Title: Demistifikasi Mitos Kekerasan dalam Anarkisme
Author: Ilham S.
Language: Bahasa Indonesia
Publication: Arah Karsa
Date: 31/10/2020
Source: Retrieved on 2023-12-21 from www.arahkarsa.my.id

Di Indonesia, sama seperti ‘komunisme’, dalam beberapa dekade terakhir tampaknya istilah ‘anarkisme’ atau ‘anarkis’ juga sering disalahartikan oleh kebanyakan orang. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan langsung mengkaitkannya dengan hal-hal negatif. Akibatnya, sesuatu yang bernuansa destruktif, kehancuran, kerusuhan, ketidakteraturan, ataupun kekacauan selalu melekat erat pada istilah ini. Kesalahpahaman seperti ini bukan muncul tanpa sebab. Minimnya literatur populer yang menyajikan informasi mengenai sejarah perkembangan, dasar filosofis, serta perdebatan anarkisme dengan berbagai aliran pemikiran filsafat dan ilmu sosial, atau banyaknya literatur yang harus dihadapkan dengan penyitaan oleh aparat negara karena ‘ditafsirkan’ tidak sesuai dengan jati diri bangsa, membuat konsep tentang anarkisme hanya muncul dalam bentuknya yang tak menyeluruh sehingga menimbulkan kesalahpahaman mendasar bagi masyarakat. Belum lagi hal itu juga harus diperparah dengan maraknya pemelitiran makna yang sering dilakukan oleh berbagai macam pihak di berbagai ruang publik.

Misalnya saja: seorang guru yang dalam pidatonya saat kegiatan upacara kenaikan bendera memberikan pesan kepada anak-anak didiknya untuk tidak menjadi dan melakukan tindakan anarkis; seorang newsreader yang tanpa ragu menyebut aksi protes massa yang marah karena lahannya direbut oleh perusahaan swasta sebagai sebuah bagian dari tindakan anarkis; hingga bahkan kepala polisi yang tanpa penyelidikan mendalam, secara semena-mena memberi label ‘anarkis’ kepada seseorang yang terlibat dalam aksi vandalis.[1] Dari ilustrasi yang keberadaannya benar-benar terjadi di sekitar kita, terlihat jelas bagaimana menyedihkannya konsepsi seperti itu. Terlebih lagi hal itu dilakukan oleh para intelektual yang mempunyai gelar akademik tinggi. Tanpa ragu, tanpa malu, mereka dengan suara yang lantang serta kepercayaan diri yang tinggi membicarakan dan meneriakan sesuatu yang bahkan tak pernah mereka ketahui tentangnya.

Sebagai penegasan atas hal ini, Emma Goldman (1869–1940) menyebut bahwa mereka yang memandang anarkisme sebagai kekerasan dan perusakan, baik seorang yang cerdas atau massa yang bodoh, hanya menghakimi tanpa mengetahui secara menyeluruh soal subjek tersebut. Mereka yang menolak anarkisme layaknya sesuatu yang keji dan berbahaya hanya mengetahuinya dari desas-desus atau interpretasi yang palsu.[2]

Kita sudah paham dengan kondisi mengenainya dan kita juga sudah mengerti bahwa ada tendensi peyorasi baik secara sengaja ataupun tidak, yang seringnya dilakukan oleh berbagai pihak yang mempunyai otoritas. Tak syak akan menjadi sebuah hal yang penting untuk mempertanyakannya kembali: benarkah istilah tersebut mempunyai andil untuk memproduksi kekerasan? Atau, apakah anarkisme atau anarkis merupakan suatu hal yang memiliki pengertian yang sama dengan kekerasan dan kekacauan seperti yang mereka katakan? Untuk mengetahuinya, tentu pertama dan yang utama kita harus memahami asal pengertian dari istilah tersebut.

Secara etimologis, kata anarkis, anarki, atau anarkisme[3] berakar dari bahasa Yunani, anarchos atau anarchein, yang mempunyai pengertian tanpa pemerintahan atau pengelolaan dan koordinasi tanpa hubungan memerintah dan diperintah, mengendalikan dan dikendalikan, menguasai dan dikuasai, mengepalai dan dikepalai, dan lain sebagainya.[4] Singkatnya, istilah tersebut merujuk pada kondisi di mana masyarakat, semua lelaki dan semua perempuan, memiki hak-hak dan kebebasan yang sama: tidak ada yang memperbudak, menjadi majikan untuk yang lain, merampok yang lain, ataupun memaksakan kehendak terhadap yang lain. Anarkisme akan menentang dan menolak segala bentuk pemerintahan otoritas. Ia menjadikan negara dengan segala kebusukannya dan juga praktik-praktik ekonomi kapitalis yang merugikan banyak orang sebagai musuh utama.

Sampai sini, dapat dipahami bahwa anarkisme bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Ketiadaan pemerintah atau sekelompok orang yang memimpin bukan berarti kebutuhan atau apa yang kita perlukan, tidak dapat terpenuhi. Jika sebelumnya kebutuhan hidup kita harus bergantung pada majikan kita, pada bos kita, pada pimpinan kita, dengan anarkisme kita akan menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri. Kita dapat membawa dan menentukan kehidupan seperti apa yang kita inginkan.

Sayangnya, dalam perkembangannya, pengertian seperti itu harus tenggelam dan digantikan dengan pemahaman: anarkisme adalah sebuah hal yang harus ditakuti karena ia penuh dengan kekerasan, membawa kekacauan, dan kehancuran yang menjadi ancaman berbahaya bagi stabilitas masyarakat.

Saya sedikit mengakui bahwa para anarkis pernah melempar bom dan sesekali mengambil jalan kekerasan untuk melawan ketidakadilan yang datangnya dari mereka yang dianggap sebagai pemimpin, tapi hal itu tak semata-mata menjadikan anarkisme memonopoli kekerasaan. Seorang warga negara yang berpakaian seragam, suatu waktu harus melemparkan bom, menari pelatuk, dan melakukan tindak kekerasan. Dari situ, apakah kita dapat berpikiran bahwa kewarganegaraan merupakan kekerasan yang perlu ditakuti? Sejatinya, jalan kekerasan dapat diambil oleh siapa saja. Seorang demokrat, sosialis, nasionalis, anarkis, bahkan agamis mempunyai potensi yang sama untuk melakukan hal seperti itu.

Apabila menelisik sejarah, kita akan menemukan bagaimana Julius Caesar harus menemui ajalnya ketika ditusuk beramai-ramai oleh rombongan senat yang berpura-pura hendak membahas suatu Undang-Undang bersamanya. Pembunuhan yang dipimpin oleh Brutus dan Cassius ini dilakukan semata-mata untuk mengamankan Romawi dari kehancuran yang dibawa oleh kediktatoran Julius Caesar.[5] Tentunya Brutus dan Caesar bukan seorang anarkis. Mereka adalah seorang republikan sejati.

Kemudian, kita juga dapat menemui bagaimana penganut agama yang fanatik, seperti Eduard Kullman, seorang Katolik saleh, berupaya untuk membunuh Otto Von Bismark. Di Amerika Serikat, tiga orang Presiden dibunuh. Abraham Lincoln ditembak pada tahun 1865, oleh John Wilkes Booth, yang merupakan seorang demokrat; James A. Garfield pada tahun 1888, oleh Charles Jules Guiteau, seorang republikan; dan William McKinley, pada tahun 1901, oleh Leon Czolgosz. Dari ketiga orang itu, hanya satu orang yang berhaluan anarkis.[6]

Contoh-contoh seperti itu tampaknya cukup jelas untuk menggambarkan fakta bahwa sejak zaman dulu, para despot menemui ajal mereka di tangan para pecinta kebebasan yang marah. Orang-orang seperti itu merupakan pemberontak terhadap tirani. Pada umumnya mereka adalah patriot, demokrat atau republikan, adakalanya sosialis atau anarkis. Tindakan mereka merupakan kasus pemberontakan individual terhadap kemungkaran dan ketidakadilan.[7] Dengan demikian, kita dapat menemukan bahwa anarkisme atau kaum anarkis tidak memiliki monopoli atas kekerasan dan ia juga bukan definisi dari kekerasan itu sendiri. Di berbagai negara, orang dari berbagi macam aliran politik telah mengambil jalan kekerasan untuk menyelesaikan masalah, tetapi kenapa hanya kaum anarkis yang dipandang sebagai kekerasan itu sendiri?

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, memang benar adakalanya seorang anarkis harus melemparkan bom dan menarik pelatuk, tetapi itu tidak serta merta menjadikan kaum anarkis sebagai pemegang kontrol penuh atas kekerasan. Kita mesti mengingat bahwa para anarkis adalah manusia. Mereka peka dan dapat marah terhadap segala bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan. Menyuarakan protes dengan bumbu kekerasan merupakan sebuah ekspresi temperamen individu, dan bukan berasal dari suatu teori yang khusus. Karena apabila suatu ide atau ‘isme’ memproduksi kekerasan, dalam konteks anarkisme, sudah pasti tak akan ada kaum anarkis Tolstoyan serta anarkis individualis yang pasifis yang mengutuk kekerasan politik. Jadi seperti hasil yang memiliki sebab yang sama, tindakan kekerasan bukanlah ada pada keyakinan tertentu; melainkan terdapat di dalam temperamen individu.


Catatan:

[1] Adi Briantika, 2019, Anarko-Sindikalis Dianggap Sebagai Pemicu Kerusuhan Demo Hari Buruh, tirto.id (diakses 4 Oktober 2020).

[2] Emma Goldman, 2017, Ini Bukan Revolusiku, Penerjemah Bima Satria Putra, Pustaka Catut, hal. 3.

[3] Anarki merujuk pada kondisinya, anarkisme merupakan teori atau ajaran mengenai hal itu, sedangkan anarkis merupakan sebutan untuk penganut paham anarkisme.

[4] Nur Sayyid Santoso Kristeva, 2010. Sejarah Ideologi Dunia, diterbitkan oleh Eye on The Revolution Press dan Institute for Philosophycal and Social Studies (INPHISOS) hal. 60.

[5] Ardyan M. Erlangga, 2013, Sejarah & Kebudayaan Dunia, Yogyakarta: Familia, hal. 50.

[6] Alexander Berkman, 2017, ABC Anarkisme “Anarkisme untuk Pemula”, Penerbit Daun Malam, hal. 11.

[7] Ibid., hal. 10.