Sampai hari itu tiba, kami akan tetap mengingat dengan kepala yang tetap tegak


  1. Solidaritas Adalah Senjata Kita

Banyak hal yang telah di tulis dan diceritakan soal solidaritas. Biasanya saat terlalu banyak diskusi dan terlalu banyak teks yang membicarakan soal itu, ia biasanya berakhir hambar, gampang ditebak dan tanpa maksud yang jelas. Hal ini memperlihatkan bahwa persoalan tentang solidaritas sudah terlalu sering dibicarakan dan terus menerus hingga menjadi repetitif.

Kami percaya bahwa tidak ada praktek yang usang, yang ada hanya cara berpikir yang usang. Kenyataannya pada hari ini, di kondisi yang mesti kita curigai, di tengah banyaknya gerilyawan urban dan anarkis yang dipenjara, kami menganggap penting untuk menajamkan pisau tentang solidaritas dan membuat persoalan tentang solidaritas tidak lagi memiliki stereotip repetitif yang membatasi kita dengan kejam dari lingkaran tentang “kebebasan untuk semua kamerad”.

Karena saat ini, nama berubah, semakin banyak bertambah sementara yang lain terlupakan, dan solidaritas akhirnya stagnan dan seringkali hanya sebatas karena pertemanan, relasi personal dan relasi “publik”.

Bagaimanapun, situasi di mana nama nama dari para kombatan yang dipenjara dan kasus kasus mereka terlihat tidak menarik seperti halaman dalam brosur iklan, otoritas akan memenangkan pertaruhan yang penting, yaitu musnahnya moral dari setiap musuh politiknya. Hal ini akan membuat kita melihat bahwa keberadaan penjara adalah sesuatu yang alamiah dan dapat diterima dalam kehidupan.

  1. Dari Posisi Bertahan Menjadi Posisi Menyerang

Bagaimanapun kami tidak dapat membicarakan soal solidaritas tanpa menyebutkan represi di tempat pertama. Bagaimanapun tidak dapat disangkal bahwa represi adalah reorganisasi dan peningkatan kapasitas dari sektor militer (sebagai contoh kekuatan baru dunia kepolisian di Yunani seperti kehadiran DIAS), sektor teknik sains (sebagai contoh adalah pengumpulan data melalui DNA), sektor propaganda (seperti skenario teror melalui media) dan juga sektor hukum (seperti lahirnya perangkat hukum yang khusus seperti undang undang anti teror). Musuh musuh kita sedang berusaha dengan berbagai cara untuk menginternalisasikan ketakutan di dalam lingkaran anti rezim sebagai bagian yang tidak terpisahkan.

Bagaimanapun, sebelum kami terperangkap dalam jaring keputusasaan dan menyerah melawan serangan gencar dari represi, kami merasa sangatlah penting untuk melihat terlebih dahulu apa yang ada di balik hal tersebut. Karena hanya dengan pengetahuan kita dan warisan ingatan yang dapat membantu mengatasi ketakutan.

Sudah beberapa tahun sekarang, bersamaan dengan momen letupan pada bulan Desember 2008, generasi berikut dari gerilyawan urban anarkis telah mendeklarasikan kehadiran permanen yang pada akhirnya menggiring pada kematian dan kerusakan dari kedua sisi dari perang, aksi aksi pembakaran yang terkoordinasi, peletakan perangkat ledak pada simbol simbol kekuasaan, mengorganisir sabotase dari infrastruktur dan artikulasi dari diskursus subversif yang melihat bahwa revolusi itu adalah hari ini, di sini dan sekarang.

Pada sisi lain, represi adalah perang permanen dalam hubungannya yang menekan subversi. Itu mengapa kami meyakini bahwa reformasi agresif hari ini bukanlah hasil dari inisiatif otonom dari negara pada waktu netral, melainkan sebuah jawaban untuk meningkatkan pertumbuhan dari gerilya kota baru dan secara alami sebagai perisai perlindungan atas derasnya oposisi dari otomatisasi sosial (krisis ekonomi, pengangguran, pemogokan, dll).

Memfokuskan diri pada pilihan kami terhadap taktik gerilya kota baru, dapat dengan mudah kami katakan bahwa represi berfungsi sebagai langkah dari keberlangsungan logis dari fenomena “aksi reaksi”. Itu mengapa kami tidak melihat diri kami dalam posisi bertahan.

Meski dalam kondisi terpenjara kami memilih untuk menjungkirbalikkan terminologi dari kapitulasi sifat mengalah dan dengan bangga mengambil tanggung jawab atas setiap aksi aksi kami, dengan mempertahankan posisi dan nilai nilai dari Conspiracy of Cells of Fire di mana kami berpartisipasi, merencanakan rencana subversif baru, menyerang dan menyabotase.

Oleh sebab itu represi bukanlah hantu yang membayangi kami, namun represi merupakan respon negara dalam perang yang kami deklarasikan terhadapnya. Ini mengapa kami menganggap bahwa para kamerad baru dan mereka yang terlibat dalam pemberontakan tidak perlu menghadapi otoritas sebagai musuh maha kuasa yang mengetahui segala sesuatu, melainkan sebagai sebuah tantangan untuk meningkatkan kapasitas dan lebih memperkuat perang demi perang terhadapnya.

Oleh karena itu kami menempatkan diri, jauh dari kompleksitas posisi yang terjebak antara bertahan dan ketakutan, dan terus melancarkan serangan bertubi tubi. Sementara itu untuk mereka yang sudah terburu buru untuk menyatakan diri menyerah, hanya karena begitu banyak kawan yang tertangkap, kami mengatakan bahwa konsekuensi dari setiap aksi yang tidak cukup menyediakan bahan untuk mengevaluasi setiap alasan di balik sebuah pilihan. Lagipula nilai sejati dari kebebasan tidaklah berada di titik aman yang tanpa akibat apapun, melainkan terletak ia terletak bersama ancaman dan bahaya dalam pencarian sesuatu yang lebih baik, perjuangan untuk hidup yang sebenarnya melampaui hukum.


  1. Mari Biarkan Solidaritas Menjadi …Catatan… Dari Upaya Pelarian Dari Kedua Sisi Tembok

Solidaritas revolusioner adalah peta hidup di mana menggambarkan berbagai fakta dan persepsi di mana bahasa kekuasaan berkeinginan untuk secara metodik dihapus dari ingatan, mengeliminasinya dari kesadaran dan mengabolisinya seakan akan solidaritas revolusioner tidak pernah eksis.

Bagaimanapun secara simultan, solidaritas juga berarti argumentasi berdasarkan perilaku, relasi relasi dan transubstansi dari nilai nilai revolusi hari ini, di sini. Ia adalah jalan untuk eksis bersamaan menentang masyarakat yang penuh kesepian dan segregasi.

Solidaritas merupakan lahar panas yang mengalir di pembuluh darah dari setiap pembangkang, setiap orang dengan caranya masing masing, di era dan di bawah kondisi kekuasaan yang berbeda. Dengan momentum ini mengklarifikasikan satu fakta yang tidak terbantahkan, bahwa setiap orang yang berjuang melawan kekuasaan tidak perlu menjadi teman kita tetapi layak, tidaklah terlalu penting mendapatkan penerimaan tanpa syarat melainkan dukungan sepenuh hati dari kita. Alasan ini yang menginspirasikan semua serangan kami dan aksi aksi yang kami lakukan sebagai individu otonom yang berpartisipasi di dalam Conspiracy of Cells of Fire

Bagaimanapun sangat penting untuk kita mengerti bahwa solidaritas revolusioner melalui pilihan untuk melakukan serangan permanen tidaklah lahir dari fantasi akan keharusan agar dikenali di antara pemikiran dan aksi. Karena seringkali solidaritas disalahartikan dan menjadi terlihat sebagai persetujuan absolut atas praktik dan teori antara mereka yang dipenjara dan mereka yang bersolidaritas.

Dalam kebalikannya, hal ini lahir dari respon atas dilema abadi di masa kita: “Kamu adalah salah satu bagian dari Negara atau bagian dari revolusi’. Pengakuan dari warisan ini tentu saja tidak bermaksud bahwa kami akan menyimpan semua senjata dari kritisisme atau mengurangi diskusi kami dengan anggapan bahwa kami akan menjadi sama seperti mereka yang kami anggap sebagai musuh. Solidaritas tanpa kritik adalah revolusi tanpa tindakan. Dengan kritik kami dapat memperdalam substansi dari sebuah kasus. Kami dapat mengenali secara umum tapi juga perbedaan referensi dari masing masing dari kita. Kami mengembangkan pemikiran dan praktik kami, dan kami mendengarkan karakteristik partikular dari berbagai variasi yang berbeda yang membentuk gerakan anti rezim. Hal ini juga merupakan keindahan dari revolusi, di mana tidak ada kebenaran tunggal, seperti juga tidak ada tradisi ortodoks yang akan mendikte kita soal mana yang benar dan mana yang salah.

Di sisi lain, gerakan anti otoritarian adalah sebuah mozaik dari penyangkalan yang saling terhubung, terjalin, bersaing, saling mendukung, tapi juga tetap juga berdialektika. Ini adalah dialektika dari soldiaritas yang tidak akan mengaburkan siapa yang sebenarnya musuh, mereka yang merampas eksistensi kita, mereka yang ingin melupakan kita dengan “menguburkan” kita di pekuburan semen bernama penjara.

  1. Senjata Senjata Kritisisme dan Kritik Terhadap “Kritisisme”

Melalui konteks kami seringkali kali telah mengkritik, dan kadang kadang dengan sangat kasar, cara cara, organisasi lain, okupasi okupasi, praktek praktek dan berbagai tradisi dari perjuangan. Tapi kami selalu tahu ke arah mana kami melihat dengan permusuhan dan membidikkan senjata kami. Kami tidak pernah lupa bahwa di antara para revolusioner dan musuh, ada sebuah keterusterangan yang yang secara jelas membedakan garis.

Kami masih percaya bahwa di antara gerakan anti otoritarian, mengesampingkan berbagai perbedaannya, kontradiksi kontradiksi, perselisihan dan tegangan, apa yang menyatukan kita jauh lebih besar dari apa yang memisahkan kita. Sepanjang kita belajar bahwa dialektika adalah dasar dari mutualitas dan ketulusan dari intensitas dan motivasi untuk mempromosikan perang yang revolusioner, dan tidak berkutat pada ambisi personal yang bodoh yang menginginkan adanya kepemimpinan informal di antara lingkaran lingkarang anti rezim. Watak seperti itu akan bertemu dengan kejijikan kami kasar.

Terlepas bahwa kami melabeli diri kami sendiri sebagai sebuah bagian dari anarkis individualis dengan tendensi nihilis di dalam gerakan anti otoritarian, kami mendukung perbedaan dari revolusi anarkis. Secara umum, salah satu cara yang ditempuh melalui infrastruktur ilegal kami, atau sebagai anggota Conspiracy of Cells of Fire yang dipenjara, kami menerima kritik, karena dengan begitu kami dapat mempelajarinya dan juga menerimanya. Kami tidak pernah mengklaim bahwa kami adalah pemegang kebenaran eksklusif dari revolusi, tidak peduli karena yang kami inginkan adalah menyimpannya untuk diri kami sendiri. Kami meyakini bahwa ekspresi yang otentik dari kritisme diri adan kritisisme yang terjadi melalui solidaritas revolusioner selalu menawarkan sesuatu kepada praktik subversif.

Hal ini penting untuk membongkar doktrin doktrin kebenaran, membentuk kembali konsep konsep baru, membagi pengalaman, memformulasikan pertanyaan pertanyaan dan perhatian perhatian, membuka komukasi, menyuburkan kesepakatan dan ketidaksepakatan dan sistesis perspektif baru untuk setiap kita yang berada di dalam komunitas pemberontak.

  1. Saat Saat Perjuangan Melawan Angin

Melampaui itu semua solidaritas dengan segala bentuknya dapat menjadi kesempatan untuk menyuburkan ruang dialektikan dan dialog antara mereka yang bersolidaritas dan mereka yang berada di dalam penjara. Tapi hal itu juga dapat menjadi awal untuk menggapai lebih. Menggapai sebuah bentuk sebagai titik awal untuk mengkoordinasikan aksi aksi yang tidak hanya terbatas secara eksklusif pada sebuah tema yang membatasi. Ini adalah salah satu hal yang akan kami jadikan acuan dalam sikap kami di masa mendatang.

Pelacakan dari pengalaman historis di masa lalu, kami menemukan beberapa momen puncak dari perjuangan di mana mereka yang bersolidaritas dan mereka yang berada di dalam penjara dapat belajar antara satu dengan yang lain, yang mengorganisasikan dan mengkreasikan sebuah rencana subversif bersama menentang pemenjaraan dan kondisi dari otoritas. Solidaritas adalah perjumpaan dari berbagai momen (Uruguay, Inggris, Irlandia, Jerman, Italia, Spanyol, dll) di mana para tahanan gerilyawan kota dan para tahanan yang lain, mengesampingkan berbagai argumen dan kontroversi yang mengasosiasikan setiap mozaik dari multi tendensi gerakan anti rezim. Dari eksekusi terhadap para anggota rezim dan penculikan dari para politisi dan pengusaha, ke pertemuan pertemuan solidaritas dan poster poster untuk melawan informasi dan slogan slogan penguasa, dari setiap bom dan aksi aksi pembakaran, dari puluhan pengalaman fisik dan mental yang kita lalui.

Karena memang hingga saat ini dari setiap bom atau peledak yang bersamaan dengan setiap ledakannya membawa pesan solidaritas, dari setiap poster dukungan, pertemuan pertemuan di luar penjara atau surat, setiap tulisan menjadi sedikit “teman” yang bisa dipercaya oleh para tahanan sepanjang berlangsungnya perang yang berupa penyekapan.

Gerakan ini adalah jawaban paling baik untuk demokrasi elitis yang membuat kita terkubur di balik tumpukan beton, semen dan jeruji besi. Solidaritas ini yang menjaga kita tetap bebas meskipun berstatus sebagai tahanan. Berkebalikan dengan itu pelupaan adalah bentuk dari kematian untuk para tahanan semenjak hari demi hari yang tak kunjung berakhir, yang membuat para tahanan menjadi lebih miskin, sempit dan kosong dalam berbagai sisi.

Jadi melalui dimensi kritik dari solidaritas, solidaritas berhenti menjadi prosedur standar yang berulang ulang dan menjauh sama sekali dari hal tersebut seperti humanisme Kristen yang berbicara dalam bahasa yang memohon kepada para musuh.

Beberapa tahun yang lalu bentuk bentuk dari aksi pembakaran anarki secara mayoritas terbatas pada solidaritas tunggal yang berulang melalui telepon yang mengklaim pertanggungjawaban atas aksi, stereotip “kebebasan untuk dia”. Jadi setiap kasus tak bisa diacuhkan mewujud, memutus koneksi intelejensia dari pilihan (aksi pembakaran, perampokan, vandalisme dalam demo) untuk setiap kamerad yang ditahan dengan setiap individu otonom yang berkeinginan untuk menyingkap tabir arti umum dari hal ini. Dalam hal ini, solidaritas menjadi kasus yang hanya melibatkan beberapa teman dekat dan hanya bekerja dengan barometer “nilai dari simpati” yang mampu dikumpulkan oleh tahanan anarkis tersebut secara individual.

Dalam beberapa tahun kami percaya bahwa transisi dari aksi agresif yang muncul sesekali menuju kreasi dari grup grup aksi langsung yang mengorganisir infrastruktur yang berhasil membebaskan aksi aksi pembakaran solidaritas dari stereotip lama dan memulai menghasilkan diskursus total melalui proklamasi proklamasinya, analisis dan teks yang dihasilkan oleh praktek setiap revolusioner ilegal sebagai tawaran terbuka untuk diketahui setiap orang dan dapat memilih untuk menola atau lebih penting lagi adalah memilih mengembangkannya.

Hal yang sama juga terjadi melalui beberapa proses pertemuan yang spesifik, yang mana dengan tidak menawarkan setiap tahanan imunitas dari heroisasi yang palsu, telah membuat langkah untuk berbicara melalui leaflet leaflet dan percakapan di telepon dan berhasil mengembangkan sebuah gerakan yang hidup dari dialog, kesepakatan dan kontradiksi kontradiksi.

Karena pertaruhannya bukanlah untuk mengkreasikan gerakan solidaritas yang luas dengan “berlari” di belakang kasus kasus dari setiap tahanan, tapi untuk membangun sebuah saluran sejati dari komunikasi untuk secara mental menghancurkan tembok tembok yang memisahkan kita.

Pada saat yang bersamaan kami mempertimbangkan bahwa adalah sangat penting untuk membuka solidaritas di level internasional. Tawaran terbuka untuk pembangunan Federasi Informal Anarkis – Front Revolusioner Internasional, berkontribusi di arah ini. Ini adalah jalan untuk menghancurkan kebisuan dalam praktek dan misinformasi tentang apa yang sedang terjadi di tempat yang jauh “di manapaun” dan untuk mengkolektifisasikan semua momen dari setiap bagian di belahan dunia yang mengatakan tidak kepada otoritas, yang tidak menundukkan kepala mereka kepada negara, yang menantang angin dari waktu kita dan membangunan teritori teritori utopis, teritori teritori terbebaskan dari tanah tanah yang terbebaskan di mana perang revolusioner menjadi penting sepenting sinar matahari untuk kehidupan.


Panjang Umur Federasi Informal Anarkis – Front Revolusioner Internasional

Tidak kurang dari semuanya

Perjuangan bersenjata untuk Revolusi


Conspiracy of Cells of Fire:

  • Olga Oikonomidou

  • Panoagiotis Argyrou

  • Haris Hadjimichelakis

  • Giorgos Nikolopoulos

  • Giorgos Polydoros

  • Christos Tsakalos

  • Gerasimos Tsakalos

  • Damianos Bolano

  • Michalis Nikolopoulos

6 April 2011