Over one arm the lusty courser’s rein,
Under her other was the tender boy,
Who blushed and pouted in a dull disdain,
With leaden appetite, unapt to toy—
She red and hot as coals of glowing fire,
He red for shame but frosty in desire.
(Venus and Adonis, William Shakespeare)

Pada akhirnya Kosa tetap menjadi labirin legenda tentang pangeran yang patah hati, dan selebihnya, para kembara seakan terkutuk untuk menjadi rutin tersesat saat menelusuri rimba kelahiran diri. Gaung perang paling chaos bagi alam pikir sekaligus estetik! Para ahli penafsir bahasa literasi cenderung abai atas bayangan dirinya sendiri. Seringkali 'takwa' sekedar moral bagi etika kapitalistis.

Hingga pada titik paling kecil, Kosa pun tenggelam bersama kehancuran sang Mekala. Ia remuk tertelan tragedi asmaraloka dan terselimuti kabut kelam yang teramat dingin. Pena serta literasi telah memainkan saraf anatomi dengan brutal. Imajinasi terapung di antara getar ombak lautan tanpa arah sang bayu selain darahnya diteteskan sebagai candu, menjadi otoritas terhadap manusia lain. Perang menuju 'Paradiso' sewujud pertahanan kain hitam saat daratan bersiap menjemput mentari dari arah timur di negerinya. Dunia serta airmata memohon kepada kausa atas tembok megah yang dibangun sebagai artefak asmaraloka.

Inikah waktu bagi Zarathustra untuk dinapaskan sebagai Sapta Mandala?
Pengulangan abad terekam dari detail Bedhaya dan Bharatnatyam dalam menyampaikan sekelumit metafora dari tantrasastra yang terdistorsi pada upeti pasar gelap. Namun sekali lagi; "AMOR is ever a rogue, and all who believe him are cheated!" (Elegies. Part I on Roman Elegies of Johann Wolfgang von Goethe). Dan, 'reclaim my heart as my home' sebagai pertahanan untuk kembali ke diri. Ini bukan hal yang dipenuhi mimpi semacam iming-iming yang fiktif. Kebenaran sebagai bentuk naif yang paling absurd. Refleksi abad ini. Asmaraloka yang penuh intrik seakan satu-satunya refleksi dalam Amor Fati. Tidak!

Kosa telah terjebak ke dalam delusi api neraka yang telah diciptakannya sendiri atas desakan hantu-hantu dunia meta-maya, yang tidak lain adalah masa lalu sebagai satu-satunya kebenaran yang menghidupi kontemporer penuh manipulasi. Harapan menjadi bias dalam mematik ruang gerak yang bersifat statis sebagai dekonstruksi, atau sesungguhnya destruktif dalam fenomena 'the nature of prejudice.'

I feel a long and unresolved desire
For that serene and solemn land of ghosts:
It quivers now, like an Aeolian lyre,
My stuttering verse, with its uncertain notes,
A shudder takes me: tear on tear, entire,
The firm heart feels weakened and remote:
What I possess seems far away from me,
And what is gone becomes reality.

(Johann Wolfgang von Goethe on FAUST, Part I: Dedication (25-30))

Kesedihan memang benar adanya. Begitu pula kehilangan akal menjadi realita yang telah meniadakan dirinya sendiri. Mimpi yang diciptakan oleh sabda di luar diri dan terekam sebagai janji telah menjadi wabah mistis para penyair abad modern. Mereka lebih menikmati sang Kosa sebagai candu daripada menelisik babak per babak metafora kejadian, dan tidak mengulang delusi sebagai tontonan. Kosa terdiam, sementara Sutasoma kembali bergema dengan cara yang lain dari seberang lautan: "Linguistic danger to spiritual freedom.-- Every word is a prejudice." (The Wanderer and his Shadow,s. 55, by Friedrich Nietzsche).

Bagaimana pun kita takkan pernah mendapatkan pengalaman yang berharga, secara berulang-ulang, bertahun-tahun. Namun hidup sebagai proses menjadikan diri memiliki penghargaannya. Suatu 'privilege' atas dunia kontemporer, sebagai ruang abadi, sebagai waktu sublimat. Mungkin, keliaran yang tampak gila menjadi cara dalam melatih hidupnya dengan duka cita hingga kita mengerti makna tentang 'budi' dan 'rasa'.


Jakarta, Januari 2021