Title: Apa yang Dilakukan oleh Para Pustakawan Radikal? Atau—Ke Mana Arah Menuju Blac Bloc?
Author: Chuck Munson
Language: Bahasa Indonesia
Date: 2026
Notes: Diambil dari Revolting Librarians Redux: Radical Librarian Speak Out (2003) Diterjemahkan oleh Ester Aprillia (2026)

PADA suatu ketika, di tengah-tengah kesibukan menjawab berbagai pertanyaan di meja informasi Pusat Konvergensi Anti-Kapitalis sembari mengangkat panggilan telepon dari para aktivis dan kawan-kawan yang sedang ditahan oleh polisi, Saya menyadari bahwa ini adalah salah satu tempat paling aneh sedunia di mana Saya pernah mengasah keterampilan Saya sebagai pustakawan. Kejadian tersebut terjadi pada pekan aksi protes melawan Bank Dunia dan IMF, yang kemudian berubah menjadi protes melawan kapitalisme dan “Perang Melawan Terorisme” yang baru akibat dari peristiwa 9/11. Namun, seperti yang akan dikatakan oleh pustakawan radikal mana pun, kegiatan kepustakawanan sukarela semacam ini sebenarnya tidaklah terlalu aneh bagi sirkel kami.

Saya pernah membuka ACC Welcome Center di pagi hari yang di saat yang bersamaan sedang terjadi demonstrasi besar-besaran di pusat kota. Welcome Center tersebut bertempat di ruang sewaan di sebuah pusat komunitas di kawasan Colombia Heights, Washington, D.C. Situasi yang hadapi saat itu menuntut keterampilan Saya baik itu sebagai pustakawan radikal maupun sebagai pengorganisir anarkis. Setelah membuka bangunan tersebut, Saya duduk di belakang meja informasi dan menghabiskan enam jam berikutnya menjawabi pertanyaan-pertanyaan bersama para kru sukarelawan. Kebanyakan pertanyaan tersebut bersifat informasional, mayoritas perihal di mana protes sedang dilangsungkan. Kami memberikan petunjuk arah ke stasiun Metro terdekat dan menyampaikan lokasi-lokasi aksi protes. Selain meja informasi, seluruh dinding di lobi masuk tempat meja kami berada dipenuhi oleh lembaran kertas berisi berbagai macam informasi: jadwal lokakarya, catatan dari orang-orang yang mencari tumpangan, peta Metro dan jalanan Washington D.C., nomor telepon LBH, serta selebaran untuk berbagai acara aktivis. Walaupun kami tidak perlu merujuk ke koleksi buku referensi tertentu (meskipun koneksi internet pasti akan sangat membantu), dalam banyak hal, ini seperti bekerja di meja referensi biasa.

Hanya saja, di sebagian besar meja referensi, kamu tidak menyimpan buku catatan tentang aktivitas polisi yang mencurigakan di lingkungan sekitar. Ini bukanlah pengalaman pertama Saya sebagai pustakawan anarkis yang bekerja di acara radikal; Saya pernah menghabiskan waktu di meja informasi Convergence Center selama aksi protes terhadap Bank Dunia pada bulan Aprill tahun 2000 di Washington. Ini hanyalah salah satu contoh dari apa yang dilakukan pustakawan radikal sebagai tenaga profesional yang tidak konvensional. Terkadang kami perlu menyeimbangkan antara kerja-kerja aktivisme dan sebagai seorang radikal di perpustakaan biasa.

Pustakawan Anarkis?

Kamu mungkin bertanya-tanya “apa sih pustakawan anarkis itu?”. Pustakawan anarkis merupakan sub-bagian dari semesta pustakawan radikal yang lebih luas. Pustakawan anarkis terlibat dalam proyek-proyek anarkis sekaligus aktivisme dalam pengertian tradisionalnya di mana banyak orang memilih terlibat. Kamu akan menemukan seorang pustakawan anarkis terlibat dalam mengelola infoshop, Pusat Media Independen setempat, pengarsipan, atau penerbitan zine. Pustakawan anarkis lebih dari sekadar tenaga profesional yang sesekali ikut berdemonstrasi; mereka menghidupi keyakinan mereka dan terlibat dalam perjuangan berjangka panjang demi perubahan sosial. Artinya, pustakawan anarkis yang memiliki ketertarikan pada konsentrasi media dan pembatasan hak cipta tidak hanya akan berdemonstrasi, tetapi akan turun tangan secara langsung dan membuat alternatifnya.

Secara politis, pustakawan anarkis cukup mirip dengan jaringan yang lebih luas dari pustakawan progresif dan radikal. Yang membedakan pustakawan anarkis dari rekan-rekan radikal mereka adalah adanya hubungan langsung dengan gerakan anarkis dan memiliki skeptisisme yang lebih mendalam terhadap otoritas. Kamu tidak akan menemukan pustakawan anarkis yang menjabat sebagai direktur perpustakaan (tapi di Indonesia? mungkin saja-ed). Para anarkis tidak menyukai otoritas dan hirarki, dan mereka akan menghindari posisi manajerial jika itu memang memungkinkan. Pustakawan anarkis juga sangat skeptis terhadap gagasan “profesi” perpustakaan secara keseluruhan—yaitu, seluruh sistem pendidikan perpustakaan dan pembedaan artifisial antara yang profesional dan semi-profesional. Bertentangan dengan propaganda yang sering terdengar dalam profesi ini, menjadi pustakawan tidak memerlukan jenis pengetahuan khusus yang harus diperoleh sebagaimana para pengacara dan dokter dalam pendidikan mereka. Siapa juga yang tahu berapa kali seorang semi-profesional di departemen layanan teknis yang telah mengkatalogisasi buku selama 20 tahun lamanya, eh tiba-tiba dihadapkan pada atasan baru yang pengalaman katalogisasinya hanya beberapa kali mengikuti kelas katalogisasi di jurusan perpustakaan?

Selain berperan sebagai aktivis yang terlibat dalam berbagai macam isu, para pustakawan anarkis juga bersikap kritis terhadap seluruh sistem kekuasaan di dunia perpustakaan. Hal ini tercerin di dalam perjuangan yang masih berlangsung untuk melawan asosiasi perpustakaan dan perpustakaan itu sendiri. Sikap ini terwujud dalam bentuk kritik terhadap American Library Association dan hubungannya yang terlalu mesra denagn para donor korporat, atau dalam upaya peningkatan kesadaran akan penyebaran “kanker” globalisasi dan privatisasi di perpustakaan umum.

Salah satu hal yang menarik perihal semakin bertambah banyaknya pustakawan anarkis adalah kebanyakan dari mereka merupakan orang-orang yang di kemudian hari memutuskan untuk menempuh pendidikan kepustakawanan setelah terlibat dalam proyek-proyek anarkis seperti infoshop, toko buku, penerbitan zine, dan Books through Bars. Tidaklah aneh melihat para aktivis menempuh pendidikan kepustakawanan. Lagipula, kepustakawanan adalah profesi dengan sejarah panjang yang mendukung penuh gagasan-gagasan progresif seperti kebebasan berekspresi dan kebebasan intelektual. Profesi ini dipenuhi oleh para pekerja perpustakaan yang tertarik pada kebebasan intelektual, melawan sensor, diversifikasi koleksi, dan tanggung jawab sosial. Seperti telah kita ketahui, pustakawan tidak melakukan pekerjaan ini karena mereka ingin mendapatkan banyak uang dan mengejar jenjang karir. Hal ini menarik hati generasi pustakawan radikal berikutnya yang mencari pekerjaan dalam profesi yang sesuai dengan sistem nilai dan keyakinan politik mereka.

Tentang Bidang Ini

Mengingat bahwa pustakawan anarkis/radikal secara definisi juga termasuk sebagai aktivis, tidak mengerankan bila pustakawan radikal memanfaatkan keterampilan dan pelatihan mereka dalam berbagai acara aktivis. Saya telah menceritakan secara rinci pengalaman saya bekerja di welcome center dalam sebuah mobilisasi nasional. Jessamyn West juga telah menceritakan secara rinci pengalamannya bertugas di layanan referensi pada berbagai acara menarik, seperti salah satunya Festival Burning Man yang diadakan tiap tahun.

Protes/demonstrasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan setiap aktivis, dan pustakawan radikal telah mengorganisir serta berpartisipasi dalam berbagai aksi protes. Salah satu aksi protes paling berkesan dalam konvensi American Library Association (ALA) yang berlangsug di New Orleans pada pertemuan musim panas tahun 1999. ALA telah memutuskan untuk menunjuk Colin Powell sebagai pembicara utama, yang memicu huru-hara di kalangan pustakawan. Sekelompok pustakawan radikal mengadakan aksi unjuk rasa di luar area pidato utama. Aksi tersebut menimbulkan respon yang beragam mlai dari rasa tidak percaya, sikap acuh tak acuh, hingga dukungan dari para pustakawan yang akan menghadiri pidato tersebut. Pihak kepolisian pada akhirnya meminta kami untuk pergi, tetapi kami tidak melangkahkan kaki sejengkal pun sebelum para hadirin melihat poster dan spanduk yang bertuliskan “Books Not Bombs,” “Dead Iraqis Can’t Use Libraries,” “Don’t Militarize ALA,” and “Down with $70,000 ‘Volunteers.’”

Pada awal tahun 1999, sekelompok pustakawan radikal membentuk kelompok kecil dalam aksi protes “Millions 4 Mumia” di Philadelphia. Menyadari bahwa negara sedang bersiap untuk mengeksekusi Mumia Abu-Jamal, seorang jurnalis peraih penghargaan, seorang pustakawan datang membawa spanduk bertuliskan “Hukuman Mati adalah Bentuk Sensor Terparah.”

Para pustakawan radikal telah turut serta dalam banyak aksi anti-globalisasi yang belakangan ini menarik perhatian banyak media. Aksi-aksi protes ini mulai menarik perhatian internasional melalui aksi besar-besaran memprotes WTO di Seattle pada tahun 1999, namun itu hanyalah puncak gunung es yang tampak. “Kovergensi” besar-besaran semacam ini membutuhkan persiapan organisasional yang masif, yang dilakukan baik itu di lapangan maupun di internet. Biasanya, konvergensi-konvergensi ini akan memiliki semacam welcome center atau “pusat konvergensi” serbaguna. Para aktivis akan menyusun panduan informatif mengenai apa yang harus dibawa ke aksi protes, tempat untuk beristirahat, jadwal pertemuan dan acara, serta lokasi penyediaan makanan. Aksi-aksi protes ini juga memerlukan upaya promosi dan penyebaran informasi di internet, di mana penulis artikel ini juga turut terlibat.

Aksi protes besar-besaran tersebut juga membuka peluang untuk melakukan kegiatan perpustakaan yang menarik di jalanan. Selama “Pertempuran Seattle” pada tahun 1999, pustakawan anarkis Jessamyn West mengambil peran sebagai “pustakawan jalanan” saat sedang diberlangsungkannya aksi. Ia berkeliling di jalan-jalan di pusat kota sembari membawa bendera yang menandakan perannya sebagai penyedia informasi sekaligus sebagai “ruang aman” yang terpisah dari kerumunan massa yang mulai memanas. Sebagai “pustakawan jalanan” dan aktivis lokal, Jessamyn mampu memberikan informasi dan petunjuk arah dalam situasi yang cukup unik.

Tentang Kerja-kerja yang Dilakukan

Sejauh menjadi pustakawan radikal dianggap tidak konvensional, cukup jarang menemukan pustakawan radikal yang bekerja di lingkungan kerja yang juga radikal. Banyak pustakawan radikal yang bekerja sebagai pustakawan konvensional. Mereka mungkin bisa menyisipkan aktivisme politik mereka ke dalam tugas kerja perpustakaan sehari-hari mereka, tetapi seringnya aktivisme tersebut dilakukan di luar jam kerja.

Sebenarnya ada beberapa pustakawan radikal yang bekerja di bidang yang bisa dianggap sebagai pekerjaan perpustakaan radikal. Julie Herrada adalah kurator Koleksi Labadie di Universitas Michigan. Koleksi Labadie merupakan kumpulan materi-materi penting dari gerakan perubahan sosial radikal di Amerika Serikat. Koleksi ini digambarkan sebagai “koleksi literatur protes sosial terbesar di dunia.” Jika ini terdengar seperti arsip yang menarik, pekerjaan Julie sebagai kurator telah membuatnya beberapa kali menjadi tajuk utama di surat kabar nasional, seperti saat ia menegosiasikan kesepakatan untuk menambahkan dokumen-dokumen milik Theodore “Ted” Kaczynski, si “Unabomber,” ke dalam koleksi tersebut. Pekerjaannya sebagai kurator koleksi ini juga membawanya ke lelang harta warisan, toko buku langka, dan pameran buku anarkis untuk mencari materi-materi langka dan tidak biasa. Selain melakukan tugas sehari-harinya sebagai arsiparis, Herrada juga terkadang mengadakan ceramah edukatif tentang koleksi tersebut, kepada audiens yang beragam, mulai dari siswa sekolah menengah atas hingga peserta konferensi anarkis.

Pustakawan radikal lainnya bekerja di perpustakaan umum, seperti di meja referensi atau di bagian layanan teknis. Aktivisme mereka mungkin muncul saat mereka menyusun proyek khusus, seperti daftar pustaka atau pameran publik mengenai suatu topik. Meskipun perpustakaan mungkin membanggakan diri karena mendukung kebebasan berbicara dan kebebasan intelektual, akan tetapi prinsip-prinsip tersebut dibatasi ketika para pekerja perpustakaan ingin mengamalkannya. Perpustakaan mirip dengan kebanyakan tempat kerja, di mana kebebasan berbicara berakhir begitu seseorang melangkah masuk ke dalam bangunan. Oleh karena itu, pustakawan radikal biasanya terpaksa menjadi aktivis di luar tempat kerja, namun seringkali tetap berkaitan dengan pekerjaan mereka. Salah satu tempat di mana pustakawan radikal menemukan ruang gerak yang lebih bebas untuk beraktivisme adalah dalam kegiatan profesional, seperti ALA, atau asosiasi perpustakaan tingkat negara bagian.

Tentang Internet

Internet dan World Wide Web (www.) telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kerja-kerja perpustakaan dalam sepuluh tahun terakhir. Internet telah mengubah esensi dari banyak pekerjaan di perpustakaan, namun yang lebih penting lagi, hal ini telah memberikan kebebasan kepada para pustakawan dan staf perpustakaan untuk membuat proyek mereka sendiri secara daring.

Dapat dikatakan bahwa penulis mengelola salah satu proyek pustakawan anarkis yang paling khas di internet. Selama lebih dari tujuh tahun, saya telah mengelola dan mengembangkan Infoshop.org (sebelumnya bernama Mid-Atlantic Infoshop). Proyek ini dimulai setelah saya mengikuti kelas HTML dasar yang dipandu oleh seorang arsiparis dari Universitas Virginia. Saat itu, saya bekerja sebagai pustakawan sistem di Divisi Teknologi Informasi perpustakaan utama Universitas Maryland-College Park. Saya sudah menggunakan web selama beberapa tahun dan sangat tertarik dengan aspek do-it-yourself (DIY) dari HTML dan halaman web. Universitas menyediakan ruang web gratis di servernya untuk mahasiswa dan staf, jadi saya mempraktikkan pelajaran yang saya peroleh dari kelas tersebut dan mulai mengkoding.

Dorongan untuk memulai proyek Mid-Atlantic Infoshop berasal dari keterlibatan saya saat itu dengan Beehive Infoshop, yang berlokasi di kawasan Shaw, pusat kota Washington, DC. Saya merancang proyek web ini sebagai pelengkap dari pekerjaan yang dilakukan oleh infoshop tersebut, dan saya berharap halaman-halaman web tersebut dapat meningkatkan popularitas infoshop. Akhirnya, infoshop tersebut tutup, tetapi saya memutuskan untuk terus mengelola situs web tersebut, dan—sebagaimana halnya mayoritas proyek—situs web itu pun berkembang dan memiliki identitasnya sendiri.

Saat ini, Infoshop.org merupakan salah satu situs web paling populer di kalangan aktivis; banyak yang memasukkannya ke dalam daftar favorit, bersama dengan situs-situs terkenal seperti Indymedia dan ZNet. Situs web ini rata-rata menerima sekitar 3 juta kunjungan per bulan dan dikunjungi oleh orang-orang dari hampir setiap negara. Infoshop kini memiliki bagian dalam enam bahasa. Banyak orang menganggapnya sebagai salah satu sumber informasi terbaik mengenai gerakan anti-globalisasi dan anti-kapitalis. Berdasarkan berbagai bukti, pihak berwenang juga menganggap situs web ini sebagai sumber informasi yang baik.

Saat ini, Infoshop.org merupakan salah satu situs web paling populer di kalangan aktivis; banyak yang memasukkannya ke dalam daftar favorit, bersama dengan situs-situs terkenal seperti Indymedia dan ZNet. Situs web ini rata-rata menerima sekitar 3 juta kunjungan per bulan dan dikunjungi oleh orang-orang dari hampir setiap negara. Infoshop kini memiliki bagian dalam enam bahasa. Banyak orang menganggapnya sebagai salah satu sumber informasi terbaik mengenai gerakan anti-globalisasi dan anti-kapitalis. Berdasarkan berbagai bukti, pihak berwenang juga menganggap situs web ini sebagai sumber informasi yang baik.

Infoshop.org telah lama menyajikan sumber-sumber yang mengkritik konsep hak cipta, yang dapat disebut sebagai “paradigma hak ilahi raja-raja dalam dunia kapitalis”. Selain menampilkan sejumlah besar konten di domain publik, situs ini juga secara agresif memposting ulang konten dari domain komersial yang dilindungi hak cipta, demi menegakkan hak atas “penggunaan wajar” di dunia dimana DMCA dengan cepat membatasi kebebasan intelektual dan artistik. Selama bertahun-tahun, saya telah menerima sejumlah surat peringatan untuk berhenti dan menahan diri dari para pengacara. Surat pertama datang dari pengacara Barricade Books, yang telah menerbitkan buku Anarchist Cookbook yang membuat mereka meraup untung selama beberapa dekade. Mereka keberatan dengan penggunaan judul buku tersebut pada halaman web untuk buku cookbook baru yang sedang ditulis oleh para anarkis. Baru-baru ini, pengacara dari penerbit yang menerbitkan buku-buku kuning “for Dummies” tersebut mengirimkan surat peringatan kepada Infoshop sebagai tanggapan atas laman web Black Bloc for Dummies, yang memuat informasi, gambar, dan FAQ mengenai kelompok anarkis “black bloc” yang kondang itu.

Dalam banyak hal, menjaga agar Infoshop tetap beroperasi membutuhkan berbagai keterampilan kepustakawanan selain tugas rutin sebagai webmaster dan desain web. Proyek ini pada dasarnya merupakan alat referensi yang besar, namun bersifat interaktif dan juga menautkan ke banyak situs web yang tidak dikelola oleh webmaster (atau pustakawan) yang terorganisir dengan baik. Selalu ada keputusan yang harus diambil terkait pengorganisasian informasi di situs web, penyajian informasi tersebut dengan berbagai cara yang bermanfaat, pengembangan panduan “topik” baru, serta pengecekan keakuratan informasi (terutama URL-URL tersebut).

Infoshop juga berfungsi sebagai pusat referensi bagi kaum anarkis dan aktivis yang buka 24 dalam 365 hari. Karena Infoshop dipandang sebagai sumber daya utama bagi para aktivis, banyak orang mengajukan pertanyaan melalui email yang sebenarnya dapat dikategorikan sebagai pertanyaan rujukan. Situs web ini dikelola oleh jaringan kecil sukarelawan, yang berarti volume besar pertanyaan yang masuk bisa sangat membebani. Sebagian besar pertanyaan berkaitan dengan sifat dan definisi anarkisme. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dirujuk ke Anarchist FAQ, atau berbagai halaman web dan situs web. Ada banyak pertanyaan seputar jaringan, seperti: “Barangkali Anda tahu, apakah ada kelompok di Orlando, Florida?” Sifat internet memungkinkan banyak orang dengan kecenderungan radikal yang tinggal di daerah terpencil untuk mencari orang-orang yang sepaham. Banyak pertanyaan berasal dari siswa sekolah menengah atas yang hak-haknya dibatasi oleh guru dan pihak administrasi. Infoshop menerima banyak pertanyaan dari siswa dan peneliti. Situs web ini juga menerima banyak pertanyaan dari jurnalis, dan permintaan-permintaan ini harus diteruskan ke pihak yang relevan.

Apakah Gas Air Mata Mengganggu Tanya Jawab Perihal Referensi?

Para pustakawan radikal (dan anarkis) melakukan beragam kerja-kerja yang menarik yang mengaitkan pengalaman mereka sebagai pekerja perpustakaan dengan peran mereka sebagai individu yang terlibat dalam perubahan sosial. Terkadang, peran yang berbeda-beda ini melebur dalam satu posisi pekerjaan yang nyata. Mengingat tradisi panjang aktivisme dan tanggung jawab sosial dalam profesi perpustakaan, kamu mungkin mengira bahwa sebagian besar pustakawan adalah semacam aktivis. Saya rasa sebagian dari kita yang menekuni profesi ini berangkat dari anggapan bahwa sebagian besar pustakawan setidaknya adalah penentang keras sensor.

Tapi aduh, realitas profesi perpustakaan Amerika dalam dekade terakhir menunjukkan betapa profesi ini telah dikuasai oleh para penggemar teknologi dan pengagum korporasi yang ingin kita memandang setiap pengunjung sebagai sekadar “pelanggan.” Setidaknya, jumlah pustakawan radikal telah bertumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Mungkin hal ini, dikombinasikan dengan realitas globalisasi yang keras di perpustakaan, akan membalikkan keadaan profesi yang telah kehilangan arah dan berisiko menjadi tidak relevan bagi pekerja biasa.

Kami adalah pustakawan radikal dan kami senang membuat sedikit huru-hara!