Seorang anarkis yang mendasarkan intervensi revolusionernya dalam perjuangan sosial tepatnya pada dirinya sebagai seorang perempuan adalah Emma Goldman, dan kesaksian yang sangat jelas tentang hal ini dapat ditemukan dalam tulisan-tulisannya.

Hambatan yang dihadapi Emma selama tiga puluh tahun propaganda anarkis serta polemik yang dipertahankannya masih terjadi dalam gerakan revolusioner saat ini, dan tidak sedikit jadi perhatian dari perjuangan pembebasan perempuan.

Ketika Emma bentrok dengan laki-laki chauvinis, yang dikenal di antara kaum anarkis yang menghabiskan semasa hidup mereka dalam perjuangan untuk revolusi sosial, dan berdebat dengan laki-laki seperti Most atau Kropotkin, pertama-tama ia melakukannya sebagai seorang perempuan, Ia menolak peran marjinal yang dipaksakan pria-pria ini padanya, nyaris secara tidak sadar. Ketika dia memprioritaskan pertanyaan seksual, dengan menunjukkan diskriminasi yang dialami perempuan dan dampak sosial yang sangat jelas ditimbulkannya, dia sering menyebabkan skandal dan menimbulkan kekhawatiran di dalam organisasi revolusioner itu sendiri. Dan ketika, pada tahun 1900, pada konferensi anarkis internasional di Paris, mereka ‘menyarankan’ agar dia tidak mengangkat pertanyaan seksual agar tidak ‘memberi kesan buruk’ pada pers, saat itu juga dia bangkit dan pergi.

Situasi ini sebagian besar masih berlanjut, atau lebih tepatnya, dengan penajaman tematik dan pendalaman analisis yang lebih akut, mengakarnya posisi yang tidak dapat berkomunikasi satu sama lain dalam bentrokan fiktif antara laki-laki dan perempuan, yang menyebabkan banyak kesalahpahaman.

Sebelum membahas pertanyaan secara lebih spesifik, penting untuk mengklarifikasi sesuatu. Pembebasan perempuan, atau feminisme, tidak dapat dengan mudah hidup berdampingan dengan mitologi revolusioner dalam klasifikasi otoriter (dan sekarang kita akan melihat alasannya); ketika kohabitasi [1] ini ada, itu hampir selalu karena kompromi instrumental. Kecenderungan konfrontasi selama beberapa tahun terakhir, gerakan feminis telah menemukan dirinya dikelilingi oleh instrumen-instrumen analisis marxis dan kebanyakan feminis menggunakannya. Ini bukan saat yang tepat, untuk menghindari banyaknya besi dalam api, untuk melihat fakta bahwa instrumen-instrumen ini berasal dari perspektif otoriter intervensi revolusioner, karena mereka lebih menyukai melanjutkan kesalahpaham itu untuk membangun struktur intervensi, dan menunda klarifikasi teoritis sampai nanti.

Pada dasarnya, bagi kita revolusi yang diperjuangkan perempuan tidak dapat dicapai melalui perspektif otoriter, dalam artian perempuan berada di bawah komando ‘elite’ (partai proletariat) di masa depan jangankan laki-laki. Pemikiran seperti ini sama saja dengan mengulangi kesalahan-kesalahan perjuangan emansipasi yang dilakukan oleh perempuan di masa lalu yang membawa mereka memasuki profesi yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi laki-laki, sekaligus mengantar mereka ke Parlemen dan voting; tetapi tidak membawa mereka satu inci pun ke jalan menuju kebebasan dan revolusi feminis. Bukan hanya itu. Dimulai dari kecacatan selama berabad-abad dan berabad-abad ‘gynaeceum[2], mereka harus melakukan upaya menjadi manusia super untuk membuat diri mereka setara dengan subjek laki-laki yang ‘memiliki hak istimewa’, hanya untuk akhirnya berkontribusi pada produksi kekayaan kapitalis.

Orang dapat menolak semua ini dengan wacana evolusi progresif perjuangan, pendewasaan massa yang tereksploitasi dan sebagainya, tetapi itu tidak akan mengubah masalah mendasar yang ada: revolusi feminis tidak dapat dibangun di atas struktur otoriter, ia harus diciptakan sendiri. Berjalan keluar dengan cara yang berbeda secara kualitatif, menyerang pusat-pusat kekuatan laki-laki, bukan untuk menggantinya dengan yang lain (perempuan), tetapi menghancurkan segalanya. Dalam perspektif ini tampak bagi kita bahwa revolusi feminis dan revolusi anarkis harus beriringan.

Akan tetapi, tujuan akhirnya tidak dapat mengurangi keterlibatan perempuan (dan kaum anarkis) dalam tatanan parsial, analisis yang tepat atas tatanan ini dan intervensi dalam pengertian revolusioner.

Pertama-tama, hancurkan ilusi kuantitas dalam dirimu. Sebenarnya, apa perbedaan antara Goldman dan Kropotkin atau Most, dan apa perbedaan pendapat antara banyak perempuan dan laki-laki saat ini? Tepatnya satu pihak atau pihak lain yang menghitung keterlibatan, mengukur kapasitas intervensi mereka melalui jumlah militan, sesuai skema partai. Pada dasarnya, Most andil dalam gerakan anarkis Jerman di Amerika Serikat. Dia tahu bahwa banyak kamerad Jerman, baik karena akar agama mereka maupun dualitas laki-laki yang merasa sulit untuk menghindari evaluasi terhadap perempuan berdasarkan jenis kelamin, tidak menyukai rekan perempuan (yang bagaimanapun perempuan) juga terlibat di dalamnya. pertanyaan-pertanyaan tertentu (sisa dari kehormatan hipokrit).

Siapa pun yang terjebak dalam logika kuantitatif sedang berjuang dalam perspektif revolusioner, tetapi dengan cara yang tidak memadai. Siapa pun yang terus mengukur, akhirnya menetapkan garis pendekatan objektif yang tidak siap mereka pertanyakan. Titik rujukan mereka adalah gerakan yang dieksploitasi secara umum, dengan ide-ide yang dimilikinya pada waktu tertentu. Nah, sejauh menyangkut persoalan perempuan, tidak diragukan lagi bahwa gerakan kaum tereksploitasi secara keseluruhan memiliki pemikiran yang cukup retrograde (perempuan sebagai objek seks, sebagai bidadari domestik, paling banter sebagai orang kedua di tempat kerja). Akibatnya, siapa pun yang memutuskan untuk terjebak dalam logika kuantitatif untuk mempengaruhi ide-ide ini dengan propaganda dan tindakan politik, tetapi, pada saat yang sama tidak dapat terus memeriksanya, sehingga memungkinkan gagal untuk ‘menyarankan’ kepada kamerad (perempuan) untuk ‘terlibat kembali’). Anarkis tidak berbeda dengan Marxis dalam aspek ini. Bahkan kawan-kawan perempuan yang terjebak logika kuantitatif dalam (membangun gerakan) tidak akan bisa bertindak sebaliknya (jika memang ingin membangun sesuatu).

Jadi, bagi kita tampaknya, sebagian besar dari upaya gerakan feminis memang ditujukan untuk menangkis denyut chauvinistik kamerad laki-laki. Ini juga harus ditujukan untuk menganalisis tujuan gerakan dan strukturnya, bagaimanapun, untuk menghindari jatuh ke dalam kontradiksi ‘beri ruang untukku’.

Lalu ada sisi lain dari pertanyaan itu. Jika revolusi feminis bergandengan dengan anarkis, maka metodologi intervensi memungkinkan menjadi serupa, dan jika tidak sama. Bagaimana kaum anarkis memandang diri mereka sendiri terkait massa? Dan bagaimana perempuan menempatkan dirinya dalam masalah yang sama?

Kaum anarkis tidak menempatkan diri mereka sebagai pemegang kebenaran, sebagai pemandu, atau sebagai ingatan revolusioner. Nyatanya, mereka bahkan tidak menempatkan diri ‘di hadapan massa’, mereka adalah milik semua orang. Ketika mereka memberi arti penting bagi beberapa organisasi mereka, mereka melakukannya untuk ‘memperdalam’ peristiwa revolusioner karena mereka dipaksa untuk mendekati revolusi secara bertahap, mereka memiliki kebutuhan strategis untuk perjuangan melawan kekuasaan. Mereka tidak boleh jatuh ke dalam keraguan kuantitatif. Bukan gerakan anarkis besar yang menentukan peristiwa-peristiwa pembebasan-revolusioner. Sejumlah besar kondisi memunculkan peristiwa revolusioner, kaum anarkis hanyalah satu komponen, yang segera mengarah pada tindakan pembebasan, yang dapat disingkirkan dan dibunuh oleh minoritas yang berkepentingan.

Hal yang sama juga terjadi pada perempuan. Jika mereka berdiri di hadapan massa hanya sebagai perempuan, mereka tidak bisa tidak membedakan antara dua kelompok berbeda dari jenis kelamin yang berbeda dalam massa. Dengan cara ini ‘semua perempua’ memiliki potensi revolusioner, yang masih harus dilihat. Dengan cara yang sama, semua pekerja menjadi bagian hipotetis dari potensi revolusioner, bahkan polisi, hakim, politisi, mafiosi. Tentu saja, mulai dari logika kuantitatif, solusi ini sangat nyaman, membuat perempuan merasa kuat, menjadikannya bagian dari ‘banyak saudara perempuan’, tetapi tentu saja itu tidak membawanya menuju pembebasan. Bukan hanya bermula dari kondisi sebagai perempuan, kondisi ini menjadi terkait dengan konsep ‘kebenaran’ dan perempuan menjadi pembawa kebenaran, yang harus dipahami oleh separuh massa lainnya (laki-laki).

Di sisi lain, jika perempuan melihat dirinya sebagai seorang revolusioner anti-otoriter, meninggalkan perspektif mengambil alih apapun untuk menghancurkan jenis kelamin lainnya, bahkan mungkin lebih dari dirinya sendiri yang telah dihancurkan hingga sampai sekarang, tetapi menempatkan semua keterlibatannya dalam Peristiwa revolusioner pembebasan, memasukkan dirinya ke dalam struktur organisasi yang dimulai dari matriks feminis, memungkinkan untuk mengagungkan tematik dan motivasi yang mengedepankan masalah perempuan. Maka itu tidak akan lagi menjadi masalah yang membagi dunia menjadi dua bagian besar, tetapi menunjukkan pengotakan yang ada sebagaimana eksploitasi kapitalis, selalu mencela habis-habisan pembagian ini, melucutinya, sampai hari pembebasan akhir dan penghapusan setiap divisi, termasuk berdasarkan perbedaan gender.

Meskipun demikian, kami tidak menyarankan bahwa perempuan harus ‘melunakkan’ tuduhan kekerasan yang meledak di dalam diri mereka saat mereka menyadari eksploitasi ganda yang mereka derita, untuk memasuki ‘gerakan revolusioner’ yang ‘totalitas’. Sayangnya, bahkan di antara kamerad-kamerad yang berjuang untuk revolusi, yang berupaya ke arah pembebasan, namun justru merasa tidak ‘dibebaskan’, masih ada sisa prasangka dan diskriminasi yang tidak mudah diberantas. Perempuan merasakan semua itu dan mempertajam perjuangannya. Tetapi situasi ini adalah konsekuensi dari eksploitasi kapitalis yang membatasi perempuan dengan eksploitasi ghetto [3] yang tepat sasaran: diskriminasi sosial ghetto. Perempuan menjadi dihargai sebagai objek seks. Apa pun yang dia lakukan, tidak peduli aktivitas apa yang dia lakukan, dalam bidang apa pun yang melibatkan dirinya, jenis kelaminnya atau lebih tepatnya yang menurut pria jenis kelaminnya, datang sebelum dia. Hal ini melukai perempuan dan membawanya pada kesadaran bahwa jika dia ingin mencapai revolusi feminis, dia harus, sebelum hal lain, merobohkan penghalang ini. Tetapi merobohkan penghalang ini tidak dapat terjadi tanpa merobohkan penghalang lain secara bersamaan. Perempuan akan selalu dianggap sebagai objek seks selama ada dunia yang terbagi ke dalam kelas, alih-alih menguranginya menjadi objek dia justru terkurung di dalam ghetto, dengan proses kriminalisasi yang sama yang diadopsi oleh minoritas berbahaya lainnya: tahanan, terasing, dll.

Dan tuduhan besar kekerasan revolusioner datang dari kesadarannya yang merasa dirinya terjebak di dalam ghetto. Dengan proses yang tidak berbeda, para tahanan saat ini mendapatkan kesadaran akan situasi mereka sebagai ghettoized dan meledak dalam pemberontakan yang diatasi dengan semakin banyak kesulitan. Juga di sini kita menghadapi bahaya yang tidak mudah dihindari. Seseorang berisiko menekankan ‘narapidana’ hanya karena dia adalah manusia yang dibatasi di dalam empat dinding. Bagi kita, ini tampaknya, momen pertama pertumbuhan gerakan, momen di mana, tepatnya, gerakan itu mengobjektifkan dirinya sendiri dan melakukannya dengan cara makroskopis yang dimilikinya: dalam kasus penjara, penjara sebagai bangunan , sebagai institusi total; dalam kasus perempuan, jenis kelamin, sebagai pembeda blak-blakan antara dua dunia yang berbeda.

Tapi kemudian gerakan dalam penjara itu berkembang. Ia meninggalkan periode masa bayi di mana ia dapat dikenali melalui karakteristik yang paling cepat, dan mengembangkan kedalaman revolusionernya sendiri. Dengan cara yang sama, para narapidana menyadari bahwa perjuangan melawan institusi total hanya dapat memiliki jalan keluar jika ia menghubungkan dirinya dengan institusi total lainnya, masyarakat yang mengeksploitasi, dan bahwa keberlangsungan institusi tersebut akan selalu dan terus menerus mencegah kehancuran institusi pertama. Dan menyadari bahwa mengembangkan analisis kelas, mereka membedakan musuh dan memisahkan mereka dari sekutu, mereka mengorganisir sebagai minoritas revolusioner, memilih tujuan dan sarana yang dapat mereka jangkau. Hanya dengan begitu mereka benar-benar berbahaya untuk kekuasaan, dan barulah represi menjadi ganas, karena tidak mungkin lagi menarik mereka ke dalam perangkap pengurangan hukuman, jaminan, amnesti, reformasi penjara; Transformisme kekuatan yang berarti, dengan cara ini, mentransfer ghetto dari satu ghetto (yang lebih kecil) ke ghetto lain (yang lebih besar).

Dan gerakan feminis juga tumbuh, mengesampingkan diskriminan atas dasar seks yang semua upayanya dikontrol sejak awal. Perjuangan melawan sesama jenis hanya memiliki alasan untuk dimasukkan dalam perjuangan melawan bos, melawan lembaga yang membela bos, melawan mekanisme yang diciptakannya untuk melanggengkan eksploitasi. Dalam perspektif yang lebih luas ini, perjuangan feminis juga menjadi fundamental, memaksa setiap orang untuk menyadari masalah yang (bagi mereka yang diistimewakan) tampaknya menjadi masalah sekunder. Hanya jika kaitan ini ditarik lebih jauh, gerakan feminis akan muncul dalam segala bahaya bagi kekuasaan; dan itu karena, selama fase itu, ia tidak akan menuntut sesuatu yang ‘khusus untuk perempuan’, tetapi akan menuntutnya untuk semua yang tereksploitasi: permintaan yang sepenuhnya revolusioner, yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang telah mengalami eksploitasi terburuk dari semua. Dan melawan amukan perempuan, tidak akan mudah bagi kekuasaan untuk menemukan solusi yang akomodatif.

[1] Istilah yang di tujukan kepada pasangan yang tinggal satu atap tanpa ikatan perkawinan.

[2] Sebuah bangunan khusus atau merupakan bagian rumah yang dikhaskan untuk wanita.

[3] Tempat tertutup yang tepisah dari kota, distrik-distrik di dalam kota (sering kali tertutup) yang digunakan Jerman untuk mengumpulkan warga Yahudi dan memaksa mereka untuk hidup dalam kondisi yang menyedihkan.