Adalah oksimoronik untuk secara bersamaan menyatakan diri sebagai seorang Egois dan Feminis, jika seseorang mengartikan Feminisme dalam pengertian legal, terlebih lagi jika seseorang itu terinspirasi oleh Max Stirner dalam usaha tersebut. Individualisme yang disajikan oleh Max Stirner menolak setiap dan semua ‘isme’ kolektif. Saya tidak ingin terlihat menyarankan sebaliknya, atau disalahartikan sebagai seorang ‘Feminis Stirnerian’ yang kaku dalam konstitusi. Kendati demikian, kalaupun seseorang menyebut dirinya sebagai seorang yang paling Feminis atau seorang yang paling Egois, masih banyak yang harus dikatakan tentang di mana keduanya dapat bersinggungan.

Egoisme Stirner menekankan pada memudarnya kebutuhan seseorang untuk ‘mengalihdayakan (outsource)’ otoritas. Apakah itu otoritas agama, politik, atau sosial; seorang Egois hanya memandang dirinya sendiri sebagai otoritas eksistensial dan berdaulat. Bukan Tuhan yang lebih tinggi ataupun tren sosial-politik yang mendetermin diri. Meskipun Stirner berbicara tentang para egois yang tidak disengaja[1] (bukan egois yang tepat), namun Ego mereka mencari konfirmasi dari otoritas eksternal, mereka pasti menemukan hal ini sebagai konfirmasi eksternal. Dengan kata lain, dirilah yang memutuskan bahwa ada sesuatu yang harus dicari secara eksternal, dan dirilah yang memenuhi persyaratan untuk melakukannya karena dirilah yang telah mengatur semuanya.


Dikatakan bahwa, seseorang adalah narapidana sekaligus sipirnya.


Dari pengaplikasian kedaulatan individualis ini, saya menarik banyak kritik terhadap gerakan dan ideologi feminis saat ini. Kritik ini bukanlah upaya untuk mematahkan atau melakukan pendefinisian-ulang, alternatifnya, yang terbaik dari kritik ini adalah untuk mencoba melakukan penyempurnaan terhadap yang saat ini masih mentah. Mengenai feminisme, apa yang saya sebut ‘outsourcing’ adalah kejatuhan besar dalam posisi tersebut. Untuk melakukan alih daya, berarti, untuk mengontrakkan pekerjaan atau peran tertentu kepada entitas eksternal. Gelombang feminisme paling awal adalah yang pertama merecall outsourcing tradisional ini. Bukan lagi laki-laki atau Gereja yang dimintai izin oleh perempuan itu. Sebaliknya, perempuan mulai melihat diri mereka sendiri dalam menentukan pilihan dan nasib mereka sendiri.

Ada orang-orang hari ini yang mengkritik feminisme masa kini dan masyarakat umum, karena terlalu berpusat pada diri sendiri (self-centered) dalam mengambil keputusan. Saya tidak menemukan hal ini sepenuhnya benar, mungkin benar, namun hanya pada lapisan superfisial yang paling dangkal. Akan lebih akurat, jika berkata bahwa: orang-orang cenderung mengalihdayakan pengambilan-keputusan ke sejumlah besar kekuatan eksternal yang hampir tak terbatas. Majalah-majalah keluaran terbaru mendikte citra-diri pribadi seseorang, masyarakat memutuskan masa depan apa yang harus terjadi, maka terjadilah pendambaan validasi dari rekan sesama teman; apa yang biasa kita sebut sebagai keegoisan, cenderung menjadi perilaku yang dihasilkan karena outsourcing yang merajalela ini.

Jika diri memandang diri sendiri sebagai otoritas yang berdaulat, maka perempuan sendirilah yang harus membuat keputusan, bukan garis entitas eksternal tanpa ujung yang ingin mencuri jubah pembuat keputusan. Orang mungkin berpikir tentang liberalisme, pemikiran bebas sekuler, narasi kontribusi pada pengetahuan kolektif manusia dan cita-cita Pencerahan serupa lainnya yang berlanjut hingga hari ini meskipun berkostum dalam merek yang sangat komersial dan seperti kawanan. Memang, Max Stirner membuat poin seperti itu. Bahkan, ketegangan dari ‘humanisme pemikiran bebas’ atau yang oleh sebagian orang disebut sebagai ‘progresivisme’, saat ini masih merupakan ‘hantu’ tak berwujud yang sangat siap untuk mengambil peran sebagai arbiter.

Singkatnya, ‘hantu’ adalah abstrak tak berwujud yang hanya memiliki kekuatan karena diberikan kekuatan oleh orang lain secara kolektif, dan secara praktis ia tidak eksis jika sendirian. Apa yang disebut ‘progresivisme’ atau ‘keadilan sosial’, atau bahkan ‘feminisme’, memang menakutkan. Bukan berarti bahwa hal-hal itu negatif, buruk, atau tidak diinginkan; hanya saja bahwa, diri yang menunjuk diri sebagai berdaulat tidak akan mengalihdayakan otoritas pada tren saat ini. Jika konsep Tuhan atau agama bukanlah tuannya, lalu bagaimana mungkin seseorang bisa membiarkan gerakan sosial yang lewat dan pemikiran kawanan yang terlalu bersemangat menjadi tuannya? Seorang feminis yang memperdagangkan satu otoritas eksternal untuk otoritas eksternal lainnya tidak berbuat banyak untuk menjadi otoritas mereka sendiri.

Seorang feminis mendeklarasikan pembebasan-diri dan otonomi personal, untuk berdiri sendiri sebagai diri sendiri, sebebas dan seterpisah seperti laki-laki mana pun. Tentu saja, ini harus diambil dalam konteks. Tak ada seorang pun yang merupakan pulau. Kita hidup dalam kontingensi konstan dan faktor yang saling terkait. Dengan kata lain, interdependensi. Bagaimanapun, seseorang masih dapat mencapai tingkat pemisahan dan isolasi ontologis atau eksistensial tertentu. Dora Marsden adalah seorang feminis awal yang terinspirasi oleh Max Stirner, tetapi kita hanya tahu sedikit tentang analisisnya mengenai karya Stirner; yang banyak kita tahu hanyalah bahwa, ia menganggap karya Stirner itu “dalam”. Dalam aktivisme terakhirnya, ia menanggalkan dirinya dari label feminis, karena tidak menyukai disposisi reaktifnya. Dengan gaya Stirnerian, dia memahami pembebasan diri di ‘di sini dan sekarang’, bahwa diri sudah berdaulat dan tidak memerlukan entitas eksternal untuk membebaskannya. Oleh karena itu, diri sendirilah yang pertama kali mewujudkan kedaulatannya, dan ‘aktivisme’ apapun tentang feminisme yang mungkin terjadi kemudian adalah detail sekunder.


“Waktunya telah tiba, ketika perempuan yang jujur secara mental merasa bahwa mereka tidak berguna untuk dijadikan batu loncatan dari janji-janji besar kekuatan yang dapat ditebus di masa depan yang jauh. Sama seperti ketika mereka merasa bahwa mereka dapat menjadi ‘bebas’ sekarang, karena mereka memiliki kekuatan untuk menjadi, mereka tahu bahwa karya-karya mereka sekarang dapat memberikan bukti kualitas apa saja yang dapat mereka berikan kepadanya. Mencoba menjadi lebih bebas dari kekuatan mereka sendiri berarti bahwa, kebebasan yang dilindungi (protected freedom) dan kemampuan mereka, kredit yang diizinkan karena perempuan adalah kemampuan yang ‘dilindungi’ (protected ability)—merupakan hal yang aneh. ‘Kebebasan’ dan ‘kemampuan’ yang diakui dengan izin, adalah privilese yang menurut mereka tidak berguna.”


—Dora Marsden


Terinspirasi oleh Stirner, Marsden membedakan pembebasan-diri dari emansipasi, atau lebih tepatnya, mereka yang mengakui kekuatan mereka sendiri versus mereka yang menuntut orang lain untuk memberi mereka hak.

Ini membedakan reaktif dan aktif. Yang reaktif adalah orang yang mengamuk terhadap ‘Yang Lain, menuntut emansipasi, mengutuk Yang Lain sebagai penindas, pelanggar, dan mengganggap dirinya sendiri sebagai yang baik dan tertindas secara moral. ‘Mereka yang memerintah dan memiliki posisi kekuasaan, adalah orang yang buruk; dan dengan demikian, hal itu membuat saya menjadi yang baik.’ Ada sedikit kekuatan yang dimiliki dalam posisi reaktif, memang kekuatan apapun yang diperoleh adalah melalui yang negatif, melalui pembelokan dari yang aktif. Egoisme Stirner berkaitan dengan yang aktif, yang disebut Stirner sebagai Kepemilikan/Kenikmatan-Diri. Ini bukanlah perang salib untuk kebebasan atau keadilan sosial. Sebaliknya, ini adalah pusat pada kepemilikan seseorang, kekuatan dan otonomi yang intrinsik dan unik yang dimiliki oleh seseorang.

Memang, seseorang memiliki hak untuk menjadi apa yang dimungkinkan oleh kekuatannya. Posisi aktif melihat diri sendiri sebagai “baik” dalam dirinya sendiri, “kepunyaan”-nya sendiri, tanpa membutuhkan Yang Lain “eksternal” yang harus didefinisikan.

Pengalihdayaan ke pemikiran kelompok yang sedang tren seperti ‘progresivisme’ dan berbagai tren sosial-politik lainnya, bertentangan dengan otonomi. Jika seseorang menyatakan dirinya feminis, seseorang yang mengabaikan kuk[2] otoritas eksternal mengenai perempuan (agama, tradisi, patriarki, konsumerisme, dll.) melakukan kesalahan jika mereka menerima dipakaikan kuk otoritas sosial-politik lainnya, baik itu pemikiran kelompok (groupthink) atau gerakan politik yang berpendapat-umum (hive-minded), tidak peduli penggunaan retorika mereka yang mengklaim pemikiran bebas atau keragaman. Seorang feminis yang paling sejati tidak mengenakan kuk, dan inilah yang membuatnya identik atau bersinggungan dengan Egoisme Stirner.

Ada situasi nyata di mana seseorang memang menjadi korban ketidakadilan, baik ringan maupun berat. Perihal menjadi ketidakadilan yang nyata atau yang dibayangkan nyata, sepenuhnya adalah argumen yang lain. Apa yang harus diberantas adalah kondisi pikiran korban yang konstan, yang secara inheren dan tanpa henti reaktif terhadap Yang Lain. Baik itu kata-kata, tindakan, atau kesan; kondisi ke-reaktif-an korban bersifat perpetual (terjadi terus-menerus): selalu yang teraniaya; selalu yang ‘baik’, murni berdasarkan fakta bahwa ‘mereka yang tertindas’. Definisi diri didefinisikan berdasarkan keinginan terbaru dari Yang Lain; baik itu disebut patriarki, kapitalisme, seksisme sistematis, atau apapun itu labelnya. Ini termasuk referensi slang untuk ‘politically incorrect[3]’. Seorang individu yang berada dalam keinginan agresif, secara retoris telah dengan cuma-cuma memberikan kekuasaan dan otonominya.

Seseorang dapat menjadi pihak yang menerima ketidakadilan atau ketidaksenonohan, dan itu pasti akan merusak individu, tetapi menjadi korban yang perpetual atau yang dibayangkan perpetual adalah kondisi pikiran reaktif yang secara permanen menempatkan seseorang pada belas kasih dari keinginan eksternal. Hal ini biasanya ditemukan dalam feminisme serta liberalisme umum; pengejaran kemartiran yang tak henti-hentinya, memuliakan yang tertindas daripada memuji yang kuat. Sama seperti Bunda Maria, perempuan sekuler adalah wadah dan penerima, orang yang harus menanggung dan memikul beban. Bagi kaum feminis, hal ini tidak dapat diterima. Feminis didefinisikan dengan positif, dengan afirmasi, dan hanya secara sukarela-lah ia dapat membiarkan dirinya memainkan peran yang berlawanan. Feminis bukanlah mangsa yang diburu, dialah yang berburu.

Seorang feminis dalam aktualisasinya yang paling benar, pada akhirnya menjadi makhluk yang terisolasi, egois yang menyendiri di dalam dirinya sendiri. Tidak perlu bagi saya untuk menjelaskan lebih jauh bahwa: maknanya di sini bukanlah ‘kehidupan yang tidak puas’ dengan keegoisan, ketertutupan, kepicikan, dan ketidakberperasaan yang hanya peduli pada diri sendiri. Sebaliknya, ‘makhluk terisolasi’ yang saya bicarakan di sini berarti: mempertahankan pemisahan mereka sendiri, bahkan ketika sepenuhnya terlibat dengan kerumunan sosial dan persahabatan. Di antara orang banyak, dia tinggal sendiri dan berpikir untuk dirinya sendiri tanpa alih daya ke eksternal. ‘Isme’ kolektif ditumpahkan, dan secara teknis itu termasuk feminisme, karena dia tidak lagi melekat pada identitas. Dia mungkin menganjurkan ‘feminisme’ atau ‘isme’ lain demi membantu aktualisasi orang lain, tetapi pada akhirnya dia adalah diri-nya dan hanya dirinya sendiri.


“Pada waktu roh-roh pikiran tumbuh sampai melampaui kepalaku, keturunan siapa mereka; mereka melayang-layang di sekitarku dan mengguncangku seperti fantasi demam – kekuatan yang mengerikan. Pikiran telah menjadi jasmani pada perhitungan mereka sendiri, pikiran itu hantu, semisal Tuhan, Kaisar, Paus, Tanah Air, dll. Jika aku menghancurkan jasmaniah mereka, maka aku membawa mereka kembali ke milikku, dan berkata: “Aku sendiri adalah jasmani.” Dan sekarang aku memgambil dunia sebagai apa adanya bagiku, sebagai milikku, sebagai propertiku; Aku merujuk semuanya pada diriku sendiri.”


—Max Stirner, The Ego and Its Own


Memang, kesimpulan akhirnya adalah sebagai atom yang terisolasi, subjek yang terisolasi. Egoisme Stirner memotong ke tulangnya, memotong seminimal mungkin, dengan cara yang mirip Zen yang tidak pernah mengesampingkan Aku yang Unik. Tidak peduli gender atau sudut kolektivis dari mana seseorang mendekat, Egoisme Stirner adalah sayatan pamungkas yang memisahkan dari keseluruhan. Politik identitas berbicara tentang emansipasi, baik itu ras atau seks, bagaimanapun ajaran Stirner menyatakan pembebasan-diri semaksimal mungkin. Pembebasan itu tidak memerlukan izin, tidak mengemis emansipasi, juga tidak memprotes Yang Lain dan meneriakkan ‘kebebasan untuk semua’.

Tidak, pembebasan itu adalah proklamasi diri, sebagai diri, kepada diri. Ini adalah kegembiraan dari diri itu sendiri, daya dan kekuatannya. Ini adalah tindakan afirmatif daripada negatif. Ini adalah detail esensial yang telah hilang dari feminisme, bersama dengan banyaknya aliran pemikiran masa kini lainnya; dan sebagai akibatnya, menjadi semakin pucat dan lemah.


Catatan Penerjemah




[1] Stirner membagi egoisme ke dalam voluntary egoist dan involuntary egoist. Egois sukarela dan egois yang tak disengaja. Seorang voluntary egoist, tidak tunduk pada otoritas apapun kecuali dirinya sendiri. Sementara egois yang tak sadar adalah seorang egois yang tunduk di bawah otoritas ilusi kebebasan, sejatinya ia tidak bebas walau merasa terbebaskan. [Penerj.]

[2] Kuk adalah palang kayu yang dikenakan pada hewan untuk dapat menarik beban. Makna kuk di sini tidak jauh berbeda seperti yang ada pada Alkitab, yakni untuk menggambarkan kondisi ketaatan dan ketundukan pada Yang Lain eksternal (non-diri sendiri). Sebuah metaforma di mana manusia layaknya hewan yang dipakaikan kuk untuk menarik beban, jika ia tunduk kepada otoritas. [Penerj.]

[3] Politically correct (benar secara politik) merupakan keyakinan bahwa bahasa dan praktik yang dapat menyinggung sensibilitas politik perlu dieliminasi. Berkaitan dengan isu sensitif, seperti SARA. Sementara itu, political correctness (kebenaran politik) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bahasa, kebijakan, atau tindakan yang dimaksudkan untuk menghindari pelanggaran atau kerugian bagi kelompok tertentu dalam masyarakat. Dengan begitu, politically incorrect (salah secara politik) berarti: pengabaian terhadap kebenaran politik, dengan tidak menghindari bahasa atau perilaku yang dapat menyinggung kelompok tertentu. [Penerj.]