.
Selain itu, kami tertarik untuk membuat semacam inisiatif ekonomi alternatif atau mandiri. Karena, seperti aku bilang tadi, kami memiliki dana pribadi yang sangat terbatas. Dan kami tidak ingin membuka donasi, karena jika bergantung pada donasi sebagai penopang ekonomi, independensi kami akan menjadi rentan; lagipula kami merasa tidak pantas juga sih untuk menerima donasi, karena masih merasa belum berbuat apa-apa selama ini. Makanya, kedepan, kami akan memaksimalkan divisi penerbitan kami, untuk menerbitkan teks-teks terbitan lama dalam rangka mengumpulkan pundi-pundi ekonomi. Walau kami sangat ingin mencari dan mencoba bentuk-bentuk lainnya yang tidak melulu di ranah penerbitan atau kaos-kaos-an.
**** Bagaimana cara orang-orang agar dapat membantu atau berkontribusi?
Individu-individu lain dapat berkontribusi dengan cara mengirimkan materi-materi yang menjadi fokus AAA. Materi-materi tersebut dapat dikirimkan melalui aaarchive@proton.me. selain itu, dapat pula meramaikan Instagram kami: @_a.a.archive. Atau kunjungi langsung Internet Archive kami: [[https://archive.org/details/@archipelago-anti-authoritarian-archive/uploads][archive.org]]
**** Kalimat penutup?
Jika ada yang tertarik untuk terlibat, berkontribusi dengan mengirim materi, atau sekadar berbincang, jangan sungkan untuk menghubungi kami.
*** Referensi
- Dahlan, M. M. (2014). Praktik Kliping dan Daya Budi Kultural. Dalam Arsipelago: Kerja Arsip & Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia. Indonesian Visual Art Archive.
- Shiraishi, T. (1997). Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa, 1912-1926. Pustaka Utama Graffiti.
- Tiggun. (2021). Hipotesis Sibernetika. Pustaka Merahitam.
- Pell, S. (2015). Radicalizing the politics of the archive: An ethnographic reading of an activist archive. Archivaria, 33-57.
- Revista BUNA. (2021). Interview with Anarhiva collective. [[https://theanarchistlibrary.org/library/revista-buna-interview-withanarhiva-collective][theanarchistlibrary.org]]
- Morran, J. (2016). To Spread the Revolution: Anarchist Archives and Libraries. [[https://theanarchistlibrary.org/library/jessica-moran-tospread-the-revolution-anarchist-archives-and-libraries][theanarchistlibrary.org]]
- Anarkis.org. Tentang Anarkis.org. [[https://anarkis.org/pustaka-otonomis][anarkis.org]] Arsip Bawah Tanah. [[https://archive.org/details/@arsip][archive.org]] bawah tanah Archipelago Anarchist Archive. [[https://archive.org/details/@archipelago-anti-authoritarianarchive/uploads?sort--publicdate][archive.org]]