Waktu kembali memutar bekunya, mengajakku, merenungi sesuatu tentang cermin atas kekacauan dan kehancuran, suatu ‘innerlijke conflicten’. Tentang busur yang bersiap menghunus tepat ke setiap bagian utama pada anatomi tubuhku; tubuh rapuh yang semakin runtuh.

Aku teringat tentang ‘koninklijke landmacht’. Adalah deja-vu di kontemporer, dalam pengulang, menyampaikan rangkaian gejala tentang kisah yang aku tidak pernah mengerti. Di mana awal, dan di mana akhir, bahkan bagaimana ia akan bergerak sebagai kisah sejarah yang berjalan. Aku hanya mengerti bahwa ada kisah yang tidak benar-benar tuntas. Aku hanya mengerti bahwa ada delusi romansa yang masih ditanamkan semacam neo-feodal membabi-buta. Maha benar kebuntuan mental manusia berdiri, berlindung di dalam imajinasi arsitektural futuristik. Aku hidup di negeri di mana masyarakatnya masih primitif. Manusia sebagai mahluk yang unik dengan persona individualnya ditusuk jutaan nilai sebagai yang ‘invaliden’ ramai-ramai.

“It is true that the affirmation of individual sovereignty is logically precedent to protest against authority as such. But in practice they are inseparable. To protest against the invasion of individual sovereignty is necessarily to affirm individual sovereignty. – - – as individual sovereigns have we any constructive work to do, though as progressive beings we have plenty of it. But, if we had perfect liberty, we might, if we chose, remain utterly inactive and still be individual sovereigns” – (Individual Liberty: The Individual, Society, and the State – Anarchism and the State, Benjamin Tucker).

Yang gamblang: “..., if we had perfect liberty, we might, if we chose, remain utterly inactive and still be remain utterly inactive and still be individual sovereigns”, yang menjadi tegasnya pilihan manusia menjadi bagian sosial, menjadi individual, menjadi eksistensi, tidak akan terlepas dari bagaimana cara pandang dan berpikir yang akan membentuk karakternya sebagai sandi etnografi, sebagai ciri, sebagai anatomi di dalam melihat psiko-sosial mereka. Suatu tatanan masyarakat yang terkoloni dalam politik dengan memupuk praktek-praktek feodalisme dalam tradisi borjuis kuno. Hal ini sangatlah menjijikan dan, tentu saja, kekonyolan yang sungguh megah dungunya.

Aku membayangkan bagaimana kerja saraf otak manusia semacam visual rekayasa matrik sebagai palu pilahan antara menjadi kapitalis yang arif atau yang rakus. Namun, baru beberapa hari lalu, aku sempat berbincang cukup serius mengenai kondisi sosial saat ini, bahwa “semua ini tentang DNA, bukan otak, jika kamu analogikakan kerangka jaringan ini ke dalam sudut pandangmu, anatomi biologi”, ujar kawanku. Aku terdiam….. Bisa jadi, semua ini tentang matricity, namun aku masih merasa sebagai individu yang memiliki banyak kekurangan, bahkan mengenai pengetahuan. Aku tidak akan berpanjang abjad untuk membahasa dunia matrix.

Crack’d across into numberless fragments.
The Prophetic wrath, struggling for vent,
Hurls apart, stamping furious to dust,
And crumbling with bursting sobs, heaves
The black marble on high into fragments.
(The Book of Los, by William Blake)

Dan, pada Jakarta, menjelang labuh dalam gelap yang lain, dalam retakan yang lain, dalam sunyi yang lain. “Society often forgives the criminal; it never forgives the dreamer” – (Oscar Wilde). Seperti halnya, budaya baru dalam mengenali diri sendiri tentang fenomena muara-asal, memancangkan batang dupa serta taburan bunga dengan seluruh saratnya di tanah kuburan untuk memohon suatu berkah dengan cara membangkitkan mayat-mayat pemikiran yang telah usang, hingga kita sendiri melupakan, bahwa revolt bukan lagi tentang poros ikon selain revolt yourself atas masyarakat yang koma.

“Di kepulauan yang artifisial, anatomi cinta dan damai, dihancurkan…”