1. Manusia

      2. Penderitaan

         a. Negara dan Kapitalisme

         b. Ideologi

         c.Teknologi

         d. Masyarakat

1. Manusia

Banyak penulis memberitahu kita tentang apa, bagaimana, kenapa dan siapa itu manusia, beberapa dari mereka begitu ambisius memberitahu kita bahwa manusia adalah hewan yang gagal (bahkan untuk sekadar) menjadi dirinya sendiri; ia adalah yang asing bagi alam. Osamu Dazai lewat Ningen Shikakku dengan vulgar, sensitif, impulsif, pesimis dan depresif menceritakan kegagalan-kegagalan manusia. Kegagalan yang Dazai kemas dengan narasi semi biografis nan puitis itu tak diragukan lagi, telah menjadi khazanah kesusastraan terbesar yang dapat membantu manusia mengoreksi, memahami sekaligus membenci dirinya sendiri. Bahkan Dazai melalui magnum opusnya tersebut (seolah-olah) telah mendorong manusia untuk (dengan senang hati) mempreteli dirinya, merabut, membuang bagian-bagain dari dalam dirinya sendiri ke dalam kurungan ketidakberdayaan hidup (transisi tradisional ke modern) masyarakat Jepang tempo itu sampai terefleksi ke dalam masyarakat dunia hari ini.

Sulit untuk mendefiniskan manusia secara holistik, selalu saja ada yang tak terkatakan saat kita mencoba mendefiniskannya, jangankan manusia, untuk mendefinisikan air saja kita senantiasa kekurangan. Meski seseorang tentu dapat berkata bahwa air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi, yang sifatnya netral (tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau) dalam kondisi alaminya. Ya, definisi semacam itu benar; dapat diterima, tapi tetap saja ada yang luput. Definisi tersebut luput untuk menjelaskan bahwa air juga dapat berwujud padatan (es), cairan (air), dan gas (uap air). Luput untuk menjelaskan bahwa secara anatomis air adalah senyawa kimia yang memiliki 1 atom oksigen dan 2 atom hidrogen, dan masih begitu banyak lagi keterluputan manusia tentang air.

Meski begitu, lubang-lubang besar dari setiap definisi dan upaya pendefinisian manusia oleh siapapun tidak dapat dianggap sebagai kesia-siaan, tidak ada yang benar-benar sia-sia termasuk kesia-siaan itu sendiri, karena selalu ada saja yang bisa kita/seseorang lengkapi tentang sesuatu, termasuk tentang manusia. Setiap definisi yang ada tentang manusia disandarkan pada keyakinan-keyakinan serius, yang pembuat definisinya buktikan/tunjukkan lewat bukti-bukti yang mereka dapat. Keyakinan-keyakinan tersebut dapat kita tolak sekaligus kita terima di waktu bersamaan–meski perlu kita ingat pada tingkat pemahaman bahasa yang amat dangkal, keyakinan hanya mengisyaratkan suatu sikap yang ditunjukan seseorang untuk menyatakan bahwa dirinya telah merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran ‘tertentu’.

Cioran dalam buku On the Heights of Despair begitu yakin, manusia adalah hewan yang tidak bahagia, ditinggalkan dan dipaksa untuk menemukan jalan hidupnya. Tentu, menjadi yang sepakat atau tidak sepakat dengan definisi Cioran saja merupakan kekeliruan, untuk benar-benar dapat memahami dan menemukan arti manusia bagi diri kita sendiri, kita bukan hanya perlu sepakat sekaligus tidak sepakat dengan apa pun, kita perlu–bahkan harus–menjadi bukan dan berada di luar keduanya. Manusia adalah yang rumit, tidak akan ada jalan yang lurus bagi kita untuk dapat memahaminya, segala sesuatunya akan jauh, melelahkan, terus-menerus serta membingungkan.

Mencoba memahami manusia adalah penderitaan–mungkin.

2. Penderitaan

Jika boleh meminjam dan mengubah satu larik yang pernah si anjing Rifki tulis di puisi berjudul ‘Rigen’ dalam buku puisinya berjudul Akheiron untuk mempertanyakan kembali apa yang begitu mendalam dirasakan manusia, mungkin pertanyaannya kurang lebih begini: “Kiamat macam apa yang manusia derita?”

Untuk dapat menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyusun daftar penderitaan manusia hari ini, mengumpulkan penyebab serta alasan-alasannya. Pekerjaan ini tentu tidak mudah, bahkan hampir mustahil. Mengapa? Karena manusia adalah hewan yang cenderung memonopoli tragedi dan penderitaan yang ada di dunia ini; tidak ada yang tidak dapat dibuat/membuat manusia menangis, manusia dapat menangisi segala sesuatu sekaligus dapat membuat segala sesuatu menangis, tidak ada penderitaan yang tidak datang darinya, manusia adalah bencana bagi seluruh hal yang berada di dalam dan di luar dirinya.

Pernyataan dalam tulisan ini tidak perlu konteks, kita tentu tidak berniat untuk menjelaskan penderitaan manusia dari sudut pandang atau pijakan tertentu. Seseorang, senantiasa akan menemukan konteksnya masing-masing karena tiap hidup tidak pernah tak berada dalam konteksnya.

Seseorang mungkin akan dapat melampaui penderitaan dengan menyadarinya, atau akan dapat menyadarinya dengan melampauinya. Tidak ada satu pun formula kaku yang ampuh untuk meredakan penderitaan manusia. Meski demikian diskusi untuk kemungkinan-kemungkinan yang tepat bagi praktek-praktek penyingkiran penderitaan manusia menjadi menarik untuk dicoba.

Jadi kiamat macam apa yang sebenarnya manusia derita? Kiamat yang manusia derita adalah keberadaanya sendiri. Seseorang mungkin dapat menjawab demikian, tapi kita tidak perlu suara-suara orang lain, kita perlu suara kita, yang hanya datang dari dalam dan untuk diri kita seorang. Tapi apakah kita mampu untuk memisahkan diri kita dari makna dan simbol penderitaan yang keberadaannya (bahkan) telah mendahului keberadaan kita sekarang ini, lalu menemukan sendiri ‘penderitaan’ dengan bahasa yang kita buat sendiri? Sepertinya kita kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang (berangsur-angsur secara tak sadar) telah kita ajukan sendiri dalam tulisan ini.

Jadi kiamat macam apa yang kuderita?

a. Negara dan Kapitalisme

Jika, kita boleh menyerah dengan pertanyaan-pertanyaan milik kita masing-masing. Akui saja bahwa: benar kata Rumbayan, tiap dunia punya banalnya sendiri. Tidak semua hal adalah/harus membingungkan/menjadi bingung. Ada beberapa kedangkalan tegas yang tidak dapat kita pungkiri. Seperti Negara dan Kapitalisme, kita tidak perlu ragu atau bingung untuk menjawab (jika seseorang bertanya “bagaimana kedua hal itu menurutmu?”) keduanya itu berengsek!

Meski kita tahu, tidak ada manusia yang ingin hidup menderita, banyak yang akan sepakat dengan ungkapan itu. Tapi sayangnya kita tidak pernah benar-benar melihat bagaimana manusia berusaha (dengan sungguh-sungguh) menyingkirkan penderitaan. Manusia bukan hanya telah menerima eksistensi penderitaan sehingga ia dapat menyadari/merasakan kehadirannya, tapi telah memilih, bahkan menghidupkan banyak penderitaan. Manusia menciptakan sumber-sumber tambahan bagi penderitaannya sendiri, prodak tercanggihnya, tentu saja Negara dan Kapitalisme.

Keberadaan manusia (di mana, sedang dan untuk apa) hari ini sepenuhnya dipengaruhi oleh dominasi negara dan kapitalisme. Keduanya, sebagaimana yang kita ketahui bersama telah mengatur cara kita hadir (bersikap dan berperilaku), negara memaksakan seperangkat aturan main yang menekan individualitas, merusak orisinalitas kehendak manusia dengan hukum. Kapitalisme mendomestifikasi kita, mengukur kita dari kinerja, membayar dan merenggut sebagian besar waktu hidup kita. Negara dan kapitalisme adalah satu dari banyak subjek ciptaan manusia yang paling serius memproduksi penderitaan bagi penciptanya.

b. Ideologi

Manusia telah memilih penderitaan untuk dirinya sendiri, dan sumber atas penderitaan itu bekerja di dalam pikirannya. Manusia yang dikutuki bebas (tak disangka) ternyata memilih dan membangun penjaranya sendiri.

Tentu ide, gagasan, ajaran, dogma, tujuan dll., dll. mampu membuat manusia seolah-olah lepas dari situasi nihilnya yang alami. Tetapi Ideologi yang telah mengisi kekosongan manusia–mengganti kekosongan yang awalnya penuh di dalam dirinya itu dengan tujuan, kesadaran dan angan-angan–hanya akan melarutkan manusia ke dalam penderitaan-penderitaan hidup atas raibnya kepentingan esensial dari esensi manusianya sendiri.

Ideologi merupakan sistem penderitaan yang dipilih, dirangkai dan diterima oleh manusia. Newman juga dalam Spectres of Stirner: A contemporary Critique of Ideology menyebut ideologi sebagai rangkaian gagasan, tujuan dan janji ilusi yang menginterpelasi individu, menciptakan ideal dan impian yang mustahil. Hal semacam itu membuat manusia yang kosong jadi penuh, tapi ironinya itu tidak membuat manusia penuh sebagai dirinya. Lantas dorongan apa yang membuat manusia akhirnya bergerak menjadi khawatir tentang dirinya lalu membiarkan ideologi merasukinya?

Kekhawatiran manusia tentang dirinya tidak datang seperti angin, tidak pula turun seperti hujan, kekhawatiran itu diagitasi oleh para Ideolog. Mereka membawa cermin palsu ke tengah-tengah kehidupan manusia. Mereka mempersilahkan, menghasut, bahkan memaksa setiap manusia untuk berkaca di cermin palsu itu. Cermin palsu yang membuat siapa pun yang berkaca di sana akan terlihat sangat buruk dan khawatir dengan dirinya. Lalu di saat yang bersamaan, para Ideolog yang menganggap diri mereka bebas dari prinsip-prinsip negatif menawarkan segala upaya perbaikan; lewat pendidikan, dengan penertiban, kontrol dan semua hal yang mereka inginkan dari manusia termasuk pengurungan.

Ingat Ludd dalam esai yang ditulisnya pada tahun 2014 mengungkapkan bahwa telah ada banyak sekali batas untuk manusia yang dimiliki kehidupan ini. Meski batas yang diungkapkan Ludd mungkin lebih umum/luas dari apa yang akan kita bahas, tapi kita boleh curiga, jangan-jangan jika ditarik ke detail-detail tertentu, bisa jadi ideologi masuk ke dalam makna batas yang sama dengan apa yang Ludd maksud. Tidak sulit bagi kita untuk menganggapnya demikian bukan? Kita bahkan pernah/sedang merasakannya, Ideologi itu membatasi dan mengurung kita.

Kendati tidak lebih umum/luas seperti batas yang Ludd ungkap, namun cara kerja ideologi dengan pembatasan-pembatasannya–alih-alih menjaga, melindungi dan membawa manusia ke ideal, sebaliknya malah memerangkap manusia ke dalam penderitan menjadi bodoh, kaku, sempit dan tak berkembang–telah menunjukkan bagaimana dirinya otentik sebagai batas.

Gilanya, ideologi bukan sekedar batas, ia merupakan penjara yang dicintai.

Manusia tidak sadar bahwa ideologi adalah perangkat eksternal yang mengintrupsi kebebasannya, yang dipaksakan oleh kekuatan asing, dan sistem pemikiran yang tertutup (tertutup dalam arti bahwa itu tidak pernah benar-benar netral). Ideologi selalu tampil sebagai satu-satunya ekspresi kebenaran rasional, yang berguna secara umum, indah dan patut diimani. Padahal apa yang dijungjung sebagai kebenaran rasional oleh para pengikut dan penganut ajaran-ajaran tersebut, ternyata hanya sekadar kepentingan-kepentingan kelas yang diseret jauh untuk melegitimasi dan melanggengkan dominasinya.

Apa kita melihat ruh kolonial dan penindas di sini?

Pernah kita melihat, bagaimana manusia yang dirasuki ideologi itu hidup? Mereka hidup bahagia untuk menderita, mereka bahagia menjadi bodoh, mereka dengan senang hati tidak menjadi dirinya lagi. Perilaku-perilaku manusia semacam itu meyakinkan kita bahwa “kebenaran rasional” miliknya lebih buruk daripada bencana, dan itu tidak rasional sama sekali.

c.Teknologi

Manusia telah memikirkan banyak hal, termasuk berulang kali mencoba untuk mengatasi keterbatasannya, manusia berusaha payah untuk menciptakan sesuatu yang dapat membantu dan melayaninya. Tapi pada titik tertentu, upaya-upaya berlebihan manusia itu malah menciptakan penderitaan.

Jika kita membaca hingga akhir Twilight of the Machines-nya Zerzan pasti kita tidak akan melewatkan bagian paling memukau tentang kritik tajam atas teknologi. Peradaban manusia yang mengatur kelahiran teknologi telah membuat masalah terhadap alam dan sistem pembagian kerja.

Keberadaan teknologi menjadi dilematis, apa yang manusia pikirkan di awal tentang teknologi berubah saat efek dan dampak dari keberadaannya lambat laun mulai diketahui dan tak dapat diantisipasi, atau setidaknya dikembalikan ke kondisi sebelumnya. Dikembalikan ke kondisi sebelum keberadaan teknologi menjadi dominan atas manusia dan alam.

Kemampuan teknologi untuk memaksimalkan produksi, ekonomi, politik dan basis-basis lainnya membuat keberadaan manusia dan alam semakin terkucilkan. Benda-benda teknologi menyebabkan dan membuat peran manusia dan keberadaan benda alam semakin terkikis.

Fakta itu semakin diperburuk dengan moderenisme yang membawa teknologi ke tingkat merusak yang lebih serius dengan pengambilalihan sebagian besar posisi kerja manusia. Sehingga pengaturan manusia oleh mesin atau secara umumnya oleh teknologi telah berhasil membuat manusia (mau tidak mau) harus memilah-milah bagian kerja yang sebelumnya telah ditentukan oleh keberadaan teknologi, ini berarti manusia perlu melakukan serangkaian upaya untuk dapat bekerja. Manusia perlu mengatur dan menyesuaikan dirinya dengan alat yang dibuat olehnya sendiri.

Setelah teknologi ada, sistem pembagian kerja menjadi beragam, manusia diseret paksa oleh alat ciptaannya sendiri untuk mengkhidmati variasi kerja yang bertambah kompleks. Dominasi teknologi atas manusia adalah penjajahan terburuk di sepanjang sejarah manusia. Teknologi adalah alat ciptaan manusia yang berhasil melempar manusia ke jurang ketidakberartian diri yang pedih. Apa kita menyadari? Teknologi hari ini bahkan telah menyeret kita ke penjara dari bentuk kehadiran palsu, teknologi mendefinisikan ulang makna kehadiran manusia dengan cara mereka dan manusia tanpa sadar telah menyetujuinya.

d. Masyarakat

Kita tidak perlu pendapat, rujukan atau penjelasan orang lain untuk bicara atau menulis sesuatu tentang masyarakat. Pengalaman dan pengamatan kita sendiri sudah cukup kaya untuk menjelaskannya. Sekalipun kita bilang masyarakat adalah makhluk yang paling tidak pernah dapat kupahami, definisi semacam itu tentu sah, tidak ada seorang pun yang boleh meragukan pernyataan yang kita reduksi dari pengalaman hidup di dalam masyarakat (atau dari pengalaman pernah hidup di dalamnya).

Definisi aman yang menyebut masyarakat sebagai kesatuan sistem sosial yang diikat oleh satu kesadaran, budaya, nilai, sesuatu yang memiliki kode-kode moral, aturan atau hukum itu terlalu naif, definisi semacam itu tidak mendalam membongkar selubung-selubung menjijikkan dari masyarakat.

Apa kita pernah sadar jika masyarakat yang dibangun dengan kesadaran-kesadaran tertentu, kode-kode moral, nilai dll., aturan-aturan tertentu yang (asumsinya selalu) difungsikan untuk dapat menerapkan kebaikan-kebaikan bagi manusia ternyata tidak benar-benar berfungsi. Pernah kita dengar, satu masyarakat bermoral menyingkirkan dan menghardik masyarakat atau manusia lain dengan cara tidak bermoral? Ya, banyak kasus macam itu, kita tidak perlu mengambil satu contoh, kita hanya perlu mempertanyakan ulang moralitas semacam itu!

Tidak ada yang lebih sesak dengan nilai-nilai selain masyarakat, nilai-nilai terus berkembang, beberapa pupus, ditinggalkan, tapi nilai-nilai lainnya lahir lebih cepat, bahkan jauh lebih banyak dari kematian-kematiannya sendiri. Apa sebetulnya yang berguna dari semua nilai-nilai itu? Seseorang, mungkin kita dan beberapa orang di antara kita berjasa atas kelahiran nilai-nilai itu. Kita tinggal (atau pernah tinggal) di sebuah masyarakat yang padat dengan nilai-nilai, nilai-nilai yang jauh lebih padat dari kepadatan masyarakatnya sendiri.

Kesesakan dalam masyarakat ini berlaku untuk hal-hal lainnya yang serupa, hukum misalnya. Hal-hal semacam itu mengerdilkan keberadaan manusia (yang dirimu), bahkan mengekang gelak tawa kita. Pernahkah kita sebagai diri sendiri ragu untuk tertawa? Atau ragu untuk menertawakan sesuatu? Merasa bersalah saat menertawakan sesuatu? Komedi milik kita dihantam oleh perangkat-perangkat abstrak yang berlaku di dalam masyarakat.

Kita hanya bisa menertawakan suatu hal dengan bebas tanpa merasa melanggar sesuatu hanya ketika itu merupakan suatu hal yang aman di mata hukum, norma, nilai, dll., yang lumrah/berlaku/normal di dalam masyarakat. Masyarakat bukan hanya polisi yang melarang, menghukum dan mengawasi kita; masyarakat adalah penjara bagi kualitas kebahagiaanmu. Masyarakat melarang manusia benar-benar bahagia, tapi menolak untuk mengakui dirinya sendiri sebagai yang bertanggung jawab atas penderitaan manusia. Apa yang masyarakat dakwahkan adalah yang selama ini diingkarinya.

Memilih satu masyarakat berarti memilih bagaimana cara kita menderita, bagaimana cara kita terkekang, memilih bagaimana cara kita tidak lagi terhubung dengan diri sendiri. Masyarakat tidak menyelamatkan manusia, masyarakat membuat manusia tidak lagi menjadi yang otonom sebagai dirinya. Masyarakat membuat manusia menerima kemanusiaan yang tidak manusiawi bagi dirinya sendiri. Masyarakat adalah penderitaan, ia adalah kontra manusia yang (secara tidak sadar) dirawat, dibela dan dihidupi manusia dengan penuh rasa cinta.


“Bagiku, gerbang rumah manusia terasa lebih mengerikan dibanding gerbang neraka dalam Divine Comedy.”

–Osamu Dazai


Februari, 2022.