a-w-anonymous-why-not-to-trust-your-school-id-1.jpg

“Para penguasa selalu berhati-hati untuk mengontrol pendidikan rakyat. Mereka tahu kekuatan mereka hampir seluruhnya didasarkan pada sekolah dan mereka bersikeras mempertahankan monopoli mereka. Sekolah adalah alat dominasi di tangan kelas penguasa.”

Francisco Ferrer, penganjur Anarkis dari “Gerakan Sekolah Gratis”

Pendidikan publik yang gratis adalah aspek penting bagi masyarakat, yang berpotensi untuk dapat memberdayakan atau (justru sebaliknya) memperbudak dirinya, tergantung pada niat dan cara-cara di mana/bagaimana pendidikan tersebut ditawarkan. Di negara-negara seperti Spanyol, pendidikan agama adalah satu-satunya cara yang digunakan untuk pembelajaran sampai awal abad ke-20 dan pendidikan bagi orang-orang miskin serta perempuan adalah hal yang dianggap melanggar hukum. Ini adalah kasus di banyak masyarakat agama yang fundamentalis saat ini. Di Eropa dan Amerika Serikat, serangan terhadap pendidikan publik adalah landasan bagi agenda politik reaksioner. Dalam masyarakat kapitalistik, begitu banyak penekanan ditempatkan untuk membuat orang kaya semakin kaya dan melindungi “hak kepemilikan pribadi” mereka, kita harus mempertimbangkan mengapa orang yang berkuasa memiliki kepentingan dalam sistem pendidikan publik.

Ketika kita pergi ke sekolah, kita diberitahu bahwa sekolah akan mengajarkan apa yang kita butuhkan untuk dapat bertahan hidup di masyarakat, dengan memberikan keterampilan yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan serta “menjaga” diri kita sendiri, akan tetapi sistem tidak tertarik pada kesejahteraan kita. Sistem hanya tertarik pada apa yang bisa kita lakukan untuk mereka. Proses pendidikan publik adalah kombinasi dari pengetahuan dasar yang kita butuhkan untuk dapat melayani orang kaya dan yang berkuasa atas “norming” indoktrinasi perilaku yang dimaksudkan agar kita terhindar dari usaha untuk mempertanyakan status quo kita ketika kita menjadi pelayan kapitalis atau pelayan pemerintah, mereka mengelabui kita, seolah-olah sistem yang mengeksploitasi kita ada begitu saja dan dimaksudkan untuk keuntungan kita (sebuah kontradiksi dan kebohongan yang terang-terangan).

  1. Tugas pertama pendidikan publik dalam masyarakat kapitalistik adalah mengajarkan siswa untuk “menghormati otoritas.” Hal ini dilakukan dengan menempatkan seorang guru atau birokrat sekolah dalam peran/sebagai orang tua atau wali siswa, sebagai sosok otoriter yang mereka kenal di rumah. Otoritas dijalankan melalui sistem hukuman bagi siswa yang tidak melakukan apa yang diperintahkan dan mendapat penghargaan untuk kepatuhannya. Kepatuhan yang ketat pada aturan-aturan bodoh dan sepele seperti selalu berjalan di sisi kanan lorong lalu mengajarkan kita untuk patuh, tidak peduli betapa bodohnya perintah itu. Kita diajari untuk menerima perintah agar tahu apa yang harus dilakukan. Dengan demikian kita siap menghadapi dunia para bos, polisi, politisi, dan perwira militer yang memerintahkan kita berkeliling dan memperlakukan kita seolah-olah kita ini bodoh dan inferior.

  2. Tugas kedua dari pendidikan publik di dalam masyarakat kapitalis adalah untuk merampok individualitas kita, sehingga kita akan tunduk pada apa yang diperintahkan kepada kita dan membuat kita tidak mengejar lagi sebuah ide, keinginan, atau bakat kita sendiri. Hal ini dilakukan dengan menempatkan kita di lingkungan dengan ribuan orang seusia kita dan menggunakan tokoh-tokoh otoritas untuk memberi label siapa pun yang tidak cocok dengan mereka menggunakan cemoohan. Ini adalah dasar dari apa yang kita ketahui sebagai “tekanan teman sebaya” yang pada dasarnya adalah sebuah sistem yang mengajarkan anak-anak yang tidak bersalah itu untuk menjungjung keserasian dan ketaatan, dan mendorong mereka untuk melecehkan siapa pun yang tidak patuh. Setiap penyimpangan norma masyarakat akan segera dikutuk, individualitas menjadi penyimpangan. Ini membuat kita terbiasa melakukan apa yang dilakukan orang lain/kebanyakan orang dan secara membabi buta “mengikuti arus” karena takut keluar dari barisan dan dianiaya. Ini membentuk dasar bagi sistem kontrol sosial di berbagai tempat kerja, di mana orang-orang tunduk pada eksploitasi alih-alih khawatir dicap sebagai ‘pembuat onar’ dan didorong untuk mengkhianati rekan kerja mereka sendiri kepada bosnya, bahkan jika mereka bekerja dengan upah minimum dan tidak bermanfaat.

  3. Tugas ketiga pendidikan publik di dalam masyarakat kapitalis adalah resimentasi. Sistem Kapitalis memandang orang sebagai sesuatu yang tidak lebih dari hanya sepotong daging: Sumber daya yang seluruh tujuannya adalah untuk menghasilkan uang bagi mereka, membeli produk mereka dan mati dalam perang mereka. Masyarakat industri modern diatur dalam shift kerja yang dapat berjalan 24 jam per hari untuk menghasilkan uang bagi orang-orang kaya. Masyarakat industri didasarkan pada tiga gagasan yang dibuat oleh Fredrick Taylor, Henry Ford dan Max Weber. Taylor memiliki ide untuk mengurangi/menekan gerakan para pekerja sehingga para kapitalis dapat memaksimalkan keuntungan mereka dalam periode waktu tertentu. Ford memberikan harga dan nilai atas suatu tindakan dengan jalur perakitan sehingga semua pekerja akan membatasi gerakannya dan memaksimalkan pekerjaannya. Weber membantu membangun birokrasi modern di Jerman Nazi untuk mengendalikan sejumlah besar orang dengan organisasi militeristik. Ide-idenya diadopsi oleh para kapitalis di seluruh dunia setelah Perang Dunia II. Untuk dapat bekerja di lingkungan kerja seperti ini, banyak (bahkan ribuan) orang harus dapat dikondisikan bahkan dari saat mereka masih usia muda untuk hidup “secara waktu.” Bahkan dalam industri jasa atau bidang pekerjaan lain di luar pabrik, prinsip-prinsip organisasi yang serupa ini berlaku untuk berbagai tingkatan. Sistem sekolah umum mengharuskan siswa untuk menyesuaikan keinginan mereka dengan jadwal yang ketat, dengan menjatuhkan hukuman bagi mereka yang tidak hadir di sekolah tepat waktu, pergi ke kelas tepat waktu atau menyelesaikan tugas yang diberikan tepat waktu. Ini mempersiapkan/mengkondisikan kita untuk dapat kehidupan di pabrik atau kantor, di mana “waktu adalah uang.” Untuk memaksimalkan sejauh mana siswa dapat dieksploitasi ketika mereka memasuki dunia kerja, mereka harus dikondisikan untuk gugup atau bersalah karena tidak datang tepat waktu dan tunduk pada jadwal-jadwal yang dibuat oleh mereka yang berwenang.

  4. Tugas keempat pendidikan publik di bawah kapitalisme adalah untuk mencegah perbedaan pendapat. Ini dimulai dengan sistem di mana kinerja kita di sekolah dievaluasi. Kita berulang kali dinilai berdasarkan kemampuan kita untuk mengulangi fakta, angka dan frasa walau seperti apa pun kita memahami artinya. Hafalan menghafal merampas kemampuan kita untuk mencari tahu masalah dan mempertanyakan hal-hal yang dikatakan mereka kepada kita. Ini menyampaikan ilusi tentang kebenaran tunggal untuk setiap pertanyaan dan kau hanya dapat diterima jika kau tahu jawaban itu. Ini memberi tahu orang-orang bahwa akal sehat berarti memercayai orang yang memiliki wewenang untuk memiliki jawaban yang benar daripada memercayai pengalamanmu dalam hidup yang bertentangan dengan apa yang coba dikatakan oleh otoritas. Ini dimaksudkan untuk mendorong kita agar menaruh iman kita pada “pemimpin” yang memiliki jawaban “benar” daripada menimbang masalah dan mempertanyakan apa yang dikatakan oleh mereka kepada kita. Dengan mengecilkan pemikiran kreatif, investigatif, ingin tahu atau kritis, siswa dipersiapkan untuk tumbuh dewasa dan hanya mengetahui bahwa semua jawaban untuk masalah kehidupannya berasal dari televisi, pemerintah atau agama yang diorganisir. Ini membuat orang-orang lebih menerima propaganda dari pemerintah atau pengiklan kapitalis dan kurang skeptis ketika ada kontradiksi, distorsi atau kebohongan yang terang-tengan mereka katakan. Hal ini juga membuat siswa menganggap belajar sebagai hal yang membosankan sehingga mereka akan berkecil hati untuk belajar di kemudian hari.

  5. Tugas kelima dari pendidikan publik dalam masyarakat kapitalis adalah untuk mendorong keegoisan. Ini dilakukan dengan memaksa siswa untuk saling bersaing. Di bidang akademik, siswa dihukum dengan menerima skor yang lebih rendah karena bekerja sama antara satu sama lain atau meminta bantuan dari orang lain. Dalam atletik, siswa bersaing satu sama lain secara fisik. Mereka diajari bahwa mereka yang kalah atau berkinerja kurang baik adalah mereka yang rendah dan, akibatnya, orang-orang dalam masyarakat yang kurang makmur, dianggap pantas dengan situasinya karena mereka malas dan tidak bekerja dengan cukup keras. Mereka diajari bahwa tidak apa-apa bagi yang kuat untuk mendominasi yang lemah dan mereka yang mencoba membantu orang yang kurang mampu adalah “banci” dan harus memikirkan hanya tentang diri mereka sendiri. Sekolah juga mengajarkan gagasan untuk menjadi ‘pemain tim’ yang berarti kemampuan kita untuk mendapatkan keuntungan secara pribadi terkait dengan kesediaan kita untuk mengorbankan keinginan pribadi kita dan melakukan apa yang diperintahkan oleh para pemimpin. Kita diberitahu bahwa, dengan melakukan ini-itu, kita mendapatkan manfaat karena kita berkorban untuk “tim.” Ini dimaksudkan untuk mempersiapkan kita di dunia kerja di mana “tim” adalah perusahaan kapitalis dan menjadi “pemain tim” berarti menjadi budak yang baik dan tidak memikirkan konsekuensi moral atau pribadi dari apa yang diperintahkan bos untuk apa yang kita lakukan.

  6. Tugas keenam dari pendidikan publik dalam masyarakat kapitalis adalah membagi kita berdasarkan gender dan kelas sosial. Awalnya, beberapa anak diberi label “pintar” berdasarkan nilai tes atau cara lain yang sewenang-wenang. Ini sering kali berkaitan dengan anak-anak dari orangtua yang lebih kaya yang ingin membuktikan diri mereka lebih unggul dengan mengambil pujian untuk semua yang dilakukan anak-anak mereka dalam hidupnya. Selama sisa tahun sekolah mereka, anak-anak ini akan diberikan guru dan fasilitas terbaik. Mereka akan disuruh kuliah agar bisa mendapat pekerjaan kelas menengah di masa depan. Sisanya siswa akan menerima perhatian sangat minimal dalam bidang akademik dan dilacak ke kelas pendidikan kejuruan untuk menjadi kelas pekerja di hari esok. Mereka yang diusir atau putus sekolah dicap sebagai orang yang inferior dan diberi cap bahwa mereka tidak akan pernah dapat berhasil dalam kehidupannya. Sayangnya ini semua adalah ramalan yang terlalu sering terpenuhi dengan sendirinya. Anak-anak kelas atas tidak ada di sekitar karena mereka semua ada di sekolah swasta tempat mereka mengenakan pakaian sesuai kelas dan belajar untuk tidak merasakan apa pun selain menghina orang yang kurang beruntung. Anak perempuan lebih teratur sejak usia muda dan diberitahu bahwa mereka tidak seharusnya berprestasi sebaik anak laki-laki dalam mata pelajaran seperti matematika. Mereka tidak dianjurkan mempelajari mata pelajaran seperti seni industri dan kurang diberi akses ke kegiatan seperti atletik yang dianggap “tidak feminin.” Klik-klik di sekolah sering kali terbentuk berdasarkan pendapatan, kelompok sosial, dan gender. Siswa yang pendapatan dan gendernya memungkinkan mereka untuk mencerminkan nilai-nilai yang diklaim oleh masyarakat kapitalis menganggap diri mereka lebih unggul dan lebih cenderung bergaul satu sama lain dan bertindak menyendiri/eksklusif. Mereka yang tidak dianggap “populer” (bagian dari kelompok elitis) diberitahu bahwa mereka harus mengaguminya (mereka yang elitis). Ini dimaksudkan untuk mempersiapkan mereka pada dunia kerja di mana mereka diberitahu oleh surat kabar tabloid, majalah dan acara televisi seperti “Lifestyles of the Rich dan Famous,” “America’s Castles” dan “Empires of Industry” untuk mengagumi orang kaya alih-alih bertanya bagaimana mereka berhasil mencuri semua kekayaan mereka dari orang lain!

  7. Tugas ketujuh dari pendidikan publik dalam masyarakat kapitalis adalah membujuk kita untuk mempertahankan sistem yang mengeksploitasi kita. Pendidikan publik modern pertama kali diperkenalkan untuk mengindoktrinasi anak-anak imigran ke dalam “Gaya Hidup Amerika,” “Budaya Amerika” dan “Sistem Politik Amerika.” Itu dimaksudkan untuk menghilangkan perasaan orang-orang imigran tentang kekhasan budaya dan menyeragamkan mereka menjadi warga negara yang loyal dan patuh. Para siswa diberitahu bahwa kita hidup di tempat yang disebut “negara terbesar di Bumi,” dan sebagai perbandingan, seluruh dunia penuh dengan petani terbelakang atau “teroris” jahat dengan nilai dan budaya yang lebih rendah. Mereka diajari bahwa kapitalisme adalah sistem yang bekerja, bahwa setiap orang dapat menjadi kaya jika mereka bekerja cukup keras, dan bahwa kemiskinan adalah kesalahan individu yang lebih rendah dan tidak bekerja cukup keras daripada kapitalis yang menghancurkan penghidupan ribuan orang-orang untuk mendapat untung. Kita juga semakin diindoktrinasi ke dalam nilai-nilai sosial dari mereka yang berwenang. Ini mencakup segala hal, mulai dari hal tabu dan sikap tentang seks dan narkoba, hingga mendorong pendidikan yang diarahkan, hingga menyuruh kau untuk menjerumuskan teman dan keluargamu ke polisi. Sebagian besar dari apa yang sekarang diajarkan di sekolah menengah adalah kontrol sosial atau indoktrinasi politik dan tidak ada gunanya untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan atau untuki menjadi bebas.

Diterjemahkan secara bebas oleh Tim E.P.S.U.

Januari 2021