Anarkisme bukanlah sebuah hal baru, walaupun banyak penyimpangan makna dan kesalahan persepsi yang menggambarkan anarkisme sebagai tindakan yang penuh dengan kekerasan dan kerusuhan, namun anarkisme adalah sebuah ideologi yang akan terus hidup selama penindasan dan perbudakan masih belum dihapuskan.

Masyarakat anarkis adalah masyarakat yang mandiri, menentang segala bentuk penindasan dan kontrol terpusat dengan membentuk sebuah self-governed community yang saling bertanggung jawab atas kesejahteraan satu sama lain. Penganut ideologi anarko-sindikalisme dan anarko-feminisme adalah yang paling lantang menyuarakan perlawanan, terlebih karena masih banyak penindasan kaum kelas pekerja yang mengakibatkan banyak terjadi ketimpangan sosial, dan masih maraknya budaya patriarki yang membunuh kesetaraan gender di kalangan masyarakat kita.

Pada generasi saat ini, ketidakadilan dalam struktur sosial dan politik semakin tidak terkontrol, terlebih lagi dengan banyaknya monopoli yang didukung oleh para penguasa dan pengusaha. Hal ini juga makin diperparah, khususnya untuk kelas pekerja, dimana mereka memiliki pilihan yang semakin sempit dengan digantikannya pekerjaan mereka melalui implementasi robotik pada industri, otomatisasi proses melalui rekayasa teknologi, hingga kecerdasan buatan. Kemerdekaan setiap individu pun semakin terancam dengan diterobosnya batas privasi melalui pengumpulan data kolektif yang dipaksakan hingga pengawasan yang melebihi batas normal.

Kesetaraan hak pun semakin runyam. Dengan bergantungnya setiap aktivitas kelas pekerja terhadap teknologi yang diterapkan ke tempat kerja mereka, dan karena kelas pekerja umumnya diposisikan sebagai operator yang hanya tahu bagaimana cara menggunakan alat, maka monopoli kapitalis pun semakin terasa. Sektor kesehatan adalah salah satu contoh yang menjadi korban atas ketidakadilan ini. Bagi mereka yang membutuhkan bantuan teknologi yang tersedia di tempat pelayanan kesehatan, biaya tagihan yang tinggi akan menjadi momok utama, dan lucunya biaya ini akan semakin tinggi seiring dengan makin dimonopolinya sebuah bentuk teknologi. Semakin langka teknologi yang diimplementasikan, semakin besar biaya yang akan ditagihkan kepada mereka yang membutuhkannya.

Monopoli atas teknologi ini pun akan terus berlanjut semakin ke atas. Tidak hanya berhenti bagi para pemilik alat yang memberikan harga tinggi untuk jasa yang menggunakan alat tersebut, jumlah alat yang diproduksi akan semakin dibatasi demi menjaga harga jasa agar tetap tinggi, dan cara kerja teknologi yang digunakan pun semakin ditutupi untuk menjaga adanya produsen lain, apalagi dari kelas pekerja sendiri.

Secara ringkas, ketimpangan sosial yang akan terus terjadi karena kepemilikan pribadi dan monopoli atas teknologi adalah, kelas pekerja terancam digantikan dengan alat sehingga upah mereka semakin rendah, masyarakat harus membayar biaya tinggi untuk penggunaan teknologi yang bisa memperbaiki kehidupan mereka, produsen alat membatasi produksi agar harga tetap tinggi, perancang teknologi memilih untuk diam agar tidak banyak yang tahu bagaimana teknologi tersebut bekerja sehingga tidak dapat diduplikat. Benar-benar sebuah kerusakan total, saat teknologi diharapkan bisa membantu terwujudnya kehidupan yang lebih baik justru digunakan untuk memperlancar penindasan.

Para penganut anarkisme, atau anarkis, selalu melakukan perlawanan dibawah ancaman yang telah disebutkan di atas. Para anarkis menyuarakan perebutan alat produksi sebagai jalan untuk menghapuskan penindasan dan memerdekakan kelas pekerja. Lalu muncul aliran anarkisme yang lain, anarko-transhumanisme, yang mencoba untuk melengkapi perjuangan ini dengan segala keterbatasannya.

Anarko-transhumanisme, adalah bentuk lain dari anarkisme dan transhumanisme, yang memfokuskan gerakan mereka pada penguasaan atas teknologi dan pengetahuan untuk mewujudkan kesetaraan hak dan kesejahteraan masyarakat.

Berbeda dengan transhumanisme yang menyuarakan kebebasan manusia untuk memerdekakan diri mereka sendiri dari batas alam dengan bantuan teknologi (seperti mendukung rekayasa genetik, implan alat ke tubuh, hingga mempercepat evolusi manusia yang sangat kontroversial), ideologi anarko-transhumanisme mengambil scope yang lebih realistis untuk mewujudkan tujuan anarkisme itu sendiri dengan percepatan dari teknologi dan pengetahuan.

Para anarko-transhumanis percaya bahwa perebutan hak kepemilikan atas alat yang sering diperjuangkan adalah langkah awal yang masih harus dilanjutkan dan diimbangi dengan perebutan hak kepemilikan atas pengetahuan sehingga alat dan teknologi yang digunakan tersebut bisa diproduksi ulang secara mandiri oleh masyarakat anarkis. Dengan adanya produksi ulang teknologi tersebut, maka proses mewujudkan masyarakat mandiri akan semakin cepat, semakin efisien, dan akan muncul lebih banyak lagi pengembangan dan penciptaan teknologi baru oleh masyarakat anarkis.

Mungkin banyak yang bertanya, bahwa anarko-transhumanisme hanya akan membuat kelas pekerja menjadi terhapus karena kepemilikan pengetahuan akan teknologi justru bisa membuat hampir semua pekerjaan digantikan oleh teknologi. Justru disitulah letak utopia yang diharapkan oleh para anarko-transhumanis. Sebuah komunitas self-governed dimana pekerjaan kasar digantikan oleh mesin dan teknologi yang dibuat sendiri oleh masyarakat untuk masyarakat sendiri, sehingga mereka bisa fokus ke percepatan kesejahteraan yang lain yang masih belum dicover, contohnya seperti teknologi pengobatan atau bagian tubuh buatan agar masyarakat dengan kekurangan fisik bisa mendapatkan kesetaraan haknya sebagai manusia yang sama dengan dibantu oleh teknologi yang juga dibuat oleh orang-orang di sekitarnya. Konsep utopia anarko-transhumanisme adalah teknologi dan pengetahuan sebagai percepatan kemandirian yang dibuat bersama untuk bersama.

Langkah awal yang diambil anarko-transhumanis adalah dengan menolak segala jenis kepemilikan pribadi atas pengetahuan dan teknologi, sehingga tidak ada monopoli atas pengetahuan dan teknologi tersebut. Penolakan terhadap kontrol teknologi pun gencar dilakukan untuk memperjuangkan privasi yang direnggut oleh penguasa yang mengakibatkan masyarakat harus patuh pada penguasa di bawah bayang-bayang hukum yang diperkuat bukti dari teknologi tersebut.

Saat monopoli dan kontrol terhadap pengetahuan dan teknologi bisa diruntuhkan, masyarakat anarko-transhumanis yang memiliki kemampuan akan mempelajari dan melakukan produksi ulang sembari mengajarkan kepada masyarakat yang lain untuk melakukan hal yang sama terlepas dari keterbatasan mereka. Harapan anarko-transhumanis bukan hanya pada perebutan alat, tapi mereka juga bisa membuat dan mengembangkan alat yang direbut.

Masih panjang perjuangan yang harus dilakukan oleh para anarko-transhumanis, mereka pun tidak bisa bergerak sendiri namun membutuhkan bantuan dari para anarkis lain yang sama-sama menolak penindasan dan kepemilikan pribadi atas sesuatu. Tapi perjuangan selalu bersifat progresif, selama perjuangan terus dilakukan tanpa henti, perubahan akan semakin tercapai selama apapun prosesnya.