Leila Al Shami
Warisan Omar Aziz
Membangun komune-komune otonom yang memerintah diri mereka sendiri (swakelola) di Suriah
“Revolusi adalah peristiwa luar biasa yang akan mengubah sejarah masyarakat, sekaligus mengubah kemanusiaan itu sendiri. Ia adalah sebuah patahan dalam waktu dan ruang, di mana manusia hidup di antara dua periode: periode kekuasaan dan periode revolusi. Namun kemenangan revolusi, pada akhirnya, adalah mencapai kemandirian waktunya sendiri agar dapat bergerak menuju era baru.”
—Omar Aziz [1]
Omar Aziz sudah berusia enam puluhan ketika ia kembali ke Suriah pada 2011. Sebelumnya ia bekerja di sebuah perusahaan teknologi informasi di Arab Saudi, tetapi ia ingin ikut serta dalam pemberontakan yang berkecamuk melawan diktator keluarga Assad yang sudah berlangsung empat dekade. Bersama aktivis lain, Aziz mulai menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada keluarga-keluarga pengungsi dari pinggiran Damaskus yang diserang rezim. Ia terinspirasi oleh protes yang terus berlanjut di bawah hujan peluru dan tank rezim, namun ia percaya bahwa demonstrasi saja tidak cukup untuk mematahkan dominasi rezim, dan bahwa aktivitas revolusioner harus meresap ke seluruh aspek kehidupan orang-orang.
Sebelum penangkapannya pada 20 November 2012 dan kematiannya di penjara pada Februari 2013, ia mempromosikan pemerintahan swakelola lokal, organisasi horizontal, kerja sama, solidaritas, dan mutual aids sebagai cara agar orang-orang dapat membebaskan diri dari tirani negara.
Menulis pada bulan kedelapan revolusi—ketika protes sebagian besar masih damai dan komunitas masih hidup di bawah otoritas negara—ia berargumen bahwa “gerakan revolusioner tetap terpisah dari aktivitas manusia sehari-hari.” Ia melanjutkan: “ada ‘pembagian kerja sehari-hari’ antara aktivitas harian dan aktivitas revolusioner.” Risikonya terletak “pada ketiadaan korelasi/keterhubungan antara ranah kehidupan sehari-hari dan revolusi itu sendiri.” [2]
Aziz menganjurkan pembentukan dewan-dewan lokal untuk mempersempit jurang ini. Dalam visinya, dewan-dewan yang terdiri dari relawan berpengalaman di berbagai bidang dan harus memikul sejumlah tanggung jawab: mencari rumah aman bagi para pengungsi, mengorganisir dukungan bagi para tahanan di penjara-penjara rezim, serta memberikan dukungan kepada keluarga mereka. Aziz juga percaya bahwa peran dewan adalah memajukan solidaritas dan kerja sama antarmanusia dengan menyediakan forum tempat orang-orang dapat secara kolektif menemukan solusi atas masalah yang mereka hadapi, serta membangun hubungan horizontal antar-dewan di wilayah yang berbeda.
Ia berargumen bahwa dewan-dewan juga harus mengoordinasikan perlawanan terhadap pengambilalihan tanah yang dilakukan oleh negara di kota-kota dan pinggiran kota, serta pengusiran warga dari rumah mereka yang kemudian dijadikan zona hunian aman bagi para pejabat pemerintah dan perwira militer, area perbelanjaan, dan proyek-proyek bisnis lainnya demi mengakomodasi kaum kaya.
Beberapa bulan kemudian, Aziz menulis makalah kedua. [3] Situasi di Suriah berubah cepat. Respons brutal negara terhadap gerakan protes mendorong revolusi menjadi termiliterisasi karena orang-orang mengangkat senjata untuk membela diri. Dan wilayah-wilayah mulai terbebaskan. Pengorganisiran komunitas yang menggerakkan pemberontakan—seperti menyusun paket keranjang makanan dan mengubah rumah menjadi rumah sakit lapangan—menginspirasinya. Tindakan seperti itu, menurutnya, menunjukkan “semangat perlawanan rakyat Suriah terhadap kebrutalan rezim, pembunuhan sistematis, dan penghancuran komunitas.” Ia menjelaskan bagaimana para aktivis membentuk komite koordinasi pada awal revolusi untuk mengorganisir peliputan media, mendokumentasikan kegiatan, dan mencatat pelanggaran yang dilakukan rezim, lalu berkembang mencakup bantuan darurat dan layanan medis. Ia percaya relasi-relasi baru sedang terbentuk yang memungkinkan orang-orang melepaskan diri dari dominasi negara, dan ia melihatnya sebagai bukti transformasi yang terjadi dalam hubungan sosial dan nilai-nilai. Bagi Aziz, kemandirian inilah jalan sejati menuju pembebasan.
Menurut Muhammed Sami Al Kayyal, salah satu kawan Aziz, “Omar Aziz berdiri untuk pembongkaran total negara demi mencapai pembebasan kolektif tanpa menunggu perubahan rezim atau satu penguasa baru yang menggantikan yang lain. Ia percaya komunitas mampu memproduksi kebebasan mereka sendiri terlepas dari naik-turunnya situasi politik.” [4] Aziz menyadari bahwa masa revolusi adalah momen ketika rakyat sendiri harus mengklaim otonomi dan menempatkan sebanyak mungkin program alternatif. Ia kembali menyerukan pembentukan dewan-dewan lokal, kali ini menyoroti peran tambahan seperti koordinasi dengan kegiatan bantuan, komite medis, dan inisiatif pendidikan. Ia percaya bahwa dengan membangun komune-komune otonom yang memerintah diri mereka sendiri (swakelola) di seluruh Suriah—terhubung melalui jejaring kerja sama dan bantuan timbal balik, berorganisasi secara independen dari negara—sebuah revolusi sosial dapat dimulai (bentuk politik prefiguratif).
Omar Aziz membantu mendirikan empat dewan lokal di pinggiran Damaskus yang berpenduduk kelas pekerja sebelum penangkapannya. Salah satunya berada di kota Daraya yang mayoritas berkarakter pertanian. Kota ini memiliki sejarah perlawanan sipil non-kekerasan yang sudah ada sebelum revolusi, dengan akar religius, bukan sekuler. [5] Para aktivisnya mengikuti tradisi cendekiawan Islam liberal Jawdat Said (1931–), yang menyerukan pembangkangan sipil non-kekerasan, demokrasi, dan hak-hak perempuan serta minoritas.
Di Daraya, para pemuda dan pemudi telah mengorganisir kampanye anti-korupsi serta protes terhadap invasi Israel ke kamp pengungsi Jenin pada 2002 dan invasi AS ke Irak pada 2003. Protes ini—yang dengan berani diadakan tanpa izin rezim di sebuah negara polisi Suriah—membuat beberapa aktivis dipenjara.
Ketika revolusi meletus pada 2011, kaum muda Daraya dari latar Muslim dan Kristen turun ke jalan menuntut demokrasi dan jatuhnya rezim. Mereka membawa bunga sebagai simbol damai di hadapan tentara yang dikirim untuk menembaki mereka. Banyak yang ditangkap, ditahan, dan disiksa. Pada Agustus 2012, kota itu mengalami pembantaian mengerikan; ratusan laki-laki, perempuan, dan anak-anak disembelih oleh pasukan rezim. Kebrutalan ini justru meningkatkan tekad perlawanan. Tiga bulan kemudian, rezim terusir oleh warga lokal yang mengangkat senjata untuk membela diri. Kini kota sepenuhnya berada di tangan penduduknya, dan komune Daraya pun lahir.
Sebuah Dewan Lokal dibentuk pada 17 Oktober 2012 untuk mengelola urusan kota serta membantu pengungsi internal dan korban luka. Ke-120 anggotanya memilih para eksekutif melalui pemungutan suara tiap enam bulan, dan ketua serta wakil ketua dipilih dalam pemilihan umum terbuka—sebagian dari pemilu bebas pertama yang terjadi di Suriah dalam lebih dari empat dekade. Dewan menyediakan semua layanan esensial seperti air dan listrik bagi sekitar 8.000 penduduk yang tersisa dari populasi pra-pemberontakan 80.000. Mereka mendirikan kantor bantuan yang mengoperasikan dapur umum dan berupaya membangun kemandirian dengan menanam tanaman yang kemudian dibagikan kepada warga. Dewan menjalankan tiga sekolah dasar (semua fasilitas pendidikan lain berhenti beroperasi akibat pengeboman udara berulang). Kantor medis mengawasi satu-satunya rumah sakit lapangan yang melayani orang sakit dan korban luka. Otonomi Daraya dipertahankan oleh sebuah brigade Tentara Pembebasan (Free Army) lokal yang tunduk pada otoritas sipil Dewan.
Daraya merupakan antitesis dari negara Assadisme. Rakyat sendiri membangun masyarakat yang demokratis dan bebas. Di samping aktivitas dewan, sekelompok perempuan mendirikan Daraya’s Free Women untuk mengorganisir protes dan bantuan kemanusiaan. Mereka mulai memproduksi dan mendistribusikan majalah independen bernama Enab Baladi [Anggur negeriku] untuk menantang monopoli media rezim dan mempromosikan perlawanan damai guna melawan sektarianisme dan kekerasan negara. Para aktivis membangun perpustakaan bawah tanah, sebuah tempat aman di mana orang-orang bisa membaca, belajar, dan bertukar gagasan. Seniman grafiti Abu Malik Al-Shami melukiskan harapan di dinding-dinding Daraya yang dibom.
Namun pada November 2012, rezim menerapkan pengepungan kelaparan yang menjebak warga di dalam kota dan menghentikan masuknya pasokan makanan serta obat-obatan. Mereka yang mencoba melarikan diri atau mencari makan di lahan sekitar, ditembak sniper. Gas beracun, napalm, dan lebih dari 9.000 bom barel dijatuhkan ke Daraya. Dewan Lokal berulang kali menyerukan komunitas kemanusiaan agar memenuhi janji mematahkan pengepungan: “Kami dihukum karena berani bangkit secara damai untuk kebebasan dan martabat kami,” demikian bunyi satu pernyataan. “Tidak ada ekstremis seperti ISIS atau Nusra di sini. Mereka yang mempertahankan lingkungan kami semuanya warga lokal, melindungi jalan-jalan dari pemerintah yang telah menyiksa, mengebom gas, dan mengebom kami dan keluarga kami.” [6] Perempuan dan anak-anak juga menggelar protes, merekam dan mengunggahnya ke web, menyeru dunia yang tuli untuk mematahkan pengepungan dan mengakhiri kekerasan rezim. Menjelang musim panas 2016, situasi memburuk. Embargo senjata Yordania/AS terhadap Southern Front, ditambah tekanan terhadap koalisi pasukan Free Army yang sekuler dan demokratis agar mengendur dari menyerang pasukan rezim di sana, memberikan kesempatan pada rezim Assad untuk mengintensifkan serangan ke kota tersebut. [8]1 Rumah sakit terakhir yang tersisa di Daraya dihancurkan, dan lahan pertanian—satu-satunya sumber pangan—dirampas dan tanamannya dibakar.
Dengan persediaan senjata terbatas, tanpa bantuan dari luar, menghadapi kelaparan, perlawanan di Daraya bertahan empat tahun melawan negara dan para pendukung imperialisnya. Namun pada 25 Agustus 2016, kota itu jatuh ke tangan rezim. Seluruh penduduk—baik sipil maupun pejuang—dievakuasi, mungkin untuk selamanya. Sebagian warga sipil yang dievakuasi ke kota Harjalleh yang dikuasai pemerintah Suriah ditangkap dan kini berada di penjara bawah tanah rezim. Pasukan Assadisme merayakan “kemenangan” mereka di atas lanskap kiamat berupa reruntuhan bangunan, di sebuah kota yang kosong dari rakyatnya.
Omar Aziz tidak sempat melihat pencapaian Daraya yang luar biasa. Ia juga tidak dapat menyaksikan eksperimen-eksperimen lain dalam pengorganisasian diri (swakelola) lokal, dengan tingkat keberhasilan yang beragam, di seluruh negeri.
Dewan-dewan lokal ini tidak ideologis melainkan praktis. Kepedulian pertama mereka adalah menjaga komunitas tetap berfungsi di wilayah-wilayah tempat dimana negara kolaps. Mereka tetap independen dari arahan politik atau agama, dan lebih berfokus pada isu-isu yang relevan secara langsung seperti penyediaan layanan dan bantuan pangan. Mereka bekerja melalui prisma budaya dan pengalaman mereka sendiri. Sebagai alternatif terhadap otoritarianisme negara, kecenderungan libertarian mereka tak terbantahkan.
Pada Maret 2016, diperkirakan ada 395 dewan aktif di kota, desa, dan lingkungan, setengahnya terkonsentrasi di provinsi Aleppo dan Idlib. [7] Perkiraan ini dibuat beberapa bulan setelah intervensi militer Rusia untuk menopang rezim yang melemah, yang menyebabkan hilangnya bentang wilayah besar yang sebelumnya terbebaskan—menempatkan komunitas-komunitas otonom ini dalam ancaman. Pada saat tulisan ini dibuat, pinggiran revolusioner lain di sekitar ibu kota berisiko jatuh ke tangan rezim akibat “kebijakan berlutut atau kelaparan.” Demikian pula Al-Waer, benteng revolusioner terakhir yang tersisa di Homs. Dan 300.000 warga Aleppo timur yang terbebaskan kembali berada di bawah pengepungan.
Eksperimen-eksperimen demokrasi komunitas ini merupakan ancaman terbesar bagi semua negara yang kini terlibat di Suriah (baik pro maupun anti-rezim), juga bagi kelompok-kelompok ekstremis dan otoriter yang mencari kekuasaan bagi diri mereka sendiri. Itulah sebabnya mereka diserang dengan begitu buas.
—September 2016
Leila Al Shami adalah penulis bersama (co-author), bersama Robin Yassin-Kassab, buku Burning Country: Syrians in Revolution and War. Ia tinggal di Skotlandia dan menulis blog di leilashami.wordpress.com.
Endnotes
1. Omar Aziz, A Discussion Paper on Local Councils (2011) https://theanarchistlibrary.org/library/omar-aziz-a-discussion-paper-on-local-councils-in-syria
2. Ibid.
3. Omar Aziz, The formation of local councils in Syria, 2011 (in Arabic) https://www.facebook.com/note.php?note_id=143690742461532
4. cited in Budour Hassan, “Radical Lives: Omar Aziz” (2015) http://wire.novaramedia.com/2015/02/radical-lives-omar-aziz/
5. Mohja Kahf, “Water bottles & roses: Choosing non-violence in Daraya” (2011) http://www.mashallahnews.com/water-bottles-roses/
6. Letter written by a member of Daraya’s Local Council. Cited at “The Syria Campaign” https://act.thesyriacampaign.org/sign/save-daraya?source=tw&referring_akid=.166567.9L5obO
7. Agnes Favier, “Local Governance Dynamics in Opposition-Controlled Areas in Syria” (2016) https://isqatannizam.wordpress.com/2016/07/09/local-governance-dynamics-in-opposition-controlled-areas-in-syria/
8. Michael Karadjis, ‘US and Jordan demand Southern Front rebels stop fighting Assad, cut off “support”’, January 2016 https://mkaradjis.wordpress.com/2016/01/26/us-and-jordan-demand-southern-front-rebels-stop-fighting-assad-cut-off-support/