Title: Ibu Adalah Mesin Produksi
Subtitle: Tentang ibu rumah tangga dan kerja tak terlihat yang menopang kapitalisme
Author: Heart Void
Language: Bahasa Indonesia
Publication: Heart Void
Date: May 1, 2025

Dalam lanskap kapitalisme, definisi kerja direduksi menjadi sesuatu yang terlihat: pekerjaan di pabrik, kantor, atau pasar yang diberi upah dan dimasukkan ke dalam statistik produksi nasional. Tapi di balik panggung formal itu, ada kerja yang tak kalah penting namun disembunyikan dari pengakuan ekonomi, kerja rumah tangga. Memasak, membersihkan, menyusui, merawat, mendidik, semua dianggap sebagai bentuk kasih, bukan produksi. Silvia Federici menolak dengan tegas ilusi ini. Ia menyatakan: “They say it is love. We say it is unwaged work.” Cinta digunakan sebagai kedok untuk menutupi fakta bahwa rumah adalah salah satu pusat eksploitasi paling sistematis dalam kapitalisme.

Bagi Federici, kerja rumah tangga bukan hanya kerja yang tak dibayar, tapi kerja yang menjadi fondasi bagi seluruh sistem produksi kapitalis. Tanpa perawatan dan reproduksi tenaga kerja di rumah, buruh-buruh tak akan pernah sampai ke pabrik. Tanpa ibu yang merawat anak-anak dan memastikan stabilitas domestik, kapitalisme tak akan bisa mereproduksi dirinya. Namun kerja ini dianggap "alamiah", "tugas kodrati perempuan", bahkan dipromosikan sebagai ekspresi cinta, sebuah strategi ideologis untuk meredam potensi perlawanan dan meneguhkan dominasi struktural.

Dalam nada yang serupa namun dengan sudut pandang anarkis ekonomi-politik, Wayne Price menegaskan bahwa kerja rumah tangga adalah salah satu bentuk kerja paling produktif. Meski ia mengakui bahwa kerja ini tidak secara langsung menghasilkan nilai lebih (surplus value) dalam pengertian Marxian klasik, namun ia menghasilkan komoditas yang paling mendasar bagi kapitalisme: tenaga kerja itu sendiri. Dengan merawat suami, anak, bahkan tubuh mereka sendiri, para perempuan rumah tangga mereproduksi komoditas tenaga kerja yang akan masuk ke dalam sirkuit produksi nilai lebih. Maka ibu rumah tangga, kata Price, adalah bagian dari kelas buruh non-upahan yang meskipun terpinggirkan dalam narasi ekonomi formal, memiliki peran vital dalam kontinuitas kapital.

Federici dan Price bersama-sama menggugat batas sempit dari apa yang dianggap "kerja produktif". Mereka menunjukkan bahwa kerja rumah tangga, meskipun tak menghasilkan komoditas di pasar, justru menjamin tersedianya komoditas paling penting dalam sistem kapitalisme: buruh itu sendiri. Ketika perempuan bekerja di rumah, mereka tidak hanya melakukan pelayanan keluarga. Mereka memproduksi dan memelihara manusia sebagai mesin produksi, bahkan mereproduksi dirinya sendiri sebagai tenaga kerja yang siap terus berfungsi dalam sistem.

Dengan demikian, mengakui ibu sebagai buruh bukan sekadar gestur simbolik, tapi langkah politis untuk membongkar ilusi ideologis kapitalisme. Tuntutan "upah untuk kerja rumah tangga" bukan semata soal uang, tapi cara untuk menjadikan kerja ini terlihat, dipersoalkan dan dijadikan arena perlawanan. Rumah bukan lagi ruang privat yang apolitis, tapi sebuah medan tempur yang membentuk ulang makna kerja, cinta dan kelas.

Hari ini, ketika banyak perjuangan buruh masih terpusat pada kerja formal dan upahan, penting untuk memperluas definisi kelas. Karena jika rumah adalah pabrik pertama, maka ibu adalah buruh pertama, dan revolusi sejati tidak akan lahir tanpa mengakui dan membebaskan mereka.

Saran Bacaan:

  • Revolusi di Titik Nol . Silvia Federici

  • Bisakah Anarkis Belajar dari Marx . Wayne Price