Apa itu Konsensus?

Artikel berikut membahas pengambilan keputusan berdasarkan konsesus formal, yang merupakan metode ideal kaum anarkis. Beberapa langkah dalam proses di bawah ini dapat dikesampingkan, diubah, atau digabungkan sesuai yang dirasakan tepat oleh kelompok. Tips tambahan bagi pengambilan keputusan dengan konsensus anarkis dapat ditemukan pada bagian akhir esai ini. (Diambil dari "Pengambilan Keputusan" http://www.consesus.net/ocac2.html)

Konsesus merupakan proses yang memerlukan sebuah lingkungan di mana segala sumbangan dinilai dan partisipasi didorong. Bagaimanapun, terdapat sedikit organisasi yang menggunakan model konsensus yang spesifik, konsisten, dan efisien. Seringkali, proses konsesus bersifat informal, setengah-tengah, dan tidak konsisten. Ini terjadi saat proses konsesus, tidak berlandaskan pada pondasi yang kokoh dan strukturnya tidak dikenal atau tidak ada. Untuk mengembangkan sebuah tipe konsensus yang lebih maju, organisasi mesti menentukan prinsip-prinsip yang dipegang secara umum. Prinsip itu yang membentuk pondasi kerja kelompok. Kelompok juga mesti secara sadar memilih tipe struktur yang akan dibangun.

Struktur Konsensus Formal

Struktur ini menciptakan sebuah separasi di antara identifikasi dan pemecahan masalah tertentu. Mungkin, jika setiap orang di dalam sebuah kelompok tanpa hambatan mampu mengeluarkan pemikirannya, mereka tak akan memerlukan struktur ini. Struktur yang dapat diprediksi ini menyediakan kesempatan bagi mereka-mereka yang merasa tidak cukup berdaya untuk berpartisipasi.

Konsensus formal disajikan secara bertingkat atau melingkar. Pada tingkat pertama, gagasannya adalah memperbolehkan setiap orang mengekspresikan pandangan mereka, termasuk keprihatinan. Namun waktu kelompok tidak dihabiskan untuk mencari pemecahan masalah. Di tahapan kedua kelompok memusatkan perhatian untuk mencari apa yang menjadi keprihatinan, tetap tidak untuk memecahkannya. Proses ini memerlukan displin dan kesabaran. Komentar reaktif, bahkan yang paling lucu serta pemecahan, sekalipun baik, dapat menekan ide-ide kreatif dari peserta lain. Barulah pada tahap ketiga struktur memperbolehkan untuk mengeksplorasi pemecahan masalah.

Setiap tingkatan memiliki cakupan dan fokus berbeda. Pada tingkatan pertama, cakupan cukup luas, mempersilahkan peserta diskusi untuk mempertimbangkan dampak politik dan filosofis demikian pula kepatutan umum, dan pertimbangan-pertimbangan, serta informasi lain yang relevan. Satu-satunya fokus terletak pada usulan secara keseluruhan. Beberapa keputusan dapat dicapai setelah diskusi tingkat pertama. Pada tingkat kedua, cakupan diskusi dibatasi pada keprihatinan. Mereka dikenali, dan didaftar sehingga memungkinkan setiap orang memperoleh gambar keseluruhan masalah. Fokus perhatian diletakkan untuk mengenali pokok masalah dan mengelompokkan hal-hal yang serupa. Pada tingkat ketiga, cakupan menjadi sangat sempit. Fokus diskusi dibatasi kepada satu masalah yang belum terpecahkan hingga akhirnya mampu dipecahkan.

Alur Proses Konsensus Formal

Dalam situasi ideal, setiap usul disampaikan dalam bentuk tertulis dan secara ringkas diperkenalkan pertama kali saat muncul dalam agenda. Pada pertemuan berikutnya, setelah setiap orang telah memiliki cukup waktu untuk membacanya dan secara cermat mempertimbangkan setiap hal, diskusi akan segera dimulai dengan sungguh-sungguh. Acapkali barulah pada pertemuan ketiga sebuah keputusan dibuat. Tentu saja, hal ini bergantung pada seberapa banyak usulan yang dibeberkan dan seberapa pentingnya keputusan itu.

Memperjelas Proses

Fasilitator memperkenalkan orang yang mengajukan usul dan memberi pengantar pendek mengenai langkah apa saja yang telah diambil terhadap masalah itu. Sangat penting bagi fasilitator untuk menjelaskan latar belakang usul itu dibawa ke dalam pertemuan, dan tugas fasilitator untuk memastikan bahwa setiap partisipan mengerti dengan jelas struktur dan teknik diskusi yang sedang diterapkan selagi pertemuan sedang berjalan.

Mengajukan Usul Atau Isu

Sejauh memungkinkan dan sempat, usulan haruslah dipersiapkan secara tertulis dan disebarkan dengan baik menjelang pertemuan yang akan membahas mencari sebuah keputusan. Hal ini mendorong munculnya diskusi dan pertimbangan, dan membantu penyaji usul mengantisipasi masalah, serta memperkecil timbulnya kekagetan, dan melibatkan setiap orang dalam pembuatan usulan (jika dasar-dasar masalah belum selesai, pilihan bijak adalah mengirimkan usul tersebut kepada komite.

Penulisan usulan sulit diselesaikan dengan kelompok yang besar. Komite kemudian mengembangkan usul untuk pertimbangan di kesempatan mendatang), membacakan usul tertulis dengan keras, memberi latar belakang informasi, menyatakan dengan jelas manfaat serta alasan penerimaan usul untuk dibicarakan, termasuk membicarakan tiap masalah yang ada.

Pertanyaan Yang Memperjelas Presentasi

Pertanyaan dibatasi dengan ketat oleh fasilitator agar peserta dapat mencari pemahaman lebih dalam mengenai usul yang disajikan. Setiap orang layak mendapat kesempatan untuk sepenuhnya mengerti apa yang diminta kelompok sebelum diskusi dimulai. Ini bukan waktu untuk berkomentar atau menyuarakan kepedulian. Jika hanya terdapat sejumlah kecil pertanyaan, hal itu dapat dijawab saat itu juga oleh orang yang menyajikan usul. Jika cukup banyak pertanyaan yang muncul, sebuah teknik yang berguna adalah mendengarkan seluruh pertanyaan terlebih dahulu. Kemudian menjawabnya sekaligus. Setelah menjawab segala pertanyaan, diskusi kelompok pun dimulai.

Tingkat Pertama: Diskusi Umum Terbuka Seluas-luasnya

Diskusi pada level ini mesti menjangkau seluas-luasnya permasalahan. Cobalah mendorong komentar yang mengulas usul secara keseluruhan, yakni mengapa hal itu merupakan ide yang baik, atau masalah umum yang perlu dikemukakan. Diskusi di level ini kadang bernada filosofis dan prinsipil, ditujukan untuk membahas bagaimana usul dapat mempengaruhi kelompok dalam jangka panjang atau preseden seperti apa yang akan tercipta, dan sebagainya. Ia (tingkat pertama) membantu setiap proposal di diskusikan dengan cara ini, sebelum kelompok terlibat dalam memecahkan hal tertentu.

Jangan biarkan satu hal menjadi fokus diskusi. Saat hal yang khusus terangkat, buatlah catatan mengenai hal itu dan dorong diskusi untuk balik kembali kepada usulan keseluruhan. Dorong komentar ide dan komentar kreatif yang saling mempengaruhi. Mempersilahkan peserta menambah informasi relevan faktual. Bagi mereka yang mula-mula merasakan penolakan terhadap usulan, diskusi ini merupakan sebuah bahan pertimbangan hal-hal yang mungkin baik bagi kelompok di dalam ukuran yang luas. Kepedulian mula mereka, dalam faktanya, mungkin merupakan kepedulina seluruh kelompok. Dan, bagi mereka yang awalnya mendukung usulan, ini merupakan waktu untuk memikirkan proposal tersebut lebih luas lagi dan beberapa masalah umum. Jika telah tampak persetujuan umum atas proposal, fasilitator atau seseorang yang dijadikan pembicara, dapat meminta diadakannya konsensus.

Seruan Pengambilan Konsesus

Fasilitator akan bertanya "adakah hal-hal yang belum dipecahkan?" atau "Adakah hal yang belum dibicarakan?" Setelah sunyi sesaat, jika tak ada hal yang perlu ditambahkan dalam pembicaraan, fasilitator akan mengumumkan bahwa konsesus dan usul telah dibicarakan. Jeda panjang mesti dilangsung jika terjadi kesulitan mencapai konsensus; sebuah keputusan yang mudah memerlukan waktu jeda sejenak. Kebijakan yang sulit membutuhkan keheningan lebih lama. Hal ini mendorong setiap orang tenang saat menerima konsesus sebelum berpidah ke masalah lain. Pada titik ini, fasilitator [memanggil sukarelawan] atau mengirim keputusan tersebut kepada sebuah komite untuk menerapkannya. Penting untuk dicatat bahwa pertanyaannya bukanlah "Apakah mencapai konsesus"? atau "Apakah semua sepakat?". Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak sama sekali tidak mendorong sebuah kondisi di mana kepedulian dapat diekspresikan dengan baik. Jika sejumlah orang yang memiliki sebuah keprihatinan, tetapi malu atau terintimidasi oleh dukung kuat peserta lain bagi sebuah usulan, pertanyaaan seperti "Apakah ada hal yang belum terpecahkan?" perlu diutarakan. Fasilitaor juga perlu berbicara langsung kepada mereka dan menyediakan kesempatan mereka untuk berbicara. Setiap hal yang dapat membuat seseorang menahan diri dicatat bersama usulan-usulan dan menjadi bagian dari masalah yang mesti dipecahkan.

Tingkat Dua: Identitas Masalah
Menghitung Segala Masalah

Pada permulaan dari tingkat berikutnya, sebuah teknik diskusi yang disebut brainstorming dipakai sehingga masalah dirasakan peserta dikenali dan dituliskan dihadapan hadirin secara terbuka dan dicatat oleh peserta yang bertugas mencatat. Pastikan tulisan ditulis seakurat mungkin, dan mencocoknya kembali bersama orang yang menyuarakan permasalahan sebelum melanjutkan diskusi. Ini bukan waktu untuk berusaha memecahkan masalah atau menentukan kesahihannya. Sebab tindakan ini akan melumpuhkan kemerdekaan ekpresi terhadap masalah yang tengah dibahas. Pada titik ini, satu-satunya hal yang diekspresikan, adalah apakah permasalahan masuk akal atau tidak, dipikirkan secara matang atau perasaan ragu. Fasilitator memotong setiap komentar yang mencoba mempertahankan usulan, memecahkan masalah, menghakimi dan menilai atau dalam sesuatu cara menolak atau menepis perasaan ragu atau risau orang lain. Kadang sekedar membiarkan sebuah persoalan disampaikan dan dituliskan membantu menyelesaikan hal itu. Setelah segala persoalan telah didaftar, biarkan kelompok berefleksi sebentar untuk berpikir secara keseluruhan.

Masalah-Masalah Lain Menjadi Perhatian Kelompok

Pada titik ini, fokusnya adalah mengindentifikasi pola dan hubungan di antara persoalan. Mesti tidak boleh memusatkan diri pada hal itu atau pun memecahkan suatu permasalahan.

Tingkat Tiga: Memecahkan Persoalan yang Menjadi Perhatian Kelompok

Kadang, hal terkait dapat dipecahkan bersama-sama sebagai sebuah kelompok.

Ajakan Untuk Membuat Konsensus

Jika kebanyakan dari persoalan telah dipecahkan, ajak kelompok untuk berkonsesus dengan cara yang telah dijelaskan sebelumnya. Jika sejumlah persoalan tidak dipecahkan pada saat ini, maka sebuah diskusi yang lebih fokus diperlukan.

Jelaskan Persoalan yang Tersisa (Sekaligus)

Kembali lihat daftar masalah. Fasilitator memeriksa ulang satu persatu bersama kelompok dan menyingkirkan hal yang telah dipecahkan ataupun belum, dengan suatu alasan, tidak lagi menjadi perhatian. Setiap persoalan yang tersisa diungkapkan ulang secara jelas dan tertata serta dibicarakan satu per satu. Kadangkala persoalan baru muncul dan perlu ditambahkan ke dalam daftar.

Bagaimanapun, setiap individu bertanggung jawab untuk secara jujur mengekspresikan persoalan yang dipikirkannya. Tidak selalu tepat untuk menahan sebuah persoalan dan membukanya kepada kelompok diakhir proses. Hal seperti ini menyepelekan kepercayaan dan membatasi kemampuan kelompok untuk secara memadai mendiskusikan persolan dalam hubungannya dengan persoalan lain.

Pertanyaan yang Memperjelas Persoalan

Fasilitator menanyakan setiap pertanyaan ataupun komentar yang akan memperjelas duduk permasalahan lebih jauh sehingga setiap orang dengan jelas memahaminya sebelum diskusi dimulai.

Diskusi Dibatasi kepada Pemecahan Satu Persoalan

Pergunakan sebanyak mungkin teknik diskusi kelompok yang dibutuhkan untuk memfasilitasi pencapaian pemecahan untuk setiap persoalan. Jaga agar diskusi fokus pada persoalan tertentu sampai setiap saran telah disuarakan. Jika tidak ada ide baru yang diajukan dan persoalan tidak bisa dipecahkan, atau jika waktu yang diberikan untuk setiap hal telah dipergunakan sepenuhnya, beralihlah kepada salah satu pilihan yang digambarkan di bawah ini.

Meminta Konsesus

Ulangi proses ini hingga seluruh persoalan dipecahkan. Pada titik ini kelompok akan berkonsesus, dan cukup pantas untuk meminta konsesus. Tapi kelompok mesti yakin tak ada pesoalan yang telah terlupakan.

Pilihan Menutup Proses Diskusi
Kirim kepada Komite
  • Jika keputusan terhadap suatu usulan dapat menunggu hingga seluruh kelompok bertemu kembali, maka kirim usulan tersebut kepada sebuah komite yang dapat memperjelas persoalan dan mengungkap resolusi kreatif baru yang dapat menjadi petimbangan kelompok. [Anda mesti] memasukkan ke komite wakil-wakil pengagas persoalan, demikian juga mereka yang paling mendukung usulan. Sehingga mereka dapat menghasilkan solusi dalam bentuk yang tidak terlalu resmi. Kadang, jika keputusan dibutuhkan sebelum pertemuan berikut, sebuah kelompok kecil dapat diberi wewenang untuk membuat keputusan bagi kelompok yang lebih besar. Namun sekali lagi, komite ini mesti memasukkan semua sudut pandang. Pilih opsi ini hanya jika sangat dibutuhkan dan disepakati seluruh anggota kelompok. Menepilah/Menyingkirkan Sementara (Keputusan Diambil dengan Masalah yang belum terpecahkan Dicatat)

  • Jika setelah didiskusikan persoalan tetap tak mampu dipecahkan, fasilitator mesti membiarkan orang-orang yang peduli akan persoalan untuk mundur sejenak; yaitu mengakui bahwa persoalan masih ada namun membiarkan usul diadopsi. Penting bagi seluruh kelompok untuk memahami bahwa persoalan yang belum terpecahkan ini dituliskan bersama-sama usulan di dalam catatan dan, secara esensi menjadi bagian dari keputusan. Persoalan ini dapat diangkat kembali dan patut mendapat jatah waktu lebih karena belum terpecahkan. Sebagai pembanding, sebuah persoalan yang telah dipecahkan di masa lalu tidak berhak mendapat waktu diskusi tambahan, kecuali terjadi suatu perkembangan baru. Filibustering (usaha untuk memperlambat penetapan sebuah keputusan – penj) layak dalam proses pencapaian konsesus formal.

Deklarasi Blok

Setelah menghabiskan agenda yang telah disediakan, bergerak melalui tiga tahapan diskusi, dan berusaha untuk mencapai konsensus tetapi belum terpecahkan, fasilitator berkewajiban untuk menyatakan bahwa konsesus tidak tercapai dalam pertemuan ini, dan bahwa usul ditahan dan diskusi pindah ke agenda lain. Aturan konsensus formal, Panduan dan Teknik yang ada di dalam buku ini bersifat fleksibel dan dimaksudkan untuk diubah. Bagaimanapun, beberapa petunjuk nampak selalu dapat berlaku. Ini merupakan Aturan Konsesus Formal:

  1. Seketika setelah sebuah keputusan telah diadopsi lewat konsesus, ia tak bisa diubah tanpa melalui proses pencapaian konsensus baru. Jika konsenses baru tak dapat dicapai, keputusan yang lama tetap dipakai.

  2. Umumnya, hanya satu orang yang diperbolehkan berbicara pada satu kesempatan. Orang yang diijinkan untuk berbicara ditentukan oleh teknik diskusi kelompok yang dipergunakan dan atau fasilitator. (Peran juru damai dikecualikan dari aturan ini.)

  3. Segala keputusan struktural (yakni, peran apa yang dipakai, siapa yang mengisi tiap peran, dan teknik fasilitasi apa dan atau teknik diskusi kelompok yang digunakan) diadopsi lewat konsesus tanpa perdebatan. Setiap penolakan secara otomatis menyebabkan sebuah pilihan baru diciptakan. Jika sebuah peran dapat diisi tanpa penentangan, kelompok akan melanjutkan proses diskusi tanpa mesti menyepakati pengisian peran. Jika banyak waktu dihabiskan untuk mengisi peran atau mencari teknik yang dapat diterima, maka kelompok perlu mendiskusikan kesamaan kebutuhan kelompok, sebuah diskusi yang mesti dimasukkan dalam agenda untuk pertemuan mendatang, jika tidak bisa diadakan saat bersamaan.

  4. Semua isi keputusan (yakni, perjanjian agenda, laporan komite, usulan dan sebagainya) diambil dengan konsesus setelah berdiskusi. Setiap isi keputusan mesti didiskusikan secara terbuka sebelum mencoba mengambil konsesus.

  5. Sebuah persoalan mesti didasarkan pada prinsip-prinsip kelompok untuk mensahkan penghentian konsensus.

  6. Setiap pertemuan yang mempergunakan Konsensus Formal mesti mengadakan evaluasi.

Tips Tambahan untuk Pengambilan Keputusan Konsesus
  • Memilih fasilitastor: Dalam proses konsensus, fasilitator merupakan orang yang sangat penting. Karena itu, patut dicamkan agar fasilitator tidak dipilihkan dari luar kelompok yang akan berkonsensus. Fasilitator harus berasal dari kelompok itu sendiri. Peran fasilitator mesti dirotasi dari sebuah pertemuan ke pertemuan lain. Cara mudah untuk memilih fasilitator adalah dengan menanyakan kepada anggota kelompok termaju dan memintanya secara sukarela sebagai fasilitator. Di antara kelompok sukarelawan dapat dipilih baik lewat pemilihan suara kelompok ataupun acak. Memilih fasilitator secara acak dapat dilakukan dengan mengundi, dengan melempar dadu dan masing-masing sukarelawan memilih angka dari dadu tersebut, dan sebagainya.

  • Membuat Agenda:Jika diharapkan berfungsi secara demokratis, kelompok tidak hanya harus menentukan keputusan secara demokratis. Namun juga mesti memilih agenda pertemuan dan isu yang akan ditentukan dalam forum itu juga. Segelintir kader organisator yang menciptakan agenda terlebih dulu dan kemudian meminta peserta lain "menyetujuinya" adalah tidak demokratis betapa pun proses yang dijalani hingga sampai kepada sebuah "persetujuan".

Pro dan Kontra Konsensus:
  • Pro: Konsensus dipandang banyak kalangan sebagai bentuk pengambilan keputusan yang sangat egalitarian. Ia menempatkan proses menjadi yang terpenting dan persoalan semua orang yang hidupnya akan terpengaruh oleh sebuah keputusan menjadi bahan pertimbangan.

  • Kontra: Beberapa orang memandang konsensus sangat memakan waktu dan proses yang kompleks. Ada yang berpandangan bahwa konsensus menyulitkan orang-orang yang memiliki waktu yang sedikit (seperti para pekerja) untuk sepenuhnya berpartisipasi di dalam kelompok yang menggunakan pengambilan keputusan secara konsensus. Beberapa orang juga menganggap manfaat konsensus terbatas. Karena mereka percaya bahwa secara umum orang sebelumnya mesti telah siap bersepakat sebelum berkonsensus. Karena itu, mereka melihat konsensus tidak berguna untuk menentukan isu-isu yang kontroversial atau yang menjadi bahan pertikaian.

Untuk Diperhatikan: Sangat beralasan untuk menggabungkan bagian-bagian pengambilan keputusan secara konsesus dan demokrasi langsung jika hal tersebut diinginkan organisasi dan kelompok anda. Selalu baik untuk bereksperimen dengan metode yang berbeda untuk sampai kepada metode penentuan keputusan yang cocok bagi organisasi dan kelompok anda.

Pertemuan dan Fasilitasi
Tips Umum Untuk Mengorganisir Pertemuan dan Fasilitasi
  1. Pastikan setiap orang mengetahui waktu dan tempat pertemuan

  2. Pastikan pembuatan agenda dilakukan secara kolektif

  3. Berusaha memulai tepat waktu

  4. Pastikan seseorang sebagai bertugas sebagai pencatat

  5. Fasilitator mesti melakukan yang terbaik untuk mengambil semua pandangan

  6. Fasiltator tidak menggunakan posisinya untuk memaksakan ide dan opini pribadi terhadap kelompok

  7. Fasilitator mesti penuh perhatian kepada orang yang sedang berbicara, melihat ke arah mereka, condong ke depan, tersenyum, memberi anggukan. Membuat kontak mata dengan orang yang sekiranya membutuhkan dukungan semangat untuk mulai berbicara

  8. Berusaha untuk menyelesaikan pertemuan sesuai waktu. Tiada hal lain yang membuat orang takut dan menghindari pertemuan setelah tahu pertemuan itu sering molor atau pun berlangsung terus dan terus hingga menghabiskan waktu yang ingin mereka.

  9. Pastikan notelen pertemuan ditulis. Jika perlu di posting atau didistribusikan.

  10. Bersiap untuk pertemuan berikutnya