#title Pentingnya Kerja-kerja Membosankan
#subtitle Budaya Tandingan Anarkis Spanyol
#author Zoe Baker
#LISTtitle B
#date Januari, 2025
#source [[https://archive.org/details/pentingnya-kerjakerja-membosankan]]
#lang id
#pubdate 2026-09-27T07:41:54
#topics Budaya; Perawatan; Literasi
#language Bahasa Indonesia
#publication Penerbit Daun Malam
#notes Teks ini ditulis oleh Zoe Baker, seorang transpuan dengan gelar PhD sejarah anarkisme. Topik favoritnya adalah anarkisme, feminisme, dan Marxisme. Diterjemahkan oleh Tim Pekerja Gratisan Daun Malam & diunggah oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).
Seringkali orang tertarik mempelajari sejarah kaum pekerja karena mereka ingin memahami bagaimana caranya mengubah dunia. Kita tahu bahwa sejarah perjuangan kelas tidak hanya berisi serangkaian peristiwa dan tanggal yang tersusun secara kronologis, tetapi juga ada pelajaran yang terekam di dalamnya. Dengan mempelajari sejarah perjuangan kelas, kita dapat membuktikan strategi dan taktik mana yang berhasil dan mana yang tidak, mengapa gerakan bertumbuh dan mengapa gerakan hancur, tantangan apa yang harus dihadapi gerakan sosial, dan lain sebagainya.
Perlunya mempelajari sejarah muncul dari fakta bahwa kaum sosialis tidak dapat menjalankan eksperimen ilmiahnya di sebuah laboratorium untuk kemudian langsung menetapkan rumusan pasti untuk revolusi. Sebaliknya, kita dapat menengok masa lalu di mana upaya-upaya kontemporer untuk mencapai sosialisme telah dilakukan sebelumnya, dan mencoba belajar dari berbagai macam kemenangan dan kekalahan. Studi sejarah memang tidak dapat menciptakan resep pasti untuk revolusi karena resep semacam itu tidak ada, tapi ia dapat membangun gagasan umum yang dapat menjadi informasi bagi tindakan kita di masa kini.
Saat belajar tentang masa lalu, mudah bagi kita untuk segera fokus pada peristiwa besar yang menarik, saat sekelompok besar pekerja melakukan aksi langsung dan kemudian dengan kompak mengubah dunia dan diri mereka sendiri. Selama penelitian, saya menemukan diri saya tertarik pada cerita-cerita pemogokan, kerusuhan, insureksi, kampanye pembangkangan sipil besar-besaran, pemberontakan bersenjata, dan revolusi. Peristiwa-peristiwa ini memang merupakan bagian penting dari sejarah perburuhan, tapi memusatkan diri secara ekslusif hanya pada peristiwa-peristiwa tersebut akan mengarahkan kita pada kekeliruan tentang masa lalu dan bagaimana perubahan sosial bisa terjadi.
Para partisipan gerakan sosialis dalam sejarah tidak menghabiskan sebagian besar waktunya hanya dalam aksi-aksi besar yang dengan cepat mengubah masyarakat dan arah sejarah masa depan. Sebagian besar hidup mereka sebagai revolusioner dihabiskan untuk melakukan lebih banyak aktivitas “membosankan”. Mereka memproduksi, mendistribusikan, dan membaca literatur radikal, mengorganisir dan menghadiri piknik, tampil di klub teater, menonton diskusi publik, mendiskusikan politik dengan kawan, keluarga, dan kolega, menghadiri pertemuan-pertemuan kelompok afinitas atau serikat yang tiada habisnya, menulis dan menerima banyak surat, dan seterusnya. Kegiatan-kegiatan kecil yang biasa saja ini tampaknya tidak terlalu penting jika dilihat satu persatu. Namun, ketika aktivitas-aktivitas kecil ini diulangi hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun oleh sekelompok orang, aktivitas tersebut menjadi penting.
Aktivitas-aktivitas kecil ini memproduksi dan mereproduksi hubungan sosial, kapasitas, dorongan psikologis, dan kesadaran, yang menjadi fondasi gerakan sosial. Tanpa berbagai tindakan yang tampaknya tidak penting, yang dilakukan berulang kali ini, momen-momen besar pemberontakan dan revolusi yang menggairahkan tidak akan pernah terjadi dalam banyak kasus, atau akan terjadi dalam skala yang jauh lebih kecil. Bahkan, peristiwa yang seolah muncul entah dari mana asalnya, secara signifikan adalah hasil bentukan dari perjuangan yang mendahuluinya. Misalnya Komune Paris tahun 1871 yang muncul secara tidak terduga sebagai respons atas peristiwa yang seolah kebetulan: tentara dikirim untuk merebut meriam dari garda nasional di distrik Montmartre dan kerumunan pengunjuk rasa datang untuk menghentikannya. Meskipun Komune hanya berlangsung beberapa minggu, ia adalah puncak perjuangan kelas, yang dibangun dari bawah selama bertahun-tahun, bahkan bisa dibilang puluhan tahun. Di Paris, perjuangan kelas ini mengambil berbagai bentuk, seperti pertemuan publik besar-besaran, perbincangan dan diskusi yang dihadiri oleh ribuan pekerja, produksi dan distribusi buku, pamflet dan surat kabar, pendirian koperasi, pengorganisasian seksi-seksi Asosiasi Pekerja Internasional, dan gelombang pemogokan, demonstrasi, dan kerusuhan (Merriman 2014, 39-45. Untuk ringkasan singkat perjuangan-perjuangan sebelumnya lihat ibid 11-2, 16-7, 25-36).
Kaum anarkis di abad ke-19 dan awal abad ke-20 memahami pentingnya tindakan-tindakan kecil yang diulang terus menerus. Mereka memandang perubahan sosial sebagai sebuah proses yang dapat dibagi menjadi periode evolusi dan periode revolusi. Selama periode evolusi, perubahan berlangsung lambat, bertahap, dan parsial. Seiring waktu, perubahan evolusioner ini membesar dan memuncak dalam sebuah periode revolusioner, di mana perubahan berlangsung cepat, berskala besar, dan mengubah masyarakat hingga ke dasarnya. Perubahan evolusioner dan perubahan revolusioner tidak dipandang sebagai entitas berbeda yang terpisah. Mereka justru dilihat sebagai dua aspek dari sebuah proses yang saling memberi dan mengisi satu sama lain (Reclus 2013, 138-40). Gagasan ini biasanya disampaikan dengan metafora air. Sebagai contoh, pada tahun 1875, Mikhail Bakunin menulis surat kepada Élisée Reclus yang menyatakan bahwa, “[kita] kembali ke masa evolusi—yaitu revolusi yang tidak terlihat, di bawah tanah, dan seringkali tidak terasa keberadaannya. . . meskipun tidak terlihat, tetesan air terus mengalir membentuk lautan” (Bakunin 2016, 251-2). Kaum anarkis menganggap bahwa perubahan evolusioner mencakup spektrum perilaku yang luas, ia tidak hanya merujuk pada aksi langsung yang dapat mengubah struktur dominan masyarakat kelas, seperti mogok kerja yang dapat memenangkan upah lebih tinggi di tempat kerja. Perubahan evolusioner juga termasuk transformasi yang didorong oleh budaya, seperti seorang pekerja yang pemahamannya tentang dunia turut berubah ketika ia terpapar pada buku, puisi, atau lagu.
Penelitian terbaru tentang sejarah anarkisme telah membahas pembangunan budaya tandingan oleh gerakan anarkis di seluruh dunia. Termasuk di dalamnya antara lain gerakan anarkis di Kuba (Shaffer 2019), Argentina (Suriano 2010), Jepang (Konishi 2013), Inggris (Di Paola 2017), dan Amerika Serikat (Goyens 2007; Zimmer 2015). Dalam esai ini, saya akan berfokus pada bagaimana kaum anarkis di Spanyol terlibat dalam perubahan evolusioner melalui pembentukan budaya tandingan kelas pekerja yang radikal. Perlu diingat bahwa praktik yang identik serupa juga diterapkan oleh kaum anarkis di negara lain. Diskusi tentang anarkisme di Spanyol seringkali terfokus pada Konfederasi Buruh Nasional (CNT). CNT adalah serikat pekerja yang didirikan pada tahun 1910 dan mengadopsi program anarko-sindikalis pada tahun 1919 di kongres nasional La Comedia di Madrid. Kongres ini dihadiri oleh 450 delegasi yang mewakili lebih dari 700.000 pekerja. Meskipun mengalami beberapa gelombang represi negara dan terpaksa menjadi ilegal selama beberapa tahun, CNT mampu bertahan dan menjaga keberadaan dirinya. Pada Juli 1936, CNT terdiri dari 982 seksi serikat pekerja dengan total anggota 550.595 pekerja. CNT terus memainkan peran kunci dalam revolusi Spanyol dan perang sipil 1936-1939, di mana para pekerja menciptakan banyak eksperimen swakelola ekonomi yang menunjukkan bahwa sosialisme anarkis layak bekerja dalam skala besar (Peirats 2011, 7-10, 93). Untuk penjelasan lebih rinci tentang swakelola selama revolusi lihat Leval 2012). CNT adalah serikat buruh anarko-sindikalis terbesar dalam sejarah. Untuk memahami bagaimana kaum anarkis di Spanyol dapat membangun sebuah gerakan massa, perhatian kita perlu melampaui gelombang pemogokan, pemberontakan bersenjata, naik turunnya organisasi formal, kongres-kongres penting nasional, berbagai perdebatan strategi-taktik dalam gerakan secara keseluruhan, dan lain sebagainya. Faktor-faktor ini tentu saja sangat penting, tetapi mereka bukanlah sebuah gambaran lengkap. Faktor kunci lainnya adalah bagaimana penciptaan dan penyebaran budaya telah mempertahankan, mereproduksi, dan memperluas gerakan anarkis Spanyol.
Pentingnya kebudayaan bagi perkembangan anarkisme di Spanyol terlihat jelas jika kita mengamati media cetaknya. Antara tahun 1890 dan 1915, 298 majalah dan jurnal diterbitkan di Spanyol. Dari jumlah tersebut, 107 berbasis di daerah Catalonia dan 191 berada di wilayah-wilayah lain di Spanyol, seperti Andalusia dan Valencia. Publikasi-publikasi ini secara kolektif merilis 7328 edisi, di mana 4930 di antaranya bertahan. Terbitannya sebagian besar muncul setiap minggu, dua minggu, atau setiap bulan. Kebanyakan terbitan berkala ini hanya berupa satu lembar kertas yang dilipat menjadi empat halaman (zaman sekarang mungkin disebut “zine” —penj.). Isinya biasanya menampilkan artikel tentang teori anarkis, komentar tentang peristiwa terkini, kritik terhadap kaum borjuis dan pers kaum sosialis pro-negara, surat dan korespondensi dari anggota gerakan, dan berita tentang perjuangan kelas, baik yang terjadi di Spanyol maupun di belahan dunia yang lebih luas. Terbitan berkala yang sederhana ini hidup berdampingan dengan sejumlah kecil jurnal, yang tebalnya delapan, enam belas, atau tiga puluh dua halaman. Selama periode ini, lebih dari 700 buku dan pamflet anarkis juga diterbitkan. Topik-topik yang dibahas beragam: geografi, sejarah, biologi, sosiologi, teori politik, pengendalian kelahiran, hukum, seni, dan sastra. Buku Mutual Aid karya Peter Kropotkin terjual 20.000 eksemplar dalam tiga tahun dan buku The Conquest of Bread melewati cetakan kesebelas dan telah terjual 28.000 eksemplar pada tahun 1909. Sebagian besar kelompok tidak mampu menerbitkan buku karena adanya biaya percetakan dan akhirnya berfokus pada penerbitan pamflet dan terbitan zine berkala. Pamflet Errico Malatesta yang berjudul Between Peasants sangat populer dan telah diterbitkan dalam lima belas edisi yang berbeda antara tahun 1889 hingga 1915. Distribusi pamflet itu sendiri dibantu oleh terbitan zine berkala. Bagian-bagian dari sebuah pamflet akan dicetak di halaman ketiga dan keempat zine. Setelah mengumpulkan zine-zine itu beberapa minggu atau beberapa bulan, seorang pembaca akan mendapatkan keseluruhan bagian pamflet. Mereka kemudian dapat merobek setiap halamannya, menyusunnya menjadi pamflet utuh, dan menjilidnya sendiri dengan tali. Para anarkis tidak membatasi diri mereka hanya pada non-fiksi, mereka juga menerbitkan puisi, drama, lagu, dan cerita pendek sebagai bagian dari terbitan berkala atau pamflet mandiri (Yeoman 2020, 9-11, 41-3).
Mayoritas media cetak anarkis ditulis dan disunting oleh para pekerja secara gratisan di waktu senggang mereka setelah seharian bekerja. Ada beberapa surat kabar yang dijalankan oleh staf yang dibayar penuh-waktu, seperti Solidaridad Obrera mulai dari tahun 1916 hingga seterusnya, namun jumlahnya sangat sedikit. Fakta bahwa terbitan anarkis biasanya diproduksi setelah jam kerja dapat terlihat pada halaman depan terbitan El Corsario, yang menyatakan bahwa “jam kantor”nya adalah dari jam 7 malam hingga jam 9 malam. Sebagian besar ahli teori terkenal, seperti Anselmo Lorenzo dan Ricardo Mella, bukanlah penulis profesional dan harus bekerja penuh-waktu di bidang lain. Selama awal 1930-an, militan anarkis José Peirats membagi waktunya: bekerja sebagai buruh kasar di siang hari, dan menulis artikel untuk beberapa terbitan anarkis penting di malam hari. Dalam hal ini, yang dilakukan Peirats tidaklah unik. Sepanjang akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, salah satu sumber utama konten surat kabar anarkis adalah sejumlah besar surat yang dikirimkan para pekerja kepada editor dan kelompok-kelompok penerbit. Surat-surat ini biasanya berisi teori anarkis, cerita, puisi, seruan solidaritas, berita pengorganisasian dan pertemuan, dan laporan tentang perilaku opresif atau tindakan memalukan yang dilakukan oleh kapitalis dan polisi (Yeoman 2020, 43-4, 56, catatan 33, 248; Esenwein 1989 , 127; Ealham 2015, 72-4).
Para pekerja yang mengirim surat-surat ini dikenal sebagai koresponden dan memainkan peran kunci dalam berfungsinya media cetak anarkis sehari-hari. Melalui surat tertulis, mereka mengirimkan informasi dan refleksi kepada editor surat kabar mengenai keadaan daerah setempatnya. Jika para editor menganggap tulisan tersebut layak cetak, mereka akan mencetaknya dan kemudian mengirimkan salinan surat kabar tersebut ke setiap koresponden yang mereka miliki di seluruh negeri. Para koresponden ini kemudian akan mendistribusikan koran tersebut kepada para pekerja lokal dan mengumpulkan uang dari para pekerja untuk menutup biaya penerbitan dan untuk dana solidaritas yang akan dikelola oleh surat kabar tersebut.
Dana solidaritas ini dikumpulkan di tempat-tempat kerja, pertemuan, teater, acara pernikahan dan pemakaman, dan dipakai untuk membantu keuangan para pekerja yang sedang melakukan pemogokan, tahanan anarkis, dan untuk menyantuni pasangan dari rekan yang meninggal. Oleh karena itu, pers anarkis dibentuk oleh jaringan sosial yang, mengutip perkataan sejarawan James Yeoman, koresponden-koresponden lokalnya adalah “‘simpul’ di mana pers anarkis dapat disalurkan ke lokalitas, dan pemikiran, pengalaman, dan uang dari tiap lokalitas disalurkan kepada para penerbit” (Yeoman 2020, 47). Berbagai kelompok penerbit juga saling berhubungan satu sama lain dan saling mendukung satu sama lain dalam berbagai cara, seperti surat kabar yang lebih besar dan mapan akan mengumumkan kemunculan terbitan anarkis baru. Tentu saja, hubungan positif semacam ini tidak selalu terjadi dan ada waktu-waktu di mana penerbit anarkis akan berpolemik dan beradu argumen satu sama lain. Selama periode ketiadaan organisasi anarkis resmi nasional, jaringan sosial informal berfungsi sebagai struktur organisasi gerakan anarkis skala nasional dan menghubungkan pembaca, koresponden, editor, dan penerbit. Jejaring sosial ini juga beroperasi di tingkat internasional. Surat kabar anarkis yang lebih besar di Spanyol akan menerima korespondensi dan artikel dari kaum anarkis di seluruh dunia dan, pada gilirannya, mereka juga akan mengirimkan salinan surat kabar tersebut ke para pekerja di negara lain. Hal ini terutama terjadi di negara-negara dengan jumlah populasi imigran Spanyol yang signifikan, seperti Argentina dan Kuba (Yeoman 2020, 43-50, 17-8).
Sehatnya budaya cetak anarkis adalah cerminan dari gerakannya. Selama periode tumbuhnya organisasi, jumlah terbitan secara umum juga bertambah. Sementara itu, selama periode represi negara di mana organisasi formal anarkis dan kelompok afinitas terpaksa bersembunyi, jumlah terbitan juga menyusut secara dramatis. Namun, bukan berarti populernya budaya cetak anarkis selalu bertepatan dengan meluasnya organisasi formal anarkis. Antara tahun 1898-1906, jumlah terbitan anarkis meningkat secara signifikan, tetapi selama periode tersebut serikat buruh yang dipimpin oleh para anarkis, Federasi Masyarakat Melawan Regional Spanyol (FSORE), berada dalam kondisi yang benar-benar lemah karena gagalnya pemogokan umum tahun 1902. Kondisi FSORE terus menurun pada tahun-tahun berikutnya hingga akhirnya dibubarkan pada 1907 (Yeoman 2020. 15-9, 162-3).
Jumlah terbitan yang beredar juga tidak selalu menjadi indikator sehatnya budaya cetak anarkis. Pada tahun 1916, organ resmi CNT, Solidaridad Obrera, menjadi surat kabar harian pertama yang sukses bagi gerakan anarkis. Menanggapi terbitan ini, surat kabar anarkis lainnya memutuskan tutup dan mendorong para pembacanya untuk mendukung Solidaridad Obrera. Meskipun jumlah terbitan yang beredar menurun, budaya cetak anarkis pada masa ini adalah yang terkuat yang pernah ada. Jumlah konten yang diterbitkan Solidaridad Obrera dalam sebulan sama jumlahnya seperti yang diterbitkan oleh penerbit anarkis lain dalam waktu setahun. Antara tahun 1916 dan 1919, Solidaridad Obrera menerbitkan sekitar 800 edisi harian. Sebagai perbandingan, koran anarkis antara tahun 1890-1915 pada umumnya hanya mencetak 20 hingga 30 edisi sebelum akhirnya bubar karena masalah keuangan dan/atau represi negara. Kekuatan Solidaridad Obrera bertepatan dengan kekuatan CNT, yang mendanai penerbitan koran tersebut dan memiliki hampir 800.000 anggota pada tahun 1919. Pada tahun itu, CNT mengorganisir pemogokan umum besar-besaran di Barcelona yang berhasil memaksa kelas penguasa Spanyol untuk meloloskan undang-undang delapan jam kerja sehari. Aksi langsung para pekerja di lokasi produksi dibantu oleh para penulis Solidaridad Obrera, yang menerbitkan artikel-artikel selama pemogokan untuk menginformasi pembaca dengan berita terbaru. Menanggapi gelombang pemogokan ini, negara Spanyol merepresi CNT dan melarang operasi Solidaridad Obrera (Yeoman 2020, 15, 51, 53, 248-9. Untuk informasi tentang pemogokan lihat Smith 2007, 292-9).
Jumlah waktu dan energi yang dicurahkan kaum anarkis Spanyol demi penciptaan dan distribusi media cetak ini dapat dipahami mengingat pentingnya teori anarkis dalam pendidikan. Anarkis kulit hitam Amerika, Lucy Parsons, menyatakan bahwa “Kaum anarkis memahami bahwa periode pendidikan panjang” yang mengembangkan “individu-individu untuk berpikir mandiri” adalah syarat yang diperlukan bagi “setiap perubahan fundamental besar dalam masyarakat” (Parsons 2003, 31). Komentar serupa dapat ditemukan di terbitan anarkis Spanyol. Pada 1902, Mella menulis di La Protesta bahwa “(kita) kaum anarkis” harus “bekerja untuk revolusi yang akan datang dengan kata-kata, dengan tulisan, dan dengan perbuatan . . . pers, buku, pertemuan-pertemuan pribadi dan publik saat ini merupakan tanah subur bagi semua inisiatif” (Dikutip dalam Yeoman 2020, 40). Para anarkis berupaya untuk mendidik pekerja melalui media cetaknya, namun mereka menghadapi hambatan yang signifikan: selama periode ini, mayoritas orang dewasa, terutama dari kalangan miskin, tidak bisa membaca ataupun menulis. Pada 1877, 72 persen penduduk Spanyol buta huruf. Jumlah ini secara bertahap menurun menjadi sekitar 63-67 persen pada tahun 1900, dan 59 persen pada tahun 1910 (Bray dan Haworth 2019, 7). Kaum anarkis mengatasi rintangan ini dengan kata-kata yang diucapkan. Terbitan, jurnal, pamflet, dan buku-buku anarkis dibacakan dengan lantang oleh beberapa orang terpelajar di depan sekelompok pekerja yang berkumpul untuk mendengarkan. Setelahnya biasanya ada diskusi kelompok terkait isi terbitan, pamflet, atau buku tersebut. Praktik pendidikan kolektif ini terjadi di rapat-rapat publik, pertemuan pribadi yang lebih kecil, dan bahkan di tempat kerja. Perkembangan kesadaran revolusioner di jam kerja dilakukan oleh sekelompok pekerja yang membagi tugasnya sedemikian rupa sehingga seorang pekerja akan membacakan literatur anarkis sementara yang lainnya bekerja sambil mendengarkan (Esenwein 1989, 129, 132; Yeoman 2020, 46).
Ciri khas gerakan anarkis ini dikomentari oleh rakyat pada masa itu. Seorang reformis bernama Ramiro de Maeztu menyatakan pada tahun 1901 bahwa,
“Buku-buku, pamflet, dan terbitan-terbitan ini tidak dibaca seperti orang-orang lainnya . . . pembaca tulisan-tulisan anarkis—umumnya pekerja—tidak memiliki perpustakaan, juga tidak membeli buku untuk dirinya sendiri. [Saya telah] menyaksikan pembacaan The Conquest of Bread [tulisan Kropotkin] di sebuah pusat perkumpulan pekerja. Di dalam ruangan dengan lilin remang-remang, ada hingga empat belas orang pekerja berkumpul setiap malam di musim dingin. Salah satu dari mereka akan membaca dengan susah payah, sementara yang lain mendengarkan . . . (Dikutip dari Yeoman 2020, 46).”
Juan Diaz del Moral mengamati hal serupa selama periode bahagia setelah revolusi Rusia 1917. Ia menulis,
“Di waktu istirahat siang mereka (los cigarros) dan di malam hari setelah makan malam, yang paling terpelajar akan membacakan pamflet dan koran dengan suara keras, sementara yang lain akan mendengarkan dengan penuh perhatian. Apa yang baru saja dibacakan akan diikuti dengan pidato penutup yang menguatkan dan kata-kata pujian yang tiada habisnya. Tidak semua hal mereka pahami: ada kata-kata asing—beberapa interpretasi kekanak-kanakkan, beberapa yang lain menginterpretasikan dengan jahat, tergantung karakter orang yang mengungkapkannya. Tapi pada akhirnya semua akan setuju, sebab tidak ada cara lain! Yang dibacakan adalah kebenaran yang telah mereka rasakan sepanjang hidup namun tidak pernah bisa mereka ekspresikan. Mereka membaca terus menerus, keingintahuan dan keinginan belajarnya tidak pernah terpuaskan. Bahkan di jalanan, ketika menunggang kuda, memegang tali kekang atau halter dengan longgar, terlihat buruh-buruh tani sedang membaca, selalu ada beberapa pamflet dan makanan di kantong pelana mereka. Jumlah salinan terbitan yang dibagikan tidak terhitung lagi, setiap orang memilikinya. Memang 70-80 persen dari mereka tidak dapat membaca, namun ini bukan halangan. Seorang buta huruf yang berdedikasi akan membeli koran dan memberikannya pada seorang kawan untuk membacakannya. Artikel-artikel yang paling membuatnya tertarik akan diberi tanda. Kemudian, ia akan meminta kawannya yang lain untuk membacakan artikel-artikel yang ditandai, dan setelah beberapa kali dibacakan ia akan telah mengingatnya dan akan mengutipnya untuk disebarkan kepada yang belum tahu (Dikutip dalam Mintz 1994, 120, catatan 3).”
Fakta bahwa artikel-artikel anarkis secara rutin disebarkan dengan kata-kata yang diucapkan memiliki efek mendalam pada cara penulisannya. Sebuah artikel yang diakhiri dengan seruan “HIDUP ANARKI! HIDUP REVOLUSI SOSIAL!” akan terlihat berlebihan bagi para pembaca yang membaca sendirian. Kalimat-kalimat seperti itu akan jauh lebih masuk akal ketika kita membayangkan seorang pembaca meneriakkan kata-kata itu kepada sekelompok pekerja, yang kemudian membalasnya dengan seruan serupa (Yeoman 2020, 46).
Bagi pembaca modern, cara kaum pekerja menyerap ide-ide anarkis pada masa itu mungkin mirip dengan cara kaum pekerja saat ini mendidik diri mereka sendiri dengan mendengarkan podcast atau video di Youtube. Namun, ada sejumlah perbedaan penting. Manusia modern umumnya mendengarkan konten-konten ini sendirian melalui internet. Buruh di abad ke-19 dan awal abad ke-20 mendengarkan pembacaan media cetak anarkis secara berkelompok dalam pertemuan tatap muka. Media penyebaran informasi ini dengan sendirinya menciptakan jaringan sosial pekerja anarkis di suatu lokasi. Sekelompok pekerja ini kemudian dapat memutuskan untuk tidak hanya mendengar dan mendiskusikan teori anarkis, tetapi juga mempraktikkan teori dan mengambil tindakan langsung, seperti mengorganisir tempat kerja mereka atau mengorganisir sebuah pemogokan. Sifat kolektif dari media cetak anarkis terlihat tidak hanya dalam bagaimana ia dikonsumsi tetapi juga saat ia diproduksi. Terbitan berkala menerbitkan berbagai pemikiran dan pengalaman para koresponden di Spanyol dan dunia yang lebih luas. Melalui media ini, kata-kata tercetak, pemikiran dan pengalaman banyak individu dan kelompok kemudian terekam di halaman-halaman kertas. Dengan demikian, mereka diabadikan dan eksis lama bahkan setelah memori menghilang, membusuk, dan terlupakan seiring berlalunya waktu atau hilang bersama kematian. Para pekerja yang memiliki terbitan lengkap, bahkan ketika penerbitnya tutup, memiliki akses ke memori gerakan dan perjuangan kelas untuk meraih emansipasi yang telah terjadi sebelumnya. Kehausan akan informasi dapat terlihat dari fakta bahwa para editor surat kabar rutin menerima surat yang menanyakan masalah tersebut, sehingga perpustakaan anarkis pun dibangun dan koleksi lengkap pun ditawarkan kepada para pengunjung (Yeoman 2020, 53-54).
Kaum anarkis juga menyebarkan ide-ide mereka melalui kelas-kelas belajar, debat publik, dan tur ceramah. Beberapa tur ceramah adalah perhelatan besar, di mana orator dan penulis anarkis paling terkenal berbicara ke seantero Spanyol. Pembicaranya termasuk anarkis-anarkis terkenal dari luar negeri, seperti tur ceramah Malatesta dan Pedro Esteve pada bulan November 1891 hingga Januari 1892, yang dipromosikan oleh surat kabar anarkis El Productor. Tur ceramah lainnya berbentuk jauh lebih kecil. Pada 1892, pengrajin logam Catalan bernama Ignacio Martin mengunjungi kota Gijon dan seorang diri menyebarkan gagasan anarkis ke seluruh pabrik, bar, dan pusat-pusat perkumpulan pekerja.
Melalui tur ceramah ini para orator anarkis berusaha untuk secara bersamaan mempengaruhi kesadaran para pekerja lain dan mendorong mereka untuk membentuk atau bergabung dalam kelompok anarkis, mengorganisir, dan mengambil tindakan langsung. Hal ini dapat terlihat dalam tur ceramah Malatesta dan Esteve. Mereka melakukan perjalanan ke seluruh negeri, berbicara, dan menjelaskan ide-ide dasar anarkis dan menekankan perlunya organisasi dan pemberontakan bersenjata untuk mencapai emansipasi. Setelah kunjungan mereka, kelompok-kelompok anarkis baru atau asosiasi pekerja baru akan terbentuk. Selain mendorong terbentuknya kelompok anarkis baru, Malatesta dan Esteve juga mengunjungi para militan anarkis terkemuka, di mana pun mereka menggelar tur, untuk membangun atau memperkuat jaringan sosial antar kelompok anarkis di seluruh Spanyol. Dengan melakukan itu semua mereka berkehendak untuk menciptakan basis organisasi bagi aksi-aksi pemberontakan di masa depan.
Tujuan ganda dari peningkatan kesadaran dan pengorganisasian ini biasanya difasilitasi oleh distribusi poster, pamflet, dan terbitan pada saat tur ceramah. Tur ceramah menjadi tempat pengarsipan lokal bagi literatur anarkis, di mana pun mereka digelar. Sekumpulan media cetak baru ini kemudian dapat digunakan para pekerja untuk mendidik diri mereka sendiri untuk semakin memahami dan berkomitmen pada anarkisme, bahkan setelah tur ceramah selesai. Terbitan-terbitan berkala juga selalu menyertakan alamat pengiriman surat, sehingga distribusi media cetak dapat menjamin bahwa anarkis lokal baru bisa berkomunikasi dengan anarkis lainnya, dan menjadi bagian dari jejaring sosial yang membentuk gerakan tersebut. Namun, bukan berarti tur ceramah selalu sukses besar. Keefektifannya secara rutin terhalang oleh represi negara. Misalnya dalam kasus sebuah tur ceramah, yang digelar untuk membujuk kaum proletar dan petani di Andalusia agar bergabung ke dalam CNT. Tur ini terpaksa berakhir mendadak ketika semua pembicaranya ditangkap di rangkaian acara pertama (Yeoman 2020, 147-8, 219, 234-5, 246; Turcato 2012, 91-9).
Penciptaan dan penyebaran budaya anarkis tidak terbatas hanya pada media cetak dan tur ceramah. Anarkis di Spanyol mencurahkan banyak waktu dan energinya untuk mengorganisir berbagai macam acara sosial. Beberapa di antaranya adalah panggung teater, puisi, konser, makan malam, festival tari, piknik, grup-grup diskusi, dan grup-grup baca. Berbagai bentuk asosiasi ini umumnya terjadi di tempat-tempat pertemuan publik, seperti kafe dan bar, dan diorganisir secara mandiri oleh kelompok-kelompok kelas pekerja yang disebut “lingkaran”, “afinitas”, atau “pusat-pusat pekerja”.
Selama akhir abad ke-19, salah satu pusat pekerja paling terkenal di Barcelona adalah La Luz, yang menyelenggarakan diskusi harian di sebuah kafe yang menarik pekerja dan profesional kelas menengah dari berbagai kecenderungan politik. Meskipun mayoritas orang yang datang ke pertemuan tersebut adalah kaum republikan, kaum anarkis dapat mengintervensi diskusi secara efektif, menyebarkan gagasan mereka kepada pekerja lain, dan membujuk beberapa dari mereka untuk menjadi anarkis. Kegiatan harian atau mingguan semacam ini diselingi dengan perayaan publik pada tanggal-tanggal penting dalam kalender revolusioner, contohnya seperti peringatan Komune Paris dan May Day. Pada ulang tahun kelima belas Komune Paris, misalnya, kelompok anarkis dari kota Barcelona dan sekitarnya menyelenggarakan festival yang menampilkan paduan suara, orkestra, resital puisi, dan pertunjukkan teater (Esenwein 1989, 128-32; Smith 2012, 156-7, 260). Penyebaran budaya anarkis melalui acara-acara sosial difasilitasi oleh penciptaan ruang-ruang fisik yang dikelola para anarkis. Pada awal 1930-an, para anarkis anggota CNT mendirikan toko koperasi dan toko roti di Sant Adria. Koperasi ini dibangun dari nol oleh sekelompok sukarelawan tukang kayu, tukang batu, dan tukang plester menggunakan bahan bangunan yang dibayar dengan hasil penggalangan dana dari masyarakat setempat. Koperasi ini tidak hanya menjual berbagai produk dan makanan dengan harga terjangkau, tetapi juga menyediakan perpustakaan, bar dengan meja biliar, dan kafe. Kondisi ini memungkinkan koperasi menjadi tuan rumah untuk berbagai acara sosial anarkis, termasuk kelas-kelas belajar malam hari, kuliah, teater dan resital musik (Ealham 2010, 52-3).
Salah satu ruang fisik utama di mana para pekerja dapat bersentuhan dengan ide-ide anarkis adalah di pusat-pusat sosial budaya yang dikenal dengan sebutan “ateneo” atau “athenaeum”, yang juga saling terhubung dengan gerakan serikat buruh anarkis. Sebuah ateneo biasanya memiliki kafe, perpustakaan, ruang baca, ruang rapat untuk anarkis dan kelompok masyarakat setempat, dan auditorium untuk debat formal, ceramah publik, dan pertunjukan seni. Dinding bangunannya dihiasi dengan tanda-tanda anarkisme, seperti potret revolusioner terkenal dan spanduk merah hitam. Selama periode represi negara, ketika serikat buruh dipaksa beraktivitas di bawah tanah, ateneo umumnya masih dapat beroperasi, dan dengan demikian memastikan aktivitas anarkis terus berkelanjutan dalam komunitas-komunitas kelas pekerja. Ateneo didanai dan dijalankan oleh para pekerja di waktu luangnya, seperti Athenaeum Rasionalis La Torassa yang didirikan dan dibiayai oleh sekelompok tukang batu bata pada awal tahun 1930-an, dan furnitur bangunannya disediakan oleh tukang kayu anarkis. Para pekerja yang berpartisipasi dalam ateneo menyelenggarakan berbagai kegiatan pendidikan dan rekreasi di waktu senggang mereka. Kegiatannya termasuk sekolah siang bagi anak-anak kelas pekerja, kelas malam bagi pekerja dewasa, klub teater yang menampilkan drama-drama radikal, kelompok bernyanyi dan bermusik, piknik keluarga, dan klub naik gunung yang memungkinkan pekerja perkotaan yang miskin untuk turut menikmati keindahan alam pedesaan atau pesisir pantai. Beragam aktivitas yang diorganisir ateneo membuat para pekerja yang berpartisipasi di dalamnya dapat mengembangkan diri, contohnya seperti meningkatkan kepercayaan diri dalam berbicara di depan orang banyak, belajar baca tulis, dan memperoleh pemahaman mendalam tentang mengapa kapitalisme dan negara harus dilenyapkan. Dengan melakukan ini semua, mereka mengalami sendiri salah satu tujuan utama anarkisme: pengembangan berbagai sisi manusia sebagai sebuah tujuan itu sendiri.
Dengan berpartisipasi dalam ateneo, para pekerja tidak hanya mengembangkan diri mereka tetapi juga membentuk ikatan sosial satu sama lain dan menjadi bagian dari gerakan anarkis. Banyak militan anarkis, terutama perempuan, pertama kali bersentuhan dengan ide-ide anarkis dan masuk ke jaringan sosial anarkis karena berpartisipasi di ateneo ketika mereka masih berusia kanak-kanak atau remaja. Proses ini difasilitasi oleh media cetak. Majalah anarkis memberitahu pembaca tentang keberadaan ateneo-ateneo. Pada gilirannya, ateneo akan mengajari para pekerja membaca dan menulis, dan menyediakan perpustakaan dengan buku-buku, pamflet, dan terbitan-terbitan anarkis.
Salah satu contohnya adalah pengalaman Soledad Estorach, yang tiba di Barcelona pada usia lima belas tahun dan segera belajar tentang anarkisme melalui jurnal La Revista Blanca. Ia membaca artikel yang ditulis oleh Soledad Gustav dan segera pergi mencari alamat Gustav yang tertera di jurnal tersebut. Gustav kemudian menyuruh Estorach pergi ke sebuah ateneo. Setibanya di ateneo, ia bertemu seorang lelaki tua yang menunjukkan perpustakaan kepadanya. Estorach mengenang dirinya “terpesona oleh semua buku-buku itu” dan merasa “bahwa semua pengetahuan dunia sekarang berada dalam jangkauan saya” (Dikutip dalam Ackelsberg 2005, 86). Pada tahun-tahun berikutnya, Estorach menjadi partisipan penting dalam CNT, dan Mujeres Libres—sebuah organisasi anarkis yang berfokus pada emansipasi perempuan.
Di ateneo, kaum muda tidak hanya menerima pendidikan anarkis, mereka juga mendapatkan pengalaman pengorganisasian anarkis. Pada 1932, sekelompok orang muda yang muncul dari ateneo di Granada, Madrid, Barcelona, dan Valencia membentuk Federasi Pemuda Libertarian Iberia (FIJL). FIJL merupakan organisasi independen yang terhubung dengan CNT dan dipandang sebagai salah satu pilar utama gerakan anarkis. Dalam beberapa kesempatan, ateneo menjadi markas bagi para pekerja yang akan memobilisasi demonstrasi dan pemogokan. Uang yang dikumpulkan oleh ateneo di pemukiman La Torassa tidak hanya dipakai untuk mendanai aktivitas ateneo, tetapi juga digunakan untuk mendukung gerakan sosial yang lebih luas, termasuk untuk membantu komite dukungan tahanan CNT, yang membantu tahanan anarkis dan keluarga mereka. Dengan kata lain, ateneo adalah ruang sosial yang memfasilitasi pendidikan mandiri, rekreasi, dan perjuangan kelas (Ackelsberg 2005, 84-8; Ealham 2010, 45-7; Ealham 2015, 50-5; Evans 2020, 23. Untuk seorang anarkis Spanyol yang menganjurkan pengembangan manusia, lihat Mella 2020, 6-9).
Salah satu layanan utama yang diberikan ateneo kepada para pekerja, baik dewasa maupun anak-anak, adalah kelas-kelas pendidikan. Kelas-kelas ini dilaksanakan sebagai bagian dari kepentingan yang lebih luas dalam hal pedagogi dan sekolah dalam gerakan anarkis. Anarkis menganjurkan pembentukan sekolah sekuler yang bebas dari lembaga agama dan negara, mengajar anak laki-laki dan perempuan dalam ruangan yang sama, dan menekankan pada pengembangan kapasitas fisik dan mental. Pada tahun-tahun awal gerakan, para guru anarkis bekerja di sekolah-sekolah sekuler yang dijalankan oleh kaum republikan. Seiring waktu, kaum anarkis mulai mendirikan sekolah-sekolah mereka sendiri. Salah satu yang ternama adalah Sekolah Modern yang dibangun oleh Fransisco Ferrer di Barcelona. Sekolah ini didirikan bulan September 1901 dengan sebuah kelas yang berisi 30 siswa. Jumlah siswa kemudian meningkat secara bertahap pada tahun-tahun berikutnya, dan pada tahun 1905, ada 126 siswa menimba ilmu di sekolah tersebut. Sekolah ini tidak bertahan lama dan ditutup permanen oleh negara Spanyol pada tahun 1906, setelah adanya upaya pembunuhan Raja Spanyol. Tiga tahun kemudian, pada 1909, Ferrer ditangkap dan dieksekusi dengan tuduhan palsu oleh negara Spanyol. Ferrer dituduh sebagai dalang pemberontakan pekerja yang berlangsung seminggu lamanya dalam melawan tentara cadangan negara yang dipanggil untuk berperang di Maroko. Kejadian ini mengubah sosok Ferrer, dari yang tadinya kurang dikenal menjadi seorang martir terkenal yang menginspirasi anarkis sedunia untuk membangun sekolah modern mereka sendiri. Mayoritas sekolah anarkis di Spanyol tidak didanai sebaik Sekolah Modern Ferrer. Di luar Catalonia, ruangan sekolah biasanya tidak memiliki peralatan memadai dan sekolahnya kekurangan guru yang terlatih.
Ruangan-ruangan sekolah ini juga sering digunakan untuk berbagai tujuan lain. Contohnya adalah sekolah kaum anarkis di Cadiz, yang berlokasi di sebuah ruang pertemuan serikat pekerja logam perkotaan (Avrich 2006, 3-31; Bray dan Haworth 2019, 1-43; Smith 2012, 158-60; Yeoman 2020, 151-6). Terlepas dari keterbatasan ini, sekolah anarkis masih memberikan dampak signifikan bagi para pekerja yang bersekolah di sana. Seorang pekerja berkata, “Saya adalah orang Andalusia yang pindah ke l’Hospitalet ketika berumur 10 tahun. Saya belajar semua yang saya tahu dari para anarkis. Saya berusia 14 atau 15 tahun dan tidak tahu cara membaca dan menulis. Saya belajar di sekolah malam yang diselenggarakan oleh kaum libertarian” (Dikutip dalam Ealhalm 2010, 47).
Bagaimana berbagai aspek budaya tanding anarkis bercampur dan saling mendukung satu sama lain bisa dilihat di Pusat Studi Sosial, yang didirikan pada tahun 1898 di kota besar La Linea. Pekerja anarkis dari berbagai jenis pekerjaan berafiliasi dengan pusat studi ini. Menurut laporan tahun 1901, ada 347 tukang kayu, 450 pekerja bangunan, 200 pelukis, 210 pekerja besi dan logam, 80 pekerja tambang dan tukang batu, 80 pembuat gabus, 120 pembuat sepatu bot, 120 pekerja tembakau, dan 423 pekerja dari berbagai industri lainnya. Kategori pekerja terakhir ini sebagian besar terdiri dari buruh lepas dan buruh tani. Laporan selanjutnya dari tahun 1902 menetapkan bahwa antara 4.000 hingga 8.000 pekerja berafiliasi dengan pusat studi ini. Pada 1901, Pusat Studi Sosial meresmikan sekolah baru yang berlokasi di tempat yang sama. Momen ini dirayakan dengan acara publik besar-besaran yang menampilkan pembacaan puisi, pembukaan potret seorang anarkis bernama Fermin Salvochea dan novelis Emile Zola, dan ceramah mengenai topik-topik seperti tuhan, negara, kapitalisme, dan sejarah anarkisme di Spanyol. Guru utama di sekolah itu adalah Ernesto Alvarez, yang menyunting koran anarkis La Protesta. Alvarez bisa menjadi guru di sekolah tersebut karena gajinya dibayarkan untuk berbagai perkumpulan pekerja yang berafiliasi dengan pusat tersebut. Pada akhir tahun 1901, sekolah baru itu mengajar 180 anak-anak baca tulis, dan mulai mengembangkan diri menjadi pusat pendidikan bagi orang dewasa. Kelasnya termasuk kelas malam Bahasa Prancis, di mana metode pengajaran dan aturan kelas diputuskan oleh para murid sendiri. Gabriela Alcalde, yang juga mengajar di sekolah tersebut, mengisi kelas malam untuk perempuan, mengajar cara menyulam dan menjahit. Kelas untuk perempuan ini diselenggarakan untuk membekali para perempuan dengan keterampilan yang memungkinkan mereka untuk mandiri secara ekonomi dan tidak lagi harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Pada tahun 1902, sekolah, yang mengklaim telah mendidik 400 orang anak dan 22 orang dewasa, ini ditutup oleh negara Spanyol setelah munculnya serangkaian protes dan kerusuhan di kota (Yeoman 2020, 157-9, 183, catatan 309).
Berbagai aspek budaya tanding anarkis umumnya ditopang oleh harapan bahwa mereka yang paling berkomitmen pada anarkisme akan mengubah diri mereka sendiri dan menjadi apa yang disebut sebagai “pekerja yang sadar”. Menjadi pekerja yang sadar berarti setidaknya menjadi seorang partisipan aktif dalam serikat pekerja dan perjuangan kolektif di tempat kerja dan komunitas masyarakat. Ada pula keyakinan bahwa kesadaran ini membawa perubahan gaya hidup, di mana seorang pekerja dapat memimpin dengan menjadi contoh: meninggalkan alkoholisme, tembakau, perjudian, rumah bordil, dan tontonan adu banteng, untuk kemudian memilih membaca, belajar, dan mendiskusikan ide-ide anarkis. Karena alasan inilah, pusat-pusat sosial anarkis biasanya melarang konsumsi alkohol dan menyediakan minuman non-alkohol, seperti jus anggur yang tidak difermentasi (Mintz 2004, 85-7; Smith 2007, 160-1; Yeoman 2020, 131). Terlepas dari upaya-upaya para anarkis yang paling berkomitmen ini, mayoritas pekerja tampaknya masih lebih suka bersenang-senang di malam hari. Misalnya, seorang anarkis militan bernama Manuel de los Reyes sampai menuliskan artikel marah-marah di terbitan El Proletario. Ia merespon soal betapa sedikitnya orang yang menghadiri kelas sosiologi di Cadiz. Dalam artikel tersebut, Reyes menyebut orang-orang yang bolos kelas itu sebagai “pengecut” dan “pengkhianat”. Ia mengeluh, “mengapa kalian tidak hadir bersama masyarakat yang ingin dan mampu mendidik kalian? Mengapa kalian malah ke bar yang tidak lebih dari sekadar pusat kedegilan? . . . kenapa kalian tidak mendidik diri kalian sendiri? (Dikutip dalam Yeoman 2020, 161).”
Beberapa pekerja anarkis lain melangkah lebih jauh dan memeluk serangkaian gaya hidup alternatif yang dikenal sebagai “naturalisme”. Gaya hidup ini mencakup vegetarianisme, nudisme, dan hanya mengkonsumsi makanan mentah (Mintz 2004, 87-8). Kaum anarkis jenis ini secara mengejutkan hadir di resolusi kongres Zaragoza CNT tahun 1936, yang membahas tentang komunisme libertarian. Sebagian besar resolusi CNT mencakup topik-topik seperti pertahanan bersenjata revolusi dan ekonomi terencana skala besar yang dibangun dari bawah ke atas. Resolusi CNT juga menampilkan peringatan mengenai gagasan bahwa “komune naturis/nudis” akan bebas mengatur diri mereka sendiri secara otonom. Masalahnya, tidak akan ada komune yang benar-benar dapat sepenuhnya swasembada, bahkan jika komune itu dihuni oleh kaum nudis yang hanya makan buah dan sayuran mentah sekalipun. Akhirnya, ditetapkan bahwa komune naturalis akan dapat membentuk kesepakatan sukarela dengan federasi-federasi tempat kerja dan dewan-dewan komunitas masyarakat yang akan dibangun oleh mayoritas gerakan anarkis (Peirats 2011, 104-5).
Salah satu upaya utama kaum anarkis dalam mewujudkan cita-cita mereka di kehidupan sehari-hari adalah dengan menerapkan cinta merdeka. Cinta yang merdeka mengacu pada hubungan seksual sukarela antar manusia setara yang terjadi di luar pernikahan. Hubungan ini merdeka dalam artian bahwa, jika salah satu pasangan menginginkannya, mereka dapat secara sukarela memutuskan hubungan, mengakhirinya, dan berkencan dengan orang baru. Hubungan-hubungan ini sangat monogami, dan artikel yang menganjurkan cinta merdeka seringkali mengklarifikasi bahwa mereka tidak mendukung poliamori atau pergaulan bebas.
Walaupun ada beberapa anarkis masa itu yang pada saat ini disebut queer, seperti Lucia Sanchez Saornil yang adalah seorang lesbian, diskusi-diskusi anarkis tentang cinta merdeka masih berfokus pada hubungan heteroseksual antara laki-laki dan perempuan saja. Dalam praktiknya, sejumlah besar anarkis tidak sepenuhnya menerapkan gagasan cinta merdeka dan memutuskan untuk melakukan pernikahan sekuler sukarela yang terjadi di luar lembaga agama gereja katolik (Ackelsberg 2005, 47-52, 172; Mintz 2004, 91-9; Yeoman 2020, 138-41). Di daerah di mana agama Katolik menjadi kekuatan sosial yang dominan, para anarkis yang memutuskan untuk melakukan pernikahan sekuler (disebut juga “persatuan merdeka”) harus menghadapi rasa permusuhan dan prasangka dari anggota masyarakat lain. Contohnya di Casas Viejas, Antonia ingin menikah sekuler dengan Pepe. Ayahnya, yang merupakan anggota serikat buruh lokal yang dipimpin kaum anarkis, menentang gagasan itu dan memukulnya dengan kasar karena ia menolak meninggalkan Pepe. Antonia mengenang,
“…karena saya tidak menjawabnya, ia mulai memukuli saya. Ada beberapa sepatu tergantung di sana, dia mengambilnya dan mulai memukuli saya sampai saya babak belur. Kakak perempuan saya mencengkeram kaki ayah, tetapi dia terus memukuli saya. Dia memukul kepala saya dengan sangat keras dan mungkin dia bisa membunuh saya. Saya lari keluar, ke kebun sayur di lereng. Saya harus berlari mengitari pohon, dan ketika saya berbalik—ayah sedang berlari di belakang saya. Saya sampai di rumah tetangga. Ketika ayah saya sampai di teras tetangga, ia harus berhenti. Dia tidak bisa masuk. (Dikutip dalam Mintz 2004, 97).”
Walaupun mengalami peristiwa traumatis ini, Antonia dan Pepe menikah beberapa hari kemudian dalam sebuah pernikahan sekuler yang dihadiri kaum anarkis lokal. Antonia mengenakan pakaian yang ia pakai ketika melarikan diri karena ia tidak dapat kembali ke rumahnya dengan selamat. Setelah pernikahan, Pepe bertemu ayah Antonia di jalan dan menyapanya, namun ayah Antonia tidak pernah menjawab. Antonia juga mengenang bahwa satu hari dia menyapa ayahnya, namun ayahnya merespon dengan berteriak memintanya pergi dan enyah dari pandangannya. Meskipun pada akhirnya ayah Antonia menerima situasi tersebut dan menyesali perilakunya, peristiwa ini memberi contoh ilustratif tentang hambatan yang harus dihadapi oleh para penganut cinta merdeka dan pernikahan sekuler dalam masyarakat yang sangat relijius dan patriarkal (Mintz 2004, 98-9). Namun, bukan berarti laki-laki anarkis lantas begitu sempurna. Bukti menunjukkan bahwa laki-laki anarkis secara umum bersikap seksis terhadap perempuan dalam gerakannya dan mengharapkan pasangan mereka untuk melakukan sebagian besar kerja pengasuhan anak dan pekerjaan domestik. Pada tahun 1935, Lola Iturbe mengeluhkan bahwa laki-laki anarkis “betapapun radikalnya mereka di kafe-kafe, serikat pekerja, dan bahkan di kelompok afinitas, tampaknya melepaskan kostum mereka sebagai pencinta pembebasan perempuan begitu sampai di depan pintu rumah. Di dalam rumah, mereka berperilaku sama seperti ‘suami’ pada umumnya” (Dikutip dalam Ackelsberg 2005, 115).
Para orang tua anarkis akan menolak upacara pembaptisan agama gereja Katolik ketika mendaftarkan nama anak mereka. Pendaftaran ini seringkali diiringi acara komunal di mana lagu-lagu revolusioner dinyanyikan dan anak-anak setempat akan membacakan teks anarkis dengan suara keras. Sudah lazim bagi orang tua anarkis untuk memberi nama anak-anak mereka nama yang anarkis banget. Beberapa anak diberi nama konsep-konsep abstrak, seperti Anarki, Germinal, dan Persaudaraan. Sepasang suami istri melangkah lebih jauh lagi dengan menamai salah satu anak mereka Proletariat Merdeka, yang sayangnya meninggal tak lama setelah lahir. Orang tua anarkis lainnya menamai anak mereka dengan nama tokoh pemberontak terkenal, seperti Spartakus dan Kropotkin, atau ilmuwan terkenal, seperti Archimedes, Galileo, dan Darwin (Yeoman 2020, 139-41). Kelahiran dan pendaftaran sekuler anak-anak dirayakan dan dilaporkan di koran anarkis sebagai contoh pekerja yang hidup sesuai dengan cita-cita anarkis. Pada bulan April 1910, terbitan Tierra y Libertad melaporkan,
“Seorang bocah lelaki menawan dengan nama ceria, Palmiro, telah dibawa ke pendaftaran sipil Medina Sidonia sebagai putra dari saudara kita Maria de los Santos Bollullo dan Jose Olmo, keturunan pertama dari persatuan merdeka mereka. Kami mengucapkan selamat berbahagia kepada saudara kami atas kekuatan keyakinan mereka untuk melepaskan diri dari prosedur birokrasi kaum pendeta berjubah hitam (Dikutip dalam Mintz 2004, 95).”
Dengan gambaran sejarah di atas, sebuah pemahaman tentang bagaimana gerakan sosial dapat bertumbuh dan mengubah masyarakat secara signifikan memerlukan pemeriksaan: baik peristiwa protes dan pemberontakan besarnya maupun aktivitas sehari-hari yang lebih kecil, yang melestarikan dan memperluas gerakan sosial dari waktu ke waktu. Antara akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kaum anarkis di Spanyol berhasil mengorganisir gerakan massa anarkis terbesar dalam sejarah. Gerakan massa ini berpusat pada gerakan serikat buruh dalam CNT dan organisasi pemogokan demi pemogokan. Kaum anarkis di Spanyol tidak membatasi diri pada konsepsi serikat buruh yang sempit dan juga terlibat dalam berbagai kegiatan lainnya. Salah satu kegiatan utama yang mereka lakukan adalah membangun budaya tandingan kelas pekerja yang bersemangat, yang berpusat pada media cetak, pendidikan, dan seni. Penciptaan dan penyebaran budaya ini difasilitasi oleh pembentuk ruang-ruang sosial anarkis, termasuk koperasi, sekolah, dan pusat-pusat sosial yang disebut “ateneo”. Melalui budaya tandingan ini, kaum anarkis dapat menyebarkan gagasan mereka, menjalin kontak dengan komunitas kelas pekerja yang lebih luas, dan mempertahankan komitmen mereka terhadap anarkisme dari waktu ke waktu, terutama selama periode represi negara. Secara singkat, kegiatan budaya mereka mempromosikan dan mendukung perjuangan kelas dari bawah ke atas, dan membangun keterhubungan dengan gerakan sosial revolusioner. Oleh karena itu, budaya tandingan mereka berbeda dari banyak hal yang dianggap sebagai budaya tandingan saat ini, yang seringkali hanyalah pembentukan identitas melalui jual beli dan konsumsi komoditas.
Tentu saja kaum anarkis masa kini tidak bisa begitu saja meniru persis apapun yang berhasil di masa lalu ke konteks masa kini dan mengharapkan hasil yang betul-betul serupa. Hal yang dulunya dipandang radikal, seperti pernikahan sekuler dan pemakaman sekuler, sekarang adalah hal biasa yang sudah dilakukan di banyak tempat di dunia. Sangat sulit untuk membuat ratusan ateneo dalam konteks di mana bangunan dan tanah sangat mahal harganya dan sangat tingga harga sewanya. Juga, bukan berarti setiap aspek budaya tandingan anarkis dalam sejarah adalah ide bagus. Anak-anak tidak semestinya menderita konsekuensi negatif dari orang tua anarkis yang menamai anak mereka Anarki atau Proletariat Merdeka. Penting juga untuk tidak meromantisasi anarkis dalam sejarah dan mengabaikan kegagalan mereka. Pembuat batu bata Jose Peirats, contohnya, adalah seseorang yang berperan penting dalam sejarah CNT dan pembangunan budaya tandingan anarkis, namun ia juga seorang homofobik yang seksis (Ealham 2015, 206-8). Terlepas dari keterbatasan ini, studi budaya tandingan anarkis dalam sejarah Spanyol dapat berfungsi sebagai sumber inspirasi untuk masa kini. Bahkan walaupun budaya tandingan merupakan syarat yang diperlukan untuk perkembangan dan reproduksi gerakan massa revolusioner, patut diingat bahwa itu saja tidak cukup. Seperti yang dipahami oleh para anarkis dalam sejarah Spanyol, perubahan sosial mengharuskan kaum pekerja untuk mengorganisir dan mengambil tindakan langsung dalam melawan kelas penguasa. Budaya tandingan itu penting, tapi ia bukanlah pengganti dari apa yang disebut Kropotkin sebagai pembentukan “organisasi pekerja” yang terlibat dalam “perjuangan langsung Buruh melawan Kapital dan pelindungnya—Negara” (Kropotkin 2014, 189).