Disorientasi

      Kompromisme

      Disasosiasi Tanpa Solusi

Seorang teman anarkis pernah dengan nada sendu mengutarakan sebuah kegelisahannya. Ia menanggapi bagaimana banyaknya kolektif anarkis yang berdiri dan hancur di waktu yang tidak terlalu lama. Singkatnya perjalanan sebuah kolektif sering diasosiasikan sebagai sebuah kegagalan. Menurut seorang teman tersebut, para anarkis masih memiliki persoalan dalam membangun sebuah kelompok desentralis yang memiliki program dan capaian tertentu yang mesti jelas.


Sebuah tulisan kontemplatif dari seorang anarkis yang lain juga menggugat hal yang sama. Dorongan untuk berkumpul dan berkolektif menjadi tema utama dan pada akhirnya menegasikan bahkan cenderung menilai bahwa jatuh bangun banyak grup anarkis sebagai sebuah eror. Kampanye utama yang jelas adalah seruan yang pada esensinya sungguh memiliki penyakit eksistensialis.


Sebaliknya, aku memiliki persepsi yang jauh sangat berbeda. Kegelisahan sejenis yang di atas justru terdengar sangat moralis dan tendensius.


Disorientasi


Sebuah grup, sebuah kolektif atau kelompok yang dibangun atau berisikan para anarkis adalah sebuah proyek tendensius yang memiliki eror historis dalam banyak kasus. Akar masalah yang justru sering tidak mau dilihat dan ditempatkan untuk disasarkan kritik. Bagaimana dan apa saja kegagalan yang pernah terjadi untuk kemudian sebisa mungkin menghindari hal tersebut terulang kembali. Yang terjadi justru adalah repetisi menyedihkan yang menjebak juga ilutif.


Hal pertama dalam pandanganku secara pribadi adalah soal basis logika yang mendasar. Bagaimana semua dari kita yang dibesarkan dalam masyarakat hirarkis dengan pola-pola otoriter mendorong lahirnya sebuah taktik untuk merengkuh alternatif-alternatif di luar normalitas yang mengikat tersebut. Proyek sejenis pembangunan kelompok yang horisontal adalah sebuah ide yang digagas untuk mengujicobakan ranah imajinasi ke dalam praktik. Sayang hal ini memiliki masalah.


Sebuah grup atau kelompok sering dipahami sebuah sebuah ikatan jangka panjang yang mesti dijaga atau bisa dibilang MESTI diawetkan. Kita luput melihat bagaimana sebuah asosiasi bebas pada hakekatnya akan membawa individu-individu di dalamnya pada iklim yang temporer. Kita seharusnya semenjak awal telah menyadari bahwa sebuah proyek yang digagas layak dihancurkan ketika ia mencapai titik kronis yang membahayakan. Bagaimana seharusnya para anarkis telah memahami dengan benar dan jujur bahwa tekanan yang kontinyu dan repetitif pada ujungnya akan mendorong lahirnya kebosanan.


Yang terjadi malahan dari pada melampaui kebosanan tersebut, banyak yang akhirnya dengan sadar atau tidak, memilih eskapisme dengan memutasikan problem tersebut pada beban moralitas sejenis tanggung jawab. Dari sebuah front yang semestinya mendasarkan diri pada inisiatif dan partisipasi aktif justru berbalik menjadi ikatan permanen yang sungguh menjijikkan.


Kita bisa menyangkal bahwa hal itu tidak eksis meski pada kenyataanya kalau kita mau menimbang dengan jujur, karakater ini sungguh nyata hadir. Sebuah disorientasi yang telah mengusung misi avant garde-isme yang pada akhirnya fatal.


Titik kedua adalah persoalan misionarisme yang hadir. Dalam iklim masyarakat yang hirarkis di mana para anarkis adalah oposisi minor yang terisolasi dan isolatif di tengah oposisi yang lain, banyak anarkis yang terjebak pada keinginan untuk MEMBAWA PESAN damai. Pesan ini dirasa dan dianalisa serta dikuatkan dengan argumentasi bahwa mendasarkan diri pada sebuah grup yang terdiri dari para anarkis akan jauh lebih maksimal. Sayangnya, logikanya dipahami secara terbalik.


Sebuah grup harusnya didirikan atas dasar kebutuhan dari para individu yang beragam. Sebuah kebutuhan selalu akan memiliki waktu dan beban geografis yang temporer. Cuaca kondisional inilah yang sering diingkari untuk membenarkan sebuah grup mesti dipertahankan meski kondisinya sudah layak masuk kubangan. Para anarkis masih takut untuk membuang beberapa hal yang sejatinya sudah tidak lagi cocok dengan menggunakan pelbagai argumentasi yang dangkal.


Keterjebakan pada label kolektifisme membuat sebuah kelompok dibebankan sebuah capaian yang tidak lahir dari kebutuhan yang dirumuskan oleh para individu yang ada di dalamnya. Sebaliknya, kebutuhan tersebut justru menggunakan timbangan yang datang dari luar yang kalau mau ditelisik lebih radikal adalah sebuah hal yang mengusung nilai otoritarianisme. Para anarkis gagal membangun frustasi dari dalam dirinya sendiri untuk kemudian melahirkan sebuah parameter berbasiskan kebutuhan individu untuk kemudian dipertimbangkan dalam konsensus grup untuk mencari titik tertentu yang bisa dikompromikan sebagai kebutuhan bersama.


Titik kompromi tersebut tentulah tidak akan permanen sebagai situasi dan kondisi yang juga selalu dinamis. Namun karena pemahamannya yang terbalik, maka dengan sengaja ataupun tidak, banyak anarkis yang menjadi mekanik.


Dalam perjalanannya, banyak anarkis yang mendasarkan dirinya pada hasil dan bukan pada proses. Melihat hanya capaian yang direngkuh dan bukan pada perjalanan merengkuh capaian tersebut. Para anarkis sering gagal melihat masa lalu sebagai senjata analisis karena mendapati dirinya berada di zona nyaman.


Kalaupun ada yang melihat masa lalu, maka kecaman yang justru datang tidaklah dalam posisi dialektis. Bukan otokritik terhadap kritik, malahan pembenaran moralis yang berwatak eskapis. Inilah yang menjadi poin disorientasi ketiga.


Kritik mendalam para anarkis terhadap negara dan kapitalisme justru tanpa sadar sering memiliki muatan rekuperatif. Menyangkal bahwa anarkis adalah sebuah sikap eskapistik bagi mayoritas orang yang merasa hidup memang sudah semestinya seperti saat ini. Bahwa anarkis adalah orang-orang yang gagal secara normal dan pada akhirnya mengimajinasikan sebuah kondisi hidup yang lain dan berada di titik yang tidak berada dalam kuadran masyarakat hari ini. Kita melihat eror pada relasi, posisi serta inisiasi kehidupan yang sedang berlangsung namun juga gagal melihat bahwa semestinya mengulangi hal tersebut justru jauh lebih menyedihkan.


Melihat bahwa hidup yang linear memuakkan, namun kita menghindari pasang surut dan tikungan atau zig zag yang menghampiri kita. Mengecam monotonnya hidup namun gagal mendinamisasi kehidupan individual kita. Ketika sebuah benturan berada di depan, banyak para anarkis yang justru memilih jalan keluar yang aman ketimbang menghadapinya dengan berani. Gagal atau tidak sebenarnya sangat moralis. Bukankah kita meludahi titik-titik biner yang menjadi statistik kehidupan?


Kompromisme


Kehadiran sebuah konflik tidak mesti mendapati dialog sebagai solusi akhir. Perpisahan, pembubaran, perpecahan atau juga kehancuran semestinya adalah sebuah taktik yang layak untuk dipertimbangkan untuk dicoba. Bukankah dari puing-puing kehancuran yang ada di depan mata, maka pandangan kita akan jauh lebih jernih untuk melihat kemungkinan yang ada?


Namun para anarkis justru sangat kompromis. Maka pajanglah poster Gandhi sebagai titik acuan yang tetap.


Rasa sakit yang menjadi konsekuensi logis dari kegilaan hidup dan upaya kita untuk melampauinya justru berbalik dengan ironis. Kompromisasi yang diambil dalam persoalan seperti membangun kolektif sungguh nyata terlihat. Para anarkis terlalu takut menghadapi bahwa dalam kumpulan yang paling anarkistik sekalipun, adalah para individu-individu yang beragam dan memiliki titik konfrontasi tertentu.


Apakah kita mengimajinasikan bahwa sesudah kehancuran negara dan kapitalisme semuanya akan baik-baik saja? Bahwa tidak lagi ada kemungkinan bahwa sebuah kumpulan akan berbenturan dengan kumpulan yang lain? Bahwa kita akan bertempur menghadapi teman atau sahabat sendiri? Bahwa perang akan terus berlangsung di dalam diri kita sendiri? Bahwa negara dan kapitalisme adalah titik akhir dari sebuah perjalanan?


Jika ya, maka tentu kau akan sangat terlihat menyedihkan di depan cermin. Jika tidak, maka juga sungguh terdengar pop. Kita tak pernah tahu bukan?


Kompromisme sebenarnya adalah sebuah batasan yang segera mesti dilanggar. Sebab di seberang batasan tersebut adalah beragam kemungkinan yang membuat seseorang sangat kaya karena memiliki banyak pilihan untuk dicoba. Karena pada hakekatnya, kompromisme mencegah kita dari eksperimentasi tanpa akhir.


Relasi sifat kompromis dengan perspektif massa yang alienatif juga sangat erat. Mendasarkan kuantitas sebagai basis utama telah jelas membuat isolasi permanen meskipun individu-individu dekat secara fisik. Inilah keterasingan di bawah negara dan kapitalisme yang justru diulang dalam kolektif-kolektif anarkis. Hal ini membuat grup-grup yang mengusung ide anti otoritarian malah mengusung tendesi untuk menegasikan kebutuhan personal yang dinamis.


Kompromisme juga adalah ciri lain dari watak domestifikasi yang seharusnya dihancurkan. Para anarkis sering gagal melihat bahwa zona nyaman yang tetap adalah kandang yang memiliki terali. Bahwa dari banyak segi, melihat sebuah titik tunggal sebagai acuan yang permanen adalah memuakkan. Stagnasi adalah repetisi dan itu menyedihkan.


Banyak dari para anarkis yang selalu menilai bahwa keberlanjutan proses selalu memiliki titik start dan finish. Sehingga banyak yang kemudian mengeluhkan bahwa pada akhirnya, mereka terjebak pada pengulangan dari titik awal. Hal ini tentu dapat dimaklumi ketika sebuah praktek tidak dinilai sebagai laboratorium yang ekspresif untuk mendapatkan rekomendasi-rekomendasinya sendiri. Yang terjadi justru adalah pemaksaan-pemaksaan yang sangat otoriter dari sebuah timbangan yang datang dari luar untuk mendapatkan pembenaran soal nilai yang diusung.


Disasosiasi Tanpa Solusi


Banyak anarkis yang tidak nyaman dan bahkan muak ketika dirinya atau seorang anarkis yang lain menjadi patron. Menjadi role model yang layak jadi bahan acuan tetap untuk menilai yang lain. Namun ketika hal tersebut menjangkiti sebuah grup atau kolektif anarkis, banyak yang justru memalingkan wajahnya. Para anarkis melihatnya sebagai sebuah eror namun gagal merumuskan taktik untuk mendorong kehancuran patronisme tersebut.


Sebuah problem yang kemudian pada akhirnya menguras energi lebih yang disebabkan oleh penyangkalan-penyangkalan yang justru sangat mendasar.


Dalam sebuah tahapan yang berjalan, para anarkis justru dengan sadar atau tidak memilih jalan singkat yang instan ketimbang bergulat dalam tantangan yang tak akan berhenti datang. Sungguh jelas bagaimana dengan mudah kita melompati dengan membohongi diri sendiri yang tengah berada dalam sebuah proses. Lompatan jauh tersebut tentu saja adalah keinginan untuk merengkuh hasil dengan waktu yang jauh lebih singkat.


Ketika kritik para anarkis terhadap negara, kapitalisme dan juga oposisi dari para Marxis-Leninis, kita secara jernih meradikalkan pemahaman dengan tekun dan berusaha untuk menguak akar sebab dari ketimpangan yang mereka akibatkan. Sayangnya, hal tersebut tidak dilakukan dalam proses individual dan kolektif. Kita memilih menganggap tahapan tersebut sudah selesai dan tidak mesti lagi diulang. Pemahaman soal mengulang, lagi-lagi adalah soal persepsi biner tentang titik awal dan akhir.


Para anarkis terlalu paham bahwa menyatakan diri gagal adalah bentuk kegagalan. Soalnya, kegagalan masih dipahami sebagai aib yang tidak bisa dipublikasikan. Ia mesti disembunyikan dengan warna warni yang ilutif. Banyak dari anarkis yang tidak mau melihat kegagalan sebagai sebuah bagian dari kemenangan itu sendiri. Kehadirannya ditolak meski memiliki jutaan nilai yang semestinya bisa digunakan untuk strategi di titik lain.


Dalam banyak hal, para anarkis terlalu sering melihat ke sisi lain sehingga lupa untuk melihat ke dalam diri sendiri. Kecenderungannya, banyak dari para anarkis yang obsesif tentang sebuah kumpulan besar anarkis. Obsesi yang sesungguhnya adalah penyakit psikologi yang membutakan pandangan atau melumpuhkan seseorang dari atraksi eksperimental. Meski sadar, para anarkis lebih memilih tampilan glamor yang ilutif untuk memenuhi keinginan obsesif tersebut. Ini mengapa, persoalan seperti patronisme tak kunjung selesai.


Cukup banyak para anarkis yang terlalu dendam terhadap kegagalan. Keangkuhan ini justru membuat banyak dari anarkis yang lupa bahwa mendongakkan kepala menantang langit membuat kita jauh lebih mudah tersandung oleh kerikil kecil yang hanya bisa terlihat kalau kita mau sesekali menundukkan kepala kita ke bawah. Bukan untuk menyerah, namun untuk mengevaluasi diri sendiri.


Merayakan kegagalan justru mengajari kita bahwa kemenangan adalah tipuan yang menyedihkan. Bahwa hasrat kemenangan berbasiskan pada pola kompetisi nilai yang kini eksis di bawah kapitalisme. Jika kita tidak menantang diri sendiri, maka kita tidak akan mampu menantang kondisi di sekitar kita. Jika tidak membuang kompas dan peta yang dibuatkan oleh orang lain dari tangan kita, maka kita tidak akan pernah paham bahwa kebebasan bukanlah sebuah kondisi permanen yang tetap.


Ini bukan soal jumlah yang sedikit, namun soal berdiri tegak dan bertarung untuk apa yang kau yakini. Itu kata para pemeran dalam sebuah film tentang hooligan West Ham United.