Title: Mutual Aid, Sebuah Tanya Jawab Pengantar
Subtitle: Tulisan ini berisi pemaparan singkat dan praktis yang berangkat dari pertanyaan, “apakah kita bisa meminimalkan penggunaan uang atau sekalian hidup tanpa uang namun tetap sejahtera ?”
Publication: Imaji Rajamandala
Language: Bahasa Indonesia
Date: 2 Maret 2019
Source: https://imaji.noblogs.org/mutual-aid-sebuah-tanya-jawab-pengantar/
Notes: Tulisan ini bersifat praktis dan bisa dipraktekkan, jadi jangan harapkan sebuah tulisan yang terlalu teoretis atau panjang karena membaca tanpa mempraktekkan itu adalah sebuah bentuk membuang-buang waktu yang sangat berharga di dalam hidup kita yang sangat singkat ini.

Mungkin ini adalah pertanyaan yang dianggap konyol oleh segelintir orang yang (biasanya) hidupnya cuma dihabiskan untuk mengejar uang, jadi jika kalian termasuk dari orang-orang tersebut, bagikan tulisan ini pada orang lain yang mungkin lebih membutuhkannya, karena tidak semua orang hidup hanya untuk mengejar uang.

Mutual Aid, Apa Itu ?

Mutual aid, yang bisa diterjemahkan sebagai bantuan yang saling menguntungkan, adalah sebuah konsep yang berangkat dari prinsip mutualisme, sebuah bentuk simbiosis yang pernah kita pelajari di bangku sekolah tentang pola kehidupan yang saling menguntungkan antar individu yang terlibat. Mutual aid ini bisa kita praktekkan dalam kehidupan bermasyarakat agar bisa kita saling mensejahterakan dan membentuk sebuah kelompok yang berbasiskan mutual aid, dan ada beberapa penyimpangan makna atau kesalahpahaman yang berikutnya akan dibahas dalam tulisan ini.

Apa Prinsip Utama Mutual Aid ?

Mutual aid berlandaskan pada satu prinsip utama, “bahwa di dalam sebuah kelompok, setiap individu saling bertanggung jawab atas kesejahteraan individu lain”. Maka jika salah satu individu di dalam kelompok tersebut ada yang kesusahan, maka individu lain harus mempertanyakan kesalahan mereka sendiri yang mengakibatkan satu individu tersebut kesusahan, apa yang bisa mereka bantu dalam bentuk mutual aid agar satu individu tersebut lepas dari kesusahannya, bukan malah menuduh atau menilai dengan seenaknya satu individu yang kesusahan tersebut karena kondisi tiap individu berbeda dan tidak bisa disamakan.

Hal yang perlu ditekankan, mutual aid bukanlah interaksi vertikal seperti “si kaya membantu si miskin” atau “si juragan membantu si pekerja”, namun mutual aid adalah interaksi horisontal dimana sesama individu saling membantu, saling menyampaikan kebutuhannya, saling menawarkan apa yang mereka punya dan bisa, tanpa ada kesenjangan, semua setara.

Apakah Mutual Aid Sama Dengan Jual Beli Atau Barter ?

Tidak ! Mutual aid adalah sebuah wujud kerjasama atau gotong-royong yang tidak diperjualbelikan dan tidak melibatkan uang. Setiap individu melakukannya dengan sadar, saling bertanggungjawab, tidak meminta imbalan apapun, dan berangkat dari kesadaran prinsip utama mutual aid yang telah disebutkan di atas.

Berbeda dengan jual beli yang melibatkan harga yang paten tidak peduli kemahalan atau sebenarnya tidak kita butuhkan, mutual aid tidak membanderol setiap stok bantuan yang tersedia dan disesuaikan dengan kebutuhan kelompok.

Juga berbeda dengan barter yang menukarkan barang yang dimiliki dengan jasa atau barang lain, tidak ada saling tukar dalam mutual aid. Individu yang membutuhkan bisa berganti-ganti sesuai dengan kebutuhannya sehingga tidak terkunci pada satu penyedia dan satu penerima.

Bagaimana Membentuk Kelompok Mutual Aid ?

Setelah saling mengerti prinsip utama mutual aid yang telah disebutkan di atas, maka langkah awal untuk memulai kelompok mutual aid adalah dengan mencari tahu dua hal, yaitu apa kebutuhan dasar yang harus terpenuhi dalam sebuah kelompok, dan apa saja stok bantuan yang bisa diberikan oleh tiap individu dalam sebuah kelompok tersebut.

Kebutuhan dasar ini tentu bukan kebutuhan yang berbasiskan gengsi, namun kebutuhan dasar yang bisa menghidupi dan memberikan kehidupan pada tiap individu yang terlibat. Begitupun stok bantuan ini bukan hanya dalam bentuk barang seperti bahan mentah, makanan, atau sebagainya, namun juga bisa berupa tenaga dan keterampilan.

Keluarlah dari rumah kalian, sapalah setiap orang, ajak mereka berkeliling dan berdiskusilah tentang apa yang mereka butuhkan dan bantuan apa yang mereka punya untuk diberikan sebagai wujud kontribusi dalam mutual aid. Kalian bisa mendapatkan jawaban seperti, “Aku butuh makanan tiap harinya untuk menghidupi istri dan anak-anakku tapi aku hanya seorang tukang kayu”, itu berarti kalian telah mendapatkan data bahwa ada kebutuhan akan makanan dan ada stok “tenaga dan keterampilan tukang kayu” untuk diberikan ke kelompok.

Setelah Kebutuhan Dan Stok Bantuan Terdata, Lantas Apa ?

Buat skema dimana setiap stok bantuan bisa mengisi kebutuhan individu lain di dalam kelompok tersebut. Ingat, mutual aid bukanlah barter ataupun jual beli, stok bantuan tidak harus diberikan hanya kepada satu individu, namun diberikan secara merata pada individu yang memang membutuhkan. Apabila skema sudah dibuat, maka pastikan semua kebutuhan terpenuhi, dan ingat untuk tidak terpatok hanya pada skema, mutual aid adalah respon interaktif antara kebutuhan dan stok bantuan, sehingga siapapun yang membutuhkan dan sesiap apapun stok bantuan, mutual aid akan tetap berjalan mengisi kebutuhan dengan stok bantuan yang ada.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa mutual aid adalah bentuk gotong royong pemenuhan kebutuhan tanpa melibatkan uang dan tidak diperjualbelikan, semua stok bantuan akan diberikan dan dilakukan untuk yang membutuhkannya tanpa ada penarikan imbalan apapun. Sehingga penerima bantuan akan terpenuhi kebutuhannya, dan pemberi bantuan bisa melakukannya dengan kesadaran penuh untuk saling membantu.

Bagaimana Berkontribusi Pada Mutual Aid Tanpa Terpaksa ?

Pertanyaan ini tentu akan selalu hadir di dalam setiap praktek mutual aid di kelompok apapun, adalah hal manusiawi untuk masih memikirkan untung rugi saat melakukan hal di luar kebiasaan massal sekalipun itu adalah gotong-royong.

Barang yang bisa digunakan sebagai stok bantuan dalam mutual aid, umumnya adalah barang surplus (hasil lebih) dan barang bekas yang masih layak digunakan. Barang surplus sebagai stok bantuan, umumnya diberikan oleh mereka yang memiliki hasil tangan sendiri seperti petani, pengrajin, atau sekadar individu yang memiliki hobi seperti berkebun. Mereka memiliki hasil lebih dari apapun yang diproduksi atau dibudidayakan oleh tangan mereka sendiri, saat mereka mengumpulkan hasil dan menghitungnya untuk kebutuhan mereka sendiri, kelebihan dari hasil yang masih tersisa itulah yang bisa digunakan sebagai stok bantuan dalam mutual aid, sehingga tidak ada kerugian (jika masih memikirkan untung rugi) dalam memberikan barangnya. Sementara mereka yang tidak memiliki hasil tangan sendiri, bisa berkontribusi dengan memberikan barang bekas mereka yang masih layak untuk digunakan seperti pakaian, peralatan, atau bahkan bahan baku bangunan.

Sementara itu untuk jasa, bisa menggunakan sisa tenaga, waktu, dan pikiran yang masih bisa diberikan, sehingga tidak ada tuntutan untuk bekerja lebih keras daripada biasanya (jika pemberi jasa memiliki banyak pekerjaan), karena mutual aid bukanlah industri, tidak ada target kerja harian disini. Bantulah sekuat tenaga kalian, sekeras pikiran kalian, seluang waktu kalian, setinggi moral kalian. Jangan ada keterpaksaan apapun, ingat bahwa mutual aid itu saling menguntungkan. Jadi pastikan kalian memberikan jasa yang menguntungkan diri kalian dan individu yang membutuhkannya.

Apa Bentuk Akhir Dari Mutual Aid Yang Berjalan ?

Mutual aid, dalam prakteknya, jika berjalan dalam waktu lama dan terus berkembang, akan mewujudkan sebuah tatanan masyarakat yang bisa meminimalisir penggunaan uang karena kebutuhan tiap individu yang belum bisa dipenuhi oleh hasil usaha sendiri bisa dipenuhi oleh individu lain di sebuah kelompok tanpa adanya paksaan dalam memberi, dan tanpa ada bandrol harga atau kepentingan di tiap bantuan yang diberikan. Menjadikan setiap individu saling menjaga, saling sadar dan bertanggung jawab dalam kesejahteraan individu lain dalam kelompoknya.

Penggunaan uang yang diminimalisir, akan melepaskan masyarakat dari belenggu ketakutan akan kekurangan dan memberikan pilihan kepada masyarakat untuk lebih menikmati hidupnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa saat masyarakat tidak bisa saling menolong untuk memenuhi kebutuhan, maka masyarakat tersebut akan hidup dengan bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan mereka sendirian tanpa ada bantuan, sehingga mereka akan terbelenggu dalam ketakutan akan kekurangan.

Konklusi

Mutual aid adalah sebuah konsep yang terus berkembang seiring dipraktekkan. Dalam beberapa lokasi, mutual aid yang berjalan bahkan ada yang bisa membuat penghidupan bagi banyak orang dan menghilangkan secara penuh fungsi uang dalam kelompok sehingga mereka sepenuhnya berdikari dan hidup saling menjaga.

Kita lahir di tanah yang terkenal akan keramahan penduduknya, terkenal akan kebaikan tiap individu yang dijunjung tinggi oleh siapapun yang berpijak di atasnya. Adalah sebuah kesalahan besar jika tidak diikuti oleh praktek mutual aid di tengah masyarakatnya yang memang sudah seharusnya gemar gotong-royong dan saling menolong hingga tidak ada lagi individu yang merasa kekurangan karena semua ikut bertanggung jawab atas kesejahteraan tiap individu di sekitarnya.

Dengan mutual aid, kita kembali membiasakan gotong-royong di tengah masyarakat, bukan hanya sekadar dalam membangun fasilitas umum atau memperindah kampung, namun dalam pemenuhan kebutuhan tiap individu di dalamnya yang membutuhkan, oleh tiap individu yang dengan sadar dan rela memberikan barang dan jasanya untuk digunakan. Sebuah keindahan dalam kehidupan bermasyarakat yang tidak akan bisa lepas dari kebutuhan selama mereka hidup.