Title: Akankah Ekologi Menjadi 'Ilmu Pengetahuan yang Suram'?
Author: Murray Bookchin
Language: Bahasa Indonesia
Publication: Pustaka Catut
Date: 2021
Notes: Diterjemahkan oleh Bima Satria Putra dan diterbitkan oleh Pustaka Catut sebagai buku Ekologi dan Anarkisme: Kumpulan Esai. Diunggah ke SEA-AL oleh Matsutake (Archipelago Anarchist Archive).

Hampir satu setengah abad yang lalu, Thomas Carlyle, menjelaskan ekonomi sebagai “ilmu pengetahuan yang suram [the dismal science]”. Istilah tersebut melekat, terutama jika itu diterapkan pada premis ekonomi dalam pertentangan yang tidak dapat dihindari antara “kebutuhan yang rakus” dengan “sumber daya alam yang langka.” Dalam ekonomi yang demikian, karunia terbatas yang diberikan oleh “alam yang pelit” telah menyeret manusia pada kemerosotan ekonomi, kesengsaraan, konflik sipil, dan kelaparan.

Sekarang, istilah “ilmu pengetahuan yang suram” secara tepat menggambarkan tren tertentu dalam gerakan ekologi tren tampak dikendarai oleh gelombang kebangkitan religius dan mistisisme yang luar biasa. Saya tidak membahas sejumlah besar pemerhati lingkungan yang sangat termotivasi, bermaksud baik, dan seringkali radikal, yang sungguh-sungguh berusaha untuk menahan krisis ekologis. Tapi lebih mengarah pada kecenderungan eksotis Ekologi Dalam, biosentrisme, kesadaran Gaian, dan eko-teologi. Mereka-mereka ini sekte utama yang merayakan “penghormatan” kuasi-religius terhadap “Alam”, yang secara bersamaan merupakan penghinaan terhadap manusia dan sifat-sifat mereka.

Ahli ekologi mistik, seperti banyak pembangkit religius hari ini, memandang nalar dengan penuh curiga dan menekankan pentingnya pendekatan irasional dan intuitif terhadap isu-isu ekologis. Bagi Pastur Thomas Berry yang oleh banyak orang dianggap sebagai eko-teolog zaman kita: “proses yang sangat rasional yang kita agungkan sebagai satu-satunya cara untuk memahami, dengan ironi tertentu menemukan dirinya sebagai pengalaman mimpi imajinatif mistik. Kesulitan zaman kita adalah ketidakmampuan kita untuk bangkit keluar dari penyakit budaya ini.”

Seseorang tidak mesti jadi bagian dari jemaat yang menyuarakan gagasan yang membangkitkan sesuatu yang kuno semacam itu. Dalam nada yang lebih sekuler, Bill Devall dan George Sessions, profesor sosiologi dan filsafat, keduanya menulis Deep Ecology (1985), salah satu buku ekologi mistis yang paling banyak dibaca, menawarkan pesan “realisasi diri” melalui perendaman diri pribadi dalam kabut “Diri Kosmis”, atau, seperti kata mereka, “diri-dalam-Diri' di mana ‘Dirr berdiri untuk keutuhan organik.”

Bahasa Deep Ecology secara mendadak bersifat mesianistik: “Proses pembenturan diri secara penuh ini juga dapat dirangkum dalam ungkapan: “Tak seorang pun yang terselamatkan sampai kita semua terselamatkan, di mana ungkapan soal yang ‘seorang ini tidak hanya mencakup saya, sebagai sebuah individu manusia, tapi semua manusia, paus, beruang grizzly, seluruh ekosistem hutan hujan, gunung dan sungai, mikroba terkecil di dalam tanah, dan seterusnya.”

Daya tarik yang cenderung menasehati ini menimbulkan beberapa masalah yang sangat menguatirkan. Kata-kata “dan seterusnya” telah mengabaikan kebutuhan kita ketika berhadapan dengan patogen mikroba, vektor hewan penyakit mematikan, gempa bumi, dan topan, atau untuk merujuk pada makhluk yang kurang memuaskan secara estetis, ketimbang paus, beruang grizzly, serigala, dan pegunungan. Pilihpilih daftar biotik dan fisiografi “Ibu Bumi” ini telah menimbulkan beberapa masalah heboh atas pesan ekologis mistis tentang keselamatan universal.

Ahli ekologi mistis cenderung menyederhanakan masalah sosial dengan memandang permasalahan manusia (yang umumnya tidak mereka sukai) ke tingkat “spesies” yaitu menjadi masalah genetis. Dalam kata-kata Pastor Berry, umat manusia harus “diciptakan kembali pada tingkat spesies” dengan pergi “melampaui pengkodean budaya kita, pengkodean genetik kita, untuk meminta bimbingan.” Retorika yang mengikuti pihak ini dalam The Dream of the Earth berlanjut pada mitos, di mana “pengkodean genetika” kita telah mengikat kita “dengan dimensi alam semesta yang lebih besar”—alam semesta yang “membawa misteri mendalam keberadaan kita di dalam dirinya sendiri.” Anjuran Berry yang populer tersebut, akhir-akhir ini telah dikutip dengan setuju bahkan dalam literatur lingkungan konvensional yang sama sekali tidak sedang membicarakan jenis-jenis mistik.

Penginjilan kosmologis semacam itu, yang berpakaian ekologis, telah mencela kemanusiaan. Ketika manusia ditenun menjadi “jaring kehidupan” yang tidak lebih dari satu spesies “Ibu Bumi” yang tak terhitung banyaknya, mereka kehilangan tempat unik dalam evolusi alami sebagai makhluk rasional dengan kualitas yang berpotensi tak tertandingi, yang memiliki sifat sosial, kreativitas, dan kapasitas untuk berfungsi sebagai agen moral.

“Antroposentrisitas,” gagasan kuasi-teologis bahwa dunia ada untuk kepentingan manusia, dicemooh oleh ahli ekologi mistis yang mendukung gagasan kuasi-teologis “biosentrisitas” yang sama, yaitu bahwa semua bentuk kehidupan dapat dipertukarkan secara moral satu sama lain dalam pengertian “nilai intrinsik mereka”. Dalam buku Gaia Meditations mereka yang cengeng, dua ahli ekologi mistis, John Seed dan Joanna Macy, memerintahkan manusia yang fana untuk “memikirkan kematianmu yang selanjutnya. Hendaki daging dan tulangmu kembali ke dalam siklus. Menyerah. Cintailah cacing montok yang bakal melahapmu kelak. Basuh makhluk lelahmu melalui sumber mata air kehidupan.” Dalam dunia mistik sabuk matahari[1] Amerika yang gosong, omong kosong seperti itu hanya menjadi slogan stiker atau muncul dalam pembacaan puitis di berbagai kuil di kota besar dan kecil Anglo-Amerika.

Secara keseluruhan, penyederhanaan kasar krisis ekologis ke sumber biologis dan psikologis telah menghasilkan tubuh penyederhanaan “korektif” yang membuat ekonomi yang suram pada masa lalu tampak hampir optimis jika dibandingkan. Bagi kebanyakan ahli ekologi mistis, resep standar untuk masa depan yang “berkelanjutan” melibatkan gaya hidup yang berdasarkan pada penghematan serius—yang intinya ada pada disiplin pedesaan yang ditandai dengan mengkonsumsi makanan sederhana, berkerja keras, penggunaan “sumber daya alam” hanya untuk memenuhi kelangsungan kebutuhan hidup, dan primitivisme teistik yang menarik inspirasi dari Pleistosen atau “spiritualitas” Neolitik ketimbang Renaisans atau rasionalitas zaman Pencerahan.

Spiritualitas dan rasionalitas, yang ekologi mistik sering lihat dalam istilah yang merendahkan dan sederhana, ditubruk satu sama lain seperti antara setan dengan malaikat. Para mistikus biasanya menganggap teknologi, sains, dan nalar sebagai sumber dasar krisis ekologis, dan berpendapat bahwa hal ini harus dilawan atau bahkan digantikan dengan kerja keras, ramalan, dan intuisi. Yang lebih mengganggu lagi, banyak ahli ekologi mistik adalah orang-orang neo-Malthus, yang mana unsur-unsur yang lebih kasarnya menganggap bahwa kelaparan dan penyakit yang sesekali terjadi bahkan diperlukan untuk mengurangi populasi manusia.

Masa depan yang suram yang ditimbulkan oleh ahli ekologi mistis sama sekali bukan ciri dari pandangan yang diproyeksikan gerakan ekologi dari generasi yang terdahulu. Sebaliknya, ahli ekologi radikal pada tahun 1960'an merayakan prospek kehidupan yang memuaskan, terbebas dari kesusahan materi, kerja keras, dan penyangkalan diri yang dihasilkan oleh kapitalisme pasar dan birokrasi.

Visi utopis yang dikembangkan terutama oleh Ekologi Sosial pada tahun 1964 dan 1965, bukanlah visi yang anti-teknologis, anti-rasional, atau anti-ilmiah. Ia untuk pertama kalinya diungkapkan dalam gerakan ekologi, kemungkinan untuk pemulihan sosial, teknologi, dan spiritual yang baru. Ekologi Sosial mengklaim bahwa gagasan untuk mendominasi alam berasal dari dominasi manusia oleh manusia, dalam bentuk tidak hanya eksploitasi kelas akan tetapi juga dominasi hirarkis. Kapitalisme—bukannya teknologi, nalar, atau sains—yang yang menghasilkan ekonomi yang secara sistemik anti-ekologis. Dipandu oleh pepatah “tumbuh atau mati” dari pasar yang kompetitif, ia benar-benar bakal melahap biosfer, mengubah hutan menjadi kayu dan tanah menjadi pasir.

Dengan demikian, kunci untuk menyelesaikan krisis ekologis bukan hanya dengan perubahan spiritualitas—dan bukan mundur ke religiusitas pra-sejarah—namun merupakan perubahan yang menyeluruh dalam masyarakat. Ekologi Sosial menawarkan visi masyarakat non-hirarkis dan komunitarian yang akan didasarkan pada komunitas konfederal yang demokratis secara langsung dengan teknologi yang terstruktur seputar sumber energi matahari, angin, dan terbarukan, budidaya makanan dengan metode organik, kombinasi penggunaan kerajinan tangan dan mesin yang sangat serbaguna, otomatis, dan canggih untuk mengurangi kerja keras manusia dan orang menjadi bebas untuk mengembangkan diri sebagai penduduk yang kreatif dan yang terinformasi.

Hilangnya tahun-tahun yang utopis pada 1960'an menjadi periode 1970'an yang reaksioner membuat jutaan orang mundur dengan mantap ke dalam kealamian spiritual yang terpendam dalam budaya tanding (counter-culture) satu dekade sebelumnya. Karena kemungkinan perubahan sosial mulai berkurang, orang mencari kenyataan pengganti untuk menutupi penyakit masyarakat yang terjadi dan malah mengaburkan kesulitan untuk menyembuhkannya. Terlepas dari selingan singkat ketahanan lingkungan terhadap pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, panci besar gerakan ekologi mulai menarik diri dari masalah sosial ke masalah spiritual, yang banyak di antaranya bersifat mistis dan teistik.

Di ranah universitas, Lynn White Jr, yang mengajukan penjelasan religius untuk krisis ekologis dengan memberikan karakter dari dunia lain, memulai penarikan diri ini. Pada saat yang bersamaan, Tragedy of the Commons karya Garrett Hardin membawa hantu Malthus ke dalam wacana ekologi ke kampus, yang kemudian mengalihkan dorongan sosial gerakan ekologi tahun 1960'an ke dalam permainan angka demografis. Kedua akademisi ini telah mengajukan pandangan mereka sebagian besar di majalah Science, yang hanya memiliki jangkauan publik yang terbatas. Kelak majalah ini dibaca seorang ahli biologi mistik dari Kalifornia, Paul Ehrlich, yang mengalihkan perhatian ekologi awal tahun 1970 dari ranah sosial ke dalam sebuah edisi tunggal pertumbuhan populasi. Ia menulis satu makalah yang histeris, The Population Bomb, yang dicetak berulang kali dan mencapai jutaan pembaca.

Seperti petugas SS yang menulis sambil berkeliling di ghetto Warsawa, Ehrlich di halaman pembuka traktatnya tidak melihat apapun selain “People! People!”—terperosok untuk mencermati bahwa masyarakat yang ganas telah merendahkan nyawa manusia. Benang tipis yang menyatukan White dan yang lebih kuat lagi, Hardin dan Ehrlich, adalah tafsiran non-sosial yang mereka berikan pada masalah ekologis yang sama sekali tidak memberikan gambaran ekologis bagi kita semua.

Arne Næss, seorang pendaki gunung dan akademisi Norwegia, memberikan gambaran umum seperti itu pada tahun 1973. Dia menciptakan istilah “Ekologi Dalam” dan memupuknya sebagai filsafat ekologis, atau kepekaan yang mengajukan “pertanyaan mendalam” yang berbeda dengan “ekologi dangkal.” Daur ulang ke dalam bentuk spiritualisme California seperti dilakukan Devall dan Sessions dengan campuran aneh Buddhisme, Taoisme, kepercayaan asli Amerika, Heidegger, dan Spinoza, ekologi mistis yang sekarang siap untuk diluncurkan sebagai “Hikmat Bumi yang baru”.

Apa yang melambungkan sensibilitas yang membingungkan dari kampus ke dalam judul utama surat kabar ini, bagaimanapun juga, adalah gerakan konservasi alam liar, Earth First!, yang mulai melakukan tindakan langsung yang dramatis terhadap kemunculan penebangan hutan dan ketidaksenonohan serupa lain oleh perusahaan Amerika yang terjadi di banyak wilayah alam liar.

Pendiri Earth First! khususnya David Foreman, adalah para konservasionis yang lelah dengan taktik melobi yang tak efektif dari organisasi konservasi yang berbasis di Washington. Terinspirasi oleh penulis novel Edward Abbey dalam The Monkey Wrench Gang yang sangat populer, yang pandangannya benar-benar membenci manusia dan bersinggungan dengan rasisme atas penghargaannya pada “budaya Eropa utara” Amerika, para pemimpin Earth First! mulai menggunakan Ekologi Dalam sebagai filsafatnya.

Bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa kebanyakan orang-orang Earth First! tahu tentang “Ekologi Dalam” selain klaimnya bahwa mereka “dalam”. Tetapi Devall dan Sessions telah menempatkan Malthus di jajaran para nabi dan menggambarkan “masyarakat industri” -dan bukannya kapitalisme- sebagai perwujudan dari penyakit yang pada umumnya diejek oleh ahli ekologi mistik. Memang, buku mereka sangat berorientasi pada alam liar, secara tegas “biosentris,” dan tampaknya menaruh sedikit kecurigaan pada kedudukan umat manusia di alam semesta.

Konsistensi tidak pernah jadi titik kuat dalam gerakan anti-rasional. Makanya tidak perlu heran kalau Devall dan Sessions sungguh-sungguh memuji “diri-dalam-Diri”, bentuk kepedulian panteisme[2] atau hylozoisme[3]. Foreman juga tanpa ragu menggambarkan manusia sebagai sebuah “kanker” bagi alam. Tapi yang paling mengejutkan, Gary Snyder, penyair gerakan Ekologi Dalam, menggambarkan manusia sebagai “belalang”.

Ekologi mistik sebagai ilmu pengetahuan yang suram, sebenarnya, bersifat anti-humanis. Meskipun dengan kesalehannya yang lembut oleh Pastor Berry misal, ia jadi sangat ganas soal sikapnya dalam melihat manusia, yang ia gambarkan sebagai “mode makhluk bumi paling merusak.” Memang, “kita adalah penghenti, bukan pemenuh, dari proses bumi. Jika segala makhluk membentuk parlemen, keputusan pertamanya pastilah untuk mengusir manusia keluar dari masyarakat, yang kehadirannya sudah terlalu mematikan untuk bisa ditolerir lebih jauh lagi. Kita adalah penderitaan dunia, kehadiran iblis. Kita adalah pelanggaran terhadap aspek-aspek yang paling suci di Bumi,” tulisnya.

Bau busuk rohaniawan ini sering kali lebih pilih-pilih. Paling kerennya mereka kadang menodong orang-orang kaya, bukan orang yang miskin: penindas, bukan yang tertindas, penguasa, bukan yang dikuasai. Tapi ekologi mistis cenderung lebih merangkul semuanya. Pembaptisan oleh Berry “kita”, seperti perlakuannya terhadap “manusia” sebagai spesies dan bukan sebagai makhluk yang terbagi oleh penindasan ras, jenis kelamin, sarana material kehidupan, budaya, dan sejenisnya, cenderung menembus ekologi mistis.

“Kita semua adalah kapitalis,” tulis seorang Norwegia yang bermaksud baik, Erik Dammann, yang karyanya berjudul The Future in Our Hands telah disebut-sebut oleh Arne Næss sebagai manifesto virtual untuk perbaikan sosial. Para tunawisma di kota-kota Amerika, korban AIDS yang tewas di taman Platzspiz Zurich yang terkenal itu, orang-orang yang bekerja terlalu keras di tambang dan pabrik di Dunia Pertama -tidak ada satu pun dari hal ini yang menjadi pertimbangan Dammann. Ia menyarankan “kita” yang ada di Amerika dan Eropa supaya mengurangi konsumsi barang kita demi orang-orang di negara Dunia Ketiga yang miskin.

Hal ini mungkin tampak terpuji karena bertujuan untuk mengurangi konsumsi, tapi ini adalah bentuk tes yang tak efektif dalam kegiatan amal, bukan mobilisasi sosial, dalam humanitarianisme, bukan perubahan sosial. Ini juga merupakan tes dalam bentuk analisis sosial rendahan yang secara berlebihan memainkan faktor-faktor sistemik yang sangat dalam yang telah menghasilkan elit yang kelebihan makanan di seluruh belahan dunia dan massa kelas bawah yang kekurangan makanan. Hampir semua yang kita pelajari dari niat baik Dammann yang liberal itu adalah bahwa “kita” secara keseluruhan harus disalahkan atas penyakit dunia—konsumen “mistis” yang dengan rakus menuntut perusahaan “kita” yang terpaksa bekerja terlalu keras untuk berproduksi.

Terlepas dari retorika radikal yang dilewati Devall and Sessions, resep praktis utama untuk perubahan sosial yang mereka tawarkan pada “kita” dalam Deep Ecology hanyalah doa yang naif. “Prinsip pertama kita,” tulis mereka, “adalah mendorong agensi, perwakilan rakyat, pemilik properti dan manajer, untuk mempertimbangkan supaya diri mereka dapat mengalir bersama daripada memaksakan proses alami.” Kita harus “bertindak melalui proses politik untuk menginformasikan kepada manajer dan lembaga pemerintah mengenai prinsip-prinsip ekologi yang dalam,” untuk mencapai “beberapa perubahan signifikan dalam arah kebijakan manajemen jangka panjang yang arif.”

Liberalisme yang disirami dengan firman Devall and Sessions bergema secara secara terang-terangan dalam buku terbaru Paul Heyl dan Anne Ehrlich, Healing the Planet, di mana para penulis menyatakan kepatuhan mereka terhadap Ekologi Dalam, sebuah “gerakan kuasi-religius” (menggunakan kata-kata mereka sendiri) dengan “mengakui bahwa sebuah filosofi baru yang sukses tidak dapat didasarkan pada omong kosong ilmiah.” Sains dicampakan begitu saja, yang hampir tidak sesuai dengan penulis yang reputasinya didasarkan pada kepercayaan ilmiah mereka, dengan atau tanpa penggunaan kata “omong kosong” yang tidak jelas untuk memenuhi syarat ucapan mereka. Suatu histeris yang lebih dijaga akhir-akhir ini daripada di jalur awal mereka, Ehrlichs menawarkan sesuatu untuk semua orang dalam skenario yang agak membingungkan yang menunjukkan kepedulian terhadap orang miskin dan juga orang kaya, Dunia Ketiga dan juga yang Pertama, bahkan kaum Marxis sebagaimana yang juga diakui konservatif. Tapi hampir setiap bagian penting dalam buku ini mengulangi nada yang menandai karya mereka yang sebelumnya: “Mengontrol pertumbuhan populasi adalah sangat penting.”

Perlakuan Ehrlich terhadap masalah mendasar sosial, bagaimanapun, mengungkapkan sejauh mana mereka menghadapi tatanan yang mapan. Demokrasi “ekonomi berbasis pasar kita sejauh ini adalah sistem politik dan ekonomi paling sukses yang pernah dimiliki manusia.” Bahwa ada hubungan yang sistemik antara ekonomi berbasis pasar dan perampokan yang kejam di planet ini, hampir tidak pernah muncul dalam cakrawala sosial Ehrlichs.

Naess mungkin kurang jelas—tapi lebih meresahkantentang solusinya sendiri. Karena dia menekankan filosofi politik alternatif seperti komunisme dan anarkisme, ia menegaskan dalam Ecology, Community, and Lifestyle yang baru saja diterjemahkan bahwa, Ekologi Dalam punya kedekatan dengan “anarkisme non-kekerasan kontemporer.” Tetapi pembaca yang mungkin tertegun dengan komitmen terhadap alternatif libertarian ini—dengan cepat mengetahui bahwa “dengan tekanan populasi yang sangat besar dan makin berlipat ganda dan perang atau kondisi yang mirip perang di banyak tempat, nampaknya untuk mempertahankan beberapa institusi pusat yang cukup kuat tak dapat terhindari”—atau, kurang lebih seperti banyak ahli ekologi biasa inginkan, sebuah negara terpusat yang “cukup kuat”. Sebenarnya, inilah neo-Malthusianisme Nzess dan pandangan pesimisnya tentang kondisi manusia yang memperkuat keyakinan elitis dalam gerakan ekologi untuk sentralisasi negara dan penggunaan kekuasaan. Pandangan ahli Ekologi Dalam seperti Christopher Manes, yang oleh rekan-rekannya dianggap sebagai seorang ekstremis, hampir tidak layak mendapatkan diskusi yang serius. Manes telah menyambut epidemi AIDS sebagai alat kontrol populasi. Banyak penulis ekologi mistis menggemakan klaimnya bahwa “adalah keliaran dan bukannya peradaban yang sebenarnya dunia nyata.”

Salah satu kutukan yang paling aneh terhadap manusia sebagai sumber krisis ekologis berasal dari James Lovelock, arsitek “hipotesis Gaia”, dengan mitos bahwa Bumi, yang dipersonifikasikan sebagai “Gaia” (dewi Yunani di planet kita), secara harfiah adalah organisme hidup. Dalam teologi ini, “kita”, tidak perlu dikatakan lagi, tidak hanya remeh dan dapat dibuang seenaknya, tapi seperti beberapa orang Gaian lain jelaskan, manusia adalah parasit “kutu cerdas” di planet ini. Bagi Lovelock, kata “kita” menggantikan semua perbedaan antara elit dan korbannya dalam tanggung jawab bersama untuk penyakit ekologi masa kini.

“Kekhawatiran manusiawi kita tentang orang miskin di dalam kota-kota di negara-negara Dunia Ketiga,” seperti yang Lovelock deklarasikan, “dan obsesi kita yang hampir cabul terhadap kematian, penderitaan, dan rasa sakit seolah-olah ini adalah kejahatan dalam diri mereka sendiri -pikiran-pikiran ini mengalihkan pikiran dari kejujuran kita dan dominasi yang berlebihan pada alam. Kemiskinan dan penderitaan tidak dikirim: mereka adalah akibat dari apa yang telah kita perbuat.”

Ini adalah “saatnya kita mengemudikan mobil kita dan mendengar bahwa radio menyampaikan berita tentang hujan asam (kita) perlu mengingatkan diri kita bahwa kita, secara pribadi, adalah pencemar.” Diteruskannya lagi, “oleh karena itu kita bertanggung jawab atas penghancuran pohon-pohon dengan asap fotokimia dan hujan asam.” Konsumen rendahan telah dituduh sebagai sumber sebenarnya dari permasalahan ekologis, bukannya produsen yang mengatur selera masyarakat melalui media massa dan perusahaan yang memiliki dan menghancurkan apa yang dijelaskan oleh Lovelock sebagai ilahi Gaia.

Gerakan ekologi terlalu penting untuk membiarkan dirinya diambil alih oleh mistikus samar-samar dan pembenci manusia yang reaksioner. Gerakan tradisional buruh, yang banyak kaum radikal dulunya pernah menaruh harapan untuk menciptakan masyarakat yang baru, telah layu. Di Amerika Serikat, gerakan populis yang lama telah mati dengan strata agraris yang memberi mereka beberapa hal yang menyusulnya. Masa depan liberalisme Rooseveltian bergantung pada keseimbangan akibat serangan Reagan-Bush terhadap reformasi New Deal[4] dengan mengkooptasi hampir tiap penyebab yang bermanfaat, termasuk environmentalisme konvensional itu sendiri, disimbolisasikan dengan mudahnya sebagaimana perusahaan memaksa sebuah slogan berbunyi SETIAP HARI ADALAH HARI BUMI!

Tapi dunia alam itu sendiri tidak dapat dikooptasi. Kerumitan proses organik dan iklim masih bertentangan dengan kontrol ilmiah, seperti halnya dorongan pasar untuk memperluas masih bertentangan dengan kontrol sosial. Sengketa antara dunia alam dan dunia masyarakat sekarang semakin besar selama dua dekade terakhir. Masalah ekologis dengan jumlah besar mungkin mulai membayangi isu-isu yang lebih sensasional yang menjadi berita utama hari ini.

Tabrakan utama yang menentukan: di satu sisi ada ekonomi yang tumbuh atau mati, lepas kendali. Di sisi lain, kondisi rapuh yang diperlukan untuk pemeliharaan bentuk kehidupan lanjut di planet ini. Tabrakan ini, pada kenyataannya, menghadapkan manusia itu sendiri dengan alternatif yang tajam: sebuah masyarakat ekologi yang terstruktur seputar cita-cita Ekologi Sosial dari jaringan komunitas yang terkonfederasi, demokratis secara langsung, dan berorientasi ekologis, atau masyarakat otoritarian di mana interaksi manusia dengan alam akan terstruktur seputar komando ekonomi dan politik. Prospek ketiga, tentu saja, adalah penghangusan kemanusiaan ke dalam serangkaian bencana ekologis yang tak terhindarkan.

Gerakan ekologi yang sembrono dan membiarkan dirinya dibimbing oleh berbagai macam mistik ini menjadi tidak dapat diampuni—sebuah tragedi besar yang kebangetan. Meskipun atmosfir distopian tampaknya mencakup banyak gerakan, visi utopis tentang masyarakat yang demokratis, rasional, dan ekologis akan dapat hidup terus pada saat ini sebagaimana seperti generasi yang telah lampau.

Galur misantropis yang berjalan melalui gerakan atas nama “biosentrisitas”, anti-humanisme, kesadaran Gaian, dan neo-Malthusianisme, mengancam dapat membuat ekologi, dalam artian luas, sebagai kandidat terbaik yang kita miliki untuk menjadi sebuah “ilmu pengetahuan yang suram”. Upaya banyak ahli ekologi mistis untuk menyingkirkan masyarakat saat ini karena bertanggungjawab atas paceklik, epidemi, kemiskinan, dan kelaparan, hanya melayani elit kekuasaan dunia. Mereka malah jadi alat pembelaan ideologis yang paling efektif untuk mempertahankan kekayaan ekstrem di satu sisi dan kemiskinan di sisi lain.

Pilihan sulit tentang masa depan umat manusia dalam era krisis ekologis yang berkembang saat ini bukan hanya harus dibuat oleh sebagian besar orang banyak, adalah gerakan ekologi itu sendiri yang harus membuat pilihan sulit kemana ia hendak berjalan di tengah berkembangnya mistifikasi.

[1] Catatan penerjemah : Sabuk matahari (sunbelt) merujuk pada suatu kawasan di belahan selatan negara Amerika Serikat. Wilayah ini ditandai dengan musim dingin ringan, pancaran matahari lebih panjang, dan peluang pertumbuhan ekonomi.

[2] Keyakinan bahwa realitas identik dengan keilahian, atau bahwa segala sesuatu adalah tuhan yang abadi dan mencakup segalanya. penerjemah.

[3] Suatu keyakinan bahwa semua materi itu hidup -penerjemah.

[4] New Deal adalah rangkaian program pemerintah federal Amerika, proyek publik, dan reformasi finansial dan regulasi sepanjang 1930'an dalam menghadapi Depresi Besar -penerjemah.