Satu-satunya obat yang paling berhasil bagi diriku adalah menangis saat dengan sadar dan kesiapan, harus dihadapkan ke dalam memori masa lalu, khususnya masa kecil. Pertanyaannya; "apakah menangis adalah perilaku lemahnya manusia?" - " I may be locked up for the sake of the liberty of the people; I may, under sentence, incur the loss of the right to bear arms. " ~ Max Stirner on The Owner : My Intercourse - The Ego and His Own.

"when solitude has risen
life resemblance manifest
sound of the wind audible
whispering from sunyata"
(Anima Mortuus, 2021)

Aku sebagai bedhaya bukanlah komposisi anatomi tubuh dengan kesepakatan universalitas yang terkontrol di luar tubuhnya sendiri. Bedhaya tidak lain menjadi matriks pada 'meta-maya' dalam paralel dunia. Suatu capaian perjalanan liar sekaligus hening antara diri dan anatomi dalam dimensi kompleks yang bersifat matematis.

Maka, menangis bukanlah tanda kelemahan individu. Ini wujud personalku, spiritualku. Mereka yang telah berpendapat bahwa 'menangis itu cengeng', bagiku mereka serupa robotik-klone, The Society of the Spectacle bagi Guy Debord: " Starting out like a condottiere in the service of use value, exchange value has ended up waging the war for its own sake. "

The Union of Egoists yang telah kehilangan esensi spiritual anatomical ketuhanan. Tuhan bagi mereka semacam omongkosong, dan mereka telah bangga menjadi hidup dengan arogan dogma transformasi pikiran. Mereka refleksi environmentalis dari gema Zarathustra atas 'God is Dead'. Mereka rupa Tuhan-Tuhan yang akan dengan mudah menilai apapun di luar tubuh mereka, di luar pengalaman mereka, di luar jiwa mereka.

Sesuatu yang bersifat bahasa tubuh, bahasa refleksi kinetis, bahasa somatis, menjadi tanda lemahnya individu bagi mereka. Ini sungguh ketoprak humor! Panggung kehidupan dipenuhi tragedi komedi atas vibrasi kimia antara sel yang terparalel senyawa: "Puncak keikhlasan individu pada yang duniawi, yang maha benar kelahiran jiwa atas kehidupannya sendiri," sementara tebing peperangan hidup individu tepat di lepas napas, di mana kornea dengan spontan melukis gelombang airmata. Di sinilah esensi waktu semacam gunung es, bagiku personal.

Aku bukanlah pemilik lidah api semacam Naga ataupun Durga. Aku bukanlah Siwa yang menari menghentak dunia. Aku hanyalah partikel kecil dari misteri bedhaya yang berjuang melatih fungsi anatomi tubuhku agar mampu berfungsi semestinya, anatomi tiga dunia. " Frege has the merit of finding a third assertion by recognising the world of logic which is neither mental nor physical. " - Bertrand Russell.

"To gaze at the river made of time and water
And recall that time itself is another river,
To know we cease to be, just like the river,
And that our faces pass away, just like the water."
(ARS POETICA, from Dreamtigers, by Jorge Luis Borges)

Bisa jadi, yang dramatik dari aktivitas monolog kaum libertin menjadi kitab kegilaannya masing-masing. Tidak akan pernah ada seorangpun mampu mengerti dari mana serta ke mana seluruh tujuan perjalanan individu. Sebuah 'dramatic monologue' tentang 'menangis' dan 'airmata' saat memeluk diri sendiri terbaca sebagai narsis. "Terkadang aku ingin kita jatuh, seperti rama-rama jatuh dari dahan, sebelum mati yang pasti." (PASTORAL, Goenawan Mohamad)