Title: Anarkisme dan Kekristenan
Author: Marlow
Publication: Persekutuan Alfa-Omega
Language: Bahasa Indonesia
Date: 17/12/2019
Source: https://theanarchistlibrary.org/library/marlow-anarchism-and-christianity
Notes: Artikel aslinya berjudul “Anarchism and Christianity” karya Marlow. Diterjemahkan dari The Anarchist Library oleh Mikha untuk Persekutuan Alfa-Omega.

Dunia Kristiani (christendom) adalah upaya umat manusia untuk kembali berjalan dengan keempat kakinya, untuk menyingkirkan Kekristenan, untuk melakukannya dengan sopan dengan dalih bahwa ini adalah Kekristenan, dengan mengklaim bahwa ini adalah kekristenan yang sempurna. Dalam Kekristenan-nya Christendom, salib telah menjadi sesuatu seperti mainan kuda-kudaan dan terompet bagi anak-anak (Kierkegaard, 1968, hlm 260)


Menurut pendapat ortodoks, agama Kristen identik dengan ketertiban, otoritas, dan kekuasaan negara. Bahkan pandangan sekilas yang paling umum pada sejarah Gereja mengungkapkan suatu pola kepatuhan politik yang andal dan sistematis; Imperialis di Roma, Monarkis di Renaisans Eropa, Stalinis di Rusia, dan “Demokrat” di Amerika. Jelas, Kekristenan tidak hanya mendukung otoritas, tetapi mengandaikan bahwa otoritas itu ada. Bagi Calvin, bahkan tiran paling brutal itu lebih baik daripada ketiadaan otoritas sipil, dan dukungan Luther pada penindasan berdarah atas pemberontakan petani sendiri sudah dikenal luas. Akan muncul pendamaian antara kekristenan dan an-arche (arki): ketiadaan otoritas dan perintah, tidak perlu dipertanyakan lagi. Mengembangkan pikirannya sendiri tentang anarkisme Kristen, Leo Tolstoy mengeluh tentang “konspirasi diam-diam tetapi tabah tentang semua upaya seperti pendamaian” (Tolstoy, 1984, hlm 8). Sekalipun demikian, dari dasar kekristenan telah ada arus bawah oposisi terhadap baik itu otoritas Gereja maupun sekuler, lebih dari sekadar protes insidental terhadap penyalahgunaan kekuasaan yang diberikan, tetapi pada dasarnya bersifat anarkis. Jadi tujuan saya di sini adalah untuk menunjukkan ketidakcocokan radikal antara etika kekuasaan negara dan etika Injil. Ini bukan upaya untuk membangun sosiologi Kekristenan, tetapi hanya upaya untuk mengisolasi dan menganalisis dimensi sosial-politiknya dan menunjukkan bahwa anarkisme adalah satu-satunya “posisi politik anti-politik” yang selaras dengan pemikiran Kristen. Ini akan membutuhkan ketelitian terhadap kedua doktrin alkitabiah, serta beberapa dari berbagai gerakan Kristen anarkistik yang ada sepanjang sejarah. Tetapi pertama-tama, kita butuh pengertian singkat tentang anarkisme.

Yang paling mendasar, anarkisme adalah skeptisisme ekstrem terhadap semua bentuk hierarki sosial dan otoritas institusional yang mengakar dan memaksa. Emma Goldman, dalam esainya, “Anarkisme”, mendefinisikannya sebagai “teori bahwa semua bentuk pemerintahan bertumpu pada kekerasan, dan karena itu tidak hanya salah dan berbahaya, tetapi juga tidak perlu” (1973, hlm 12). Anarki lebih luas dari ini. Ia memandang sifat kekuasaan pada dasarnya ganas, dan bertentangan dengan semua bentuk budaya, ekonomi, sosial dan politik yang memaksa, yaitu bentuk-bentuk otoritas yang mempertahankan kepatuhan melalui kekerasan atau ancaman sanksi negatif. Dengan demikian, seperti yang dikatakan oleh Rudolph Rocker dengan anggun, “Kekuasaan hanya beroperasi secara destruktif, selalu bertekad untuk memaksakan setiap perwujudan kehidupan ke dalam jalur hukumnya. Ekspresi intelektualnya adalah dogma yang mati, bentuk fisiknya adalah kekuatan yang kasar. Dan ketololan dari tujuan-tujuannya juga menoreh pada para pendukungnya dan membuat mereka menjadi bodoh dan brutal, bahkan ketika mereka pada awalnya dikaruniai talenta terbaik. Seseorang yang terus-menerus berusaha untuk memaksa segala sesuatu menjadi tatanan mekanis akhirnya menjadi mesin itu sendiri dan kehilangan semua rasa kemanusiaan” (Pennock & Chapman, 1978, hlm 5).

Jadi anarki menyatakan bahwa penghapusan hierarki sosial sangat penting dalam membangun masyarakat yang didasarkan pada kesetaraan dan kebebasan individu. Sementara teori-teori tentang bagaimana masyarakat ini dapat disusun sangat kompleks dan beragam, elemen yang paling umum menyatukan mereka adalah penggantian otoritarianisme negara menjadi beberapa bentuk kerja sama non-pemerintah antara individu-individu yang bebas. Biasanya, ini berbentuk majelis yang berbasis swa-pemerintahan, yang terdesentralisasi, demokrasi langsung dan terkonfederasi. Badan-badan komunitas akar rumput ini akan berfungsi berdasarkan prinsip-prinsip swadaya, gotong royong dan kerja sama sukarela, dan akan dihubungkan secara kooperatif melalui federasi dengan komunitas otonom lain dari lokal, ke bioregional, ke tingkat global. Secara alami, sosialisasi alat-alat utama produksi dan swakelola ekonomi adalah yang utama. Tujuannya adalah untuk menggantikan hirarki piramidal dari negara modern dengan lingkungan yang organik, yaitu difusi kekuasaan yang sesungguhnya. Ini adalah prinsip dasar pemikiran anarkis, yang akan menjadi inti dari diskusi ini.

Jadi, sekarang kita akan mempertimbangkan sisi lain dari koin yang, dimulai dengan pemeriksaan data Alkitab yang sangat terbatas baik dalam Perjanjian Baru dan Lama. Dalam Samuel 1 kita melihat struktur sosial Israel secara tradisional adalah anarkis (Baca juga: Israel sebagai Masyarakat Tanpa Negara). Setelah pembebasan dari Mesir tidak ada klan pangeran, dan keluarga yang mungkin dipandang sebagai aristokratik dihancurkan atau dibinasakan. Allah Israel menyatakan bahwa dia sendiri yang akan menjadi kepala Israel, namun ini bukan teokrasi, karena Allah tidak memiliki wakil di bumi dan majelis klan yang dibahas dalam keputusan komunitas. Dalam masa-masa krisis, Tuhan akan menunjuk seorang “hakim” untuk posisi kepemimpinan, tetapi orang-orang ini tidak memiliki wewenang permanen, dan setelah mereka memainkan peran mereka, mereka dikatakan untuk melepaskan diri dan bergabung kembali dengan rakyat. Melawan kehendak Allah, bangsa Israel memutuskan membentuk monarki, menghendaki seorang raja demi efisiensi, dan menjadi serupa dengan peradaban-peradaban yang dominan. Tuhan menerima permintaan mereka, tetapi memberi mereka peringatan dalam bentuk penilaian yang sangat akurat tentang sifat dari kekuatan politik:

Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawainya dari gandummu dan hasil kebun anggurmu akan diambilnya sepersepuluh dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawai istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya” (1 Samuel 8:11-17).


Seperti yang ditulis Jacques Ellul, perikop ini dapat disimpulkan menjadi menjadi 3 pesan: “(1) kekuatan politik bersandar pada ketidakpercayaan dan penolakan terhadap Tuhan; (2) kekuatan politik selalu bersifat diktator, berlebihan, dan tidak adil; (3) kekuatan politik di Israel dibangun berdasarkan konformitas, dengan meniru apa yang dilakukan di kerajaan tetangga” (1991, hlm 46). Untuk ini saya akan menambahkan bahwa perikop ini juga menyatakan bahwa keberadaan hierarki sosial tidak dapat dipisahkan dari eksploitasi dan stratifikasi.

Ini tentu saja merupakan penolakan terhadap legitimasi kekuatan politik, yang biasa terjadi di seluruh Alkitab. Vernard Eller menunjuk pada suatu representasi monarki yang sistematis dalam Perjanjian Lama. Raja-raja yang efisien, yaitu mereka yang menjalankan kekuasaan politik yang normalnya memperkaya rakyat mereka, melakukan penaklukan, mengkonsolidasikan pemerintahan, dll, secara konsisten digambarkan sebagai pembunuh yang kejam dan tidak adil. Sebaliknya, raja-raja yang tidak efisien dan yang lemah, mereka yang membiarkan pemerintahannya hancur, yang kalah dalam perang dan kesejahteraan rakyatnya secara historis didefinisikan sebagai raja-raja besar. Seperti yang dikatakan Eller, “pengamatan ini berarti bahwa satu-satunya kekuatan yang dapat diterima dalam jangka panjang adalah yang terlemah, atau bahwa jika seorang pemimpin politik setia kepada Tuhan, ia tentu saja seorang pemimpin politik yang buruk” (1987, hlm 34). Sebagai tambahan saja dari pola ini, di samping setiap raja-raja kita memiliki penampilan figur yang paling karismatik dari mitologi Kristen -nabi, yang selalu menjadi pengkritik paling keras dari otoritas yang ada, dan selalu ditindas secara brutal oleh mereka (misalnya Yesaya, Yehezkiel, Daniel, Elia). Semua faktor ini memanifestasikan secara mendalam sentimen anti-royalis dan anti-negara.

Beralih ke Perjanjian Baru, kita tampaknya menemukan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Yang pertama tampaknya menguntungkan bagi kekuatan politik, terutama terlihat dalam kemasyhuran Paulus bahwa “tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah” (Roma 13: 1). Yang lain, permusuhan yang jauh lebih menonjol dan luas, sebagian besar tampak dalam Injil dan Wahyu. Karena para penafsir Konstantinus mendasarkan seluruh teologi negara mereka pada beberapa pernyataan yang terisolasi yang tampaknya menawarkan legitimasi ilahi atas dominasi hierarki, yang paling penting adalah Roma 13, dan jejak Yesus di hadapan Pilatus. Tetapi sebelum mempertimbangkan faktor-faktor ini, bakal berguna bagi kita untuk melihat sikap negatif Yesus sendiri terhadap kekuatan politik.

Ketika Yesus memulai pelayanan publiknya, injil menceritakan percobaan Iblis padanya. Iblis menggoda dia tiga kali, yang terakhir relevan dengan diskusi kita. Iblis membawa Yesus ke gunung yang tinggi dan menunjukkan kepadanya semua kerajaan dunia: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” (Matius 4: 8–9)

Atau: “Segala kuasa itu serta kemuliannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” (Lukas 4: 6–7)


Hal yang penting untuk ditekankan, seperti yang dilakukan Ellul dalam analisisnya, bahwa injil-injil itu mungkin ditargetkan pada komunitas-komunitas Kristen yang memiliki asal-usul pandangan Yunani, sehingga rujukannya adalah kekuatan politik secara umum, bukan hanya Roma dan dinasti Herodes (1991, hlm 58). Teks ini dengan jelas menyatakan bahwa ranah politik adalah wilayahnya setan dan dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa di antara pengikut langsung Yesus dan institusi politik generasi Kristen yang pertama -yang sekarang kita kenali sebagai negara- adalah milik iblis, dan bahwa mereka yang memegang kekuasaan menerimanya dari dia.

Hal lain yang dikatakan Yesus tentang otoritas politik dapat ditemukan dalam Matius 20: 20–25. Para murid menemaninya ke Yerusalem di mana beberapa di antara mereka percaya bahwa dia akan merebut kekuasaan dan membangun kerajaan Yahudi yang berdaulat. Istri seorang pria bernama Zebedeus mempersembahkan putra-putranya kepada Yesus; Yakobus dan Yohanes, dan meminta agar mereka duduk di sebelah kanan dan kiri-Nya di surga -dengan kata lain, mereka dipromosikan ke posisi kepemimpinan dan otoritas. Yesus pertama-tama memberi tahu para murid-Nya bahwa mereka sama sekali tidak paham, dan kemudian berkata:

Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:25-28).


Kalimat ini adalah kalimat langsung, dan harus dibandingkan dengan apa yang saya kutip dari Rocker di atas. Tidak ada perbedaan antara keduanya, semua rezim politik berkuasa atas rakyatnya –tidak mungkin ada kekuatan politik tanpa adanya tirani.

Ini tentu saja hanya perpaduan dasar dari berbagai perkataan Yesus tentang kekuatan politik. Ada negasi lain yang sama kuatnya, yang paling penting adalah jejaknya di hadapan hukum Romawi. Di sini kita melihat sebuah ejekan yang tegang baik bagi negara Romawi dan para imam kuil (Christendom yang baru lahir). Ada perbedaan antara keempat Injil, tetapi seperti komentar Ellul, “sikapnya selalu sama, entah apakah ia cuma berdiam diri, tuduhan pihak berwenang, atau dari provokasi yang disengaja –semuanya merupakan penolakan untuk menerima otoritas apa pun selain dari Allah” (1991, hlm 61). Beberapa teolog seperti Karl Barth berpendapat bahwa karena Yesus tidak memberontak terhadap vonis pihak yang berwenang, ia menganggap yurisdiksi itu sah, dan dengan demikian mereka menemukan dasar untuk kekuasaan negara (Eller, 1987, hlm 124). Pemahaman ini terutama berasal dari pernyataan Yesus: “Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari Atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya” (Yohanes 19: 10–11). Kecuali kita benar-benar mengisolasi pernyataan ini dari setiap pernyataan lain yang dicatat secara Alkitabiah yang dibuat Yesus tentang kekuatan politik, jelas dia mengatakan Pilatus telah menerima kuasa dari Setan, bukan dari Allah seperti penafsiran populer. Lebih jauh lagi, ini sesuai dengan pernyataan Yesus yang sebelumnya, yang berkomentar bahwa kuasa kegelapan sedang bekerja untuk mengadilinya (Lukas 22: 52–53). Memang, setiap teks yang berkaitan dengan perjumpaan Yesus dengan otoritas politik dan agama berbentuk ejekan yang halus, ironi, sikap tidak kooperatif, tak acuh, dan menantang. Yesus jelas bukan seorang gerilyawan, ia adalah penentang tanpa kekerasan, anarkis yang murni seperti seorang berkarakter Tolstoyan.

Penolakan politis itu konstan di seluruh Alkitab, dan menemukan ekspresinya yang paling keras dalam Wahyu. Meskipun ini adalah buku yang diperdebatkan yang tunduk pada beragam penafsiran, di antara para teolog Kristen ada sedikit perdebatan bahwa itu adalah representasi kenabian atas kiamat. Tanpa terlibat dalam analisis yang panjang, cukup untuk mengatakan bahwa Wahyu berkaitan dengan penghancuran diri umat manusia yang tak terhindarkan yang dibawa oleh sifat kekuatan politik –pertama-tama diwakili oleh kuda merah dengan pedang (yang tugas utamanya adalah menyatakan perang, menjalankan kekuasaan, dan akhirnya menyebabkan manusia binasa), dan pada akhirnya diwakili oleh Babel, sebagai fokus kekuatan politik, kekuatan uang, dan struktur peradaban (Morris, 1987, hlm 45-62).

Dengan demikian kita menemukan pola yang tersusun mengenai penolakan Alkitab atas kekuatan politik, kesaksian akan kurangnya validitas dan legitimasi. Dalam konteks ini kita harus menempatkan bagian-bagian lain dalam Alkitab, seperti Roma 13 yang terisolasi, yang secara konsisten diakui oleh Christendom sebagai dasar hierarki dan dominasi politik, menjadi lebih sedikit.

“Tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah” (Roma 13) harus direduksi menjadi maknanya yang sebenarnya, daripada memberi kita kata yang final tentang otoritas politik – Paulus berupaya menerapkan cinta dalam keadaan di mana orang Kristen ditekan secara brutal oleh kekuatan yang berkuasa pada masa itu.

Pada dasarnya, baik Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama secara konsisten menolak kekuasaan politik. Tidak ada kekuatan yang dapat mengklaim legitimasi dalam dirinya sendiri, dan berdasarkan karakter mereka akan selalu bertentangan dengan moralitas Tuhan. Karena itu orang-orang Kristen harus selalu menyangkal, menentang, dan menolak kekuatan ini. Tanpa diragukan lagi, Christendom terus-menerus berusaha untuk menumbangkan ajaran ini, untuk mengaburkan perbedaan antara pelayanan dan kekuasaan dan menyangkal antagonisme radikal antara Injil dan negara. Namun demikian, di sepanjang gerakan sejarah Gereja secara sporadis telah muncul apa yang dapat didefinisikan sebagai anarkis dalam artian bahwa mereka secara radikal menegaskan kembali ilegalitas otoritas yang koersif. Murray Bookchin mengakui asal-usul pemikiran anarkis dapat ditemukan dalam agama Kristen, (Bookchin, 1971, hlm 67) dan George Woodcock menelusuri akar anarkisme kembali ke sekte-sekte milenarian Kristen abad ke-14 (Woodcock, 1972, hlm 30-33).

Gerakan-gerakan milenarian ini muncul selama periode reformasi, dan menyebar ke seluruh Eropa ketika sistem feodal hancur dan kelas-kelas terendah menjadi semakin memberontak terhadap kewajiban perbudakan. Kekristenan Millenarian dapat secara luas digambarkan sebagai gerakan komunal apokaliptik yang secara langsung menantang kekuatan negara dan Gereja dan berusaha untuk menciptakan masyarakat yang didasarkan pada komunitas para rasul. Seperti yang dinyatakan Kenneth Rexroth, “Kita harus memikirkan gelombang besar spiritualitas ini bukan sebagai sesuatu yang baru, tetapi sebagai penemuan kembali sesuatu yang lama; bukan sebagai tubuh doktrinal, teologi mistik, dan yang paling penting dalam hal episode sensasional dari sejarah perjuangannya melawan Paus dan Gereja, tetapi sebagai cara hidup” (1974, hlm 44). Akar semua sekte ini ditemukan dalam pemikiran individu-individu seperti Santo Francis dan John Ball, The Free Spirit Brethren dan Hussite Wars, tetapi di sini saya akan fokus khususnya pada tiga gerakan anarkis: kaum Anabaptis, Para Penggali (the Diggers), dan para Doukhobor.

Pada awal 1500’an biara kecil kelompok-kelompok komunal Anabaptis bermunculan di seluruh Jerman Utara dan Barat. Anabaptisme adalah serangan terhadap otoritas Gereja yang mapan untuk mendikte hal-hal seperti ritus pembaptisan dan transubstansiasi. Pada 1534 kota Munster menjadi komune Anabaptis, umat Katolik dan Lutheran terlontar dari kota dan dengan cepat digantikan oleh para Anabaptis yang datang mencari perlindungan dari penganiayaan yang mereka alami di provinsi-provinsi yang feodal. Struktur ekonomi Munster adalah komunis, barang milik komunitas diteraokan dan semua kekayaan uang, perhiasan, dan logam mulia dimasukkan ke dalam dana bersama. Komunisme produksi juga diperkenalkan, semacam “ekonomi hadiah” (gift economy) anarkis di mana anggota gilda yang pekerjaannya sangat penting bagi kehidupan masyarakat diperintahkan untuk bekerja tanpa upah dan menyumbangkan produk mereka ke pengumpulan barang umum, yang dari situ semua orang dapat mengambil secara bebas sesuai dengan kebutuhan mereka. Sementara pemimpin Munster yang mengklaim dirinya sendiri, Jan Bockelson, mengajarkan kesetaraan di antara persaudaraan (the brethren), komune dengan cepat menjadi teokrasi millenarian, Bockelson menerapkan seperangkat hukum yang ketat dan menampilkan fetish untuk eksekusi dengan pemenggalan kepala. Munster akhirnya dihancurkan oleh pasukan pangeran feodal yang bersatu dan sebagian besar penduduknya dibantai. Sementara struktur kekuasaan internal Munster itu otoritarian, hubungannya dengan Gereja dan otoritas negara tidak diragukan lagi anarkis. Tujuan Munster adalah otonomi total politik, ekonomi dan agama, suatu etika yang semakin kuat dalam mengikuti gerakan-gerakan Anabaptis.


Setelah Munster gerakan ini sebagian besar dibagi menjadi tiga bagian: pasifis yang menolak sumpah (oaths), jabatan publik dan dinas militer, tetapi yang menolak komunisme; mereka yang pasifis dan komunis; dan para millenarian militan yang benar-benar musnah di bawah penganiayaan tanpa henti. Selama bertahun-tahun setelah Munster, kaum Anabaptis diburu para paria, dan sulit untuk mempraktikkan segala bentuk komunalisme. Banyak kelompok Hutterite dan Mennonite dapat menemukan perlindungan di Moravia di bawah perlindungan kaum bangsawan yang simpatik dan mampu mempertahankan koloni-koloni terpencil di Slovakia dan Bohemia. Menurut standar pada masa itu, masyarakat diorganisasikan dalam cara kesetaraan yang sangat mengejutkan dan memandang negara dan Gereja sebagai “pertumbuhan yang tidak wajar pada tubuh oeconomia yang normal” (Rexroth, 1974, hlm ix).

Di Austerlitz, yang secara historis merupakan masyarakat komunal yang paling lama hidup, komunisme produksi dan komunisme konsumsi berhasil. Mereka mendirikan sekolah mereka sendiri (walaupun pendidikan tinggi ditolak), menyosialisasikan pengasuhan anak dan kesehatan masyarakat, dan menghasilkan surplus yang substansial dari sistem produksi dan distribusi mereka. Penolakan kaum Anabaptis terhadap kekaisaran dan hegemoni Gereja pada akhirnya menyebabkan pengusiran mereka dari Moravia pada tahun 1622, dan mereka tersebar di seluruh Eropa Timur dan Rusia. Akhirnya, banyak yang beremigrasi ke Amerika Serikat dan Kanada dan membentuk sekte-sekte komunis-komunis kontemporer yang beragam, seperti para Quaker, para Mennonite, dan pada tingkat yang lebih rendah, para Amish.

Gerakan-gerakan ini memiliki konsekuensi jangka panjang yang penting dalam menyatukan perbedaan agama dan politik, suatu etika yang sangat dekat dengan gerakan Kristen anarkis pada Periode Perang Saudara Inggris. Dalam kondisi-kondisi perjuangan kelas inilah, di antara seluruh kelompok kelompok radikal seperti Para Lelaki Monarki Kelima (Fifth Monarchy Men), para Penyetara (the Leveller), dan para Ranter, mungkin muncul proto-anarkis nyata yang pertama, para Penggali (the Diggers), yang menyukai anarkis klasik abad ke-19 dengan mengidentifikasi kekuatan politik dan ekonomi dan yang percaya bahwa revolusi sosiallah, dan bukannya revolusi politik, yang diperlukan untuk menegakkan keadilan. Gerrard Winstanley, pemimpin para Diggers, membuat identifikasi dengan firman Allah dan prinsip akal, sebuah filosofi yang setara dengan yang ditemukan dalam Kingdom of God is Within You karya Leo Tolstoy. Bahkan, tampaknya Tolstoy mengambil banyak inspirasinya sendiri dari Winstanley:

Di mana nalar itu berada? Ia berdiam di setiap makhluk sesuai dengan sifat dan keberadaan makhluk itu, tetapi terutama di dalam manusia. Karena itu manusia disebut sebagai makhluk yang rasional. Inilah kerajaan Allah di dalam manusia. Biarkan akal menguasai seseorang itu dan dia tidak berani melakukan pelanggaran terhadap sesamanya, tetapi melakukan apa yang akan dia memang perlu lakukan. Karena nalar mengatakan kepadanya –apakah tetanggamu lapar dan telanjang hari ini? Apakah kamu memberinya makan dan memberinya pakaian; itu mungkin adalah masalahmu besok dan kemudian dia akan siap membantu kamu (Woodcock, 1972, hlm 31).


Sementara soal properti pribadi Winstanley (terutama tanah yang dalam ekonomi pertanian adalah “alat utama produksi”) berpendapat bahwa itu adalah sumber dari semua kekayaan dan oleh karena itu, “penyebab semua perang, pertumpahan darah, pencurian dan hukum perbudakan yang membuat orang di bawah kesengsaraan” ( Rexroth, 1974, hlm 145). Harta milik pribadi membagi manusia, bangsa, dan mempertahankan kondisi perang abadi di mana negara tumbuh dan berkembang. Winstanley menyatakan bahwa tidak hanya tuan dan hakim, tetapi juga suami dan ayah “memang membawa diri mereka seperti penguasa yang menindas kepada siapa yang ada di bawah mereka –mereka tidak menyadari bahwa mereka memiliki hak istimewa yang sama dengan mereka untuk berbagi berkat-berkat kebebasan” (Rexroth, 1974 , hlm 141). Dia membuat sketsa sebuah visi masyarakat bebas berdasarkan pada ajaran-ajaran Kristus yang dia beri nama Universal Liberty. Tampaknya Winstanley membayangkan sesuatu yang mirip dengan pemerintahan Israel kuno di mana negara hanya akan memiliki kekuasaan sebagai pengadilan banding terakhir. Beberapa bagiannya sangat dekat dengan karya-karya anarkis abad ke-19 yang hebat dan proyeksi kebebasan sosial mereka:

Ketika keadilan universal ini menimpa setiap laki dan perempuan, maka tidak seorang pun akan mengklaim makhluk apa pun dan berkata, ini milikku dan itu milikmu. Ini pekerjaanku, itu milikmu. Tetapi setiap orang harus meletakkan tangan mereka sampai ke bumi dan membesarkan ternak, dan berkat bumi akan sama bagi semua orang; ketika seseorang membutuhkan jagung atau ternak, ia akan mengambil dari gudang yang dapat ia temui. Tidak akan ada jual beli, tidak ada pameran dan pasar. Dan semua orang akan dengan riang meletakkan tangan mereka untuk membuat hal-hal yang diperlukan, satu membantu yang lain. Tidak akan ada raja atas orang lain, tetapi setiap orang akan menjadi tuan atas dirinya sendiri, tunduk pada hukum kebenaran, akal budi dan keadilan, yang akan tinggal dan memerintah di dalam dirinya, yang tiada lain adalah Tuhan (Wookcock, 1972, hlm 33).


Winstanley adalah seorang pasifis yang ekstrem dan tampaknya percaya dia bisa mencapai transformasi sosial melalui contoh yang damai. Jika saja para Diggers mampu menerapkan komunitas yang setara dan menumbuhkan milik bersama dan daerah terlantar, komunitas cinta kasih akan secara alami melakukan penetrasi semua aspek masyarakat Inggris, yang pada akhirnya mencakup baik orang kaya maupun orang miskin. Para Diggers menggunakan semacam aksi langsung, menduduki tanah-tanah yang tidak digunakan di seluruh Inggris bagian selatan dan menanamnya untuk makanan mereka sendiri. Pemilik tanah lokal dan otoritas negara bersekutu melawan perusahaan kecil yang subversif ini, dan para Diggers melakukan perlawanan pasif selama mereka bisa bertahan, dan akhirnya dibubarkan dengan keras. Memang, gerakan itu adalah peristiwa sepele dan tidak penting pada saat itu, tetapi pengetahuan dan kecanggihan tulisan Winstanley itu membuat para Diggers sekarang diklaim oleh para sosialis kontemporer dan anarkis.

Bersamaan dengan Winstanley, mungkin anarko-komunalis Kristen yang paling berpengaruh, lebih berpengaruh sebagai individu daripada kelompok populis lainnya, adalah Leo Tolstoy (Baca juga: Leo Tolstoy, Sang Pangeran Kedamaian). Karya-karya Tolstoy tentang anarkisme Kristen atau “tanpa perlawanan” (perlawanan tanpa kekerasan) hanyalah sebagian kecil dari sejarah kaya perbedaan pendapat agama Rusia, yang berlabuh pada tradisi budaya dan filsafat yang berputar di sekitar gagasan keadilan, keindahan (terutama keindahan spiritual), kebaikan dan layanan untuk nilai-nilai universal. Merasa semua kekuasan sebagai sebuah kejahatan, Tolstoy tiba pada penolakan tanpa syarat atas semua kekerasan. Percaya bahwa hukum negara dan sipil bertumpu pada kekerasan, Tolstoy menolak otoritasnya dan berpendapat bahwa penghapusan semua lembaga yang memaksa harus dilakukan melalui cara-cara damai, oleh anggota masyarakat bebas yang berpantang dan menghindari partisipasi dalam segala perkara negara. Tolstoy adalah seorang “pelepasan hakiki”, dan penolakannya terhadap otoritas negara sejalan dengan pernyataan Yesus, “Jadi seorang Kristen tidak dapat berjanji untuk melakukan kehendak orang lain tanpa mengetahui apa yang akan diminta darinya, juga tidak dapat ia tunduk pada hukum atau janji manusia yang fana untuk melakukan atau tidak melakukan hal tertentu pada waktu tertentu, karena kapanpun ia tidak dapat mengetahui apa yang dituntut darinya oleh hukum kasih Kristen, kepatuhan yang menjadi tujuan hidupnya. Seorang Kristen, dengan menjanjikan kepatuhan tanpa syarat terhadap hukum-hukum manusia yang telah ada, menunjukkan bahwa dengan demikian ia tidak menjadikan hukum batiniah Allah sebagai satu-satunya hukum dalam hidupnya” (Tolstoy, 1984, hlm 143).

Jadi komune Tolstoyan ditujukan untuk pencabutan kekuasaan dan pembentukan komunitas organik dari hubungan manusia yang tidak memaksa (voluntarisme). Beberapa komune berhasil dan berlangsung selama bertahun-tahun, tetapi sebagian besar, seperti yang dikatakan Rethrox, “adalah kisah tragis-jenaka di mana para pemilik tanah mengubah perkebunan mereka menjadi komune, mengundang teman-teman bohemian mereka dari kota, dan mendesak petani ‘mereka’ untuk berbagi bangunan dari masyarakat baru di rahim yang lama,” dan dengan singkat direpresi oleh Gereja resmi dan otoritas Tsar (1974, hlm 169).

Kelompok lain yang aktif selama periode ini di Rusia adalah para Doukhobor yang primitif dan anarkis, atau “Pendekar Roh”. Sebagai sebuah sekte, mereka bangkit sebagai oposisi terhadap reformasi di Gereja Ortodoks di bawah Katerin yang Agung, tetapi gerakan itu dihantam pada tahun 1895 ketika mereka menolak wajib militer ke dalam militer Tsar. Non-kekerasan adalah inti dari filosofi para Doukhobor dan, dalam perkiraan mereka, Tsar dan oleh asosiasi Gereja Ortodoks tidak sah di mata Tuhan. Sementara para Doukhobor mendahului Tolstoy, karya-karyanya membentuk bagian sentral dalam pengembangan intelektual gerakan, ia bahkan secara pribadi membayar sebagian dari biaya mereka untuk beremigrasi ke Kanada untuk menghindari penganiayaan negara. Setelah di Kanada, para Doukhobor terbagi menjadi tiga kelompok: kaum independen, yang memilih untuk menerima persyaratan kewarganegaraan dan kepemilikan properti pribadi, kaum komunal, dan “Putra Kemerdekaan (Sons of Freedom)” yang radikal. Para komunalis menikmati musim kemakmuran yang berlimpah di bawah kepemimpinan de-facto Peter Veregin, dan sistem ekonomi komunalis mereka menghasilkan banyak kekayaan. Namun, struktur komunal mereka menghilang secara bertahap selama era depresi, diperburuk oleh relokasi terus-menerus yang disebabkan oleh penolakan untuk bersumpah setia kepada raja.

Pecahan paling radikal dari orang-orang Doukhobor, “Sons of Freedom” berkumpul di sekitar ekspresi ekstrem doktrin anti-negara dan vegetarian Veregin. Dia menulis bahwa firdaus di bumi hanya akan mungkin dengan kembali ke “kondisi primitif, dan keadaan spiritual yang hilang oleh Adam dan Hawa” (Momonova, 1995, hlm 6). Vergin sebagian besar didewakan dalam konteks budaya mistisisme muzhik tradisional, dan ketenaran “Sons of Freedom” berikutnya soal ketelanjangan dan tradisi pembakaran bukanlah sesuatu yang dengan senang hati dibahas oleh para Doukhobor kontemporer. Meskipun para Doukhobor tidak lagi hidup dalam struktur komunal, Gereja mereka masih tetap non-hierarkis dan anti-otoritarian.

Jadi, dari analisis teks Alkitab yang sangat terbatas ini dan berbagai manifestasi sosiologis anarkisme Kristen, tampaknya bukan saja kekristenan dan anarki yang saling menguatkan, tetapi landasan teoretis anarkisme yang rasionalistik berakar dalam sejarah perbedaan pendapat Kristen. Pernyataan klise yang sering diulangi, “kekuasaan itu cenderung korup; kekuasaan mutlak berarti korup mutlak”adalah rumah utama dari keduanya. Tujuan esai ini adalah untuk merumuskan pendamaian antara keduanya [Kristen dan anarkisme], tetapi saya benar-benar mengabaikan permusuhan anarkis yang kerap fanatik terhadap semua agama, yang terwakili dengan baik dalam inversi Voltaire yang terkenal dalam Bakunin, “Jika Tuhan memang ada, kita perlu menumbangkannya” (Pennock & Chapman, 1978, hlm 113). Memang, banyak anarkis, hampir semua yang klasik, memandang Tuhan sebagai arche (kuasa) tertinggi di mana semua bentuk otoritas lainnya menemukan pembenaran mereka, dan kecuali individu dapat belajar meningkatkan ego ke posisi Tuhan yang religius, mereka akan tetap menjadi budak. Ini akan membutuhkan seluruh diskusi lain tentang sifat otoritas ilahi sebagaimana diwakili dalam Alkitab, dan saya pikir Jacques Ellul telah membujuk dengan mencoba memperdebatkan kesesuaian antara “No God-No Master” dan “Saya percaya pada Tuhan Bapa yang Maha Kuasa” dalam esainya, Jesus dan Marx. Cukuplah untuk mengatakan, penyimpangan historis kekristenan adalah mengakui negara, dan saya pikir pada dasarnya, itu adalah karakter dari penyimpangan ini dan banyak akibat yang merusak yang diserang oleh kaum anarkis terdahulu.

Artikulasi antara untaian intelektual anarkisme Kristen dan anarkime rasionalistik dapat membuktikan sesuatu yang sangat mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Konsepsi Kekristenan tentang sifat manusia dapat bertindak sebagai penyeimbang terhadap kecenderungan anarkisme yang lebih utopis, prospek penghapusan total hubungan kekuasaan sosial misalnya. Demikian juga, anarkisme rasional dapat menyediakan batu loncatan untuk melampaui doktrin ortodoks tentang kejatuhan sebagai penolakan dari transformasi masyarakat. Namun, kemungkinan dialektika semacam itu akan bertumpu pada kesadaran anarkisme bahwa Kekristenan tidak serta-merta mengandaikan struktur kekuasaan politik yang mapan dan dipelihara dengan ketat, dan pengakuan kekristenan bahwa anarki adalah satu-satunya posisi politik yang sesuai dengan kitab suci. Hanya dengan demikian orang Kristen dapat mengambil tempat mereka di samping kaum anarkis.