Title: Pekerja dan Pemerintah
Author: Max Stirner
Language: Bahasa Indonesia
Date: Maret, 2025
Notes: Diterjemahkan oleh Fvcktherules & diunggah oleh Ali Moris Najam (Archipelago Anarchist Archive). Teks ini bukanlah esai tunggal yang ditulis oleh Max Stirner, melainkan sebuah penggalan dari karya Stirner yang berjudul Der Einzige und sein Eigentum. Karenanya, tidak akan ditemukan teks bahasa Jerman khusus yang dapat dicocokkan. Teks ini dapat ditemukan—dengan sedikit bervariasi tergantung pada terjemahan mana kita merujuk—dalam The Ego and His Own (1907) hlm. 336-338, The Ego and Its Own (1995) hlm. 225-227, dan The Unique and Its Property (2017) hlm. 266-267.

Pemerintah tidak membiarkan saya memperoleh nilai saya sendiri, dan mereka terus bertahan hanya dengan menjaga saya tetap tak bernilai: mereka selalu berusaha mendapatkan keuntungan dari saya, yaitu dengan mengeksploitasi saya, memanfaatkan saya, menguras saya. Bahkan, manfaat yang mereka peroleh dari saya hanya sebatas menjadikan saya bagian dari proletariat, mereka ingin saya menjadi “ciptaan mereka”.

Kemiskinan hanya bisa dihapuskan ketika saya, sebagai individu, menyadari nilai saya sendiri, ketika saya memberikan nilai pada diri saya sendiri. Saya harus bangkit dalam pemberontakan agar bisa bangkit dalam kehidupan.

Apa yang saya hasilkan tepung, kain, besi, batu bara, atau apa pun yang saya peroleh dengan susah payah dari bumi adalah hasil kerja saya, dan saya ingin mendapatkan nilai darinya. Namun, saya bisa mengeluh selama bertahun-tahun bahwa saya tidak dibayar sesuai dengan nilai pekerjaan saya: para pembeli tidak akan mendengarkan saya, dan pemerintah pun akan bersikap acuh tak acuh, kecuali jika mereka merasa perlu untuk “menenangkan” saya agar saya tidak memberontak dengan kekuatan saya yang ditakuti. Tetapi “ketenangan” ini hanyalah sebatas itu, dan jika saya meminta lebih, pemerintah akan berbalik melawan saya dengan seluruh kekuatan mereka, seperti singa dan elang yang ganas. Mereka adalah raja dan binatang buas, singa dan elang.

Jika saya menolak menerima harga yang mereka tetapkan untuk barang dan tenaga kerja saya, dan sebaliknya ingin menentukan sendiri harga dari hasil kerja saya yaitu, “membayar diri saya sendiri maka pertama-tama saya akan berselisih dengan para pembeli barang saya. Jika perselisihan ini bisa diselesaikan dengan kesepakatan bersama, pemerintah tidak akan banyak mempermasalahkannya, mereka tidak peduli bagaimana individu berurusan satu sama lain, selama itu tidak mengganggu mereka. Namun, masalah bagi mereka dimulai ketika tidak ada kesepakatan, dan orang-orang mulai saling menyerang.

Pemerintah tidak bisa menerima kenyataan bahwa manusia berhubungan langsung satu sama lain, mereka harus bertindak sebagai perantara, sebagai mediator. Seperti halnya Yesus, para santo, dan gereja yang dulu berperan sebagai mediator, kini pemerintah mengambil peran itu mereka adalah “perantara”. Mereka memisahkan manusia satu sama lain dan menempatkan diri mereka di antara mereka sebagai sebuah “roh”.

Para pekerja yang meminta upah lebih tinggi akan dianggap sebagai penjahat jika mereka mencoba memaksakannya. Apa yang bisa mereka lakukan? Tanpa paksaan, mereka tidak akan mendapatkannya, tetapi jika mereka memaksa, pemerintah melihatnya sebagai tindakan membela diri, sebagai upaya individu untuk menentukan nilainya sendiri sesuatu yang tidak bisa mereka terima. Jadi, apa yang harus dilakukan para pekerja? Mereka harus mengandalkan diri sendiri dan tidak bergantung pada pemerintah.

Situasi ini tidak hanya berlaku untuk pekerjaan fisik saya tetapi juga untuk pekerjaan intelektual saya. Pemerintah mengizinkan saya mendapatkan nilai dari pemikiran saya dan menemukan orang-orang yang mau membeli ide saya, tetapi hanya selama pemikiran saya sejalan dengan pemikiran mereka. Jika saya memiliki gagasan yang tidak mereka setujui, mereka tidak akan mengizinkan saya mendapatkan nilai darinya atau menyebarkannya dalam perdagangan dan pertukaran gagasan.

Pemikiran saya hanya dianggap bebas jika diberikan kepada saya atas izin pemerintah, jika tidak, pemikiran itu bukan milik saya, melainkan milik pemerintah. Mereka hanya membiarkan saya berfilsafat selama saya menjadi “filsuf pemerintah”. Saya tidak boleh berfilsafat melawan pemerintah, meskipun mereka dengan senang hati menerima bantuan saya untuk memperbaiki “kekurangan” mereka atau “memajukan” mereka.

Seperti halnya eksistensi saya sebagai individu hanya diperbolehkan dengan izin pemerintah dengan tanda legalitas dan izin kepolisian mereka saya juga tidak diizinkan mendapatkan nilai dari apa yang saya miliki, kecuali jika itu sesuai dengan kepentingan mereka. Jalan saya harus menjadi jalan mereka, jika tidak, mereka akan menekan saya. Pikiran saya harus menjadi pikiran mereka, jika tidak, mereka akan membungkam saya.

Tidak ada yang lebih ditakuti oleh pemerintah selain nilai diri saya, dan mereka harus selalu waspada terhadap setiap kesempatan yang saya miliki untuk menyadari nilai saya sendiri. Saya adalah musuh mematikan pemerintah, dan pertarungan ini hanya memiliki dua kemungkinan: mereka atau saya.