Murray Bookchin
Kematian Planet Kecil
Pertumbuhannyalah yang Membunuh Kita
Kita cenderung untuk selalu berpikir bahwa bencana lingkungan—seperti bencana pengeboran minyak Exxon Valdez yang terjadi baru-baru ini di pesisir Alaska—sebagai “insiden” terpisah yang meledak tanpa peringatan dan pemberitahuan sebelumnya. Tapi kapan sebuah kata insiden selalu menjadi tidak tepat sebelumnya? Sejak kapan semacam kejadian yang tidak diharapkan ini menjadi insidental? Dan kapan pola yang konsisten ini, soal poin kejadian yang tidak diharapkan ini, menjadi krisis yang telah mengakar dalam, bahwa ia tidak hanya bersifat lingkungan tetapi juga sosial?
Presiden Bush menjadi sasaran amarah terhadap tumpahnya lebih dari satu juta galon petrolium mentah kilang Valdez oleh kelalaian kapten kapal. Faktanya, bagaimanapun juga ini adalah konsekuensi keadaan sosial yang jauh lebih menarik ketimbang faktor “manusia” dan “teknologi” seperti dilaporkan oleh media massa. Semenjak pipa minyak Valdez berfungsi beberapa tahun yang lalu, ada kurang lebih 400 tumpahan minyak di pesisir Alaska. Misal, pada 1987, tanker Stuyvesant membuang hampir jutaan galon ke teluk setelah meninggalkan Valdez, tampaknya karena kegagalan mekanik yang diakibatkan cuaca parah. Organisasi perlindungan lingkungan Greenpeace, mencatat tujuh tumpahan minyak di perairan Alaska tahun ini [1989] bahkan sebelum kasus Exxon Valdez mencuat.
Tumpahan dari ribuan hingga jutaan galon minyak, atau lebih tentu saja, yang secara rutin dikeluarkan dari tanker untuk membuat ruang yang kosong di kapal kargo untuk perjalanan balik, telah mencemari daerah-daerah luas di permukaan laut dan garis pantai dunia. Efek mengerikan dari tumpahan minyak yang terjadi bertahun-tahun yang lalu masih terlihat sampai sekarang, dan insiden baru terus saja menambah kerusakan. Tumpahan 10.000 galon yang dipublikasikan meluas, yang “secara misterius” mencemari daerah pesisir dua pulau di Hawaii sekitar seminggu setelah Exxon Valdez kandas, telah dilaporkan cocok dengan 118.000 galon kecil yang Exxon Houston campakkan di pesisir Hawaii lainnya sekitar tiga minggu sebelum tumpahannya Valdez.
Pada satu hari saja, 23 Juni 1989, tiga tumpahan utama—di laut lepas Newport, Rhode Island, di Sungai Delaware, dan di Pantai Teluk Texas—membuang total kurang lebih satu juta galon minyak ke perairan Amerika.
Banyak yang merasa sulit melihat kejadian ini sebagai bagian dari rangkaian yang memiliki sumber yang sama. Ini akan menjadi tugas yang tidak biasa bagi orang-orang untuk melacak rangkaian kejadian mulai dari penyebab hingga akibat, yang telah dikondisikan untuk melihat kehidupan layaknya sebuah acara komedi televisi atau acara bincang-bincang yang terdiri dari diskrit yang mandiri, segmen anekdot. Sebagai akibatnya, pada dasarnya kita hidup dalam diet singkat tanpa logika atau efek jangka panjang. Sejauh ini masalah kita adalah mengenali mereka sebagai masalah dalam setiap episodik ketimbang sistemik; adegan itu berantakan, kameranya bergerak.
Tetapi krisis saat ini tidak akan hilang jika kita mengalihkan salurannya. Hal itu sudah dapat diprediksi berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ada banyak sekali tanda bahaya yang mengerikan, peringatan yang mendesak, dan upaya gagal para ahli lingkungan generasi sebelumnya dalam mengatasi faktor sosial yang mendukung masalah lingkungan. Dalam banyak kasus, mereka meramalkan dengan sangat jitu hasil kebijakan ekologis yang edan yang dijalankan oleh korporasi di Barat dan pendirian birokrasi di Timur.
Sengketa paling awal seputar bahaya yang ditimbulkan oleh ekspansi industri minyak ke pengeboran samudera, bahkan terjadi sebelum wilayah Arktik dibuka untuk eksploitasi minyak. Sengketa tersebut kembali muncul pada tahun 1950 an, ketika kapal-kapal yang lebih besar mulai digunakan untuk mengangkut minyak dari Timur Tengah. Jauh sebelum tumpahan minyak mulai mendapat perhatian publik, para pemerhati lingkungan menyuarakan kekhawatiran akan bahaya yang ditimbulkan oleh meningkatnya kapasitas angkut kapal tanker.
Yang tidak kalah serius dengan kemungkinan akan adanya “kesalahan manusia” dalam pengoperasian kapal-kapal besar ini adalah kita tahu kalau bahkan kapal paling besar juga dapat diterpa badai, hanyut dalam perjalanan, karam di terumbu karang di perairan berbahaya, dan tenggelam. Dalam ceramah yang saya berikan beberapa dekade yang lalu di jaringan Radio Pacifica, saya menekankan kepastian tumpahan minyak jika besaran tanker meningkat. Oleh karena itu, tumpahan Exxon Valdez bukanlah kecelakaan tak terduga tapi keniscayaan yang pasti -dan mungkin dalam beberapa waktu mendatang orang-orang masih merengek tentang hal yang sama. Hal itu dapat ditebak sebagaimana dalam kasus pulau Three Mile dan Chernobyl.
Yang juga tak kalah diprediksi adalah tren pemanasan global. Meski sebenarnya lebih sering sebagai bentuk rasa ingin tahu untuk meneliti atmosfer ketimbang sebagai peringatan ekologis yang serius, ramalan menunjukan bahwa karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil dapat meningkatkan suhu planet kembali ke abad kesembilan belas. Ramalannya terus berulang dari waktu ke waktu sejak saat itu. Saya menulis pada awal tahun 1964 bahwa peningkatan “selimut karbon dioksida” dari pembakaran bahan bakar fosil “akan menyebabkan pola badai yang lebih merusak dan pada akhirnya mencairnya lapisan es kutub, naiknya permukaan air laut, dan genangan tanah yang luas.”
Kemungkinan hujan asam dan deforestasi sistematik dari sabuk hutan hujan khatulistiwa tidak dapat diperkirakan secara teknis. Saya bahkan belum berbicara tentang dampak klorofluorokarbon di lapisan ozon bumi. Namun, isu kehancuran lingkungan yang lebih besar dalam skala global dan gangguan siklus alam secara mendasar sebenarnya sudah menjadi agenda radikal di akhir tahun 1960'an, jauh sebelum Hari Bumi diproklamirkan dan isu-isu ekologis hanya jadi kegiatan membersihkan kaleng, botol, dan sampah dari jalan-jalan kota.
Prediksi bencana bakal lebih murah andaikata mereka tidak berasal dari analisis bernalar dari jenis yang telah menjadi tidak populer di era mistisisme Zaman Baru ini. Tapi kita tidak punya nalar untuk bersukacita dengan kenyataan bahwa Margaret Thatcher, Perdana Menteri Inggris, sering terdengar seperti anggota kelompok “Hijau” yang berorientasi lingkungan dalam peringatan publiknya tentang efek rumah kaca, jika kita ingat bahwa Thatcherisme di Inggris sering dapat disamakan dengan transisi ke teknologi tinggi dan nuklir.
Juga akan sangat tidak menggembirakan untuk mengetahui bahwa Mikhail Gorbachev, Presiden Uni Soviet, siap mengikuti Thatcher dalam menghentikan industri sabuk “karat” yang lebih tua dan energi bahan bakar fosil mereka, setelah kejadian Chernobyl dan “kejadian” nuklir yang lebih awal, yang mungkin lebih buruk lagi dan tidak pernah kita dengar sebelumnya. Jika solusi terhadap efek rumah kaca malah membuat masalah yang berpotensi lebih berbahaya seperti berkembangnya “tenaga nuklir bersih” dan puing-puing radioaktif yang telah berlangsung lama, dunia mungkin akan lebih buruk akibat pemikiran lingkungan yang baru ini.
Upaya Presiden A.S. George Bush untuk bergabung dalam paduan suara ini dengan merevisi Undang-Undang Udara Bersih untuk mengurangi tingkat ozon yang tinggi, polutan penyebab kanker dan kandungan zat beracun lainnya, telah mendapat kritik yang hampir sama dengan pujian. Dampak dari proposal Bush yang cukup sederhana jika kita mengingat besarnya goncangan pencampakan lingkungan, tidak akan sepenuhnya dirasakan sampai dekade pertama abad berikutnya. Maklum, hal ini telah membangkitkan kemarahan para pecinta lingkungan. Lebih dari itu, bagi Bush, meninggalkan pelaksanaan rencana ke industri adalah untuk menjamin bahwa biaya teknologi pengendalian pencemaran akan diteruskan dengan beberapa tambahan, kepada konsumen, dan bahwa banyak proposal akan dihormati dalam pelanggaran macam demikian.
Apa yang environmentalis harus tekankan adalah bahwa krisis ekologis global tidak hanya merupakan produk kecelakaan secara acak. Jika bencana Exxon Valdez hanya dianggap seperti “kecelakaan” di Chernobyl dan Pulau Three Mile—kita akan mengalihkan perhatian publik dari proporsi historis krisis sosial: Sederhananya kita tidak hidup dalam dunia yang penuh masalah, tapi dalam dunia yang sangat problematis, sebuah masyarakat yang dari sononya anti-ekologi. Dunia anti-ekologi ini tidak akan disembuhkan oleh tindakan kenegaraan atau merubah bagian dari undang-undang sedikit demi sedikit. Ini adalah sebuah dunia yang sangat membutuhkan perubahan struktural yang meluas.
Mungkin masalah sistemik kita yang paling jelas adalah pertumbuhan yang tidak terkendali. Saya menggunakan kata “tidak terkendali” dengan mempertimbangkan pilihan pada yang “tidak terkendali”. Pertumbuhan yang saya bicarakan bukanlah kolonisasi manusia atas planet selama ribuan tahun sejarah. Ini adalah realitas material unik di era kita yang tak bisa dielakkan lagi: yaitu, bahwa pertumbuhan ekonomi yang tak terbatas diasumsikan sebagai bukti kemajuan manusia. Selama beberapa generasi terakhir ini kita telah menganggap bahwa hal itu sama permanennya dalam kesadaran kita, mirip seperti kesucian properti itu sendiri.
Pertumbuhan ini, pada kenyataannya, hampir identik dengan ekonomi pasar yang berlaku saat ini. Fakta itu menemukan ekspresi paling jelas dalam pepatah pasar, “tumbuh atau mati.” Kita hidup dalam dunia yang kompetitif di mana persaingan adalah hukum kehidupan ekonomi, keuntungan, yang jadi faktor penentu sosial dan juga pribadi, batasan atau kekangan, jadi sesuatu yang antik, dan komoditas itu sendiri, mengganti media tradisional untuk membangun hubungan ekonomi—yaitu saling memberi (gift).
Bagaimanapun juga tidak akan cukup untuk menyalahkan masalah lingkungan kita pada obsesi terhadap pertumbuhan (ekonomi). Sistem struktur yang sangat mengakar ini—di mana pertumbuhan hanyalah manifestasi permukaan—telah membentuk masyarakat kita. Struktur ini berada di luar kendali moral, sama seperti aliran adrenalin berada di luar kendali makhluk yang menakutkan. Pengaruh sistem pertumbuhan punya kualitas yang hampir sama dengan hukum kodrat.
Dalam masyarakat pasar nasional atau internasional (baik dari jenis perusahaan yang ditemukan di Barat atau jenis birokrasi yang ditemukan di Timur), persaingan itu sendiri menghasilkan kebutuhan akan pertumbuhan. Pertumbuhan pertahanan masing-masing perusahaan terhadap ancaman para pesaing yang bakal menghisap mereka. Isu moral tidak berpengaruh pada hubungan permusuhan yang memaksa ini. Sejauh ekonomi pasar menjadi sangat luas sehingga mengubah masyarakat menjadi pasar—pusat perbelanjaan yang luas—Ia mendiktekan parameter moral kehidupan manusia dan membuat pertumbuhan menjadi identik dengan kemajuan pribadi maupun sosial. Kepribadian seseorang, kehidupan cinta, pendapatan, atau keyakinan, berubah menjadi layaknya perusahaan, harus tumbuh atau mati.
Masyarakat pasar ini tampaknya telah menghapus ingatan banyak orang bahwa ada dunia yang berbeda yang pernah membatasi pertumbuhan, menekankan kerja sama dalam persaingan, dan menilai bahwa sebuah pemberian adalah ikatan solidaritas manusia. Di dunia yang terpencil itu, pasar menjadi marjinal bagi masyarakat “alami” atau domestik, dan komunitas perdagangan ada di “peralihan” dunia pra-pasar, untuk menggunakan kata-kata yang sesuai dengan Marx.
Saat ini, bahasa liberal yang agak naif membenarkan suatu kondisi yang telah kita anggap remeh seperti udara yang kita hirup: pertumbuhan yang “sehat”, kompetisi “bebas”, dan individualisme “kasar”—peribahasa yang telah diadopsi oleh tiap masyarakat yang rentan untuk mengubah hal-hal yang berbau predator menjadi kebajikan. “Ini adalah urusan bisnis, bukan pribadi, Sonny!” ujar para wakil Godfather setelah keluarga patriarkis tersebut terpompa penuh peluru oleh Mafia saingannya. Jadi semua nilai pribadi direndahkan menjadi sesuatu yang bersifat menghibur.
Telah terjadi di negara-negara Dunia Pertama yang dengan cepat menggunakan banyak sumber dayanya, bahwa pertumbuhan telah menggerogoti biosfer dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Deforestasi dari hujan asam, yang merupakan produk pembakaran bahan bakar fosil itu cocok atau bahkan melampaui pembakaran sistematis yang membersihkan hutan hujan yang luas. Kita mulai belajar bahwa penghancuran lapisan ozon terjadi hampir di mana-mana, tidak hanya di Antartika.
Kita sekarang merasakan bahwa pertumbuhan tak terbatas secara harfiah telah mendaur ulang produk organik yang kompleks dari evolusi alami menjadi unsur-unsur mineral sederhana seperti pada awal kehidupan bumi milyaran tahun yang lalu. Tanah subur yang telah dihasilkan selama ribuan tahun sedang berubah menjadi pasir; daerah berhutan yang kaya penuh dengan bentuk kehidupan yang kompleks sedang menjadi hamparan dataran bulan yang gersang, sungai, danau, dan bahkan daerah samudra yang luas menjadi saluran pembuangan limbah berbahaya dan mematikan, nuklida radio, bersama dengan rangkaian peracunan yang tak ada habisnya, menyerang udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan hampir semua hidangan di meja makan malam. Bahkan kantor yang disegel, ber-AC, dan disanitasi juga tidak kebal terhadap banjir beracun ini.
Pertumbuhan hanyalah salah satu penyebab paling mendesak yang mendorong kembali jam evolusi ke dunia yang lebih primordial dan termineralisasi. Dan menyerukan “batasan pertumbuhan” adalah langkah awal untuk memberi tahu publik mengenai besarnya masalah lingkungan kita. Kecuali pertumbuhan ditelusuri kembali hingga ke sumber kompetisi dasarnya di masyarakat pasar yang mendasari dirinya pada prinsip tumbuh atau mati—permintaan untuk mengendalikan pertumbuhan menjadi sama sekali tidak berarti dan tidak dapat dicapai. Kita tidak bisa lagi menahan pertumbuhan sambil meninggalkan pasar secara utuh sementara kita bisa menahan egoisme sambil membiarkan persaingan tetap utuh.
Di dalam dunia dimana sebab-akibat menjadi tersembunyi ini, gerakan lingkungan dan masyarakat berdiri di persimpangan jalan. Apakah pertumbuhan merupakan sebuah produk “konsumerisme”—penjelasan yang paling dapat diterima dan secara sosial bersifat netral seperti biasa kita hadapi dalam diskusi tentang kerusakan lingkungan? Atau apakah pertumbuhan terjadi karena sifat produksi untuk ekonomi pasar? Hingga batas tertentu, bisa kita katakan keduanya benar. Tapi realitas ekonomi pasar secara keseluruhan menunjukan bahwa permintaan konsumen akan produk baru jarang terjadi secara spontan, dan konsumsi biasanya tidak muncul murni hanya dari pertimbangan pribadi.
Saat ini, permintaan diciptakan bukan oleh konsumen melainkan oleh produsen -khususnya, oleh perusahaan yang disebut agen periklanan yang menggunakan sejumlah teknik untuk memanipulasi selera publik. Mesin cuci dan pengeringan misalnya, semuanya dibangun untuk digunakan secara komunal di banyak gedung apartemen. Privatisasi peralatan tersebut di rumah-rumah seperti saat ini, di mana mereka sebagian besar waktu berdiam diri tidak digunakan, adalah hasil dari kecerdikan iklan.
Seseorang dapat memeriksa jejeran benda-benda khas “konsumen” ini, dan menemukan banyak contoh lain dari konsumsi produk yang tidak masuk akal oleh individu dan keluarga berukuran kecil—barang “konsumen” yang sebenarnya dapat dengan mudah dipinjamkan untuk dipergunakan secara umum (kolektif).
Penjelasan populer lainnya tentang krisis lingkungan adalah meningkatnya populasi manusia.
Argumen ini akan lebih menarik jika bisa ditunjukkan bahwa negara dengan tingkat kenaikan populasi terbesar adalah negara dengan konsumsi energi, bahan baku, atau bahkan makanan terbesar pula. Tapi menghubungkan dua hal semacam itu sangat salah. Seringkali kepadatan penduduk disamakan dengan kelebihan populasi di suatu negara atau wilayah tertentu. Argumen macam itu, biasanya dengan sinis digunakan pada pemandangan mengerikan jalan-jalan dan stasiun kereta bawah tanah Kota New York yang ramai pada jam-jam sibuk misalnya, yang hampir tidak mendapat perhatian yang serius.
Kita belum dapat menentukan berapa banyak orang yang dapat ditanggung planet ini tanpa menyebabkan gangguan ekologi yang menyeluruh. Data-data yang ada belum dapat menyimpulkan apapun, tapi yang pasti ia sangat bias—umumnya di sepanjang garis ekonomi, ras, dan sosial. Sulit untuk mengatakan kalau demografi adalah ilmu pengetahuan, karena dari luar ternyata ia adalah senjata politik yang terkenal karena pelecehannya yang telah menghancurkan kehidupan jutaan orang sepanjang abad ini.
Pada akhirnya, “masyarakat industri”, istilah yang terlalu sopan yang ditujukan pada kapitalisme, juga menjadi penjelasan yang terlalu menyederhanakan penyakit lingkungan yang menimpa zaman kita. Tapi ketidaktahuan yang menggembirakan mengaburkan kenyataan bahwa beberapa sentimeter yang lalu, sebagian besar lahan hutan di Inggris, termasuk tempat si legendaris Robin Hood biasa berburu itu, telah digunduli oleh kapak kasar para proletar pedesaan untuk menghasilkan arang demi ekonomi metalurgi berteknologi sederhana dan untuk pembukaan lahan peternakan domba yang menguntungkan. Ini bahkan terjadi jauh sebelum dimulainya Revolusi Industri.
Teknologi dapat memperbesar masalah atau bahkan mempercepat pengaruhnya. Tapi entah itu dengan atau tanpa “imajinasi teknologi” (menggunakan ekspresi Jacgues Ellul), ia jarang sekali menghasilkan masalah itu sendiri. Tentu saja, rasionalisasi kerja berarti kembali menggunakan teknik perakitan masyarakat pra-industri seperti pembangun piramida kuno Mesir, yang mengembangkan mesin manusia yang banyak untuk membangun kuil dan makam.
Dengan membawa pertumbuhan keluar dari konteks sosialnya yang tepat, maka ia justru mendistorsi dan memprivatisasi masalah. Tidak tepat dan tidak adil memaksa orang untuk percaya bahwa mereka bertanggung jawab secara pribadi terhadap bahaya ekologis saat ini karena mereka terlalu banyak mengkonsumsi atau karena telah berkembang biak dengan mudah.
Privatisasi krisis lingkungan [privatization of the environmental crisis], seperti kultus Zaman Baru yang hanya fokus pada masalah pribadi dan bukannya pada masalah sosial, telah memperlihatkan ketidakefektifan banyak gerakan lingkungan dan mengancam mengurangi kredibilitas mereka di hadapan publik. Jika solusi utama terhadap masalah lingkungan adalah “hidup sederhana” dan daur ulang yang militan, krisis pasti akan berlanjut dan meningkat.
Ironisnya, banyak orang awam dan keluarga mereka yang tidak mampu untuk hidup “sederhana.” Hidup sederhana berarti suatu usaha yang menuntut seseorang untuk mempertimbangkan biaya dari benda-benda buatan tangan yang “sederhana” dan sayuran organik dan barang “daur ulang” dengan harga setinggi langit. Apalagi, “produksi akhir” krisis lingkungan yang tidak bisa dijual ke “konsumsi akhir,” pasti akan laku untuk produksi militer. General Electric menikmati keunggulan besar tidak hanya dari lemari esnya, tapi juga dari senjata Gatlingnya. Sisi berbayang dari masalah lingkungan produksi militer ini hanya bisa diabaikan dengan mencapai keterpurukan ekologis yang begitu membuat kita patah hati untuk dapat menjelaskannya.
Perhatian masyarakat terhadap lingkungan tidak dapat diatasi dengan menempatkan kesalahan pada pertumbuhan, tanpa menguraikan terlebih dahulu penyebab pertumbuhan. Penjelasannya juga tidak bisa dilepaskan dengan mengutip “konsumerisme” tetapi mengabaikan peran jahat yang dilakukan persaingan produsen dalam membentuk selera publik dan mengarahkan daya beli masyarakat. Selain biaya yang dikeluarkan, kebanyakan orang sebenarnya tidak ingin “hidup sederhana”. Mereka tidak ingin mengurangi kebebasan mereka untuk bepergian atau akses mereka terhadap budaya, atau untuk mengurangi kebutuhan yang sering kali berguna untuk memperkaya kepribadian dan kepekaan manusia.
Slogan-slogan environmentalis “radikal” tertentu yang kasar, seperti KEMBALI KE ZAMAN PLEISTOSEN! (sebuah slogan dari kelompok Earth First!) mungkin akan terdengar. Mereka kurang lebih juga merendahkan dan mendepersonalisasi ketimbang utopia teknokratik yang dikeluarkan oleh Herbert George Wells pada awal abad ini.
Gaya berpikir seperti ini akan membawa kita pada tingkat kepekaan dan perenungan yang lebih tinggi—atribut yang mereka kenakan pada konsumsi barang-barang seperti buku, karya seni, dan musik—untuk mendapatkan pemahaman tentang apa yang pada akhirnya dibutuhkan dan tidak diperlukan untuk menjadi orang yang benar-benar terpenuhi. Tetapi tanpa orang-orang semacam itu dalam jumlah yang cukup banyak untuk menantang penghancuran planet ini, gerakan lingkungan akan sama dangkalnya di masa depan sebagaimana sekarang ia juga menjadi tidak efektif.
Masalah pertumbuhan kemudian dapat digunakan untuk mengantarkan kita ke banalitas tentang pola konsumsi dan semangat teknologis kita untuk peralatan (menurut saya, Buddhisme belum tentu dapat membuat Jepang menjadi kurang teknologis ketimbang AS) atau untuk memandu pemikiran publik ke isu mendasar yang membawa sumber-sumber sosial dari krisis ekologis menjadi fokus yang jelas.
Di Vermont, misalnya, kelompok Kiri Hijau yang berusaha meradikalisasi gerakan lingkungan yang lebih hangat, dalam garis yang menantang dan berguna telah mengikuti logika pertumbuhan yang mendegradasi. Dalam permintaan mereka untuk moratorium pertumbuhan selama setahun dan diskusi publik mengenai kebutuhan apa yang vital, mereka telah berhasil mengajukan pertanyaan kunci tentang masalah yang diangkat oleh pengendalian pertumbuhan.
Pertanyaan tersebut misalnya, apa kriteria agar kita dapat menentukan apa yang merupakan pertumbuhan yang tidak perlu dan pertumbuhan yang dibutuhkan? Siapa yang akan membuat badan-badan negara pengambil keputusan, pertemuan kota, aliansi antar kota secara keseluruhan, dan lingkungan di kota ini?
Sampai sejauh mana kotamadya diberdayakan untuk membatasi pertumbuhan? Haruskah mereka mulai membeli lahan terbuka? Haruskah mereka memberikan subsidi petani untuk menyelamatkan peternakan bagi generasi mendatang? Haruskah mereka membawa masalah industri dan komersial utama di bawah kendali majelis warga? Perlukah mereka menetapkan kriteria hukum untuk menentukan pembatasan secara ekologis kepada para pengembang dan investor?
Masing-masing deretan pertanyaan ini, secara logis mengikuti gagasan untuk mengendalikan pertumbuhan, telah memiliki konsekuensi yang mengesankan.
Ia telah memaksa orang-orang di Vermont untuk memikirkan sifat prioritas mereka: pertumbuhan atau lingkungan yang layak? Kekuatan terpusat atau lokal? Aliansi masyarakat atau birokrasi? Pemanfaatan properti yang melibatkan kesejahteraan masyarakat atau kontrol komunal atas properti semacam itu?
Ia telah memaksa orang-orang di Vermont untuk memikirkan sifat prioritas mereka: pertumbuhan atau lingkungan yang layak? Kekuatan terpusat atau lokal? Aliansi masyarakat atau birokrasi? Pemanfaatan properti yang melibatkan kesejahteraan masyarakat atau kontrol komunal atas properti semacam itu?
Sejumlah kota di Vermont telah menantang hak pemerintah negara bagian di Montpelier yang mengabaikan tuntutan pertemuan warga dan kota untuk menghambat pertumbuhan—memang, mengabaikan usaha mereka untuk menentukan takdir mereka sendiri.
Lingkungan hidup Zaman Baru dan environmentalisme konvensional yang membatasi pemikiran ekologis yang serius dan mendalam telah semakin tergantikan oleh Ekologi Sosial yang mengeksplorasi faktor ekonomi dan kelembagaan yang memasuki krisis lingkungan.
Dalam konteks wacana yang lebih matang ini, tumpa han minyak Valdez tidak lagi dipandang sebagai masalahnya Alaska, atau sebagai sebuah “episode” dalam polusi geografi. Hal itu diakui sebagai tindakan sosial, yang menimbulkan “kecelakaan” semacam itu sampai pada tingkat masalah sistemik—yang berakar bukan pada konsumerisme, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan populasi belaka, namun dalam sistem produksi yang tidak rasional, penyalahgunaan teknologi dengan moto ekonomi “tumbuh atau mati,” dan demografi kemiskinan dan kekayaan. Masalah ekologis tidak dapat dipisahkan dari masalah sosial.