Alam dan Masyarakat

        Dominasi dan Hirarki Sosial

        Gagasan untuk Mendominasi Alam

        “Tumbuh atau Mati!”

        Masyarakat Ekologis

Apa yang secara harfiah mendefinisikan Ekologi Sosial sebagai “sosial” adalah pengakuan terhadap fakta yang tampak bahwa seluruh permasalahan ekologi kita saat ini berasal dari permasalahan sosial yang telah mengakar dalam. Sebaliknya, permasalahan ekologi saat ini tidak bisa dipahami dengan jelas, apalagi dipecahkan, tanpa dengan tegas berurusan pada masalah dalam masyarakat. Untuk membuat hal ini lebih konkrit: konflik ekonomi, etnis, budaya, dan gender, di antara banyak hal lainnya, terletak pada inti dari masalah ekologis paling serius yang kita hadapi saat ini—selain itu, tentu saja, dari bencana alam yang diakibatkannya.

Jika pendekatan ini tampaknya terlalu “sosiologis” bagi para pemerhati lingkungan yang mengidentifikasi masalah ekologis dengan pelestarian satwa liar, padang gurun, atau yang lebih luas lagi, dengan “Gaia” dan “keesaan” planet, mungkin akan menjadi sangat serius untuk mempertimbangkan beberapa fakta baru-baru ini. Tumpahan minyak besar-besaran yang telah terjadi selama dua dekade terakhir, penggundulan hutan tropis dan pohon purba raksasa secara besarbesaran di beberapa area, dan proyek pembangkit listrik tenaga air yang akan membanjiri kawasan yang luas di mana banyak orang hidup, hanya beberapa masalah yang mengingatkan kita bahwa medan pertempuran sesungguhnya di mana masa depan ekologi planet ini diputuskan, jelas merupakan jalan yang bersifat sosial, terutama antara kekuatan korporasi dan daya tarik kemanusiaan jangka panjang secara keseluruhan.

Memang, memisahkan masalah ekologis dari masalah sosial—a tau bahkan untuk mengecilkan hati atau memberikan pengakuan terhadap hubungan penting ini—akan sangat menyalahartikan sumber-sumber krisis lingkungan yang terus berlanjut. Cara manusia saling berhadapan sebagai makhluk sosial sangat penting untuk mengatasi krisis ekologis. Jika kita tidak mengenali hal ini dengan jelas, kita pasti akan gagal untuk melihat bahwa hubungan mental dan hirarkis yang begitu menyeluruh akhirnya membuat masyarakat menyerah pada munculnya gagasan untuk mendominasi dunia alam.

Jika kita tidak menyadari bahwa masyarakat pasar saat ini, yang secara brutal terstruktur seputar keharusan “tumbuh atau mati”, adalah mekanisme operasi mandiri yang impersonal, kita akan keliru menyalahkan teknologi karena pertumbuhan populasi seperti itu sebagai penyebab masalah lingkungan. Kita akan mengabaikan akar permasalahannya, seperti perdagangan keuntungan, perluasan industri, dan identifikasi “kemajuan” dengan kepentingan pribadi perusahaan. Singkatnya, kita akan cenderung memperhatikan gejala penyakit sosial yang samar ketimbang pada penyakitnya itu sendiri, dan usaha kita akan diarahkan pada tujuan yang terbatas yang pencapaiannya lebih bersifat menghias ketimbang memperbaikinya.

Sementara beberapa orang mempertanyakan apakah Ekologi Sosial telah menangani secara memadai isu-isu spiritualitas, sebenarnya, di antara seluruh ekologi kontemporer yang ada, ia yang paling awal menyerukan perubahan luas dalam nilai-nilai spiritual. Perubahan seperti itu berarti perubahan mentalitas dominasi kita yang meluas menjadi salah satu pelengkap, di mana kita akan melihat peran kita di alam sebagai kebutuhan kreatif atau pendukung, dan yang menghargai kebutuhan hidup non-manusia. Dalam Ekologi Sosial, spiritualitas alamiah berpusat pada kemampuan umat yang terbangun untuk berfungsi sebagai agen moral dalam mengurangi penderitaan yang tidak perlu, terlibat dalam perbaikan ekologis, dan mendorong penghargaan atas keindahan evolusi alam dalam semua kesuburan dan keberagamannya. Dengan demikian Ekologi Sosial tidak pernah menjauhkan kebutuhan akan spiritualitas atau mentalitas baru yang radikal dalam seruannya untuk usaha bersama demi mengubah masyarakat. Memang, pada awal tahun 1965, pernyataan publik pertama yang mengajukan gagasan Ekologi Sosial diakhiri dengan keputusan berikut: “Pemikiran untuk mengatur perbedaan antara bentuk manusia dan bentuk kehidupan lain di sepanjang garis hirarkis “supremasi” atau 'inferioritas' saat ini akan memberi jalan pada pandangan yang berkaitan dengan keragaman secara ekologis—yaitu, sesuai dengan “etika saling melengkapi”—ethics of complementarity[1]. Dalam etika semacam itu, manusia akan melengkapi makhluk non-manusia dengan kemampuan mereka sendiri untuk menghasilkan karya yang lebih kaya, kreatif, dan keseluruhan perkembangannya—bukan sebagai spesies yang “dominan,” tetapi sebagai pendukung. Meskipun gagasan ini, yang diungkapkan pada saat-saat tertentu sebagai daya tarik untuk “menyucikan kembali dunia alamiah” berulang terus di sepanjang literatur Ekologi Sosial, seharusnya bukan suatu kesalahan bagi sebuah teologi untuk meningkatkan keilahian atas alam atau yang berusaha menemukan sesuatu semacam itu didalamnya. Spiritualitas yang dikembangkan oleh Ekologi Sosial secara definitif adalah naturalis (seperti yang diharapkan, mengingat hubungannya dengan ekologi itu sendiri, yang berasal dari ilmu biologi), bukan dari spekulasi area supernaturalistik atau panteistik.

Untuk memprioritaskan kebutuhan suatu bentuk “ekospiritualitas” panteistik apapun atas faktor sosial ini, ia akan menimbulkan pertanyaan yang serius tentang bagaimana kemampuan seseorang untuk mengatasi suatu kenyataan. Pada saat mekanisme sosial yang buta, yaitu pasar, telah mengubah tanah menjadi pasir, menutupi lahan subur dengan beton, meracuni udara dan air, dan menghasilkan perubahan iklim dan atmosfer yang menyapu kita semua, kita tidak dapat mengabaikan dampak dari masyarakat kelas dan hirarkis ke dunia alamiah. Kita harus sungguh-sungguh menghadapi kenyataan bahwa pertumbuhan ekonomi, penindasan gender, dan dominasi etnis -belum lagi soal kepentingan perusahaan, negara, dan birokrasi—jauh lebih mampu membentuk masa depan dunia alam ketimbang bentuk privatistik dari regenerasi diri bentuk-bentuk dominasi ini. Ia harus dihadapkan pada aksi kolektif dan gerakan sosial utama yang menantang sumber-sumber sosial dari krisis ekologis, tidak hanya dengan bentuk konsunsi dan investasi personalistik yang sering berada di bawah rubrik konyol “kapitalisme hijau.” Kita hidup dalam masyarakat yang sangat kooptatif yang hanya bersemangat untuk menemukan area baru dari perluasan komersial dan menambahkan sesi ekologis ke periklanan dan ke dalam hubungan dengan konsumen.

Alam dan Masyarakat

Untuk keluar dari citra ekologi berorientasi profit ini, mari kita mulai dengan hal-hal dasar—yaitu, dengan bertanya apa yang kita maksud dengan alam dan masyarakat. Di antara banyak definisi tentang alam yang telah dirumuskan dari waktu ke waktu, salah satu yang punya hubungan dekat dengan Ekologi Sosial sebenarnya sukar dimengerti dan bahkan seringkali membuat seseorang sulit memahaminya, karena ia memerlukan cara berpikir tertentu—yang bertentangan dengan apa yang secara populer kita sebut “pemikiran linier.” Bentuk pemikiran “non-linier” atau organik ini lebih bersifat developmental daripada analitis, atau, dalam istilah yang lebih teknis, bersifat dialektis daripada instrumental. Ia memahami dunia alam sebagai sebuah proses perkembangan, yang lebih dari sekedar pemandangan indah yang kita lihat dari puncak gunung atau gambar yang dipatok di bagian belakang gambar kartu pos. Pemandangan dan citra alam non-manusia semacam itu pada dasarnya bersifat statis dan tidak bergerak. Perhatian kami, tentu saja, mungkin dipahami sebagai elang yang mengepakkan sayap untuk terbang, atau lompatan dari seekor rusa, atau bayangan dari seekor rubah yang berlari. Tapi apa yang sebenarnya kita saksikan dalam kasus semacam itu adalah kinetika gerak fisik belaka, yang terperangkap dalam bingkai gambar kaku yang sebenarnya ada di depan mata kita. Hal ini menipu kita untuk percaya pada “kekekalan” sesaat di alam.

Tapi alam non-manusia ini lebih dari sekedar pemandangan, dan jika kita melihat dengan seksama kita mulai merasakan bahwa pada dasarnya ini adalah fenomena yang berkembang, yang kaya raya dan bahkan sebuah perkembangan dramatis yang selamanya terus berubah. Maksud saya untuk mendefinisikan sifat non-manusia secara tepat sebagai proses yang berkembang, seperti totalitas, yang pada kenyataannya sebenarnya berangkat dari evolusinya. Hal ini mencakup perkembangan dari anorganik menjadi organik, dari dunia organisme bersel tunggal yang mirip satu sama lain dan relatif terbatas hingga yang multiselular yang dilengkapi dengan peralatan saraf sederhana, kemudian menjadi yang kompleks, yang pada saat ini cukup cerdas untuk memungkinkan mereka membuat pilihan inovatif. Akhirnya, organisme yang memperoleh darah hangat ini punya kelenturan yang menakjubkan untuk hadir di lingkungan dengan iklim yang paling menekan sekalipun.

Drama alam non-manusia yang luas ini sangat menakjubkan. Hal ini ditandai dengan meningkatnya subjektivitas dan fleksibilitas dan dengan meningkatkan diferensiasi yang membuat organisme lebih mudah beradaptasi terhadap tantangan dan peluang lingkungan baru dan membuat makhluk hidup lebih siap untuk mengubah lingkungannya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Seseorang mungkin mengira bahwa potensi materi itu sendiri—interaktivitas atom yang tak henti-hentinya dalam membentuk kombinasi kimia baru untuk menghasilkan molekul, asam amino, protein, dan, dalam kondisi yang lebih sesuai, bentuk kehidupan dasar- melekat pada sifat anorganik. Atau seorang dapat memutuskan, dengan sungguh-sungguh, bahwa “perjuangan untuk tetap eksis” atau “sintasan yang terbugar—survival of the fittest” (menggunakan istilah Darwinian yang populer) menjelaskan mengapa semakin subjektif dan lebih lentur suatu makhluk, maka ia akan lebih efektif mampu menghadapi perubahan lingkungan yang lebih banyak ketimbang makhluk yang kurang subjektif dan lentur. Tapi faktanya, tetap, bahwa jenis drama evolusioner yang saya gambarkan, telah terjadi dan terukir di batu sebagai sebuah rekaman fosil. Alam non-manusia itu adalah catatan ini, sejarah ini, proses perkembangan atau evolusioner ini, adalah fakta yang sangat serius.

Menganggap bahwa alam non-manusia sebagai sebuah evolusi interaktifnya sendiri dan bukan sekedar pemandangan yang indah, dapat memberikan pengaruh yang mendalam—baik etis maupun biologis—pada orang-orang yang berpikiran secara ekologis. Manusia setidaknya berpotensi mewujudkan atribut perkembangan non-manusia yang menempatkan mereka secara tepat dalam evolusi organik. Manusia bukan “alien alami”, ungkapan kuat Neil Evernden yang eksotis, kelainan filogenetik yang karena kapasitas pembuatan alat mereka yang, “tidak dapat berkembang dengan ekosistem di manapun.”[2] Manusia juga bukan “kutu yang cerdas,” seperti bahasa yang biasa digunakan para ahli teori Gaian yang percaya bahwa bumi (“Gaia”) adalah satu organisme hidup.[3] Pemisahan yang tidak dapat dipertahankan antara manusia dan proses evolusioner ini sama dangkalnya dengan potensi untuk menjadi pembenci manusia (misantropik). Manusia adalah primata yang sangat cerdas (memang, yang sangat sadar diri), yang mengatakan bahwa mereka telah muncul—bukannya menyimpang- dari evolusi panjang bentuk kehidupan vertebrata menjadi mamalia dan akhirnya menjadi bentuk kehidupan primata. Mereka adalah produk dari tren evolusioner yang signifikan terhadap intelektualitas, kesadaran diri, akan intensionalitas dan ekspresi, baik itu dalam bahasa verbal atau dalam bahasa tubuh.

Manusia menjadi bagian dari rangkaian alami [natural continuum], yang kurang lebih sama seperti nenek moyang primata dan mamalia mereka secara umum. Menggambarkan manusia sebagai “alien” yang tidak punya tempat atau silsilah dalam evolusi alami, atau melihat manusia pada dasarnya sebagai perwujudan dari parasit yang menghisap bumi seperti yang dilakukan oleh kutu pada anjing dan kucing, tidak hanya buruk secara ekologis tetapi juga cacat pikiran. Pemikiran seperti ini sangat disayangkan, yang pada umumnya berlaku di antara kalangan para etikawan, yang karena kurang peka dalam merasakan proses, telah membagi secara radikal antara manusia dengan non-manusia. Tentu saja, pemikir lingkungan yang hingga derajat tertentu meromantisir alam non-manusia sebagai keliaran dan melihatnya secara otentik lebih “alami” ketimbang hasil karya manusia, telah membekukan sifat non-manusia sebagai domain terbatas dimana inovasi manusia, pandangan ke masa depan, dan kreativitas tidak memiliki tempat dan tidak menawarkan kemungkinan apapun.

Yang betul adalah bahwa manusia itu tidak hanya milik alam, mereka adalah produk yang panjang, proses evolusioner alami. Aktivitas mereka yang tampak “tidak alami”—seperti perkembangan teknologi dan sains, pembentukan lembaga sosial yang bisa berubah, bentuk komunikasi dan estetika yang sangat peka secara simbolis, dan terciptanya perkotaan—semuanya tidak mungkin terjadi tanpa jajaran besar atribut vertabrata menjadi mamalia dan akhirnya menjadi bentuk kehidupan primata. Mereka adalah produk dari tren evolusioner yang signifikan terhadap intelektualitas, kesadaran diri, akan intensionalitas dan ekspresi, baik itu dalam bahasa verbal atau dalam bahasa tubuh.

Manusia menjadi bagian dari rangkaian alami (natural continuum], yang kurang lebih sama seperti nenek moyang primata dan mamalia mereka secara umum. Menggambarkan manusia sebagai “alien” yang tidak punya tempat atau silsilah dalam evolusi alami, atau melihat manusia pada dasarnya sebagai perwujudan dari parasit yang menghisap bumi seperti yang dilakukan oleh kutu pada anjing dan kucing, tidak hanya buruk secara ekologis tetapi juga cacat pikiran. Pemikiran seperti ini sangat disayangkan, yang pada umumnya berlaku di antara kalangan para etikawan, yang karena kurang peka dalam merasakan proses, telah membagi secara radikal antara manusia dengan non-manusia. Tentu saja, pemikir lingkungan yang hingga derajat tertentu meromantisir alam nonmanusia sebagai keliaran dan melihatnya secara otentik lebih “alami” ketimbang hasil karya manusia, telah membekukan sifat non-manusia sebagai domain terbatas dimana inovasi manusia, pandangan ke masa depan, dan kreativitas tidak memiliki tempat dan tidak menawarkan kemungkinan apapun.

Yang betul adalah bahwa manusia itu tidak hanya milik alam, mereka adalah produk yang panjang, proses evolusioner alami. Aktivitas mereka yang tampak “tidak alami”—seperti perkembangan teknologi dan sains, pembentukan lembaga sosial yang bisa berubah, bentuk komunikasi dan estetika yang sangat peka secara simbolis, dan terciptanya perkotaan—semuanya tidak mungkin terjadi tanpa jajaran besar atribut fisik manusia yang telah menjadi pendahulu dalam pembuatannya. Jadilah otak manusia yang besar atau bipedal bergerak yang membebaskan tangan manusia untuk membuat alat dan membawa makanan. Dalam banyak hal, sifat manusia adalah pembesaran sifat tidak manusiawi yang telah berkembang selama berabad-abad. Meningkatkan perawatan bagi kaum muda, kerja sama, substitusi perilaku mental yang diarahkan untuk sebagian besar perilaku naluriah—semuanya hadir lebih tajam dalam perilaku manusia. Di antara manusia, berbeda dengan makhluk non-manusia lain, ciri-ciri ini dikembang dengan cukup perluasan dan penggabungan untuk mencapai suatu tingkat yang menghasilkan budaya, yang terdiri dari institusi keluarga, suku, hirarki, kelas ekonomi, dan negara—sederhananya, dalam masyarakat yang sangat mudah berubah yang tidak ada bandingnya di dunia non-manusia (kecuali kalau perilaku serangga yang terprogram secara genetis dianggap sosial). Sebenarnya, kemunculan dan perkembangan masyarakat manusia telah menjadi proses yang terus berlanjut untuk menumpahkan sifat perilaku naluriah dan membersihkan medan baru untuk perilaku yang berpotensi rasional.

Manusia selalu berakar pada sejarah evolusi biologis mereka yang dapat kita sebut “alam yang pertama” (first nature): tetapi mereka juga memproduksi sifat sosial manusia yang khas yang mungkin dapat kita sebut sebagai “alam kedua” (second nature). Jauh dari tidak alamiah, alam kedua manusia secara nyata merupakan ciptaan pertama evolusi organik alam. Menyatakan bahwa alam kedua keluar dari keseluruhan alam, atau tentu saja, untuk meminimalkannya, adalah bentuk pengabaian dengan hanya melihat kreativitas evolusi alam itu sendiri dari satu sisi saja. Jika evolusi “sejati” mewujudkan dirinya hanya pada makhluk seperti beruang grizzly, serigala, dan paus—umumnya, hewan yang orang-orang anggap secara estetis menyenangkan atau relatif cerdas—maka manusia merasa tidak-alamiah. Pandangan seperti itu, terlepas dari apakah manusia dipandang sebagai “alien” atau sebagai “kutu”, manusia pada dasarnya ditempatkan di luar dorongan evolusi alami untuk mening-katkan subjektivitas dan fleksibilitas. Para pendukung yang antusias tentang ketidak-alamiahan manusia ini mungkin melihat manusia sebagai bagian yang terpisah dari evolusi non-manusia, sehingga seperti yang dikatakan Paul Shepard tentang proses evolusi, menjadi “panik”. Sementara itu yang lain mencoba menghindari masalah tempat unik manusia dalam evolusi alam dengan secara sembarangan menempatkan manusia sejajar dengan kumbang dalam hal “nilai intrinsik mereka.” Dalam pemikiran proposisional “baik/atau” ini, yang sosial dipisahkan dari yang organik, atau secara sembrono direndahkan menjadi organik, menghasilkan dualisme yang tidak dapat dijelaskan secara ekstrem atau ekstremisme naif di sisi lain. Pendekatan dualistis, dengan premis kuasi-teologisnya bahwa dunia “dibuat” untuk digunakan manusia disebut sebagai antroposentrisme, sementara pendekatan reduksionis dengan gagasan “demokrasi biosentris” yang maknanya hampa disebut sebagai biosentrisme.

Pencabangan dua manusia dari yang non-manusia telah mengungkapkan kegagalan berpikir secara organik, dan mendekati fenomena evolusioner dengan cara berpikir evolusioner pula. Tak perlu dikatakan lagi, jika kita puas menganggap alam tidak lebih dari sekedar pemandangan yang indah, maka deskripsi metafora dan puitis yang sederhana mungkin cukup untuk menggantikan pemikiran sistematis tentang hal itu. Tetapi alam adalah sejarah alam (nature is the history of nature), sebagai proses evolusi yang terjadi pada satu tingkat atau yang lain tepat di bawah mata kita. Kita mencemarkan proses ini dengan memikirkannya dalam bentuk apapun kecuali dengan cara yang tetap. Dengan kata lain, kita memerlukan cara berpikir yang mengakui bahwa hal itu sebagaimana “apa adanya”, karena ia tampak berbohong sebelum kita mengetahuinya, yang selalu berkembang menjadi “apa yang sebenarnya”, bahwa ia terlibat dalam proses pengorganisasian diri di masa lalu dan saat ini, yang dilihat sebagai diferensiasi yang kaya tetapi berbagi rangkaian bersama, menimbulkan kebangkitan potensi baru untuk tingkat keutuhan dari masa depan yang lebih kaya. Kehidupan, khususnya dalam bentuk manusia, menjadi inovasi terakhir yang terbuka, tanpa henti dan melampaui kapasitasnya yang relatif sempit untuk menyesuaikan diri dengan seperangkat kondisi lingkungan sebelumnya. V. Gordon Childe pernah mengatakan bahwa, “manusia membuat dirinya sendiri, dia tidak siap untuk bertahan dengan susunan genetiknya.”

Dengan cara yang sama, dengan cara berpikir proseptual, organik, dan dialektis, kita tidak akan memiliki banyak kesulitan dalam menemukan dan menjelaskan kemunculan yang sosial dari alam biologis, alam kedua dari alam yang pertama. Menangani masalah sosial yang penting secara ekologis layaknya seorang pemegang buku, tampaknya lebih keren belakangan ini. Seseorang tinggal menyandingkan dua kolom diberi label “paradigma lama” dan “paradigma baru”—seolah-olah ada yang berurusan dengan debit dan kredit. Istilah yang tidak menyenangkan seperti sentralisasi artinya “paradigma lama,” sementara yang lebih menarik seperti desentralisasi dianggap sebagai “paradigma baru.” Hasilnya adalah penyusunan daftar slogan stiker bumper mobil yang “intinya” secara terang-terangan merupakan bentuk “kebaikan mutlak versus kejahatan mutlak.” Semua ini mungkin ringkas dan mudah bagi mata, tapi menjadi makanan yang kurang baik untuk otak. Untuk benar-benar tahu dan mampu memberi makna yang menafsirkan isu-isu sosial secara tertata, kita harus mengetahui bagaimana setiap gagasan berasal dari orang lain dan merupakan bagian dari keseluruhan perkembangan. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan “desentralisasi” dan bagaimana hal itu berasal dari atau melahirkan sejarah masyarakat manusia untuk “sentralisasi?” Sekali lagi: pemikiran yang sifatnya memproses diperlukan untuk menghadapi proses realitas sehingga kita dapat memperoleh beberapa arah pengertian—yang sifatnya praktis dan teoritis—dalam menangani masalah ekologis kita.

Ekologi sosial tampaknya berdiri sendirian sekarang dalam menyerukan penggunaan cara-cara yang organik, yaitu dengan jalur perkembangan dalam upaya memikirkan masalah yang pada dasarnya bersifat organik dan bersifat berkembang pula. Definisi dunia alam sebagai sebuah perkembangan menunjukkan perlunya cara berpikir organik, seperti halnya bentukan manusia dari sifat non-manusia—bentukan yang memiliki konsekuensi paling luas untuk etika ekologis yang dapat menawarkan panduan serius untuk solusi dari masalah ekologis kita.

Ekologi sosial menghimbau kita untuk melihat bahwa alam dan masyarakat saling terkait oleh evolusi menjadi satu sifat yang terdiri dari dua perbedaan: alam pertama atau biotik, dan alam kedua atau manusia. Alam manusia dan alam biotik memiliki potensi evolusioner untuk subjektivitas dan fleksibilitas yang lebih besar. Alam kedua adalah cara di mana manusia sebagai primata yang fleksibel dan cerdas, mendiami alam. Artinya, orang menciptakan lingkungan yang paling sesuai dengan moda eksistensi mereka. Dalam hal ini, alam kedua tidak berbeda dengan lingkungan dimana tiap hewan, bergantung pada kemampuannya, menciptakan serta menyesuaikan diri, keadaan biofisik—atau eko-komunitas—di mana ia harus hidup. Pada tingkat yang sangat sederhana ini, pada dasarnya, manusia sama sekali tidak melakukan sesuatu yang berbeda dari aktivitas bertahan hidup makhluk non-manusia lain—entah itu seperti berang-berang dalam membangun bendungan atau tupai tanah ketika menggali lubang.

Namun perubahan lingkungan yang dihasilkan manusia berbeda secara signifikan dengan yang dihasilkan oleh makhluk non-manusia. Manusia bertindak berdasarkan lingkungan mereka dengan pandangan teknis ke depan yang cukup, namun kurang memandang ke masa depan yang memungkinkan secara ekologis. Hewan beradaptasi dengan dunia mereka, manusia berinovasi melalui pemikiran dan kerja sosial. Untuk yang lebih baik atau yang lebih buruk, manusia menuntut dunia alamiah untuk memenuhi kebutuhan dan hasrat mereka—bukan karena mereka jahat, tetapi karena mereka telah berkembang secara alamiah sejak dulu. Budaya manusia kaya akan pengetahuan, pengalaman, kerjasama, dan kecerdasan konseptual, namun, mereka mungkin terbelah dengan tajam pada titik-titik perkembangan mereka, melalui konflik antar kelompok, kelas, negara-negara, dan bahkan negara-kota. Makhluk non-manusia umumnya hidup dalam relung ekologis, perilaku mereka dipandu terutama oleh dorongan naluriah dan refleks yang terkondisi. Komunitas non-manusia juga secara umum terkenal karena ketetapan mereka atau dengan ritme yang diatur secara genetis. Sementara itu masyarakat manusia “terikat” bersama oleh institusi yang berubah secara radikal selama berabad-abad. Komunitas manusia dipandu sebagian oleh faktor ideologis dan tunduk pada perubahan yang dikondisikan oleh faktor-faktor tersebut.

Oleh karena itu, manusia, yang muncul dari proses evolusi organik, memulainya semata-mata dengan kekuatan dari kebutuhan biologis dan bertahan hidup mereka, sebuah perkembangan evolusioner sosial yang secara mendalam melibatkan proses evolusi organik mereka. Karena kecerdasan, kekuatan komunikasi, kapasitas kelembagaan, kebebasan berekspresi secara alami, dan kebebasan relatif dari perilaku naluriah, mereka mengubah lingkungan mereka -seperti halnya makhluk non-manusia- sampai pada tingkat penuh peralatan biologis mereka. Peralatan ini sekarang memungkinkan mereka terlibat dalam perkembangan sosial. Bukannya berarti kalau manusia pada dasarnya berperilaku berbeda dari hewan atau secara inheren lebih problematis dalam pengertian ekologis yang ketat, namun perkembangan sosial yang dengannya mereka menilai perkembangan biologis mereka seringkali menjadi lebih problematis bagi diri mereka sendiri dan bagi kehidupan makhluk non-manusia. Bagaimana masalah ini muncul, ideologi yang mereka hasilkan, sejauh mana mereka berkontribusi terhadap evolusi biotik atau menggugurkannya, dan kerusakan yang mereka alami di planet ini secara keseluruhan, terletak pada inti krisis ekologis modern. Alam kedua, yang jauh dari menandai pemenuhan potensi manusia, dipenuhi oleh kontradiksi, antagonisme, dan kepentingan yang bertentangan yang telah menyimpang dari kapasitas unik manusia untuk perkembangan. Hal ini mengandung bahaya yang dapat meruntuhkan biosfer, dan tentu saja, mengingat perkembangan kemanusiaan lebih jauh ke masyarakat ekologis, kemampuan untuk menyediakan dispensasi ekologis yang benar-benar baru.

Dominasi dan Hirarki Sosial

Kemudian, apakah yang sosial bangkit dari yang biologis? Kita punya alasan yang baik untuk percaya bahwa fakta biologis seperti garis keturunan keluarga, perbedaan gender, dan perbedaan umur, yang sederhananya adalah dimensi sosial mereka yang unik, yang pada awalnya egaliter, lambat laun akhirnya terlembagakan. Kemudian ia mendapatkan bentuk hirarki yang menindas dan kemudian menjadi bentuk eksploitasi kelas. Garis keturunan atau ikatan darah pada awal pra-sejarah jelas membentuk basis organik keluarga. Memang, ia bergabung bersama kelompok keluarga menjadi persaudaraan, klan, dan suku, melalui bentuk perkawinan silang atau bentuk keturunan fiktif, sehingga membentuk cakrawala sosial nenek moyang kita yang paling awal. Lebih daripada mamalia lainnya, fakta biologis reproduksi manusia yang sederhana dan perawatan ibu yang terus-menerus pada bayi cenderung merajut saudara kandung untuk tetap bersama dan menghasilkan rasa solidaritas dan keteguhan kelompok yang kuat. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak mereka terbawa ke dalam kondisi kehidupan keluarga yang cukup stabil, berdasarkan kewajiban bersama dan rasa afinitas, yang terungkap karena sering dikuduskan oleh satu jenis sumpah perkawinan atau semacamnya.

Di luar keluarga dan semua perluasannya ke dalam persaudaraan, klan, suku dan sejenisnya, manusia lain dianggap sebagai “orang asing,” yang dapat disambut dengan ramah atau diperbudak atau dihukum mati. Adat istiadat yang ada didasarkan pada adat-istiadat yang tidak berubah yang tampaknya telah diwarisi sejak dahulu kala. Apa yang kita sebut dengan moralitas dimulai sebagai perintah Tuhan, karena mereka membutuhkan semacam dorongan supranatural atau mistis untuk diterima oleh masyarakat. Baru kemudian, dimulai dengan orang-orang Yunani kuno, perilaku etis yang berdasarkan pada wacana dan refleksi rasional. Pergeseran dari kebiasaan buta ke moralitas yang memerintah, dan akhirnya, ke etika rasional terjadi dengan bangkitnya kota dan kosmopolitanisme perkotaan. Kemanusiaan, secara bertahap melepaskan diri dari fakta biologis hubungan darah, mulai mengakui “orang asing” dan semakin mengenal dirinya sebagai komunitas bersama manusia daripada orang-orang etnis—sebuah komunitas kewargaan (citizenship) ketimbang sebagai sebuah keluarga.

Pada dunia yang secara sosial terformatif dan purba ini, sifat biologis manusia yang lain juga dikerjakan ulang dari yang sangat alami hingga yang sosial. Salah satunya adalah fakta soal usia dan pembedaannya. Dalam kelompok sosial di kalangan manusia purba, ketiadaan bahasa tertulis telah membantu memberikan status tingkat tinggi pada orang tua, karena merekalah yang memiliki kearifan tradisional masyarakat, termasuk pengetahuan tentang garis kekerabatan tradisional yang menentukan hubungan perkawinan sebagai ketaatan pada incest yang tabu sebagai teknik bertahan hidup yang harus diperoleh oleh anggota kelompok muda dan dewasa. Selain itu, fakta biologis pembedaan gender secara perlahan dilakukan ulang di sepanjang garis sosial, sehingga lahir kelompok saudari dan saudara yang pertama. Perempuan membentuk kebiasaan, sistem kepercayaan, dan nilai mereka sendiri, sementara laki-laki membentuk kelompok perburuan dan kesatria mereka sendiri dengan karakteristik perilaku, adat istiadat, dan ideologi mereka sendiri.

Dari semua hal yang kita ketahui tentang sosialisasi fakta biologis kekerabatan, usia, dan kelompok gender—penjabaran mereka ke dalam institusi awal—tidak ada alasan untuk meragukan bahwa kelompok-kelompok ini pada awalnya berada dalam hubungan yang saling melengkapi antar satu sama lain. Masing-masing, pada dasarnya, membutuhkan yang lain untuk membentuk keseluruhan yang relatif seimbang. Tidak ada satu kelompok pun yang “mendominasi” yang lain atau mencoba untuk mengutamakan dirinya sendiri dalam hal-hal yang normal. Namun, seiring berjalannya waktu ketika perkembangan konspirasi biologis dikerjakan lebih lanjut ke dalam institusi sosial, maka institusi sosial tersebut perlahanlahan dikerjakan ulang, pada berbagai periode dan dalam berbagai tingkatan, ke dalam struktur hirarki berdasarkan perintah dan ketaatan. Saya berbicara tentang tren sejarah, yang sama sekali tidak ditentukan oleh kekuatan mistik atau keilahian, dan yang seringkali merupakan perkembangan yang sangat terbatas di antara banyak budaya pra-aksara atau pribumi, dan bahkan dalam peradaban tertentu yang cukup rumit.

Hirarki dalam bentuknya yang paling awal mungkin tidak ditandai oleh kualitas kasar yang didapatnya dari sejarah. Sesepuh, pada awal mula gerontokrasi (sistem pemerintahan yang dikendalikan oleh para tetua—penj), tidak hanya dihormati karena kebijaksanaan mereka, tetapi juga sering dicintai oleh kaum yang muda dengan kasih sayang yang sering kali saling membalas. Kita mungkin dapat menjelaskan meningkatnya kekerasan gerontokrasi yang terjadi kemudian dengan menganggap bahwa orang tua, yang terbebani oleh

kekuatan fisik mereka yang melemah dan bergantung pada niat baik kelompok mereka, menjadikan mereka lebih rentan untuk dicampakkan pada periode keinginan material ketimbang pada kelompok lain dari suatu populasi. “Bahkan dalam budaya pemburu dan peramu yang sederhana,” seperti yang diamati antropolog Paul Radin, “orang-orang di atas lima puluh tahun, katakanlah, rupanya membawa kekuatan dan hak istimewa tertentu pada diri mereka yang dapat menguntungkan dirinya secara khusus, dan tidak harus, jika memang, didikte berdasarkan pertimbangan hak orang lain atau kesejahteraan bersama.”[4] Bagaimanapun juga, gerontokrasi itu mungkin merupakan bentuk hirarki paling awal yang dikuatkan oleh keberadaannya di masyarakat yang berbeda seperti bangsa Aborigin Australia, masyarakat kesukuan di Afrika Timur, dan masyarakat asli Amerika. Banyak dewan kesukuan di seluruh dunia sesungguhnya dewan penatua, sebuah institusi yang sama sekali tidak pernah lenyap (seperti makna dari istilah alderman tunjukan), bahkan setelah dibalut oleh masyarakat kesatria, kedatuan, dan kerajaan.

Patrisentrisitas, di mana nilai, institusi, dan bentuk perilaku maskulin lebih berlaku ketimbang segala yang feminin, nampaknya berkembang setelah gerontokrasi. Awalnya, kemunculan patrisentrisitas mungkin merupakan tambahan yang berguna bagi kehidupan yang berakar dari zaman alam purba: masyarakat awal dan pra-aksara pada dasarnya merupakan komunitas domestik kecil di mana pusat kehidupan material yang asli adalah rumah, bukan “rumah laki-laki” yang hadir secara luas di masyarakat kesukuan yang lebih rumit. Aturan laki-laki, jika hal tersebut dapat benar-benar disebut demikian, mengambil bentuk yang paling keras dan paling memaksa dalam patriarki, sebuah institusi di mana laki-laki tertua dari keluarga besar atau klan memiliki perintah hidup dan mati atas semua anggota kelompok yang lainnya. Perempuan mungkin diperintahkan untuk menikah, tapi ia sama sekali bukan objek eksklusif atau bahkan jadi objek utama dari dominasi patriarki. Anak-anak, seperti anak perempuan, dapat disuruh-suruh untuk berperilaku sesuai dengan perintah sang patriarkat atau dibunuh atas keinginannya.

Soal patrisentrisitas, otoritas dan hak prerogatif laki-laki adalah produk dari sebuah perkembangan yang panjang dan sering disahkan secara halus di mana persaudaraan lakilaki menyisihkan persaudaraan perempuan berdasarkan tanggung jawab “sipil” yang sebelumnya berkembang. Meningkatnya populasi, sekelompok perampok dari luar yang migrasinya mungkin disebabkan oleh kekeringan atau kondisi lainnya yang tidak menguntungkan mereka, dan suatu jenis dendam atau yang lainnya, untuk menjelaskan penyebab permusuhan atau perang yang umum, telah menciptakan lingkungan “sipil” yang baru yang berdampingan dengan lingkungan domestik perempuan, dan yang pertama secara perlahan menyerang yang terakhir. Dengan munculnya pertanian bajak yang ditarik oleh sapi, pada akhirnya pria yang merupakan “penguasa binatang buas,” mulai menyerang lingkungan hortikultura perempuan, yang keunggulannya sebagai pembudidaya makanan dan pengumpul makanan telah memberikan keunggulan budayanya. Masyarakat kesatria dan kedatuan membawa sebuah momentum dominasi laki-laki ke tingkat material dan dispensasi budaya yang baru. Dominasi laki-laki menjadi sangat aktif dan pada akhirnya menghasilkan dunia di mana elit laki-laki mendominasi tidak hanya perempuan, tetapi juga dalam bentuk kelas terhadap laki-laki yang lain.

Penyebab “kenapa” hirarki muncul sebenarnya cukup jelas: kelemahan usia, bertambahnya jumlah populasi, bencana alam, perubahan teknologi yang merupakan kegiatan istimewa berburu dan peternakan karena tanggung jawab hortikultura, pertumbuhan masyarakat sipil, dan penyebaran peperangan: semua bertanggungjawab dalam meningkatkan posisi laki-laki dengan mengorbankan perempuan. Harus ditekankan bahwa dominasi hirarkis, betapapun koersifnya, bukanlah hal yang sama dengan eksploitasi kelas. Seperti yang saya tulis dalam The Ecology of Freedom, hirarki...

“ … harus dipandang sebagai hubungan yang dilembagakan, hubungan yang secara harfiah diciptakan oleh makhluk hidup, tapi di satu sisi tidak memiliki insting naluriah dan juga tidak istimewa di sisi lain. Dengan ini, yang saya maksudkan adalah bahwa mereka harus terdiri dari struktur sosial yang jelas dari tingkat pemaksaan dan hak istimewa yang ada secara terpisah dari individu-individu istimewa yang tampaknya dominan dalam komunitas tertentu, sebuah hirarki yang dipandu oleh logika sosial yang melampaui interaksi individu atau pola perilaku bawaan.”[5]

Mereka tidak dapat disederhanakan menjadi hubungan ketat ekonomi berdasarkan eksploitasi tenaga kerja. Sebenarnya, banyak pemimpin mendapatkan prestise mereka, yang sangat penting bagi otoritas mereka, dengan memberikan hadiah, dan bahkan dengan tidak mengumpulkan barang pribadi mereka. Rasa hormat yang diberikan kepada banyak kepala suku diperoleh bukan karena ia menimbun surplus sebagai sumber kekuasaan, tapi dengan menghamburkannya sebagai bukti kemurahan hati.

Sebaliknya, kelas cenderung beroperasi dengan garis yang berbeda. Dalam masyarakat kelas, kekuatan umumnya diperoleh dengan menumpuk kekayaan, bukan dengan membuangnya, pemerintahan dijamin oleh pemaksaan fisik secara langsung, tidak hanya dengan rayuan, dan negara adalah penjamin utama wewenang. Hirarki secara historis lebih mengakar daripada kelas yang barangkali dapat diverifikasi oleh fakta bahwa meskipun terjadi perubahan luas dalam masyarakat kelas, bahkan secara ekonomi egaliter, perempuan masih didominasi laki-laki selama ribuan tahun. Dengan cara yang sama, penghapusan peraturan kelas dan eksploitasi ekonomi tidak memberikan jaminan apapun bahwa hirarki dan sistem dominasi yang rumit juga akan hilang.

Dalam masyarakat non-hirarkis, kebiasaan tertentu membimbing perilaku manusia di sepanjang garis yang pada dasarnya layak. Yang paling penting di antara kebiasaan dari zaman dahulu adalah prinsip minimum yang tidak dapat dikurangi—Irreducible minimum (untuk menggunakan ungkapan Paul Radin), gagasan bersama bahwa semua anggota komunitas yang sama berhak atas alat kehidupan, terlepas dari jumlah pekerjaan yang mereka lakukan. Mengesampingkan makanan, tempat berlindung, dan sarana dasar kehidupan karena kelemahan mereka atau bahkan perilaku sembrono mereka akan dianggap sebagai penyangkalan yang mengerikan dari pertarungan untuk hidup. Juga bukan sumber daya dasar yang dibutuhkan untuk menopang masyarakat yang pernah diizinkan untuk dimiliki secara pribadi, mengesampingkan kontrol individualistis adalah prinsip hak pakai (usufruct)—gagasan bahwa alat kehidupan yang tidak digunakan oleh satu kelompok dapat digunakan sesuai kebutuhan. Dengan demikian, lahan, kebun buah, dan bahkan alat dan senjata yang tidak terpakai, jika dibiarkan menganggur, sering kali berada di tempatnya bagi siapa saja di masyarakat yang membutuhkannya. Terakhir, kebiasaan memupuk praktik gotong-royong (mutual aid), kerja sama yang agak masuk akal untuk berbagi suatu benda dan kerja, sehingga individu atau suatu keluarga yang dalam keadaan sulit berharap dapat dibantu oleh orang lain. Secara keseluruhan, kebiasaan ini menjadi begitu menebal ke dalam masyarakat organik sehingga mereka bertahan lama, bahkan meski hirarki telah menjadi begitu menindas dan masyarakat dengan kelas telah menjadi dominan.

Gagasan untuk Mendominasi Alam

“Alam,” dalam arti lingkungan biotik yang luas dimana manusia mengambil hal-hal sederhana yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup, seringkali tidak memiliki arti yang mengilhami orang lain. Terbenam di alam sebagai semesta kehidupan mereka, “alam” tidak memiliki makna khusus apapun, bahkan ketika mereka merayakan ritual animistik dan memandang dunia di sekitar mereka sebagai penghubung kehidupan, yang seringkali menyiratkan institusi sosial mereka sendiri terhadap perilaku berbagai spesies, seperti dalam kasus “sarang” berang-berang dan roh-roh mirip manusia. Jika memang benar-benar ada, kata-kata yang mengekspresikan konsep konvensional tentang alam tidak mudah ditemukan dalam bahasa-bahasa masyarakat pribumi.

Dengan bangkitnya hirarki dan dominasi manusia, bagaimanapun, benih telah ditanam untuk sebuah keyakinan bahwa alam tidak hanya ada sebagai dunia yang terpisah dari komunitas, namun itu juga adalah sesuatu yang terorganisir secara hirarkis dan dapat didominasi. Kajian tentang ilmu sihir mengungkapkan pergeseran ini dengan jelas. Bentuk ilmu sihir mula-mula tidak memandang alam sebagai dunia yang terpisah. Pandangan dunianya cenderung sedemikian rupa sehingga para dukun pada dasarnya memohon kepada “roh utama” berburu untuk membujuk seekor hewan menuju ke arah panah atau tombak. Kemudian, sihir menjadi hampir sepenuhnya instrumental, perburuan dipaksakan dengan teknik magis untuk menjadi mangsa para pemburu. Sementara bentuk sulap paling awal dapat dianggap sebagai praktik masyarakat non-hirarkis dan egaliter pada umumnya, bentuk kepercayaan animisme selanjutnya mengkhianati pandangan duniawi yang kurang lebih hirarkis dan kekuasaan dominasi manusia yang laten.

Kita harus tekankan di sini bahwa sumber utama gagasan untuk mendominasi alam ada dalam dominasi manusia atas manusia dan penataan dunia alam menjadi Rantai Insan [Chain of Being] yang terwujud secara hirarkis (konsepsi yang statis, yang secara tak sengaja, tidak punya hubungan dengan evolusi kehidupan yang berubah menjadi bentuk subjektivitas dan kelenturan yang semakin maju). Arahan alkitabiah yang memberi perintah kepada Adam dan Nuh atas dunia yang hidup, benar-benar merupakan ungkapan pemecahan sosial. Gagasan untuk mendominasi alam hanya dapat diatasi melalui penciptaan masyarakat tanpa struktur kelas dan hirarki yang membuat peraturan dan ketaatan dalam kehidupan pribadi maupun publik. Bahwa pembagian baru ini tanpa basa-basi melibatkan perubahan sikap dan nilai. Tapi, sikap dan nilai ini bakal menguap kalau tidak diterapkan pada institusi objektif (yaitu bagaimana manusia secara konkrit berinteraksi satu sama lain), dan dalam realitas kehidupan sehari-hari dari mengasuh anak hingga dalam bekerja dan bermain. Sampai manusia tak lagi hidup dalam masyarakat yang terstruktur dalam kisaran hirarki dan kelas ekonomi, kita tidak akan pernah bebas dari dominasi, betapapun kita berusaha melepaskannya dengan ritual, mantra, eko-teologi, dan penerapan gaya hidup yang tampak “alamiah.”

Gagasan untuk mendominasi alam memiliki sejarah yang hampir sama tuanya dengan hirarki itu sendiri. Ia sudah berada dalam Epos Mesopotamia, Gilgamesh, sebuah drama yang berlangsung sekitar 7.000 tahun, yang mana sang pahlawan menentang dewa-dewa dan menebang pohon-pohon suci mereka dalam usahanya mencari keabadian. Sementara itu, Odyssey, adalah perjalanan besar prajurit Yunani, yang meski terkesan lebih licik ketimbang heroik, pada dasarnya bercerita soal upaya mengusir dewa-dewa alam yang mewarisi dunia Hellen dari pendahulunya yang kurang terkenal (yang ironisnya, dunia pra-olympian yang kusam yang telah dibangkitkan oleh penjual eko-mistisisme dan spiritualisme). Jauh sebelum kebangkitan sains modern, rasionalitas “linier,” dan “masyarakat industri,” (menyebut beberapa faktor-faktor penyebab yang kerap disebut dengan seenaknya dalam gerakan ekologi modern), masyarakat kelas dan hirarkis itu telah menghancurkan sebagian besar lembah Mediterania serta lereng bukit di China, memulai perombakan drastis dan perusakan planet.

Yang pasti, sifat alamiah manusia, yang menyebabkan kerusakan pada alam pertama bukannya menciptakan Taman Eden. Malah hal itu lebih sering mengacaukan banyak hal yang indah, kreatif, dan dinamis di dunia biotik, sama seperti menghancurkan kehidupan manusia itu sendiri dalam peperangan, pembantaian, dan tindakan menindas yang tak berperasaan. Ekologi sosial berpendapat bahwa masa depan kehidupan manusia berjalan seiring dengan masa depan dunia non-manusia, namun ia tidak mengabaikan kenyataan bahwa kerugian yang ditimbulkan oleh masyarakat kelas dan hirarkis pada alam selaras dengan kerugian yang ditimbulkannya pada kemanusiaan.

Namun, kebiasaan prinsip minimum yang tidak dapat dikurangi, hak pakai hasil, dan bantuan timbal balik yang tak tergantikan, mengganggu penyakit yang mungkin tampaknya dihasilkan oleh alam kedua. Kebiasaan ini bertahan sampai ke zaman sejarah dan kadang muncul secara eksplosif dalam pemberontakan populer besar-besaran, mulai dari pemberontakan di Sumeria kuno sampai sekarang. Banyak dari pemberontakan tersebut menuntut pemulihan nilai-nilai kepedulian dan komunisme ketika hal ini muncul karena tekanan dari para elit dan penindasan kelas. Memang, terlepas dari tentara yang menjelajahi lanskap wilayah yang berperang, pengumpul pajak yang menjarah orang-orang desa biasa, dan pelanggaran sehari-hari yang dilakukan pengawas terhadap petani dan pekerja, kehidupan masyarakat masih bertahan dan mempertahankan banyak nilai yang disayangi dan yang lebih egalitarian dari masa lalu. Baik bangsawan kuno maupun bangsawan feodal dapat sepenuhnya melenyapkan mereka di desa-desa petani dan di kota-kota dengan asosiasi pengrajin independen. Di Yunani kuno, sebuah filosofi rasional yang menolak

pembebanan pemikiran dan kehidupan politik oleh keinginan yang berlebihan, dan juga sebuah agama yang didasarkan pada kecermatan, cenderung mengurangi kebutuhan dan membatasi selera manusia akan barang-barang material. Bersama-sama mereka berusaha secukupnya memperlambat laju perkembangan teknologi sehingga ketika alat produksi baru dikembangkan, mereka dapat secara sensitif diintegrasikan ke dalam masyarakat yang seimbang. Pada abad pertengahan, pasar masih sederhana, biasanya masih urusan lokal, di mana banyak gilda (guilds—serikat pekerja abad pertengahan) melakukan kontrol ketat atas harga, persaingan, dan kualitas barang yang dihasilkan oleh anggotanya.

“Tumbuh atau Mati!”

Tapi, sama seperti hirarki dan struktur kelas yang cenderung mendapatkan momentum mereka sendiri dan menyerap sangat banyak dari masyarakat, demikian pula pasar mulai memperoleh kehidupannya sendiri dan memperluas jangkauannya melampaui wilayah yang terbatas ke benua yang luas. Pertukaran tidak lagi menjadi sarana untuk menyediakan kebutuhan yang sederhana. Ia menumbangkan batasan yang diberlakukan oleh gilda atau oleh batasan moral dan agama. Tidak hanya menempatkan premi tinggi pada teknik untuk meningkatkan produksi: ia juga jadi asal kebutuhan, banyak di antaranya tidak berguna, dan memberi dorongan eksplosif untuk konsumsi dan teknologi. Pertama-tama di Italia Utara dan dataran rendah Eropa, kemudian—dan yang paling efektif—di Inggris selama abad ketujuhbelas dan kedelapan belas, produksi barang yang secara eksklusif dijual dan keuntungan (komoditas kapitalistik) dengan cepat menyingkirkan semua hambatan budaya dan sosial terhadap pertumbuhan pasar.

Pada akhir abad kedelapan belas dan awal abad kesembilan belas, kelas kapitalis industri yang baru dengan sistem pabrik dan komitmen untuk perluasan tanpa batas mulai menjajah seluruh dunia, dan akhirnya, sebagian besar aspek kehidupan pribadi. Berbeda dengan bangsawan feodal yang punya tanah dan istana kesayangannya, kaum borjuis tidak punya rumah melainkan pasar dan kubah banknya. Sebagai sebuah kelas, mereka semakin banyak mengubah dunia menjadi wilayah pabrik yang terus berkembang. Para pengusaha dari dunia kuno dan abad pertengahan biasanya mengumpulkan keuntungan mereka bersama-sama untuk berinvestasi di tanah dan hidup seperti bangsawan desa—mengingat prasangka zaman mereka terhadap keuntungan “yang diperoleh secara tidak jujur” dari perdagangan. Di sisi lain, kapitalis industri di dunia modern melahirkan pasar yang sangat kompetitif yang menempatkan premi tinggi pada perluasan industri dan kekuatan komersial yang diberikannya, dan berfungsi seolah-olah pertumbuhan merupakan tujuan akhirnya sendiri.

Sangat penting bagi Ekologi Sosial, untuk mengenali bahwa pertumbuhan industri tidak dihasilkan dari perubahan dalam pandangan budaya saja -dan yang terpenting, dari dampak rasionalitas ilmiah terhadap masyarakat. Tetapi hal ini terutama berasal dari faktor-faktor objektif yang nyata yang disebabkan oleh perluasan pasar itu sendiri, faktor-faktor yang sangat tidak bergantung pada pertimbangan moral dan upaya persuasi etis. Memang, terlepas dari hubungan erat antara perkembangan kapitalis dan inovasi teknologi, keharusan paling mendesak dari pasar kapitalis, mengingat kompetisi yang tidak manusiawi yang mendefinisikannya, adalah kebutuhan untuk tumbuh, dan untuk menghindari kematian di tangan persaingan yang biadab. Yang penting lagi, keserakahan bahkan bisa menjadi kekuatan yang memotivasi, kelangsungan hidup saja mendesak pengusaha tersebut harus memperluas pion-pion produktifnya agar tetap berada di depan pengusaha yang lain. Setiap kapitalis, singkatnya, harus berusaha melahap saingannya—atau dimakan oleh yang lain. Kunci hukum kehidupan ini -untuk bertahan hidup—adalah perluasan, dan pencarian keuntungan yang semakin besar, untuk diinvestasikan, yang pada gilirannya, digunakan untuk perluasan yang lebih jauh lagi. Memang, gagasan kemajuan, yang dulu dianggap sebagai keyakinan akan evolusi kerja sama dan perawatan manusia yang lebih besar, kini teridentifikasi sebagai persaingan yang semakin ketat dan pertumbuhan ekonomi yang sembrono.

Upaya oleh banyak teori ekologi dan pengagum mereka yang bermaksud baik untuk sekedar menganggap krisis ekologis seolah-olah itu masalah budaya dan bukannya masalah sosial dapat dengan mudah membuatnya jadi kabur. Andaikata seorang pengusaha mungkin saja punya wawasan ekologis, tetap saja, kelangsungan hidupnya di pasar menghalangi orientasi ekologi yang berarti. Melibatkan seorang pengusaha untuk mengadopsi praktik yang terdengar ekologis berarti menempatkannya pada kerugian fatal dalam hubungan kompetitif dengan pesaingnya -terutama dengan pesaing yang tidak punya kepedulian ekologis dan dengan demikian memproduksi dengan biaya yang lebih murah tapi meraup keuntungan yang lebih tinggi untuk ekspansi modal lebih lanjut.

Memang, selama gerakan lingkungan dan ideologi hanya memalsukan “kejahatan” masyarakat anti-ekologi kita, dan

menekankan perubahan dalam kehidupan dan sikap pribadi, hal itu mengaburkan kebutuhan akan suatu tindakan sosial. Korporasi yang terampil memanipulasi keinginan ini untuk hadir dengan citra yang lebih hijau. Mercedes-Benz misalnya, mengumumkan dalam iklan dua halamannya, yang dihiasi dengan lukisan bison dari dinding gua Paleolitik (zaman prasejarah), bahwa “kita harus bekerja untuk membuat kemajuan yang lebih ramah lingkungan dengan memasukkan tema lingkungan dalam perencanaan produk baru.[6] Pesan menipu semacam itu sudah lumrah di Jerman, salah satu tempat dengan pencemaran terburuk di Eropa Barat. Iklan semacam itu juga sama manipulatifnya di Amerika Serikat, dimana para pencemar terkemuka secara hati-hati telah menyatakan bahwa bagi mereka, “Setiap Hari adalah Hari Bumi.”

Inti dari apa yang Ekologi Sosial tekankan bukanlah bahwa perubahan moral dan spiritual tidak ada artinya atau tidak perlu, tetapi bahwa kapitalisme modern telah secara struktural bersifat amoral dan karenanya tidak terpengaruh oleh tuntutan moral. Pasar modern memiliki kebutuhan tersendiri, terlepas dari siapa CEO yang duduk di kursi kemudi korporasi atau yang menggenggam setangnya. Arahnya tidak tergantung pada faktor etis melainkan pada “hukum” tanpa pikiran tentang penawaran dan permintaan, tumbuh atau mati, makan atau dimakan. Pepatah seperti “bisnis adalah bisnis—business is business” secara eksplisit memberi tahu kita bahwa faktor etis, religius, psikologis, dan emosional sama sekali tidak punya kedudukan dalam dunia produksi, keuntungan, dan pertumbuhan yang impersonal. Sangat menyesatkan untuk berpikir bahwa kita dapat melepaskan dunia ini secara materialistik, yang memang bersifat mekanistik, dari karakter obyektifnya, sehingga kita menguapkan faktanya yang nyata dan justru bukannya mengubahnya.

Masyarakat yang didasarkan pada “tumbuh atau mati” sebagai prinsipnya pasti punya dampak ekologi yang menghancurkan. Mengingat keharusan pertumbuhan yang dihasilkan oleh persaingan pasar, pengurangan populasi tidak akan berpengaruh apapun. Karena pengusaha harus selalu berkembang jika ingin bertahan, media yang mendesak kita untuk terus mengkonsumsi secara tak masuk akal akan dimobilisasi untuk meningkatkan pembelian barang, terlepas dari kebutuhan akan hal tersebut. Pikiran publik akan diarahkan untuk merasa bahwa memiliki dua atau tiga alat, kendaran bermotor, gadget elektronik, atau sejenisnya, sebagai “sangat diperlukan.” Padahal satu saja lebih dari cukup. Selain itu, militer akan terus menuntut instrumen kematian baru yang lebih mematikan, yang model-model barunya akan terus dikeluarkan setiap tahun.

Teknologi “yang lebih lunak”, jika diproduksi oleh tuntutan tumbuh atau mati dari pasar, pasti bakal digunakan untuk tujuan destruktif. Dua abad yang lalu, daerah hutan yang luas di Inggris dirubah menjadi bahan bakar untuk besi, yang menempa dengan sumbu yang tidak banyak berubah sejak Zaman Perunggu dan kapal layar biasa yang mengangkut banyak barang ke seluruh penjuru dunia sampai abad kesembilan belas. Tentu saja, Amerika Serikat telah membersihkan sebagian besar hutan, satwa liar, dan penduduk asli dengan alat dan senjata yang bisa dikenali dengan mudah, betapapun mereka telah dimodifikasi oleh orang-orang masa Pencerahan berabad-abad sebelumnya. Apa yang dilakukan oleh teknik modern adalah mempercepat proses yang berlangsung dengan baik pada akhir Abad Pertengahan. Hal itu tidak dapat dianggap semata-mata bertanggungjawab atas usaha yang sedang berlangsung selama berabad-abad, ini pada dasarnya merupakan hasil dari kerusakan yang disebabkan oleh sistem pasar yang terus berkembang, yang pada gilirannya berakar dan bertumpu pada salah satu perubahan sosial paling mendasar dalam sejarah: perluasan sistem produksi dan distribusi berdasarkan pertukaran daripada saling bantu dan melengkapi.

Masyarakat Ekologis

Ekologi Sosial tidak hanya menjadi daya tawar untuk pembaharuan moral, tetapi juga, dan yang paling utama, untuk pembangunan ulang yang sosial di sepanjang garis yang ekologis. Ia menekankan bahwa daya tarik etis terhadap kekuasaan yang ada (yang terwujud melalui kekuatan pasar yang buta dan hubungan yang kompetitif) akan berakhir dengan sia-sia. Sebab hal itu sering mengaburkan hubungan kekuasaan sejati yang berlaku sekarang, dengan menetapkan bahwa pencapaian masyarakat ekologis seolah-olah hanya soal sikap, perubahan spiritual, atau penebusan kuasi-religius semata.

Meski selalu menekankan pentingnya pandangan etis yang baru, Ekologi Sosial berusaha memperbaiki kesalahan ekologis yang telah terjadi pada masyarakat yang saat ini telah menciderai alam, dengan menggunakan gagasan struktural maupun sumber subjektif seperti dominasi terhadap alam yang pertama. Artinya, ini menantang keseluruhan sistem dominasi itu sendiri. Ekologi Sosial juga mencari cara untuk menghilangkan bangunan hirarkis dan kelas yang telah memaksakan dirinya pada kemanusiaan dan mendefinisikan hubungan antara sifat alam dan manusia. Ia mengajukan etika saling melengkapi di mana manusia memainkan peran yang mendukung dalam mengabadikan integritas biosfer—potensi manusia menjadi produk evolusi alam yang paling disadari. Memang, manusia punya tanggung jawab etis untuk berfungsi secara kreatif dalam mengungkapkan evolusi itu. Oleh karena itu, Ekologi Sosial menekankan perlunya mewujudkan etika saling melengkapi dalam institusi sosial yang jelas, yang akan membuat manusia menjadi agen etika yang sadar dalam mempromosikan kesejahteraan diri mereka dan dunia nonmanusia. la mencari penanaman hubungan dengan kepentingan komunitas, di mana kepentingan komunal ditempatkan di atas kepentingan pribadi, atau, lebih tepatnya, di mana kepentingan pribadi selaras dengan dan diwujudkan secara bersama-sama.

Ia mencari pengayaan proses evolusioner oleh pemberagaman bentuk kehidupan dan penerapan nalar untuk membuat ulang planet yang menakjubkan sejalan dengan garis ekologi. Dengan cara yang sama, ia memuji potensi kemanusiaan, rasionalitas, dan pencapaian teknologi yang tidak membuat seseorang menjadi antroposentris ke depannya. Penggunaan longgar kata-kata kunci semacam itu, yang biasa terjadi dalam gerakan ekologi hari ini, harus diakhiri dengan diskusi reflektif, bukan dengan mencela secara terang-terangan.

Ekologi sosial, pada dasarnya, mengakui bahwa—suka atau tidak—masa depan kehidupan di planet ini berporos pada masa depan masyarakat. Ia berpendapat bahwa evolusi, baik di alam pertama dan yang kedua, belum lengkap. Bukan pula dua alam itu terpisah satu sama lain sehingga kita harus memilih salah satunya -entah evolusi alamiah, dengan istilah “biosentris,” atau evolusi sosial, seperti yang telah kita ketahui sekarang, dengan istilah “antroposentris”- sebagai dasar bagi biosfer yang kreatif. Kita harus melampaui antara alam dengan sosial menuju sintesis baru yang mengandung yang terbaik dari keduanya. Sintesis semacam itu harus melampaui sifat pertama dan kedua dalam bentuk yang kreatif, sadar diri, dan karena itu “alam yang bebas,” di mana campur tangan manusia dalam evolusi alami dengan kemampuan terbaik mereka—indra etis mereka, kapasitas mereka yang tak tertandingi untuk konsepsi berpikir, dan kekuatan dan jangkauan komunikasi mereka yang luar biasa.

Tapi tujuan seperti itu tetap merupakan retorika belaka kecuali sebuah gerakan memberi kesan yang logis dan sosial. Bagaimana caranya kita mengatur gerakan semacam itu? Secara logistik, “alam yang bebas” tidak dapat dicapai tanpa desentralisasi kota ke dalam konfederasi komunitas yang bersatu, yang secara sensitif disesuaikan dengan daerah alami tempat mereka berada. Ekoteknologi, dan energi tenaga matahari, angin, metana, dan sumber energi terbarukan lainnya: bentuk pertanian organik, dan rancangan instalasi industri serbaguna yang beragam secara manusiawi untuk memenuhi kebutuhan regional kota-kota konfederasi -semua harus dibawa ke dunia ekologis yang sehat berdasarkan etika saling melengkapi. Artinya, penekanannya tidak hanya pada daur ulang tapi juga pada produksi barang bermutu tinggi yang dalam banyak kasus dapat bertahan hingga beberapa generasi. Ini berarti mengganti tenaga kerja tanpa henti dengan pekerjaan kreatif dan penekanan pada keahlian kerajinan tangan yang artistik dalam memilih produksi mekanis. Ini memberi waktu luang untuk seni dan keterlibatan sepenuhnya dalam urusan publik. Seseorang dapat berharap bahwa ketersediaan barang, mekanisasi produksi, dan kebebasan untuk memilih gaya hidup seseorang, cepat atau lambat akan mempengaruhi orang untuk berlatih bersikap sederhana dalam semua aspek kehidupan sebagai respon terhadap konsumerisme yang dipromosikan oleh pasar kapitalis.[7]

Namun, tidak ada etika atau visi tentang masyarakat ekologis, yang mengilhami, yang dapat bermakna, kecuali jika ia diwujudkan dalam politik yang hidup. Secara politik, yang saya maksud bukanlah kenegaraan [statecraft] seperti yang dipraktikkan oleh apa yang kita sebut dengan politisi—misalnya, memilih atau dipilih menjadi perwakilan untuk mengelola urusan publik dan merumuskan kebijakan sebagai pedoman kehidupan sosial. Bagi Ekologi Sosial, politik berarti menjadi seperti polis demokrasi Athena klasik sekitar dua ribu tahun yang lalu: demokrasi langsung, perumusan kebijakan oleh majelis rakyat yang demokratis secara langsung, dan administrasi kebijakan tersebut oleh koordinator yang dimandatkan yang dapat dengan mudah ditarik kembali jika mereka gagal mematuhi keputusan warga majelis. Saya sangat sadar bahwa politik Athena, bahkan dalam periode yang paling demokratis sekalipun, dirusak oleh adanya perbudakan dan patriarki dan karena mengesampingkan orang asing dari kehidupan publik. Dalam hal ini, tentu saja, ini sangat berbeda dari kebanyakan peradaban Mediterania kuno lainnya—dan tentu saja orang-orang Asia kuno- pada saat itu. Yang membuat politik Athena unik, bagaimanapun juga, adalah bahwa ia menghasilkan institusi yang sangat demokratis—bahkan secara langsung—jika dibandingkan dengan institusi republik dari apa yang disebut “demokrasi” di dunia saat ini. Entah secara langsung atau tidak langsung, demokrasi Athena kemudian mengilhami, demokrasi langsung yang mencakup semuanya, seperti banyak kota-kota pada Eropa Abad Pertengahan, “seksi” Paris (atau majelis) yang sedikit diketahui di tahun 1793 yang mendorong Revolusi Prancis dalam arah yang sangat radikal, dan secara tidak langsung, pertemuan kota New England, dan yang lainnya, upaya yang lebih baru dalam swa-pemerintahan sipil (civic self-governance).[8]

Setiap komunitas swakelola yang mencoba untuk hidup dalam isolasi dan mengembangkan swasembada beresiko menjadi licik dan bahkan rasis. Oleh karena itu, memperluas sebuah politik ekologis demokrasi langsung ke dalam konfederasi eko-komunitas, dan untuk mendorong saling ketergantungan yang sehat, sangat diperlukan. Ini bukan kemerdekaan yang introvert dan sangat melemahkan. Ekologi sosial berkewajiban untuk mewujudkan etika dalam politik kotamadya libertarian (munisipalisme libertarian), di mana kotamadya juga memperoleh hak untuk melakukan pemerintahan sendiri melalui jaringan dewan konfederasi, yang mana kota-kota kecil dan kota-kota besar diharapkan mengirimkan mandat mereka, delegasi yang dapat ditarik untuk menyesuaikan perbedaan. Semua keputusan harus diratifikasi oleh mayoritas majelis tinggi kota dan kota yang dikuasai konfederasi. Proses kelembagaan ini bisa dimulai di lingkungan kota-kota raksasa dan juga jaringan kota-kota kecil. Sebenarnya, pembentukan banyak “balai kota” telah berulang kali diajukan di kota-kota sebesar New York dan Paris, meski kemudian dikalahkan oleh kelompok elitis yang terorganisir dengan baik yang berusaha memusatkan kekuasaan daripada membiarkannya terdesentralisasi.

Kekuasaan akan selalu menjadi bagian dari kaum elit dan yang memerintah jika tidak dilembagakan dalam demokrasi tatap muka, di antara orang-orang yang sepenuhnya diberdayakan sebagai makhluk sosial untuk membuat keputusan di majelis komunal yang baru. Upaya memberdayakan orang dengan cara dan bentuk ini merupakan tantangan abadi bagi negara-bangsa—yaitu, kekuatan ganda di mana kotamadya yang merdeka berada dalam ketegangan terbuka dengan negara-bangsa. Kekuasaan yang bukan milik rakyat, selalu menjadi milik negara dan kepentingan eksploitatif yang diwakilinya. Saya bermaksud mengatakan bahwa keragaman sebagai sumber kreativitas budaya. Namun, hal itu tidak harus dirayakan melalui “keterpisahan” nasionalistik dari kepentingan umum umat manusia secara keseluruhan. Jika tidak, ia akan mengalami kemunduran, menjadi sentimen kedaerahan yang menyedihkan dan tribalisme.

Jika realitas kewargaan [citizenship] yang utuh dalam semua diskursif dan vitalitas politiknya mulai berkurang, kehilangannya akan menandai kerugian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perkembangan manusia. Kewargaan, dalam pengertian klasik istilah ini, yang melibatkan pendidikan seumur hidup yang berorientasi etis dalam seni berpartisipasi dalam urusan publik (bukan bentuk legitimasi kosong yang sekarang sering dikandungnya hari ini), akan lenyap. Kehilangannya berarti kekejaman kehidupan komunal di luar batas keluarga, berkurangnya kepekaan sipil sampai pada titik ego yang menciut, penggantian penuh arena publik dengan dunia pribadi dan dengan pencarian pribadi.

Kegagalan gerakan ekologi yang rasional dan berkomitmen secara sosial akan menghasilkan masyarakat yang diatur, yang mekanis, dan gersang, yang terdiri dari ego hampa pada otomatisasi total dan totalitarian paling buruk. Sebelum planet ini dianggap tidak berpenghuni secara alami, hanya ada sedikit manusia yang bisa menghuni tempat itu.

Sebagai alternatif, masyarakat yang benar-benar ekologis akan membuka pemandangan “alam yang bebas” dengan eko-teknologi canggih yang berdasarkan tenaga matahari, angin, dan air; bahan bakar fosil yang ditangani dengan hati-hati akan ditempatkan untuk menghasilkan tenaga untuk memenuhi kebutuhan yang dipahami secara rasional. Produksi akan berdasarkan pada kegunaan, bukan demi keuntungan, dan distribusi barang akan terjadi sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan manusia berdasarkan norma-norma yang ditetapkan oleh majelis warga dan konfederasi majelis. Keputusan oleh masyarakat akan dibuat sesuai dengan prosedur langsung dan tatap muka dengan semua penilaian koordinatif yang dimandatkan pada delegasi. Pertimbangannya ini, akan dirujuk kembali melalui diskusi, persetujuan, modifikasi, atau penolakan oleh majelis dari majelis (atau Komune dari komune) secara keseluruhan, yang mencerminkan keinginan mayoritas yang dirakit secara penuh.

Kita tidak tahu berapa banyak teknologi yang akan dikembangkan beberapa dekade dari sekarang, apalagi untuk beberapa generasi. Pertumbuhan dan prospek akan kemungkinan yang terjadi sepanjang abad ini saja, bahkan menyilaukan bagi bayangan para utopis paling imajinatif. Jika tidak ada yang lain, kita telah memasuki revolusi teknologi dan komunikasi permanen yang puncaknya tidak mungkin untuk diramalkan. Hal ini mengumpulkan kekuatan dan pengetahuan, yang membuka dua prospek yang secara radikal bertentangan: baik manusia benar-benar akan menghancurkan dirinya sendiri dan habitatnya, atau ia akan menciptakan kebun, dunia yang subur dan jinak yang bahkan utopis paling mulia seperti Charles Fourier tidak dapat bayangkan.

Sudah sepatutnya alternatif yang dikehendaki semacam itu harus muncul sekarang dalam bentuk ekstrem seperti itu. Kecuali Ekologi Sosial—dengan pandangan naturalistiknya soal penafsiran perkembangan fenomena alam dan sosial, penekanannya pada disiplin dengan kebebasan dan imajinasi yang bertanggungjawab—dapat dibawa melayani tujuan sejarah semacam itu, manusia mungkin terbukti tidak akan mampu mengubah dunia. Kita tidak dapat menunda kemendesakan untuk menghadapi prospek ini tanpa batas waktu: suatu gerakan harus muncul untuk membuat manusia bertindak, atau kesempatan besar terakhir dalam sejarah untuk membebaskan emansipasi umat manusia akan binasa dalam penghancuran diri yang tak terkendali.

[1] Murray Bookchin, “Ecology and Revolutionary Thought,” dipublikasikan jurnal eko-anarkis New Directions dalam Libertarian Thought (Sept, 1964), dan kumpulan seluruh esai utama saya pada tahun 1960'an dalam Post-Scarcity Anarchism (Berkeley: Ramparts Press, 1972: dipublikasikan ulang, Montreal: Black Rose Books, 1977). Ekspresi “etika yang saling melengkapi” berasal dari The Ecology of Freedom (San Francisco: Cheshire Books, 1982: edisi revisi, Montreal: Black Rose Books, 1991).

[2] Neil Evernden, The Natural Alien (Toronto: University of Toronto Press, 1986), hlm 109.

[3] Dikutip dari Alan Wolfe, “Up from Humanism,” American Prospect (Winter 1991), hlm 125.

[4] Paul Radin, The World of Primitive Man (New York: Grove Press, 1960), hal 211.

[5] Murray Bookchin, The Ecology of Freedom (Palo Alto, CA: Cheshire Books, 1982), hlm 29.

[6] Der Spiegel (Sept. 16, 1991), hal 144-45.

[7] Saya mengemukakan semua pandangan ini di esai saya yang berjudul “Ecology and Revolutionary Thought” pada tahun 1964-65, dan mereka membaur dari waktu ke waktu oleh gerakan ekologi berikutnya. Banyak pandangan teknologi menjadi mantap dalam esai 1965 saya “Toward a Liberatory Technology” yang juga membaur dan berganti nama menjadi “teknologi tepat guna,” sebuah ekspresi yang agak netral secara sosial dibandingkan dengan ekoteknologi yang asli saya kemukakan. Kedua esai ini dapat ditemukan dalam Post-Scarcity Anarchism.

[8] Lihat “The Forms of Freedom” dalam Post-Scarcity Anarchism; “The Legacy of Freedom” dalam The Ecology of Freedom; dan “Patterns of Civic Freedom” dalam From Urbanization to Cities: Towards a New Politics of Citizenship (1982, 1992; ed. rev. London: Cassell, 1995).