image/svg+xml

Andrei atau Azsacra Zarathustra. Demikian aku mengenalnya sebagai kawan asal Rusia yang hidup mengembara dan kini menetap di daratan Shambhala. Seorang individual yang berjuang dalam Shunya melalui puisi, film, dan selebihnya sebagai sesama 'persona' yang tersingkirkan di peradaban superior dengan seluruh kemunafikannya. Tidak terlepas hal tersebut, kami saling menyadari, bahwa pertahanan terakhir dalam perjalanan eksistensi kami adalah, mengupas secara detail makna artistik dalam hampa wujud; di mana dunia sebagai ruang eksplorasi sekaligus inovasi kaum individual atas pertanyaan mendasar kami tentang 'the Absolute Freedom' dari kehidupan ini.

Tidaklah mudah saat pertama kali membaca karyanya untuk menemukan 'klik' komunikasi atas bahasa Azsacra dalam anti filsafat yang hendak disampaikan oleh dirinya. Aku semacam dibawa mengapung dalam teka teki pada keliaran karya-karya Azsacra, memotongnya hingga hancur dan menatanya kembali. Ini serasa sensasi imajinasi dari penghancuran sistem literasi yang sistemnya telah menjadi muara penyakit jiwa manusia sepanjang jaman. Kesadaranku mengajak pada jejak filsafat kaum individualis yang tersingkir, terbuang, dan terdistorsi. Aku membacanya dengan sangat hati-hati, dengan beragam bahasa yang asing bagi bahasa indukku (Inggris, Rusia, Hindi, Bengali, dan sedikit old Germanic). Azsacra dalam anti filsafat sewujud sarkastik realitas dari meta ilusif literasi yang hidup sekaligus menjadi refleksi optikal yang personal.

Puisi dan visual sebagai bahasa tubuh Azsacra bukan hal yang sederhana, ia hidup sebagai revolusi sang individual atas pertahanannya melawan kekuatan suprimasi yang konkrit dalam kekacauan dunia dengan spirit total chaos sang Zarathustra. Sang anti Kristus sekaligus anti politik dengan keindahannya yang tersublim.

Keliarannya yang penuh gairah kegilaan menarikku hingga ruang Shunya. Aku seketika terbunuh oleh filsafat anti filsafat! Sunyata itu lahir kembali dan seakan menyatakan; 'hentikan' kepada seluruh tragedi Hamlet. Antara negeriku dan Shangri-La, antara Shunya dan Sunyata, antara terbunuh atau membunuh. O bukanlah sistem angka selain rupa Ubermensch!!

"There are more things on heaven and earth than are thought of in your philosophy, Horatio." (Shakespeare). Ya, filsafat telah menelanjangi suluruh keindahan dan kemurnian individu demi kepentingan aristrokasia, demi kekuatan supremasi keningratan yang pseudo runtuh. Semacam rapuhnya ketuhanan pada altar-altar teologi. Kematian dipertemukan kepada kematian dan dikawal oleh para pandai besi serta pujangga kuno dari api yang mendidih bagai Candradimuka.

Ya, untuk seluruh lakon Shakespeare, untuk segala altar Kristus, untuk megahnya dunia dengan kebenarannya yang paradoksial atas jiwa peradaban, dunia dan puisi terekam pada singgasana para raja, aristrokasia. Aristokrasia!

Logika menggambarkan susunan rancang skema pesawat ulang-alik. Bagaikan titah dari seluruh absolut lidah pada setiap manuskrip masa per masa. "... And seem a saint, when most I play the devil." -- William Shakespeare, Richard III. Sementara King James Bible dalam Cambridge Ed bertitah: "But I am a worm and not a man, A reproach of men and despised by the people."

Azsacra Zarathustra menjadi cerminku membaca Pangeran Sutasoma. Shunya dan Sunyata menjelma yin-yang di antara tumpukan filsafat, dan pengetahuan manusia, tentang pseudo manunggal. Tentang ruang hampa dunia.

There are no binding oaths between men and lions Wolves and lambs can enjoy no meeting of the minds They are all bent on hating each other to the death So with you and me. (Homer: Fagles 22.310 (Iliad 22.262)) Manakala Friedrich Nietzsche pun mengulang sabda yang demikian tragis atas sang diri, "Be careful, lest in casting out your demon you exorcise the best thing in you." -- Friedrich Nietzsche. Azsacra menyampaikan salam dari kejauhan kepadaku: "I'm worst than an animal. I'm human."


Jakarta, Januari 2021