f-b-flower-bomb-tak-ada-harapan-tak-ada-masa-depan-1.png

Tulisan ini dipersembahkan untuk

sahabatku Miles “Art Phoenix”

dan juga untuk mengenang:


  1. Anarkis individualis Italia berusia 15 tahun, Anteo Zamboni, yang kehilangan nyawanya saat mencoba menembak dan membunuh Benito Mussolini di Bologna pada 31 Oktober 1926; serta

  2. Anarkis dan nihilis Jepang, Fumiko Kaneko, yang dihukum karena merencanakan untuk membunuh anggota keluarga Kekaisaran Jepang dan dipenjara sampai ia akhirnya bunuh diri.


Matahari, bulan dan bintang tidak diam menunggu; mereka mengebom langit dengan kehadiranya. Tsunami tak pernah ragu-ragu; ia mengumumkan detak kematian sebuah destruksi sebelum akhirnya sirna. Jadi, mengapa aku harus menunggu? Siapa yang aku tunggu? Siapa yang mereka tunggu? Masa Depan adalah tuhan yang ditaati dengan mengorbankan “hasrat langsung” seseorang untuk mengamankan keanggotaan jauh dalam utopia yang tak ada.

Masa Depan adalah proyeksi hologram dari mimpi dan janji yang ditolak oleh masa kini. Bagi para politisi dan otoritarian lainnya yang mencari dominasi jangka panjang, Masa Depan acap kali digunakan secara sosial dengan tujuan untuk mengeksploitasi ketakutan seseorang untuk hidup pada saat ini. Masa Depan menjinakkan hasrat liar dan membatasi kapasitasnya untuk mengeksplorasi pengalaman-pengalaman spontan yang tak terduga.

Hari ini ada di sini dan sekarang, seperti kanvas kosong yang mengundang kreativitas imajinatif dan destruktif saya. Apakah saya berani bermimpi lebih besar dari dunia penjara kekayaan material, tren fesyen, dan kerja(isme)? Haruskah saya menikmati hedonisme biadab melawan monolit kesengsaraan kolektif? Ya! Melawan doktrin Masa Depan, anarki saya adalah selebrasi liar sekarang!

Masa Depan bertentangan dengan segala insurgensi liar yang menolak stagnasi yang dipolitisasi. Ketika saya mengatakan “stagnasi yang dipolitisasi”, saya mengacu pada politik “menunggu kapan waktu matang”; dan ketika saya mengatakan “insurgensi liar”, saya mengacu pada memprioritaskan serangan langsung yang berakar pada hasrat individualis yang tak terkendali pada kebebasan. Kaum Kiri menikmati debat dan diskusi akademis yang bertele-tele, mencoba mendefinisikan-ulang revolusi dalam lingkup yang terbatas dari masyarakat beradab. Bertindak sebagai konstitusi baru untuk masyarakat masa depan. Ada terminologi yang benar secara politis, yang terus berkembang untuk dipelajari dan dihafal, bersama dengan metode “mengedukasi” “rakyat” yang terus berubah. Dan kemudian, ada kompetisi ingroup dan outgroup, olimpiade penindasan dan politik identitas lowest common denominator. Saya mempertimbangkan semua Stagnasi yang Dipolitisasi ini. Terlalu banyak waktu dan energi yang dihabiskan pada konstruksi ideologis utopia masa depan yang sempurna, daripada waktu dan energi digunakan untuk menyerang masyarakat penjara yang eksis sekarang.

Jenis diskusi (yang melelahkan) ini, melemahkan hasrat saya untuk eksperimentasi liar dan petualangan ilegalis. Ketika saya berbicara tentang “keliaran”, saya mengacu pada kompleksitas unik dari pengalaman dan emosi individual, yang menentang batasan politisasi pengukuran analitikal; dan ketika saya berbicara tentang “petualangan ilegalis”, saya mengacu pada pertumbuhan individu yang berkembang pesat dan pembebasan-diri di luar batas-batas hukum dan ketertiban.

Keliaran saya ditentukan oleh individualisme yang lahir dari hubungan anarki dan nihilisme; keliaran itu tidak dapat ditangkap dan dibatasi pada identitas yang dibangun secara sosial, pun pada kemiskinan ideologi kiri. Ilegalitas pemberontakan liar saya melawan peradaban industrial, membuat saya menjadi kaki tangan semua makhluk liar yang dengan kejam menolak domestikasi sosial. Keliaran saya adalah eksplorasi ke dalam pengalaman hidup “kepetualangan yang tak dikenal” dari kriminal, anarki anti-kerja. Semua pengalaman saya adalah unik, selalu berubah dan milikku; pmenghancurkan asumsi bahwa, pengalaman-pengalaman dapat didefinisikan oleh afiliasi berbasis identitas dengan keanggotaan kelompok tertentu. Saya menemukan politik identitas sangatlah kocak, menolak glorifikasi victimhood dan representasi. Alih-alih berpartisipasi dalam peran megah kepolisian identitas, saya mengambil tujuan destruktif di penjara mental kelas saya sendiri: ras dan tugas gender.

Saya juga mengejek otoritas psikiatri dengan asersi negativitas terhadap standarisasi perilaku. Di mata masyarakat neurotipikal, saya sangat gila; tetapi di mata orang gila, saya sangatlah hidup dan sehat! Biner gila/waras adalah jebakan sosioekonomi yang mengkriminalisasi perilaku antisosial dan mengkapitalisasi kesengsaraan emosional. Dengan pengalaman terpenjara di fasilitas psikiatri dan menolak pengobatannya, saya tetap tidak patuh: tidak ada obat untuk depresi saya yang ditimbulkan oleh masyarakat beradab. Tidak ada obat preskriptif untuk ketidakcocokan saya yang sulit diatur dengan kepatuhan kolektif. Saya menolak untuk menenangkan kebencian saya terhadap otoritas dan masyarakat beradab yang mempertahankannya.

Beberapa bahkan akan mendorong saya untuk menikmati budaya mabuk yang menghilangkan sisi tajam dan sadar dari realitas. Justru, hal ini adalah kesadaran yang saya persenjatai melawan kejinakan, kenyamanan habitual dari eskapisme beracun. Tidak ada yang diinginkan oleh lembaga kolonial ini, selain menaklukkan kebiadaban saya dengan adiksi atau kebiasaan mabuk. Kesadaran saya adalah musuh bebuyutan peradaban industrial.

Tak Ada Harapan, Tak Ada Masa Depan: Biarkan Petualangan Dimulai!

Saya tidak ingin membuat teori baru atau membuat lebih banyak analisis untuk menyaring dunia melaluinya; Saya hanya ingin menghancurkan rantai ideologikal yang menghalangi saya untuk merasakan pengalaman langsung. Saya tidak ingin membuat cetak biru untuk dunia lain; Saya ingin merasakan pengalaman utopia itu, di sini dan sekarang!

Apa yang membedakan ideologi kiri dari anarki nihilis saya adalah hasrat untuk merangkul masa kini sebagai waktu terbaik untuk menyerang, mengobarkan perang individualis terhadap semua pemerintahan dan semua kontrol sosial. Sementara penganut ideologi kiri menghabiskan waktu bertahun-tahun di ruang kelas perguruan tinggi dengan mencoba untuk membuatnya cocok untuk “massa”, beberapa individu nihilis mengirimkan sinyal asap sabotase dalam solidaritas dengan orang lain yang merangkul malam layaknya balaclava. Dengan destruksi, individu-individu ini membentuk jaringan informal pemberontakan liar di seluruh dunia, meninggalkan rantai ketakutan dan victimhood yang terinternalisasi.

Bahkan di era kepresidenan Trump, “massa” belum mengangkat senjata dan menggulingkan kemapanan. Sementara para organisator dari kaum anarko-kiri mengiklankan kelompok mereka dalam kontes popularitas yang kompetitif … kekerasan fasisme, kemiskinan, dan eksekusi yang diorkestrai oleh polisi terus bergulir. Pecahnya tatanan yang beradab secara individual dan spontan menentukan perang yang hampir selalu merusak infiltrasi dan manajemen negara. Dalam transformasi anarkisme sipil menjadi pemberontakan liar, anarki menjadi kehidupan anti-politik ilegalisme yang dapat diakses oleh setiap individu dengan keberanian untuk menjadi liar dan mengacau.

Kaum “revolusioner” otoriter yang membawa bibel komunis yang diisi dengan “masa depan yang lebih baik” adalah sekelompok pemangsa, mengkerdilkan determinasi-diri individualis dan menargetkan mereka yang paling rentan terhadap kata kunci pemikiran kelompok seperti “harapan” dan “komunitas”. Seseorang dituntun untuk percaya dan memilih sisi dalam pandangan dunia bineris: temukan masa depan kebahagiaan melalui kekayaan kapitalisme atau temukan masa depan kebahagiaan dalam komunalisme komunisme.

Bagi saya, Masa Depan keduanya – komunis dan kapitalis – adalah penampakan yang banyaknya sama dengan kekuatan otoriter yang dibutuhkan untuk menciptakannya; Saya menolak untuk menanggung perbudakan upah selama bertahun-tahun dengan harapan keamanan finansial masa depan di bawah kapitalisme. Begitupun sebaliknya, saya juga menolak untuk menyerahkan masa kini saya pada pembangunan komune dengan harapan akan utopia komunis di masa depan.

Anarki saya tidak dapat didefinisikan, baik oleh kapitalisme maupun komunisme: keduanya sama-sama keji. Aktivitas saya tidak memerlukan utopia masa depan, motivasi saya ada pada obsesi personal dengan kehidupan sekarang yang tidak diatur oleh ketundukan. Kemarahan dan penghinaan saya terhadap mimpi buruk teknoindustrial ini, memotivasi berbagai aksi saya. “Komune” membutuhkan [bayaran berupa] individualisme sebagai ganti dari keanggotaan, sebagaimana mesin yang membutuhkan bayaran “waktu dan energi” sebagai ganti untuk pemeliharaannya.

Saya mengejek kaum Tiqqunis, Invisible Committee dan para pengikutnya, karena mencoba memasarkan insureksi kepada “massa”. Panduan “manual terorisme” mereka hanyalah teks biblikal yang menampilkan dirinya sebagai “kebenaran”: bahwa orang-orang “dipaksa untuk memilih”, jika mereka menginginkan sesuatu selain dunia yang kita miliki saat ini. Over-simplifikasi ini dengan sengaja menghapus mereka yang menyalurkan kekuatan individualismenya ke arah destruksi emansipatoris, daripada menyerahkan diri untuk “penciptaan-kembali kondisi komunitas lain”.

Cara saya melihatnya, tidak ada orang lain selain diri saya yang lebih memenuhi syarat untuk memperoleh dan menentukan kebebasan saya sendiri. Saya bertanggung jawab atas hidup dan kebebasan saya sendiri, dan atas serangan yang diperlukan untuk meraih keduanya. Tanpa memprioritaskan tanggung jawab personal ini, saya akan jatuh ke dalam ketergantungan yang akan melahirkan otoritarian, hierarki sosial yang menormalisasikan ketidakberdayaan saya sendiri.

Bagi banyak orang, potensi individualis sulit untuk dijelajahi di hadapan sejumlah besar peran dan identitas sosial mekanistik yang menuntut penyerahan. Jadi, apakah sungguh mengejutkan bahwa: banyak orang mengalami kesulitan membayangkan diri mereka sebagai orang yang independen, survivalis bersenjata lengkap? Banyak dari apa yang tersebar sebagai “anarkisme” di AS berasal dari perspektif kolektivis yang lebih membanggakan “komunitas”, “gerakan” atau “komune”, daripada kekuatan individualis. Apakah benar-benar mengejutkan bahwa: begitu banyak orang yang mengidentifikasi-diri sebagai anarkis, namun tak cukup termotivasi untuk berjuang dan melakukan aksi, kecuali mereka berafiliasi dengan kelompok, organisasi, atau gerakan?

Kritik anarkis nihilis terhadap organisasi dapat diringkas sebagai tensi antara individu dan kolektif. Tentu, saya akan menjadi orang pertama yang mengatakan omong kosong seperti blok hitam J20 yang menghancurkan malapetaka di jalanan adalah waktu yang sangat menyenangkan! Saya mengerti ada kekuatan, kesenangan liar dan bahkan terkadang keselamatan dalam “jumlah”. Saya juga menyadari bahwa support dan mutual aid melakukan keajaiban untuk membantu satu sama lain dalam lebih banyak cara daripada yang bisa saya sebutkan. Tapi, bagaimana dengan kekuatan yang sama, kesenangan liar, dan keamanan dalam “individualisasi”, serangan lone wolf (serigala tunggal)?

Apakah tidak ada kekuatan untuk mengetahui bahwa, setiap hari dapat menjadi kesempatan untuk aksi langsung tanpa memerlukan pembunuhan polisi atau kemarahan moral sebagai motivasi pendorongnya? Apakah tidak ada kegembiraan yang dapat ditemukan dalam eksperimentasi personal dari aktivitas klandestin, aliran adrenalin saat melarikan diri dari TKP, atau keamanan dalam aksi yang dijamin dan direncanakan-sendiri yang terjadi kapan dan di mana polisi tidak menyangkanya? Mengapa mesti menunggu demonstrasi berikutnya, menunggu penembakan polisi, atau menunggu pemilihan presiden dan konvergensi? Dan … sementara bantuan orang lain berpotensi meningkatkan pengalaman kriminal seseorang, ada banyak yang harus dipelajari tentang pengalaman pribadi seseorang dengan melakukan serangan individual mereka sendiri. Segala sesuatu, mulai dari perencanaan, hingga kontrol panik dan penyelesaian tugas, dirasakan sebagai pengalaman yang berbeda ketika tidak dipisah dengan yang lain.

Dengan serangan individualis, pelaku act (aktor) tidak akan terasing dari actionnya. Semuanya dievaluasi secara langsung, secara personal, dan pada saat itu juga. Serangannya kemudian menjadi ekspresi langsung dari individu. Tanpa bimbingan ideologis dari utopia masa depan atau kekuatan yang lebih besar; tanpa motivasi identitas kolektif, individu secara bersamaan menjadi katalis dan kreator anarki mereka sendiri. Pandangan dunia pengalahan-diri yang dipegang seseorang hanyalah sekuat cengkeraman mereka padanya. Perbudakan eksistensi seseorang hanyalah sekuat subordinasi individualisasi mereka.

Satu hal yang terlintas dalam pikiran ketika berbicara tentang ‘menciptakan anarki adalah keunikan’. [Adalah bahwa:] hubungan seseorang dengan aksinya selalu unik dari yang lain. Dari sudut pandang strategis, ada keunikan dalam pengalaman serangan serigala tunggal. Bahkan, serangan terstruktur “sel hantu” yang dilakukan oleh sekelompok kecil individu yang saling percaya menawarkan perspektif unik tentang aksi langsung. Dibandingkan dengan demonstrasi massa perusakan properti, (yang sayangnya selalu berakhir dengan penyerekan polisi dan penangkapan massal) tidak butuh waktu lama untuk meneliti seberapa sukses serangan ALF dan ELF saat menggunakan model serangan spontan dan tak terduga. Tapi, ALF dan ELF adalah kisah sukses yang terkenal. Kisah-kisah ini belum termasuk berbagai kisah kesuksesan serangan yang dilakukan oleh individu-individu serigala tunggal [yang tidak terkenal]. Serangan-serangan yang diindividualisasi ini memiliki manfaat yang dilakukan dengan cara yang paling acak dan tidak terduga, seraya menunjukkan keberanian dan kekuatan yang dapat dimiliki oleh seseorang yang bertekad kuat. Gerakan-gerakan yang terorganisir secara formal yang membutuhkan mobilisasi massa dan waktu untuk “edukasi” adalah kesia-siaan; bersama dengan milisi yang terorganisir secara formal, keduanya bermain dalam perangkap prediktabilitas dan infiltrasi.

Secara sosial, keunikan personal lebih seringnya ditakuti daripada diterima. Jika tidak bisa dikontrol, dimasifikasi, atau dieliminasi, keunikan itu adalah ancaman bagi kelangsungan identitas sosial yang mapan. Runtuhnya kontrol dan stabilitas akan menyebabkan kepanikan dalam otoritas. Individualisme yang menolak logika ketundukan menjadi eksplorasi potensi pribadi tanpa batas. Potensi yang tidak dapat dikendalikan ini mengancam keamanan kolektif dari kontrol sosial dan prediktabilitas. Mirip dengan strategi serangan spontan, hasrat yang dipersenjatai dengan kekacauan adalah seperti keliaran yang ingin dijinakkan oleh peradaban; dideterminasi dan diresiliensi.

Ketika saya mendengar orang berkata, “kami memiliki rencana untuk dunia yang lebih baik” (dalam arti futuristik), saya bertanya-tanya, “apakah mereka mempertimbangkan kemungkinan yang sangat nyata bahwa mereka tidak akan pernah melihat dunia itu.” Kalau tidak, mereka berbicara untuk orang lain seperti yang dilakukan politisi; saya ingin tahu siapa yang akan merasakan dunia yang lebih baik tersebut. Apakah “rencana untuk dunia yang lebih baik” ini adalah pra-determined model untuk masa depan orang-orang, yang arsitek (ideologis) tidak memiliki hubungan relasional dengannya? Saya tidak punya hasrat untuk mengusulkan dan memaksakan model kehidupan yang sudah dibangun sebelumnya kepada orang-orang dari jauh. Seperti yang saya harapkan untuk diri saya sendiri di sini dan sekarang, siapapun yang eksis di luar kehidupan saya … memiliki kesamaan hak atas penentuan pilihan individual.

Bagi saya, dunia sialan tempat saya berada ‘saat ini’ adalah satu-satunya dunia yang akan saya lihat. Saya tidak memiliki delusi menjadi tua dan berkeliling perguruan tinggi untuk memberikan pidato tentang anarki. Atau menaiki kereta api di usia 80 tahun, menghabiskan waktu di panti jompo dan terpaku pada televisi atau menyusun puzzle. Kemungkinan terbesar, saya akan mati muda, dan saya tidak akan melihat “dunia yang lebih baik” datang. Pun saya tidak akan melihat pemberontakan massal yang (tidak akan) memaksakan rezim otoriter lainnya untuk menggantikan rezim yang sekarang. Saya kira, beberapa orang akan mengatakan: ini adalah “keputusasaan” yang selalu dikaitkan dengan nihilisme. Bagi saya, ini adalah penilaian realistis tentang dunia tempat saya tinggal sekarang.

Tetapi, betapapun suramnya, kenyataan ini memotivasi hasrat saya untuk menghidupi hidup saya melalui pemberontakan yang sengit, dengan semenyenangkan dan sepenuh mungkin! Keputusasaan saya tidak melumpuhkan saya dengan rasa takut atau depresi; Saya merayakannya dengan tawa histeris dan ekstasi, terlepas dari pawai kematian peradaban. Saya mempersenjatai hasrat saya dengan urgensi untuk hidup ... melawan tatanan sosial yang monoton dan perbudakan yang damai, untuk tidur di bawah bintang-bintang, untuk merasakan sinar matahari dan angin sepoi-sepoi dengan setiap rambut di tubuh saya, untuk mendengarkan percakapan larut malam dari serangga, dan untuk menjadi liar ...

Manifestasi-manifestasi sosial dari domestikasi dan kontrol, tersebar di mana-mana di sekitar saya. Politik ketakutanlah yang memperkuat manifestasi tersebut, dan para arsitek individulah yang membangunnya. Oleh karena itu, peluang untuk destruksi kreatif (atau kreativitas destruktif) mengelilingi saya! Jadi, buat apa menunggu?

Individualisme saya, yang nihilistik dan anarkistik, adalah perwujudan dari destruksi dan kreativitas tanpa henti. Kehidupan yang ingin saya jalani adalah kehidupan yang saya ciptakan di sini dan sekarang. Melalui destruksi personal dari semua yang mengatur saya, kebebasan saya merasakan pengalaman kreativitas. Hidup saya adalah utopia saya, terletak di sini dan sekarang, mendefinisikan masa kini saya sebagai pembangkangan ceria yang menjadikan Masa Depan tak ada gunanya.

f-b-flower-bomb-tak-ada-harapan-tak-ada-masa-depan-2.jpg

Untuk menjadi padam dalam cahaya keputusasaan,

untuk mengakselerasi emansipasi dari belenggu stagnasi,

untuk menciptakan kehidupan yang menggembirakan dari pemberontakan hedonistik

melawan konformitas sosial dari destruksi-diri,

insurgensi liar adalah selebrasi individualis,

reklamasi kehidupan masyarakat mengatakan saya tidak bisa mengalami,

hari-hari melawan ketaatan yang mencekik pada Masa Depan.


– FlowerBomb, 2019