image/svg+xml

Polisi menjalankan hukum yang sah. Pada kenyataannya, rata-rata polisi bukanlah ahli hukum; dia mungkin tahu protokol dalam departemennya, tapi tidak begitu banyak mengetahui tentang hukum yang sebenarnya. Hal tersebut menunjukan bahwa penegakan hukum mereka lakukan dengan gertakan, improvisasi, dan ketidakjujuran. Polisi berbohong dalam hal-hal mendasar: “saya baru mendapatkan laporan bahwa seseorang dengan ciri-ciri seperti anda membuat kejahatan di sekitar tempat ini. boleh kaish lihat KTPnya?”

Ini bukan berarti kita harus menerima hukum yang sah tanpa berpikir juga. Seluruh sistem yudikatf melindungi mereka yang memiliki hak istimewa orang kaya dan berkuasa. Taat hukum tidak selalu berarti benar secara moral-bisa saja itu merupakan hal yang amoral. Sebelumnya perbudakan adalah hal legal, sedangkan membantu budak yang kabur adalah hal ilegal. Begitu pula dengan Nazi, merea berkuasa di Jerman melalui pemilihan yang demokratis dan lolos secara hukum melalui alur yang sudah ditentukan. Kita harus memiliki kekuatan hati nurani untuk melakukan apa yang menurut kita adalah hal yang terbaik, terlepas dari hukum dan intimidasi polisi.

Polisi adalah pekerja, sama seperti kita; mereka seharusnya teman kita. Sayangnya, ada jarak yang jauh antara “seharusnya” dan “adalah.” Tugas dari poisi adalah untuk melayani kepentingan penguasa; siapapun yang tidak pernah memiliki pengalaman buruk dengan mereka berarti memiliki hak istimewa, penurut, atau dua-duanya. Polisi zaman sekarang tahu persis mereka akan terlibat dalam apa saat bergabung ke dalam satuan-orang berseragam tidak hanya menolong kucing di atas pohon. Ya, mungkin kebanyakan dari mereka melakukan pekerjaan tersebut karena tekanan ekonomi, tapi membutuhkan gaji bukanlah alasan untuk menggusur rumah warga, melecehkan orang berkulit gelap, atau menyemprotkan merica ke demonstran. Mereka yang hati nuraninya bisa dibeli adalah musuh potensial semua orang, bukan kawan.

Dongeng ini lebih persuasif jika ditulis dalam istilah strategis: contohnya, “Setiap revolusi berhasil pada saat pasukan bersenjata menolak untuk berperang dengan sesamanya; untuk itu kita seharusnya fokus untuk merayu polisi agar memihak kepada kita.” Tapi polisi tidak sperti pekerja lainnya; mereka sendiri yang memilih untuk mencari uang dengan cara mempertahankan tatanan saat ini, jadi sangatlah kecil kemungkinannya untuk bersimpati kepada mereka yang ingin mengubah para polisi. Dalam kontes ini, lebih masuk akal untuk menentang polisi dari pada bersolidaritas dengan mereka. Selagi mereka melayani tuannya, mereka tidak mungkin menjadi teman kita; dengan mencela institusi polisi dan menurunkan moral petugas, kita mendorong mereka untuk mencari mata pencaharian lain sehingga suatu hari kita bisa menemukan tujuan yang sama dengan mereka.

Mungkin memang ada apel yang busuk, tapi beberapa polisi adalah orang yang baik. Mungkin beberapa polisi memang memiliki niat baik, tetapi sekali lagi, selama mereka mematuhi perintah daripada hati nurani mereka, mereka tidak dapat dipercaya.

Ada sesuatu yang bisa diceritakan untuk memahami sifat sistematis dari institusi, daripada menghubungkan setiap ketidakadilan dengan kekurangan individu. Ingat kisah pria yang tersiksa oleh kutu, lalu berhasil menangkap satu dengan jarinya? Dia mengamatinya untuk waktu yang lama sebelum menempatkannya kembali di lehernya di tempat di mana dia menangkapnya. Teman-temannya bingung, bertanya mengapa dia melakukan hal seperti itu. “Bukan itu yang menggigit aku,” katanya.

Polisi bisa memenangkan semua konfontasi, jadi kita tidak seharusnya memusuhi mereka. Dengan segala senjata, peralatan, dan pengawasan mereka, polisi kelihatan tidak terkalahkan, tapi itu hanya ilusi. Mereka dibatasi oleh segala kendala yang tak terlihat-Birokrasi, opini publik, komunikasi yang terganggu, sistem peradilan yang kelebihan beban. Jika mereka tidak memiliki kendaraan atau fasilitas yang tersedia untuk mengangkut dan memproses sejumlah besar tahanan, misalnya, mereka tidak dapat melakukan penangkapan massal.

Itulah sebabnya kenapa massa yang beraneka ragam yang ditembaki gas air mata bisa menahan pasukan polisi yang lebih banyak, lebih terorganisir, dan lebih lengkap peralatannya; perselisihan antara kerusuhan sosial dan militer mungkin tidak berjalan sesuai dengan aturan keterlibatan militer. Mereka yang telah mempelajari polisi, yang bisa memprediksi apa yang mereka siapkan dan apa yang bisa dan tidak dapat mereka lakukan, seringkali bisa mengakali mereka.

Kemenangan kecil seperti itu sangat menginspirasi mereka yang setiap hari gerah diinjak kekerasan polisi. Dalam ketidaksadaran kolektif masyarakat kita, polisi adalah benteng terakhir dari realitas, kekuatan yang memastikan bahwa segala sesuatunya tetap sebagaimana adanya; melawan mereka dan menang, bagaimanapun untuk sementara, menunjukan bahwa kenyataan bisa dinegosiasikan.

Polisi hanyalah pengalihan terhadap musuh yang sebenarnya, tidak sepadan untuk mendapat kemarahan atau perhatian kita. Sayangnya, tirani bukan hanya masalah politisi atau eksekutif; mereka tidak akan berdaya tanpa ada yang melakukan permintaan mereka. Saat kita melawan aturan mereka, kita juga melawan kepatuhan yang membuat mereka tetap berkuasa, dan cepat atau lambat kita pasti akan melawan beberapa dari mereka yang tunduk. Meskipun demikian, memang benar bahwa polisi tidak lebih integral dengan hierarki daripada dinamika penindasan di komunitas kita sendiri; mereka hanyalah manifestasi luar, dalam skala yang lebih besar, dari fenomena yang sama. Jika kita ingin melawan dominasi di mana-mana, daripada berspesialisasi dalam memerangi bentuk-bentuk tertentu dari dominasi itu sementara membiarkan yang lain tidak tertandingi, kita harus siap menghadapinya baik di jalan maupun di kamar tidur kita sendiri; kita tidak bisa berharap untuk menang di satu sisi tanpa bertarung di sisi lain. Kita tidak boleh memuja konfrontasi dengan musuh berseragam, sementara melupakan ketidakseimbangan kekuatan di barisan kita sendiri-kita juga tidak boleh puas jika semata mengelola detail penindasan kita sendiri dengan cara yang tidak hierarkis.

Kita perlu polisi untuk menjaga kita. Menurut garis pemikiran ini, bahkan jika kita mungkin bercita-cita untuk hidup dalam masyarakat tanpa polisi di masa depan, kita membutuhkan mereka hari ini, karena orang tidak siap untuk hidup bersama secara damai tanpa penegak bersenjata. Seolah-olah ketidakseimbangan sosial dan ketakutan yang dipertahankan oleh kekerasan polisi adalah perdamaian! Mereka yang berpendapat bahwa polisi terkadang melakukan hal-hal baik menanggung beban untuk membuktikan bahwa hal-hal baik yang sama tidak dapat dicapai setidaknya dengan cara lain.

Bagaimanapun, ini bukan seolah-olah masyarakat bebas polisi tiba-tiba muncul dalam semalam hanya karena seseorang menyemprotkan cat “Persetan dengan Polisi” di dinding. Perjuangan panjang yang dibutuhkan untuk membebaskan komunitas kita dari represi polisi mungkin akan terus berlanjut selama itu membutuhkan kita untuk belajar hidup berdampingan secara damai; komunitas yang tidak dapat menyelesaikan konfliknya sendiri tidak bisa berharap untuk menang melawan kekutan penjajahan yang lebih kuat. Sementara itu, penentangan terhadap polisi harus dilihat sebagai penolakan terhadap salah satu sumber kekerasan paling mengerikan yang menindas, bukan sebuah pernyataan bahwa tanpa polisi tidak akan ada kekerasan yang menindas. Tapi jika kita bisa mengalahkan dan membubarkan polisi, kita pasti bisa membela diri dari ancaman yang kurang terorganisir.

Melawan polisi itu kekerasan — itu membuat kamu tidak lebih baik dari mereka. Menurut aliran pemikiran ini, kekerasan secara inheren merupakan bentuk dominasi, dan karenanya tidak sejalan dengan melawan dominasi. Mereka yang terlibat dalam kekerasan memainkan permainan yang sama seperti penindas mereka, sehingga kalah sejak awal.

Itu sangat menyederhanakan permasalahan dan berbahaya. Apakah wanita yang membela dirinya dari pemerkosa tidak lebih baik dari pemerkosa? Apakah budak yang memberontak tidak lebih baik dari pemilik budak? Kita tahu sesuatu yang disebut membela diri. Dalam beberapa kasus, kekerasan memaksakan ketidakseimbangan kekuasaan; dalam kasus lain, hal itu menantang pemaksaan tersebut. Bagi orang-orang yang masih memiliki keyakinan pada sistem otoriter atau Tuhan, mengikuti aturan — baik legal maupun moral — adalah prioritas utama, apa pun taruhannya: mereka percaya bahwa mereka akan diberi penghargaan karena melakukannya, terlepas dari apa yang terjadi pada orang lain sebagai hasilnya. Apapu sebutan untuk orang-orang seperti itu, konservatif atau pasifis, pada akhirnya hanya ada sedikit perbedaan. Di sisi lain, bagi kita yang bertanggung jawab atas diri kita sendiri, pertanyaan terpenting adalah apa yang akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Terkadang ini mungkin termasuk kekerasan.

Polisi juga manusia, dan berhak mendapatkan penghormatan yang sama karena semua makhluk hidup. Intinya bukanlah bahwa mereka pantas menderita atau kita harus membawa mereka ke pengadilan. Intinya adalah bahwa, dalam istilah pragmatis murni, mereka tidak boleh diizinkan untuk membinasakan orang atau memaksakan tatanan sosial yang tidak adil. Meskipun dapat membangkitkan semangat mereka yang telah menghabiskan hidup mereka di bawah tumit penindasan untuk merenungkan akhirnya menang dari penindas mereka, pembebasan bukanlah masalah menuntut balas dendam tetapi menjadikannya tidak perlu. Oleh karena itu, meskipun kadang-kadang bahkan perlu untuk membakar polisi, ini tidak boleh dilakukan atas dasar semangat balas dendam diri sendiri, tetapi dari tempat kepedulian dan belas kasih-jika bukan karena polisi itu sendiri, setidaknya untuk semua yang jika tidak melakukan itu mereka akan menderita di tangan polisi.


Mendelegitimasi polisi tidak hanya bermanfaat bagi mereka yang menjadi target, tetapi juga bagi keluarga petugas polisi dan petugas polisi itu sendiri. Tidak hanya petugas polisi memiliki tingkat kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan anak yang tidak proporsional, mereka juga lebih mungkin untuk terbunuh, bunuh diri, dan berjuang melawan kecanduan daripada kebanyakan sektor masyarakat. Apa pun yang mendorong petugas polisi untuk berhenti dari pekerjaannya adalah demi kepentingan mereka, serta demi kepentingan orang yang mereka cintai dan masyarakat pada umumnya. Mari kita ciptakan dunia di mana tidak ada yang menindas atau tertindas, di mana tidak ada yang harus hidup dalam ketakutan.


“Cari tahu apa yang akan diterima oleh setiap orang secara diam-diam dan kamu akan menemukan ukuran pasti ketidakadilan dan kesalahan yang akan mereka lakukan, dan ini akan berlanjut sampai mereka dilawan dengan kata-kata atau pukulan, atau keduanya.”

-Frederick Douglass