Title: Kisah Perlawanan PSTO Bethlehem
Subtitle: Gerakan pendudukan bangunan terlantar terjadi di banyak negara. Idenya bukan sekadar mencari tempat tinggal sementara tetapi juga deklarasi perang terhadap ketimpangan. Di Indonesia, gerakan semacam ini diinisiasi oleh mahasiswa dan tunawisma.
Author: Fajar Nugraha
Topics: activism, Squatting
Publication: Haluan.co
Language: Bahasa Indonesia
Date: 02/07/2020

Di Salatiga, sekelompok orang mengorganisir diri dan membentuk perkumpulan. Kegiatannya tak lazim. Mereka melakukan pendudukan terhadap bangunan terlantar milik Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Di tempat itulah para pemulung, pengamen, mahasiswa, dan kelompok marjinal lainnya hidup menaungi diri. Orang-orang itu menamakan diri mereka Pusat Sosial dan Tunawisma Otonom (PSTO) Bethlehem.

Ernest, bukan nama sebenarnya, bercerita kelompok ini bermula dari gerakan lingkungan hidup yang membangun rumah pembibitan di pusat kota. Belakangan, mereka menyadari rumah pembibitan itu dihuni oleh puluhan tunawisma. Sebagian besar terdiri dari pemulung, pengamen dan tukang parkir. Itu terjadi sekitar 2018.

Pemerintah lantas merobohkan hunian itu dan mengusir penghuninya. Ernest dan kawan-kawan kemudian membentuk kelompok kecil untuk melakukan pendudukan gedung terlantar. Mereka yang terlibat berasal dari buruh serta mahasiswa di dua kampus di Salatiga.

Pada Januari 2020, nama PSTO Bethlehem mulai digunakan. Mereka menduduki bekas asrama mahasiswa milik UKSW di jalan Osamalaki, Salatiga. Gedung terlantar itu tidak hanya ditempati para relawan tetapi juga puluhan tunawisma.

Di tangan para relawan, gedung tak berpenghuni ini menjelma jadi hunian serba ada. “Kami membangun perpustakaan juga kebun publik untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri,” kisah Ernest kepada Haluan.co

PSTO Bethlehem juga menginisiasi dapur umum. Siapapun yang membutuhkan makanan bisa datang ke fasilitas yang dikelola para relawan ini. Setiap pekan di akhir bulan, PSTO Bethlehem menggelar perjamuan makan bersama bagi mahasiswa dan tunawisma. Mereka menyebutnya 'Gairah Tanggal Tua'. Inisiasi ini dibuat demi mengantisipasi kelaparan dan kekurangan gizi, bagi mahasiswa yang kehabisan uang makan bulanan atau telat mendapatkan kiriman di penghujung bulan.

“Keberhasilan lain yang paling nyata adalah koperasi distribusi barang layak pakai gratis,” tambah Ernest.

PSTO Bethlehem dengan cerdik menamai koperasi ini Circle A. Modelnya sederhana. Barang baru atau bekas layak pakai dikumpulkan dan diberikan kepada yang membutuhkan secara cuma-cuma. Biasanya, mahasiswa senior yang sudah menyelesaikan studinya meninggalkan banyak barang.

Tak kalah krusial adalah inisiatif lokakarya serta creative space. Dalam hal ini relawan PSTO Bethlehem menyediakan ruang bagi pengembangan bakat dan minat para tunawisma, pemberdayaan tunawisma, serta ruang untuk mengekspresikan kreativitas pemuda di Salatiga. Workshop ini misalnya berupa ruang latihan musik bagi pengamen, produksi sablon, penyalur tenaga kerja bagi pengangguran, pengolahan daur ulang sampah bagi pemulung.

PSTO Bethlehem adalah kelompok mandiri yang membiayai sendiri kegiatan mereka. Uangnya dikumpulkan dari hasil urunan dan donasi masyarakat. “Kami tidak menerima dana dari lembaga donor asing, pemerintah, maupun partai politik," tegas relawan PSTO Bethlehem di laman mereka.

Pada 24 Maret 2020, para penghuni gedung bekas UKSW diusir oleh pihak kampus. Mereka yang sempat punya tempat bernaung kini harus kembali hidup di jalan. Kini, PSTO Bethlehem tengah menggalang dana untuk mencari kontrakan. "Krisis akibat pandemi mempersulit gerak kami, dan secara pribadi, saya masih berharap akan kemungkinan melakukan pendudukan di lain waktu,” ia berujar.

Bentuk perlawanan

Pendudukan, seperti yang dilakukan PSTO Bethlehem, merupakan satu perlawanan. Pengamat Politik Krisnaldo Triguswinri dalam tulisannya “Meruntuhkan Kuasa Negara dengan Squatting Bangunan Terlantar”, berujar bahwa upaya pendudukan dilakukan sebagai bentuk pembangkangan terhadap otoritas negara yang opresif. Ini sekaligus menjadi kritik terhadap kepemilikan properti yang diasumsikan sebagai penyebab terjadinya ketimpangan kelas dan krisis ekonomi.

Gerakan pendudukan terjadi di banyak tempat. Para imigran dan tunawisma di distrik Exarcheia, Yunani juga melakukannya. “Pendudukan bangunan terlantar tersebut diorientasikan sebagai satu kritik terarah terhadap monopoli properti oleh negara dan kapitalisme yang berdampak pada realitas sosiologis orang-orang yang tidur di jalanan,” jelas Krisnaldo ihwal PSTO Bethlehem.

Rongrongan dari pihak pemerintah serta aparat terhadap para tunawisma yang menduduki gedung-gedung terbengkalai akan selalu ada. Bahkan tidak menutup kemungkinan banyak pula dari masyarakat sendiri yang acapkali mendiskriminasi para tunawisma.

Gerakan pendudukan Autonomous Nation of Anarchist Libertarians (ANAL) di London misalnya mesti berhadapan dengan ancaman gerombolan fasis, yang acapkali meneror mansion yang mereka huni. Belum lagi para imigran di distrik Exarcheia yang selalu siap siaga manakala ada polisi Yunani serta anggota kelompok Golden Dawn merangsek gedung.

Hal itu juga berlaku bagi PSTO Bethlehem dan para tunawisma yang turut melakukan pendudukan. Stempel “anarko” yang kerap dilekatkan pada PSTO Bethlehem tak ayal membuat permasalahan utama tentang krisis pangan maupun hak pemenuhan atas hunian yang layak bagi semua orang, kian menjadi kabur.

PSTO Bethlehem dengan segala macam aktivitasnya serupa deklarasi politik terhadap gelombang ketimpangan. Sebab seperti ode mereka “Tidak seorang pun yang ilegal di bumi mereka sendiri".