Title: Tirani Tanpa Struktur
Subtitle: Pada masa dimana gerakan-gerakan pembebasan perempuan telah mendapatkan bentuknya, perhatian besar tertuju pada apa yang sering disebut sebagai ‘tanpa kepemimpinan’, ‘tanpa struktur’ sebagai rujukan bentuk organisasi pergerakan. Ide tersebut merupaka
Author: Jo Freeman
Publication: Negasi
Language: Bahasa Indonesia
Date: 02/03/2012
Notes: Artikel ini diterjemahkan oleh Seth Hadza dari artikel Jo Freeman yang berjudul Tyranny of Structureless.

Ide-ide mengenai ‘tanpa struktur’, bagaimanapun juga, telah berpindah dari sebuah upaya kritik yang sehat ke arah tendensi-tendensi untuk menjadi yang paling benar. Ide tersebut, sebagaimana yang telah secara singkat dijelaskan, merupakan terminologi yang biasa digunakan, namun kemudian menjadi sesuatu yang intrinsik dan bagian yang tak pernah dipertanyakan sama sekali dari ideologi gerakan pembebasan perempuan. Pada era awal terbentuknya gerakan tersebut hal ini mungkin belum menjadi suatu masalah. Pada awalnya gerakan ini mendefinisikan tujuan utama dan metode mereka sebagai suatu kebangkitan-kesadaran, dan “structurless rap group” tersebut merupakan makna yang sangat bagus hingga saat ini. Dengan kelonggaran serta dorongan partisipatif mereka yang informal dalam setiap diskusi dan terkadang menimbulkan atmosfir yang suportif bagi tiap personal. Jika tak ada hal yang lebih kongkrit sama sekali selain pandangan personal yang dihasilkan dari keberadaan kelompok ini, hal tersebut bukanlah suatu masalah, sebab tujuan mereka sebenarnya tidak meluas melampaui hal ini.

Masalah yang mendasar belumlah tampak, hingga saat individu-individu dalam kelompok kritis tersebut mulai kelelahan terhadap tujuan mereka (baca : membangkitkan kesadaran) dan memutuskan bahwa mereka ingin melakukan sesuatu yang lebih spesifik lagi. Pada titik ini mereka biasanya gagal dan berhadapan dengan banyak masalah sebab sebagian besar dari kelompok tersebut sama sekali tak berkeinginan untuk mengubah struktur mereka ketika mereka mengganti aktifitas yang mereka lakukan. Para perempuan mengamini ide-ide tanpa struktur tersebut tanpa menyadari batasan-batasan yang diciptakan oleh metode tersebut. Orang-orang yang mencoba untuk menggunakan metode kelompok tanpa struktur serta konferensi informal untuk tujuan-tujuan yang sebenarnya mereka sendiri tak memiliki kualitas serta sumber daya untuk mencapai tujuan tersebut sama sekali tak kan menghasilkan apa-apa selain hanya rasa tertekan dan depresi bagi kelompok itu sendiri.

Struktur Formal dan Informal


Berbeda dengan apa yang ingin kita yakini, apa yang disebut sebagai kelompok “tanpa struktur” itu sebenarnya tak pernah ada. Berbagai macam kelompok dengan berbagai macam latar belakang, yang terbentuk dalam rentang waktu tertentu beserta segala tujuan yang ingin mereka raih, tak kan dapat menghindarkan diri mereka dari kebutuhan akan suatu struktur. Struktur tersebut mungkin saja dapat fleksibel, mungkin juga dapat berubah dari waktu ke waktu, mungkin pula mendistribusikan secara reguler maupun tidak secara reguler, berbagai aktivitas maupun kerja-kerja, kekuatan maupun sumber daya kepada semua anggota kelompok tersebut. Namun semua itu dibentuk tanpa dipengaruhi sama sekali oleh bakat, kepribadian dan tujuan-tujuan yang ingin di raih oleh setiap individu yang terlibat di dalam kelompok tersebut. Kenyataan yang paling mendasar ialah bahwa kita adalah individu-individu yang memiliki talenta serta latar belakang yang berbeda dan hal ini pula yang membuat kita tak dapat menghindari kebutuhan akan suatu struktur. Hanya jika kita menolak untuk berhubungan atau berinteraksi dengan basis apapun, maka kita dapat mendekati suatu kondisi yang “tanpa struktur”tersebut, dan hal itu bukanlah merupakan kondisi yang alamiah dari kelompok manusia.

Hal ini dapat berarti bahwa kondisi yang “tanpa struktur”, dapat bermanfaat sekaligus juga menipu, sebagaimana halnya dengan “objektifitas” yang terkandung dalam setiap pemberitaan di media, “bebas-nilai” dalam ilmu pengetahuan sosial serta “free” ekonomi. 'laisser faire' yang dimaksud juga sama realistisnya dengan 'laisser faire' masyarakat ; ide tersebut kemudian menjadi suatu 'layar pertunjukan' bagi mereka yang kuat dan beruntung untuk mengesahkan hegemoni mereka atas yang lain tanpa perlu dipertanyakan. Hegemoni tersebut dapat dengan mudahnya terbentuk karena ide mengenai 'tanpa struktur' tersebut dapat menghindar dari bentukan struktur formal namun sebaliknya, ia tidak dapat menghindar dari bentukan struktur informal. Demikian pula dengan filosofi 'laissez faire', ia tak bisa menghindarkan dirinya, berkaitan dengan kekuatan secara ekonomi, dengan terbentuknya kontrol yang berlebihan terhadap upah, harga, distribusi barang-barang komoditas ; hal tersebut cuma sekedar mencegah upaya pemerintah untuk melakukan hal yang demikian (kontrol terhadap upah, harga, serta distribusi). Mekanisme 'tanpa struktur' tersebut menjadi suatu jalan untuk menopengi kekuasaan, dan bersama dengan pergerakan perempuan, hal itu biasanya akan dipertahankan mati-matian oleh mereka yang memiliki kekuatan yang sangat besar (baik itu mereka menyadari kekuatan yang dimilikinya maupun tidak). Aturan mengenai bagaimana suatu keputusan itu dibuat hanya diketahui oleh segelintir orang saja dan kesadaran akan kekuasaan hanya terbatas bagi mereka yang mengetahui aturan tersebut, selama struktur dari group / kelompok tersebut masih informal. Bagi mereka yang tidak mengetahui aturan tersebut serta tidak terpilih untuk inisiasi masih tetap berada dalam keadaan kebingungan, atau mengalami delusi-paranoid terhadap sesuatu yang sedang terjadi namun tanpa pernah mereka sadari sebelumnya.


Bagi siapapun yang memiliki kesempatan untuk terlibat serta turut berpartisipasi dalam setiap aktifitas group/kelompok tersebut mesti memastikan bahwa strukturnya haruslah eksplisit, bukan implisit. Aturan dalam pengambilan keputusan mestilah terbuka dan dapat diakses oleh siapa pun (mereka yang terlibat dalam group/kelompok tersebut), dan hal ini hanya dapat terjadi jika mereka telah terformalisasikan.


Hal ini bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa formalisasi dari struktur suatu kelompok akan menghancurkan struktur informalnya. Hal itu biasanya tidak terjadi. Namun hal tersebut akan menjadi rintangan bagi struktur informal untuk memiliki kontrol yang mendominasi dan hal ini juga dapat menyediakan berbagai sumber yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk menyerang hal tersebut. Mekanisme 'tanpa struktur' secara organisasional adalah mustahil. Kita tak dapat memutuskan apakah kita akan membentuk suatu kelompok terstruktur ataukah tidak ; persoalannya ialah apakah kelompok tersebut perlu memiliki suatu struktur formal ataukah tidak. Oleh karena itu kata tesebut tidak akan dipergunakan lagi kecuali untuk ide-ide yang terepresentasikan di dalamnya. Tak berstruktur akan sangat berkaitan erat dengan kelompok-kelompok yang belum terstruktur melalui perencanaan matang dan sangat berkaitan dengan hal-hal tertentu. Terstruktur berarti berkaitan dengan kelompok-kelompok yang memilikinya. Sebuah kelompok yang terstruktur selalu memiliki struktur formal, dan mungkin juga suatu struktur informal. Sebuah kelompok yang tak terstruktur selalu memiliki struktur informal, atau paling tidak, terlindungi oleh 'struktur'. Bentuk inilah yang menjadi struktur informalnya, terutama pada kelompok-kelompok yang tidak terstruktur, suatu kelompok yang berbasis pada para elitis.

Karakter Alamiah dari Elitisme


Para 'elitis' mungkin adalah kata yang kedengarannya sangat kasar dalam gerakan pembebasan perempuan. Kata tersebut sering digunakan, dengan beberapa alasan, sebagaimana para simpatisan komunis menggunakannya pada tahun 50-an. Kata itu tak pernah digunakan secara tepat. Dalam pergerakan, kata tersebut menunjukkan individu, walaupun karakter personal serta aktivitas yang dikenai kata tersebut memiliki perbedaan yang sangat luas. Individual, sebagaimana halnya individual, tak dapat menjadi 'elit' sebab secara luas, pengaplikasian dari istilah tersebut hanya ditujukan bagi suatu kelompok. Individu apapun, tanpa melihat bagaimana baiknya individu tersebut, tidaklah dapat menjadi elit.


Memang benar, bahwa istilah 'elit' digunakan untuk menunjukkan sekelompok kecil orang yang menguasai suatu kelompok besar dimana mereka pun terlibat dalam kelompok tersebut, dan seringkali tanpa sepengetahuan dan diluar keinginan dari anggota kelompok yang lain (yang dikuasai). Seseorang yang menjadi 'elitist' tersebut seolah menjadi bagian, atau mendapat dukungan, dari aturan kelompok kecil tersebut. Suatu kejayaan bukanlah defenisi sebenarnya dari 'elitist'. Bahaya yang ditimbulkan oleh para elit tersebut biasanya sulit untuk diketahui oleh publik. Intelijen dari para elit tersebut biasanya cukup pandai untuk menutupi segal hal yang menyangkut elit-elit ini dari keingintahuan publik secara luas. Ketika segelintir elit ini mulai diketahui, maka mereka akan terus diawasi sehingga apa yang menopengi kekuasaan mereka selama ini menjadi tidak berguna lagi.


Jika para elit tersebut berada dalam posisi yang informal hal ini tidaklah kemudian menjamin bahwa keberadaan para elit ini menjadi tak kasat mata. Pada pertemuan dengan kelompok kecil tertentu, siapa pun yang memiliki mata yang tajam serta pendengaran yang akurat dapat dengan mudah melihat siapa yang sebenarnya mempengaruhi siapa. Anggota suatu kelompok yang berlatar belakang persahabatan akan lebih cenderung untuk terbuka dengan anggota kelompok mereka sendiri dibanding membuka relasi diluar dari anggota kelompok itu. Mereka lebih sering mendengarkan dengan penuh perhatian dan kurang sekali melakukan interupsi. Mereka biasanya bersikap ramah serta cenderung untuk mengulang-ulang point yang sebenarnya telah diungkapkan sebelumnya oleh anggota kelompok mereka yang lain. Selain itu, mereka juga nampaknya mengabaikan atau bahkan memusuhi orang-orang di luar kelompok mereka, statement dari luar tak pernah mereka pertimbangkan dalam mengambil keputusan; Namun biar bagaimanapun adalah suatu hal yang perlu untuk tetap menjaga hubungan yang baik dengan mereka. Tentu saja, batasan-batasan tersebut mungkin lebih tajam dari yang saya gambarkan sebelumnya. Terdapat nuansa interaksi di dalamnya, dan hal itu bukan merupakan sebuah 'naskah' yang telah ditulis sebelumnya. Namun hal tersebut dengan mudahnya dapat dikenali, melalui setiap efek yang ditimbulkanya. Sekali seseorang itu mengetahui siapa yang bertanggung jawab / menentukan keputusan dalam suatu kelompok, dan siapa yang mengesahkannya, maka seseorang dapat mengetahui dengan mudah siapa yang sebenarnya memegang penuh kendali atas kelompok tersebut.


Para 'elit' tersebut bukanlah semacam konspirasi. Jarang ada suatu kelompok/grup kecil yang mencoba untuk mengambil alih sekaligus menghancurkan suatu kelompok yang lebih besar. Para 'elit' tersebut tidak lebih dari suatu kelompok pertemanan yang berpartisipasi dalam aktivitas politik yang sama. Mereka mungkin akan tetap memprioritaskan pertemanan mereka, meskipun mereka tidak terlibat dalam aktivitas politik tertentu, dan begitu pula sebaliknya. Fenomena yang tidak disengaja tersebut kemudian menciptakan elit-elit tertentu dalam suatu kelompok dan hal inilah yang membuat mereka sulit untuk dihancurkan.


Fungsi dari kelompok pertemanan ini merupakan jejaring komunikasi di luar dari jalur-jalur biasa, yang ditujukan sebagai bentuk komunikasi yang mungkin ditentukan oleh kelompok itu sendiri. Jika saja tak ada jalur yang tersedia, maka fungsinya akan lebih ditekankan hanya sebagai jaringan komunikasi saja. Dan karena setiap orang di dalamnya adalah teman, yang biasanya saling sharing nilai orientasi yang sama, dan karena setiap orang di dalamnya saling berbicara serta berkonsultasi satu sama lain ketika akan menentukan sebuah keputusan yang sifatnya umum, maka individu-individu yang terlibat dalam jaringan tersebut memiliki kekuasaan melebihi individu-individu yang lain di dalam kelompok tersebut. Kelompok semacam ini sama sekali tidak membentuk semacam jaringan komunikasi melalui pertemanan yang terjalin di dalamnya.


Beberapa kelompok, tergantung kapasitas yang dimilikinya, mungkin saja mempunyai lebih dari satu jaringan komunikasi informal. Dan mungkin saja jaringan yang dimilikinya saling tumpang tindih satu sama lain. Ketika hanya satu jaringan semacam itu yang eksis, maka mereka itu adalah para 'elit', tak perduli apakah para partisipan dalam kelompok itu menginginkan keberadaannya atau tidak. Jika hanya ada jaringan semacam itu dalam kelompok tersebut (dalam hal ini kelompok yang terstruktur), maka kemungkinan untuk menjadi elit atau tidak semuanya berrgantung pada komposisi serta latar belakang dari struktur formal kelompok itu sendiri. Jika ada dua atau lebih jaringan pertemanan semacam itu, maka yang mungkin terjadi ialah persaingan demi kekuasaan dalam kelompok yang membentuk faksi semacam itu. Atau salah satunya dapat bebas memilih untuk keluar dari kompetisi tersebut dan membiarkan yang lain untuk menjadi elit. Dalam kelompok yang terstruktur, jika terdapat dua atau lebih jaringan pertemanan semacam itu, maka bentuk yang dapat terjadi adalah persaingan untuk meraih kekuasaan formal. Hal ini seringkali menjadi suatu situasi yang menyehatkan. Anggota kelompok yang lain berada dalam posisi yang menentukan bagi kedua kompetitor yang bersaing tersebut.


Semenjak suatu kelompok pergerakan membuat keputusan yang kurang kongkrit mengenai siapa yang menjalankan kekuasaan di antara mereka, maka terdapat berbagai macam kriteria yang berbeda di setiap belahan dunia. Seiring pergerakan yang berubah sepanjang waktu, membentuk suatu hubungan menjadi suatu kriteria yang tidak lagi universal bagi partisipasi yang efektif, sekalipun seluruh elit informal masih mengakui standarisasi dimana hanya wanita yang memiliki material atau karakteristik personal tertentu yang boleh ikut bergabung. Standarisasi tersebut meliputi : latar belakang kelas menengah (mengabaikan segala retorika yang berkaitan dengan kelas pekerja), sudah menikah, atau sementara hidup dan tinggal bersama seseorang, menjadi seorang lesbian atau pun berpura-pura menjadi seorang lesbian, berumur antara 20 hingga 30 tahun, memiliki latar belakang pendidikan yang bagus, termasuk orang yang 'hip', atau mungkin juga kurang begitu 'hip', memiliki garis politik tertentu atau yang teri-dentifikasi-kan sebagai radikal, memiliki karakteristik personal yang sangat feminim dan dapat dikatakan 'nice', berpakaian rapi (baik dalam gaya yang tradisional maupun tidak), dll. Ada pula beberapa karakteristik yang hampir selalu menandai seseorang (dalam suatu kelompok) sebagai seseorang 'berbeda atau istimewa' dari anggota yang lain. Hal itu antara lain : memiliki usia yang lebih tua, bekerja full time (terutama jika ia memiliki komitmen soal 'karier'), tidak memiliki karakteristik yang dapat dikatakan 'nice', dan memiliki kejelasan bahwa ia masih single (tidak aktif secara heterosexual maupun homosexual).


Masih ada beberapa karakteristik yang lainnya namun sifatnya mungkin masih terlalu umum, karakteristik tersebut akan sangat menentukan apakah seseorang itu akan berpartisipasi dalam 'elit' informal (dalam sebuah pergerakan), dan hal tersebutlah yang akan menguasai latar belakang, kepribadian, serta pola alokasi waktu seseorang. hal-hal tersebut tidak termasuk kemampuan, dedikasi bagi feminisme, talenta serta potensi kontribusi seseorang dalam suatu pergerakan. Kriteria pertama yang tadi saya sebutkan sebelumnya merupakan kriteria yang biasanya akan sangat menentukan dengan siapa seseorang itu akan memilih teman, kriteria terakhir adalah yang menentukan bentuk pergerakan atau organisasi yang akan ditempuhnya jika hal tersebut akan berjalan efektif secara politis.


Sekalipun pembedahan dari proses terbentuknya 'elit-elit' dalam kelompok-kelompok kecil ini sangat kritis secara perspektif, hal tersebut tidaklah dibuat berdasarkan keyakinan bahwa struktur informal tersebut adalah buruk sama sekali- sulit untuk dihindari. Setiap group / kelompok yang menciptakan struktur informal dalam kelompoknya tak lain merupakan hasil dari pola interaksi di antara anggota kelompok itu sendiri. Struktur informal semacam itu dapat melakukan berbagai hal yang sangat berguna. Namun hanya kelompok yang tak terstruktur yang secara total dapat dikuasai oleh mereka. Ketika 'elit-elit' informal ini dikombinasikan dengan mitos 'tanpa struktur', maka dapat dipastikan takkan pernah ada usaha untuk membatasi penggunaan kekuasaan. Segala hal yang tak terduga dapat saja terjadi di dalamnya.


Hal ini sangat potensial untuk mendatangkan dua konsekuensi negatif yang perlu kita waspadai. Yang pertama ialah bahwa struktur informal yang mengambil keputusan akan menjadi seperti sebuah perkumpulan wanita-wanita berpendidikan tinggi : suatu kondisi dimana seseorang akan mendengarkan yang lain hanya karena mereka menyukainya, bukan karena orang tersebut telah mengatakan sesuatu yang sangat berarti bagi mereka. Hal ini mungkin tidak menjadi suatu masalah ketika pergerakan kelompok tersebut tidak melakukan suatu aktivitas yang berarti. Namun jika tujuan pembentukan kelompok tersebut mengharapkan perkembangan yang lebih jauh dari hanya sekedar tahap permulaan, maka kelompok tersebut mesti mengubah trend ini. Yang kedua ialah bahwa struktur informal sama sekali tidak memiliki kesepakatan untuk bertanggung jawab bagi kelompok (group) secara luas. Kekuasaan mereka (elit-elit dalam struktur informal) tidaklah diberikan secara sukarela bagi mereka ; namun juga tak bisa diambil alih kembali. Pengaruh yang mereka miliki tidaklah berdasarkan pada apa yang telah mereka perbuat bagi kelompok mereka ; oleh karena itu mereka tidak dapat secara langsung diarahkan oleh kelompok mereka sendiri. Hal ini tidak begitu saja membuat struktur informal tersebut dapat dipersalahkan. Orang-orang yang peduli terhadap kelestarian dari pengaruh yang mereka miliki biasanya akan mencoba untuk bertanggung jawab. Sederhananya, kelompok tersebut tidak dapat memaksakan pertanggung jawaban semacam itu ; hal tersebut bergantung pada ketertarikan dari para 'elit' itu sendiri.

Sistem 'Bintang'


Ide mengenai 'tanpa struktur' telah menciptakan suatu sistem 'bintang'. Kita hidup dalam suatu masyarakat yang mengharapkan suatu kelompok politik yang dapat membuat keputusan serta memilih individu-individu tertentu untuk mengartikulasikan keputusan-keputusan tersebut ke masyarakat secara luas. Pers dan publik tidak mengetahui bagaimana mendengarkan secara serius, wanita secara individu sebagaimana layaknya wanita seutuhnya. Mereka (publik dan pers) lebih ingin mengetahui bagaimanakah perasaan yang dirasakan oleh kelompok itu sendiri. Selama ini, hanya tiga teknik yang pernah dibentuk untuk memperkenalkan opini suatu kelompok secara massif : voting atau referendum, survey terhadap opini publik yang dilakukan dengan cara memberikan berbagai pertanyaan serta seleksi kelompok melalui pertemuan yang dihadiri oleh juru bicara masing-masing kelompok. Gerakan pembebasan perempuan tidak sedikit pun menggunakan ketiga teknik tersebut untuk mengkomunikasikan kelompok mereka kepada publik. Baik itu pergerakannya secara keseluruhan ataupun sel-sel kecil yang ada di dalam kelompok itu, tidak satu pun yang pernah menjelaskan bagaimana posisi mereka sebenarnya dalam menghadapi setiap isu yang sedang berkembang. Publik semata-mata hanya dikondisikan untuk melihat juru bicaranya saja.


Ketika kelompok tersebut menyadari bahwa mereka sama sekali tidak memilih seorang juru bicara, maka gerakan tersebut telah menyebabkan banyak wanita menjadi sorotan publik dengan berbagai alasan yang berbeda-beda. Wanita-wanita ini sama sekali tidak merepresentasikan kelompok tertentu maupun membawa opini yang mewakili kelompok mereka ; dan mereka tentu menyadari serta mengakui hal ini. Namun karena tidak memiliki juru bicara resmi atau pun pembuat keputusan maka pers dapat saja langsung menginterview mereka untuk mengetahui posisi gerakan mereka secara subjektif. Jadi, apakah hal tersebut dikehendaki atau tidak, apakah gerakan yang mereka bangun menyukai hal tersebut, wanita-wanita itu dengan sendirinya telah berada dalam lingkaran yang memposisikan mereka sebagai juru bicara.


Inilah sumber yang mengikat dan seringkali dirasakan oleh para wanita yang terlabelkan sebagai 'bintang'. Sebab mereka tidak ditunjuk oleh para wanita dalam pergerakan itu untuk merepresentasikan pandangan dari gerakan mereka, mereka marah ketika pers mengira bahwa mereka berbicara bagi pergerakan....jadi reaksi keras atas sistem 'bintang', berkaitan dengan efeknya, menganjurkan semacam penolakan atas rasa tanggung tanggung jawa secara individual yang selama ini mati-matian dikutuk oleh kelompok tersebut. Dengan mengeluarkan wanita-wanita yang teridentifikasikan sebagai 'bintang', maka gerakan tersebut akan menghilangkan sesuatu yang selama ini mengendalikan setiap orang yang ada dalam kelompok tersebut, dan individu-individu yang telah dikeluarkan ini akan dapat lebih leluasa untuk mengakui setiap kesalahan yang selama ini telah mereka lakukan.

Impotensi Secara Politis


Kelompok tanpa struktur mungkin dapat secara efektif menemukan wanita yang bersedia menceritakan segala hal yang menyangkut kehidupan mereka. Terus bertahan dalam kondisi demikian terus menerus, tentu saja juga sangatlah tidak bagus jika memperhitungkan tahapan selanjutnya. Kalau terjadi perubahan pada mekanisme operasi, kelompok tersebut akan terjerumus pada titik dimana setiap orang akan merasa lelah dengan hanya terus 'berbicara' dan pastinya mereka ingin melakukan sesuatu yang lebih daripada itu. Karena besarnya pergerakan yang ada di hampir seluruh kota besar dimana hampir secara keseluruhan dari kelompok tersebut juga 'tak memiliki struktur' sama sekali sebagaimana halnya dengan kelompok-kelompok kritis yang sifatnya masih individual, hal itu tidak banyak membawa efektifitas yang berarti dibandingkan dengan kelompok-kelompok yang terpisah namun menangani kerja-kerja yang jauh lebih spesifik. Struktur informalnya jarang sekali bersentuhan secara langsung dengan masyarakat agar dapat beroperasi dengan lebih efektif. Maka pergerakan tersebut melakukan banyak gerak dan beberapa di antaranya membawa hasil. Akan tetapi sayangnya, konsekuensi dari semua gerak ini tidak membawa hasil yang cukup merugikan sama sekali, dan korbannya justru adalah pergerakan itu sendiri.


Beberapa kelompok beralih untuk menangani proyek-proyek (aksi) yang sifatnya lokal, jika kelompok mereka tidak banyak melibatkan orang, dan beraktivitas dalam skala yang lebih kecil. Namun bentuk ini membatasi aktivitas pergerakan pada tingkatan lokal. Hal itu tidak dapat dilakukan pada level regional atau pun nasional. Selain itu, agar dapat berfungsi dengan baik, kelompok tersebut biasanya mesti mereduksi diri mereka hingga terkesan selucu mungkin bagi kelompok informal lain yang telah melakukan banyak kemajuan yang signifikan. Hal ini makin mengurangi jumlah para perempuan yang ingin berpartisipasi. Selama jalan satu-satunya yang dapat ditempuh oleh para perempuan tersebut untuk berpartisipasi adalah dengan masuk menjadi anggota kelompok kecil tersebut, maka yang ada hanyalah perasaan ketidaknyamanan (bersama orang lain) yang tentu saja makin membuat segalanya menjadi lebih buruk lagi. Selama sebuah grup/kelompok hanya mengandalkan persahabatan (relasi pertemanan) sebagai dasar bagi segala aktivitas kelompoknya, maka sejauh itu pula elitisme menjadi makin ter-institusionalisasikan.


Bagi kelompok yang tak dapat menemukan project lokal untuk dikerjakan, maka satu-satunya alasan yang membuat mereka tetap bersama hanya dikarenakan masih adanya aksi bersama yang dapat dilakukan secara bersama-sama. Ketika suatu kelompok tak memiliki aktivitas-aktivitas yang spesifik sama sekali (atau untuk sekedar membangkitkan kesadaran bagi kelompoknya sendiri), maka orang-orang yang terlibat dalam kelompok tersebut akan berbalik -dan mencurahkan energi yang dimilikinya -untuk mengontrol individu-individu lain yang juga berada dalam kelompok tersebut. Hal ini biasanya terjadi diluar dari maksud untuk menyakiti orang lain demi memanipulasi yang lainnya (walaupun seringkali ada indikasi yang demikian) namun ini lebih disebabkan kurangnya hal-hal yang bisa dilakukan dengan talenta yang mereka miliki. Dengan waktu yang dimiliki serta kebutuhan akan suatu justifikasi tertentu, kedua hal ini secara bersamaan mengubah setiap usaha keras mereka menjadi sebuah kontrol personal, menghabiskan waktu setiap individu untuk hanya mengkritisi kepribadian individu lain yang juga berada dalam kelompok yang sama. persaingan serta permainan kekuasaan menjadi kondisi tak terelakkan dalam keseharian kelompok tersebut. Ketika kelompok tersebut terlibat dalam aktivitas-aktivitas tertentu, orang-orang akan belajar untuk berbaur dengan yang lain dan akan mempertimbangkan kembali mengenai ketidaksukaan mereka secara personal sebelum melangkah untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Terdapat batasan-batasan tertentu yang mengambang pada permukaan yang membatasi usaha keras dari setiap individu (dalam kelompok tersebut) untuk melakukan sesuatu.


Akhir dari 'kebangkitan kesadaran' tersebut menempatkan setiap orang dalam kondisi yang kehilangan arah dan dengan kurangnya struktur, hal ini membuat mereka seolah tak menemukan jalan keluar dari kondisi tersebut. Wanita yang terlibat dalam pergerakan tersebut kemudian cenderung untuk menyibukkan diri dengan urusan mereka masing-masing atau mencari alternatif-alternatif bentuk aksi yang lain. Terdapat bebarapa alternatif yang mungkin dilakukan oleh para wanita tersebut. Beberapa wanita biasanya lebih memilih untuk 'meyibukkan diri dengan urusan mereka masing-masing'. Hal ini dapat mengantarkan mereka menuju pada kebutuhan untuk mencurahkan kreativitas individual mereka, hal ini tentu saja akan sangat berguna bagi suatu pergerakan, tapi belum dapat menjadi alternatif terbaik bagi para wanita tersebut untuk dapat dengan leluasa melakukan aktivitas yang mereka kehendaki dan tentu saja hal ini tak dapat membantu untuk membangun semangat kooperatif dari kelompok tersebut. Wanita yang lain beralih ke suatu hal yang berbeda dari pergerakan lebih disebabkan karena mereka tidak memiliki keinginan untuk membangun suatu project yang sifatnya individual dan mereka pun sama sekali tidak menemukan jalan untuk bergabung atau memulai sebuah project yang menarik perhatian mereka.


Banyak di antara mereka yang kemudian beralih ke suatu organisasi politik yang lain agar dapat memenuhi tuntutan mereka akan suatu aktivitas terstruktur serta efektif yang selama ini tidak dapat mereka temukan dalam pergerakan perempuan (kelompok mereka sebelumnya).


Dengan demikian, organisasi politik tersebut-yang selama ini memandang pembebasan perempuan hanya salah satu isu diantara banyak isu yang lainnya- menemukan bahwa pergerakan perempuan tersebut sebagai lahan luas untuk melakukan perekrutan bagi anggota-anggota baru. Organisasi semacam itu sama sekali tidak memerlukan 'infiltrasi' (sekalipun hal ini merupakan hal yang tak terhindarkan sama sekali). Keinginan untuk melakukan suatu aktivitas politis yang lebih berarti semakin menguat dalam diri wanita tersebut seiring dengan bergabungnya mereka dalam suatu kelompok pergerakan pembebasan perempuan yang ternyata belumlah cukup untuk membuat mereka benar-benar menginginkan untuk bergabung dengan orgnisasi yang lain. Pergerakan itu sendiri sama sekali tidak menyediakan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan segala ide dan energi yang mereka miliki.


Para wanita yang bergabung dengan organisasi politik yang lain dan juga masih tetap tergabung dalam kelompok gerakan pembebasan perempuan, atau pun sebaliknya, pada gilirannya kemudian menjadi semacam struktur pendukung bagi suatu struktur informal yang baru. Jaringan persahabatan semacam ini lebih didasarkan pada kesamaan politik non-feminis mereka dibanding berbagai karakteristik yang telah didiskusikan pada bagian yang paling awal tadi ; namun bagaimanapun, jaringan tersebut lebih banyak berjalan pada jalan yang sama. Karena para wanita ini saling berbagi nilai-nilai, ide serta orientasi politik yang sama, mereka kemudian menjadi terlalu informal, tanpa perencanaan, serta menjadi elite-elite yang tak bertanggung jawab-terlepas dari apakah mereka memutuskan untuk menjadi demikian atau tidak.


Para elite informal baru ini seringkali dianggap sebagai orang-orang yang diperlakukan dengan buruk oleh para elit yang sebelumnya dari kelompok pergerakan yang berbeda. Dan memang tak ada yang salah dengan persepsi tersebut. Orientasi politik dari jaringan semacam itu memang tidaklah selalu berkeinginan untuk hanya sekedar menjadi 'kelompok wanita terpelajar' seperti yang banyak terjadi sebelumnya, serta membuat setiap orang agar mengadopsi pandangan politik mereka sesuai dengan ide-ide feminisme yang selama ini mereka yakini. Ini merupakan hal yang alamiah, namun implikasinya bagi pergerakan pembebasan kaum perempuan masih sangat jarang didiskusikan. Para elit yang lama tidak menghendaki untuk membawa berbagai opini yang berbeda tersebut secara terbuka karena itu sama saja dengan mengekspos keadaan struktur informal kelompok mereka. Banyak di antara para elit ini yang bersembunyi di balik banner 'anti-elitisme' dan 'tanpa struktur'. Untuk menghadapi kompetisi dari struktur informal lainnya, maka mereka perlu untuk lebih 'terbuka' dan kemungkinan ini memang dipenuhi oleh berbagai implikasi yang membahayakan. Jadi, untuk menjaga tatanan kekuasaan mereka, maka hal yang paling rasional bagi mereka (para elit) ialah dengan menutup jalan bagi anggota dari struktur informal lainnya, hal tersebut dilakukan dengan menjatuhkan kelompok-kelompok tertentu seperti kelompok merah, reformis, menjatuhkan kelompok lesbian, menjelek-jelekkan secara langsung mereka yang dianggapnya sebagai ancaman.satu-satunya alternatif ialah dengan memformalkan struktur dari kelompok tersebut dengan cara yang telah ter-institusionalkan sebelumnya. Hal ini tidak selalu mungkin untuk dilakukan. Jika elit-elit informal ini terstruktur dengan baik serta memiliki sejumlah pengalaman yang mengisyaratkan kekuatan yang mereka miliki, hal ini mungkin saja dapat dilakukan. Kelompok seperti ini memiliki sejarah ke-efektif-an secara politik di masa lalu. Seperti soal ketatnya elit-elit informal yang telah membuktikan dengan baik soal substitusi bagi struktur informal.


Dengan terstrukturnya kelompok tersebut tidak berarti bahwa operasi mereka pun turut berubah. Walaupun institusionalisasi dari kekuasaan masing-masing struktur tidak secara formal membuka diri terhadap berbagai tantangan yang ada. Namun justru kelompok yang berada dalam ikatan struktur yang kuatlah yang pada akhirnya memiliki sejumlah kapabilitas untuk menciptakan keberhasilan. Struktur informal selama ini belum cukup baik dalam membentuk keyakinan terhadap ideologi 'tanpa struktur', makin tak terstruktur suatu kelompok maka makin berkurang pula kualitas dari struktur informal kelompok tersebut; makin bertumbuhnya patronase terhadap ideologi 'tanpa struktur', maka makin terbuka pula kemungkinan dari kelompok tersebut untuk diambilalih oleh kelompok lain yang berbeda orientasi politik. Saat suatu kelompok / group secara keseluruhan hanyalah berupa kelompok yang tak terstruktur seperti halnya kelompok konstituen-nya, maka secara tidak langsung hal tersebut akan turut berpengaruh kelompok lain (kelompok yang strukturnya berbeda). Namun fenomena tersebut termanifestasikan dengan sendirinya dengan cara yang juga berbeda. Pada tingkatan lokal, hampir seluruh kelompok dapat beroperasi secara otonom, akan tetapi untuk terorganisir secara nasional, kelompok tersebut mesti mampu merorganisir aktivitas secara nasional pula. Maka yang sering terjadi adalah organisasi feminis yang terstruktur saja yang mengarahkan segala aktivitas nasional kelompok feminis tersebut, dan arahan ini tentu saja berdasarkan pada prioritas dari kelompok feminis yang terstruktur itu. Kelompok yang berpola semacam itu antara lain seperti NOW dan WEAL serta beberapa kelompok feminis leftist lainnya, hanya kelompok-kelompok inilah yang memiliki kapabilitas untuk meningkatkan intensitas kampanye-kampanye yang sifatnya nasional. Gelombang dari kelompok pembebasan perempuan yang 'tanpa struktur' tersebut dapat memilih apakah mereka akan mendukung atau tidak mendukung kampanye nasional tersebut, namun mereka tetap saja takkan mampu untuk meningkatkan intensitas dari gerakan kelompok mereka sendiri. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian anggota dari kelompok 'tanpa struktur' tersebut kemudian menjadi orang-orang yang berada dibawah kendali kepemimpinan dari kelompok yang berstruktur. Mereka juga bahkan tak mampu untuk memutuskan jalan yang menjadi prioritas mereka.


Semakin tak terstruktur sebuah gerakan, maka makin berkurang pula kontrol gerakan itu terhadap arah serta bentuk gerakan-gerakan yang hendak dibangun oleh kelompok itu sendiri. Hal ini tidaklah berarti bahwa ide-ide yang mereka bangun tidak menyebar luas. Dengan sejumlah daya tarik yang menarik bagi media serta kecocokan terhadap kondisi sosial yang terjadi, maka ide-ide yang dibangun pun masih dapat menyebar secara luas. Akan tetapi menyebarluasnya ide-ide tersebut tidak berarti bahwa ide-ide tersebut berhasil diimplementasikan, hal itu hanya mengartikan bahwa ide-ide tersebut hanyalah sekedar menjadi bahan pembicaraan saja. Selama ide-ide itu dapat diaplikasikan secara individu maka ide-ide tersebut dapat saja terimplementasikan melalui aksi, demikian pula sebaliknya, jika ide-ide tersebut masih membutuhkan kekuatan politik yang terkoordinasi maka ide-ide yang berhasil dibangun tersebut mungkin saja gagal untuk diimplementasikan ke dalam berbagai bentuk aksi.


Selama gerakan-gerakan feminis tetap mendedikasikan dirinya ke dalam bentuk organisasi yang ditekan sedemikian kecilnya, dengan kelompok diskusi yang non-aktif, maka permasalahan yang berkaitan dengan ketiadaan struktur tersebut takkan pernah dapat disadari. Namun style organisasi semacam ini memiliki batasannya sendiri ; secara politis, hal tersebut tidak akan membawa efek yang positif, sangat eksklusif dan diskriminatif bagi mereka (para wanita) yang tak dapat terikat ke dalam jaringan pertemanan tersebut. Orang-orang yang tidak masuk dalam kelompok dikarenakan berbagai sebab yang berkaitan dengan kelas, ras, pekerjaan, status orang tua maupun pernikahan, serta kepribadian akan dengan sendirinya menghilangkan minat mereka untuk turut berpartisipasi. Mereka yang tidak diikutkan dalam kelompok tersebut akan membentuk pula ketertarikan untuk menangani permasalahan yang ada sesuai dengan kehendak mereka sendiri.


Kelompok informal yang merasa tertarik akan hak-hak mereka akan memperoleh dukungan dari struktur informal yang telah eksis sebelumnya, dan gerakan ini akan tak memiliki jalan untuk menentukan siapa yang berhak untuk menjalankan kuasa dalam kelompok tersebut. Jika gerakan tersebut terus menerus memutuskan untuk tidak memilih siapa yang berhak untuk memegang kuasa, maka dengan sendirinya hal ini sama sekali tidaklah menghapuskan kekuasaan. Semua hal ini justru mengabaikan hak untuk menuntut rasa tanggung jawab atas mereka yang menjalankan kekuasaan dan memberi pengaruh untuk menjalankan hal tersebut. Jika suatu pergerakan terus menerus memelihara agar kekuasaan terus menerus ditekan seminimal mungkin (dalam hal intensitasnya) dengan alasan karena tidak adanya kondisi yang dapat menjamin rasa tanggung jawab seseorang yang memiliki kekuasaan tersebut, hal ini memang dapat mencegah kelompok atau individu tertentu untuk mendominasi secara total. Namun hal ini pun secara simultan justru menjamin bahwa gerakan tersebut makin tidak membawa hasil yang signifikan. Sebuah batasan antara dominasi dan ketidakefektifan memang membutuhkan kejelasan.


Masalah ini memang makin muncul ke permukaan pada saat ini, hal ini disebabkan karena kondisi pergerakan yang memang pasti akan mengalami perubahan. Dorongan untuk 'membangkitkan kesadaran', sebagai salah satu fungsi utama dari gerakan pembebasan perempuan (gerakan feminis) kini perlahan mulai ditinggalkan. Dengan makin intensnya publikasi pers pada dua tahun terakhir serta banyaknya judul buku maupun artikel yang telah disirkulasikan, kebebasan bagi kaum wanita kini telah menjadi isu yang beredar sangat luas. Isu tersebut telah menjadi topik diskusi yang hangat dipebincangkan dan beberapa kelompok kritis yang sifatnya informal telah dibentuk oleh orang-orang yang sebenarnya tak memiliki koneksi khusus dengan gerakan-gerakan manapun sebelumnya. Hasil-hasil kerja edukasi yang murni kini tidak lagi menjadi kebutuhan yang perlu penekanan yang khusus. Suatu pergerakan sangat perlu untuk melangkah ke aktifitas-aktifitas yang lain. Saatnya bagi gerakan tersebut untuk mulai menata hal-hal yang menjadi priritas mereka, mengartikulasikan goal yang ingin mereka raih serta mengejar sasaran objektif mereka dengan cara yang lebih terkoordinasi. Untuk mewujudkan hal ini maka gerakan tersebut sangat perlu untuk mengorganisasikannya secara lokal,regional serta nasional.


Prinsip-prinsip Strukturisasi yang Lebih Demokratik


Pada saat suatu pergerakan tidak lagi memegang teguh sepenuhnya ideologi 'tanpa struktur', maka pergerakan itu akan dapat lebih bebas dalam membangun bentuk organisasi yang paling cocok dengan kebutuhan gerakan itu sendiri (dapat berfungsi dengan sehat). Hal ini tidak berarti bahwa kita perlu untuk melangkah ke hal yang paling ekstrim dan meniru secara buta bentuk-bentuk organisasi tradisional. Tetapi tanpa harus menolak semuanya secara buta pula. Beberapa teknik-teknik dengan polanya yang tradisional mungkin dapat juga berguna walaupun masih membutuhkan penyempurnaan lagi ; beberapa teknik tersebut mungkin dapat memberi kita sudut pandang berbeda mengenai beberapa hal yang perlu dilakukan untuk memperoleh capaian-capaian tertentu dengan cost yang dapat diminimalkan bagi setiap individual yang terlibat dalam pergerakan tersebut. Seringkali kita perlu untuk bereksperimen dengan type struktur yang berbeda dan membentuk teknik-teknik yang bervariasi untuk dipraktekkan pada situasi yang berbeda. 'lot system' merupakan salah satu ide yang telah banyak dikenal dari pergerakan saat ini. Ide tersebut memang tak dapat dipraktekkan pada setiap situasi, namun dapat saja berguna pada situasi-situasi tertentu. Ide-ide lain yang berkaitan dengan strukturisasi sangatlah dibutuhkan. Tetapi sebelum kita mempraktekkannya terlebih dahulu kita perlu menerima ide bahwa tak ada sesuatu yang buruk mengenai struktur itu sendiri – hanya pada praktek-praktek yang lebih mudah diterima penggunaannya.


Sementara bergulat dengan berbagai eksperimentasi serta proses pembelajaran dari berbagai kesalahan, terdapat berbagai prinsip yang perlu kita ingat bahwa hal esensial dari struktur demokratik serta efektifitas secara politik ialah:

  • Delegasi dari otoritas yang lebih spesifik bagi individu-individu tertentu untuk tugas / aktivitas yang juga spesifik. Membolehkan setiap orang untuk mengambil asumsi bagi kerja-kerja atau tugas sesuai dengan pilihan-pilihan yang tersedia justru dapat mengartikan bahwa tugas-tugas tersebut tidak dilakukan sesuai yang diharapkan. Jika orang-orang dipilih untuk melakukan tugas tertentu, terlebih setelah mengekspresikan ketertarikan ataupun keinginanuntuk melakukannya, mereka telah membuat komitmen untuk sungguh-sungguh melakukannya yang sama sekali tidak bisa diabaikan oleh mereka.

  • Dibutuhkan otoritas tertentu yang telah didelegasikan untuk bertanggung jawab atas mereka yang telah memilih orang tersebut.

  • Pendistribusian otoritas di antara banyak orang dengan alasan yang tentunya dapat diterima oleh setiap orang. Hal ini untuk mencegah terjadinya monopoli atas kekuasaan dan hal ini membutuhkan orang yang memiliki posisi dalam otoritas tertentu untuk mengkonsultasikannya kepada banyak orang dalam proses pengerjaannya.

  • Rotasi setiap tugas / aktivitas diantara individu-individu yang lain. Tanggung jawab yang dipikul terlalu lama oleh seseorang, secara informal maupun formal, akan mulai dilihat sebagai suatu 'properti' bagi seseorang dan akan menjadi sulit bagi individu tersebut untuk menerima kontrol maupun dikontrol oleh kelompok / group. Berbeda jika tugas-tugas tersebut mengalami rotasi yang terlalu sering, hal ini pun dapat menyebabkan individu tersebut tidak memiliki cukup waktu untuk mempelajarinya atau pun membentuk rasa kepuasan dalam melakukan tugas tersebut.

  • Pengalokasian tugas melalui kriteria-kriteria yang rasional. Memilih seseorang untuk posisi tertentu karena individu tersebut disenangi oleh kelompok atau memberikan individu-individu tersebut kerja yang sulit karena mereka tidak disukai oleh kelompok tersebut, dalam jangka panjang justru tidak membawa hasil yang signifikan bagi kelompok maupun individu-individu yang terlibat di dalamnya. Kemampuan, ketertarikan, serta rasa tanggung jawab perlu menjadi perhatian utama untuk melakukan seleksi semacam itu. Setiap orang perlu diberi kesempatan untuk mempelajari skill yang belum mereka miliki, namun hal ini hanya dapat dilakukan melalui semacam program pembelajaran skill tertentu daripada hanya sekedar melalui metode 'sink or swim'.rasa tanggung jawab yang dipikul oleh orang tak dapat meng-handle-nya dengan baik akan membawa efek yang mendemoralisasikan individu-individu yang lain, sebaliknya, dengan me-labelhitam-kan seseorang juga tidak akan turut membantu dalam membangun kepercayaan diri seseorang dalam mempelajari skill-skill tertentu. Sepanjang sejarah manusia, wanita telah dipaksa sedemikian rupa untuk menjadi lebih kompeten- dan pergerakan saat ini tidak perlu lagi untuk mengulangi hal ini.

  • Pen-difusi-an informasi pada setiap orang serutin mungkin. Informasi adalah kekuatan. Akses yang terbuka terhadap informasi akan memperbesar kekuatan seseorang. Ketika jaringan informal menyebarkan ide-ide baru serta informasi yang beredear diantara mereka kepada setiap orang yang berada di luar kelompok tersebut, maka mereka telah melakukan suatu proses pembentukan opini-tanpa partisipasi dari group itu. Semakin seseorang itu mengetahui bagaimana segalanya itu dapat berlangsung, maka makin efektif pula orang tersebut (secara politis).

  • Akses yang sama terhadap sumber-sumber yang dibutuhkan oleh kelompok / group. Hal ini tidak selalu dapat terjadi sesempurna mungkin, namun sangat perlu untuk diusahakan. Anggota group yang memonopoli secara berlebih segala sumber yang dibutuhkan (misalnya berbagai terbitan tertentu) akan menginspirasi secara tak wajar atas penggunaan dari berbagai sumber tersebut. Skill maupun informasi juga merupakan sumberdaya. Skill individu maupun informasi yang dimiliki oleh kelompok / group adalah sangat beralasan untuk diakses hanya ketika anggota dalam group tersebut memiliki keinginan untuk membaginya kepada yang lain.

Ketika prinsip-prinsip ini diaplikasikan, maka prinsip tersebut menjamin bahwa apapun struktur yang dibentuk oleh kelompok tersebut akan dikontrol dan dipertanggungjawabkan sendiri oleh kelompok tersebut. Kelompok dari orang-orang yang memiliki posisi ototritas yang berbeda-beda akan menyebar luas dan merata, fleksibel, terbuka dan bersifat temporer. Mereka tidak akan dikondisikan untuk berada dalam posisi yang amat mudah untuk menginstitusionalkan kekuasaan yang mereka miliki karena keputusan terpenting akan dihasilkan oleh kelompok/group itu secara keseluruhan. Kelompok tersebut akan memiliki kekuatan untuk menentukan siapakah yang berhak untuk mengemban otoritas didalamnya.


* * *


Artikel ini ditulis pertama kali Jo Freeman pada tahun 1970, sebagai respon atas gejala umum pada gerakan pembebasan perempuan di era 60-an. Jo Freeman, aktifis yang terlibat di jaman tersebut, mengkritik ‘ke-tanpa struktur-an’ yang merupakan sebuah bentuk yang diserap dan menjadi kecenderungan gerakan pada waktu itu.

Meski berpangkal pada gerakan pembebasan perempuan, kritik Freeman masih relevan dikaji sebagai landasan praksis gerakan anti-otoritarian. Terutama poin-poin rekomendasi yang dikemukakan Freeman sebagai metode penstrukturan gerakan radikal yang demokratis.

Banyak respon akan tulisan ini, dan sebagai respon atas tulisan ini, Leoh Siangj di kemudian hari menulis ‘Tirani atas Tirani’ yang sangat konstruktif untuk. Versi yang diterjemahkan ini diambil dari versi terakhir sebagai makalah dalam konferensi Southern Female Rights Union di Missisipi bulan Mei 1970.