Dalam polemik Anarkisme versus Primitivisme tahun 2003, Brian Oliver Sheppard menyatakan bahwa primitivisme secara inheren bertentangan dengan anarkisme.

Banyak yang bisa disimpulkan dari nada bicaranya yang terang-terangan mengejek. Dia membuat referensi tentang betapa “[s]ayangnya bagi kaum anarkis, terjun ke dalam miasma[1] primitivis telah menjadi perlu,” secara terbuka merendahkan untuk melibatkan kaum primitivis sama sekali. Tapi argumennya terperosok dalam absurditas: dia mengolok-olok primitivis sebagai orang munafik karena terlibat dalam praktik teknologi sambil mengabaikan fakta bahwa hampir setiap anarkis dari garis manapun dalam masyarakat kapitalis dan statis tidak hidup seperti yang dia khotbahkan.

Inti dari argumennya adalah bahwa primitivisme bersifat otoriter dan karenanya tidak dapat didamaikan dengan anarkisme. Tapi, anarkisme yang dia promosikan agak jelas merupakan anarkisme yang sederhana dan “klasik”, sebuah anarkisme merah yang mendukung kontrol pekerja terhadap masyarakat tanpa negara. Dia berpendapat bahwa primitivis terjebak dalam masa lalu ilusif yang tidak dapat didukung oleh bukti, namun tidak pernah mengakui keterlibatannya dalam perilaku yang sama; inilah seorang pria yang berargumen bahwa anarkisme selalu tentang kontrol pekerja dan ide-ide komunis, sepenuhnya mengabaikan masa lalu dan masa kini yang heterogen dari anarkisme. Individualis, anarkis-tanpa-adjektiva, mutualis ... orang-orang ini tidak pernah eksis, jika seseorang menyimpulkan dari karya Brian[2].

Kritik yang masuk akal terhadap primitivisme memang ada, tetapi jarang disebarkan. Sebaliknya, pesan-pesan yang merugikan diri sendiri dan sangat sektarian adalah normanya. Tetapi, ide dasar ini, bahwa anarko-primitivisme tidak lebih anarkis daripada ide-ide “anarko”-kapitalis dan “anarko”-nasionalis yang sebagian besar diabaikan, adalah ide yang aneh.

Demi argumen, saya membuat kasus kebalikannya: anarkisme adalah dan selalu anti-peradaban, dan peradaban dan anarkisme sama sekali tidak dapat didamaikan. Siapapun yang mengklaim sebagai seorang anarkis dan seorang yang beradab secar bersamaan, telah menipu diri mereka sendiri.[3]

Seorang antropolog bernama Elman Service[4] menyarankan sistem klasifikasi yang banyak digunakan untuk budaya manusia yang berisi empat kategori kasar. Pertama, ada kelompok pemburu-peramu, yang umumnya egaliter; kedua ada masyarakat kesukuan yang lebih besar, sedikit lebih formal, dan memiliki sedikit peringkat sosial; ketiga adalah chiefdom, yang berlanjut di jalur stratifikasi sosial; dan akhirnya [keempat] ada peradaban, yang secara antropologis dipahami oleh hierarki sosialnya yang kompleks dan pemerintahan institusionalnya yang terorganisir.

Oleh karena itu, penolakan terhadap hierarki sosial dan pemerintahan yang kompleks berarti penolakan terhadap peradaban. Jika masyarakat anarkis ingin berkembang, ia akan menjadi masyarakat yang tidak beradab.

Tentu, argumen dapat dibuat bahwa anarkis “klasik”[5] bertentangan dengan konsep Negara daripada gagasan tentang pemerintah, tetapi mayoritas pemikiran dan dialog anarkis kontemporer berbicara tentang penolakan pemerintah sebagai sesuatu yang secara inheren terkait dengan bentuk negara.

Jadi masyarakat anarkis akan mengharuskan kembalinya ke kelompok pemburu-peramu atau itu akan — dan saya menganggap opsi ini jauh lebih mungkin dan lebih disukai, secara pribadi — berarti mengembangkan sesuatu yang sama sekali baru. Saya secara pribadi ingin menyebutnya pasca-peradaban, tapi saya rasa kita tidak perlu menyebutnya begitu. Kita hanya perlu memahaminya sebagai anarkisme.

Elman memahami tipologi empat bagiannya sebagai ilustrasi hilangnya otonomi secara linier. Dalam sebuah [masyarakat] band, seorang individu memiliki kebebasan. Dalam sebuah peradaban, seorang individu menyerahkan atau kehilangan kebebasan. Sekarang, Elman adalah seorang ahli teori integrasi; dia percaya bahwa warga di peradaban awal menyerahkan otonomi mereka dengan sukarela — pada dasarnya, bahwa mereka menandatangani kontrak sosial, menyerahkan kebebasan mereka untuk memungkinkan masyarakat yang lebih kompleks. Teori kebalikannya adalah teori konflik: bahwa negara, sejak awal, berusaha mengkonsolidasikan kekuasaan ke tangan segelintir orang untuk kepentingan segelintir orang.

Tetapi, tidak ada yang berargumen bahwa perkembangan dari band ke peradaban tidak menghasilkan hierarki dan kurangnya otonomi. Hal ini, secara historis, cukup sederhana dan linier: semakin jauh suatu masyarakat “maju” di sepanjang garis ini menuju peradaban, semakin banyak pula kebebasan yang berkurang.

Anarkisme berargumen untuk masyarakat egaliter tanpa kelas tanpa otoritas koersif dan oleh karena itu membantah – dan selalu – melawan beberapa ciri utama dan pembeda yang mendefinisikan peradaban. Berdebat mendukung peradaban sama absurdnya dengan berdebat mendukung negara.

Sangat sedikit kaum anarkis modern yang menentang anarka-feminisme. Anarka-feminisme tidak dipahami sebagai hal yang terpisah, asing bagi anarkisme secara keseluruhan, melainkan sebagai komponen esensial untuk perjuangan melawan dominasi. Secara umum dipahami bahwa, ada orang-orang yang mengidentifikasi dirinya lebih kuat dengan anarka-feminisme daripada yang lain. Ada orang-orang yang menggunakannya sebagai lensa pribadi mereka untuk mengatasi dunia, yang meletakkan teori penting dan pengorganisasian praktis untuk mengatasi dan mengalahkan patriarki.

Dan ini, menurut saya, adalah peran anti-beradab, anarko-primitivis. Pemikiran anti-peradaban telah sangat memperdalam pemahaman kita tentang penindasan, dengan kritiknya terhadap pembagian kerja dan konsep linier progres (kemajuan).

Adalah suatu kesalahan untuk menolak semua anarko-primitivis sebagai hipokrit genosidal seperti halnya dengan menolak semua anarkis komunis sebagai teknofil yang menginginkan perbudakan alam untuk melayani Pekerja yang mahakuasa[6].

Patriarki, pemerintahan, kapitalisme, nasionalisme, rasisme, peradaban ... tidak ada satupun yang mendapat tempat dalam masyarakat yang kita bayangkan. Dan yang lebih penting, tidak ada yang mendapat tempat dalam perjuangan kita, di sini dan sekarang.

[1] Racun (bau atau uap yang tidak enak atau tidak sehat), yang disebut miasma biasanya dikaitkan dengan racun yang berasal dari rawa. [Penerj.]

[2] Tentu saja, normanya adalah menyebut seorang penulis dengan nama belakang mereka daripada nama depan mereka. Ini lebih sering terjadi pada laki-laki daripada peempuan; bandingkan Kropotkin dan Bakunin dengan Voltairine DeCleyre dan Emma Goldman.

[3] Atau singkatnya meggunakan set semantik yang berbeda dan cenderung mendefinisikan sesuatu secara berbeda dari yang saya, atau artikel ini, lakukan.

[4] BTW, Elman Service, menurut beberapa kepercayaan anarko-merah, adalah seorang sukarelawan Amerika di Brigade Abraham Lincoln dari Perang Saudara Spanyol, berperang melawan Franco dan kaum fasis.

[5] Kata “klasik” mendapatkan perlakuan tanda kutip dalam artikel ini karena saya pribadi tidak setuju dengan penyederhanaan yang berlebihan dari “apa yang selalu diinginkan oleh kaum anarkis” yang disajikan kepada kita oleh Brian Sheppard sama seperti saya tidak setuju dengan penyederhanaan yang berlebihan tentang apa itu “orang primitif”. seperti” bahwa memang banyak primitivis bersalah.

[6] Tentu saja, akan lebih mudah bagi saya untuk tidak membuat kesalahan ini sendiri jika saya secara pribadi tidak mengenal lebih dari beberapa orang yang cocok dengan stereotip kasar ini ...