Title: Untuk Menyebarluaskan Revolusi
Subtitle: Tentang Pengarsipan dan Perpustakaan Anarkis
Author: Jessica Moran
Language: Bahasa Indonesia
Publication: Penerbit Bunga Telang
Date: Maret, 2026
Notes: To Spread the Revolution: Anarchist Archives and Libraries Penerjemah: Ester Aprillia Editor: Jurang Disperarri Pemeriksa Aksara: Larais Bais Penata Isi: Wahono Karyadi Perancang Sampul: Anonim
Instagram: @penerbitbungatelang_ @_a.a.archive Surel: aaarchive@proton.me

        Perpustakaan Anarkis Hari Ini

        Menyurvei pengarsipan dan perpustakaan anarkis

        Kate Sharpley Library

        Sejumlah Pertanyaan

        Referensi:

        Tentang Penulis

Bagi para anarkis—yang secara umum mendefinisikan diri berdasarkan pada sebuah teori sosial politik tanpa pemerintahan dan menjalin hubungan yang bersifat sukarela—kata-kata yang ditulis dan diterbitkan telah menjadi sesuatu yang begitu sentral bagi gerakan mereka. Dari zaman baheula, para anarkis di Amerika Serikat dan Eropa telah menerbitkan dan mengumpulkan gagasan-gagasan serta karya tulis mereka. Literatur yang diterbitkan itu merupakan salah satu dari sumber daya terpenting dari propaganda dan juga sebuah sarana untuk berkomunikasi serta untuk menyebarluaskan gagasan-gagasan anarkis. Koran, pamflet, dan buku-buku, merupakan instrumen dalam pendokumentasian dan penyebaran filosofi serta aksi-aksi dari gerakan anarkis; dan tak lama setelahnya, terbentuknya perpustakaan anarkis merupakan kelanjutan dari hal tersebut.

Begitu banyak anarkis berbahasa Inggris awal yang secara berkala memproduksi pamflet ber-seri, yang seringkali disertai dengan pembubuhan semacam nama perpustakaan anarkis. Contohnya, jurnal-jurnal awal Amerika seperti Liberty, Free Society, dan Mother Earth; memiliki seri pamflet bernama “Perpustakaan Liberty”, “Perpustakaan Free Society”, dan “Perpustakaan Mother Earth”. Freedom, harian anarkis yang bernapas panjang juga mempertahankan sebuah seri pamflet bernama “Perpustakaan Freedom”. Pengumpulan gagasan-gagasan anarkis dalam format ini menjadi fitur umum dari terbitan berkala anarkis dan penerbitan serta pengembangan sebuah wadah bagi pengetahuan—atau perpustakaan—yang biasanya tidak tersedia di mana-mana, tempat para anarkis dan mereka yang tertarik secara umum dapat menuangkan, mendiskusikan, dan berbagi mengenai gagasan anarkis.

Namun para anarkis tidak hanya tertarik dalam menerbitkan dan mendistribusikan gagasan mereka dalam format pamflet dan, nantinya, buku-buku ber-seri; mereka juga tertarik pada pengelolaan perpustakaan dalam pengertian paling tradisionalnya. Di Philadelphia, sebuah Radical Library didirikan pada awal 1895 oleh Ladies Liberal League of Philadelphia, sebuah kelompok yang berisikan para anarkis seperti Voltairine de Cleyre dan Natasha Notkin serta oleh mereka yang memiliki misi untuk “memberbaiki defisit pada perpustakaan publik dengan cara memperlengkapinya dengan karya-karya radikal, memberikan pelayanan di jam-jam yang ramah bagi para pekerja, dan dapat diakses oleh semua orang dengan biaya seminimum mungkin” (Falk, Pateman, & Moran, 2003, p. 459). Perpustakaan ini nantinya akan terus berlanjut dengan beragam bentuk untuk setidaknya selama 20 tahun kedepan, serta menjadi semacam pusat sosial dan politik bagi para anarkis yang berada di sekitaran Philadelphia, dengan seorang anarkis tekun bernama Joseph Cohen yang turut andil dalam setiap aktivitasnya di sepanjang tahun 1910-an (Avrich, 2006, p. 60-61). Para anarkis membentuk perpustakaan dan pusat sosial serupa di kota-kota besar yang lain, seperti Progressive Library di kota New York, di mana pada 1906 sekelompok anarkis diciduk ketika sedang mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan pembunuhan yang dilakukan Leon Czogosz’s terhadap presiden William Mckinley pada 5 tahun sebelumnya (Falk, et al., 2003, p. 200).

Di Eropa, minat serupa terhadap perpustakaan anarkis dapat dilihat pada Sekolah Modern Spanyol. Sekolah Modern merupakan sebuah proyek edukasi rasional yang dipelopori oleh seorang anarkis Spanyol bernama Francisco Ferrer, dan sebagai bagian dari inisiatif inilah, sebuah program penerbitan dan perpustakaan diciptakan (Avrich, 2006, p. 19-23). Setelah kematian Ferrer Sekolah Modern tersebut menyebar sampai ke Amerika Serikat, dan ketika Sekolah Modern Ferrer didirikan di kota New York pada 1910, itu tidak hanya meliputi sebuah sekolah dan ruang-ruang pertemuan, tetapi juga sebuah perpustakaan. Pada sebuah Klub Fransisco Ferrer di Chicago juga terdapat sebuah “perpustakaan gratis dan ruang baca” (Avrich, 2006, p. 78, 62). Nantinya, pada 1921, pasca kematian anarkis Russia Peter Kropotkin, di Stetlon, New Jersey, sebuah Perpustakaan Kropotkin anyar didirikan di Sekolah Modern Stelton sebagai sebuah bentuk penghormatan (Avrich, 2006, p. 304).

Para anarkis memandang perpustakaan mereka sebagai pusat sosial yang vital bagi gerakan mereka. Perpustakaan-perpustakaan ini tidak sesederhana tempat untuk mengumpulkan buku-buku sosial dan politik anarkisme; mereka merupakan lokasi aktif bagi anarkisme. Perpustakaan tersebut merupakan tempat bertemu dan tempat untuk berbagi, menyebarkan, dan mengembangkan gagasan-gagasan mengenai gerakan anarkis. Para anarkis juga berupaya untuk mempreservasi propaganda tertulis dan budaya politik mereka untuk masa yang mendatang, dan mereka telah terbiasa dengan, dan berpartisipasi dalam, materi-materi dari institusi perpustakaan yang lebih tradisional. Salah satu tempat pengoleksian materi-materi anarkis tertua di Amerika Serikat dibentuk di Universitas Michigan ketika seorang anarkis dan aktivis perburuhan Joseph Labadie menghibahkan koleksi dan perpustakaan pribadinya ke sana pada tahun 1911. Koleksi tersebut nantinya akan diorganisir dan dikembangkan lebih lanjut oleh seorang anarkis yang bernama Agnes Inglis, yang mengkuratori koleksi Labadie dari tahun 1925 hingga 1952 (Herrada, n.d.). Saat ini koleksi Labadie merupakan salah satu koleksi yang sangat penting dari materi-materi anarkis di Amerika Serikat. Emma Goldman juga di kemudian hari mendirikan pengarsipan tentang dirinya dan Alexander Berkman di International Institute of Social History (IISH) di Amsterdam pada Desember 1938, sebuah masa ketika IISH mengumpulkan literatur-literatur dari para aktivis perburuhan dan individu radikal lain di seluruh Eropa, berbarengan dengan berlangsungnya persebaran Nazisme. Pada saat yang sama ketika Goldman mendepositkan materi-materinya, perpustakaan IISH secara diam-diam menyelundupkan naskah-naskah Bakunin (bagian dari koleksi Max Nettlau’s) keluar dari Jerman (International Institute of Social History, n.d.). Dalam kedua kasus tersebut, para anarkis menyadari pentingnya mempreservasi koleksi-koleksi mereka yang terdiri dari buku-buku, naskah, pamflet, dan ephemera untuk kegunaan di masa mendatang. Koleksi-koleksi ini tetap bertahan dan terus menjadi sumber yang kaya bagi pendokumentasian sejarah anarkis, walau mereka dipegang oleh institusi-institusi besar dan tersimpan di antara koleksi non-anarkis. Tetapi ada pengecualian; arsip dan perpustakaan anarkis kebanyakan tidak bertempat di dalam batasan-batasan universitas besar atau tembok-tembok institusi, tapi secara sadar berada di luar hal-hal tersebut.

Perpustakaan Anarkis Hari Ini

Proliferasi perpustakaan anarkis, infoshops, dan pengarsipan di masa kini menunjukkan bahwa para anarkis telah merawat semangat untuk mempreservasi dan menyediakan akses terhadap literatur anarkis. Di kebanyakan kota-kota besar, seseorang dapat menemukan setidaknya semacam infoshop anarkis yang disertai dengan perpustakaan, dan selain itu banyak pula bertumbuhan perpustakaan dan pengarsipan online. Dalam banyak kasus, koleksi-koleksi ini dikembangkan dari waktu ke waktu sebagai sebuah kesinambungan sejarah berdasar ketertarikan dalam menggunakan tulisan dan ruang publik sebagai media propaganda untuk mempromosikan dan mengelaborasi anarkisme, dan juga untuk mengisi celah yang hilang pada koleksi-koleksi perpustakaan dan arsip dalam pengertian yang lebih tradisional, arus utama, dan berbasiskan institusi. Koleksi-koleksi ini berakar pada kepercayaan bahwa akses terhadap literatur anarkis merupakan komponen yang sangat penting dari gerakan, dan dalam realitas di luar gerakan, literatur anarkis begitu sulit bahkan mustahil untuk ditemukan. Anarkis, dalam definisinya menaruh kecurigaan terhadap negara dan institusi-institusinya, juga menginginkan untuk melindungi tulisan bersejarah dan budaya mereka sendiri. Sebagaimana dicatat oleh yang lain, “Meski tentu banyak koleksi penting berada di koleksi-koleksi universitas dan negara, mayoritas dari materi anarkis tersebut tetap berada di tangan komunitas yang membuatnya, dirawat oleh orang-orang yang sama yang berpartisipasi dalam perjuangan yang sedang didokumentasikan” (Hoyt, 2012, p. 32).

Dalam banyak hal, perpustakaan dan pengarsipan anarkis kini berada di bawah payung pengarsipan komunitas independen. Menurut Andrew Finn dan Mary Stevens, komunitas pengarsipan independen harus lebih dilihat sebagai “gerakan sosial (atau sebagai elemen dari gerakan sosial)” yang merupakan bagian dari “pengembangan atas ingatan-ingatan sosial yang subversif dan kontra-hegemoni” (2009, p. 4). Pengarsipan komunitas dapat didefinisikan secara luas sebagai “aktivitas akar rumput dalam mencipta dan mengumpulkan, memproses dan mengkurasi, merawat dan menjadikannya koleksi-koleksi yang mudah diakses berkaitan dengan fokus komunitas atau subjek spesifik tertentu” (Flinn & Stevens, 2009, p. 5). Aktivitas-aktivitas ini berbeda tergantung dengan keadaan individu dan komunitasnya, dan seringkali aktivitas yang mencirikan “pengarsipan komunitas” akan memosisikan diri tanpa embel-embel tersebut (Fliin, 2007, p. 152). Fliin (2007) menulis bahwa “sejarah komunitas atau pengarsipan komunitas merupakan aktivitas akar rumput yang mendokumentasikan, merekam dan mengeksplorasi warisan komunitas di mana partisipasi, kendali dan kepemilikan komunitas tersebut merupakan hal yang esensial di dalam proyek. Koleksi-koleksi diorganisir dan diciptakan di antara suatu identitas dan kepentingan bersama dalam anarkisme, dan gerakan para anarkis menempatkan pengarsipan dan perpustakaan anarkis secara kokoh di dalam gerakan pengarsipan komunitas independen.

Dalam meninjau ulang perkembangan dari pengarsipan komunitas di Inggris pada kelas pekerja dan etnis serta agama minoritas, Fliin dan Stevens (2009) menyarankan pandangan bahwa inisiatif tersebut muncul dari sebuah komunitas aktivis atau komunitas politik atau budaya oposisi: “mayoritas pengarsipan komunitas dimotivasi dan terdorong untuk bertindak oleh kegagalan (yang nyata atau dirasakan) warisan organisasi arus utama untuk mengumpulkan, merawat dan membuat koleksi-koleksi yang mudah diakses serta sejarah yang secara tepat merefleksikan dan secara akurat merepresentasikan cerita-cerita semua lapisan masyarakat” (p. 6). Arsip-arsip tersebut seringkali tidak hanya dilihat sebagai alat untuk edukasi tetapi juga sebagai senjata dalam perjuangan. Pengarsipan komunitas tidak boleh dilihat sebagai sekadar proyek yang sia-sia, atau sebagai alternatif menghidupkan perjuangan, tetapi lebih sebagai tindakan perlawanan, yang dilakukan secara sadar. Konteks tersebut akan membantu menjelaskan mengapa banyak proyek pengarsipan komunitas cenderung ragu atau bahkan menolak untuk menempatkan otonomi mereka di bawah manajemen arsip.

Bagaimanapun, dalam hal memelihara otonomi penuh di luar kontrol institusi arus utama, pengarsipan komunitas independen menghadapi berbagai tantangan dalam menjaga keberlanjutan proyek-proyek mereka. Mulai dari stabilitas keuangan, untuk membuat arsip-arsip tetap terbuka, dan mengurus preservasi dalam jangka panjang menjadi kerja keras yang selalu dan harus terus-menerus dilakukan. Dalam salah satu studi pengarsipan komunitas New Zealand yang dilakukan pada 2011, Joana Newman (2011) menyimpulkan bahwa faktanya arsip-arsip yang terdapat pada dewan lokal dan institusi pemerintah lainnya merupakan yang paling stabil keuangannya, disertai pengurus yang terlatih, dan kecukupan ruang serta materi-materi untuk melindungi dan melestarikan arsip yang lebih baik. Lebih jauh lagi ia mendapati beberapa pengarsipan komunitas terus bertahan “hanya karena komitmen dan passion dari satu sampai dua individu” (p. 37-45). Temuan Newman’s merupakan representasi proyek pengarsipan komunitas di seluruh dunia. Dalam banyak kasus, proyek pengarsipan telah berkembang dan terus dilimpahi antusiasme dan keterlibatan segelintir orang; bagaimanapun, menjaga proyek seperti itu agar dapat bernapas panjang merupakan sesuatu yang sulit. Sebagaimana Flinn dan Stevens (2009) mencatat, “jika sumber daya menjadi kian langka dan energi dari figur-figur kunci mulai surut, untuk mempertahankan independensi dari negara dan institusi-institusinya, mungkin akan menjadi bertambah sulit bagi banyak komunitas pengarsipan independen untuk dapat bertahan” (p. 17).

Pengarsipan dan perpustakaan anarkis menjadi segmen tersendiri dari pengarsipan dan perpustakaan komunitas. Ia dapat merentang, mencakup, mulai dari skala kecil berupa buku-buku dan pamflet kucel yang dibungkus, hingga koleksi yang dikurasi secara hati-hati dan diatur menggunakan standar universitas, sampai koleksi di situs internet berupa tautan blog atau pdf. Semua itu memiliki banyak kesamaan, terlepas dari apa dan bagaimana bentuk dari perpustakaan tersebut. Seperti komunitas pengarsipan independen yang telah sempat dibahas—dengan beberapa pengecualian—kebanyakan cenderung memilih untuk berada di luar lingkup pemerintah dan NGOs, dan lebih berbasiskan pada layanan sukarela yang dilakukan oleh segelintir individu yang berkomitmen. Orang-orang ini melihat diri mereka sebagai penjaga hidupnya sejarah anarkis dan berkontribusi terhadap pengadaan wadah bagi ilmu pengetahuan anarkisme. Proyek-proyek tersebut tidak dilihat sekadar sebagai pengarsipan atau perpustakaan untuk tujuan pengarsipan atau perpustakaan itu sendiri, tetapi lebih sebagai bagian dari gerakan anarkis, dan kerja-kerja mereka merupakan kontribusi terhadap gerakan itu sendiri. Mereka mempreservasi sejarah gerakan anarkis untuk membenahi kekosongan atau kesalahan catatan sejarah di masa silam, juga untuk menerangkan dan secara potensial membantu menentukan jalannya gerakan di masa mendatang.

Menyurvei pengarsipan dan perpustakaan anarkis

Pada tahun 2012 ketika menyiapkan riset untuk artikel ini, saya mengirim survei dan menerima respon dari 26 pengarsipan dan perpustakaan anarkis yang berlokasi di Amerika Utara, Eropa, Amerika Selatan, dan Australasia. Saya tertarik pada pertanyaan terkait pendanaan dan keberlanjutan, juga kepengurusan—seberapa banyak orang yang terlibat dalam suatu proyek, apa keahlian dan pengalaman mereka, dan mengapa mereka melakukan pekerjaan yang mereka pilih.

Hasil dari survei saya memperlihatkan bahwa dari 26 responden, 14, atau setengahnya, ada yang mengandalkan pendanaan dari kantong pribadi pekerja masing-masing perpustakaan dan pengarsipan atau ada pula yang mengkombinasikan pendanaan pribadi tersebut dengan donasi. Sisanya, 7 didanai melalui program langganan atau biaya riset/membaca ditambah penggalangan dana. Hanya satu pengarsipan, yaitu Archivio-Biblioteca Enrico Travaglini di Italia, yang mendapatkan pendanaan dari pemerintah, dan itu sekitar kurang dari 1500 Euro pertahun; yang menurut mereka, “pendanaan masih kurang mencukupi” dan harus ditambah pendanaan mandiri. 4 responden sisanya merupakan koleksi-koleksi anarkis kecil di dalam perpustakaan-perpustakaan universitas, semua perpustakaan dan pengarsipan bergantung sepenuhnya pada pekerja sukarelawan, dengan pengecualian International Centre for Research on Anarchism (CIRA) di Swiss, yang secara formal terdaftar dengan pemerintahan sebagai asosiasi dan hanya dapat mempekerjakan satu orang. CIRA juga menggunakan tenaga kerja anak-anak muda yang memilihnya sebagai alternatif dari wajib militer.

Ukuran dan ruang lingkup pengarsipan ini luasnya begitu bervariasi, mulai dari sekumpulan koleksi berupa ratusan buku, pamflet, dan zine sampai dengan 20.000 materi yang terkatalogisasi. Lokasi penyimpanan koleksi pun tak kalah beragamnya, meski mayoritas berada di rumah pribadi (tujuh) atau sebagai bagian dari ruang radikal atau anarkis (enam). Lokasi lainnya meliputi universitas, kontrakan, atau sekadar online. Di luar lingkungan universitas, sebagian besar dari yang merespon (12), setidaknya mempunyai satu anggota di dalam kelompoknya yang bekerja di bidang pengarsipan atau perpustakaan atau setidaknya memiliki pengalaman di kedua bidang tersebut, meski kualifikasi untuk terlibat dalam proyek yang ada tampaknya merupakan keinginan pribadi untuk melakukan kerja-kerja tersebut dan memiliki kecenderungan anarkisme atau pengalaman dengan gerakan sosial. Beberapa infoshop lain yang berbentuk perpustakaan, khususnya perpustakaan peminjaman, menawarkan kepada para volunter barunya semacam program pelatihan formal. Sementara semua responden survei mengatakan bahwa koleksi mereka berfokus pada sejarah anarkis dan anarkisme, baik pada tataran lokal, nasional, atau bahkan internasional, hanya sebagian saja yang memiliki koleksi yang terartikulasi (articulated collection) atau kebijakan akuisisi (policy acquisition). Mayoritas menjelaskan bahwa mereka banyak bergantung pada donasi dan akan menerima materi apapun yang secara umum cocok dengan definisi dari anarkisme, dengan pengecualian anarko-kapitalisme/libertarianisme. Beberapa memiliki pernyataan yang eksplisit terkait pengecualian materi-materi sosialis-statis dan Marxis dari koleksi mereka, sementara pada saat yang bersamaan mereka memelihara posisi antagonistik dengan banyak aliran dan tren dalam gerakan anarkis.

Ketika ditanya apa yang mereka pahami mengenai tujuan dari pengarsipan atau perpustakaan mereka, serba serbi respon mereka mulai dari “merawat sejarah anarkis dan membuatnya tersedia bagi gerakan anarkis” sampai “untuk menyebarluaskan revolusi.” Salah seorang berkata, “tujuan kami adalah untuk mengajukan perpustakaan peminjaman sekaligus ruang untuk mengarsipkan materi yang dipublikasikan secara independen”. Banyak yang tertarik untuk menyediakan tempat tidak hanya untuk mempreservasi materi-materi anarkis, tetapi juga “mempromosikan gagasan libertarian” atau untuk membantu orang-orang belajar tentang gagasan anarkis. Mungkin Cowley Library adalah representasi terbaik dari sekian perbedaan tujuan dari perpustakaan anarkis, sebagaimana mereka utarakan:

Mulanya kami membayangkannya sebagai semacam ruang kolektif—sebuah sumber daya bagi komunitas Cowley Club—berbagi buku, majalah, film dan komputer yang aksesibel untuk semua orang ketimbang hanya dimiliki oleh satu orang. Perpustakaan juga berfungsi sebagai sebuah ruang temu bagi kelompok untuk digunakan dan berfungsi sebagai pengarsipan dari sejarah perjuangan sosial radikal, khususnya pada tataran lokal.

Banyak dari perpustakaan-perpustakaan tersebut yang bermula sebagai ruang baca dan perpustakaan peminjaman berskala kecil, dengan harapan dari pengorganisirnya dapat menciptakan ruang temu dan berkumpul. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai mendokumentasikan dan mengoleksi sejarah gerakan mereka sendiri. Dari banyaknya responden, melihat proyek mereka sebagai sebuah kombinasi dari mempreservasi sejarah anarkis, membantu menyebarkan gagasan anarkis, memberikan orang-orang kesempatan untuk belajar tentang mereka, dan berpartisipasi dalam bentuk yang konkret dalam gerakan anarkis. Sebagaimana ditulis yang lain, “Kami ingin memberikan orang-orang kesempatan untuk membaca dari perspektif anarkis; buku-buku dan majalah yang tidak akan kamu temukan di perpustakaan pada “umum”nya. Kami ingin mempreservasi sejarah kami sendiri. Tidak ada orang lain yang melakukannya… Kami melihat perpustakaan kami sebagai satu bagian dari bagian-bagian kecil lain yang akan membentuk suatu budaya tandingan besar melawan keadaan hari ini yang begitu bajingan.” Dalam banyak hal, proyek kontemporer ini tidak banyak berbeda dengan pendahulu mereka ratusan tahun yang lalu. Mungkin pernyataan dari salah seorang anggota dari pengarsipan anarkis online Australia The Bastard Archive dapat menjelaskannya secara singkat ketika ia menulis bahwa ia melihat tujuan dari proyeknya sebagai “untuk tidak melupakan apa yang ada sebelum kita, untuk mengingat baik itu kekalahan maupun kemenangan, dan untuk mendiseminasikan gagasan yang kemungkinan besar akan membenahi dunia yang bajingan ini.”

Kate Sharpley Library

Ketertarikanku dalam pengarsipan komunitas secara umum dan perpustakaan anarkis serta pengarsipan secara spesifik datang dari keterlibatanku dalam Kate Sharpley Library (KSL). KSL adalah perpustakaan dan pengarsipan anarkis dengan sejarah anarkisnya tersendiri. Pertama kali dibentuk pada tahun 1979 sebagai sebuah perpustakaan yang melayani komunitas anarkis di Brixton, London, dan terkoneksi dengan 121 Toko Buku Anarkis. Baru setelahnya, ketika pindah dari London pada 1991, membuat perubahan pada tujuannya, berubah bentuk dari resource center menjadi koleksi khusus (dan pada akhirnya pengarsipan) yang berfokus pada pendokumentasian sejarah anarkisme (Longmore, 2004). Sejak 1991, KSL telah bertahan di sebuah rumah pribadi milik Barry Pateman. Pada 1999, Pateman pindah ke Amerika Serikat dan memboyong perpustakaan tersebut. 10 tahun kemudian, koleksi tersebut terus bertambah dan berada di rumahnya. KSL sekarang memiliki tempat sendiri, berupa bangunan seluas 1500 kaki persegi yang memiliki buku-buku, terbitan berkala, pamflet, artikel, ephemera, manuskrip, dan arsip organisasi. Perpustakaan ini berlokasi di California, biasanya terdapat satu-dua pengunjung dalam waktu satu bulan, sekaligus permintaan riset melalui email.

Keterlibatanku di KSL bermula dari ketertarikanku dalam sejarah anarkis dan pengalaman bekerja di bidang pengarsipan dan perpustakaan. Bagiku, ini adalah cara untuk menggunakan keahlian yang telah kumiliki untuk membantu merawat apa yang kulihat sebagai sesuatu yang penting, termasuk materi langka yang tidak terdapat di tempat lain. Anggota kolektif KSL lainnya adalah dua orang di Inggris, dengan keahlian perpustakaan yang membantu mengoleksi materi dari Inggris dan Eropa, menerjemahkan tulisan berbahasa asing, dan memilih serta mengedit materi yang diterbitkan dalam newsletter berkala dan pamflet. Kami juga memiliki anggota di Amerika Serikat yang membantu dalam persoalan-persoalan teknis, dari mengembangkan katalog online yang open source sampai maintaining website dan koleksi online kami.

Di KSL, semua pekerjaan dilakukan secara sukarela dan bentuk keterlibatannya begitu luwes dan informal. Orang-orang menjadi terlibat karena mereka memang ingin dan bisa membantu. Walau orang-orang seringkali mengekspresikan keinginannya untuk membantu di perpustakaan, hanya terdapat 5 orang saja yang memiliki komitmen untuk terlibat di KSL. Aku telah menemukan dalam pengalaman personalku bahwa lingkungan kerja seperti ini dengan berbagai alasan tertentu memang sulit untuk orang-orang terlibat dalam proyek tersebut. Walau terdapat materi-materi yang begitu bagus dan menarik di dalam koleksi, para anarkis juga begitu hebat dalam memproduksi materi-materi yang jelek, dan di luar itu, cukup banyak perawatan dan pemeliharaan secara umum yang cenderung berupa kerja-kerja repetitif seperti penyusunan berkas, menyusun materi ke dalam urutan yang telah ditentukan, dan katalogisasi sederhana. Bagaimanapun, kami mendapati beberapa pengunjung dengan senang hati melakukan kerja-kerja tersebut selama satu sampai dua jam.

Di KSL, tidak ada prosedur pengambilan keputusan secara formal, dan terlepas dari kebijakan ketat untuk mengoleksi sekadar materi anarkis atau materi yang secara substansial berurusan dengan anarkisme, tidak ada kebijakan formal terkait koleksi. Mungkin diskusi yang muncul seiring berkembangnya koleksi berpusat pada definisi “anarkisme” yang begitu kabur dan mudah berubah-ubah, dan di mana dapat kita tarik garis tegasnya. Keputusan biasanya dibuat karena seorang anggota memiliki waktu dan keahlian untuk melaksanakan sebuah proyek, atau ketika sebuah sekelompok anggota memiliki kesempatan untuk dapat bersama-sama baik itu secara langsung maupun melalui email. Semua pekerjaan dilakukan secara sukarela dan dilakukan dalam waktu luang anggota, setelah bekerja, saat akhir pekan, atau curi-curi waktu di sela kesibukan. Kebebasan dalam keterlibatan ini menguntungkan sekaligus merugikan proyek. Pekerjaan—baik itu mengkatalogisasi buku atau materi lainnya, aksesioning koleksi arsip, menerjemahkan artikel, mengedit pamflet, atau memperbaharui website—dapat selesai karena ini dilihat sebagai sesuatu yang penting bagi para anggota dan mereka menikmatinya, tetapi terkadang semangat juga menurun dan mungkin tidak menjadi prioritas bagi para anggota, tidak peduli sebesar apa kemauan mereka.

Pendanaan untuk proyek berasal dari penjualan pamflet, buku duplikasi, dan terbitan berkala di anarchist bookfairs; langganan buletin kami; dan beberapa anggota yang bertahan yang mengirim $10–20 per bulan dengan gantinya menerima buletin dan pamflet apapun yang kami terbitkan. Pendapatan ini tidak pernah menutupi pengeluaran, mulai dari hal sederhana seperti biaya cetak sampai pengeluaran yang lebih besar, seperti memastikan keamanan koleksi fisik, membeli persediaan yang cukup dari map dan kotak berkas bebas asam, membayar pengiriman donasi materi ke perpustakaan, dan memiliki dana yang cukup untuk membeli materi yang mahal nan langka.

Sejak didirikan, secara sadar KSL telah membuat keputusan, terlepas dari kendala biaya, KSL harus tetap dikelola oleh para anarkis dan berada di luar institusi negara. Kepercayaan tersebut muncul sejak semula pada 1991, ketika salah satu foundernya, Albert Meltzer (1991), menulis dalam terbitan pertama Buletin KSL:

Anarkisme yang rill itu bukan pengkultusan terhadap beberapa nama yang terkenal sebagai quasi-figur bapak dari masa lalu, sebagaimana buddhisme yang riil itu bukanlah menyembah Budhha Gautama sebagai tuhan. Anarkis dalam praktik tidak lagi peduli pada apa yang orang-orang itu tulis dan katakan kecuali mereka mengatakan sesuatu yang dapat disepakati. Riset dengan nada pengkultusan mengenai pengetahuan, kehidupan pribadi, dan pengaruh mereka adalah akal-akalan yang dilakukan dengan sengaja oleh akademisi yang disponsori oleh negara, dan itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita. Kultus personal, penghambaan terhadap individu tertentu dan pemberlakuan gagasan borjuasi memang akan bermuara pada berkembangnya anarkisme tetapi bukan pada anarkisme yang riil.

KSL telah menganut filosofi pengumpulan koleksi yang tidak sekadar melihat anarkisme sebagai teori atau seperangkat gagasan, tapi lebih sebagai upaya untuk mencatat anarkisme dari bawah ke atas (bottom up), mendokumentasikan pengalaman hidup dan keseharian para anarkis. Kebijakan ini berupaya untuk merawat dan membuat para anarkis dan peristiwa-peristiwa yang terlupakan atau sejarah yang kurang diketahui menjadi lebih aksesibel. Dalam upaya menolak “akademisi yang disponsori oleh negara” dan “penghambaan terhadap individu tertentu dan pemberlakuan gagasan borjuasi,” Meltzer mengacu pada gagasan bahwa di samping banyaknya gagasan dan teori anarkisme terdapat kemungkinan awalnya hanya dirumuskan oleh beberapa individu, kunci untuk memahami gerakan anarkis adalah dengan melihatnya bukan sebagai gagasan yang dicetuskan oleh beberapa tokoh besar, melainkan sebagai komunitas yang berbagi, menghidupinya, dan mengembangkan gagasan tersebut. Anarkisme adalah sebuah gerakan yang hidup di mana gagasan secara terus menerus bergerak dan menyebar, dan beradaptasi serta berkembang seiring waktu, dalam dan melalui praktik. Dalam satu wawancara, Pateman (2010) menjelaskan:

Albert tahu kalau anarkisme itu bukan cuma tentang Kropotkin atau Stirner, atau siapapun. Yang paling penting adalah selalu mempraktikkannya. Dia tahu kalau ini bisa dilakukan oleh orang yang hanya memiliki pengetahuan minimum (kalau ada!!) mengenai pemikir dan penulis utama kita. Dia juga tahu kalau sejarah anarkisme mengecualikan orang-orang yang tak terhitung jumlahnya padahal begitu berpengaruh dalam perubahan dan pengembangan gagasan ini. Karena orang-orang ini seringkali tidak menulis teori atau seorang pembicara ulung tetapi diabaikan.

Kami berpendapat bahwa anarkis dan peristiwa yang kurang diketahui sama pentingnya, atau bahkan lebih, dari para pemikir “besar”. Dalam banyak hal, KSL telah mengikuti pergeseran umum dari pengarsipan mainstream dan institusional dalam beberapa dekade terakhir menuju pengembangan strategi pendokumentasian yang belum terdokumentasi secara lebih sistematis, mendengarkan keheningan yang terdapat dalam arsip, dan memperluas fokus koleksi untuk memasukkan peristiwa kehidupan sehari-hari. Ekspresi lain kebijakan pengumpulan materi dan justifikasi bagi kerja-kerja KSL: “Kami melakukan ini untuk mempreservasi dan mempromosikan gagasan dan sejarah anarkis. Bukan dalam artian yang samar-samar dan tidak jelas semacam “belajar itu hal yang baik”, tapi karena kalau bukan kita yang melakukan, ya siapa lagi? […] Anarkisme merupakan hasil dari perjuangan bertahun-tahun lamanya yang dilakukan oleh kawan seperjuangan kita. Gagasan diasah dalam argumen dan praktik” (Kate Sharpley Library, 2004). Mencoba mendokumentasikan bagaimana anarkisme telah didiskusikan dari waktu ke waktu, dan bagaimana gagasan tersebut dipraktikkan, dieksplorasi, digunakan, atau ditolak, memungkinkan untuk pemahaman yang lebih mendalam mengenai teori-teori politik. Artikel ini ditulis untuk menegaskan bahwa di samping selalu adanya orang yang tertarik untuk merawat edisi pertama karya Kropotkin, dia bukanlah awal dan akhir dari gerakan anarkis. Semua surat kabar, pamflet, buku, dan lain-lain baik itu yang dicetak dengan buruk, berisi argumen yang jelek, maupun yang dicetak, dirancang dan diartikulasikan dengan begitu indah, merupakan faktor-faktor yang memampukan gerakan anarkis untuk menjelaskan anarkisme sebagai realitas manusia daripada sekadar sekumpulan gagasan mati.

Sejumlah Pertanyaan

Terlibat dalam Kate Sharpley Library membawaku pada sejumlah pertanyaan, tidak semata mengenai keberlanjutan KSL, melainkan juga pada koleksi pengarsipan anarkis maupun komunitas secara umum. Ketertarikan ini mungkin saja sesederhana untuk menyeimbangkan pengalaman dan pelatihan serta pekerjaan profesionalku di institusi yang lebih besar, dengan apa yang mungkin dan menjadikannya masuk akal ketika bekerja dalam proyek yang dilakukan secara sukarela dengan sedikit–sampai tanpa–disertai pendanaan. Namun aku khawatir mengenai perawatan dan penangan koleksi yang tepat untuk preservasi. aku khawatir mengenai kesulitan atau kurang apiknya pencatatan koleksi; semakin koleksi bertambah, institusional atau memori personal tidaklah cukup, dan ini tidak akan cukup agar bisa bernapas panjang. Tapi saya pikir kekhawatiran terbesarku–dan mungkin pertanyaan yang paling penting–adalah mengenai keberlanjutan dari proyek dan koleksi—bagaimana mereka bisa tetap bertahan? Akankah materi koleksi anarkis yang langka dan penting ini dapat diturunkan dari generasi ke generasi? Atau dari tahun ke tahun? bagaimana mereka dapat tetap relevan dan hidup? Ada banyak perpustakaan dan pengarsipan anarkis dengan berbagai macam bentuk dan di berbagai macam tahap perkembangan di seluruh Eropa, Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Australasia, tapi mereka merupakan institusi kecil yang dijalankan secara sukarela, bertahan dengan hanya tekad kuat dan antusiasme dari beberapa individu saja. Akankah koleksi tersebut bisa terus tersedia dan berguna bagi orang-orang dalam jangka panjang? aku tidak ingin koleksi tersebut hanya sekadar menjadi pajangan, dibuka hanya untuk segelintir orang yang tahu, tapi aku juga menyadari bahwa melayani pengguna dalam jumlah besar itu hampir mustahil bagi sedikit staf yang memiliki waktu yang tak kalah sedikitnya. Namun, solusinya jarang sekali berupa kemitraan atau pengalihan koleksi ke institusi yang lebih besar. Gerakan anarkis merupakan salah satu yang paling beragam dan tersebar, dengan tanpa satu organisasi besar atau tanpa budaya organisasi yang tersentralisasi. Tidak ada organisasi anarkis yang bernapas panjang, sebagaimana ditemukan dalam gerakan sosial yang lain. Tidak ada organisasi pengarsipan atau perpustakaan anarkis yang dapat diberikan donasi, tidak juga dengan kemampuan untuk mensponsori atau mendukung pengarsipan atau perpustakaan tersebut.

Ini begitu membuat urat sarafku tegang. Koleksi-koleksi ini menyimpan materi yang tidak dapat ditemukan di perpustakaan umum di daerahmu, kemungkinan tidak juga di perpustakaan kampus di daerahmu, dan mungkin hanya terdapat di segelintir perpustakaan-perpustakaan yang berfokus pada riset dengan satu-satunya manuskrip dan koleksi arsip. Terdapat sejumlah manuskrip penting yang tak pernah dipublikasikan dan koleksi arsip di KSL yang tidak dapat kamu temukan di manapun, contohnya, catatan toko buku bernapas panjang bernama Bound Together Books dan Left Bank Books di San Francisco dan Seattle, serta catatan lembaga bantuan hukum Person Unknown Trial di Inggris 1979. Sebagai seorang arsiparis dan anarkis aku amat merasa begitu yakin bahwa materi-materi ini harus dirawat dan dibuat menjadi aksesibel bagi mereka yang ingin menggunakannya. Sebagai anggota dari KSL, aku merasa sama yakinnya bahwa materi-materi ini tidak boleh sampai jatuh ke tangan universitas atau perpustakaan riset yang disponsori oleh negara. Bukan itu yang diinginkan oleh para donatur koleksi, bukan juga yang diinginkan oleh mereka yang telah memberikan banyak waktu dan tenaga dalam proyek ini. Tetapi aku juga tidak berpikir koleksi ini dapat diserahkan begitu saja kepada “gerakan anarkis” yang tidak jelas juntrungannya. Tanggung jawabnya terlalu besar, dan pekerjaannya terlalu penting, maka diperlukan individu atau kelompok yang bertanggung jawab dan memiliki komitmen penuh. Namun, sejauh yang aku ketahui, baik KSL, maupun perpustakaan dan pengarsipan anarkis lain yang disurvei, tidak memiliki rencana jangka panjang untuk tetap bertahan. Apa jadinya koleks-koleksi ini ketika mereka yang sekarang terlibat dalam proyek tidak lagi memiliki waktu, energi, atau kemampuan untuk menjadi bagian? Di saat-saat yang begitu kelam, aku cuma bisa pasrah. Aku sangat berharap gerakan anarkis akan tetap relevan bagi cukup banyak orang untuk menarik generasi berikutnya yang ingin meneruskan tongkat estafet dan merawat koleksi-koleksi ini—sebagaimana de Clayre, Notkin, dan Cohen telah mempengaruhi lintas generasi untuk tetap mempertahankan tradisi perpustakaan anarkis menjadi tetap hidup. Di saat-saat seperti ini, saya percaya pada semangat anarkisme yang menginspirasi orang-orang untuk bertindak untuk diri mereka sendiri dan untuk menjaga, merawat, dan melanjutkan proyek-proyek ini TANPA BANTUAN DARI NEGARA.

Referensi:
  • Avrich, P. (2006). The modern school movement. Oakland, CA: AK Press.

  • Falk, C., Pateman, B., & Moran, J. (Eds.) (2003). Emma Goldman: A documentary history of the American years, volume 1: Made for America, 1890–1901. Berkeley, CA: University of California Press.

  • Flinn, A. (2007). Community histories, community archives: Some opportunities and challenges. Journal of the Society of Archivists, 28(2), 151–176. doi: 10.1080/00379810701611936

  • Flinn, A. and Stevens, M. (2009). “It is noh mistri, wi mekin histri”: Telling our own story: Independent and community archives in the UK, challenging and subverting the mainstream. In J. Bastian & B. Alexander (Eds.), Community archives: The shaping of memory (pp. 3–27). London, England: Facet Publishing.

  • Herrada, J. (n.d). History of the Labadie Collection. Retrieved from www.lib.umich.edu

  • Hoyt, A. (2012). The international anarchist archives: A report on conditions and a proposal for action. Theory in Action, 5(4), 30–46.

  • International Institute of Social History. (n.d). History of the ISSH. Retrieved from https://socialhistory.org

  • Kate Sharpley Library. (2004). The Kate Sharpley Library: What and why. KSL: Bulletin of the Kate Sharpley Library, 40. Retrieved from https://katesharpleylibrary.net

  • Longmore, C. (2004). Some notes on the founding of the Kate Sharpley Library. KSL: Bulletin of the Kate Sharpley Library, 40. Retrieved from https://katesharpleylibrary.net

  • Meltzer, A. (1991). The purpose of history. KSL: Bulletin of the Kate Sharpley Library, 1. Retrieved from https://katesharpleylibrary.net

  • Newman, J. (2011). Sustaining community archives. Aplis, 24(1), 37–45.

  • Pateman, B. (2010). The Kate Sharpley Library then, now, and next: An interview with Barry Pateman. KSL: Bulletin of the Kate Sharpley Library, 63–64. Retrieved from https://katesharpleylibrary.net


Diterbitkan di Informed Agitation: Library and Information Skills di Social Justice Movements and Beyond, diedit oleh Melissa Morrone. (halaman 173–184) Sacramento, California : Library Juice Press, 2014. ISBN 9781936117871. See informedagitation.info and libraryjuicepress.com.

Tentang Penulis

Jessica Moran adalah Kepala Pustakawan di Perpustakaan Alexander Turnbull, Perpustakaan Nasional Te Puna Mātauranga o Aotearoa Selandia Baru. Peran utamanya adalah Wakil Kepala Pustakawan, Koleksi Riset, di mana ia bertanggung jawab untuk mengelola koleksi kuratorial, koleksi digital, proyek digitalisasi, dan pemrosesan arsip untuk Perpustakaan. Selama 11 tahun bekerja di Perpustakaan Alexander Turnbull, ia telah bekerja sebagai arsiparis digital dan kepala Layanan Koleksi Digital, sebelum menjadi Wakil Kepala Pustakawan pada tahun 2021.

Ia telah bekerja untuk membantu perpustakaan dan arsip lain memulai pengelolaan koleksi digital dan memastikan bahwa warisan budaya digital yang beragam dilestarikan. Sebelum pindah ke Selandia Baru pada tahun 2012, ia bekerja di perpustakaan dan arsip universitas, khusus, dan pemerintah di California, termasuk Arsip Negara Bagian California. Jessica memiliki gelar Master di bidang Sejarah dari Universitas Negeri San Francisco dan di bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi dari Universitas Negeri San Jose.