Title: Dari Kerusuhan ke Insureksi
Subtitle: Sebuah Analisa Anarkis di Era Kapitalisme Pos-Industrial
Publication: Diogenes Sinope
Language: Bahasa Indonesia
Date: 1988
Notes: Teks aslinya berjudul From Riot to Insurrection: Analysis for an anarchist perspective against post-industrial capitalism, dengan tambahan dua teks penting lain karya Bonanno, "Anarchists and Action dan Destruction and Languange. Diterjemahkan oleh Tito Karnaval dan Klanamor lalu diterbitkan oleh penerbit buku anarkis Diogenes Sinope pada 2021
a-m-alfredo-m-bonanno-dari-kerusuhan-ke-insureksi-1.jpg

Introduksi

Tak ada sedikit pun keraguan bahwa perubahan mendasar sedang terjadi dalam organisasi produksi di planet ini. Perubahan ini paling jelas dan paling terasa di pusat-pusat kapitalisme maju, tetapi logika teknologi informasi dan produksi yang terdesentralisasi sekarang menjangkau apa yang dulunya merupakan daerah pinggiran yang terpencil, hingga kemudian menarik mereka ke dalam komunitarianisme artifisial, yang mana satu-satunya elemen sesungguhnya adalah eksploitasi.

Di “dunia barat”, sektor pekerja tradisional—yang sering menjadi acuan bagi revolusioner otoritarian dan sayangnya masih merupakan elemen prinsipil dalam banyak lingkar anarkis—sedang dibuang dari kawasan kerja mereka: kuburan abu-abu di dermaga, pabrik dan tambang, ke kuburan berwarna dari video rumahan, pusat-pusat kerja yang terang benderang, pusat komunitas, toko multi-etnis, dll., yang daerah pinggirannya dihiasi dengan mural.

Karena pengangguran mulai diterima sebagai perspektif wnon-lapangan kerja, kapital terus menyempurnakan instrumennya dan mengarahkan investasi ke area yang lebih sesuai dengan kebutuhan tahunannya untuk ekspansi. Produksi barang-barang konsumen sekarang diwujudkan oleh tim robot antarbenua, industri kecil yang mengeksploitasi diri sendiri, dan pekerja rumah tangga, dan dalam banyak kasus pekerja di bawah umur.

Serikat pekerja sedang surut, dan partai-partai kiri merayap lebih jauh ke kanan karena wilayah klaim upah dan reformasi sosial menghilang dari peta pemilihan. Yang muncul justru adalah area luas dari “perbedaan pendapat demokratis” dalam istilah politik, sosial dan agama: pasifisme, ekologisme, vegetarianisme, mistisisme, dll. “Konsensus perbedaan pendapat” ini bila kita mengamatinya dalam sudut pandang paling ekstrim, khususnya dalam proposal “delegitimasi” dan “deregulasi” yang dirancang kelas intelektual yang memiliki hak istimewa, sesuatu yang sangat jelas sebenarnya, karena apapun yang mereka tawarkan adalah untuk hak istimewa mereka sendiri.

Masyarakat yang ideal, tampaknya, dari sudut pandang ibu kota, dengan perdamaian sosial sebagai salah satu tujuan utamanya saat ini: atau sebutlah utopia kapitalis yang “dikelola sendiri” ini, yang juga disertai ancaman yang datang dari luar benteng taman mereka. Dan daerah pinggiran macam ini, tidak lagi terbatas pada model macam Brixton, Toxteth, tetapi juga mengambil banyak bentuk: desa pertambangan di utara, labirin raksasa yang suram dari perkebunan kompleks perumahan perkotaan, banyak dari tempat seperti ini sudah menjadi daerah terlarang untuk polisi dan kekuatan penindasan lainnya, sementara area lain yang terus meluas yang hingga saat ini menampung pekerja terampil dan kerah putih yang berpenghasilan tinggi, sedang dalam perjalanan untuk menjadi daerah pinggiran baru. Kawasan pinggiran masa depan, bagaimanapun, tidak harus dibatasi secara geografis, karena sarang kerusuhan dibudidayakan ke dimensi yang suram dan dapat dikelola, tetapi akan ditentukan secara budaya, melalui kurangnya sarana komunikasi mereka dengan masyarakat kapitalis lainnya.

Kehadiran kawasan pinggiran yang semakin meluas ini dan pesan yang menyeruak darinya adalah kelemahan utama dalam perspektif kapitalis baru. Tidak ada mediator. Tidak ada ruang bagi para politisi reformis di masa lalu, sama seperti tidak ada ruang bagi kaum revolusioner reformis yang masih membawa acuan dari model struktur pekerja lama. Sesuatu yang sebenarnya masih cukup gamang. Teriakan dari kawasan pinggiran adalah suara kekerasan yang tidak meminta apa-apa. Kerusuhan atau ledakan kecil yang kini marak terjadi, terutama di negeri ini, tidak memiliki tuntutan rasional. Mereka bukanlah sarana untuk mencapai tujuan seperti kerusuhan roti di masa lalu. Mereka telah menjadi sesuatu dalam diri mereka sendiri, sebuah dorongan yang tidak rasional, seringkali menyerang target penindasan yang mudah diidentifikasi (kantor polisi, kendaraan, sekolah, kantor pemerintah, dll.), Tetapi tidak harus demikian. Kekerasan di stadion sepak bola tidak bisa dikesampingkan dari logika ini.

Kaum anarkis, sejak kerusuhan besar pertama — Bristol, Brixton, Toxteth, Broadwater Farm — telah melihat peristiwa ini secara positif, sering kali bergabung dan menyumbangkan sejumlah batu bata tambahan ke arah garis polisi. Jurnal-jurnal anarkis mengagungkan momen-momen pemberontakan massal ini, namun pada saat yang sama (makalah yang sama) memberikan proposal organisasi yang, bisa saja masih valid pada awal abad ini atau sekitar di tahun 'tiga puluhan, dan sudah pasti tidak memiliki kemiripan dengan kebutuhan masyarakat hari ini. Hal terbaik yang dapat ditawarkan oleh analisis yang paling mutakhir, adalah dengan menggunakan kerusuhan sebagai titik rujukan mereka, untuk menciptakan gerakan khusus anarkis dengan tujuan menanamkan nilai revolusioner baru ke dalam peristiwa yang benar-benar amoral ini. Sekali lagi, kemiskinan kapasitas analitis kita lah yang justru menjadi beban kita sendiri.

Hingga saat ini, ketika kaum anarkis membutuhkan beberapa konten teoritis dalam publikasi mereka, mereka menggunakan pendapat pribadi, atau memberikan ringkasan dari beberapa analisis Marxis, secara kritis, tetapi sering menggarisbawahi bahwa ada beberapa poin dalam Marxisme yang kelewat relevan ketimbang ide-ide anarkis. Ini memberikan konten yang “serius” pada sebuah terbitan, hal tersebut menunjukkan bahwa kita tidak menentang diskusi teoritis, tetapi di saat bersamaan kita juga membiarkan aksi anarkis menjadi mandul. Tanpa analisis, bahkan pada tingkat yang paling dasar dan belum sempurna, kita tidak dapat berharap untuk berhubungan dengan kenyataan. Intuisi saja tidak cukup. Kita tidak bisa berharap untuk bertindak, mendorong kontradiksi ke arah jalan keluar revolusioner, hanya dengan menanggapi peristiwa yang muncul, tidak peduli seberapa keras peristiwa ini.

Analisis Marxis sekarang hanyalah peninggalan usang dari zaman kegelapan industrialisme. Apa yang harus dilakukan adalah mengembangkan tesis kita sendiri, menggunakan kekayaan warisan metodologis anarkis kita sebagai fondasi. Kekuatan besar anarkisme adalah kenyataan bahwa ia tidak bergantung pada satu analisis fundamental yang berlabuh dalam waktu. Anarkisme masih hidup hari ini, seperti halnya dengan empat dekade yanglalu, atau satu abad yang lalu. Yang perlu kita lakukan adalah mengembangkan instrumen yang mengambil apa yang relevan dari masa lalu, menyatukannya dengan apa yang diperlukan agar relevan dengan masa kini. Ini hanya dapat dilakukan jika kita memiliki gagasan yang jelas tentang realitas hari ini. Tentunya bukan seperti yang realitas yang kita inginkan, tapi apa yang sedang terjadi sekarang, dari apa yang muncul sebagai medan pertempuran nyata eksploitasi hari ini, dan untuk medan pertempuran itu, meskipun orang mati dan terluka memiliki aspek yang berbeda dengan yang kemarin, dan tanggapan yang adil dari yang tereksploitasi mengambil bentuk baru yang kurang eksplisit. Kebutuhan untuk bertindak semakin mendesak karena kawasan pinggiran menjadi sangat tersisihkan dan dipisahkan dari bahasa arus utama dan komunikasi orang-orang yang memiliki hak istimewa.

Analisis yang kami sajikan di sini membuka pintu ke arah itu, memberikan gambaran sekilas tentang apa yang terjadi di sekitar dan mendorong untuk mengembangkan penyelidikan lebih lanjut dan berupaya merumuskan bentuk-bentuk baru intervensi anarkis yang terkait dengan kenyataan ini, mencoba untuk mendorongnya ke arah tujuan kami. Revolusi sosial.

Teks ini pertama kali ditulis dan disajikan sebagai tema konferensi anarkis di Milan pada bulan Oktober 1985, yang diadakan oleh rekan-rekan anarkis dari Anarchismo (publikasi dua bulanan anarkis Italia). Bagian kedua adalah sumbangan lisan dari rekan yang sama. Ini menjelaskan sifat teks yang ringkas. Penulis sebenarnya telah mendedikasikan lebih banyak halaman untuk tesis pemberontakan, sebagai kerja-kerja yang ia kembangkan melalui keterlibatan aktifnya dalam perjuangan di Italia selama dua dekade terakhir.


Jean Weir

Catatan Singkat Penerbit

Sebuah Teks yang Ketinggalan Jaman?

“Siapapun yang mengendalikan masa lalu, mengendalikan masa depan, siapapun yang mengendalikan hari ini, mengendalikan masa lalu, bersaksilah sekarang!”
-RAGE AGAINST THE MACHINE

Tadinya kami hanya ingin menerjemahkan introduksi dari Jean Weir perihal teks ini. Namun setelah permenungan bersama, kami memutuskan untuk sedikit memperjelas atau menawarkan sebuah proposal analitik yang bisa dikembangkan oleh kaum anarkis sendiri. Selain kami juga ingin menerangkan beberapa alasan mengapa kami menerjemahkan beberapa istilah-istilah yang sesungguhnya sulit sekali ditemukan padanannya ke dalam bahasa Indonesia.

Apakah teks ini ketinggalan jaman? Tentu saja tidak. Selama ini sebagian besar kaum anarkis di Indonesia hanya mengekor pada analisis Kiri/marxian yang tidak hanya sudah usang dan nyaris mampus— terkecuali sebagian Kiri non-partai yang ngotot untuk terus-menerus menambal-sulam ideologi tokoh mereka—dan sulit untuk bisa dikatakan relevan dalam membaca situasi global dan lokal, apalagi memakai pendekatan yang lebih desentralis dan geografis. Tentu saja, kita bisa membaca Empire karya Michael Hardt dan Antonio Negri mengenai transisi kapitalisme industrial ke pos-industrial (atau yang sering mereka sebut kapitalisme pos-informasional), meski kita tak dapat menjadikannya acuan untuk praktik anarkis hari ini di dalam konteks lokal dan global yang mana sebagian anarkis sudah banyak meninggalkan gagasan-gagasan wacana besar dan trennya justru lebih mengarah pada teori-teori dekolonisasi anarkis dan menolak teori maupun ideologi yang bersifat eurosentrik.

Apa yang menarik dari setiap tulisan Bonanno adalah dia selalu berada di garis abu-abu, seolah selalu mempertanyakan, sehingga di sini kita masih sering bertemu dengan istilah seperti “perjuangan kelas” ataupun “proletariat”, meski dalam teks ini dia lebih menegaskan atau lebih tepatnya berupaya menjelaskan kelas-kelas yang tak lagi bisa dikategorikan ke dalam subyek-subyek revolusioner ala marxian. Di teks ini dia sering memakai the included (mereka yang “termasuk”) dan the excluded (mereka yang “terbuang”), cukup masuk akal ketika kita memang telah memasuki tahapan kapitalisme mutakhir dimana kategori kelas-kelas masa lalu sudah sulit digunakan untuk membaca pergerakan dan perkembangan masyarakat pos-industrial.

Meski demikian, ada prediksi-prediksi Bonanno yang luput dan keliru (tentu saja), seperti ketika Ia memprediksikan tentang perkembangan kapitalisme pos-industrial akan memungkinkan sebuah bentuk kapitalisme ekologis yang benar-benar bersih. Pada kenyataannya, tahapan perkembangan teknologi dan industri selalu bersifat eksploitatif, sehingga alam pun akan turut serta dimusnahkannya. Namun prediksinya tentang kelas intelektual yang akan menjamin keseimbangan ekologis ini, benar adanya, seperti bagaimana kita melihat sepak terjang LSM lingkungan yang sama sekali tidak berguna dan memang sengaja diinisasikan oleh kelas intelektual yang berkolaborasi dengan kapital. Berbicara tentang teknologi dan pemotongan bahasa, sampai pada dimana ada potensi bagi mereka yang “termasuk” untuk menjadi pembelot kapital memang benar- benar terjadi. Pemutusan bahasa dan kata-kata yang direduksi ini dapat kita lihat hari ini dari bentuk media sosial, aplikasi-aplikasi, dsb. Kecerdasan buatan, rekayasa genetika, dan semua bentuk teknologi baru yang sekarang ini telah sedemikian rupa dimanfaatkan kapital secara maksimal untuk mengeksploitasi dan mengontrol seluruh populasi.

Bonanno juga melihat berkembangnya kerusuhan irasional yang sekarang ini semakin menjadi lebih ganas, ketika horor masa lalu kembali menghantui masa depan: tumbuh-berkembangnya fasisme secara global, dari identitas agama, supremasi ras, dsb. Ini yang sebenarnya menjadi keresahan Bonanno, perihal bagaimana kaum anarkis dapat berkecimpung dalam kerusuhan atau justru menciptakannya dan mengarahkannya pada gelombang insureksi yang menjurus pada penyerangan tanpa ampun terhadap kapitalisme.

Ah, rasanya kami membahasnya terlalu panjang. Semoga teks ini bisa berguna untuk memperluas wawasan dan menciptakan inisiatif baru untuk mengembangkan analisis-analisis anarkis yang berguna secara praksis.


Salam Swa-eksploitasi!

Diogenes Press
12 April 2021

I. Periode Perubahan: Sebuah Analisa Perihal Ilusi-Ilusi Pos-Indusirial dan Kemajuan Praktek Revolusioner

Perubahan-Perubahan di Dalam Masyarakat

Dalam evolusi kontradiksi sosial selama beberapa tahun terakhir, kecenderungan tertentu telah sedemikian rupa diangkat ke permukaan sehingga sekarang, kecenderungan tersebut dinilai sebagai perubahan aktual.

Struktur dominasi telah bergeser dari pola yang sewenang-wenang menjadi hubungan yang didasarkan pada penyesuaian dan kompromi. Hal ini menyebabkan peningkatan yang cukup besar dalam permintaan di sektor jasa bila dibandingkan dengan permintaan tradisional seperti barang konsumen yang tahan lama. Hasilnya adalah peningkatan aspek-aspek produksi berbasis teknologi informasi, robotisasi sektor produktif, dan keunggulan sektor jasa (perdagangan, pariwisata, transportasi, kredit, asuransi, administrasi publik, dll.) lebih dari peningkatan dalam industri dan pertanian.

Ini tidak berarti bahwa sektor industri menghilang atau menjadi tidak signifikan hanya saja akan terjadi pengurangan drastis para pekerja industrial sementara tingkat produksi tetap sama, atau bahkan meningkat. Hal yang sama juga terjadi pada pertanian, yang akan sangat dipengaruhi oleh proses industrialisasi, dan dapat dibedakan secara industrial bukan dari bentuk sosialnya melainkan statistik.

Situasi ini berkembang lebih sebagai “transisi”, bukan sesuatu yang dipotong dan dikeringkan, tetapi sebagai tren. Tidak ada pemisahan yang jelas antara periode industri dan periode pos-industrial. Pada fase ini yang kita lampaui secara jelas adalah restrukturisasi institusi-institusi yang sudah usang: kendati demikian, tahap ini belum mencapai pada penutupan semua pabrik dan pembentukan wilayah produksi yang sepenuhnya terkomputerisasi. Kecenderungan untuk memecah unit produksi dan permintaan untuk swa-eksplotasi relasi kecil yang mengeksploitasi diri dalam proyek produktif terpusat akan mendominasi dalam beberapa tahun mendatang. Tetapi dalam sektor industri, hal ini akan disertai dengan penyesuaian yang lambat, menggunakan cara-cara tradisional, karena cara ini cukup ideal dan mawas bagi strategi kapital. Argumen ini lebih berkaitan dengansituasi Inggris dan Italia yang masih jauh di belakang model Jepang dan Amerika Serikat.

Pulau Orang Hilang

Setelah terhampas dari pabrik melalui proses yang lambat dan mungkin tidak dapat diubah, para pekerja masa lalu dimasukkan ke dalam atmosfer yang sangat kompetitif. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas produktif, satu-satunya produk yang dapat dikonsumsi menurut logika komputerisasi dari pusat-pusat produksi. Konflik yang teratomatisasi (dan bahkan lebih mematikan) di dalam kapital itu sendiri akan memadamkan alternatif, perjuangan revolusioner, dengan maksud memperburuk perbedaan kelas dan membuatnya sulit untuk dijembatani.

Keuntungan terpenting bagi penduduk “pulau” yang produktif, adalah “kebebasan” mereka yang seolah-olah lebih besar, jam kerja yang fleksibel, perubahan kualitatif (selalu dalam logika persaingan pasar seperti yang diarahkan oleh pusat pemberi pesanan) memperkuat keyakinan bahwa mereka telah mencapai tanah perjanjian: Era kebahagiaan dan kesejahteraan. Keuntungan yang terus meningkat dan “kreativitas” yang semakin diperburuk.

Pulau-pulau kematian ini dikelilingi oleh tembok perbatasan yang bersifat ideologis dan fisik, guna memaksa mereka yang tidak memiliki kapasitas produktif di tempat tersebut, dilempar kembali ke lautan yang menggelora di mana tak ada satu pun dari mereka yang akan bertahan.

Dua Potensi Revolusi

“Yang termasuk dan yang terbuang”

Yang pertama adalah mereka yang akan tetap terbuang. Diusir dari proses produktif dan dihukum karena ketidakmampuan mereka untuk memasukkan diri mereka sendiri ke dalam logika kompetitif kapital yang lebih mutakhir, mereka seringkali tidak siap menerima tingkatan bertahan hidup minimum yang diberikan kepada mereka dengan “bantuan” Negara (mereka ini semakin menjadi bagian peninggalan masa lalu di era dimana “kewira-usahaan” cenderung menjadi sesuatu yang dianggap lebih baik). Ini tidak hanya akan menjadi strata sosial yang mengutuk “pekerja masa lalu” melalui asal-usul etnis mereka — hari ini, misalnya, orang India Barat dalam masyarakat Inggris, sebagai etnis pemicu kerusuhan baru-baru ini di negara itu — tetapi dengan perkembangan perubahan sosial yang kita bicarakan, strata sosial yang dulu dibuai dengan jaminan atas upah dan sekarang menemukan diri mereka dalam situasi perubahan yang cepat dan radikal, sehingga membuat mereka tidak lagi memiliki banyak alternatif. Bahkan dukungan yang berasal dari strata sosial terkini (seperti pensiun dini, tunjangan pengangguran, dan berbagaijenisjaminan sosial, dll.) tidak akan membuat mereka menerima situasi diskriminasi yang semakin meningkat. Dan janganlah kita lupa bahwa tingkat konsumerisme dari strata sosial yang terbuang ini tidak dapat dibandingkan dengan kelompok etnis yang bahkan sama sekali tidak termasuk ke dalam lingkungan upah yang terjamin. Perkembangan ini akan menyebabkan ledakan “penyakit sosial” dari jenis yang berbeda, dan semuanya akan kembali kepada kaum revolusioner untuk menyatukan ini dengan wabah pemberontakan yang lebih krusial.

Lalu ada golongan yang termasuk, sebuah golongan yang akan tetap tercekik di pulau-pulau privilese. Dari titik berangkat ini, perdebatan akan cenderung menjadi lebih rumit dan hanya dapat dikontekstualisasikan dengan jelas hanya jika argumennya jelas dalam membahas bahwa manusia memang memerlukan kebebasan dan kebutuhan mendasar mereka. Sudah pasti bahwa para “pembelot” dari sektor ini yang akan menjadi salah satu aktor paling beringas dalam menyerang kapital dalam bentuk barunya. Kami sedang menuju periode bentrokan berdarah dan penindasan yang sangat keras. Perdamaian sosial, yang diimpikan di satu sisi dan ditakuti di sisi lain, tetap menjadi mitos yang paling tidak dapat diakses dari utopia kapitalis baru ini, pewaris logika liberalisme “pasifik” yang membersihkan ruang tamu sementara ia disembelih di dapur, memberikan kesejahteraan di rumah dan pembantaian terjadi di koloni-koloni mereka.

Peluang-peluang baru ini yang hanya memberikan kebebasan sehari-hari yang terbatas, menyedihkan, dan menjijikkan ini akan dibayar dengan diskriminasi yang sedemikian kejam dan sistematis terhadap strata sosial yang luas. Cepat atau lambat ini akan menumbuhkan kesadaran eksploitasi di dalam strata yang bahkan memiliki privilese, yang berpotensi menyebabkan pemberontakan, meski hanya terbatas pada sebagian kecil dari mereka. Dengan demikian, harus dikatakan bahwa tidak ada lagi dukungan ideologis yang kuat untuk perspektif kapitalis baru seperti yang ada di masa lalu, yang mampu memberikan dukungan kepada para penghisap dan, yang lebih penting lagi, pada berbagai varian aktivis. Kesejahteraan itu sendiri tidak lagi cukup, terutama bagi banyak kelompok orang yang, di masa lalu atau yang baru-baru ini, telah mengalami atau sekadar membaca tentang utopia pembebasan, impian, dan upaya revolusioner, betapapun terbatasnya, pada proyek-proyek insureksional.

Mereka yang memiliki privilese tidak akan membuang waktu untuk menjangkau yang lain. Tidak semua golongan yang termasuk akan hidup bahagia dalam kebahagiaan buatan kapital. Banyak dari mereka akan menyadari bahwa penderitaan adalah salah satu bagian dari penjara-penjara masyarakat yang ditujukan untuk kesejahteraan yang lain, dan mengubah kebebasan (di dalam pagar kawat berduri) menjadi penjara virtual.

Kewaspadaan Negara

Selama beberapa tahun terakhir proyek industri juga telah dimodifikasi dengan penggabungan kon- trol-kontrol negara dan metode yang terkait dengan kepentingan politik dalam mengontrol konsensus.

Dilihat dari segi teknis, kita dapat melihat bagaimana organisasi produksi sedang bertransfor- masi. Produksi tidak lagi harus dilakukan di satu lokasi (pabrik), tetapi semakin tersebar di seluruh wilayah, bahkan pada jarak yang cukup jauh. Hal ini memun- gkinkan proyek-proyek industri untuk berkembang dengan pertimbangan distribusi pusat-pusat produk- si yang lebih baik dan lebih seimbang di dalam suatu wilayah, memberantas beberapa aspek kekacauan so- sial yang telah ada di masa lalu seperti daerah kumuh dan konsentrasi-konsentrasi industri yang sangat ketat, wilayah yang populasinya besar, dan pencema- ran serta perusakan sistematis atas ekosistem. Kapi- tal sekarang ini sedang berupaya menuju masa depan yang ekologis, membuka diri pada para ahli lingkun- gan dari berbagai macam spesialisasinya dan seolah menjadi juara dalam menjaga sumber daya alam, se- hingga membangun kota-kota masa depan dengan “wajah manusiawi” —entah dalam bentuk yang sosia- lis atau tidak, tampaknya sangat memungkinkan.

Motivasi nyata yang mendorong proyek kapitalis menjangkau negara-negara yang jauh, sesuatu yang menyerupai utopia masa lalu, sebenarnya sangat sederhanadan samasekali tidak bersifatfilantropis: itu adalah kebutuhan untuk mengurangi ketidakpuasan kelas seminimal mungkin, memandulkan unsur-unsur konfrontasi (terhadap kapital) yang efektif dengan membuat perkembangan progresif, yang berwajah manis, yang justru berdasarkan atas keyakinan buta pada teknologi masa depan.

Cukup Jelas bahwa proposal yang paling menarik akan dibuat untuk mereka yang termasuk, sebuah siasat untuk membuat mereka tidak membelot, yang sesungguhnya akan menjadi duri nyata kapitalisme masa depan. Dalam konteks perorangan, bila mereka datang dari dalam lingkungan proses produksi, dan malah mengubah tujuan mereka ke arah revolusioner, merekalah yang akan memiliki senjata revolusi nyata untuk digunakan untuk melawan setiap aturan eksploitasi.

Sejauh ini harapan utopis untuk mengatur dunia melalui teknologi yang “baik” telah terbukti mustahil, karena aturan teknologis itu tidak pernah memperhitungkan masalah dimensi fisik bagi mereka yang berada di kawasan kumuh, hunian bagi mereka yang terbuang. Kawasan tersebut dapat saja didaur ulang menjadi proyek taman dalam campuran yang tidak sehat antara kebahagiaan dan pengorbanan, tetapi siasat seperti ini terbatas pada titik tertentu.

Ketegangan dan ledakan amarah yang berulang- ulang akan membuat utopia kenyamanan para pengeksploitasi menjadi ancaman yang serius.

Akhir dari Kompetisi Irasional

Sudah lama terbukti kompetisi dan monopoli mengancam untuk menarik proyek produktif ke dalam serangkaian “krisis” yang berulang. Krisis produksi dalam banyak kasus bagi mentalitas kapitalis lama itu, penting untuk mencapai apa yang disebut “neraca ekonomi”, dan ini hanya memungkinkan bila bekerja dengan kapasitas produksi yang lebih besar untuk penyebaran biaya sekecil mungkin dan stabil. Hal ini mengarah pada standarisasi produksi: akumulasi unit-unit produktif di lokasi tertentu, didistribusikan secara sembarangan menggunakan logika penjajahan “contohnya katedral-katedral klasik di gurun-gurun Sisilia”: kawasan industri yang terisolasi, penyulingan bensin, dll. Yang akan digunakan sebagai titik pengumpulan), keseragaman produk: pembagian modal dan tenaga kerja, dll.

Penyesuaian pertama untuk ini datang dari intervensi besar-besaran negara. Kehadiran negara telah membuka banyak peluang. Negara tidak lagi sekadar menjadi penonton pasif, sebagai “kasir” kapital, tetapi telah menjadi operator aktif, sebagai “bankir” dan pengusaha.

Pada hakikatnya penyesuaian tersebut berarti semakin berkurangnya nilai guna, dan peningkatan produksi nilai tukar untuk kepentingan memelihara perdamaian sosial.

Dalam mengakhiri periode paling kompetitifnya, kapital telah menemukan solusi parsial untuk masalahnya. Negara telah turut membantu untuk tujuan sepenuhnya yaitu mengubah produksi ekonomi menjadi produksi perdamaian sosial. Proyek utopis ini jelas tidak terjangkau. Cepat atau lambat mesin akan hancur.

Proses produktif baru — yang sering didefinisikan pos-industrial — memungkinkan biaya produksi yang rendah bahkan untuk barang dalam jumlah kecil: dapat memperoleh modifikasi yang cukup besar dalam proses produksi hanya dengan suntikan modal yang rendah: membuat perubahan yang sampai sekarang tidak terlihat pada produk menjadi memungkinkan. Ini membuka cakrawala “kebebasan” yang tak terbayangkan bagi kelas menengah, bagi kader yang produktif, dan di dalam isolasi keemasan kelas manajerial. Tapi ini seperti istana kebebasan bagi para ksatria Teutonik dari jenis Nazi. Dikelilingi oleh tembok rumah besar, bersenjata lengkap, hanya makam kedamaian yang memerintah di dalamnya.

Tidak ada perancang ideologi kapitalisme pos- industrial yang bertanya pada diri sendiri apa yang harus dilakukan terhadap bahaya yang akan datang dari balik tembok itu.

Kerusuhan di masa depan akan semakin berdarah dan mengerikan. Terlebih lagi ketika kita tahu bagaimana cara mengubahnya menjadi pemberontakan massal.

Kesadaran dan Pemiskinan Ruang Hidup

Ini bukan untuk mendefinisikan secara negatif para pengangguran yang akan terbuang dari istana ksatria Teutonik, tetapi pada prinsipnya, kurangnya akses nyata dalam mendapat informasi.

Model produksi baru akan mengurangi ketersediaan informasi. Ini hanya sebagian dampak dari komputerisasi masyarakat. Ini adalah salah satu syarat dasar dari dominasi baru dan yang telah berkembang setidaknya selama dua puluh tahun, menemukan klimaksnya dengan mengemban sekolah yang sama sekali tidak memiliki operasional yang konkret.

Sama seperti saat kedatangan mesin yang menyebabkan penurunan kapasitas untuk menentukan nasib sendiri bagi para pekerja selama revolusi industri, sehingga memaksa massa pekerja masuk ke dalam pabrik, menghancurkan budaya petani, dan memberi kapital tenaga kerja yang secara praktis tidak mampu “memahami” pesan dari dunia mekanis baru. Perkembangan ini mulai menghantui: jadi sekarang revolusi komputer, yang dicangkokkan pada proses penyesuaian kontradiksi kapitalis oleh Negara, akan menyerahkan proletariat pabrik ke tangan sebuah mesin jenis baru yang dipersenjatai dengan bahasa yang hanya dapat dipahami oleh segelintir orang yang memiliki privilese. Sisanya akan diakselerasi kembali dan terasimilasi ke kawasan kumuh.

Pengetahuan lama, bahkan yang disaring dari kaum intelektual melalui cermin ideologi yang berubah bentuk, akan dikodekan dalam bahasa mesin dan dirancang sesuai dengan kebutuhan baru. Ini akan menjadi salah satu kesempatan bersejarah untuk menemukan, diantaranya, adalah semakin langkanya bahasa yang sesungguhnya, yang pada akhirnya diintegrasi ke dalam omong kosong ideologis yang telah disodorkan kepada kita selama dua abad terakhir.

Kapital akan cenderung meninggalkan segala sesuatu yang tidak dapat langsung diterjemahkan ke dalam bahasa umum yang baru ini. Proses pendidikan tradisional akan di devaluasi dan direduksi sehingga, mengungkap (dan secara selektif) substansi mereka yang sebenarnya sebagai hanya barang dagangan.

Sebagai pengganti bahasa, model perilaku baru akan disediakan, dibentuk dari aturan yang sesuai, dan terutama dikembangkan memakai proses lama dari demokratisasi dan permusyawaratan, yang telah dipelajari oleh kapital untuk dikontrol dengan sempurna. Ini akan bermanfaat ganda karena akan memberikan juga kesan bahwa mereka yang memiliki privilese turut “berpartisipasi” dalam urusan publik.

Masyarakat yang terkomputerisasi di masa depan bahkan dapat memiliki laut yang bersih dan perlindungan yang “nyaris” sempurna dari sumberdaya lingkungan yang terbatas, tetapi itu akan menjadi hutan larangan dan aturan, mimpi buruk yang mengerikan dari keputusan individu karena berpartisipasi dalam masyarakat. Karena kehilangan referensi bahasa yang sama, kaum kawasan kumuh tidak lagi dapat membaca pesan-pesan tersirat dari kekuasaan, dan pada akhirnya tidak akan ada jalan keluar selain kerusuhan spontan, irasional dan destruktif sebagai tujuan itu sendiri.

Kolaborasi dari para anggota yang terbuang, yang muak dengan kebebasan kapital yang dibuat- buat, yang menjadi pemantik revolusioner dari sebagian kecil teknologi yang berhasil mereka rebut dari kapital, tidak akan cukup untuk membangun jembatan atau menyediakan bahasa yang menjadi dasar pengetahuan dan informasi tandingan yang akurat.

Pemberontakan terorganisir di masa depan harus menyelesaikan masalah ini, harus membangun— mungkin mulai dari awal—istilah-istilah dasar dari sebuah komunikasi yang akan segera dimusnahkan, dan yang tepatnya pada saat pemusnahan, dapat memberikan kehidupan, melalui reaksi spontan dan tak terkendali, atas manifestasi kekerasan yang menciptakan pengalaman masa lalu yang tidak sebanding dan tidak berarti.

Pemiskinan Total

Kawasan kumuh baru, sesungguhnya tidak sama dengan kota kumuh di masa lalu, suatu pecahan dari perlawanan dan pemaksaan yang menjurus pada penderitaan dan kesukaran. Kawasan pinggiran baru, yang dikodifikasi oleh aturan bahasa baru, akan menjadi subyek pasif teknologi masa depan. Mereka juga akan diberi kesempatan untuk memiliki keterampilan manual yang diperlukan guna memungkinkan berfungsinya objek-objek yang, alih-alih memuaskan kebutuhan mereka, tujuan sebenarnya merupakan kebutuhan produksi kapital yang semakin meningkat.

Keterampilan baru ini setidaknya cukup memadai untuk kualitas hidup yang miskin di kawasan kumuh. Keterampilan ini bahkan dapat menghasilkan produk dengan kerumitan yang cukup besar dengan biaya yang masih masuk akal, dan mengiklankannya dengan aura eksklusivitas yang menjebak pembeli, yang sekarang menjadi mangsa proyek kapital. Terlebih lagi, dengan kondisi produktif baru ini kita tidak akan lagi mengalami pengulangan yang sama dalam produksi, ketika perubahan dan perkembangan teknologi dengan kesulitan dan biaya yang cukup besar dapat teratasi. Sebagai tambahan, terkait dengan corak produksi terbaru ini, akan ada proses yang fleksibel, artikulatif dan dapat dipertukarkan. Ini akan memungkinkan diterapkannya bentuk-bentuk kontrol baru dan dengan biaya yang cukup rendah, serta memandunya untuk mempengaruhi kebutuhan dan dengan demikian menciptakan kondisi esensial atas produksi kedamaian sosial.

Penyederhanaan kehidupan yang sangat gamblang seperti yang dipaparkan di atas, baik bagi mereka termasuk maupun terbuang, serupa dengan “kebebasan” teknologi yang memicu para sosiolog dan ekonom — “sebagai orang baik sejak dulu” — untuk memasukan diri mereka ke dalam corak produksi baru ini dan membuat rancangan besar masyarakat lintas-kelas yang mampu hidup “sejahtera” tanpa harus mengkhawatirkan kembalinya monster perjuangan kelas, komunisme, atau anarki.

Menurunnya minat pada serikat pekerja dan kesia-siaan aksi reformis, yang mana di masa lalu — hanya menjadi alat mediasi bagi para majikan — sekarang ini telah dilihat sebagai bukti berakhirnya perjuangan kelas dan berkembangnya masyarakat pos-industrial.

Sesungguhnya, semua ini tidak masuk akal karena berbagai alasan, yang mana kita akan membahasnya lebih lanjut. Serikat buruh dalam bentuk apapun telah kehilangan “kekuatan” reformisnya, bukan karena perjuangan kelas telah usai, tetapi karena kondisi benturannya telah berubah secara mendalam.

Apa yang sebenarnya terjadi adalah kita sekarang ini, dihadapkan pada perkembangan kontradiksi yang lebih besar dari sebelumnya dan kontradiksi baru yang masih belum terjawab.

Dua Fase

Secara skematis, dua fase dapat diidentifikasi: dalam periode industri persaingan kapitalis dan produksi yang berbasis manufaktur lah yang diterapkan. Sektor ekonomi yang paling signifikan adalah sektor sekunder (manufaktur), yang menggunakan energi yang dihasilkan sebagai sumber daya transformatif, dan kapital finansial sebagai sumber daya strategis. Teknologi periode ini pada dasarnya mekanis dan produsen yang paling menonjol adalah pekerja. Metodologi yang digunakan dalam proyek-proyek tersebut bersifat empiris dan eksperimen, sedangkan pengorganisasian proses produksi secara keseluruhan didasarkan pada pertumbuhan yang tidak terbatas.

Pada periode proses kulminasi pos- industrial, meski belum sepenuhnya diterapkan, Negara mengungguli persaingan kapitalis dan menerapkan sistemnya untuk memelihara konsensus dan produksi, yang tujuan aktualnya adalah untuk mempromosikan perdamaian sosial. Elaborasi data dan transformasi sektor jasa akan menggantikan mode teknis manufaktur. Sektor ekonomi yang dominan menjadi tersier (jasa), kuaterner (keuangan khusus), informasional (penelitian, rekreasi, pendidikan, administrasi publik). Sumber daya transformatif utama adalah informasi, yang terdiri dari sistem transmisi data yang kompleks, sedangkan sumber daya strategis disediakan oleh pengetahuan yang perlahan-lahan menggantikan kapital finansial. Teknologi meninggalkan komponen mekanisnya dan memfokuskan dirinya pada komponen intelektualnya. Sektor yang digunakan oleh teknologi baru ini bukan lagi pekerja tetapi para teknisi, profesional, dan ilmuwan. Metode yang digunakan dalam proyek ini didasarkan pada teori abstrak, bukan bentuk eksperimen yang biasa diterapkan di masa lalu, sedangkan pengorganisasian proses produktif didasarkan pada pengkodean pengetahuan teoritis.

Senjakala Kepemimpinan Pekerja

Mengarahkan perhatian kita pada fase industri produktif, Marxisme menganggap kontribusi kelas pekerja menjadi fundamental sebagai solusi revolusioner dari kontradiksi-kontradiksi sosial. Hal ini mengakibatkan gerakan pekerja sangat terkondisikan strateginya untuk mengambil-alih kekuasaan. Ambiguitas Hegelian, yang dipupuk oleh Marx, menjadi inti dari alasan ini: bahwa oposisi dialektis antara proletariat dan borjuasi dapat diperburuk dengan memperkuat proletariat, namun alih-alih ingin memperkuat proletariat, strategi demikian justru memperkuat Kapital dan Negara. Jadi, setiap kemenangan atas represi terhadap proletariat, dipahami sebagai jenjang karir kemenangan proletariat di masa depan. Keseluruhannya diatur dalam visi progresif — biasanya dirujuk dari Era Pencerahan — yaitu kemungkinan untuk membangun “ruh” di dunia materi.

Dengan melakukan beberapa modifikasi yang agak menarik, konsepsi lama tentang perjuangan kelas ini masih bertahan hingga saat ini, meski mimpi buruk terkadang hadir dari proyek-proyek lama ini, proyek perjuangan kelas yang sejarahnya bertutur perihal kejayaan dan penaklukan. Analisis yang serius belum pernah dilakukan atas konsepsi yang murni imajiner perihal perjuangan kelas hari ini.

Hanya ada kesepakatan yang kurang lebih sama bahwa para pekerja telah dipindahkan dari posisi sentral mereka. Sedemikian tercerabutnya mereka dari masa kini, kelas pekerja pertama-pertama, sudah pasti takut dan enggan bila harus dikeluarkan dari pabrik ke dalam seluruh ranah sosial. Kedua, dan ini bukan lagi sesuatu yang dapat ditawar, adalah pergantian progresif sektor manufaktur sekunder dengan sektor jasa tersier.

Senjakala Ilusi dari Sebagian Anarkis

Kaum anarkis juga memiliki ilusi meski sekarang ini telah merosot. Sebenarnya, meski ilusi ini tidak pernah mengenai peran sentral para pekerja, mereka sering melihat dunia kerja sebagai hal yang sangat penting, mendahulukan industri daripada sektor primer (pertanian). Anarko-sindikalisme yang memicu ilusi ini.

Bahkan belakangan ini ada banyak antusiasme untuk kebangkitan CNT dari abunya, terutama dari tokoh-tokoh paling radikal yang mengusung “jalan baru” anarkisme reformis saat ini.

Konsep utama dari sentralitas pekerja ini (meski berbeda dengan kaum marrxis, tetapi mereka justru memiliki banyak kesamaan), yaitu bayang-bayang bentuk organisasi Partai.

Sejak lama sebagian gerakan anarkis bertindak sebagai organisasi sintesis, sebuah organisasi anarkis yang menyerupai partai.

Sudah pasti, saya tidak bermaksud untuk menggeneralisir seluruh gerakan anarkis, tapi gerakan anarkis yang platformis dan bentuknya yang terorganisir macam partai.

Mari kita ambil contoh FAI Italia (Federazione anarchica italiana). Sampai hari ini FAI Italia adalah organisasi sintesis. Misi intinya adalah merancang sebuah program anarkis yang baku dan menyelenggarakan kongres berkala adalah fokus utama dari kegiatan mereka, dan ia lebih memusatkan program organisasinya ketimbang kenyataan yang aktual, yaitu sebagai sintesis atau program anarkis yang baku yang akan diaplikasikan ke dalam realitas di luar gerakan (revolusioner), dan juga di dalam gerakan anarkis tertentu.

Tentu saja, beberapa kamerad akan keberatan bahwa pernyataan ini terlalu umum, tetapi mereka tidak dapat menyangkal bahwa mentalitas yang menopang hubungan sintesis yang dibangun oleh organisasi anarkis tertentu dengan realitas di luar gerakan, adalah mentalitas yang sangat dekat dengan “mentalitas partai”.

Niat baik saja tidak cukup.

Nah, mentalitas ini telah merosot. Tidak hanya di kalangan kamerad-kamerad muda yang menginginkan hubungan yang terbuka dan informal dengan gerakan revolusioner, tetapi yang lebih penting, hal itu telah merosot ke dalam realitas sosial itu sendiri.

Jika di era industrial perjuangan sindikalis terlihat lebih masuk akal, seperti halnya metode Marxis dan metode sintesis organisasi libertarian, dalam perspektif pos-industrial hari ini, dalam situasi yang telah berubah secara komprehensif, satu-satunya strategi yang mungkin bagi kaum anarkis adalah yang berbentuk informal. Yang kami maksud adalah kelompok kamerad yang datang bersama dengan tujuan yang jelas, strukturnya lebih cenderung seperti kelompok afinitas, dan berkontribusi untuk membentuk kelompok yang menetapkan tujuan yang tegas, sembari perlahan membangun kondisi dari situasi kerusuhan kecil dan mengubahnya menjadi pemberontakan.

Partai Marxisme sudah mati. Itu juga terjadi bagi kaum anarkis sintesis. Ketika saya membaca kritik seperti yang dibuat baru-baru ini oleh ahli ekologi sosial yang berbicara tentang kematian anarkisme, saya menyadari itu adalah masalah bahasa, serta kurangnya kemampuan untuk memecahkan masalah di dalam gerakan anarkis, ini adalah suatu kelemahan, terlebih lagi, kritik yang di kemukakan oleh kamerad- kamerad itu sendiri. Apa yang mati bagi mereka — dan juga bagi saya — adalah anarkisme yang mengira dapat menjadi titik acuan organisasi untuk revolusi berikutnya, yang melihat dirinya sebagai struktur sintesis yang bertujuan untuk menghasilkan berbagai bentuk kreativitas manusia sebagai alat untuk menghancurkan konsensus represi dan negara. Yang mati adalah anarkisme yang statis yang berbentuk organisasi tradisional, yang mendasari programnya atau klaimnya untuk sebuah kondisi yang lebih baik dan perubahan yang sifatnya kualitatif. Gagasan bahwa revolusi sosial adalah pejuangan anarkis yang eksklusif merupakan ilusi tak berdasar dan tanpa fakta. Mungkin saja dapat terjadi, tapi mungkin juga tidak.

Determinisme sudah mati bersama dengan hukum sebab dan akibat. Cara revolusioner yang kita gunakan, termasuk pemberontakan, tidak serta merta mengarah pada revolusi sosial. Model kasual yang begitu disukai oleh para positivis abad lalu adalah sesuatu yang tidak nyata.

Revolusi menjadi mungkin justru karena alasan itu.

Akselerasi dan Keberagaman

Pengurangan waktu dalam transmisi data berarti percepatan pengambilan keputusan yang diprogramkan. Jika waktu ini dikurangi menjadi nol (seperti yang terjadi dalam “waktu nyata” elektronik), keputusan yang diprogram tidak hanya dipercepat tetapi juga diubah, mereka menjadi sesuatu yang berbeda.

Dengan memodifikasi proyek, elemen investasi produktif juga dimodifikasi, mentransfer dirinya dari kapital tradisional (berwujud finansial) ke kapital masa depan (berwujud intelektual).

Perbedaan kontrol adalah salah satu elemen fundamental dari realitas. Dengan menyempurnakan hubungan antara politik dan ekonomi, mengakhiri kontradiksi yang dihasilkan oleh kompetisi, dengan mengatur konsensus dan, yang lebih penting, dengan memprogram semua ini dalam perspektif realitas nyata, struktur kekuasaan menghilangkan sebagian besar masyarakat: bagian dari mereka yang terbuang.

Kecepatan operasi produktif yang sangat meningkat, lebih dari apa pun, akan menimbulkan modifikasi budaya dan bahasa. Di sinilah letak bahaya terbesar bagi mereka yang menetap di kawasan kumuh.

Akhir dari Reformisme, Akhir dari Partai

Sebuah partai politik didasarkan pada hipotesis reformis. Hal demikian membutuhkan sebuah komunitas bahasa yang sama, atau kepentingan bersama. Hal inilah yang terjadi di dalam partai dan juga serikat pekerja. Apa yang disebut komunitas bahasa barusan akan membuat oposisi kelas fiktif yang mana di satu sisi mereka menginginkan perkembangan dengan cara menciptakan gesekan politik ke partai lainnya, namun di sisi lain upaya tersebut juga merupakan sebuah motif untuk diakui oleh oposisi lain.

Untuk meminta sesuatu kita membutuhkan bahasa yang “sama” dengan siapa pun akan mintai.

Sekarang proyek penindasan global ditujukan untuk membubarkan komunitas ini. Bukan dengan tembok penjara khusus, rumah kumuh, kota satelit atau pusat industri besar: tetapi, sebaliknya, dengan mendesentralisasikan — produksi, — meningkatkan layanan, menerapkan prinsip-prinsip ekologis pada produksi, semuanya dengan segregasi paling mutlak dari mereka yang terbuang.

Dan pemisahan ini akan diperoleh dengan secara bertahap, memisahkan mereka dari kesamaan bahasa yang mereka miliki dengan masyarakat lainnya.

Tidak akan ada yang tersisa untuk ditanyakan.

Terbuangnya Orang Bebal

Dalam era industrial yang masih bisa didefi- nisikan, kemungkinan terbentuknya konsensus di- dasarkan pada kontribusi ke dalam keuntungan produksi. Sementara, di era pos-industrial di mana kapasitas kapital dapat berubah secara praktis dan ti- dak terbatas, kapital dan negara akan membutuhkan bahasanya sendiri, terpisah dari bahasa mereka yang terbuang untuk mencapai perspektif barunya dengan sebaik-baiknya.

Tidak dapat diaksesnya bahasa yang dominan akan menjadi bentuk pemisahan yang jauh lebih efektif daripada batasan tradisional kawasan kumuh. Meningkatnya kesulitan dalam proses mencapai bahasa dominan secara bertahap akan membuatnya menjadi benar-benar “berbeda”. Sejak saat itu, keinginan mereka yang terbuang akan menghilang dari bahasa dominan dan tetap menjadi orang yang diabaikan oleh mereka. Sejak saat itu yang termasuk akan menjadi “yang liyan” bagi yang terbuang dan sebaliknya.

Proses penyisihan ini penting bagi proyek yang represif. Konsep-konsep fundamental masa lalu, seperti solidaritas, komunisme, revolusi, anarki, validitasnya didasarkan pada pengakuan bersama atas konsep kesetaraan. Tetapi bagi penghuni kastil para ksatria Teutonik yang dibuang bukanlah manusia, tetapi hanya benda, benda yang akan dibeli atau dijual dengan cara yang sama seperti budak bagi para pendahulu kita.

Kami tidak merasakan kesetaraan terhadap anjing, karena ia membatasi diri pada gonggongan, ia tidak “berbicara” menggunakan bahasa kami. Kita bisa menyukainya, tetapi perlu menganggapnya sebagai “orang lain”, dan kita tidak terlalu memikirkan jenisnya, setidaknya tidak pada semua tingkatan anjing, kami lebih memilih untuk melekatkan diri kita pada anjing yang memberi kita kepatuhan, kasih sayang, atau kekerasan terhadap musuh kita.

Proses serupa akan terjadi terkait dengan semua orang yang tidak berbagi bahasa dengan kita. Di sini kita tidak boleh mengacaukan bahasa dengan “hanya dengan kata-kata dari mulut”. Tradisi progresif dan revolusioner kami telah mengajarkan kepada kami bahwa semua manusia setara di atas perbedaan bahasa pertama. Di sini kami berbicara tentang kemungkinan perkembangan represif yang akan menghilangkan kemungkinan yang terbuang dari komunikasi dengan yang termasuk. Dengan sangat mereduksi kegunaan kata-kata tertulis, dan secara bertahap mengganti buku dan surat kabar dengan gambar, warna dan musik, misalnya, struktur kekuatan masa depan dapat membangun bahasa yang ditujukan untuk mereka yang terbuang sendirian. Mereka, pada gilirannya, akan dapat menciptakan alat reproduksi linguistik yang berbeda, bahkan kreatif, tetapi mereka selalu memiliki kode mereka sendiri dan cukup memutuskan kontak dengan kode yang termasuk , itu dapat menjadi kemungkinan untuk memahami dunia yang terakhir. Dan itu adalah langkah singkat dari ketidakpercayaan menuju ketidaktertarikan dan penghancuran mental.

Maka dari itu, reformisme sedang sekarat. Tidak mungkin lagi baginya untuk membuat klaim, karena tidak ada yang tahu apa yang harus diminta dari dunia yang tidak lagi menarik bagi kita atau memberi tahu kita apa pun yang dapat dipahami.

Memotong bahasa yang termasuk , yang terbuang juga akan terputus dari teknologi baru mereka. Mungkin mereka akan hidup di dunia yang lebih baik dan lebih diinginkan, dengan bahaya konflik apokaliptik yang lebih kecil, dan akhirnya, ketegangan yang timbul akibat faktor ekonomi akan berkurang. Tetapi akan ada peningkatan ketegangan irasional.

Dari kawasan paling kumuh di planet ini, di mana meskipun “waktu nyata” proyek eksploitasi akan selalu menemui hambatan yang bersifat etnis atau geografis, ke daerah yang lebih sentral di mana pembagian kelas lebih kaku, konflik berbasis ekonomi akan memberi jalan untuk konfliktualitas yang bersifat irasional.

Dalam proyek-proyek kontrol mereka yang termasuk bertujuan pada konsensus umum dengan mengurangi kesulitan ekonomi dari mereka yang terbuang . Mereka dapat menyediakan bahasa rakitan untuk memungkinkan penggunaan sebagian dan sepenuhnya dari beberapa teknologi dominan. Mereka juga bisa memberi kualitas hidup yang lebih baik. Tapi mereka tidak akan bisa mencegah ledakan kekerasan irasional yang muncul dari perasaan tidak berguna, dari kebosanan, dan dari atmosfir rumah kumuh yang mematikan.

Misalnya di Inggris, yang selalu selangkah lebih maju dalam perkembangan proyek-proyek kapital yang represif, kecenderungan ini mungkin sudah terlihat sejak awal. Negara tentu saja tidak menjamin kelangsungan hidup, angka kemiskinan dan pengangguran sangat luar biasa, tetapi kerusuhan yang sering terjadi di sana dimulai oleh pemuda — terutama orang India Barat — yang tahu bahwa mereka secara definitif terputus dari dunia yang sudah dipenuhi hal-hal aneh. Kepada mereka, dari mana mereka dapat meminjam beberapa objek atau cara melakukan sesuatu, tetapi di mana mereka sudah mulai merasa “berbeda”.

Dari Kerusuhan Irasional Hingga Pemberontakan yang Dilakukan Secara Sadar

Gerakan massa yang begitu membekas pada sebagian kamerad kita saat ini karena ancaman mereka dan — menurut mereka — ketidakbergunaan, merupakan tanda-tanda arah perjuangan di masa depan.

Bahkan sekarang banyak anak muda tidak lagi mampu mengevaluasi situasi yang mereka hadapi. Kehilangan budaya minimum yang pernah diberikan sekolah, dibombardir oleh pesan-pesan yang berisi kekerasan tanpa tujuan dan tidak beralasan, mereka didorong dengan ribuan cara menuju pemberontakan yang terburu-buru, tidak rasional dan spontan, dan kehilangan tujuan “politik”, sesuatu yang mana generasi lalu dapat melihat tujuan politiknya dengan jelas.

“Lokasi” dan ekspresi ledakan kolektif ini sangat bervariasi. Ledakan semacam ini dapat dilacak dari intoleransi masyarakat yang mati yang dikelola oleh kerjasama Kapital dan Negara.

Tak ada gunanya rasa takut pada manifestasi tersebut, hanya karena kita masih menyakini ide-ide tradisional yang kita miliki tentang aksi revolusioner dalam gerakan massa.

Ini bukan masalah ketakutan tetapi tentang aksi langsung sebelum terlambat.

Sekarang ini banyak referensi yang tersedia tentang teknik-teknik pemberontakan secara sadar — yang mana saya juga terlibat — yang mana kawan- kawan dapat menyadari kedangkalan dan irelevansi dari ide-ide usang tersebut, alih-alih memperjelas bentuk perjuangan, justru malah menciptakan kebingungan.

Secara singkat, kami tegaskan kembali bahwa metode pemberontakan hanya dapat diterapkan oleh organisasi informal anarkis. Organisasi informal harus mampu membangun, dan berpartisipasi sesuai fungsinya, struktur dasar (kelompok organisme) yang tujuan jelasnya adalah untuk menyerang dan menghancurkan tujuan yang ditetapkan oleh kekuasaan, dengan menerapkan prinsip-prinsip otonomi individual, perjuangan yang permanen dan aksi langsung.

II. Sesi Ceramah Bertema "Anarkisme dan Proyek Insureksional" di konfrensi Anarkis di kota Milan, Italia 13 Oktober 1985

Dalam menyelenggarakan konferensi seperti ini terdapat kontradiksi yang aneh antara aspek formalnya — aula yang indah (meskipun itu masalah selera), berada di tempat seperti ini, dengan saya di atas dan begitu banyak rekan di bawah sana, yang sebagiannya saya kenal baik. Aspek penting dalam mendiskusikan masalah, atau lebih tepatnya proyek yang justru untuk merancang kehancuran semua ini, seperti seseorang yang ingin melakukan dua hal sekaligus.

Inilah kontradiksi dalam hidup itu sendiri. Kami mau tak mau menggunakan instrumen kelas penguasa untuk proyek yang subversif dan destruktif. Kami menghadapi situasi nyata yang sangat mengerikan, dan di kepala kami, kami memiliki proyek impian.

Kaum anarkis memiliki banyak proyek. Proyek mereka ini biasanya sangat kreatif, tetapi di tengah kreativitas ini terletak proyek destruktif yang bukan hanya mimpi, tetapi juga sebuah impian yang sedemikian menakutkan, meski impian ini merupakan sesuatu yang didasarkan pada, dan diverifikasi, dalam proses sosial di sekitar kita.

Anggaplah bahwa masyarakat ini, yang terkoyak dan terpecah-pecah oleh pertentangan dan pertentangan, sedang bergerak, jika tidak menuju satu arah penghancuran total, setidaknya menuju serangkaian letusan kecil yang merusak.

Dalam mimpi buruk kaum anarkis,pemberontakan yang sama telah lama tersimpan di imajinasi orang- orang jalanan. Orang-orang membawa senjata, mobil terbakar, gedung hancur, bayi menangis, ibu mencari anak hilang. Masalah besarnya adalah bahwa dalam hal ini pemikiran banyak anarkis juga tidak terlalu jelas. Saya sering berbicara dengan kawan-kawan tentang masalah perjuangan pemberontakan yang revolusioner, dan saya menyadari bahwa model yang sama ada dalam pikiran mereka. Apa yang sering divisualisasikan adalah barikade abad kedelapan belas, Komune Paris, atau adegan dari Revolusi Prancis.

Tentu saja, pemberontakan melibatkan elemen- elemen ini semua, tapi tidak hanya itu saja. Proses pemberontakan dan revolusioner memang serupa seperti yang disebut di atas, tetapi juga sesuatu yang lebih. Kami hadir di sini, hari ini, tepatnya untuk mencoba memahaminya sedikit lebih baik. Mari kita tinggalkan aspek eksternal dari sebagian masalah dan mencoba memikirkan hal ini selama beberapa menit.

Mari kita singkirkan gagasan pemberontakan sebagai barikade dan sebagai gantinya melihat dengan cara apa instrumen “pemberontakan” dapat diamati dalam realitas hari ini, yaitu, dalam realitas yang sedang mengalami transformasi yang cepat dan mendalam.

Hari ini kita tidak berada di tahun 1871, atau 1830, atau '48. Kita juga tidak berada di akhir abad kedelapan belas. Kita berada dalam situasi di mana produksi industri sedang dalam transformasi, situasi yang biasanya dijelaskan dengan frase, agar kita juga dapat lebih mudah memahaminya, kita sebut situasi itu “pos-industrial.”

Sebagian kawan yang telah mencapai analisis ini, dan telah memikirkan tentang tempat terjadinya perubahan yang mendalam dalam situasi produktif saat ini, saya telah mencapai kesimpulan bahwa model revolusioner usang sudah tidak lagi valid, dan bahwa kita perlu untuk menemukan cara baru yang dapat digunakan untuk tidak hanya menggantikan model lama tapi juga sekaligus meninggalkannya sama sekali. Sebagian kawan ini mengusulkan bentuk intervensi baru.

Bila kita mengamatinya seperti ini, segala sesuatunya tampak lebih logis, malahan justru semakin menarik. Bukankah bila kita masih memakai model lama, ini sama saja seperti menggunakan cek yang sudah kedaluwarsa 100 tahun yang lalu? Tapi siapa yang pernah mengira bahwa model intervensi revolusioner 150 atau bahkan 200 tahun yang lalu, masih bisa valid? Tentu saja kita semua dengan mudah terkesan oleh jalan baru dan cara baru untuk menangani masalah aktual, yang pada masa ini sudah ditawarkan oleh kreativitas dan arah baru yang diberikan oleh situasi obyektif saat ini kepada kita. Tapi tunggu sebentar.

Kami tidak bermaksud menggunakan kutipan sastra di sini. Tetapi seseorang pernah berkata bahwa kapasitas revolusioner adalah untuk memahami masa depan sebanyak mungkin dengan apa yang masih ada dari masa lalu. Untuk menggabungkan pisau nenek moyang kita dengan komputer masa depan. Bagaimana kita bisa merajutnya?

Bukan karena kita merindukan dunia di mana manusia pergi untuk menyerang musuhnya dengan pisau di antara giginya, tetapi justru sebaliknya, karena kita menganggap instrumen revolusioner masa lalu masih berlaku hari ini. Bukan karena keputusan minoritas yang mengambilnya dan menegakkan validitas ini secara demagog tanpa peduli apa yang mungkin dipikirkan orang, tetapi karena kemampuan rakyat untuk menemukan cara- cara sederhana yang siap tersedia, untuk mendukung pemberontakan terhadap represi, justru mewakili kekuatan tradisional dari setiap pemberontakan populer.

Mari kita amati baik-baik. Selalu ada sesuatu yang tidak berjalan baik dengan proyek kapitalis. Semua orang yang pernah berhubungan dengan analisis ekonomi atau politik mau tidak mau harus mengakui hal ini. Utopia kapital mengandungsesuatu yangsecara teknis salah, yaitu, ia ingin melakukan tiga hal yang saling bertentangan: untuk menjamin kesejahteraan minoritas, mengeksploitasi mayoritas hingga batas kelangsungan hidup, dan mencegah pemberontakan oleh yang terbuang dengan mengatasnamakan hak mereka.

Dalam sejarah kapitalisme berbagai solusi telah ditemukan, tetapi ada saat-saat kritis ketika kapital harus mencari solusi lain. Krisis Amerika di antara dua perang (Dunia) tersebut, memberikan contoh yang cukup baru: krisis besar overproduksi kapitalis, serta momen tragis yang terkait dengan masalah marjinal lain yang harus dihadapi kapital. Bagaimana cara mengatasi masalah tersebut? Dengan memasuki fase konsumerisme massa, dengan kata lain dengan mengajukan proyek integrasi dan partisipasi yang membawa — setelah pengalaman perang dunia kedua — menuju perluasan konsumerisme dan juga pada peningkatan produksi.

Tetapi mengapa krisis itu menimbulkan masalah yang begitu serius bagi Kapital? Karena sampai saat ini kapital tidak dapat menghasilkan produksi tanpa bantuan investasi besar-besaran. Mari kita garis bawahi kata “sampai saat ini”, ketika Kapital harus memperkenalkan apa yang dikenal sebagai skala ekonomi, dan menginvestasikan sejumlah besar modal keuangan untuk mewujudkan perubahan yang diperlukan dalam produksi. Jika peralatan rumah tangga jenis baru atau model mobil baru diperlukan, investasi mencapai angka ratusan juta.

Situasi ini menghadapkan kapital dengan momok produksi berlebih dan dengan kebutuhan untuk mengkooptasi lebih banyak strata populer ke dalam akuisisi besar-besaran. Siapa pun dapat melihat bahwa ini tidak akan berlangsung selamanya, karena cepat atau lambat permainan harus berakhir dengan kekerasan sosial. Nyatanya, banyaknya intervensi oleh kapital dan negara dalam upaya mereka untuk mengkooptasi ternyata berumur pendek. Banyak yang akan mengingat bagaimana sepuluh atau lima belas tahun yang lalu para ekonom menyerukan perencanaan ekonomi dan kemungkinan menemukan pekerjaan untuk semua orang menguap menjadi asap. Faktanya adalah bahwa mereka saat itu — perhatikan bentuk lampau — bergerak ke arah situasi yang meningkatkan ketegangan. Langkah berikutnya yang diusulkan oleh kapital adalah membuat struktur Negara ikut campur dalam manajemen kapitalis, yaitu, untuk mengubah Negara dari penjaga bersenjata sederhana untuk kepentingan kapital menjadi elemen produktif dalam kapitalisme itu sendiri. Dengan kata lain dari kasir menjadi bankir. Dengan cara ini, terjadi transformasi yang cukup besar, karena kontradiksi-kontradiksi persaingan ekonomi yang mulai menampakkan diri menjadi fatal dapat diatasi dengan masuknya konsumerisme ke dalam peta kaum proletar.

Hari ini kita dihadapkan pada situasi yang berbeda, dan saya meminta Anda untuk merefleksikan pentingnya hal ini, kawan, karena justru perspektif baru yang sedang terbuka untuk menangani representasi dan teknik baru kapital untuk berurusan dengan konsensus, yang memungkinkan kita untuk mengupayakan proyek revolusioner baru.

Apa yang telah berubah? Apa yang menjadi ciri realitas pos-industri?

Apa yang akan saya gambarkan harus dipahami sebagai “tahapan perkembangan”. Ini bukan soal kapital yang tiba-tiba memutuskan untuk merekayasa transformasi dari pusat pengambilan keputusan dari proses produktif, dan melakukannya dalam waktu yang sangat singkat. Proyek seperti itu akan menjadi fantastis dan tidak nyata. Sesungguhnya, yang sedang berkembang lebih menyerupai sebuah solusi setengah jalan yang sedang dalam proses.

Kita harus mengingat hal ini ketika berbicara tentang realitas pos-industri, karena kita tidak ingin — seperti yang sudah pernah terjadi — ketika sebagian kawan berkata: tunggu sebentar, saya berasal dari bagian belakang Sisilia di mana hari ini para pekerja diambil pada setiap hari Minggu oleh mandor yang muncul di piazza menawarkan mereka pekerjaan yang diupah sebesar 5000 Lire per hari (sekitar dua pound dan lima puluh pence). Hal demikian memang masih terjadi dan bahkan dalam porsi yang lebih buruk. Tetapi kaum revolusioner harus mengingat hal-hal ini dan pada saat yang sama harus menyadari poin-poin referensi yang paling maju dalam proyek kapitalis. Karena, jika kita hanya memperhitungkan bentuk lampau dari corak Kapital, kita tidak akan menjadi revolusioner, melainkan berpotensi untuk menjadi rekuperator dan reformis yang hanya mampu mendorong struktur kekuasaan dalam menyempurnakan proyek kapitalis.

Untuk kembali ke tema kita, apayangmembedakan pos-industrial dari realitas industri? Realitas industri jelas bertumpu pada modal, dengan konsep bahwa di pusat produksi ada investasi, dan bahwa investasi itu harus besar. Saat ini, dengan teknik pemprograman baru, perubahan tujuan produksi kapitalis cukup sederhana. Ini hanyalah sebuah persoalan seperti halnya mengubah program komputer.

Mari kita telaah pertanyaan ini dengan saksama. Dua robot dalam suatu industri dapat menggantikan 100 pekerja. Suatu saat, seluruh lini produksi harus diubah untuk mengubah produksi. 100 pekerja tidak dapat memahami proyek produktif baru secara instan. Saat ini garis tersebut dimodifikasi melalui satu elemen penting saja. Operasi sederhana dalam pemprograman komputer dapat mengubah robot masa kini menjadi robot masa depan dengan biaya rendah. Dari sudut pandang produktif, kapasitas modal tidak lagi didasarkan pada sumber-sumber modal finansial, dengan kata lain investasi, tetapi pada hakikatnya didasarkan pada modal intelektual, pada akumulasi besar-besaran kapasitas produktif yang diwujudkan dalam bidang ilmu komputer, perkembangan baru dalam teknologi yang memungkinkan terjadinya perubahan tersebut.

Kapital tidak perlu lagi mengandalkan pekerja tradisional sebagai salah satu elemen dalam menjalankan produksi. Elemen ini menjadi sekunder karena faktor utama dalam produksi terpusat pada kapasitas intelektual kapital dalam mengakali setiap gesekan. Jadi, Kapital tidak lagi perlu melakukan investasi besar atau menyimpan banyak saham untuk mendapatkan kembali pengeluaran awalnya. Tidak perlu menekan pasar dan dapat mendistribusikan unit produktif ke wilayah yang luas, sehingga Ia dapat menghindari pusat-pusat industri besar di masa lalu. Hal ini dapat mencegah persoalan polusi. Kita akan mampu memiliki laut yang bersih, udara bersih, distribusi sumber daya yang lebih baik. Pikirkan, kawan-kawan, renungkan seberapa banyak materi yang telah dipasok ke kapitalis oleh ahli ekologi akan digunakan untuk melawan kita di masa depan.

Banyak sekali pekerjaan yang telah dilakukan untuk kepentingan rencana masa depan kapital. Kita mungkin akan melihat industri tersebar di seluruh wilayah tanpa pusat-pusat besar seperti Gela, Syracuse, Genoa, Milan, dll. Ini semua akan lenyap.

Pemprograman komputer di beberapa gedung pencakar langit di Milan, misalnya, akan member- lakukan produksi di Melbourne, Detroit, atau di mana pun. Apa yang memungkinkannya? Di satu sisi, mod- al akan mampu menciptakan dunia yang lebih baik, dunia yang berbeda secara kualitatif, kehidupan yang lebih baik. Tapi untuk siapa? Itulah masalahnya. Tentu tidak untuk semua orang. Jika kapital benar-benar mampu mencapai dunia yang secara kualitatif lebih baik ini untuk semua orang, maka kita semua bisa pulang — kita semua akan menjadi pendukung ideologi kapitalis. Faktanya adalah bahwa hal itu hanya dapat direalisasikan untuk beberapa orang, dan bah- wa strata yang memiliki hak istimewa ini akan menja- di lebih terbatas di masa depan daripada di masa lalu. Orang-orang yang memiliki hak istimewa di masa depan akan menemukan diri mereka dalam situa- si yang mirip dengan para ksatria Teutonik di abad pertengahan, mendukung ideologi yang bertujuan untuk mendirikan minoritas “yang sederajat” —yang “memiliki hak istimewa” —di dalam kastil, dikelilingi oleh tembok dan oleh orang miskin , yang jelas akan terus mencoba untuk masuk ke dalam.

Sekarang kelompok yang diistimewakan ini tidak hanya menjadi kapitalis besar, tetapi strata sosial yang meregang meluas menengah hingga ke atas. Strata yang sangat luas, bahkan jika dibandingkan dengan jumlah besar strata yang dieksploitasi. Namun, jangan lupa bahwa yang sedang kita telaah di sini adalah proyek yang masih merupakan perkiraan.

Strata ini dapat didefinisikan sebagai yang “termasuk”, terdiri dari mereka yang akan menutup diri di dalam kastil ini. Apakah menurut Anda mereka akan mengelilingi diri mereka dengan tembok, kawat berduri, tentara, penjaga atau polisi? Saya kira tidak.

Karena tembok penjara, kawasan kumuh, asrama pinggiran kota, dan penindasan secara keseluruhan: kebrutalan aparat — semua hal yang cukup terlihat hari ini, di mana para kawan dan proletar di seluruh dunia terus mati di bawah siksaan ini — semua bentuk masa lalu ini bisa mengalami perubahan bentuk yang cukup besar dalam beberapa tahun ke depan. Penting untuk disadari bahwa lima atau sepuluh tahun saat ini, sama saja dengan 100 tahun yang lalu. Proyek kapitalis berjalan dengan kecepatan yang sedemikian rupa sehingga ia memiliki perkembangan geometris yang tiada bandingnya dengan apa pun yang telah terjadi sebelumnya. Seperti halnya jenis perubahan yang terjadi antara awal tahun 60-an dan 1968, sekarang terjadi hanya dalam beberapa bulan.

Jadi, apa yang akan coba dilakukan oleh orang yang memiliki hak istimewa? Mereka akan mencoba untuk memotong yang “termasuk” dari mereka yang “terbuang”. Dipotong dengan cara apa? Dengan memutuskan komunikasi.

Ini adalah konsep sentral dari represi masa depan, sebuah konsep yang menurut saya harus dikaji sedalam mungkin. Memutus komunikasi berarti dua hal. Untuk membangun bahasa yang direduksi sesederhana mungkin dan memiliki kode yang benar-benar dasar untuk disuplai pada yang “termasuk” sehingga mereka mempunyai pengetahuan dalam menggunakan komputer. Sesuatu yang sangat sederhana yang akan membuat mereka tetap diam. Pemberian keistimewaan pada mereka yang “termasuk” ini—beserta labelnya itu sendiri—di sisi lain, akan membuat diri mereka berpikir bahwa mereka memiliki peluang besar dalam mengejar utopia yang didapati kelas atas, yang mana kapital dapat dicari dimana saja. Ini akan menjadi tembok yang sebenarnya: kurangnya bahasa yang sama. Ini akan menjadi tembok penjara yang sebenarnya, yang tidak mudah untuk diukur.

Masalah ini menghadirkan berbagai aspek menarik. Khususnya situasi yang akan dihadapi oleh mereka yang “termasuk” Janganlah kita lupa bahwa di dunia istimewa ini akan ada orang-orang yang masa lalunya memiliki pengalaman revolusioner-ideologis yang luas, dan mereka mungkin saja tidak menikmati situasi hak istimewa mereka, merasa tercekik di dalam kastil Teutonik. Mereka akan menjadi duri pertama di sisi proyek kapitalis. Mereka adalah orang-orang yang bersebrangan dengan kelas mereka sendiri. Siapa para pengkhianat kelas istimewa ini? Saya sendiri pernah menjadi bagian dari kelas yang memiliki hak istimewa. Saya meninggalkannya untuk menjadi “kawan di antara para kamerad,” sebagai salah satu dari mereka yang meninggalkan keistimewaan mereka untuk menjadi revolusioner hari ini. Tapi apa yang sesungguhnya saya sajikan? Apa membawa budaya humanistik saya, budaya ideologis saya? Saya hanya bisa memberi Anda kata-kata. Tetapi para pengkhianat kelas masa depan, kaum revolusioner yang meninggalkan kelas istimewa masa depan, akan membawa teknologi bersamanya, karena apa yang menjadi salah satu karakteristik proyek kapitalis masa depan dan salah satu syarat pentingnya untuk tetap bertahan, adalah distribusi pengetahuan yang tidak lagi bersifat vertikal tapi horisontal. Kapital perlu mendistribusikan pengetahuan dengan cara yang lebih masuk akal dan setara — tetapi hanya pada strata kelas yang “termasuk.” Oleh karena itu, para pembelot di masa depan akan membawa serta sejumlah besar elemen yang dapat digunakan dari sudut pandang revolusioner.

Lalu bagaimana dengan mereka yang terbuang? Akankah mereka terus diam? Sebenarnya, apa yang bisa mereka rebut setelah komunikasi terputus? Untuk merebut sesuatu, kita perlu mengetahui apa yang harus kita rebut. Perihal ini, Saya tidak punya ide bila itu terkait dengan penderitaan dan kekurangan dari strata sosial yang mana saya tidak pernah menjadi bagian di dalamnya, sesuatu yang sama sekali tidak ada artinya bagi saya dan yang tidak merangsang keinginan saya. Pemutusan bahasa yang sama akan membuat reformisme di masa lalu — tuntutan bertahap demi kondisi yang lebih baik dan pengurangan represi dan eksploitasi — benar- benar menjadi ketinggalan jaman. Reformisme didasarkan pada bahasa umum yang ada antara yang mengeksploitasi dan yang tereksploitasi. Jika bahasanya berbeda, maka tidak ada lagi yang bisa dituntut. Tidak ada yang menarik bagi saya tentang sesuatu yang tidak saya mengerti, yang tidak saya ketahui. Jadi, realisasi proyek kapitalis masa depan, proyek pos-industrial ini seperti yang umumnya dibayangkan — pada dasarnya akan didasarkan pada menjaga ketenangan yang tereksploitasi. Ini akan memberi mereka kode perilaku berdasarkan elemen yang sangat sederhana sehingga memungkinkan mereka untuk menggunakan telepon, televisi, alat- alat komputer, dan semua objek lain yang akan memenuhi kebutuhan dasar, primer, tersier pada mereka yang “termasuk”, dan pada saat yang sama memastikan bahwa mereka tetap terkendali. Ini akan menjadi prosedur tanpa rasa sakit dan tanpa darah. Penyiksaan akan berakhir. Tidak ada lagi noda darah di dinding. Itu akan berhenti — tentu saja, hanya pada satu titik tertentu. Akan ada situasi di mana itu akan berlanjut. Tapi, secara umum, selubung keheningan akan membungkam mereka yang “terbuang.”

Namun, ada satu kekurangan dalam semua ini. Pemberontakan dalam diri manusia tidak terikat pada kebutuhan saja, atau untuk menyadari bahwa kita kekurangan sesuatu sehingga kita mencoba berjuang untuk itu. Jika dipikir-pikir, ini adalah konsep dari Era Pencerahan, yang kemudian dikembangkan oleh para ideolog filosofis Inggris — Bentham dkk — yang berbicara dari perspektif utilitarian. Selama 150 tahun terakhir, propaganda ideologis kita didasarkan pada landasan rasional ini, menanyakan mengapa kita kekurangan sesuatu, dan apakah karena memang kita setara maka kita berhak untuk berjuang untuk kebutuhan tersebut, di sinilah, kawan, apa yang akan mereka potong bersamaan dengan bahasa adalah konsep kesetaraan, kemanusiaan, persaudaraan. Yang “termasuk” di masa depan tidak akan merasa dirinya secara setara dengan mereka yang “terbuang”, mereka akan melihatnya sebagai sesuatu yang lain. Mereka yang “terbuang” di masa depan akan berada di luar kastil Teutonik dan tidak akan melihat yang “termasuk” sebagai sahabat dalam perjuangan mereka di era pasca revolusioner masa depan. Keduanya akan menjadi dua hal yang berbeda. Dengan cara yang sama hari ini saya menganggap anjing saya “berbeda” karena ia tidak “berbicara” kepada saya tetapi menggonggong. Tentu saja aku mencintai anjingku, aku menyukainya, dia berguna bagiku, dia menjagaku, ramah, mengibas-ngibaskan ekornya: tetapi saya tidak bisa membayangkan berjuang untuk kesetaraan antara ras manusia dan anjing. Semua yang jauh di luar imajinasi saya, adalah yang liyan. Tragisnya, pemisahan bahasa ini juga mungkin terjadi di masa depan. Dan, memang, apa yang akan diberikan kepada mereka yang terbuang, apa yang akan membentuk kode terbatas itu, jika bukan apa yang sudah terlihat: suara, gambar, warna. Tidak ada kode tradisional yang didasarkan pada kata, analisis, dan bahasa umum. Ingatlah bahwa kode tradisional ini adalah fondasi di mana analisis iluminis dan progresif dari transformasi realitas dibuat, sebuah analisis yang masih menjadi dasar ideologi revolusioner, apakah otoriter atau anarkis (tidak ada perbedaan sejauh titik keberangkatan bersangkutan). Kami kaum anarkis masih terikat dengan konsep progresif untuk bisa membawa perubahan dengan kata-kata. Tetapi jika Kapital memotong kata, segalanya akan sangat berbeda. Kita semua memiliki pengalaman tentang fakta bahwa banyak anak muda saat ini tidak membaca sama sekali. Mereka dapat dijangkau melalui musik dan gambar (televisi, bioskop, komik). Tetapi teknik-teknik ini, sebagaimana yang dapat dijelaskan oleh mereka yang lebih kompeten daripada saya, memiliki satu kemungkinan penting — di tangan kekuasaan — yaitu untuk mencapai perasaan irasional yang ada di dalam diri kita semua. Dengan kata lain, nilai rasionalitas sebagai alat persuasi dan dalam mengembangkan kesadaran diri yang bisa menggiring kita untuk menyerang musuh kelas akan merosot. Saya tidak bermaksud untuk berkata bahwa hal demikian takkan pernah terjadi, tapi kemungkinannya bisa saja semakin kecil.

Lantas, atas alasan apa bagi mereka yang “terbuang” untuk memberontak? (Karena, tentu saja, mereka akan terus beraksi). Mereka akan bertindak atas dorongan irasional yang kuat

Kawan-kawan, saya mendorong Anda untuk memikirkan fenomena tertentu yang sedang terjadi saat ini, terutama di Inggris Raya, terjadi fenomena kerusuhan spontan dan irasional, di sebuah negara yang dari sudut pandang kapitalis selalu menjadi pelopor dan masih memegang posisi itu hingga saat ini.

Pada titik ini kita harus memahami sepenuhnya perbedaan antara kerusuhan dan pemberontakan, sesuatu yang tidak dilakukan oleh banyak kamerad. Kerusuhan adalah gerakan orang yang mengandung sifat irasional yang kuat. Ini bisa dimulai dengan alasan apa pun: karena beberapa orang di jalan ditangkap, karena polisi membunuh seseorang dalam penggerebekan, atau bahkan karena perkelahian antara suporter sepak bola. Tidak ada gunanya takut dengan fenomena ini. Tahukah Anda mengapa hal demikian menimbulkan rasa takut? Karena kita secara tidak sadar masih mengusung ideologi kemajuan dan iluminisme. Karena kita yakin kepastian ide yang kita pegang mampu menjamin bahwa kita benar, dan bahwa orang-orang ini adalah provokator yang irasional — bahkan fasis —, orang-orang yang perlu dibungkam dengan segala cara.

Segala sesuatunya di masa depan akan sangat berbeda, di hari-hari depan akan semakin banyak situasi kerusuhan subversif yang irasional dan tidak memiliki motivasi yang jelas. Terdapat rasa takut di dalam diri Saya sendiri ketika memaparkan kenyataan ini kepada kawan-kawan, sehingga menimbulkan hasrat untuk kembali pada pegangan masa lalu dan menjelaskannya dengan kapasitas yang rasional. Tapi Saya sendiri ragu apakah mungkin untuk terus menggunakan metode seperti itu untuk waktu yang lama. Tentu saja kita akan terus mencoba menganalisanya dan menyebarkan temuan-temuan kita, buku-buku kita, analisis tertulis, tetapi mereka yang memiliki kemampuan linguistik untuk membaca dan memahaminya akan lebih sedikit jumlahnya.

Apa yang menyebabkan situasi ini? Serangkaian realitas yang ada dapat berpotensi memicu insureksi atau secara jelas tidak memungkinkan potensi insureksi sama sekali. Lalu apa tugas kita?

Untuk terus berdebat dengan metode masa lalu? Atau untuk mencoba memindahkan situasi kerusuhan spontan ini ke arah pemberontakan yang efektif yang mampu menyerang tidak hanya yang “termasuk”, yang masih tinggal di kastil Teutonik mereka, tetapi juga mekanisme aktual yang memotong bahasa. Di masa depan kita harus berupaya sekuat mungkin guna wmempersenjatai nadi revolusioner dan pemberontakan yang masih dapat dipahami oleh mereka yang “terbuang.”

Mari kita bicara dengan jelas. Kita tidak dapat menyelesaikan tugas besar dengan hanya membangun sekolah alternatif yang mampu menyediakan instrumen rasional kepada orang-orang yang tidak lagi dapat menggunakannya. Kita tidak bisa, yaitu, mengganti pekerjaan yang pernah dilakukan oleh oposisi ketika yang dibutuhkan adalah bahasa yang sama. Sekarang setelah pemilik dan penyalur kapasitas telah merasionalisasi dan memutus komunikasi, kita tidak dapat membangun alternatif. Karena opsi demikian akan identik dengan banyak ilusi di masa lalu, sehingga yang dapat kita lakukan adalah menggunakan instrumen yang sama (gambar, suara, dll.) sedemikian rupa untuk mengirimkan konsep yang mampu berkontribusi untuk mengubah situasi kerusuhan menjadi pemberontakan. Ini adalah pekerjaan yang bisa kita lakukan, yang harus kita mulai hari ini. Ini adalah apa yang kami maksud ketika kami berbicara soal insureksi.

Bertentangan dengan apa yang dibayangkan oleh banyak kamerad — bahwa kita berasal dari abad kedelapan belas yang sudah usang — saya percaya bahwa kita benar-benar mampu mengkombinasikan alat-alat masa lalu dan dimensi masa depan. Tentunya tidak akan mudah untuk membangunnya. Musuh pertama yang harus dikalahkan, yaitu di dalam diri kita sendiri. Sesuatu yang berasal dari keengganan kita untuk menghadapi situasi yang menjadi ketakutan kita, fenomena-fenomena yang tidak kita pahami, dan wacana yang tidak dapat dipahami oleh seorang rasionalis tua seperti saya.

Namun kita harus berupaya kuat untuk ini. Banyak kawan telah menyerukan serangan mengikuti jejak Luddite 150 tahun yang lalu. Memang, menyerang selalu merupakan tindakan yang benar, tetapi Luddisme telah melihat masanya. Kaum Ludd memiliki bahasa yang sama dengan mereka yang memiliki mesin. Ada bahasa yang sama antara pemilik pabrik pertama dan proletariat yang menolak dan melawan di dalamnya. Yang mana pada saat itu, satu kelas mendapat jatah makan dan yang lainnya tidak, tetapi selain dari ini perbedaan yang tidak dapat diabaikan adalah mereka memiliki bahasa yang sama. Realitas hari ini sangat berbeda secara tragis. Dan itu akan menjadi semakin berbeda di masa depan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan kondisi agar kerusuhan yang akan terjadi tidak setengah hati. Karena, kawan-kawan, mari kita perjelas tentang hal ini, tidak benar bahwa kita hanya bisa mempersiapkan diri secara psikologis: melalui latihan spiritual, lalu menampilkan diri kita dalam situasi nyata dengan bendera kita. Itu tidak mungkin. Proletariat, atau apapun Anda ingin menyebutnya, mereka yang “terbuang” yang sedang melakukan kerusuhan, akan membuat kita menjauh sebagai pengunjung luar yang aneh dan mencurigakan. Mencurigakan. Persamaan apa yang bisa kita miliki dengan mereka yang bertindak tanpa nama melawan kesia-siaan mutlak dari kehidupan mereka sendiri dan bukan karena kebutuhan dan ketimpangan? Dengan mereka yang bereaksi meskipun mereka memiliki TV berwarna di rumah, video, telepon, dan banyak objek konsumen lainnya: mereka yang tidak kekurangan pangan, namun tetap bereaksi? Apa yang bisa kita katakan kepada mereka? Mungkinkah kita menawarkan apa yang dikatakan oleh organisasi sintesis anarkis pada abad terakhir? Wacana pemberontakan ala Malatesta? Inilah yang sudah usang. Argumen pemberontakan semacam itu sudah usang. Karena itu kita harus menemukan cara lain, dengan sangat cepat.

Dan cara yang berbeda pertama-tama harus ditemukan di dalam diri kita, melalui upaya untuk mengatasi kebiasaan lama di dalam diri kita dan ketidakmampuan kita untuk memahami yang baru. Sudah pasti kelas berkuasa memahami ini dengan sempurna dan mendidik generasi baru untuk menerima penaklukan melalui serangkaian pesan bawah sadar. Tapi penaklukan ini adalah ilusi.

Ketika kerusuhan meletus, kita tidak boleh berada di sana sebagai pengunjung acara spektakuler, dan karena bagaimanapun, kita adalah anarkis dan momen tersebut sudah pasti memenuhi diri kita dengan kepuasan. Kita harus berada di sana sebagai bagian dari pelaksana dari sebuah proyek yang terlebih dulu telah dirancang dan distrategikan secara mendetail.

Apa sih yang Saya maksud dengan proyek ini? Yaitu mengorganisir dengan yang “terbuang”, tapi tidak lagi atas dasar ideologis, tidak lagi melalui penalaran secara eksklusif berdasarkan konsep lama perjuangan kelas, tetapi atas dasar sesuatu yang langsung dan mampu berhubungan dengan realitas, dengan realitas yang berbeda. Harus ada area dalam situasi Anda sendiri yang menimbulkan ketegangan.

Berhubunganlah dengan situasi ini, jika kamu melandaskannya atas dasar ideologis, pada akhirnya akan membuat kamu tersingkirkan. Hubungan harus atas dasar yang berbeda, terorganisir tetapi berbeda. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh organisasi besar mana pun, dengan klaim iluministik atau romantisme tradisionalnya, yang berfungsi sebagai titik acuan dan sintesis dalam sejumlah situasi yang berbeda, karena cara yangefektifhanya dapatdilakukanoleh organisasi yang gesit, fleksibel, dan mampu beradaptasi. Sebuah organisasi informal dari kawan-kawan anarkis — sebuah organisasi khusus yang terdiri dari kawan- kawan yang memiliki kesadaran kelas anarkis, tetapi yang mengenali batas-batas model lama dan mengusulkan model yang berbeda dan lebih fleksibel. Mereka harus menyentuh realitas, mengembangkan analisis yang jelas dan membuatnya dapat dipahami, mungkin dengan menggunakan instrumen masa depan, bukan hanya instrumen masa lalu. Mari kita ingat bahwa perbedaan antara alat-alat masa depan dan masa lalu tidak terletak pada tambahan foto- foto dalam makalah kami. Ini bukan hanya masalah memberikan sudut pandang yang berbeda, lebih lucu atau tidak terlalu bertele-tele pada tulisan kita, tetapi tentang benar-benar memahami apa instrumen masa depan, mempelajari dan mempelajarinya, karena inilah yang akan memungkinkan untuk membangun instrumen pemberontakan masa depan,

untuk diletakkan di samping pisau yang dibawa para pendahulu kita di antara gigi mereka. Dengan cara ini jembatan udara yang kami sebutkan sebelumnya dapat dibangun.

Oleh karena itu, organisasi informal yang benar- benar diperlukan, organisasi yang tidak membawa narasi besar, dan tanpa mengklaim, seperti yang dilakukan banyak kaum anarkis, bahwa setiap intervensi pasti mengarah pada revolusi sosial dan jika tidak, maka para anarkis ini akan mengoceh: anarkis macam apa kita? Yakinlah kawan-kawan, bahwa celah bagi revolusi sosial ada dimana-mana, bahwa jalannya memiliki banyak sudut, dan sangat panjang. Intervensi yang gesit, oleh karena itu, bahkan dengan tujuan yang terbatas, mampu untuk mengantisipasi tujuan yang sama yang ditetapkan oleh mereka yang “terbuang”. Sebuah organisasi yang mampu “berada di dalam” realitas kerusuhan subversif pada saat itu, seharusnya mampu untuk mengubahnya menjadi realitas insureksional dengan gol-gol tertentu, dengan dan kesimpulan yang konstruktif. Ini adalah tugas pemberontakan. Ini adalah sedikit celah langkah yang mungkin saja paling mungkin untuk kita lakukan.

Tentu saja, masih mungkin untuk menempuh jalan ini memakai organisasi sintesis, propaganda, pendidikan dan debatanarkis — seperti yang baru saja kami lakukan — karena, seperti yang kami katakan, ini adalah pertanyaan tentang sebuah proyek yang masih merupakan perkiraan, mencoba memahami sesuatu tentang proyek kapitalis yang sedang dalam pengembangan. Tetapi, sebagai kaum revolusioner anarkis, kita berkewajiban untuk mengingat garis perkembangan ini, dan mempersiapkan diri kita mulai saat ini untuk mengubah situasi kerusuhan yang irasional menjadi realitas pemberontakan dan revolusioner.

III. Kaum Anarkis dan Aksi

Alfredo M Bonanno, September 1989

Kaum anarkis bukanlah budak angka karena mereka terus bertindak melawan kekuasaan bahkan ketika bentrokan kelas berada pada kuantitas massa yang paling kecil. Oleh karena itu, seorang anarkis seharusnya tidak bertujuan untuk mengorganisir dan mempertahankan seluruh kelas yang tereksploitasi dalam satu organisasi besar untuk menyaksikan perjuangan dari awal hingga akhir, tetapi harus mengidentifikasi setiap aspek dari perjuangan dan membawanya pada kesimpulan untuk menyerang.

Jika kaum anarkis memiliki satu karakteristik konstan, karakteristik itu adalah tidak membiarkan diri mereka berkecil hati oleh kesukaran perjuangan kelas atau terpikat oleh janji-janji kekuasaan.

Ini akan selalu sulit, seringkali tidak mungkin, untuk menemukan seorang kamerad anarkis yang telah menyerah pada kekuasaan. Hal ini dapat terjadi karena dampak dari penyiksaan atau sakit fisik, tidak pernah karena penindasan yang berlangsung lama atau kehilangan keberanian atas jiwanya. Ada sesuatu dalam diri kaum anarkis yang mencegah mereka menjadi putus asa, sesuatu yang membuat mereka optimis bahkan di saat-saat terburuk dalam sejarah mereka. Itu membuat mereka melihat ke depan untuk kemungkinan gerai masa depan dalam pemberontakan, bukan malah mundur mendekati kesalahan masa lalu.

Oleh karena itu, usaha revolusioner anarkis tidak pernah secara eksklusif ditujukan untuk mobilisasi massa, jika tidak, penggunaan metode tertentu akan mengalir pada kondisi yang ada di masa yang akan datang pada waktu tertentu. Setidaknya beberapa anarkis tidak sekadar menjadi budak angka, justru bertindak berdasarkan realitas menggunakan ide dan tindakannya sendiri. Jelas ada hubungan antara ide- ide ini dengan pertumbuhan organisasi, tetapi yang satu tidak muncul sebagai akibat langsung dari yang lainnya.

Hubungan dengan massa tidak dapat diusung sebagai sesuatu yang harus bertahan seiring perjalanan waktu, justru itu didasarkan pada pertumbuhan ke arah tak terbatas dan perlawanan terhadap serangan para pengeksploitasi. Itu jelas memiliki dimensi spesifik yang lebih sederhana, yang jelas dalam hal ini adalah hubungan penyerangan dan bukan pada posisi bertahan.

Struktur organisasi yang dapat kami tawarkan terbatas dalam ruang dan waktu. Mereka adalah bentuk asosiati sederhana untuk dicapai dalam jangka pendek, dengan kata lain, tujuan mereka bukanlah untuk mengorganisir dan membela seluruh kelas yang tereksploitasi dalam satu organisasi besar untuk membawa mereka melalui perjuangan dari awal hingga akhir. Mereka harus memiliki terma yang lebih mengerucut, mengidentifikasi salah satu aspek perjuangan dan menarik kesimpulan untuk melakukan serangan. Mereka tidak boleh diremehkan oleh ideologi yang justru mengandung unsur-unsur dasar yang dapat dimiliki bersama oleh semua: pengelolaan perjuangan otonom, konfliktualitas permanen, serangan terhadap musuh.

Setidaknya ada dua faktor yang menunjukkan hubungan antara minoritas anarkis dan massa: sektorialisme kelas yang dihasilkan oleh kapital, dan penyebaran perasaan ketidakmampuan yang didapat individu dari bentuk-bentuk perjuangan kolektif tertentu.

Dalam minoritas anarkis yang tidak berpatok pada massa ada keinginan kuat untuk berjuang melawan eksploitasi, dan masih ada ruang di mana perjuangan ini dapat diekspresikan secara konkrit. Model tindakan sedang diaplikasikan dalam praktik, dan masih banyak yang harus dilakukan menuju arah ini.

Tindakan kecil selalu dikritik karena dianggap tidak signifikan dan konyol terhadap struktur yang begitu formal seperti yang dimiliki oleh kekuatan kapitalis. Tetapi akan menjadi kesalahan untuk mencoba memperbaiki kondisi ini dengan menentang mereka atas dasar hubungan berdasarkan kuantitas daripada memperpanjang tindakan kecil, yang mudah diulangi oleh orang lain. Bentrokan signifikan itu justru karena kerumitan besar musuh yang terus- menerus dimodifikasi untuk mempertahankan konsensus. Konsensus ini bergantung pada jaringan hubungan sosial yang berfungsi di semua tingkatan.

Gangguan terkecil sekalipun jauh lebih merusak di luar batas tindakan itu sendiri. Ia merusak citranya, programnya, mekanisme yang menghasilkan perdamaian sosial dan keseimbangan politik yang tidak stabil. Setiap tindakan kecil yang datang bahkan dari sejumlah kecil kamerad, sebenarnya merupakan tindakan subversif yang berdampak besar. Ia jauh melampaui dimensi mikroskopis dari apa yang terjadi, meminimalisir banyaknya simbol sebagai titik acuan.

Inilah pengertian yang sering kita bicarakan tentangpemberontakan. Kita dapat mulai membangun perjuangan kita sedemikian rupa sehingga kondisi pemberontakan dapat muncul dan konflik laten dapat berkembang dan dikedepankan. Dengan cara ini sebuah kontak terjalin antara kaum anarkis minoritas dan situasi spesifik di mana perjuangan dapat dikembangkan.

Kita tahu bahwa banyak kamerad tidak membagikan ide-ide ini. Ada yang menuduh kita sebagai analitis yang sudah ketinggalan zaman, yang lain tidak melihat bahwa perjuangan mereka terbatas hanya melayani tujuan kekuasaan, dengan alasan bahwa, apalagi sekarang di era elektronik, tidak mungkin lagi berbicara tentang pemberontakan.

Tapi kita keras kepala. Kami percaya bahwa pemberontakan masih mungkin dilakukan saat ini, bahkan di era komputer.

Masih mungkin untuk menembus monster dengan tusukan jarum. Tapi kita harus menjauh dari stereotip perjuangan massa, dan konsep pertumbuhan tak terbatas dari sebuah gerakan yang mendominasi dan mengendalikan segalanya. Kita harus mengembangkan cara berpikir yang lebih tepat dan terperinci. Kita harus mempertimbangkan realitas dengan apa adanya, bukan apa yang kita bayangkan. Ketika dihadapkan pada suatu situasi kita harus memiliki gagasan yang jelas tentang realitas yang mengelilingi kita, bentrokan kelas yang direfleksikan oleh realitas seperti itu, dan mempersiapkan diri kita dengan sarana yang diperlukan sebagai seorang anarkis, kita memiliki model intervensi dan ide-ide yang sangat penting dan signifikansi revolusioner, tetapi itu tidak terjadi sendirinya. Ide itu tidak langsung dapat dipahami, jadi kita harus menerapkannya, tidak cukup dengan hanya menjelaskannya.

Upaya mempersiapkan diri kita sendiri dengan sarana yang diperlukan untuk pemberontakan harus membantu mengklarifikasi ide-ide kita, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk mereka yang datang untuk berjejaring dengan kita. Gagasan yang direduksi tentang cara-cara ini, yang membatasi dirinya hanya pada informasi tandingan, perbedaan pendapat dan pernyataan prinsip, jelas tidak memadai. Kita harus melampaui itu dan bekerja dalam tiga arah: kontak dengan massa (dengan jelas dan tepat sesuai persyaratan pemberontakan): tindakan dalam gerakan revolusioner (dalam pengertian subjektif telah disebutkan): konstruksi organisasi tertentu (berfungsi baik untuk bekerja di dalam massa maupun untuk bertindak di dalam gerakan revolusioner).

Dan kita perlu bekerja sangat keras untuk menuju ke arah ini.

IV. Penghancuran dan Bahasa

Alfredo M Bonanno 1996

(.) Struktur dominasi, kondisi konflik dan kom- posisi kelas tereksploitasi telah berubah sedemikian rupa sehingga operasi seperti “pengambilalihan Istana Musim Dingin” dalam pengertian marxis atau pembebasan kelas pekerja di kalangan anarkis menjadi pemikiran yang sangat tak terbayangkan. Kedua upaya ini adalah antitesis, tetapi keduanya sama-sama berbagi gagasan untuk mengambil alih tema produk- si dan menempatkannya di tangan perwakilan kelas tereksploitasi yang akan mengatur masyarakat yang dibebaskan. Jadi apa yang tersisa?

Yang tersisa adalah serangan destruktif ... dan ini adalah poin yang paling diragukan ... Apa arti kehancuran? Apa artinya merobohkan teralis, ketika seratus ribu, mungkin jutaan di antaranya masih berdiri? Apa yang signifikan?

Saya pikir kita harus sedikit merenung, mundur selangkah. Masing-masing dari kita telah membangun konsepsi positif dan negatif tentang realitas di dalam diri kita sendiri. Kita hidup dalam realitas yang kita anggap nyata (kecuali kita menerima konsep kupu- kupu dan mimpi), nyata dan positif, yaitu sesuai dengan dimensi konstruktif yang dilengkapi dengan karakteristik yang berkembang seiring waktu, dan kita mendefinisikan evolusi ini sebagai sejarah. Dari kabut kegelapan hipotesis negatif, paruh baya, kita telah mencapai peradaban modern. Di mana sekarang ada penisilin (antibiotik untuk infeksi bakteri), dan orang tidak lagi meninggal karena wabah atau bahkan malaria, setidaknya dalam batasan tertentu, karena masih ada bagian dunia di mana orang meninggal karena hal-hal ini.

Dengan demikian, dalam diri kita sendiri, kita memberi nilai positif pada yang konstruktif, karena kita adalah sebuah organisasi (bahkan dari sudut pandang biologis) dan terpaut perasaan takut mati sebagai konsep kehancuran yang ekstrim. Kita berpikir bahwa hidup kita adalah akumulasi dari hal- hal positif. Kita adalah bayi, kita tumbuh, kita menjadi lebih kuat, menjadi dewasa, kemudian menjadi orang tua, dan kemudian kita mati. Yang terakhir selalu terdegradasi ke masa depan, tetapi dalam perjalanan hidup, kita hanya ingin memperoleh ... pengakuan (namun tingkatan dalam hidup hanyalah ilusi, karena sebagai anarkis dan revolusioner kita tidak memiliki properti). Tapi bukan hanya itu yang hendak kita lakukan. Sejak saat kita menganggap pertumbuhan dan akuisisi sebagai hal yang positif, kita juga menganggap kuantitas adalah hal positif. Dengan kata lain, jika kita tahu tiga bahasa, kita menganggap diri kita lebih baik daripada seseorang yang hanya tahu satu atau dua bahasa. Kita tidak menyadari bahwa ada hipotesis fungsionalis, hipotesis utilitarian, dalam semua ini. Ada sisa-sisa dari proses abad ke-18 yang mengira bahwa dengan mengejar apa yang berguna dalam diri individu, seseorang akan meningkatkan apa yang berguna secara keseluruhan dalam kemanusiaan. Ini adalah konsep paling jahat yang memiliki banyak konsekuensi negatif. Apa yang terjadi jika kita menganggap kuantitas, kuantitas sehari-hari sebagai kualitas hidup kita?

Di atas keinginan yang menyakitkan untuk memiliki sesuatu untuk dimiliki, kita telah kehilangan sesuatu karena menjadi seseorang, kita telah kehilangan kualitas sebagai seseorang, dan kita tidak dapat lagi membedakan realitas kita, hal ini yang menciptakan kesukaran hidup.

Inilah alasan mengapa kita takutakan kehancuran: Pertama, karenaitu mengingatkan kita pada kematian. Kedua, karena itu mengingatkan kita pada penolakan fungsionalitas. Orang yang menghancurkan tidak berfungsi dalam hal apa pun.

Faktanya, tidak benar - setidaknya tidak sepenuhnya - bahwa merobohkan teralis benar-benar merusak kepentingan ENEL.1 Tidak ada persamaan di mana “berkurangnya satu teralis” sama dengan “satu cedera pada ENEL.” Hubungan absolut semacam ini tidak ada, dan siapa pun yang mencoba membuktikan persamaan seperti itu berbicara omong kosong. Jadi mengapa kita takut akan kehancuran? Kita takut akan sesuatu di dalam diri kita sendiri, bukan sesuatu di luar diri kita. Kita dapat memahami kuantitas, pertumbuhan, dan akuisisi melalui sebuah alasan. Kita dapat memahami kritik atas semua ini melalui akal, yang mengarah pada pemikiran sederhana yang saya sebutkan sebelumnya, ketidakpastian, keraguan, dll. Kita tidak hanya dapat memahami kehancuran melalui akal, karena untuk memahami konsep kehancuran dalam arti yang paling radikal, cepat atau lambat setiap orang akan mengerti, karena harus merasakan rasa jijik atas martabat kita yang tersinggung, dan untuk memahami arti kehancuran, kita masing-masing harus terlibat secara personal.

Kita tidak bisa menghancurkan sesuatu jika kita tidak mau menghancurkan diri kita sendiri pada saat menghancurkan sesuatu itu. Menurut saya, inilah konsep keterlibatan dalam tindakan destruktif. Kita dapat memisahkan tindakan serakah dan konstruktif dari diri kita sendiri dan berkata: “Lihat, saya memiliki rumah dan perpustakaan seluas 10.000 volume”, tetapi kita tidak dapat memisahkan gagasan kehancuran dari diri kita sendiri. Dengan kata lain, kita dapat menggunakan bahasa untuk mengilustrasikan konsep akuisisi, rumah, buku, budaya, pertumbuhan, tiga bahasa yang telah kita kuasai, tetapi kita tidak dapat menggunakan bahasa untuk menggambarkan masalah kehancuran. Kata-kataku tidak masuk akal. Inilah mengapa kata-kataku menghujani kepalamu seolah-olah kehilangan makna, karena berbicara tentang kehancuran tidak akan terdengar masuk akal kecuali melalui penggunaan bahasa lain. Jenis bahasa lain ini ... tidak hanya terdiri dari kata-kata, tetapi dari kombinasi luar biasa kompleks yang diwujudkan antara teori dan praktek. Totalitas kita masing- masing, sebagai manusia, kedalaman pemikiran kita, dan tubuh kita. Pemikiran merupakan simbiosis teori dan praktek, bukan hanya resiko, tapi juga keinginan, kesenangan, hasrat untuk menjalani hidup kita sepenuhnya, ini adalah bahasa yang berbeda. Dan itu bukan bahasa yang bisa diklasifikasikan dalam kata-kata ...

... Kehancuran bukanlah ide metafisik. Kehancuran tampak seperti menuju ke suatu tempat dan menghancurkan sesuatu, tetapi proses yang memungkinkan kita untuk melakukan tindakan ini adalah proses yang harus melibatkan kita dalam totalitas sebagai manusia seutuhnya, sebagai laki- laki dan perempuan yang mampu mengekspresikan diri secara penuh, bukan dalam pemisahan yang ingin membedakan kita dari apa yang telah kita peroleh, dari apa yang kita ketahui, dari apa yang kita miliki, dan juga bukan dalam pemisahan bahasa kata-kata yang mendominasi. Dan semua itu adalah bahasa yang ditentukan oleh rasionalitas penindasan selama berabad-abad, singkatnya, bahasa Cartesian dari mereka yang membangun penjara, menyiksa chambers, inkuisisi: bahasa para imam, Fransiskan, Dominikan (ordo religius Katolik) yang mengirim Giordano Bruno ke wilayah Campo di Fiori. Tetapi dalam kehancuran, bahasa lain dapat berlaku, dalam kehancuran bahasa lain diperlukan.

Dalam kehancuran, bahasa serampangan, bahasa pembongkaran, bahasamitos, Diony-sus, berkembang. Dionysus adalah dewa yang tidak dikenali, dewa yang datang seperti pencuri di malam hari, yang menembus ke dalam diri kita. Dionysus adalah dewa perempuan, bukan pria. Ini karena konsep kehancuran ini lebih mudah dipahami oleh perempuan daripada pria yang jauh lebih menakutkan daripada perempuan.

Mengapa konsep kehancuran dikaitkan dengan Dionysus, dewa yang datang di malam hari seperti pencuri, dewa yang tidak memiliki tempat pemujaan tetapi merupakan orang asing di mana-mana dan di mana-mana dirasuki oleh pemujaan dewa-dewa lain? Karena kultus Dionysus pada dasarnya didasarkan pada kehancuran, memang, pada sobekan berkeping- keping musuh (sparagmos). Mangsa dipotong-potong, didobrak, dihancurkan, dan inilah makna efektif dari kehancuran, di mana kita melihat keterlibatan Dionysian — dalam tindakan menghancurkan primordialisme secara radikal dari akarnya yang paling dalam. Ini tidak ada hubungannya dengan serangan kuantitatif.

Untuk pertama kalinya, kita memasuki tingkatan masalah yang berbeda, yang tidak ada hubungannya dengan kritik tradisional partai, serikat pekerja, dll. Tentusaja, ketika kita berbicara tentang penghancuran, karena ini adalah ladang ranjau yang berbahaya yang di mana akan ada banyak yang keberatan, diskusi bisa berlangsung terus menerus. Inilah sebabnya saya ingin menyimpulkan dan mengatakan konsep kehancuran dapat diekspresikan melalui totalitas orang yang melakukannya dalam ranah praktis, dan pada saat dia mengaplikasikannya dalam tindakan, itu menjadi teori yang memungkinkan untuk dipahami oleh lainnya. Tidak seperti konsep konstruktif, yang dapat dipisahkan dari orang yang menjalankannya, yang kemudian bisa pandai berbicara tentang masalah yang berkaitan dengan konstruksi, dan sebagainya.

... Kita harus memahami dengan baik bahwa kita tidak hanya mengenal bahasa dari kata-kata, tetapi juga ada memahami adanya kemungkinan menggunakan bahasa lain untuk berkomunikasi. Bisa dikatakan bahwa kita masing-masing memiliki bahasanya sendiri. Inilah sebabnya, ketika kita memahami apa itu kehancuran, ketika kita memahami bahwa ini bukan hanya tentang menghancurkan komputer, ketika kita menyadari bahwa ini juga karena ketidakseriusan, tetapi ada hal lain juga yang perlu kita pertimbangkan, sesuatu yang melibatkan kita secara pribadi pada kedalam diri kita masing- masing, dan dorongan awalnya berhubungan dengan diri kita yang tercoreng martabatnya, karena orang lain mengira kita tidak akan berada di titik ini, maka kita bahkan tidak akan menjadi salah satu rekan, maka ketika kita sudah menguasai bahasa kehancuran, kita juga dapat memulai untuk menghancurkan.

Pernahkah kamu bertanya pada diri sendiri mengapa kamu merasa jijik ketika melihat seorang fasis? Padahal dia adalah manusia, sepertimu, seperti saya. Atau lebih tepatnya, fasis terkadang adalah pria dan perempuan muda yang cantik, lalu mengapa mereka membuatmu jijik? Mengapa polisi membuatmu jijik? Karena mereka berbahaya? Atau karena apa yang mereka katakan? Tidak. Ini adalah sesuatu yang tidak dipahami dengan baik. Ketika saya di penjara, hal terburuk yang tampak di depan mata saya adalah pria berseragam. Lalu karena itu saya menutup pintu untuk menghindari melihat mereka, untuk menghindari mendengar mereka berbicara. Mereka bahkan mungkin mengatakan hal-hal menakjubkan (fakta yang sulit bagi dirinya sendiri), tetapi ada sesuatu yang tidak dapat dipahami, perasaan jijik yang timbul.

Ketika berbicara tentang masalah kehancuran, ada juga yang keberatan bahwa tidak mungkin untuk membedakan antara perusak yang menghancurkan segalanya dan yang menyerang secara revolusioner setelah melalui proses penalaran yang tepat. Masalahnya seperti itu akan tetap ada dan tidak mudah diidentifikasi. Perbedaan “obyektif” antara aksi revolusioner destruktif dan aksi vandalisme tidak dapat dipastikan, tanpa melalui proses yang sangat panjang. Kita tidak dapat mencari perbedaan “objektif” yang dapat meyakinkan kita untuk selamanya. Kita tidak dapat mengatakan bahwa menghancurkan mobil polisi dan merobohkan teralis adalah tindakan revolusioner dalam diri kita sendiri, sedangkan bertarung di stadion olahraga adalah hooliganisme. Rasa terima kasih bukanlah faktor yang menentukan perbedaan antara hooliganisme dan tindakan revolusioner. Jika memang, sekali lagi hipotesis fungsionalis akan ada di sana, tujuan yang ingin dicapai akan sepenuhnya menempati ruang penalaran. Jika kita berpikir bahwa dengan menebang teralis ENEL, kita merobohkan jantung negara, maka kita benar-benar mati di luar angkasa, meski masih ada ratusan teralis. Ini bukan logika matematika yang perlu diperhitungkan.

Penting untuk dipahami bahwa perbedaan selalu ada dalam kedewasaan individu, dari orang-orang yang melakukan tindakan ini, terhadap apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan, dan bahkan dalam apa yang dapat mereka proyeksikan secara praktis, atau mengubah mimpi menjadi aktivitas konkret.

Tidak ada keraguan bahwa dalam hooligan orang-orang menemukan, menentang, dan mengakumulasi perasaan yang tidak dapat dikenali. Ada tindakan serampangan, ketidaktahuan, ketidakmampuan perusak untuk memahami elemen-elemen yang menentukan realitas yang mengelilinginya. Tapi ada juga rasa pemberontakan. Itu tidak berarti bahwa pemberontakan ini selalu harus didahulukan, karena sering kali dalam hooligan naluri kawanan juga muncul. Faktanya, tidak sepenuhnya bahwa mereka yang berkelahi di stadion olahraga melakukan kerusuhan secara individu. Mereka hampir selalu diatur melalui proses pengumpulan, dibiayai oleh berbagai klub, melalui struktur tim, simbol, slogan, potongan ideologi lama, dll.

Mereka yang menyerang sebuah struktur musuh dan tidak mengikat diri mereka pada suatu rencana “obyektif” yang murni, kawan-kawan demikian be- rangkat dari motivasi yang berbeda, motivasi yang bisa dibilang lebih matang dan tepat secara sosial. Bila diamati secara individual, seorang suporter bola tidak dapat menikmati hari minggunya dengan baik, sementara di sisi lain, seorang pemberontak, meli- batkan seluruh kediriannya dalam menyerang suatu target. Pemberontak seperti ini memasuki dimensi destruktif dan membuat pemotongan pada tradisi usang kuantitas, pertumbuhan dan institusionalisasi kehidupan yang diatur oleh orang lain.

Menurut hemat saya, kunci dari penjelasan seperti itu dapat dijangkau dengan mengamati perilaku yang menekankan pada subyektivitas, dan bukannya malah mengacuhkan penekanan pada perilaku subyektif dan secara sembarangan merujuknya sebagai sebuah atomisasi yang mana komponen- komponen individual tidak memiliki kohesivitas di antara mereka. Dari sini cukup jelas bahwa kita sangat ragu dalam mengakui bahwa motivitasi individual dapat menghasilkan suatu titik berangkat yang penting. Alasan kita menjadi sangat ragu untuk mengakui hal ini adalah karena dalam rentang ratusan dan lima puluhan tahun belakangan, kita disuapi oleh argumen meyakinkan bahwa titik berangkat individual merupakan suatu kekeliruan, dan bahwa kita seharusnya berangkat dari analisis kelas yang obyektif secara historis, melalui mekanisme yang intrinsik dalam sejarah, bahwa titik berangkat kita harus melalui apa yang disebut sebagai dialektika materialisme. Kita masih sangat terjerembab dalam tradisi usang semacan ini.

Tentang Penulis

a-m-alfredo-m-bonanno-dari-kerusuhan-ke-insureksi-2.jpg

Alfredo Maria Bonanno (lahir 1937 di Catania , Italia ) adalah salah satu teoritisi utama anarkisme insureksioner kontemporer yang menulis esai seperti Armed Joy (yang membuatnya dipenjara selama 18 bulan oleh pemerintah Italia), Ketegangan Anarkis, dan lainnya. Dia adalah seorang redaktur dari Anarchismo dan banyak publikasi lainnya, hanya beberapa yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia . Dia telah terlibat dalam gerakan anarkis selama lebih dari empat dekade.

Kehidupan Politik

Padatahun 1960 kecenderungan dalamanarkisme Italia yang tidak memiliki hubungan yang baik dengan kelompok anarkis yang lebih klasik seperti Federasi Anarkis Italia atau dengan anarko-platformis, kecenderungan GAAP (Kelompok Aksi Anarkis Proletar) mulai muncul sebagai kelompok-kelompok lokal. Kelompok-kelompok ini menekankan aksi langsung , kelompok afinitas informal dan melakukan perampokan untuk mendanai kegiatan anarkis. Dari dalam kelompok-kelompok inilah Bonanno muncul, terutama dipengaruhi oleh praktik anarkis Spanyol yang diasingkan, Josep Lluis i Facerias.

Zine “Do or Die” melaporkan bahwa “Banyak kritik anarkis insureksioner Italia terhadap gerakan tahun 70-an berfokus pada bentuk-bentuk organisasi yang membentuk kekuatan perjuangan dan dari sini ide yang lebih berkembang tentang organisasi informal tumbuh. Kritik terhadap organisasi otoriter tahun 70-an, yang anggotanya sering percaya bahwa mereka berada dalam posisi istimewa untuk berjuang dibandingkan dengan proletariat secara keseluruhan, semakin disempurnakan dalam perjuangan tahun 80-an, seperti perjuangan awal 1980-an melawan pangkalan militer untuk menampung senjata nuklir di Comiso, Sisilia. Kaum anarkis sangat aktif dalam perjuangan itu, yang diorganisir menjadi liga-liga swakelola. “Seorang yang paling menonjol dari ide- ide ini adalah Bonanno dan publikasinya Anarchismo.

Pada 1993 Bonanno menulis For An Anti- authoritarian Insurrectionalist International di mana ia mengusulkan koordinasi antara insureksionalis kawasan Mediterania setelah periode pembubaran Uni Soviet dan terjadinya perang saudara di bekas Yugoslavia.

Bonanno adalah salah satu dari ratusan anarkis Italia yang ditangkap pada malam 19 Juni 1997, ketika pasukan keamanan Italia melakukan penggerebekan di pusat-pusat anarkis dan rumah-rumah pribadi di seluruh Italia. Penggerebekan menyusul pemboman Palazzo Marino di Milan, Italia pada tanggal 25 April 1997. Pada tanggal 2 Februari 2003 Bonanno dijatuhi hukuman 6 tahun penjara ditambah denda € 2000 (tingkat pertama 3 tahun, 6 bulan) untuk perampokan bersenjata dan aksi-aksi lainnya. Tuduhan ini terkait dengan skandal “Pengadilan Marini" di mana banyak kaum anarkis Italia dihukum karena menjadi anggota kelompok bersenjata subversif yang, oleh media dan pemerintah, mencap Bonanno sebagai pimpinan ideologisnya.

Pada 4 Oktober 2009, Bonanno ditangkap bersama anarkis Yunani Christos Stratigopolous di Trikala, Yunani tengah karena dicurigai melakukan perampokan bersenjata di bank lokal. 46.900 euro ditemukan di dalam mobil tunai. Pada 22 November 2010 Bonanno dijatuhi hukuman 4 tahun dan segera dibebaskan dari penjara (dia menghabiskan sekitar satu tahun di sana dan dia berusia lebih dari 70 tahun saat itu). Stratigopolous dijatuhi hukuman 8 tahun 9 bulan dengan kemungkinan pembebasan pada akhir 2011.

Bonanno ditolak masuk ke Chili pada 13 Desember 2013. Bonanno berencana untuk berpartisipasi dalam serangkaian konferensi di Chili. Setelah tiba di Chili dengan Sky Airlines dari Argentina, dia diterbangkan kembali ke Argentina dengan maskapai yang sama dua jam setelah kedatangan. Kepolisian Chili mengatakan alasan penolakan mereka adalah dengan catatan pidana dari Bonanno.